of 33 /33
BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini banyak sekali terdapat penyakit-penyakit baru yang terkadang lambat untuk ditangani sehingga terjadi keterlambatan pengobatan. Dengan adanya kondisi ini banyak terjadi kemaatian pasien dikarenakan terlambat dalam menangani penyakit tersebut. Hati merupakan organ penting yang terdapat dalam tubuh. Hati memiliki fungsi membantu dalam metabolisme karbohidrat, membantu metabolisme lemak, membantu metabolisme protein, menetralisir obat-obatan dan hormon, mensekresi cairan empedu, mensintesis garam-garam empedu, sebagai tempat penyimpanan, sebagai fagosit, mengaktifkan vitamin D, dan menghasilkan kolesterol tubuh. Untuk itu maka sangat perlu memperhatikan kondisi kesehatan organ hati tersebut. Salah satu penyakit organ hati yaitu hepatoma. Hepatoma merupakan pertumbuhan sel hati yang tidak normal yang ditandai dengan bertambahnya jumlah sel dalam hati yang memiliki kemampuan

BAB 2 Hepatoma

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB 2 Hepatoma

BAB I

PENDAHULUAN

Dewasa ini banyak sekali terdapat penyakit-penyakit baru yang terkadang lambat untuk

ditangani sehingga terjadi keterlambatan pengobatan. Dengan adanya kondisi ini banyak terjadi

kemaatian pasien dikarenakan terlambat dalam menangani penyakit tersebut.

Hati merupakan organ penting yang terdapat dalam tubuh. Hati memiliki fungsi

membantu dalam metabolisme karbohidrat, membantu metabolisme lemak, membantu

metabolisme protein, menetralisir obat-obatan dan hormon, mensekresi cairan empedu,

mensintesis garam-garam empedu, sebagai tempat penyimpanan, sebagai fagosit, mengaktifkan

vitamin D, dan menghasilkan kolesterol tubuh. Untuk itu maka sangat perlu memperhatikan

kondisi kesehatan organ hati tersebut.

Salah satu penyakit organ hati yaitu hepatoma. Hepatoma merupakan pertumbuhan sel

hati yang tidak normal yang ditandai dengan bertambahnya jumlah sel dalam hati yang memiliki

kemampuan membelah secara mitosis sehingga struktur jaringan hati berubah membentuk sel-sel

ganas.

Berdasarkan uraian diatas maka maka saya tertarik untuk membuat paper berjudul

“Hepatoma”.

Page 2: BAB 2 Hepatoma

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Hepatoma

Hepatoma disebut juga kanker hati atau karsinoma hepatoseluler atau karsinoma hepato

primer. Hepatoma merupakan pertumbuhan sel hati yang tidak normal yang ditandai dengan

bertambahnya jumlah sel dalam hati yang memiliki kemampuan membelah secara mitosis

sehingga struktur jaringan hati berubah membentuk sel-sel ganas.

2.2 Anatomi Hati

Hati merupakan organ tubuh yang terbesar dengan berat 1200-1500 gram. Pada orang

dewasa ± 1/50 dari berat badannya, sedangkan pada bayi ± 1/18dari berat bayi. Posisi organ hati

sebagian besar terletak di perut bagian kanan atas, yakni di belakang iga.

Hati dikelilingi oleh kapsula fibrosa yang dinamakan kapsula glisson dan dibungkus

peritonium pada sebagian besar dari keseluruhan permukaannya. Hati terdiri dari 2 lobus utama,

lobus kanan (dekster) dan lobus kiri (sinister). Lobus kanan dan lobus kiri dipisahkan di anterior

oleh lipatan peritonium yang dinamakan dengan ligamentum falsiforme, di inferior oleh fissura

dinamakan dengan ligamentum teres dan di posterior oleh fissura dinamakun dengan ligamentum

venosum.

Hati mempunyai perdarahan ganda, yaitu vena porta dan arteri hepatika. Vena porta

membawa darah venous dari intestinal, limfa dan pankreas, sedangkan arteri hepatika membawa

darah ke hati melalui porta hepatika membawa darah arteri ke hati melalui porta hepatika yang

terletak jauh di belakang permukaan inferior lobus kanan.

Page 3: BAB 2 Hepatoma

2.3. Fungsi Hati

Secara fisiologis, fungsi utama dari hati adalah:

2.3.1. Membantu dalam Metabolisme Karbohidrat.

Hati mampu mengontrol kadar gula dalam darah. Pada saat kadar gula dalam darah

tinggi, maka hati dapat mengubah glukosa dalam drah menjadi glikogenyang kemudian disimpan

dalam hati (glikogenolisis), dan pada saat kadar gula dalam darah menurun, maka cadangan

glikogen di hati atau asam amino dapat diubah menjadi glukosa dan dilepaskan ke dalam darah

(glukoneogenesis) hingga pada akhirnya kadar gula dara dipertahankan untuk tetap normal. Hati

juga dapat membantu pemecahan fruktosa dan galaktosa menjadi glukosa dan serta glukosa

menjadi lemak.

2.3.2. Membantu Metabolisme Lemak

Membantu proses beta oksidasi, dimana hati mampu menghasilkan asam lemak dari

Asetil Koenzim A. Mengubah kelebihan Asetil Koenzim A menjaid badan keton (Ketogenesis).

Mensintesa lipoprotein-lipoprotein saat transport asam-asam lemka dan kolesterol dari dan ke

Page 4: BAB 2 Hepatoma

dalam sel., mensintesa kolesterol dan fosfolipid juga menghancurkan kolesterol menjadi garam

empedu, serta menyimpan lemak.

2.33. Membantu Metabolisme Protein

Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah dalam deaminasi ( mengubah gugus

amino, NH2) asam-asam amino agar dapat digunakan sebagai energi atau diubah menjadi

karbohidrat dan lemak. Mengubah amoniak (NH3) yang merupakan substansi beracun menjadi

urea dan dikeluarkan melalui urin ( ammonia dihasilkan saat deaminase dan oleh bakteri-bakteri

dalam usus), sintesis dari hampir seluruh protein plasma, serta α dan β globulin, albumin,

fibrinogen, dan protrombin (bersama-sama dengan sel tiang, hati juga membentuk heparin) dan

transaminasi transfer kelompok amino dari asam amino ke substansi (α-keto acid).

2.34. Menetralisir Obat-Obatan dan Hormon

Hati dapat berfungsi sebagai penetralisir racun, yakni pada obat-obata seperti penisilin,

ampisilin, erytromisin, dan sulfonamide juga dapat mengubah sifat-sifat kimia atau

mengeluarkan hormon steroid, seperti aldosteron dan estrogen serta tiroksin.

23.5. Mensekresi Cairan Empedu

Bilirubin, yang berasal dari heme pada saat perombakan sel darh merah, diserap oleh hati

dari darah dan dikeluarkan ke empedu. Sebagian besar dari bilirubin di cairan empedu di

metabolisme di usus oleh bakteri-bakteri dan dikeluarkan di feses.

234. Mensintesis Garam-Garam Empedu

Garam-garam empedu digunakan oleh usus kecil untuk mengemulsi dan menyerap

lemak, fosfolipid, kolesterol, dan lipoprotein.

Page 5: BAB 2 Hepatoma

23.7. Sebagai Tempat Penyimpanan

Hati digunakan sebagi tempat menyimpan vitamin (A, B12, D, E, K) serta mineral (Fe dan

Co). Sel-sel hati terdiri dari sebuah protein yang disebut apoferritin yang bergabung dengan Fe

membentuk Ferritin sehingga Fe dapat disimpan di hati. Fe juga dapat dilepaskan jika kadarnya

di darah turun.

23.8. Sebagai Fagosit

Sel-sel Kupffer’s dari hati mampu memakan sel darah merah dan putih yang rusak serta

bakteri.

233. Mengaktifkan Vitamin D

Hati dan ginjal dapat berpartisipasi dalam mengaktifkan vitamin D.

23.10. Menghasilkan Kolesterol Tubuh

Hati menghasilkan sekitar separuh kolesterol tubuh, sisanya berasal dari makanan.

Sekitar 80% kolesterol yang dibuat di hati digunakan untuk membuat empedu. Kolesterol

merupakan sebagian penting dari setiap selaput sel dan diperlukan untuk membuat hormon-

hormon tertentu (termasuk hormon estrogen, testosterom dan hormon adrenal).

2.4. Patologi

24.1 Pengamatan Makroskopik Hepatoma

Pengamatan makroskopik hepatoma dibagi atas tiga yaitu:

a. Tipe Noduler

Page 6: BAB 2 Hepatoma

biasanya berbentuk multinoduler dengan nodul yang bermacam-macam besar dan

bentuknya, dengan permukaan ireguler. Nodul kanker terletak di lobus kanan kemudian

menjalar ke lobus kapiler. Tipe noduler paling sering ditemukan.

b. Tipe Masif

yaitu suatu bentuk masif yang besar pada sala satu lobus, dengan hanya satu nodul saja,

sehingga disebut homonoduler masif. Tumor massa yang besar tersebut sering terdapat di

lobus kanan dan pada lobus yang lainnya dijumpai tumor kecil-kecil.

c. Tipe Difu

pada bentuk ini sulit untuk batas dari tumor dengan jaringan hati yang normal, karena

seluruhnya tela terisi oleh sel-sel karsinoma yang difusif. Tidak ditemukan suatu nodul

sehingga kadang sulit dibedakan dengan sirosis portal.

2.4.2 Pengamatan Mikroskopik Hepatoma

Pengamatan mikroskopik hepatoma dibagi atas tiga yaitu:

a. Karsinoma Hepatoseluler

Sel-sel kanker biasanya mempunyai ukuran yang lebih besar dari sel-sel hati yang normal

berbentuk poligonal. Terdapat sel-sel besar berinti banyak dan terlihat adanya mitosis dimana

inti mengalami hiperkromasi dan besarnya bervariasi bila dibandingkan dengan sel hati normal.

Di dalm sel hati ditemukan sitoplasma dan pigmen empedu. Sering disertai dengan sirosis hati.

b. Karsinoma Kholangioseluler

Sel-sel tumor berbentuk kuboid dan silindris dan membentuk tubulus/ alveoli yang

dikelilingi oleh jaringan ikat. Gambaran mitosis tidak ditemukan karena tidak terdapat sel-sel

Page 7: BAB 2 Hepatoma

besar yang berinti banyak. Di dalm sel tumor tidak ada sitoplasma dan pigmen empedu. Jarang

ditemukan bersamaan dengan sirosis hati.

c. Karsinoma Hepatokholangioluler

Tumor ini merupakan campuran antara karsinoma hepatoseluler dan karsinoma

kholangioseluler. Jarang sekali ditemukan dan biasanya bersal dari embrionik.

23. Penyebaran Hepatoma

Metastasis inttrahepatik dapat melalui pembuluh darah, saluran limfe atau infiltrasi

langsung. Metastase ekstrahepatik dapat melibatkan vena hepatika, vena porta, atau vena kava.

Dapat terjadi metastasi pada varises esofagus dan di paru. Metastase sistemik seperti di kelenjar

getah bening di porta hepatis tidak jarang terjadi, dan dapat juga sampai ke mediastinum. Bila

sampai di peritonium, dapat menimbulkan asites hemoragik, yang berarti sudah masuk stadium

terminal.

2.6. Tingkat Keparahan (Stadium) Penyakit Hepatoma

2.6.1. Stadium Dini

Kriteria dari hepatoma stadium dini sebagai berikut:

a. Ditemukan hanya satu nodul kanker dengan diameter 3.0-4.0 cm hanya di salah satu

lobus.

b. Ditemukan dua nodul kanker dengan diameter kurang dari 3 cm dan terletak di salah satu

lobus.

c. Di segmen lain tidak ditemukan nodul kanker sama sekali.

d. Tidak disertai dengan invasi pembuluh darah (vaskuler).

Page 8: BAB 2 Hepatoma

2.6.2. Stadium Lanjut

Apabila banyak dijumpai tumor soliter berbatasan dengan salah satu lobus di hati atau di

kedua lobus hati, disertai dengan invasi pada vaskuler da tumor sudah menunjukkan metastase ke

organ-organ di sekitar hati.

2.7. Epidemiologi Hepatoma

2.7.1. Distribusi dan Frekuensi Hepatoma

a. Distribusi dan Frekuensi Menurut Orang

Pada umumnya kaum laki-laki lebih banyak ditemukan menderita hepatoma daripada

perempuan, hal ini dihubungkan dengan tingginya prevalensi HbsAg pada laki-laki. Secara

umum di dunia penderita hepatoma pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan dengan rasio

4:1. Perbandingan penderita hepatoma pada laki-laki dan perempuan menurut: Bruix di

Barcelona Spanyol (1995) 3:1; Michael (1996) di Afrika Selatan 6:1; Yoon D. S di Seoul Korea

Selatan (1996); Marbun E (2000) Rumah Sakit St. Elisabeth Medan menemukan perbandingan

3:1.

Menurut Serag (2001), laki-laki 2 sampai 4 kali lebih sering ditemukan menderita

hepatoma dibanding perempuan. Alasan perbedaan resiko hepatoma antara laki-laki dan

perempuan belum diketahui secara pasti, kemungkinan berhubungan dengan frekuensi dari

infeksi virus hepatitis dan konsumsi alkohol.

Faktor keturunan diasumsi karena banyaknya insidens hepatoma di Benua Afrika dan

Asia. American Cancer Society, berdasarkan penelitian Cracken, M, dkk (2007) pada ras

Page 9: BAB 2 Hepatoma

mongoloid yang tinggal di California tahun 2000-2002, ditemukan CSDR penderita hepatoma

berdasarkan etnik dan jenis kelamin.

Cina berjenis kelamin Iaki-laki 23.3 per 100.000 penduduk dan perempuan 7.6 per 109.000

penduduk. etnik Philipina denpn jenii telamin laki-laki 16.8 per 100.000 penduduk dan

perenipuan 5.4 per 109.000 penduduL etnik Vietnam dengan jenk kebmin Iaki-bki 54.3 per

100.000 penduduk dan perempuan 15.8 per 100.009 penduduk. emit Korea beijenis telamin laki-

laki 3M per 100.000 penduduk dan perenipuam 15.9 per 109.000 pendudut. dun emit Jepan

clenpan Jenis kebmin lakiluLl 9.3 per I (N tINK) pciiduduk dun peavmpuarn 8.1 per I 00.000

pendudut.2’

b. distribusi dan frekuensi menurut tempat

sekitar 80% kasus hepatoma berda di negara berkembang seperti Asia Timur dan Asia Tenggara

serta Afrika Tengah (Sub-Sahara), yang diketahui sebagai wilayah dengan prevalensi hepatitis

yang tinggi. Menurut Stewart (2003) di seluruh dunia lebih dari 80% kasus hepatoma terjdi di

negara berkembang, dan di China lebih 55% dari total kasus.

c. Distribusi dan frekuensi menurut waktu

Berdasarkan Globocan (2002), ditemukan peringkat dan PMR untuk masing-masing negara

berdasarkan jenis kelamin dari hepatoma di Amerika Serikat, hepatoma pada laki-laki peringkat

ke-94 dengan PMR sebesar 5.5% dan perempuan peringkat ke-120 dengan PMR sebesar 2%.

2.7.2. Determinan Hepatoma

a. Host

Page 10: BAB 2 Hepatoma

Pada hepatoma faktor usia meningkatkan progresifitas. Pada penderita hepatoma lanjut usia,

mencapai puncak antara 50 hingga 70 tahun. Di Afrika seperti Mosambique dan Asia Tenggara

seperti Singapura kebanyakan pasien hepatoma berumur antara 20-40 tahun, sedangkan di Eropa

dan Amerika jarang sebelum 60 tahun. Distribusi umur pada hepatoma dipengaruhi oleh tipe dan

waktu dari terdapatnya faktor resiko. Hepatoma jarang ditemukan pad usia muda. Di Indonesia

(khususnya Jakarta) hepatoma ditemukan tersering pada umur antara 50 sampai 60 tahun dengan

penderita laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

b.. Agent

Penyebab hepatoma belum diketahui secara pasti, beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab

terjadinya hepatoma, antara lain:

b.1. Sirosis hati

Sirosis hati merupakan faktor resiko utama hepatoma di dunia dengan riwayat penyakit lebih dari

80% kasus hepatoma. Di Indonesia dalam 70-90% kasus hepatoma muncul pada penderita sirosis

hati. Kemungkinan timbulnya kanker pada sirosis hati adanya hiperplasia noduler yangakan

berubah menjadi adenoma dan kemudian berubah menjadi kanker.

b.2. Hepatitis

Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) 10% akan menjadi kronik dan 20% penderita hepatitis kronik

dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami sirosis hati dan hepatoma. Kondisi infeksi

VHB dengan pajanan agen lain seperti alfatoksin dapat menyebabkan terjadinya hepatoma tanpa

melalui sirosis hati.

b.3. Alfatoksin

Page 11: BAB 2 Hepatoma

Alfatoksin dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus yang sering tumbuh dalam bhan makanan.

Bahan makanan yang mengandung alfatoksin sering dikonsumsi penduduk Indonesia seperti:

kacang tanah, oncom, tembakau, beras, jagung, coklat, keju, dan beberapa bahan makanan yang

mengandung jamur.

Alfatoksin apabila terkontaminasi dalam takaran yang tinggi mengakibatka kerusakan hati yang

berat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat dan apabila terkontaminasi dalam

takaran rendah dalam waktu yang lama akan menyebabkan resiko hepatoma.

b.4. Alkohol

Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati. Masukan alkohol yang

tinggi (>50-70 g/hari) dalam waktu yang lama akan meningkatkan resiko hepatoma melalui

peningkatan predisposisi terjadinya sirosis hai.

Asupan alkohol lebih dari 10-20 oz (300-600 dl) per hari dalam waktu 8-12 hari sudah mulai

timbul gangguan fungsi hati seperti perlemakan dan ikterus (alkoholik hepatitis) dalam jangka

waktu yang lama akan terjadi sirosis hati dan hepatoma, jangka waktu tidak jelas dipengaruhi

faktor nutrisi penderita dan faktor resiko lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya hepatoma.

b.5. Obat-obatan dan bahan kimia

Obat-obatan dan bahan kimia dapat mengganggu fungsi hati. Kelainan hati yang timbul dapat

bersifat hepatotoksin (keracunan langsung pada sel hati ) dan kolastatik (penyempitan saluran

empedu sehingga menimbulkan fibrosis kemudian ikterus dan menjadi sirosis dan hepatoma)

Page 12: BAB 2 Hepatoma

Gangguan fungsi hati dapat bersifat semntara, bila pemberian obat tersebut segera dihentikan.

Bila obat diberikan terus menerus tanpa takaran dapat berlanjut menjadi fibrosis dari jaringan

hati dan akhirnya timbul sirosis dan hepatoma.

Jenis obat yang diduga dapat menyebabkan hepatoma adalah dari golongan analgetik/ antipiretik

(aspirin, parasetamol, fenilbutazon), obat antibiotik (tetrasiklin, eritromisin, rifampisin), obat

penenang (klorpromazin, fenobarbital), dan obat anastesi (halotan, karbon tetraklorid). Timbul

kelainan hati tergantung dosis dan lama pemakaian obat.

b.6. Faktor Nutrisi

Gangguan nutrisi dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan menurunkan kondisi tubuh.

Beberapa zat makanan yang menjadi faktor penyebab terjadinya hepatoma yaitu kekurangan:

protein hewani, tokoferol, cystein, alfa 1 antitrypsn, vitamin B kompleks. Keadaan kekurangan

gizi terutama protein akan menurunkan kondisi badan dan merupakan faktor predisposisi untuk

memudahkan terjadinya hepatoma.

Faktor nutrisi berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah. Pada umumnya

penderita hepatoma jarang sekali mengkonsumsi daging dan telur kebanyakan mengkonsumsi

makanan yang mengandung kacang-kacangan, oncom, tahu, tempe dan sayuran.

b.7. Faktor genetik

Terjaidnya hepatoma belum diketahui secara pasti, namun salah satu faktor resiko kanker adalah

adanya anggota keluarga yang menderita kanker. Hemokromatosis besi secara berlebihan di

dalam jaringan. Penyakit hemokromasitosis bersifat keturunan atau genetik.

C. Environment

Page 13: BAB 2 Hepatoma

Indonesia berada di daerah tropis yang mempunyai iklim panas, lembab sangat ideal untuk

pertumbuhan berbagai jamur seperti Aspergillus flavus. Kondisi lingkungan, infeksi, nutrisi,

metabolik dan faktor hormonal berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada

proses hepatokarsinogenesis.

Inisiasi dengan karsinogen menyebabkan perubahan genetik atau merusak DNA sel normal.

“Promotion” adalah sel terinisiasi menjadi agen yang meningkatkan pertumbuhannya menjadi

massa yang lebih besar, akibatnya fungsi sel atau jaringan yang diserang terganggu.

Page 14: BAB 2 Hepatoma

Sel normal dapat berubah menjadi sel kanker disebabkan oleh ekspresi onkogen. Onkogen

berasal dari proto-onkogen (berperan dalam aktivitas pertumbuhan sel eukariotik normal) yang

bermutasi. Jika onkogen aktif, maka sel akan mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali.

Page 15: BAB 2 Hepatoma

2.8. Gambaran Klinik dan Diagnosa Klinik

2.8.1. Gambaran Klinik

Gambaran klinik pada penderita hepatoma didasarkan pada keluhan yang sering disampaikan

oleh penderita, berupa:

a. Rasa nyeri perut sebelah kanan atas, sifat nyeri biasanya nyeri tumpul dan terus menerus

tetapi dapat bertambah berat bila bergerak

b. Benjolan di perut, biasanya tidak disertai rasa nyeri, perasaan nyeri di perut kadang

timbul setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit

c. Keluhan lain, seperti: demam, badan semakin lemah, nafsu makan berkurang, perasaan

selalu kenyang, berat badan menurun secara cepat, ikterus (mata dan kulit menguning),

hematemesis melena (berak/ muntah darah) biasanya terjadi pada penyakit yang sudah

lanjut

Page 16: BAB 2 Hepatoma

2.8.2. Diagnosa Klinik

Untuk menegakkan diagnosa klinik perlu diperhatikan:

a. Anamnesis

Sebagian besar penderita yang datang berobat sudah dalam tahap lanjut dengan keluhan

nyeri perut kanan atas, atau di epigastrium yang bertamabah hebat bila bergerak, terasa

ada benjolan di perut kanan atas, berat badan menurun, anreksia dan adanya perasaan

lekas kenyang, sakit perut dan rasa lemas. Keluhan lain terjadinya perut membesar karena

ascites (penimbunan cairan dalamrongga perut), mual, tidak bisa tidur, nyeri otot, berak

hitam, demam, bengkak kaki, kuning, muntah, gatal, muntah darah, perdarahan dari

dubur.

b. Pemeriksaan Fisik

Page 17: BAB 2 Hepatoma

Biasanya hati terasa besar dan berbenjol-benjol, tepi tidak rata, tumpul, kadang-kadang

terasa nyeri bila ditekan. Bila letak tumor di lobus kiri maka pembesaran hati terlihat di

epigastrium, tapi bila tumor tersebut terletak di lobus kanan, maka pembesaran hati

terlihat di hipokondrium kanan.

c. Sarana Penunjang Diagnosa

Pemeriksaan laboraturium dapat memperkuat adanyatumor ganas dengan benjolan di hati

dengan adanya peninggian kadar Alfa Feto Protein (AFP) dan kadar bilirubin yang relatif

rendah. Paada fototoraks bila ditemukan kenaikan diafragma kanan, berarti terjadi

pembesaran hati. USG untuk melihat ukuran dan stadium kanker. Sidik hati Positron

Emission Tomography (PET), dan angiodrafi untuk keganasan kanker. Teknik hellical

CT scan, dapat melihat luas kanker. CT angiography dapat memperjelas batas antara

kanker dan jaringan sehat disekitarnya.

Pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) membuat peta pembuluh darah

hepatoma. Radiologi dapat mendeteksi tumor dengan diameter kurang dri 1 cm,

banyaknya nodul, segmen hati yang terkena, banyaknya aliran darah ke kanker, adanya

sirosis hati, metastate kanker keluar dari hati ke organ-organ tubuh lainnya, dan tingkat

kegansan hepatoma. Dengan peritoneoskopi dan laparoskopi dapat dilihat dari permukaan

hati yang berbenjol-benjol, ada tidaknya tumor ganaspada tempat benjolan di hati disertai

dengan biopsi. Bopsi aspirasi dengan jarum halus (fine needle aspiration biopsy)

digunkan untuk menilai suatu lesi yang ditemukan pada pemeriksaan radiologi imaging

dan laboraturium AFP adalah hepatoma.

2.9. Lama Rawatan

Page 18: BAB 2 Hepatoma

Penentuan lama rawatan pada pasien rawt inap, termasuk bagi penderita hepatoma sangat

bervariasi. Hal ini tergantung dari jenis penyakit, tingkat keparahan penyakit, tindakan medis

rumah sakit, dan sebagainya.

2.10. Pencegahan

2.10.1. Pencegahan Primordial

Pencegahan yang dilakukan untuk menghindari kemunculan keterpaparan dari gaya hidup yang

berkontribusi meningkatkan resiko penyakit, dilakukan dengan:

a. Mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin, beta karoten, mineral, dan

tinggi serat yang dapat menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat

b. Kurangi makanan yang mengandung lemak tinggi

c. Kurangi makanan yang dibakar, diasinkan, diasap, diawetkan dengan nitrit

d. Pengontrolan berat badan, diet seimbang dan olah raga

e. Hindari stres

f. Menjaga lingkungan yang sehat dan bersih sehingga terhndar dari penyakit menular

2.10.2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer adala langkah yang harus dilakukan untuk menghindari insidens penyakit

dengan mengendalikan penyebab penyakit dan faktor resiko

a. Memperhatikan menu makanan terutama mengkonsumsi protein hewani cukup

b. Hindari mengkonsumsi minuman beralkohol

c. Mencegah adanya alfatoksin pada makanan, seperti: kacang-kacangan, oncom, jagung,

tembakau, kedelai dan lain sebagainya maka perlu pengolahan yang sempurna. Bila

Page 19: BAB 2 Hepatoma

menemukan makanan yang mulai membusuk sebaiknya dibuang karena sudah

mengandung jamur

d. Mencegah penularan hepatitis, imunisasi bayi secara rutin menjadi strategi utama untuk

pencegahan VHB dan dapat memutuskan rantai penularan

e. Hindari kontak dengan penderita hepatitis dan cegah penularan seperti melalui: kontak

caira tubuh, jarum suntik yang dipakai berulang atau bergantian

2.10.3. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah pengobatan penderita da mengurangi akibat-akibat yang serius dari

penyakit melalui diagnosa dini dan pemberian pengobatan, dapat dilakukan:

Hepatoma sering ditemuka pada stadium lanjut maka perlu dilakukan pengamata berkala pada

kelompok penderita yang kemungkinan besar akan menderita hepatoma dengan pemeriksaan

USG dan AFP.

a. Penderita hepatitis kronik dengan HbsAg positif tiap 4 bulan sekali dan dengan HbsAg

negatif tiap 6 bulan sekali

b. Penderita sirosis dengan HbsAg positif diperiksa tiap 3 bulan sekali dan dengan HbsAg

negatif tiap 4 bulan sekali

Deteksi dini terhadap penderita hepatitis dan sirosis hati dapat dilakukan tindakan

pengobatan dan perawatan yang intensif sehingga tidak berlanjut ke hepatoma. Deteksi

dini terhadap penderita hepatoma dan melakukan tindakan pengobatan sehingga tidak

terjadi kondisi yang lebih fatal.

Pengobata pada penderita hepatoma dapat dilakukan dengan:

a. Kemoterapi

Page 20: BAB 2 Hepatoma

Terpi dengan obat-obat sitostatika dapat menghambat pertumbuhantumor. Nutrisi dan

oksigenasi sel-sel hati yang normal 70% berasal dari vena porta dan 30% dari arteri

hepatika, sehingga sel-sel ganas mendapat nutrisi dan oksigenasi terutama dari sistem

arteri hepatika. Bila vena porta tertutup oleh tumor maka makanan dan oksigen ke

sel-sel hati normla akan terhenti dan sel-sel tersebut akan mati.

Obat kemoterapi

1. Zadaxin

2. Doxorubicin

3. Methotrexate

4. 5FU

5. Cisplastin

6. Kolkisin, pencegah kanker hati bagi penderita hepattitis stadium akhir

b. Radiasi

Radiasi tidak banyak memberikan peranan dalam pengobatan hepatoma, hal ini

karena pada umumnya sel kanker bersifat relatif resisten terhadap pengobtan radiasi.

Sel hati yang normal sangat peka terhadap radiasi sehinggadapat menyebabkan

pengecilan hati.

c. Embolisasi

Tindakan embolisasi Arteri Hepatika atau Trans Arterial Embolisasi (TAE)

menyumbat feeding artery. Feeding artery ini disumbat atau diembolisasi dengan

suatu bahan seperti gel foam sehingga aliran darah ke kanker dihentikan dan dengan

demikian suplai makanan dan oksigen ke sel-sel kanker akan terhenti dan sel-sel

kanker ini akan mati. Apalagi sebelum dilakukan embolisasi, dilakukan tindakan trans

Page 21: BAB 2 Hepatoma

arterial chemotherapy yaitu memberikan obat kemoterapi melalui feeding artery itu.

Maka sel-sel kanker jadi diracuni dengan obat yang mematikan.

d. Injeksi Etanol Perkutan

Injeksi Etanol Perkutan atau Percutaneus Etanol Injection (PEI) dilakukan pada

pasien stadium dini.

e. Pembedahan

Pembedahan hati pada stadium dini penyakit, merupakan pengobatan yang paling

biasdiharapkan memberikan penyembuhan. Pembedahan dapat dilakukan apabila

tumor terletak pada satu lobus saja, keadaan umum penderita cukup baik.

Pascalobektomi jaringan hati masih dapat memenuhi kebutuhan tubuh.

2.10.4. Pencegahan Tersier

Hepatoma disertai sirosis hati dan ditemukan kerusakan hati yang berkelanjutan atau sudah

hampir seluruh hati terkena kanker atau sudah ada sel-sel kanker yang masuk ke vena porta

(thrombus vena porta) jalan terapi dengan transplantasi hati.

Page 22: BAB 2 Hepatoma

BAB 3

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Hepatoma disebut juga kanker hati atau karsinoma hepatoseluler atau karsinoma hepato

primer. Hati terdiri dari 2 lobus utama, lobus kanan (dekster) dan lobus kiri (sinister). Secara

fisiologis, fungsi utama dari hati adalah: membantu dalam metabolisme karbohidrat, membantu

metabolisme lemak, membantu metabolisme protein, menetralisir obat-obatan dan hormon,

mensekresi cairan empedu, mensintesis garam-garam empedu, sebagai tempat penyimpanan,

sebagai fagosit, mengaktifkan vitamin D, dan menghasilkan kolesterol tubuh. Secara

makroskopik hepatoma ada tiga tipe yaitu tipe noduler, masif dan difus. Sedangkan secara

mikroskopik dibagi atas tiga pula yaitu karsinoma hepatoseluler, karsinoma kholangioseluler dan

karsinoma hepatokholangioseluler. Determinan hepatoma yaitu host, agent (sirosis hati, hepatitis,

alfatoksin, alkohol) dan environment.

3.2. Saran

Page 23: BAB 2 Hepatoma
Page 24: BAB 2 Hepatoma