of 91/91
Tugas : H. RESKY DJUNTAHA SKM,M.KES ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA NY “ B ” DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER “HIPERTENSI” DI DUSUN MANIMPAHOI, DESA SAOTENGGA KEC. SINJAI TENGAH, KAB SINJAI TGL, 05 MEI 2008 Oleh : NAMA : IDELFONSA NIM : P- 05064 AKADEMI KEPERAWATAN SANDI KARSA MAKASSAR 2008

ASKEP HIPERTENSI

  • View
    39

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ht

Text of ASKEP HIPERTENSI

Tugas : H. RESKY DJUNTAHA SKM,M.KES

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA NY B DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER HIPERTENSI

DI DUSUN MANIMPAHOI, DESA SAOTENGGA

KEC. SINJAI TENGAH, KAB SINJAI

TGL, 05 MEI 2008

Oleh :

NAMA : IDELFONSA NIM : P- 05064AKADEMI KEPERAWATAN SANDI KARSA

MAKASSAR

2008KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa,karena dengan berkat dan rahmat-NYA,sehingga kami dapat menyelesaikan praktek keperawatan komunits gerontik dilingkungan Manimpahoi Desa Saotenggae Kec.Sinjai Tengah Kab.Sinjai yang dilaksanakan pada tanggal 21 april s.d. 17 mei 2008.

Penulis telah berusaha dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki dalam menyusun laporan asuhan keperawatan gerontik ini dengan sebaik mungkin, namun demikian penulis sadar akan keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki,dalam hal ini maka laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,baik bentuk penulisannya maupun pembahasannya.Namun hal ini penulis tetap berharap dengan ikhlas hati kepada berbagai pihak,kiranya dapat membantu atau mengoreksi yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Hasil penulisan ini merupakan perpaduan antara usaha dan kemampuan kami serta

laporan ini.Akhirnya kami mohon maaf kepada semua pihak atas segala kekurangan dan kesalahan selama kegiatan praktek keperawatan komunitas.

Makassar, juni 2008

PenyusunBAB I

PENDAHULUAN

A. KEADAAN DAN MASALAH

Saat ini, jumlah orang lanjut usia diseluruh dunia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan akan mencapai 1,2 milyar pada tahun 2025.

Seiring dengan keberhasilan Pemerintah dalam Pembangunan Nasional telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis dan kedokteran, sehingga dapat meningkatkan kualitas derajat kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibat jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cendrung lebih cepat.

Pertambahan penduduk orang usia lanjut di Negara maju seperti Amerika Serikat adalah kurang lebih 1.000 orang per hari pada tahun 1985 dan diperkirakan 50 % dari penduduk berusia di atas 50 tahun, sehingga istilah Baby Boom pada masa lalu berganti menjadi ledakan penduduk lanjut usia (Lansia)Tabel 1

Demografi orang lanjut usia di Indonesia

Tahun198019851990199520002020

Total Penduduk (55 tahun ke atas)

a. Total (juta)

b. Persentase (%)

Harapan Hidup148

11,4

7,7

55,30165

13,3

8

58,19183

16

8,7

61,12202

19

9,4

64,05222

22,2

10

65 - 7029,12

11,09

70 75

Menurut Penelitian Prof. DR. R. Boedhi Darmojo

Tabel 2

Jumlah dan Persentase Populasi Lansia Indonesia tahun 1971 - 2020

TahunJumlah LansiaPersentase

1971

1980

1990

1995

2000

2005

2010

2015

20205.306.874

7.998.543

11.277.557

12.778.212

15.262.199

17.767.709

19.936.895

23.992.553

28.822.8794,48

5,45

6,29

6,56

7,28

7,97

8,48

9,77

11,34

Sumber : (a) Biro Pusat Statistik, 1974; (b) Biro Pusat Statistik, 1983; (c) Biro Pusat Statistik, 1992; (d) Ananta dan Anwar, 1994. Dikutip oleh Djuhari dan Anwar, 1994.

Ditinjau secara Demografi, menurut sensus penduduk pada tahun 1980, di Indonesia jumlah penduduk 147,3 juta. Dari angka tersebut terdapat 16,3 juta orang (11 %) orang yang berusia 50 tahun ke atas dan kurang lebih 6,3 juta orang (4,3 %) berusia 60 ke atas. Dari 6,3 juta orang lansia terdapat 822.831 (13,06 %) orang yang tergolong jompo, yaitu para lanjut usia yang memerlukan bantuan khusus sesuai dengan undang-undang bahkan mereka harus dipelihara oleh Negara.

Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia meningkat menjadi 9,99 % dari seluruh penduduk Indonesia (22,277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup 65 70 tahun dan pada tahun 2020 akan diperkirakan meningkat menjadi 29.120.000 lebih dengan umur harapan hidup 70 - 75 tahun.

Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh :

1. Majunya pelayanan kesehatan

2. Menurunnya angka kematian bayi dan anak

3. Perbaikan gizi dan sanitasi

4. Meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi

Secara individu, pada usia di atas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal tersebut akan dapat menimbulkan masalah fisik, mental, soaial, ekonomi, dan psikologis. Dengan bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri, maka pola penyakit juga mengalami pergeseran dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (degeneratif).

Survei rumah tangga pada tahun 1980, menunjukkan bahwa angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar 25,70 % diharapkan pada tahun 2000 nati angka tersebut akam mengalami penurunan menjadi 12,30 % (Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992).Penyebab kematian karena penyakit jantung , pembuluh darah (kardiovaskuler) dan Tuberkulosis, pada saat ini menduduki urutan pertama pada kelompok usia lanjut, selanjutnya kanker dan ketiga stoke (CVA). Kerja sama dengan lintas program dan lintas sektoral dalam pembinaan lanjut usia belum mantap, oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pembinaan kesehatan lanjut usia perlu dikembangkan secara optimal.

Bangsa Indonesia saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional, yakni pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat indonesia yang secara ringkas disebut dengan pembangunan masyarakat maju, sejahtra, makmur, dan lestari berdasarkan Pancasila.

Seperti dinyatakan dalam garis-garis Besar Haluan Negara, bahwa berhasilnya Pembangunan asional itu bergantung pada partisipasi seluruh rakyat serta sikap mental, tekat dan semangat, ketaatan dan disiplin para penyelenggara negara serta seluruh rakyat.

Tabel 3

Proyeksi Kependudukan Dunia pada tahun 1970 - 1985 - 2000

WilayahTahunJumlah60 Tahun Ke Atas

Jumlah%

Dunia1970

1985

20003.631.797

4.993.463

6.493.642290.607

406.750

584.6058,0

8,2

9,0

Negara-negara Maju1970

1985

20001.090.297

1.274.995

1.453.528153.741

100.602

231.10514,1

14,8

15,9

Negara-negara Berkembang1970

1985

20002.541.501

3.658.468

5.040.104137.324

218.474

353.9175,4

6,0

7,0

Tabel 4

Penambahan Penduduk Tahun 1970 -2000 Persentase

WilayahMasa%60 Tahun70 Tahun

Dunia1950 - 1970

1970 - 200046,1

78,854,7

101,156,0

118,7

Negara-negara Maju1950 - 1970

1970 - 200027,1

33,359,7

90,156,0

70,0

Negara-negara Berkembang1950 - 1970

1970 - 200056,1

98,349,3

153,341,6

186,9

Seluruh rakyat berarti baik yang muda maupun yang tua, remaja maupun lanjut usia, pria maupun wanita. Masing-masing berpartisipasi menurut bagian, tanggung jawab, dan kemampuan masing-masing.

Bila dilihat dari angka statistik pada saat sekarang ini, masalah lanjut usia belum menduduki hal yang sangat penting, tetapi berhasilnya pembangunan selama beberapa pelita ini menunjukkan bahwa angka harapan hidup bangsa Indonesia pada masa mendatang akan meningkat secara terus menerus sehingga pembinaan lanjut usia ini semakin menonjol peranannya. Hal tersebut tentunya memerlukan adanya kerja sama dengan lintas program dan lintas sektoral untuk pelayanan kesehatan usia lanjut yang mantap untuk menuju lanjut usia bahagia, berguna dan berkualitas serta perlu Gerontologi dan Geriatri dimasukkan dalam kurikulum pendidikan kesehatan.

Tabel 5

Rasio Reproduksi dan Umur Harapan Hidup 1985-2000

( Variant Medium )

WilayahRasio Reproduksi Harapan Hidup

Dunia2,3 1,6 83,1 66,5

Negara-negara Maju1,3 1,2 70,4 73,2

Negara-negara Berkembang2,7 1,7 49,5 65,3

Masa Maju1985-1970 1995 -2000 1985 -1970 1995 -2000

Tabel 6

Angka Harapan Hidup di Indonesia

TahunLaki-lakiPerempuanTotal

1971

1980

1990

1995

2000

2005

2010

2015

202044,2

50,6

58,1

61,5

63,3

64,9

66,4

67,7

69,047,2

53,7

61,5

65,4

67,2

68,8

70,4

71,7

73,045,7

52,2

59,8

63,5

65,3

66,9

68,4

69,8

71,7

Sumber : BPS, 1992, 1993

Keterangan : Angka Harapan Hidup Sejak Lahir

B. LATAR BELAKANG DEMOGRAFI

Latar belakang demografi dapat dilihat pada tabel proyeksi kependudukan dunia pada tahun 1970 - 1985 - 2000, tabel penambahan penduduk tahun 1970 -2000 Persentase , rasio reproduksi dan umur harapan hidup 1985-2000 (Variant Medium), dan angka harapan hidup di Indonesia.

Dengan demikian lapisan lanjut usia dalam struktur demografi Indonesia menjadi makin tebal, dan sebaliknya balita menjadi relatif makin sedikit. Dengan kata lain, timbul regenerasi yang dapat membawa akibat negatif. Proses ini tentunya berlangsung beberapa tahap yakni :

Tahap. I

Tahap ini timbul kesenjangan antara generasi (generation gap), karena golongan muda secara dinamis mengikuti kemajuan teknologi canggih, sedangkan golongan lansia tidak acuh, tetap tertinggal dan membiarkan golongan muda berjalan terus . Keadaan ini belum berbahaya.

Tahap II

Karena makin tebalnya lapisan lansia dan makin meningkatnya tingkat kesehatan, merekapun masih mampu mengimbangi golongan muda, dan menghendaki tetap pada jabatannya serta tidak mau digeser. Pada saat inilah timbul tekanan pada generasi muda (generation pressure), yang lebih berbahaya dari keadaan tahap I. Tahapan di Indonesia saat ini adalah tahap I, dan di sana sini mulai memasuki tahap II dengan timbulnya isu peningkatan usia pensium (dari 55 tahun menjadi 60 tahun)

Tahap III

Adalah yang paling berbahaya, ditandai dengan timbulnya komflik antar generasi (generation conflict). Dalam keadaan ini para lansia yang jumlahnya makin banyak merasa makin kuat dan terus menerus menekan generasi dibawahnya.

Tabel 7

Pertumbuhan Pendudk Lansia (60 +) dan Penduduk Balita

di Indonesia Tahun 1980 - 2000

TahunPenduduk BalitaPenduduk Lansia

JumlahPersenJumlahPersen

1971

1980

1985

1990

1995

2000

2005

2010

2015

202019.098.693

21.190.672

21.550.364

20.985.144

21.609.150

21.190.900

21.112.758

19.720.793

18.773.512

17.595.96616,1

14,1

13,4

11,7

11,0

10,1

9,5

8,4

7,6

6,95.306.874

7.998.543

9.440.999

11.277.557

13.600.962

15.882.827

18.283.107

17.303.967

24.446.290

29.021.1284,5

5,5

5,8

6,3

6,9

7,6

8,2

7,4

10,0

11,4

Sedangkan golongan muda terus bereaksi dan melawan tekanan-tekanan itu hingga timbul komflik yang berkepanjngan dan sulit diatasi dengan segera. Keadaan ini bias berbahaya.

C. PROFIL/TANPANG/PENAMPILAN USIA LANJUT (DI ATAS 65 TAHUN)

1. Terdiri dari kurang lebih 10 % dari jumlah penduduk (di Amerika Serikat).

2. Terbanyak hidup di kota atau disekitar desa.

3. Penghasilan pertahun sekitar 15 % - 25 % berada di bawah tingkat kemiskinan.

4. Kurang lebih 50 % adalah lulusan SMA.

5. Kurang lebih 50 % layak mendapatkan pusat pelayanan senior, akan tetapi sedikit jumlah yang mempergunakan pusat pelayanan ini.

6. 2 % - 10 % adalah mereka yang mengalami penyalagunaan alkohol.

Adapun Biaya Pemeliharaan Kesehatan pada Usia Lanjut adalah sebagai berikut :

1. Hanya 5 % yang diurus oleh institusi.

2. 25 % dari semua resep obat-obat adalah untuk usia lanjut.

3. Penyakit-penyakit mungkin ganda dan kronis, hamper 40% melibatkan lebih dari satu penyakit (komplikasi sering terjadi).

4. Akibat-akibat dari ketidakmampuan akan lebih cepat terjadi apabila usia lanjut itu jatuh sakit.

5. Respon terhadap pengobatan berkurang.

6. Daya tangkal lebih rendah karena proses ketuaan sehingga seorang usia lanjut lebih mudah terkena penyakit.

7. Usia lanjut kurang tahan terhadap tekanan mental, lingkungan dan fisik.

8. Pemeliharaan kesehatan yang buruk umumnya terjadi :

a. Kurang dari 1/3 tidak dilakukan check-up kesehatan tahunan.

b. Banyak terlihat pemeliharaan kesehatan sebagai pelayanan yang digunakan hanya selama krisis hidup.

c. Banyak terlihat lebih dari satu orang dokter yang melihat secara terpisah.

Ketakutan-Ketakutan yang Dialami oleh Usia Lanjut adalah sebagai berikut :

1. Ketergantungan fisik dan ekonomi.

2. Sakit-sakit yang kronis. Misalnya :

a. Arthritis 44 %.

b. Hipertensi 39 %.

c. Berkurangnya pendengaran atau tuli 28 %.

d. Penyakit jantung 27 %.

3. Kesepian.

4. Kebosanan yang disebabkan oleh rasa tidak diperlukan.

D. PERMASALAHAN

Proses menua di dalam perjalanan hidup manusia adalah merupakan suatu hal yang sangat wajar dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang. Hanya lambat cepatnya proses tersebut sangat tergantung pada masing-masing individu yang bersangkutan.

Adapun permasalahn yang berkaitan dengan Usia Lanjut adalah :

1. Secara individu., pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik-biologik, mental, maupun sosial ekonomis. Dengan demikian semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan sosialnya. Hal tersebut mengakibatkan pula timbulnya gangguan di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.

2. Usia lanjut tidak saja ditandai dengan kemandiarian fisik, tetapi dapat pula berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut usia seseorang, kesibukan sosialnya akan semakin berkurang hal mana akan dapat mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan dampak pada kebahagiaan seseorang.

3. Pada usia mereka yang telah lanjut, sehingga sebagian dari para usia lanjut tersebut masih mempunyai kemampuan untuk bekerja. Permasalahan yang mungkin timbul adalah bagaimana memfungsikan tenaga dan kemampuan mereka tersebut di dalam situasi keterbatasan kesempatan kerja.

4. Disamping itu, masih ada sebagian dari Usia Lanjut dalam keadaan terlantar, selain tidak mempunyai bekal hidup dan pekerjaan/penghasilan, mereka juga tidak mempunyai keluarga/ sebatang kara.

5. Dalam masyarakat tradisional biasanya usia lanjut dihargai dan dihormati sehingga mereka masih dapat berperan yang berguna bagi masyarakat. Akan tetapi dalam masyarakat industri ada kecendrungan mereka kurang dihargai sehingga mereka terisolir dari kehidupan masyarakat.

6. Didasarkan pada system cultural yang berlaku maka mengharuskan generasi tua / lanjut usia masih dibutuhkan sebagai Pembina agar jati diri budaya dan ciri-ciri khas Indonesia tertap terpelihara kelestariannya.

7. Karena kondisinya, Lanjut usia memerlukan tempat tinggal atau fasilitas perumahan yang khusus.E. TIPOLOGI MANUSIA USIA LANJUT

Orang Usia Lanjut dalam literature lama dibagi dua golongan yaitu :

1. Serat Werdatama (Mangku Negoro IV)

H.I. Widyapranata mengutip Serat Werdatama yang menyebutkan bahwa :

a. Wong Sepuh

Orang tua yang sepi hawa nafsu, menguasai ilmu Dwi Tunggal yakni mampu membedakan antara baik dan buruk, antara sejati dan palsu, dan antara Gusti (Tuhan) dan kawulanya.

b. Tua Sepuh

Orang tua yang kosong, tidak tahu rasa, bicaranya muluk-muluk tanpa isi, tingkah lakunya dibuat-buat dan berlebih-lebihan serta memalukan.

2. Serat Kalatida (Ronggo Warsito)

Menyebutkan ada dua kelompok adalah sebagai berikut :

a. Orang yang berbudi sentosa.

Orang tua yang meskipun diridhoi Tuhan dengan rezeki, namun tetap berusaha terus disertai ingat dan waspada.

b. Orang yang lemah.

Orang tua yang berputus asa, sudah tua mau apa; sebaliknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih saying Tuhan.

Pada zaman sekarang atau zaman pembangunan, dijumpai banyak bermacam-macam tipe usia lanjut, antara lain yang menonjol adalah :

a. Tipe Arif Bijaksana

b. Kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.

c. Tipe Mandiri

d. Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan-kegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan, teman pergaulan, serta memenuhi undangan.

e. Tipe Tidak Puas

f. Komflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi, pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani, dan pengkeritik.

g. Tipe Pasrah

h. Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap terbitlah terang, mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.

i. Tipe Bingung

j. Kaget., kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh.

k. Orang Usia Lanjut dapat pula dikelompokkan dalam beberapa tipe yang bergantung kepada karakter, pengalaman kehidupannya, lingkungan, kondisi fisik, mental, social, dan ekonominya. Tipe ini antara lain :

1) Tipe obtimis : santai dan riang = tipe kursi goyang (rocking chairman)

2) Tipe konstruktif3) Tipe ketergantungan (dependent)

4) Tipe Defensif5) Tipe militant dan serius6) Tipe marah/frustasi (the angry man)

Sebagai perawat perlu mengenal tipe-tipe lanjut usia sehingga perawat akan dapat menghindarkan kesalahan atau kekeliruan dalam melaksanakan pendekatan perawatan. Tentu saja tipe-tipe tersebut hanya suatu pedoman kasar. Dalam prakteknya berbagai variasi dapat ditemui.

Menurut kemampuannya dalam berdiri sendiri para lanjut usia dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Lanjut usia mandiri sepenuhnya.

2. Lanjut usia mandiri dengan bantuan langsung keluarganya.

3. Lanjut usia mandiri dengan bantuan tidak langsung.

4. Lanjut usia dibantu oleh Badan Sosial.

5. Lanjut usia dibantu oleh Badan Sosial

6. Lanjut usia Panti social Tresna Werda

7. Lanjut usia yang dirawat di Rumah Sakit.

8. Lanjut Usia yang menderita gangguan mental.

Kemampuan kemandirian di Negara maju, lanjut usia dijelajahi kemampuannya untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari.

Apakah mereka tanpa bantuan dapat bangun, mandi, ke WC, kerja ringan, olah raga, pergi ke pasar, berpakaian rapi, membersihkan kamar, tempat tidur, lemari, mengunci pintu dan jendela dan lain-lain yang normal dapat dilakukan olehnya. Salah satu factor yang sangat menentukan adalah keadaan mentalnya yang dapat mengalami apa yang disebut dengan Dimensia (kemunduran dalam fungsi berfikir)

F. PENGERTIAN GERONTOLOGI

Berbagai istilah yang berkembang terkait dengan Lanjut Usia (Lansia), antara lain Gerontologi, geriatri, dan keperawatan gerontik.

Gerontologi berasal dari kata Geros = Lanjut usia dan Logos = Ilmu. Dengan demikian Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor yang menyangkut lanjut usia.

Beberapa pengertian Gerontologi :

1. Pengertian Gerontologi menurut Kozier, 1987

Adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua.

2. Pengertian Gerontologi menurut Miller, 1990

Adalah cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang mungkin terjadi pada lanjut usia.

3. Pengertian Gerontologi Nursing menurut Kozier, 1987

Adalah Ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lansia.

G. PENGERTIAN GERIATRI

Geriatri berasal dari kata Geros = lanjut usia dan Eatrie = Kesehatan/medikal.

Pengertian Geriatri adalah

1. Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit pada usia lanjut.

2. Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspek-aspek klinis, preventif maupun terapeutis bagi klien lanjut usia.

3. Ilmu yang mempelajari proses menjadi tua pada manusia serta akibat-akibatnya pada tubuh manusia. Dengan demikian jelaslah bahwa obyek dari geriatric adalah manusia lanjut usia.

4. Bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang pencegahan penyakit dan kekurangan-kekurangannya pada lanjut usia.

Pengertian Geriatri menurut Black & Matassari Jacob, 1997

Adalah cabang ilmu kedokteran (medicine) yang berfokus pada masalah kedokteran yaitu penyakit yang timbul pada lanjut usia.

1. Pengertian Geriatri Nursing menurut Kozier, 1987

1. Praktek perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua.

2. Spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalangkan perannya pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia/lansia secara komprehensif. Oleh karena itu, perawatan lanjut usia yang menderita penyakit (geriatric nursing) dan dirawat di rumah sakit merupakan bagian dari gerontic nursing)

H. TUJUAN GERIATRI

1. Mempertahankan derajat kesehatan para lanjut usia pada tarap yang setinggi-tingginya sehingga terhindar dari penyakit atau gangguan.

2. Memelihara kondisi kesehatan dengan aktivitas-aktivitas fisik dan mental.

3. Merangsang para petugas kesehatan (dokter, perawat) untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu.

4. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para lanjut usia yang menderita suatu penyakit/gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).5. Bila para lanjut usia sudah tidak dapat tersembuhkan dan bila mereka sudah sampai pada stadium terminal, ilmu ini mengajarkan untuk tetap memberikan bantuan yang simpatik dan perawatan dengan penuh pengertian, (dalam akhir hidupnya memberikan bantuan moril dan perhatian yang maksimal, sehingga kematiannya berlangsung dengan tenang atau comfortabel death).BAB II

PROSES MENUA (AGEING PROCESS)

A. PROSES MENUA (AGEING PROCESS)

1. definisi

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994).

Proses menua merupakan suatu proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup.

Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Adakalanya orang belum tergolong lanjut usia (masih muda) akan tetapi kekurangan-kekurangan yang menyokok (Deskripansi).

Menurut Undang-undang no.9 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan pasal 8 ayat 2, berbunyi : dalam istilah sakit termasuk cacat, kelemahan, dan lanjut usia.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka lanjut usia dianggap sebagai semacam penyakit. Hal ini tidak benar. Gerontologi berpendapat lain, sebab lanjut usia bukan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu : Bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati tidak karena lanjut usia tetapi karena sesuatu penyakit, atau juga suatu kecelakaan, atau menurut orang beragama, sebagai contoh dikatakan, dicabut nyawa seseorang oleh Malaikat Izrail atas kehendak Allah.

Menua bukanlah suatu penyakit akan tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar. Walaupun demikian memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.

Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.

Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun saat menurunnya. Hal ini juga sangat individual. Namun demikian umumnya, fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada umur antara 20 dan 30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai dengan bertambahnya umur.

Sampai saat ini banyak sekali teori yang menerangkan proses menua mulai dari teori degeneratif yang didasari oleh habusnya daya cadangan vital, teori terjadinya atrofi, yaitu teori yang mengatakan bahwa proses menua adalah proses evolusi, dan teori imunologik, yaitu teori adanya produk sampah/waste products dari tubuh sendiri yang makin bertumpuk. Tetapi seperti diketahui bahwa lanjut usia akan selalu bergandengan dengan perubahan fisiologik maupun psikologik. Yang penting untuk diketahui bahwa aktivitas fisik dapat menghambat atau memperlambat kemunduran fungsi tubuh yang disebabkan oleh bertambahnya umur.

B. MITOS-MITOS LANJUT USIA DAN KENYATAANNYA

Menurut Sheiera Saul (1974) sebagai berikut :

1. Mitos Kedamaian dan Ketenangan

Lanjut usia dapat santai meninkmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan dewasanya, badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewti.

Kenyataan :

a. Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit.

b. Defresi.

c. Kekhawatiran.

d. Paranoid.

e. Masalah psikotik.

2. Mitos Konservatisme dan Kemunduran

Pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya :

a. Konservatif

b. Tidak kreatif

c. Menolak inovasi

d. Berorientasi ke masa silam.

e. Merindukan masa lalu.

f. Kembali ke masa anak-anak.

g. Susah berubah.

h. Keras kepala dan

i. Cerewet.

3. Mitos Berpenyakitan

Lanjut usia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat bermacam-macam penyakit yang menyertai proses menua. (lanjut usia merupakan masa berpenyakitan dan kemunduran).

4. Mitos Senilitas

Lanjut usia dipandang sebagai masa pikum yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak (banyak yang tetap sehat dan segar).

Banyak cara untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan daya ingat.

5. Mitos Tidak Jatuh Cinta

Lanjut usia tidak lagi jatuh cinta dan gairah kepada lawan jenis tidak ada.

Kenyataan :

Perasaan dan emosi setiap orang berubah sepanjang masa. Perasaan cinta tidak berhenti karena menjadi lanjut usia.

6. Mitos Aseksualitas

Ada pandangan bahwa pada lanjut usia, hubungan seks itu menurun, minat, dorongan, gairah, kebutuhan, dan daya seks berkurang.

Kenyataan :

Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lanjut usia normal saja. Memang frekwensi hubungan seksual menurun, sejalan dengan meningkatnya usia tetapi tetap tinggi.

7. Mitos Ketidakproduktifan

Lanjut usia dipandang sebagai usia tidak produktif

Kenyataan :

Tidak demikian, banyak lanjut usia yang mencapai kematangan, kemantapan, dan produktifitas mental dan material.

C. TEORI-TEORI BIOLOGI

01. Teori genetic dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akam mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).

02. Pemakaian dan Rusak

Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpaksa).

03. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, yang disebut teori akumulasi dari produk sisa. Sebagai contoh adanya pigmen Lipofuchine di sel otot jantung dan sel susunan syaraf pusat pada orang usia lanjut yang mengakibatkan mengganggu fungsi sel itu sendiri.

04. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.

05. Tidak ada perlindungan terhadap : radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi.

06. Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)

Didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun. (Menurut Goldteris & Brocklehurst, 1989)

07. Teori Immunologi Slow Virus (immunology Slow Virus Theory)

Sistem immun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

08. Teori Stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan uaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.

09. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

010. Teori Rantai Silang

Sel-sel tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan, dan hilangnya fungsi.

011. Teori Program.

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

2. TEORI KEJIWAAN SOSIAL

1. Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)

1) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara berlangsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.

2) Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia

3) Mempertahankan hubungan antara system social dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

2. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.

3. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)

Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Pada lanjut usia pertama diajukan oleh Cumming and Henry, 1961. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi social lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga sering terjadi kehilangan ganda (triple Loos),yakni:

a. Kehilangan peran (Loss of Role)

b. Hambatan kontak sosila (Restraction of Contacts and Relation Ships).

c. Berkurangnya komitmen (Reduced Commitment to Social Mores and Values)

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETUAN

1. Herediteit = Keturunan

2. Nutrisi = Makanan

3. Status Kesehatan

4. Pengalaman hidup

5. Lingkungan

6. Stres

E. BATASAN BATASAN LANJUT USIA

Mengenai kapankah orang disebut sebagai Lanjut Usia, sulit dijawab secara memuaskan. Dibawah ini dikemukan beberapa pendapat mengenai batasan umur.

1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Lanjut Usia meliputi :

a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) = antara 60 dan 74 tahun

c. Lanjut usia tua (old) = antara 75 dan 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) = di atas 90 tahun

2. Menurut Prof. Rr. Ny. Sumiati Ahmad Mohamad

Prof. Rr. Ny. Sumiati Ahmad Mohamad (alm) Guru Besar Universitas Gajah Mada pada Fakultas Kedokteran, membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut :a.

b.

c.

d.

e.0 - 1

1 - 6

6 - 10

10 - 20

40 - 65tahun

tahun

tahun

tahun

tahun=

=

=

=

=Masa bayi

Masa prasekolah

Masa sekolah

Masa pubertas

Masa setengah umur (prasenium)

f.65 tahun ke atas=Masa Lanjut Usia (senium)

3. Menurut Dra. Ny. Jos Masdani (Psikolog UI)

Mengatakan bahwa Lanut Usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat bagian antara lain :

a. Fase iuventus, antara 25 dan 40 tahun.

b. Faseverilitas, antara 40 dan 50 tahun.

c. Fase praesenium, antara 55 dan 65 tahun.

d. Fase senium, antara 65 tahun hingga tutup usia.

4. Menurut Prof. Dr. Koessoemato Setyonegoro

Pengelompokan usia lanjut sevagai berikut :

a. Usia dewasa muda (elderly adulthood) : 18 atau 20-25 tahun

b. Usia Dewasa penuh (middle years) atau maturitas : 25-60 atau 65 tahun.

c. Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 atau 70 tahun

d. Umur 70-75 tahun (young old)

e. 75-80 tahun (old)

f. Lebih dari 80 tahun (very old)

Bila diperhatikan pembagian umur dari beberapa ahli tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan Lanjut Usia adalah orang yang telah berumur 65 tahun ke atas.

5. Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1965

Bantuan penghidupan orang jompo/lanjut usia yang termuat dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut : Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau usia lanjut setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain, (Hal tersebut sudah diperbaiki karena sudah tidak relevan lagi). Saat ini yang berlaku adalah Undang-undang No.13/tahun 1998. tentang kesejahtraan Lanjut Usia yang berbunyi sebagai berikut : Bab.I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi Lanjut Usia adalah seorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Lanjut Usia sebenarnya adalah merupakan suatu proses alami yang tidak dapat ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Umur manusia sebagai makhluk hidup terbatas oleh suatu peraturan alam. Umur manusia maksimal sekitar 6 x umur masa bayi sampai (6x20 tahun = 120 tahun). Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, yang pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan social sedikit demi sedkit sampai tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi sehingga bagi kebanyakan orang, masa tua itu adalah merupakan masa yang kurang menyenangkan.

Mengapa menjadi tua merupakan masalah ? Hal tersebut secara ringkas dapat dijawab sebagai berikut : Semua orang ingin panjang umur tetapi tidak ada yang mau menjadi tua bagaimana jadinya ada dua keinginan yang saling bertentangan. Pernyataan tersebut seolah-olah sama sekali memisahkan soal pertambahan usia lain. Sehubungan dengan hal tersebut, Birren and Jenner, 1977, mengusulkan untuk membedakan antara usia biologis, usia psikologis, dan usia sosial.

1. Usia Biologis : yang menunjuk kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan hidup tidak mati.

2. Usia Psikologis : yang menunjuk kepada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.

3. Usia Sosial : yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya.

Ketiga jenis usia yang dibedakan oleh Birren dan Jenner itu saling mempengaruhi dan proses-prosesnya saling berkaiatan. Oleh karena itu secara umum tidak akan terdapat perbedaan yang terlalu menyolok antara kelangsungan ketiga jenis usia tersebut.

Dalam batas-batas tertentu seseorang sudah tua dilihat dari keadaan fisiknya namun tetap bersemangat muda. Yang pertama ada hubungan dengan usia biologisnya dan kedua dengan usia psikologisnya.

F. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANJUT USIA

1. Perubahan-perubahan fisik

a. Sel

1) Lebih sedikit jumlahnya.

2) Lebih besar ukurangnya.

3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraselular.

4) Menurungnya proporsi di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.

5) Jumlah sel otak menurun.

6) Terganggunya mekanisme perbaikan sel.

7) Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5 10%

b. Sistem Persarafan.

1) Berat otak menurun 10-20% (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya)

2) Cepatnya menurun hubungan persarafan.

3) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.

4) Mengecilnya saraf panca indra. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium dan perasa. Lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin

5) Kurang sensitif terhadap sentuhan.

c. Sistem Pendengaran

1) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun.

2) Membrana timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis

3) Terjadinya pengumpulan cerumen dapat mengeras karena meningkatnya karatin.

4) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stress.

d. Sistem Penglihatan

1) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.

2) Kornea lebih berbentuk sferis (bola)

3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan.

4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap.

5) Hilangnya daya akomodasi.

6) Menurunnya lapangan pandang : berkurang luas pandangannya.

e. Sistem Kardiovaskuler

1) Elastisitas, dinding aorta menurun.

2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.

3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah : kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak).

5) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer ; sistolis normal kurang lebih 170 mmHg. Diastolis normal kurang lebih 90 mmHg.

f. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh

Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termost, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduruan terjadi berbagai factor yang mempengaruhinya.

Yang sering ditemui adalah sebagai berikut :

1) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik kurang lebih 350C ini akibat metabolisme yang menurun.

2) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.

g. Sistem Respirasi

1) Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.

2) Menurunnya aktivitas dari silia.

3) Paru-paru kehilangan elastisitas; kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimun menurun, dan kedalaman bernafas menurun.

4) Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.

5) O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg

6) CO2 pada arteri tidak berganti.

7) Kemampuan untuk batuk berkurang.

8) Kemampuan pegas, dinding, dada, dan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan pertamban usia.

h. Sistem Gastrointestinal

1) Kehilangan gigi; penyebab utama adanya Periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.

2) Indra pengecap menurun; adanya iritasi yang kronis dari selaput lender, atropi indra pengecap (kurang lebih 80%), hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap tentang rasa asin, asam, dan pahit.

3) Esofagus melebar.

4) Lambung; rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam labung menurun, waktu mengosongkan menurun.

5) Peristaltik lemah biasanya timbul konstipasi.

6) Fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu)

7) Liver (hati); makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

8) Sistem reproduksi.

9) Menciutnya ovari dan uterus.

10) Atrofi payudara.

11) Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.

12) Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun (asal kondisi kesehatan baik), yaitu :

a) Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia.

b) Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual.

c) Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan-perubahan alami.d) Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi perubahan-perubahan warna.

i. Sistem Genitourinaria

1) Ginjal

Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke ginjal, di saring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal yang disebut dengan Nefron (tepatnya di glomerulus). Kemudian mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya; kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urine menurn proteinuria (biasanya +1); BUN (blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21 mg%; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat

2) Vesika urinaria (kandung kemih); otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin.

3) Pembesaran prostate kurang lebih dialami oleh pria usia di atas 65 tahun

4) Atrofi vulva.

5) Vagina

Orang-orang yang makin menua sexual intercourse masih juga membutuhkannnya; tidak ada batasan umur tertentu fungsi seksual seseorang berhenti; frekwensi sexual intercourse cendrung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.j. Sistem Endokrin

1) Produksi dari hampir semua hormon menurun.

2) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.

3) Pituitari :

Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah; berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH, dan LH.

4) Menurunnya aktifitas tiroid, menurunnya BMR = Basal Metabolic Rate, dan menurunnya daya pertukaran zat.

5) Menurunnya produksi aldosteron

6) Menurunnya seksresi hormone kelamin, misalnya : progesteron, estrogen, dan testeron.

k. Sistem Kulit (Integumentary System)

1) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2) Permukaan kulit kasar dan berisik (karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis).

3) Menurunnya respon terhadap trauma.

4) Mekanisme proteksi kulit menurun

a) Produksi serum menurun.

b) Penurunan produksi VTD.

c) Gangguan pegmentasi kulit.

5) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.

6) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.

7) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi.

8) Pertumbuhan kuku lebih lambar.

9) Kuku jari menjadi keras dan rapuh.

10) Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk.

11) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya.

12) Kuku menjadi pudar, kurang bercahaya.

l. Sistem Muskuloskletal (Musculosceletal System)

1) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh

2) Kifosis

3) Pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas.

4) Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang).

5) Persendian membesar dan menjadi kaku.

6) Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.

7) Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil) : Serabut-serabut otot mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram dan menjadi tremor.

8) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

m. Perubahan-perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :

1. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.

2. Kesehatan umum

3. Tingkat pendidikan.

4. Keturunan (herediteit)

5. Lingkungan

Perubahan kepribadian yang drastis, keadaan ini jarang terjadi. Lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.

2. Kenangan (memory)

1. Kenangan jangka panjang :

Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu mencakup beberapa perubahan.

2. Kenangan jangka pendek atau seketika.

0 10 menit, kenangan buruk.

3. I.Q. (Intellegentia Quantion)

1. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.

2. Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan Psikomotor : terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor waktu.

4. Perubahan-perubahan Psikososial

1. Pensium :

Nilai seseorang sering diukur oleh produktivitas dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan.

Bila seseorang pensium (purna tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain :

a. Kehilangan finansial (income berkurang)

b. Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya).

c. Kehilangan teman/kenalan atau relasi

d. Kehilangan pekerjaan/kegiatan

2. Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awarness of mortality)

3. Perubahan dalan cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak lebih sempit.

4. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation)Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan.

5. Penyakit kronis dan ketidakmampuan.

6. Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.

7. Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.

8. Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman dan family.

9. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik : perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri.

5. Perkembangan Spiritual

1. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970).

2. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970).

3. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer, 1978, Universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan.G. DAMPAK KEMUNDURAN DAN REAKSI-REAKSI YANG TERJADI

Kemunduran-kemunduran yang telah disebutkan itu mempunyai dampak terhadap tingkah laku terhadap perasaan orang yang memasuki lanjut usia. Jelas jika berbicara tentang menjadi tua, kemunduranlah yang akan paling banyak dikemukakan tetapi disamping berbagai macam kemunduran, ada sesuatu yang dapat dikatakan justru meningkat dalam proses menua, yaitu : sensitivitas emosional seseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah pada masa menua. Bila dilihat sepintas mengenai beberapa dampak dari kemunduran-kemunduran tersebut dari sifat semakin perasaannya orang yang memasuki lanjut usia, misalnya : kemunduran-kemunduran fisik yang berpengaruh terhadap penampilan seseorang. Pada umumnya usia dewasa seseorang dianggap tampil paling cakap, tampan, atau paling cantik.

Kemunduran fisik yang terjadi pada dirinya membawa yang bersangkutan pada kesimpulan bahwa kecantikan ataupun ketampanannya yang mereka miliki mulai menghilang. Ini baginya berarti kehilangan daya tarik dirinya. Wanita biasanya lebih risau dan merasa tertekan karena keadaan tersebut sebab biasanya wanita dipuja orang karena kecantikannya dan keindahan fisiknya, akan tetapi tidaj berarti bahwa pria pada masa ini tidak mengalami atau merasakan hal-hal yang serupa. Pada pria yang sedang mengalami proses menua, tetap menginginkan dirinya menarik bagi lawan jenisnya.

Kecemasan yang timbul pada mereka yang merasa dirinya mulai menjadi kurang menarik atau kelihatan kurang mampu itu.

Kecemasan yang timbul pada mereka yang merasa dirinya mulai menjadi menarik atau kelihatan kurang mampu memberikan peluang yang besar bagi kosmetika, alat-alat kecantikan, alat-alat gerak badan, dan obat-obat awet muda.

Berkaitan dengan perasaan kehilangan daya tarik tadi ada gejala-gejala yang terlihat dalam bidan seks. Pria dan wanita pada akhir masa dewasa memasuki apa yang dinamakan klimakterium, perubahan-perubahan dalam keseimbangan hormonal yang menyebabkan berkurangnya dorongan seks.

Pada pria proses tersebut biasanya terjadi secara lambat laun dan tidak disertai gejala-gejala psikologis yang luar biasa, kecuali sedikit kemurungan dan rasa lesu serta berkurangnya kemampuan seksualitasnya. Terdapat pula penurunan kadar hormaon testosteron. Pada wanita terjadi menopause (berhenti haid). Menopause terjadi dalam suatu proses yang kadang-kadang mengambil waktu sampai dua tahun.

Hal ini disebabkan faal dari kandung telur lambat laun mulai berkurang, sampai kemudian berhenti berfungsi sama sekali.

a. Gejala-gejala yang sering timbul pada masa menopause

1) Gangguan pada haid : haid menjadi tidak teratur, kadang-kadang terjadi pendarahan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit.

2) Gelombang rasa panas (hot flush) : kadang-kadang timbul rasa panas pada muka, leher, dan dada bagian atas, disusul dengan keluarnya keringat yang banyak. Perasaan panas ini berlangsung beberapa detik saja, namun bias berlangsung sampai 30 menit 1 jam.

3) Gejala-gejala psikologik berupa rasa takut, tegang, defresi, mudah sedih, cepat marah, mudah tersinggung, gugup, dan mental kurang mantap. Bila wanita pada mudahnya mempunyai kecendrungan mudah dipengaruhi oleh keadaan emosionalnya, maka ia akan lebih mengalami gangguan psikologik pada masa ini.

4) Fatigue, yaitu rasa lelah yang diakibatkan berhentinya fungsi ovarium. Tetapi tidak semua rasa lelah dapat diartikan sebagai tanda menopause. Sebaiknya dicari sebab-sebab kainnya.

5) Keadaan atrofi, yaitu kemunduran keadaan gizi, suatu lapisan jaringan.

6) Rasa gatal-gatal apad genetalia disebabkan kulit yang menjadi kering dan keriput.

7) Sakit-sakit biasanya dirasakan seluruh badan atau pada bagian tubuh tertentu.

8) Pusing atau sakit kepala. Keluhan ini biasa disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena meningginya tekanan darah, adanya gangguan penglihatan atau bias juga adanya stress mental.

9) Insomnia atau keluhan susah tidur, hal ini bias disebabkan oleh penyebab fisik maupun psikis.

10) Palpitasi dan perubahan pada gairah seksual, yang hal ini disebabkan oleh pengaruh hormonal maupun pengaruh psikis. Gejala-gejala kejiwaan yang timbul sangat bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Keluhan yang sering timbul adalah adanya rasa takut, tegang, gelisah, lekas marah, mudah gugup, sukar berkonsentrasi, lekas lupa dan susah tidur. Adanya wanita yang mengalami menopause menafsirkannya sebagai kehilangan fungsinya sebagai wanita, karena ia tidak bias hamil dan mendapatkan anak lagi. Di lain pihak ada yang menafsirkannya sebagai akan terhentinya kehidupan seksualnya, hal ini adalah keliru sekali, selain itu ada yang berpendapat bahwa kegiatan seksual itu kurang pantas dilakukan bagi mereka yang sudah tua, meskipun dorongan kea rah itu masih ada. Dengan demikian dapat dilihat bahwa kerisauan menghadapi masa tua seringkali juga menyangkut kehidupan seksual.

11) Berubahnya libido (nafsu seks)

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gejala-gejala atau keluhan-keluhan tersebut, antara lain :

1. Penurunan akivitas ovarium yang diikuti dengan penurunan produksi hormonal.

2. Sosial Budaya, yaitu faktor lingkungan, keadaan social ekonomi yang mempengaruhi keadaan gizi, kesehatan, dan taraf pendidikan.

3. Faktor psikologis yang tergantung dari perilaku wanita.

Pada klimakterium ini hendaklah wanita memeriksakan dirinya secara teratur, walaupun tidak ada keluhan-keluhan. Hal ini penting untuk mengetahui adanya kelainan yang mungkin terjadi pada usia empat puluhan, khususnya keganasan.KONSEP DASAR HIPERTENSIA. PENGERTIANHipertensi adalah sebuah tekanan darah yang lebih dari 110/90 mmHg menurut WHO (1978). Hipertensi adalah tekanan darah dengan sistolik > 160 mmHg dan diastolik > 95 mmHg.

B. ETIOLOGI

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan yang baik. Pembagian hipertensi :

1. Hipertensi Primer

Tidak hanya disebabkan oleh suatu penyebab saja ataupun penyebab spesifik akan tetapi disebabkan oleh banyak faktor, hipertensi ini berkembang dalam upaya meningkatkan cardius output atau karena meningkatnya tahanan purifer.

Faktor-faktor yang berhubungan adalah :

a. Faktor genetik1. Peningkatan respon saraf terhadap striss

2. Gangguan ekspresi di ginjal (kebocoran atau transport sodium dalam sel).

b. Obesitas yang b/d kadar insulin yang tinggi

c. Stres lingkungan

d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah dan atroskerosis aorta atau pembuluh darah besar lainnya.

2. Hipertensi SekunderDisebabkan oleh efek selain diatas, diantaranya adalah penyakit ginjal, endokrin, kehamilan, kerusakan syaraf dan stress akibat surgery peningkatan vonim intravaskuler alcohol atau obat-obatan.

C. MANIFESTASI KLINIK Peninggian tekanan darah tidak jarang merupakan satu-satunya tanda pada hipertensi primer tergantung pada tingginya tekanan darah. Gejala yang timbul dapat berbeda-beda, kadang-kadang hipertensi primer berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ seperti ginjal, mata dan jantung. Gejala seperti sakit kepala, epistoksis, pusing dan migrain dapat ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi primer, meskipun tidak jarang yang tanpa gejala.

Keluhan yang tercatat antara lain

Pusing

Cepat marah

Sukar tidur

Sesak nafas

Rasa berat di tengkuk

Rasa mudah lelah

Mata berkunang-kunang

Derajat hipertensi (mmHg)

a. Normal tinggi 130-139/85-95 mmHg

b. Derajat 1 : 140-159/90-99 mmHg

c. Derajat 2 dan 3 : > 160/> 100 mmHg

D. KOMPLIKASI1. Infark jantung

2. Angina peksonis

3. Anemia

4. Dekomperisasi jantung

5. Syok

PENYIMPANGAN KDM HIPERTENSI Stres

Rokok- Obesitas

Obat- Heredites

Kafein- Makanan

Merangsang Vasamotor

(Media Spinaris)

Rangsangan saraf simpatis

Neuron perganglion melepas asetiskolin

Pelepasan nefsi dan epinefsis

Vasokontriks pembuluh darah

Peningkatan tekanan peningkatan tekanan darahsuplay darah D2 ke

vaskuscerebraperiferperifer menurun

Aliran darah ke serebrakompensasi ventriks kirikaku/kram tangan dan

menurun

kaki

pusing, pening, nyeribeban kerja jantungresiko cedera

nyerilaju metabolism

gelisahmenurunnya energy ( kelemahan

insake menurun

perubahan pada hidupperubahan nutrisi kurang

dari kebutuhan

DAFTAR PUSTAKA1. Conoin J. Elizabeth. 2006. Patofisiologi Kesehatan. Jakarta. EGC

2. Modul Keperawatan Genetik 2008

3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta 1996

4. Bullock BI dan PP Rasendahl. 1992. Pan Phisyology (ed. Ke 3)ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

A.PENGKAJIAN

I.IDENTITAS

1. Nama

: Ny B

2. Usia

: 65 tahun

3. Jenis kelamin

: Perempuan 4. Alamat

: Desa saotengga, dusun Bacikoro Sinjai Tengah 5. Agama : Islam 6. Suku

: Bugis sinjay

7. Pendidikan

: SMP 8. Pekerjaan

: IRT I. FISIK ATAU TIOLOGIS

A. Pandangan larsia tentang kesehatannya : NY B sering merasakan dingin di seluruh tubuhnya, disertai dengan sakit kepala. Klien sering merasakan nyeri pada lututnya, serta pada tangannya.B. Kegiatan yang mampu dilakukan lansia : Klien mampu melakukan pekerjaan yang rutin seperti mandi BAB, BAK dan masih bisa bekerja disawah dan dikebun.

C. Kekuatan fisik lansia :

Kekuatan otot sendi :

Kekuatan pada masing masing ekstremitas berbeda beda :

a. Tangan kanan klien tidak dapat menggenggam dengan kuat.

b. Kaki kanan dan kiri kurang kuat untuk berjalan jauh, klien sering merasakan nyeri pada kedua lututnya. Penglihatan

Penglihatan klien pada jarak 5 meter sampai 6 meter cukup jelas, tetapi jarak lebih dari 6 meter sudah tidak jelas atau rabun. Penurunan lapang pandang dan mata klien sering berair.

Pendengaran

Pendengaran kedua telinga cukup jelas, kecuali dengan frekuensi rendah.

D. Kebiasaan klien merawat diri masih sangat baik dalam arti klien mampu merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain.

E. - Kebiasaan makan minum istrahat atau tidur,BAB atau BAK. Kebiasaan makanan secara makan baik dan teratur. Frekuensi 3 kali sehari klien selalu makan bersama istri dan anaknya.

Kebiasaan minum, klaien mengkomsumsi air puti 6 -7 gelas perhari.

Tidur : Klien tidur malam pada pukul 20.00 - 05.30 wita.Klien juga jarang tidur siang, dan klien juga sering berdoa sebelum tidur.

BAB : Klien menyatakan BAB teratur 1 kali sehari.

F. Perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan : klien menyatakan bahwa kemampuannya untuk berjalan sangat kurang, klien sering merasakan sakit kepala, sering terasa kaku pada kedua lututnya. Nyeri pada persendian bertambah pada saat malam (dingin).

G. Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat. Klen sering berobat dipuskesmas terdekat bila sakit dan kadang mengkomsumsi obat tradisonal

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan pada, perubahan, ketok dan pada system system.

a. Integument

Inpeksi : Terjadi perubahan pada kulit yaitu kulit tampak keriput, perubahan pigmentasi, turgor dan tekstur cukup baik.

Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan disekitar kulit.

b. Muskuloskeletal

Inpeksi : Terjadi kekakuan pada persendian, tangan tidak bisa menggenggam terlalu lama, kekuatan otot mulai berkurang.Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan pada daerah otot

c. Respirasi

Inpeksi : Tidak ada keluhan yang berarti

P = 20 x / menit

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

d. Kardiovaskuler

Inpeksi : Tidak terdapat pembesaran jantung, tidak terdapat sianosis

Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan, pada daerah jantung denyut jangtung teraba

Auskultasi : Fungsi jantung I DUP

Fungsi jantung II LUPTekanan Darah : 170 / 100 mmhg

e. Eliminasi

BABWarna: Kuning

Frekuensi:1 kali sehari

Konsisten:lembek

Kesulitan:tidak ada

BAKWarna: Kuning

Frekunsi: 5 6 kali sehari

Bau

: Amoniak

Kesulitan: Tidak terdapat kesulitan

f. Persyaratan

a. Bentuk wajah: Simetis kiri dan kanan

b. kesadaran: Composmentis

c. Fungsi kranial

1. Nervus I , : Fungsi penciuman baik dapat membedakan jenis bau

2. Nervus II,: Fungsi penglihatan mulai rabun

3. Nervus III, IV, V : Pergerakan bola mata bergerak kesegala arah

terbuka secara spontan

4. Nervus VI

: Sensabilitas normal

5. Nervus VII

: Klaien mampu menggerakkan pupil

6. Nervus VIII

: Fungsi pendengaran baik

7. Nervus IX, X : Fungsi otot plarink baik, bicara lancer

8. Nervus XI

: Klien mampu menggerakkan kepala kekiri dan

kanan. Klien mampu mengangkat batu9. Nervus XII

: Klaien mampu mengerakkan lidahnya

g. Fungsi sensorik

a. Penglihatan

Inspeksi : Pada jarak 5-6 meter jelas tetapi dari lebih 6 meter sudah tidak jelas atau rabun. Mata Nampak cekung, kelopak mata melengkung,mata Nampak merah tidak memakai kacamata dan penurunan lapang pandang.

Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan pada daerah mata.

b. Pendengaran

Inspeks :Pendengaran baik dengan frekuensi rendah, telinga tampak bersih dan tidak ada secret, tidak memakai alat bantu.

Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan pada telinga

c. Pengecapan

Inspeksi: Klen dapat membedakan rasa manis, asam dan asin, tidak mengalami perubabahan nafsu makan

d. Penciuman

Baik, klien dapat membedakan bau

II. Psikologis

a. Daya ingat, cukup baik pada masalah jangka pendek

dan jangka panjang, kadang ada yang terlupakan

b. Proses piker: cukup baik

c. Alam perasa: cukup baik

d. Orientasi: cukup baikIII. Sosial Ekonomi

a. Kesibukan lansia mengisi waktu luang adalah pergi ke sawah yang jaraknya sangat dekat dengan rumahnya.b. Sumber keuangan yakni dari gaji pensiunan suami dan bantuan dari anak.c. Organisasi yang diikuti klien tidak ada

d. Pandangan klien terhadap lingkungan sekitarnya cukup baik dan klien merasa nyaman tinggal dilingkungan tempat tinggalnya.e. Klien sering bersosialisasi dengan teman ataupun tetangganyaVI. SPRITUAL

a. Klien adalah orang yang taat beribadah.b. Dalam menyelesaikan masalah, klien meminta bantuan suami, dan juga berdoa.c. Klien sangat optimis dalam menjalani kehidupannya, dan berharap akan selalu bahagia bersama keluarganya.RIWAYAT KESEHATAN

pengkajian

1. Riwayat klien atau data georafis

Nama

:NY B

Tempat tanggl lahir:65 Tahun

Jenis kelamin

:PerempuanSuku / Bangsa

:Bugis sinjai / Indonesia

Agama

:Islam

Pendidikan

:SMP2. Riwayat Keluarga

Pasangan hidup

:Tuan J

Umur

:70 Tahun

Kematian

: -

Tahun meninggal

: -

Penyebab kematian

:-

Anak-anak yang hidup:-

3. Riwayat pekerjaan

Status pekerjaan saat ini: Saat ini klien hanya membantu suaminya

bekerja di sawah.Sumber pendapatan: Dari pensiunan suaminya dan anaknya4. Riwayat lingkungan hidup

Tipe tempat tinggal: Rumah milik sendiri

Jumlah kamar: 3 ruang

5. Riwayat rekorensi

Hobby / minat: tidak ada yang spesifik

6. Deskripsi dari khusus (termasuk kebiasaan ritual waktu tidur).

a. Tidur siang: 14.00 15.00b. Tidur malam: 20.00-05.30 wita

7. Status kesehatan

Status kesehatan umum selama setahun yang lalu: Klien sering merasakan sakit pada tengkuknya, sering migran, tangan tidak bisa digenggam terlalu lama, dan kaki klien sering nyeri pada waktu malam hari. 8. Status kesehatan selama lima tahun lalu : Klien mengatakan nyeri pada kepala.9. Pengetahuan atau pengalaman dan p[elaksanaan masalah kesehatan:

Klien tidak mengetahui/memahami tentang kondisi penyakitnya dan klien hanya mencegah penyakitnya dengan cara mengkomsumsi ramuan/obat tradisional dengan bahan-bahan alami.karena klien tidak pernah berobat di RS.

10. Obat-obatan saat ini: tidak ada

11. Nutrisi : Pola konsumsi makanan : frekuensinya 3 kali sehari, kadang kadang klien

puasa.

12. Status kesehatan yang lalu:

a.penyakit masa kanak-kanak : sering flu dan batuk b.Tidak pernah mengalami sakit yang kronikc.trauma : tidak ada

d.perawatan diRS. : tidak pernah

e.operasi : tidak pernah

13.Riwayat keluarga

Genogram

ket :

:laki-laki :perempuan

:meninggal----- :tinggal serumah:garis keturunan

:klien

012. Tinjauan systema. UmumKlien mengatakan selalu merasa sakit kepala sehingga mengganggu aktivitas sehari harinya. Klien juga mengatakan penglihatannya mulai kabur, terjadi perubahan pada kulit, perubahan pigmentasi dan perubahan warna rambut, yaitu menjadi putih dan mudah rontok.b. Kepala

Bentuk mesoclepal,klien sering merasa pusing,kulit kepala tampak bersih, rambut Nampak beruban, klien sering merasakan nyeri pada kepala dan didaerah tengkuknya.c. Mata

Klien mengatakan perubahan mulai kabur, air mata sering keluar. Klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, keluhan tersebut sangat berdampak pada aktivitas sehari hari.d. Telinga Struktur simetris kiri dan kanan,tidak ada nyeri dan cairan,tidak ada peradangan,fungsi pendengaran baik,kecuai dengan frekuensi rendah,tiddak memakai alat bantu pendengaran.

e. Mulut dan tenggorokan

Klien mengatakan agak susah menelan makanan yang sangat keras karena gigi klien banyak yang sudah rapuh.

f. Hidung Struktur simetris kiri dan kanan,tidak ada polip dan pendarahan,tidak ada peradangan,fungsi penciuman baik/dapat membedakan bau.

g. Leher Tidak ada pembesaran typoid,vena jugulari teraba,tidak ada nyeri,tidak ada benjolan.

h. KardiovaskulerTidak ada nyeri dada,cojungtiva anemis,BJ I Dup dan BJ II Lup,tidak ada edema,TD:170/100mmhg, N:80x/meniti. Pernapasan Bentuk dada normal,suara nafas tracea,tiddak ada bunyi nafas tambahan,frekuensi nafas 20x/menitj. Sistem endokrin

Tidak ada riwayat ekstresi urine berlebihan,polipdipsi dan poliphagi

k. Psikososialklien mangatakan keadaannya saat ini cukup tenang dan lebih mandekatkan diri kepada tuhan yang maha esa(berdoa). KLASIFIKASI DATA

DS :

kien mengatakan sering pusing. klien mengatakan sering sakit kepala Klien mengatakan kaku pada persendian, terutama pada lutut.

Klien mengatakan tangannya tidak bisa menggenggam terlalu lama.

Klien mengatakan terjadi perubahan pada penglihatannya

Klien mengatakan air mata sering keluarDO :

terjadi kekakuan pada persendian. Wajah klien tampak meringis

Klien tampak lemah

Klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan

Mata klien tampak rabun

TTV:

TD:170/100mmhg

N:80X/mnt

S:36 C

P:20x/mnt

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1.2.3.

Ds

- Klien mengatakan nyeri pada kepala.- Klien mengatakan sering pusing. DO

- Wajah klien tampak meringis- Klien tampak lemah,terjadi kekakuan pada persendian TTV :

TD : 170/100mmhg

N : 80 x / i

P : 20 x / menit

Ds

- Klien mengatakan kaku pada persendian- Klien mengatakan tangannya tidak bisa menggenggam terlalu lama

DO

- Terjadi kekakuan pada persendian - Klien tampak lemah

- TTV

TD : 170/100mmhg N : 80x/iP : 20x/iDs

- Klien mengatakan terjadi perubahan pada penglihatannya- Klien mengatakan air mata sering keluar

DO

- Klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan

- mata klien Nampak rabun- TTVTD : 170/100mmhg

N : 80x/i

P : 20x/i

S : 36 o C

Proses Penuan

Penuan fungsi tubuh

Terganggunya system kardiovaskuler

Obesitas, stress, merangsang vasomotorik (medulla spinalis)

Rangsangan saraf simpatis

Neuron preganglion melepas aseiskolin

Vasokontriksi pembulu darah

Tekanan vaskuler serebral

Nyeri kepala

Nyeri

Proses Penuaan

Penurunan fungsi tubuh

Terganggunya sistem muskuloskletal

Berkurangnya massa otot perubahan degeneratif jaringan connective

Kekuatan otot menurun endurance dan koordinasi menurun

ROM terbatas

Gangguan mobolitas fisik Proses penuaan

Penuaan fungsi tubuh

Gangguan fungsi penglihatan

Penurunan sensitivitas pada cahaya

Respon melambat

Lapang pandang menyempit

Resiko cedera

NyeriGangguan mobilitas fisik Resiko cedera

Diagnosa perawatan :1.Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral2.Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan sistem muskuloskletal3.Resiko cedera fisik berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan RENCANA KEPERAWATAN

Nama :TN.I

RM :

NODiagnosa

KeperawatanTujuan Rencana tindakan keperawatan

Intervensirasional

1.

2.3.Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler ditandai dengan :

Ds- Klien mengatakan nyeri pada kepala

- Klien mengatakan sering pusing.Do

- wajah klien tampak meringis- terjadi kekakuan pada persendian- klien tampak lemah

- TTU

TD : 170/100 mmhg N : 80x/iP : 20x/iGangguan mobilitas fisik b/d penurunan fungsi sistem muskulosketal ditandai dengan :

Ds :

- Klien mengatakan kaku pada persendian- Klien mengatakan tangannya

tidak bisa menggenggam

terlalu lama

Do :

- Terjadi kekakuan pada persendian- Klien tampak lemah

- TTV :

TD : 170/100mhg P : 80x/i N : 20x/iResiko cedera fisik b/d penurunan fungsi penglihatan ditandai dengan :Ds :

Klien mengatakan terjadi perubahan pada penglihatannya Klien mengatakan air mata sering keluar

Do : Klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan

Mata klien tampak rabun

- TTV TD : 170/100mmhg

N : 80x/i

P : 20x/i

- Klien mengatakan nyeri kepala berkurang dengan kriteria :- klien mengatakan sakit kepala berkurang.

-klien tampak tenang

-tekanan darah dalam batas normal

Gangguan mobilitas fisik akan berkurang dengan criteria : Keluhan klien berkurang

Tidak terjadi kekakuan gerakan lagi

Kelemahan berkurang

Bisa melakukan aktivitas yang ringan

Tidak mengganggu aktivitas harian lagi

Cedera fisik dapat diatas dengan kriteria : Keluhan penglihatan tidak rabun lagi

Air mata berkurang

Aktivitas sehari hari tidak terganggu lagi

1. mengkaji, tingkat dan karakteristik nyeri2.observasi TTV3.ajarkan teknik relaksasi napas dalam4.Menganjurkan posisi yang nyaman jika nyeri timbul.5.Menganjurkan klien untuk menkonsumsi obat tradisional.

1. Bina hubungan saling percaya2. Kaji kemampuan dan kelemahan secara fungsional

3. Kaji derajat mobilisasi klien dengan menggunakan skala (0-4)

4. Jelaskan pada klien tentang proses penuaan dan manfaat latihan gerak

5. Ajarkan dan demonstrasikan latihan ROM aktif atau pasif

1.Kaji tingkat penurunan penglihatan mata klien dan penurunan fungsi persyarafan klien2. Jelaskan pada klien proses penuaan dan dampaknya pada mata

3.Jelaskan kebutuhan klien akan keamanan dan keselamatan

4.Menganjurkan pada klien untuk mengatur pencahayaan ruangan yang cukup

1.untuk mempermudah melakukan intervensi selanjutnya2.peningkatan TTV merupakan indikasi peningkatan intensitas nyeri3.menurunkan tekanan vaskuler serebral.4.Memberi rasa nyaman dan mengurangi intensitas nyeri.5.Untuk menurunkan peningkatan tekanan darah.1. Hubungan saling percaya mempermudah dalam pengkajian masalah selanjutnya2. Pengkajian kemampuan dan kelemahan berguna untuk pengambilan intevensi selanjutnya

3. Mengetahui sampai sebatas mana kemandirian klien

4. Dengan penjelasan akan meningkatkan pengetahuan dank lien akan mau mengikuti anjuran

5. Klien dapat mencontoh dan melaksanakan latihan secara mandiri1.Dengan pengkajian akan dapat dengan mudah menentukan intervensi yang akan diberikan2.Dengan penjelasan, klien dapat memahami dan akhirnya dapat kooperatif dalam segala tindakan

3.Upaya klien mengetahui apa saja yang dilakukan untuk mengatasi masalahnya.

4.Dengan lingkungan ruangan yang cukup pencahayaan dan lantai yang tidak licin, akan meminimalkan terjadinya cidera

CATATAN PERKEMBANGAN

NO/DFHari dan tanggal IMPLEMENTASI LUALISASI

1/11/2

1/3

10 5 0811.00

13.00

14.001).Mengkaji tingkat dan karakteristik nyeri Hasil : Lokasi : kepala dan tengkuk klien

Skala : sedang

Kualitas : Hilang timbul 2).Mengukur TTV.

Hasil :

Td : 170/100mmhg

N : 80 x / i

P : 20 x / i

3).Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam Hasil :

Menarik nafas melalui perut dan mengeluarkan melalui hidung4).Mengajarkan posisi yang nyaman jika nyeri timbulHasil :

Mengajarkan posisi semi fowler jika nyeri timbul

5).Menganjurkan klien untuk mengkonsumsi obat tradisional untuk menurunkan tekanan darahHasil :

Mengunyah bawang putih dengan air hangat, makan mentimun1).Mengkaji kemampuan dan kelemahan secara fungsionalHasil :

Kemampuan klien yaitu : Mandi, makan, bab, bak, membantu suami ke sawah2).Mengkaji derajat mobilisasi klien dengan menggunakan skala ketergantungan atau dengan skala tingkat kemandirian

Hasil :

Derajat kemandirian klien baik3).Mengulangi kembali penjelasan pada klien tentang proses penuaan dan manfaat latihan bagi tubuh.

Hasil :

Klien memahami penjelasan yang diberikan

4).Melakukan latihan ROM aktif / pasifHasil :

Klien merasa muda setelah dibantu melakukan latihan

5).Melakukan latihan ROM aktif / pasif melalui latihan oksevasi Hasil :

Klien bisa melakukan gerakan yang ringan saja 1).Mengkaji tingkat penurunan penglihatan mata klien dan penurunan fungsi persyarsfan klien .

Hasil:

Penurunan pada jarak 1/2 meter , klien masih bisa melihat tapi kurang jelas dan tremor terjadi bila tangan kiri memegang sesuatu.

2).Menjelaskan pada klien tentang pasca penuaan dan dampaknya pada mata.

Hasil :

Klien memahami penjelasan yang diberikan

3).Menjelaskan kebutuhan klien akan keamanan dan keselamatan akibat penurunan fungsi tersebut.

Hasil :

Klien mengerti dan mampu menyebutkan ulang yang dijelaskan walaupun tanpa bantuan orang lain

4).Hindari lantai kamar mandi dan WC yang licin serta beri pengangan

Hasil :

Sekitar WC dan kamar mandi tidak licin (kering)

S : - Klien mengatakan nyeri pada kepala berkurang

Klien mengatakan nyeri ditengkuk masih muncul tiba - tiba

O : - Wajah klien tampak meringis A : - Masalah belum teratasiP : - Lanjutkan intervensi

a. Mengkaji tingkat nyerib. Mengobservasi TTV

c. Menganjurkan teknik relaksasi nafas dalam

d. Memberikan posisi yang nyaman jika nyeri timbul

e. Menganjurkan klien untuk menurunkan tekanan darah dengan menkonsumsi obat tradisional

S : - Klien mengatakan masih merasakan kram pada tangannya

Klien mengatakan masih merasa kaku pada persendian

O : - Masih terjadi kekakuan gerakan.

Kekuatan otot masih berkurang

Bisa melakukan aktivitas latihan yang ringan

A : - Gangguan mobilitas fisik masih terjadi

P : - Lanjutkan intervensi

a. Mengkaji kemampuan dan kelemahan secara fungsional

b. Mengkaji derajat mobilitas klien dengan menggunakan skala ketergantungan

c. Mengulangi kembali penjelasan pada klien tentang proses penuaan

d. Melakukan latihan ROM aktif / pasif melalui latihan oksevasi

S : - Klien mengatakan masih terjadi perubahan pada penglihatannya, yaitu pandangan jadi kabur, air mata sering keluar Klien mengatakan tangan kirinya juga masih gemetaran bila memegang sesuatu

O : Tampak klien menggunakan lensa kontak. Pandangan pada jarak meter masih bisa dilihat klien, tremor masih terjadi, dampak terhadap aktivitas sehari hari terjadi akibat keluhan tersebut di atasA : Resiko cedera masih pensisten

P : Pertahankan intervensi

21

30

40

65

70

23

25

G1:nenek dan kakek klien sudah meninggal dunia karena faktor usia

G2:kedua orang tua dan mertua klien sudah meninggal juga karena

faktor usia

G3:klien tinggal serumah dengan suaminya, klien mempunyai 5

orang anak, 3 laki laki dan 2 perempuan.