of 52 /52
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN HIPERTENSI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah beberapa hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini. Penyakit ini dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai penyebab berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator bergesernya dari penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari urutan penyebab kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui penyakit ini, maka kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan

Askep Keluarga Hipertensi Oix

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hk

Text of Askep Keluarga Hipertensi Oix

Page 1: Askep Keluarga Hipertensi Oix

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN HIPERTENSI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk

Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat

dari waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya

adalah gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas

yang tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah

beberapa hal yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini.

Penyakit ini dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai

penyebab berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator

bergesernya dari penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari

urutan penyebab kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui

penyakit ini, maka kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi

didefinisikan sebagai peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140

mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90

mmHg (Anindya,2009)

Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma,

gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa melihat usia atau

jenis kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan biasanya tanpa ada gejala-

gejala sebelumnya. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kerusakan berbagai

organ target seperti otak, jantung,ginjal,aorta,pembulu darah perifer dan retina.

Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala

bidang perlu memperhatikan pendidikan kesehatan masyarakat untuk mencegah

timbulnya penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan

Page 2: Askep Keluarga Hipertensi Oix

lain-lain, sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses

pembangunan. Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau

program pencegahan yang terarah. Hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan

pemeriksaan tekanan darah secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu

check-up kesehatan atau saat periksa ke dokter.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah definisi hipertensi ?

2. Apakah etiologi/ faktor pencetus hipertensi ?

3. Apakah manifestasi klinis hipertensi ?

4. Apakah pemeriksaan penunjang pada hipertensi ?

5. Apakah penatalaksanaan klien dengan hipertensi ?

6. Apa sajakah komplikasi dari hipertensi ?

7. Bagaimana contoh kasus asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi ?

1.3 Tujuan

Tujuan Umum

Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan

hipertensi.

Tujuan Khusus

Mengetahui dan memahami definisi hipertensi.

Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus hipertensi.

Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis hipertensi.

Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada hipertensi.

Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan hipertensi.

Page 3: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Mengetahui dan memahami komplikasi dari hipertensi.

Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi.

Page 4: Askep Keluarga Hipertensi Oix

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP KELUARGA

2.1 Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran,

dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap

anggota keluarga ,Duvall dan Logan ( 1986 )

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah

tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling

berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan

menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Bailon dan Maglaya ( 1978 )

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala

keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di

bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Departemen Kesehatan RI

( 1988 )

Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :

1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,

perkawinan atau adopsi

2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap

memperhatikan satu sama lain

3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai

peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik

4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan

perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

Page 5: Askep Keluarga Hipertensi Oix

2.2 Struktur Keluarga

1. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam

beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah

2. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam

beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu

3. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu

4. Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami

5. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan

keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena

adanya hubungan dengan suami atau istri.

2.3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga

1. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota

keluarga

2. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga

mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-masing

3. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan

dan fungsinya masing-masing.

2.4 Macam-Macam Struktur / Tipe / Bentuk Keluarga

1. Tradisional :

a. The nuclear family (keluarga inti)

Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.

b. The dyad family

Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama

dalam satu rumah

c. Keluarga usila

Page 6: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah

memisahkan diri

d. The childless family

Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan

anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan

yang terjadi pada wanita

e. The extended family (keluarga luas/besar)

Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu

rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek),

keponakan, dll)

f. The single-parent family (keluarga duda/janda)

Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal

ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan

(menyalahi hukum pernikahan)

g. Commuter family

Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota

tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa

berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end)

h. Multigenerational family

Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal

bersama dalam satu rumah

i. Kin-network family

Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling

berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama.

Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)

j. Blended family

Page 7: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan

membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya

k. The single adult living alone / single-adult family

Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena

pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

2. Non-Tradisional

a. The unmarried teenage mother

Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari

hubungan tanpa nikah

b. The stepparent family

Keluarga dengan orangtua tiri

c. Commune family

Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan

saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama,

pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok /

membesarkan anak bersama

d. The nonmarital heterosexual cohabiting family

Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui

pernikahan

e. Gay and lesbian families

Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana

pasangan suami-istri (marital partners)

f. Cohabitating couple

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena

beberapa alasan tertentu

Page 8: Askep Keluarga Hipertensi Oix

g. Group-marriage family

Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga

bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi

sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya

h. Group network family

Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan

satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama,

pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya

i. Foster family

Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam

waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan

untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya

j. Homeless family

Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang

permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan

atau problem kesehatan mental

k. Gang

Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang

mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi

berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

2.5 Tahap-Tahap Kehidupan / Perkembangan Keluarga

Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara unik,

namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama (Rodgers cit

Friedman, 199:

1. Pasangan baru (keluarga baru)

Page 9: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan

perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan

(psikologis) keluarga masing-masing :

a. Membina hubungan intim yang memuaskan

b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial

c. Mendiskusikan rencana memiliki anak

2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)

Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan samapi

kelahiran anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30 bulan :

a. Persiapan menjadi orang tua

b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan

sexual dan kegiatan keluarga

c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

3. Keluarga dengan anak pra-sekolah

Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir

saat anak berusia 5 tahun :

a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal,

privasi dan rasa aman

b. Membantu anak untuk bersosialisasi

c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain

juga harus terpenuhi

d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar keluarga

(keluarga lain dan lingkungan sekitar)

e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling repot)

f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga

Page 10: Askep Keluarga Hipertensi Oix

g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak

4. Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan

berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota

keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk :

a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan

b. Mempertahankan keintiman pasangan

c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk

kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga

5. Keluarga dengan anak remaja

Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir

sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah

orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi

tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri

menjadi lebih dewasa :

a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat

remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya

b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga

c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Hindari

perdebatan, kecurigaan dan permusuhan

d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga

6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan

berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini

tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum

berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua :

Page 11: Askep Keluarga Hipertensi Oix

a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

b. Mempertahankan keintiman pasangan

c. Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua

d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat

e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

7. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan

berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal :

a. Mempertahankan kesehatan

b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-

anak

c. Meningkatkan keakraban pasangan

8. Keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu

pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal damapi keduanya

meninggal :

a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan

b. Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan

pendapatan

c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat

d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat

e. Melakukan life review (merenungkan hidupnya).

Page 12: Askep Keluarga Hipertensi Oix

B. KONSEP DASAR HIPERTENSI

2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang

mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu

yang lama). Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita

sendiri. Satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur

tekanan darah kita secara teratur.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi

peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita

yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi

140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang

lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih

rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang

dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi,

biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya

terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga

kali dalam jangka beberapa minggu.

2.2 Etiologi Hipertensi

Berdasarkan penyebabnya, Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :

1.Hipertensi esensial atau primer

Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat

diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab

hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas

(keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer

sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.

2. Hipertensi sekunder

Page 13: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui,

antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid),

penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain. Karena golongan

terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, maka penyelidikan

dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial.

Berdasarkan faktor akibat Hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di dalam

arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada

setiap detiknya

Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. Arteri

besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat

mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena

itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit

daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.

Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan

darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu

membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh

meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri

mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Maka tekanan

darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.

Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dibedakan atas yang tidak dapat

dikontrol seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Pada 70-80% kasus

Hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila

riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan Hipertensi

primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar

monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini

menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya

Hipertensi.

Page 14: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress,

kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan

ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara

stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis

adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah

saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas.

Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah

secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat

mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti,

akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan

dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang

dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi

Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan

terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan

hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan

membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita

obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang

mempunyai berat badan normal.

2.3 Manifestasi Klinis Hipertensi

Mekanisme Terjadinya Hipertensi Gejala-gejala hipertensi antara lain

pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba,

tengkuk terasa pegal,dan lain-lain. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh

hipertensi adalah kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata),

pecahnya pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan.

2.4 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi

1. Hemoglobin / hematokrit : mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume

cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti

hipokoagulabilitas, anemia.

Page 15: Askep Keluarga Hipertensi Oix

2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.

3.Glukosa : Hiperglikemia diabetes melitus adalah pencetus hipertensi) dapat

diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

4. Kalium serum : hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama

(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

5.Kalsium serum : peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan

hipertensi.

6. Kolesterol dan trigeliserida serum : peningkatan kadar dapat mengindikasikan

pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiofaskuler)

7. Pemeriksaan tiroid : hipertiroidisme dapat mengakibatkan vasikonstriksi dan

hipertensi.

8. Kadar aldosteron urin dan serum : untuk menguji aldosteronisme primer

(penyebab).

9. Urinalisa : darah, protein dan glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau

adanya diabetes.

10. VMA urin (metabolit katekolamin) : kenaikan dapat mengindikasikan adanya

feokomositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat digunakan untuk pengkajian

feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.

11. Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko

terjadinya hipertensi.

12. Steroid urin : kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme,

feokromositoma atau disfungsi ptuitari, sindrom Cushing’s; kadar renin dapat juga

meningkat.

13. IVP : dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi, seperti penyakit parenkim

ginjal, batu ginjal dan ureter.

Page 16: Askep Keluarga Hipertensi Oix

14. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub; deposit

pada dan/ EKG atau takik aorta; perbesaran jantung.

15. CT scan : mengkaji tumor serebral, CSV, ensevalopati, atau feokromositoma.

16. EKG: dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan

konduksi. Catatan : Luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini

penyakit jantung hipertensi.

2.5 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Non Farmakologis.

1. Diet

Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat

menurunkan. tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam

plasma dan kadar adosteron dalam plasma.

2. Aktivitas.

Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan

dengan. batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,

bersepeda atau berenang.

b. Penatalaksanaan Farmakologis.

Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian

atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:

1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.

2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.

3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.

4. Tidak menimbulakn intoleransi.

5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.

Page 17: Askep Keluarga Hipertensi Oix

6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.

Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi

seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis

kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin.

2.6 Komplikasi

Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata

berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan,gagal

jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.

Page 18: Askep Keluarga Hipertensi Oix

BAB III

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA KLIEN

DENGAN GANGGUAN HIPERTENSI

Puskesmas :

Rusun Nawa

No

Register

Tanggal Jarak Untuk Mencapai Pelayanan Kesehatan Terdekat

Puskesmas : (1) km

PUSTU : (-) meter/ km

Dicapai dengan Jalan kaki dan motor roda 2

Nama KK :

Bpk Alit Nasuha

Alamat : Jl. Rancakasumba 03/07

Kelurahan Cisaranten kulon

Arcamanik Bandung

DAFTAR ANGGOTA KELUARGA (TERMASUK KEPALA KELUARGA)

No Nama

Anggota

Keluarga

Hubungan

Keluarga

L/P Umu

r

PDDK

N

Pekerjaan Agama Keadaan

Kesehatan

Imun KB B.Ind Ketera

ngan

1. Alit

Nasuha

Suami L 52 SMP Satpam Islam Baik Ya - Tidak

2. Tini

Kartini

Istri P 41 SD Ibu

Rumah

Tangga

Islam Sakit Tidak Ya Tidak

3. Ani

Apriani

Anak P 10 SD Pelajar Islam Baik Ya Tidak Ya

5. Abdurahm

an

Anak L 8 SD Pelajar Islam Baik Ya Tidak Ya

1. Tipe Keluarga

Keluarga Dengan Keluarga Inti

2. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

Page 19: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keluarga Ibu Tini mempunyai anak perempuan yang paling besar berusia 15

tahun, maka keluarga Ibu Tini berada pada tahap perkembangan keluarga

dengan anak remaja.

3. Tugas Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi :

Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah belum bisa

menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi karena masalah ekonomi

sehingga anaknya bekerja untuk memenuhi kebutuhan perekonomian di

keluarganya

4. Biologis

a. Keadaan Kesehatan

Keadaan kesehatan di keluarga Tini cukup baik baik, suaminya tidak

mempunyai penyakit kronis atau parah hanya pegal setelah bekerja dan

masuk angin kelelahan, tetapi ibu Tini sudah 14 tahun mempunyai penyakit

hipertensi atau darah tinggi dan ibu Tini sendiri tidak tahu penyakit itu apa,

ditambah ibu Tinni selalu mengeluh pusing, lemas, susah tidur, mudah

marah, mudah lelah dan pegal dari pinggul sampai kaki, sedangkan anaknya

tidak begitu bermasalah dengan keadaannya hanya kecapean dan batuk pilek

biasa saja.

b. Kebersihan Keluarga

Dilihat secara keseluruhan berdasarkan observasi keluarga ibu Tini cukup

bersih, dimana ibu Tini terlihat bersih dari mulai tubuh sampai berpakaian

dan anaknya pun sama bersih karena mereka memperhatikan kebersihan

tubuhnya dengan mandi sehari 2x, gosok gigi 2x sehari serta keramas

seminggu 3x.

c. Penyakit Yang sering Di derita

Untuk penyakit yang sering di derita keluarga ibu Tini hanya batuk pilek

dan pusing biasa, namun untuk 2 bulan terakhir ibu Tini selalu mengeluh

mudah lelah dan demam.

d. Penyakit Kronis / Menular

Page 20: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Di keluarga Ibu Tini tidak mempunyai penyakit menular hanya Ibu Tini

yang mempunyai penyakit Hipertensi yang sudah lama di deritanya.

e. Kecacatan Anggota Keluarga

Berdasarkan observasi di keluarga Ibu Tini tidak terlihat adanya kecatatan

bawaan ataupun kecacatan yang didapat baik pada bapak Alit, Ibu Tini

maupun anaknya.

f. Pola Makan

Kebiasaan pola makan di keluarga Ibu Tini cukup baik seperti frekuensi

makan dalam sehari rata – rata 2-3x sehari, tetapi secara pengolahan dan

penyajian masih kurang yaitu tidak memenuhi 4 sehat 5 sempurna hanya

telur dan nasi atau nasi dan sayur tetapi dalam keseimbangan gizi cukup

baik untuk kesehatan.

g. Pola Istirahat

Kebiasaan istirahat / tidur keluarga Ibu Tini cukup baik dengan sehari

mereka tidur kurang lebih 6-8 jam, mereka tidur mulai dari jam 9 atau jam

10 sampai subuh jam 5, tidak ada kendala yang mempengaruhi pola istirahat

keluarga, hanya saja ibu Tini selalu mengeluh sukar tidur setiap malam

dikarenakan pusing dan rasa pegal di kakinya.

h. Reproduksi / Aseptor KB

Di keluarga Ibu Tini ada perencanaan pengaturan jumlah anak, sehingga ibu

Tini mengatakan menggunakan KB IUD selama 8 tahun.

5. Psikologis Keluarga

a. Keadaan Emosi / Mental

Kondisi emosi keluarga Ibu TIni kurang terkendali hubungan dengan

keluarga yang lain cukup baik, seperti bila ada yang ribut dan mengganggu

pikiran ibu Tini, Ibu Tini terkadang suka marah – marah hanya saja anaknya

selalu mengatasi masalahnya dengan baik seperti menegur adiknya bila

sedang bertengkar.

b. Koping Keluarga

Page 21: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Strategi koping atau cara keluarga menyikapi masalah yang terjadi di

keluarganya biasa saja dan ada strategi dalam menyelesaikan masalah yaitu

bermusyawarah bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikannya.

c. Kebiasaan Buruk

Di keluarga ibu Tini tidak terdapat kebiasaan – kebiasaan buruk. Hanya saja

mereka harus terbiasa tidak selalu berdampingan dengan bapak Alit karena

bapak Alit pulangnya hanya 1 minggu sekali kerumah.

d. Rekreasi

Aktifitas atau pun rekreasi keluarga Ibu Tini menonton televisi dan

terkadang hari minggu suka berjalan-jalan ke perluasan Arcamanik sekedar

melepas penat.

e. Pola Komunikasi Keluarga

Pola komunikasi keluarga menggunakan pola komunikasi dua arah yaitu

dari orang tua ke anak atau dari anak ke orang tua.

f. Pengambil Keputusan

Yang berperan dalam mengambil keputusan di keluarga Ibu TIni yaitu Ibu

Tini karena bapak Alit hanya pulang seminggu sekali kerumah dikarenakan

tempat kerjanya yang jauh.

g. Peran Informasi

Mengenai peran informasi dari setiap anggota keluarga berjalan secara baik,

sehingga setiap anggota bisa mengikuti informasi yang telah disampaikan

dari tiap anggota keluarganya,dan bila sumber informasi yang datang dari

orang lain seperti dari petugas kesehatan mereka bisa menurut.

6. Sosial Ekonomi Keluarga

a. Hubungan dengan Orang lain

Hubungan keluarga dengan orang lain baik, termasuk dengan tetangga dan

masyarakat setempat.

b. Kegiatan Organisasi Sosial

Page 22: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keluarga selalu mengikuti kegiatan organisasi sosial di masyarakat seperti

pengajian, kerja bakti dll, dikarenakan organisasi setempat sangat aktif

terutama ibu – ibu pengajiannya rajin mengadakan pengajian rutin.

c. Keadaan Ekonomi

Keluarga Ibu Tini sejauh ini masih bisa memenuhi dan mencukupi

kebutuhan sehari - hari seperti untuk biaya makan keluarganya dan sesekali

dibantu oleh anaknya yang sudah bekerja sehingga bisa membantu

perekonomian keluarganya

7. Spiritual Kultular Keluarga

a. Keadaan Beribadah

Dari kebiasaan keluarga dalam melakukan aktivitas beribadah sesuai agama

yang dianutnya cukup baik, keluarga melaksanakan shalat 5 waktu dan

meyakini adanya Allah dan selalu mentaati perintah dan larangannya.

b. Keyakinan Tentang Kesehatan

Keyakinan atau kepercayaan keluarga tentang kesehatan cukup tinggi,

mereka mempunyai pandangan bahwa sehat itu mahal.

c. Nilai dan Norma

Melihat nilai dan norma yang ada di keluarga meyakini bahwa dengan

beribadah dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap sang

pencipta sedang kan norma yang di anggap buruk seperti hal – hal yang

dilarang oleh agama itu adalah dosa.

d. Adat yang mempengaruhi Kesehatan

Di keluarga Ibu Tini tidak mempunyai atau mempercayai adat yang

mempengaruhi kesehatan keluarganya, hanya saja mereka selalu

menggunakan pengobatan tradisional untuk menjaga kesehatannya.

8. Lingkungan Rumah

a. Kebersihan dan Kerapihan

Keadaan kebersihan dan kerapihan dalam rumah maupun di luar rumah

keluarga Ibu Tini cukup bersih karena ibu Tini selalu menjaga kebersihan

rumahnya.

Page 23: Askep Keluarga Hipertensi Oix

b. Penerangan

Penerang di dalam rumah cukup terang dengan dipasang lampu tiap ruangan

dan bila siang hari sinar matahari dari luar dapat masuk ke dalam ruangan

rumah sehingga mengurangi kelembaban ruangan

c. Ventilasi

Keadaan sirkulasi udara di tiap ruangan cukup baik dengan terdapat

beberapa jendela dan lubang udara di tiap atas pintu jendela sehingga

memungkinkan untuk keluar masuknya udara

d. Jamban

Kondisi fasilitas MCK cukup baik dengan 1 kamar mandi, letaknya di luar

samping rumah dan cukup bersih.

e. Sumber Air Minum

Sumber air yang digunakan keluarga Ibu Tini untuk minum dan untuk

kebutuhan sehari – hari di dapat dari air minum galon isi ulang.

f. Pemanfaatan Halaman

Keluarga Ibu Tini memanfaatkan halaman rumahnya untuk bermain anak-

anak dan tempat parker motor bahkan untuk menjemur pakaian.

g. Pembuangan Air Kotor

Untuk pembuangan air kotor keluarga Ibu Tini dan masyarakat disana

langsung ke saluran air di belakang rumahnya yang mengarah ke sungai

h. Pembuangan Sampah

Pembuangan sampah di ambil secara teratur oleh petugas selama sebulan 2 –

3 kali dalam seminggu jadi keluarga hanya menyimpan sampahnya di luar

dan nanti petugas kebersihan yang mengambil.

Catatan Tambahan :

Kemandirian Keluarga

KM

KM II

Nama TTD

Kepala

Keluarga

Tn. Alit Nasuha

Petugas

Page 24: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keterangan :

KM : Keluarga Mandiri

TTD : Tanda Tangan

Catatan Status Kesehatan Individu

Puskesmas : Rusun

Nawa

No. Register : No Index :

Nama : Ny. T

Tgl Lahir : 15 – 08 – 1969

Alamat : Jl. RancaKasumba 03/07 Kelurahan cisaranten kulon

Arcamanik

Jenis Kelamin : Perempuan

Suku Bangsa : Sunda

Pend. Terakhir : SD

Agama : Islam

Status Pernikahan: Menikah

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

I. Alasan Ke Puskesmas Dikunjungi

Alasan ke Puskesmas karena sering merasa mudah lelah, pusing dan Susah

tidur

II. Riwayat Kesehatan

A. Masalah kesehatan yang pernah di alami

Masalah kesehatan yang sering di alami pusing – pusing, pegel – pegel,

susah tidur, mudah lelah dan sakit pada kaki

B. Masalah kesehatan keluarga (keturunan)

Page 25: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Ibu mengatakan ada keturunan di keluarganya yaitu penyakit keturunan

rematik dan hipertensi sehingga pada saat ditanya tentang riwayat

penyakit keturunan yang diderita sekarang yaitu hipertensi.

Khusus wanita usia subur

1. Haid : Tidak teratur

2. Siklus : Tidak teratur

3. Menarche : 14 tahun

4. Jumlah darah : Normal

5. Nyeri haid : Iya

III. Kebiasaan Sehari – hari

A. Biologis

1. Pola makan

Ibu makan sehari 2x/hari dengan porsi 1/2 piring penuh atau sesuai

keinginan saja.

2. Pola minum

Ibu minum sehari lebih dari 1000 ml dan sehari ibu bisa minum

sebanyak 2-3 gelas besar.

3. Pola tidur

Ibu tidur sehari kurang lebih 4 – 5 jam/ hari, dari mulai jam 9 atau

jam 10 sampai jam 5 shubuh tetapi sering terbangun pada malam

hari karena pusing dan pegal di kaki, ibu Tini jarang tidur siang

karena setiap hari ibu harus menjaga anak-anaknya dan

membereskan rumah.

4. BAB/BAK

BAB ibu lancar sehari sekali pada waktu shubuh sedangkan BAK

ibu sering sampe kurang lebih 2-3 kali

5. Aktifitas sehari – hari

Aktifitas ibu sehari – hari hanya beres – beres rumah seperti mencuci

pakaian, nyetrika pakaian, masak, dan mengurus anak-anak dari

mulai makan, minum sampai ganti pakaian

6. Rekreasi

Page 26: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Untuk rekreasi, ibu hanya nonton televisi bersama anak-anaknya dan

sekali-sekali berjalan – jalan ke area perluasan di Arcamanik..

B. Psikologi

1. Keadaan Emosi

Ibu Tini mudah marah bila anak-anaknya sudah bertengkar dan sulit

di atur.

C. Sosial

1. Hubungan Antar Keluarga

Hubungan Ibu dengan keluarganya baik, selalu berkomunikasi

dengan suami dan anaknya

2. Hubungan Dengan Orang Lain

Hubungan Ibu dengan tetangga sangat baik, ibu selalu bersosialisasi

dengan tetangga – tetangga yang lain, begitu pun dengan orang lain

ibu selalu ramah terhadap orang yang baru kenal

D. Spiritual/cultural

1. Pelaksanaan ibadah

Ibu rajin mengerjakan shalat 5 waktu, berdoa untuk selalu diberikan

kesehatan pada keluarganya serta diberikan kesehatan untuk ibu

sendiri

2. Keyakinan tentang kesehatan

Ibu mengatakan sehat itu mahal dan ibu pun mengatakan lebih baik

mencegah dari pada mengobati

IV. Pemeriksaan

A. Tanda Vital

1. Keadaan umum

Ibu tampak tenang dan penampilan tampak rapih

2. Kesadaran

GCS (Eye : 4 Move : 6 Verbal : 5 /15) Compos mentis

Page 27: Askep Keluarga Hipertensi Oix

3. Suhu : 36,5 ˚C

4. Nadi : 88x/menit

5. Pernafasan : 20x/menit

6. Tekanan Darah : 140/100mmHg

7. Tinggi badan : 155cm

8. Berat badan : 42kg

B. Pemeriksaan Fisik dan Kebersihan Perorangan

1. Pemeriksaan Inspeksi

Ny.T tampak lesu dan layu karena menahan rasa pusing yang

dirasakannya. Keadaan umum bersih dan tidak ada cacat bawaan.

2. Pemeriksaan Palpasi

Ny.T tidak merasakan nyeri tekan atau nyeri lepas pada anggota

badannya. Tidak ditemukan benjolan atau oedema pada anggota

badan.

3. Periksa Perkusi

Jantung dullness, Lambung tympani, Hati dullness, Paru-paru

Resonance

4. Periksa Auskultasi

Bunyi jantung reguler, terdengar lambat, frekuensi 88x/menit,

murmur (-)

Paru-paru normal (vesikular, Bronchial, dan Bronchovesikular)

5. Kepala

Inspeksi....: rambut sebagian beruban, distribusi rambut merata

namun ada beberapa bagian dari rambut yang distribusinya jarang-

jarang, alopesia (-), dan druf (-), hygiene cukup bersih, bau (-), kulit

kepala lembab.

Palpasi : rambut dan kulit kepala teraba tidak lengket, lesi (-),

edema (-), gatal-gatal

6. Integumen

Inspeksi: kulit tampak lembab, lesi (-), warna kulit sawo matang

Page 28: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Palpasi : turgor kembali dalam waktu 3 detik, elastisitas kulit baik,

edema (-), nyeri (-)

7. Mata

Inspeksi: kelopak mata simetris, sclera berwarna putih kemerahan,

lensa mata jernih, pupil simetris dan

tampak kecil mengalami midriasis saat dijauhi cahaya

palpasi : konjungtiva merah muda, edema (-), nyeri tekan (-)

8. Telinga

Inspeksi: Hygiene bersih, letak simetris, lesi (-), edema (-)

Palpasi : klien mampu mendengar suara detak jam tangan, nyeri (-),

rabbas (-),

9. Fungsi pendengaran

Test Rinner : Garpu tala di tabuh dan diletakan di tulang belakang

telinga (mastoid),klien masih dapat mendengar kemudian diletakan

di depan telinga, klien pun masih dapat mendengar suara

dengungan dari garpu tala tersebut.

10.. Sistem Muskuloskeletal

Inspeksi : ekstremitas kanan dan kiri simetris

Palpasi : rentang gerak (ROM) maksimal, tonus otot 4,

nyeri sendi (-)

11. Lain – lain

1. Terapi medic (-)

V. Informasi Penunjang

1. Diagnosa medic : Hipertensi 2. Laboratorium (-)

Page 29: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Genogram

Page 30: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Keterangan :

: Laki – laki : Perempuan

: Meninggal

: Klien

: Tinggal dalam satu rumah

Denah Rumah

Page 31: Askep Keluarga Hipertensi Oix

DENAH RUMAH

Kamar Anak Tn.A & Ibu T

Jemuran

Dapur Ruang Tengah

Kamar Mandi

Page 32: Askep Keluarga Hipertensi Oix

Sumur Kamar Tn.A & Ibu T

Diagnosa Keperawatan Keluarga Aktual

1. Gangguan Rasa Nyaman Pusing (Ibu.T) b.d Ketidaktahuan keluarga terhadap penyakitnya.

2. Kurang pengetahuan pada (Ibu.T) b.d ketidaktahuan keluarga terhadap penyakitnya.

3. Gangguan pola tidur (Ibu T) b.d ketidaktahuan keluarga terhadap penyakitnya

Page 33: Askep Keluarga Hipertensi Oix

FORMAT RENCANA KEPERAWATAN KELUARGA

Identitas Keluarga :

Tanggal No. Dx

Keperawat

an

Diagnosa

Keperawatan

Tujuan Rencana Keperawatan

17 – 10 -

2010

1 Gangguan Rasa

Nyaman (Ibu.T)

b.d Ketidaktahuan

keluarga terhadap

penyakitnya.

Jangka Panjang :

Dalam jangka waktu 1

minggu

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan Gangguan

Rasa Nyaman (Ibu.T) b.d

Ketidaktahuan keluarga

terhadap penyakitnya dapat

teratasi.

Jangka Pendek :

Dalam jangka waktu 4 hari

dapat teratasi dengan

kriteria :

a. Klien mengatakan tidak

pusing dan lemas lagi.

MANDIRI

(18 – 10 – 2010)

1. Ajarkan tekhnik relaksasi pada klien

hipertensi

2. Ajarkan tekhnik tarik nafas dalam

3. Berikan massage atau sentuhan lembut pada

bagian otot-otot yang tegang.

4. Pantau TTV setiap hari

Page 34: Askep Keluarga Hipertensi Oix

b. Klien tampak segar

2 Gangguan pola

tidur (Ibu T) b.d

ketidaktahuan

keluarga terhadap

penyakitnya

Jangka Panjang :

Dalam jangka waktu I

minggu perawatan

gangguan pola tidur (Ibu.T)

dapat teratasi

Jangka Pendek :

Dalam jangka waktu 4 hari

perawatan, gangguan pola

tidur dapat teratasi dengan

kriteria :

a. Tidur klien 6-8 jam

b. Klien mengatakan

dapat tidur nyenyak.

c. Klien tampak segar

d. Konjungtiva tak

anemis

MANDIRI

(18 – 10 – 2010)

1. Ajarkan teknik relaksasi otot otot tubuh

2. Berikan sentuhan massage atau sentuhan

lembut pada otot bagian tubuh yang tegang

3. Pantau TTV setiap hari

4. Berikan informasi yang jelas terhadap tanda

dan gejala hipertensi.

3 Kurang Jangka Panjang : MANDIRI

Page 35: Askep Keluarga Hipertensi Oix

pengetahuan pada

(Ibu.T) b.d

ketidaktahuan

keluarga pada

penyakitnya

Dalam jangka waktu 1 hari

perawatan kurang

pengetahuan pada (Ny.T)

dapat teratasi

Jangka Pendek :

Dalam jangka waktu 30

menit kurang pengetahuan

pada (Ny.T) berhubungan

dengan ketidaktahuan

keluarga mengenai

penyakit yang diderita

dapat teratasi dengan

kriteria :

a. Klien dan keluarga tahu

tentang penyakit yang

sedang diderita klien

b. Klien dan keluarga tahu

tentang tanda dan gejala

c. Klien dan keluarga tahu

penyebab dan faktor yang

(18 – 10 – 2010)

1. Berikan informasi tentang penyakit yang

di alami keluarga dari mulai pengertian,

tanda gejala, penyebab dan bagaimana

cara merawat, mencegah dan

mengobatinya serta menciptakan

lingkungan saling percaya dengan

keluarga

2. Pantau TD setiap hari apabila

mengkonsumsi obat penurun darah

tinggi

3. Berikan lingkungan yang tenang,

nyaman, dan kurangi aktifitas yang berat

4. Anjurkan teknik relaksasi, dan aktifitas

pengalihan serta anjurkan untuk banyak

istirahat

5. Intrusikan dan bantu memilih makanan

yang tepat, hindari makanan dengan

kejenuhan lemak tinggi dan kolesterol

6. Berikan obat sesuai indikasi

Page 36: Askep Keluarga Hipertensi Oix

mempengaruhi

penyakitnya

d. Klien dan keluarga tahu

bagaimana cara merawat,

mencegah dan mengobati

Page 37: Askep Keluarga Hipertensi Oix