of 17 /17
5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Disini akan dibahas terlebih dahulu gambaran secara umum dari model pembelajaran kooperatif. Ada beberapa pendapat tentang pengertian dari model pembelajaran kooperatif. Menurut Nur dan Wikandari (2000: 25), pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada model pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kemudian menurut Depdiknas (2003: 5) Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan akhir. Sedangkan menurut Slavin (dalam Isjoni, 2011: 15) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Jadi model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kelompok kecil (4-6 orang) yang bersifat heterogen untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang diberikan pada mereka. Secara lebih detail tentang model pembelajaran kooperatif disini akan dipaparkan 2 pendapat, yaitu menurut Davidson dan Warsham (dalam Isjoni, 2011: 15), pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik. Dan menurut Ibrahim, dkk (2000: 7) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak tidaknya

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian ... II.pdfPengertian. Model Pembelajaran Kooperatif . Disini akan dibahas terlebih dahulu gambaran secara umum dari model pembelajaran

  • Author
    others

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian ... II.pdfPengertian. Model Pembelajaran...

  • 5

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Kajian Teori

    2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

    Disini akan dibahas terlebih dahulu gambaran secara umum dari

    model pembelajaran kooperatif. Ada beberapa pendapat tentang pengertian

    dari model pembelajaran kooperatif. Menurut Nur dan Wikandari (2000:

    25), pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada

    model pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling

    membantu dalam belajar. Kemudian menurut Depdiknas (2003: 5)

    Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi

    pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerjasama dalam

    memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan akhir. Sedangkan

    menurut Slavin (dalam Isjoni, 2011: 15) menyatakan bahwa pembelajaran

    kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan

    bekerja sama dalam kelompok – kelompok kecil secara kolaboratif yang

    anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Jadi

    model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana

    siswa bekerja sama dalam kelompok – kelompok kecil (4-6 orang) yang

    bersifat heterogen untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu

    siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha

    menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang

    diberikan pada mereka.

    Secara lebih detail tentang model pembelajaran kooperatif disini akan

    dipaparkan 2 pendapat, yaitu menurut Davidson dan Warsham (dalam

    Isjoni, 2011: 15), pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang

    mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan

    pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial

    yang bermuatan akademik. Dan menurut Ibrahim, dkk (2000: 7) model

    pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak – tidaknya

  • 6

    tiga tujuan penting pembelajaran, yaitu : hasil belajar akademik, penerimaan

    terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Jadi dapat

    dikatakan bahwa ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penggunaan

    model pembelajaran kooperatif, antara lain untuk pengembangan

    keterampilan sosial, penerimaan terhadap keragaman, dan untuk

    meningkatkan hasil belajar akademik.

    Dari beberapa uraian yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan

    bahwa, model pembelajaran kooperative (cooperative learning ) adalah

    suatu model pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok –

    kelompok kecil (4-6 orang) yang bersifat heterogen untuk menyelesaikan

    suatu persoalan, yang bertujuan untuk pengembangan keterampilan sosial,

    penerimaan terhadap keragaman, dan untuk meningkatkan hasil belajar

    akademik.

    2.1.2 Ciri – Ciri Model Pembelajaran Kooperatif

    Ada 2 pendapat tentang ciri – ciri dari model pembelajaran kooperatif,

    yaitu : Ciri – ciri model pembelajaran kooperatif menurut Nur (dalam

    Widyantini, 2006: 4), sebagai berikut :

    a. Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar

    sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai,

    b. Kelompok dibentuk secara heterogen,

    c. Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada

    individu.

    Dan menurut Arends (1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model

    kooperatif memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

    a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk

    menyelesaikan materi belajar,

    b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,

    sedang dan rendah,

  • 7

    c. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku,

    jenis kelamin yang berbeda – beda,

    d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif

    memiliki ciri – ciri, antara lain :

    a. Siswa bekerja dalam sebuah kelompok kecil yang bersifat heterogen,

    yaitu terdiri dari beberapa individu yang memiliki latar belakang dan

    keragamannya masing – masing. Mulai dari siswa berkemampuan

    rendah, sedang, dan tinggi. Serta jika memungkinkan maka anggota

    kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda

    – beda, untuk menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar

    yang akan dicapai,

    b. Penghargaan atau apresiasi lebih diberikan pada kelompok daripada

    individu.

    2.1.3 Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

    Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif

    memiliki beberapa tujuan. Disini akan dibahas lebih detail lagi tujuan dari

    model pembelajaran kooperatif. Ada beberapa pendapat tentang tujuan dari

    model pembelajaran kooperatif, menurut Widyantini (2006: 4) adalah hasil

    belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai

    keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial.

    Menurut Johnson & Johnson (dalam Trianto, 2010: 57), menyatakan bahwa

    tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk

    peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu

    maupun secara kelompok. Menurut Louisell dan Descamps (dalam Trianto,

    2010: 57) juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka

    dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari

    latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan –

    keterampilan proses dan pemecahan masalah. Sedangkan menurut Ibrahim,

  • 8

    dkk (2000: 7-8), model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk

    mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan, yaitu :

    a. Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik. Beberapa

    ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa

    memahami konsep – konsep yang sulit,

    b. Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras,

    budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan.

    Mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain,

    c. Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi.

    Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang

    dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif

    memiliki beberapa tujuan, antara lain :

    a. Memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi belajar,

    b. Pengembangan keterampilan sosial karena dalam satu kelompok

    terdiri dari beberapa individu dengan latar belakang dan

    keragamannya masing – masing, maka akan mengajarkan penerimaan

    terhadap keberagaman dan menghargai satu sama lain,serta

    c. Mengembangkan keterampilan – keterampilan dalam bekerja sama

    dan pemecahan masalah

    2.1.4 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble

    Ada beberapa pendapat tentang pengertian dari model pembelajaran

    kooperatif tipe scramble. Antara lain menurut Budiharto, dkk (1997)

    Scramble berasal dari bahasa inggris yang artinya “perebutan, perjuangan,

    pertarungan”, dimana belajar ditekankan sambil bermain sehingga siswa

    mendapatkan suasana menyenangkan. Teknik ini menghendaki siswa

    melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang

    sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan susunannya. Menurut Suyatno

    (dalam Iis, 2011: 13), Scramble merupakan salah satu tipe pembelajaran

  • 9

    kooperatif yang disajikan dalam bentuk kartu. Menurut Widodo (dalam Nur,

    2011: 21), model pembelajaran scramble adalah suatu model pembelajaran

    dengan membagikan kartu soal dan kartu jawaban yang disertai dengan

    alternatif jawaban yang tersedia namun dengan susunan yang acak dan

    siswa mengoreksi jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat.

    Menurut Hanafiah dan Suhana (dalam Nur, 2011: 18) model pembelajaran

    scramble bersifat aktif, siswa dituntut aktif bekerja sama serta bertanggung

    jawab terhadap kelompoknya untuk menyelesaikan kartu soal guna

    memperoleh poin dan diharapkan dapat meningkatkan kebersamaan siswa.

    Dalam pembelajaran scramble, guru hendaknya sebagai pembimbing harus

    bersikap terbuka, ramah, dan sabar. Sedangkan menurut Komalasari (2010:

    84) model pembelajaran scramble yaitu model pembelajaran yang mengajak

    siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu

    konsep secara kreatif dengan cara menyusun huruf-huruf yang disusun

    secara acak sehingga membentuk suatu jawaban atau pasangan konsep yang

    dimaksud.

    Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Scramble adalah

    salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang dalam

    pembelajarannya membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil untuk

    kemudian dibagikan kartu soal dan kartu jawaban kepada masing – masing

    kelompok tersebut. Dimana kartu jawaban yang diberikan kepada siswa

    telah diacak susunan kata atau huruf atau kalimatnya, dan menjadi tugas

    bagi siswa untuk menyusun kata atau huruf atau kalimat tersebut untuk

    kemudian dicocokkan dengan lembar soal yang diberikan.

    2.1.5 Bentuk – Bentuk Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble

    Menurut Weblogask (2012) sesuai dengan sifat jawabannya scramble

    terdiri atas bermacam – macam bentuk, yakni :

  • 10

    a. Scramble kata, yaitu sebuah permainan menyusun kata-kata dari

    huruf-huruf yang telah dikacaukan letaknya, sehingga membentuk

    suatu kata tertentu yang bermakna,

    Misalnya : alpjera = pelajar

    ktarsurt = struktur

    b. Scramble kalimat, yaitu sebuah permainan menyusun kalimat dari

    kata-kata acak. Bentuk kalimat hendaknya logis, bermakna, tepat, dan

    benar.

    Misalnya : berasal – dari – Bandung – saya = Saya berasal dari

    Bandung

    c. Scramble wacana, yaitu sebuah permainan menyusun wacana logis

    berdasarkan kalimat-kalimat acak. Hasil susunan wacana hendaknya

    logis, bermakna.

    Misalnya :

    Pemerintah Indonesia tidak akan mampu mengurus dan mengatur

    sendiri pemerintahan di semua wilayah negeri kita. Negara Indonesia

    sangat luas. Oleh karena itu, pemerintah pusat menyerahkan sebagian

    kewenangan menyelenggarakan pemerintahannya kepada daerah.

    Menjadi :

    Negara Indonesia sangat luas. Pemerintah Indonesia tidak akan

    mampu mengurus dan mengatur sendiri pemerintahan di semua

    wilayah negeri kita. Oleh karena itu, pemerintah pusat menyerahkan

    sebagian kewenangan menyelenggarakan pemerintahannya kepada

    daerah.

    Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa model pembelajaran

    kooperatif tipe scramble memiliki 3 bentuk, yaitu : Scramble kata, Scramble

    kalimat, dan Scramble wacana. Dalam penelitian ini peneliti akan

    menggunakan bentuk Scramble kata.

  • 11

    2.1.6 Langkah – Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble

    Menurut Suyatno dalam Iis (2011: 13), langkah-langkah dalam

    menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe scramble, yaitu :

    a. Membuat kartu soal sesuai materi ajar

    Guru membuat soal – soal sesuai dengan materi yang akan disajikan

    kepada siswa,

    b. Membuat kartu jawaban dengan diacak

    Guru membuat pilihan jawaban yang susunan katanya diacak sesuai

    jawaban soal-soal pada kartu soal, Karena dalam penelitian ini

    menggunakan dua bentuk scramble yaitu scramble kata dan scramble

    kalimat maka dalam kartu jawaban akan terdiri atas kedua bentuk

    scramble tersebut.

    c. Sajikan materi

    Guru menyajikan materi ajar kepada siswa,

    d. Bagikan kartu soal dan kartu jawaban pada kelompok

    Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (4-6 orang)

    yang bersifat heterogen (terdiri dari siswa berkemampuan rendah,

    sedang, tinggi atau dari beragam latar belakang seperti suku/ras),

    kemudian bagikan kartu soal dan kartu jawaban kepada masing-

    masing kelompok.

    e. Siswa berkelompok mengerjakan kartu soal

    Siswa dalam kelompok bekerjasama dan saling membantu

    mengerjakan soal-soal yang ada pada kartu soal,

    f. Siswa mencari jawaban untuk setiap soal-soal dalam kartu soal

    Siswa menyusun kartu jawaban yang susunan huruf dan katanya telah

    diacak menjadi susunan yang tepat untuk kemudian dipasangkan

    dengan soal-soal pada kartu soal.

    Dari penjabaran di atas dapat diketahui secara jelas tahapan – tahapan

    dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe scramble. Dalam

  • 12

    penelitian ini sendiri peneliti akan menggunakan tahapan – tahapan yang

    telah dijabarkan di atas dalam melaksanakan penelitian

    2.1.7 Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe scramble

    Menurut Dhevita Nur (2013), model pembelajaran kooperatif tipe

    scramble memiliki beberapa kelebihan, antara lain :

    a. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu

    yang dikerjakan dalam kelompoknya, setiap anggota kelompok

    harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai

    tujuan yang sama, setiap anggota kelompok harus membagi tugas

    dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya,

    setiap anggota kelompok akan dikenai evaluasi, setiap anggota

    kelompok berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan

    untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan setiap

    anggota kelompok akan diminta mempertanggungjawabkan secara

    individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif,

    sehingga dalam teknik ini, setiap siswa tidak ada yang diam

    karena setiap individu di kelompok diberi tanggung jawab akan

    keberhasilan kelompoknya. Mendorong siswa untuk belajar

    mengerjakan soal tersebut,

    b. Metode pembelajaran ini akan memungkinkan siswa untuk belajar

    sambil bermain. Mereka dapat berekreasi sekaligus belajar dan

    berpikir, mempelajari sesuatu secara santai dan tidak membuatnya

    stres atau tertekan. Kegiatan tersebut dapat mendorong

    pemahaman siswa terhadap materi pelajaran

    c. Selain untuk menimbulkan kegembiraan dan melatih keterampilan

    tertentu, metode scramble juga dapat memupuk rasa solidaritas

    dalam kelompok.

    d. Materi yang diberikan melalui salah satu metode permainan ini

    biasanya mengesankan dan sulit untuk dilupakan.

  • 13

    e. Sifat kompetitif dalam metode ini dapat mendorong siswa

    berlomba-lomba untuk maju

    Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa model pembelajaran

    kooperatif tipe scramble memiliki beberapa kelebihan, dimana akan sangat

    bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan hasil belajar jika model

    pembelajaran kooperatif tipe scramble ini diterapkan dalam pembelajaran.

    2.1.8 Hasil Belajar

    Ada beberapa pendapat tentang pengertian dari hasil belajar, antara

    lain menurut Tim penyusun KBBI (2005) Hasil belajar adalah penguasaan

    pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,

    lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.

    Menurut Samsul Hadi dan Rukiyah (2009) hasil belajar adalah proses

    pemberian nilai terhadap hasil– hasil belajar yang dicapai siswa dengan

    kriteria tertentu. Dari dua pendapat di atas dapat dikatakan bahwa hasil

    belajar adalah pemberian nilai oleh guru terhadap penguasaan pengetahuan

    dan keterampilan siswa dengan kriteria tertentu yang lazimnya ditunjukkan

    dengan nilai tes atau angka.

    Kemudian ada pandangan berbeda dari beberapa pendapat yaitu

    menurut Mulyono Abdulrahman (1999) hasil belajar adalah kemampuan

    yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Menurut Winkel

    (dalam Lina, 2009: 5), mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan bukti

    keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Sedangkan menurut Arif

    Gunarso (dalam Lina, 2009: 5), hasil belajar adalah usaha maksimal yang

    dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Dari sini

    dapat dilihat bahwa hasil belajar tidak selalu tentang proses penilaian tetapi

    tentang hasil usaha maksimal seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha

    dalam kegiatan belajar.

    Selanjutnya ada pandangan berbeda pula dari beberapa pendapat,

    antara lain menurut Dimyati dan Mudjiono (dalam Lina, 2009: 5), hasil

    belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa

  • 14

    dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat

    perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum

    belajar. Dari sisi guru, adalah bagaimana guru bisa menyampaikan

    pembelajaran dengan baik dan siswa bisa menerimanya. Hasil belajar

    mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Menurut Nana

    Sudjana (dalam techonly13, 2009) menyatakan bahwa proses penilaian

    terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang

    kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui

    kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun

    dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan

    kelas maupun individu. Setiap keberhasilan belajar diukur dari seberapa

    jauh hasil belajar yang diperoleh siswa. Keberhasilan siswa dalam mencapai

    tujuan pengajaran diwujudkan dengan nilai. Nana Sudjana menyatakan pula

    bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses

    belajar yang dilakukan oleh siswa, harus semakin tinggi hasil belajar yang

    diperoleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang

    dicapai siswa. Dari sini dapat dilihat bahwa hasil belajar tidak hanya tentang

    nilai dan hasil usaha siswa dalam kegiatan belajar, tetapi hasil belajar juga

    memberikan informasi mengenai perkembangan siswa setelah melalui

    kegiatan belajar sehingga nantinya dapat menjadi pedoman bagi guru dalam

    melaksanakan kegiatan belajar selanjutnya. Selain itu juga memberikan

    informasi bagi guru apakah guru telah menyampaikan pembelajaran dengan

    baik.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah

    penilaian oleh guru terhadap kemampuan pengetahuan dan keterampilan

    siswa setelah melaui kegiatan belajar yang lazimnya ditunjukkan dengan

    nilai tes atau angka. Yang juga memberikan informasi tentang

    perkembangan siswa. Jadi nantinya dalam penelitian ini, hasil belajar yang

    dimaksudkan adalah penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap

    kemampuan pengetahuan siswa yang ditunjukkan dengan nilai tes (angka).

  • 15

    2.1.9 Pendidikan Kewarganegaraan

    Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship) merupakan mata pelajaran

    yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama,

    sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara

    yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan

    UUD 1945 (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004). Pendidikan

    Kewarganegaraan mengalami perkembangan sejarah yang sangat panjang,

    yang dimulai dari Civic Education, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan

    Pancasila dan Kewarganegaraan, sampai yang terakhir pada Kurikulum

    2004 berubah namanya menjadi mata pelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan dapat diartikan sebagai

    wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang

    berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan

    dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari peserta didik sebagai individu,

    anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan

    Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk

    mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga

    memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang

    memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan

    bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

    dan bernegara (Sudjatmiko, 2008: 12). Pendidikan Kewarganegaraan

    merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang

    beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga

    negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945

    (Sudjana, 2003: 4). Landasan PKn adalah Pancasila dan UUD 1945, yang

    berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, tanggap

    pada tuntutan perubahan zaman, serta Undang Undang No. 20 Tahun 2003

    tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun

    2004 serta Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata

    Pelajaran Kewarganegaraan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan

  • 16

    Nasional-Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah-Direktorat

    Pendidikan Menengah Umum.

    Secara garis besar mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3

    dimensi, yaitu :

    1. Dimensi Pengetahuan Kewarganegaraan (Civics Knowledge) yang

    mencakup bidang politik, hukum, dan moral,

    2. Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skills), meliputi

    keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,

    3. Dimensi Nilai – nilai Kewarganegaraan (Civics Values) mancakup

    antara lain percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan

    moral luhur (Sudjana, 2003: 4).

    Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan adalah

    sebuah mata pelajaran yang bertujuan untuk pengembangan potensi individu

    warga negara Indonesia sehingga memiliki wawasan, sikap, dan

    keterampilan yang cakap untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan

    bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Serta mengembangkan dan

    melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa

    Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku

    kehidupan sehari-hari.

    2.2.Kajian hasil penelitian yang relevan

    Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, yaitu

    antara lain:

    a. Penelitian yang dilakukan oleh Febri Belandina Lay, 2011

    Mahasiswa Universitas Negeri Malang Program Studi S1 PGSD

    dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Scramble Untuk

    Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VA Pada Mata Pelajaran

    PKn SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota

    Malang”. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut :

    nilai rata – rata siswa pada siklus I adalah 69,54%, sebanyak 11

  • 17

    siswa (33,3%) belum tuntas karena berada di bawah kriteria

    penilaian, sebanyak 22 siswa (66,66%) tuntas karena sudah

    mencapai kriteria ketuntasan oleh karena itu perlu diadakan

    perbaikan pada siklus II. Pada siklus II nilai rata –rata yang

    diperoleh siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 adalah 74,54%,

    sebanyak 9 siswa (27,27%) yang belum tuntas atau belum mencapai

    kriteria ketuntasan. Dengan melihat pada nilai rata – rata siswa pada

    tiap siklus maka pada siklus II nilai siswa mengalami peningkatan.

    Maka dalam penelitiannya disimpulkan bahwa model pembelajaran

    scramble ini dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VA

    SDN Madyopuro 4 Kota Malang.

    b. Penelitian yang dilakukan oleh Jusniar Silaban, dengan judul

    “Pengaruh Model Pembelajaran Scramble Terhadap Hasil Belajar

    Siswa Pada Mata Pelajaran PKN di Kelas X SMA Negeri 1 Pakkat

    Tahun Pelajaran 2011/2012”. Penelitian ini dilakukan di SMA

    Negeri 1 Pakkat Tahun Pelajaran 2011/2012 dengan populasi yang

    berjumlah 160 orang siswa. Sampel penelitian ditentukan sebesar

    20% dari jumlah populasi yakni 32 yang Orang. Dari hasil analisis

    data dan perhitungan dapat diketahui bahwa r hitung (rh) sebesar

    0,653 sedangkan r tabel (rt) sebesar 0,349 Dengan demikian, harga

    > yaitu 0,653 > 0,349 sehingga koefisien korelasi X terhadap Y

    adalah signifikan. Untuk pengujian hipotesis digunakan uji t. Dari

    hasil perhitungan yang dilakukan uji t diperoleh t hitung > t tabel

    yakni 4,904 > 2,042. Berdasarkan hasil pengujian maka Ho ditolak

    dan Ha diterima. Dari hasil analisis regresi linear menghasilkan Y

    positif sehingga menunjukkan ada pengaruh yang signifikan model

    pembelajaran Scramble terhadap hasil belajar.

    c. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Rakhmawati, dengan judul

    “Penggunaan Model Pembelajaran Scramble Untuk Peningkatan

    Motivasi Belajar IPA (Fisika) Pada Siswa SMP Negeri 16

    Purworejo Tahun Pelajaran 2011/2012”. Dalam penelitiannya

  • 18

    disimpulkan bahwa melaui penggunaan model pembelajaran

    scramble dalam pembelajaran IPA (Fisika) dapat meningkatkan

    motivasi belajar siswa SMP Negeri 16 Purworejo. Hal tersebut

    terlihat dari data hasil observasi motivasi belajar siswa meningkat

    dari 46,94% pada pra siklus menjadi 60,81% pada siklus I dan

    meningkat lagi menjadi 73,39% pada siklus II. Persentase angket

    motivasi belajar siswa meningkat 58,06% pada pra siklus menjadi

    72,90% pada siklus I dan menjadi 81,29% pada siklus II.

    Peningkatan motivasi belajar ini berpengaruh terhadap peningkatan

    hasil belajar. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya rata-rata

    nilai siswa. Rata-rata nilai siswa meningkat dari 59,98 dengan

    ketuntasan 38,71% pada pra siklus menjadi 77,66 dengan

    ketuntasan 80,69% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 85,97

    dengan ketuntasan 93,97% pada siklus II.

    Dari beberapa penelitian di atas dapat diketahui bahwa penggunaan

    model pembelajaran kooperatif tipe scramble memiliki dampak/pengaruh

    yang positive, maka dari itu peneliti bermaksud menerapkan model

    pembelajaran kooperatif tipe scramble pada siswa kelas 4 SD Negeri 2

    Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora untuk meningkatkan

    hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

    2.3. Kerangka Berpikir

    Dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas 4

    SD Negeri 2 Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora, siswa

    tampak tak antusias dan kurang bersemangat dalam mengikuti jalannya

    pembelajaran. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, antara

    lain karena pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang memang

    membosankan karena banyaknya materi yang sifatnya hafalan dan kurangnya

    aspek penalaran atau logika dalam pelajaran tersebut, sehingga menyebabkan

    siswa kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu

  • 19

    juga karena guru yang masih menggunakan metode ceramah sehingga murid

    menjadi bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini pada akhirnya

    berdampak pada hasil belajar siswa, dimana sebanyak 33,3% siswa mendapat

    nilai di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Tentunya perlu

    adanya tindak lanjut untuk mengatasi masalah tersebut.

    Untuk itu peneliti bermaksud menggunakan model pembelajaran

    kooperatif tipe scramble dalam mengatasi permasalahan tersebut, dimana

    dengan penggunaan model pembelajaran ini ditujukan untuk meningkatkan

    hasil belajar siswa. Model pembelajaran scramble ini sendiri adalah salah

    satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang dalam pembelajarannya

    membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil untuk kemudian dibagikan

    lembar soal dan kartu jawaban kepada masing – masing kelompok tersebut.

    Kartu jawaban yang diberikan kepada siswa telah diacak susunan huruf / kata

    / kalimat-nya, dan menjadi tugas bagi siswa untuk menyusun

    huruf/kata/kalimat tersebut untuk kemudian dicocokkan dengan lembar soal

    yang diberikan.

    Model pembelajaran ini memiliki beberapa manfaat, antara lain yaitu

    pertama dalam model pembelajaran kooperatif tipe scramble ini siswa belajar

    sambil bermain. Maksudnya adalah terdapat unsur permainan dalam model

    pembelajaran ini, dimana siswa bekerjasama dalam kelompok menyusun

    kartu jawaban yang telah diacak susunan huruf/kata/kalimat-nya, untuk

    kemudian mencocokkan dengan soal-soal yang ada pada lembar soal yang

    diberikan, dengan demikian suasana akan menjadi santai dan menyenangkan.

    Hal ini tentunya akan menjadikan siswa lebih antusias dalam mengikuti

    pelajaran. Yang kedua adalah model pembelajaran ini melibatkan seluruh

    siswa. Jadi dengan terlibatnya seluruh siswa dalam pembelajaran, maka dapat

    dipastikan bahwa setiap siswa akan melakukan kegiatan belajar, dengan

    begitu diharapkan pula bahwa setiap siswa dapat memahami pelajaran ini

    dengan baik. Yang ketiga adalah sifat kompetitif dalam model pembelajaran

    ini dapat mendorong siswa untuk berlomba-lomba maju. Hal ini sangatlah

    baik, karena dengan begitu siswa akan termotivasi untuk bersungguh-

  • 20

    sungguh dalam mengerjakan tugasnya, yang diharapkan pula akan

    meningkatkan tingkat pemahaman siswa terhadap materi. Yang keempat

    dalam model pembelajaran ini akan menimbulkan rasa gembira dan

    menyenangkan bagi para siswa, hal ini tentu baik karena akan menimbulkan

    antusias dan semangat dalam diri siswa untuk mengikuti pelajaran. Dan yang

    terakhir adalah dengan model pembelajaran ini siswa akan lebih mudah

    dalam memahami materi yang diajarkan, ini tentunya menjadi suatu hal yang

    sangat baik karena pokok dari suatu pembelajaran adalah siswa mengerti

    tentang apa yang diajarkan.

    Kelima hal diatas tentunya akan sangat bermanfaat bagi siswa dalam

    meningkatkan hasil belajar mereka pada mata pelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan. Dan tentunya menjadi pegangan bagi peneliti, untuk

    menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe scramble dalam

    meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan kelas 4 SD Negeri 2 Pilang Kecamatan Randublatung

    Kabupaten Blora.

  • 21

    Skema Kerangka Berpikir

    Gambar 2.1

    Skema Kerangka Berpikir

    2.4. Hipotesis Tindakan

    Berdasarkan landasan teori dan kerangka pemikiran, maka dapat

    dirumuskan hipotesis pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai

    berikut : Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe scramble diduga

    dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan kelas 4 SD Negeri 2 Pilang Kecamatan Randublatung

    Kabupaten Blora.

    Belajar

    Sambil

    Bermain

    Mening-

    katkan

    Hasil

    Belajar

    Model

    Pembelajaran

    Kooperatif Tipe

    Scramble

    Menimbulk

    an Rasa

    Senang dan

    Gembira

    Bagi Siswa

    Materi

    Lebih

    Mudah

    Dipahami

    Melibatkan

    Seluruh

    Siswa

    Sifat

    Kompetitif