of 56 /56
“Makalah Asuhan Keperawatan Pada Penderita Asma dan ISPA” Dosen Pembimbing: Ilkafah, S.Kep,Ns Di susun oleh: 1. Awaliyatuz zahroh indah A (10.02.01.0702) 2. Muhammad thesar (10.02.01.0719) 3. Rifatul alimah (10.02.01.0727) 4. Wahyuti umami (10.02.01.0737) STIKES MUHAMMADIYAH LAMONGAN PRODI S1 KEPERAWATAN 2011-2012

Askep Asma & Ispa New

  • Upload
    rs

  • View
    111

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep asma & ispa new

Citation preview

Makalah Asuhan Keperawatan Pada Penderita Asma dan ISPA

Dosen Pembimbing: Ilkafah, S.Kep,Ns

Di susun oleh:

1. Awaliyatuz zahroh indah A (10.02.01.0702)2. Muhammad thesar(10.02.01.0719)3. Rifatul alimah(10.02.01.0727)4. Wahyuti umami (10.02.01.0737)

STIKES MUHAMMADIYAH LAMONGANPRODI S1 KEPERAWATAN2011-2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb. Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Karunia-Nyalah, kami selaku penulisan makalah Sistem Pencernaan yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA DAN ISPA yang mana makalah ini sebagai salah satu seminar, Alhamdulillah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.Maka dengan terselesainya makalah ini, kami selaku penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada:1. Drs.H.BudiUtomo,Amd.Kep.M.Kes, selaku ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan.2. Arifal Aris S.Kep,Ns M.Kes, selaku ketua prodi S1 KEPERAWATAN STIKES Muhammadiyah Lamongan.3. Ilkafah, S.Kep,Ns. selaku dosen Mata Kuliah Sistem Respirasi.4. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga dapat digunakan untuk membantu perbaikan mendatang dan atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.Wassalamualaikum. Wr. Wb Lamongan, Desember 2011Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULiKATA PENGANTARiiDAFTAR ISIiiiBAB I PENDAHULUAN1.1 Latar belakang1.2 Rumusan masalah1.3 Tujuan MasalahBAB II TINJAUAN TEORI2.1 Konsep Dasar Asma 2.2 Konsep Dasar ISPABAB III ASUHAN KEPERAWATAN3.1Asuhan Keperawatan Asma3.2 Asuhan Keperawatan ISPABAB IV PENUTUP3.1 Kesimpulan3.2 SaranDAFTAR PUSTAKA

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar belakangSeiring dengan pesatnya alih tehnologi maka banyak berdampak bagi manusia baik dampak positif ataupun negatif. Salah satunya polusi akibat perindustrian baik polusi udara, tanah, air ataupun suara. Dengan adanya polusi udara sangat memungkinkan sekali untuk terkenanya penyakit saluran pernafasan yakni seperti penyakit asma dan ISPA.Penyakit asma dan ISPA ini biasa disebabkan karena penyempitan saluran pernafasan, penyumbatan saluran pernafasan karena adanya penumpukan sekret yang berlebihan dan lain-lain.Pada penyakit ini apabila dibiarkan dan tidak ditangani dengan tepat dan cepat dapat menimbulkan kematian.Masalah-masalah yang sering timbul pada klien asma dan ISPA diantaranya sesak nafas yang mendadak, resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi dan bisa juga kurangnya pengetahuan karena belum meluasnya informasi mengenai pencegahan, deteksi dini maupun penatalaksanaan dari klien asma dan ISPA ini.Kita sebagai perawat profesional dituntut untuk dapat melakukan tindakan dalam menghadapi masalah pada klien ini.

1.2 Rumusan masalahBerdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :1. Bagaimana konsep dasar dari asma dan ISPA?2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan asma dan ISPA?1.3 Tujuan1. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai penyakit asma dan ISPA2. Untuk mengetahui tindakan apa saja yang dilakukan pada pasien dengan asma dan ISPA.BAB IITINJAUAN TEORI

1.3 Konsep dasar AsmaA. DefinisiAsma ialah penyakit paru dengan Ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifesasi berupa serangan asthma Asma disebut juga dengan RAD, adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversible yang ditandai sengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulus

B. KlasifikasiAda berbagai pembagian asma pada anak, diantaranya adalah :1. Asma Episodic yang jarang Terdapat pada anak umur 3-8 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyak serangan yang berat. Terdapat mengi yang berlangsung kurang dari 3-4 hari, sedangkan batuk-batuknya dapat berlangsung 10-14 hari tetapi tumbuh kembang anak biasanya baik, di luar serangan tidak ditemukan kelainan. Golongan ini merupakan 70-75 % dari populasi asma anak.2. Asma Episodic Sering Pada 2/3 golongan ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum sebelum 3 tahun. Pada permulaan serangan berhubungan dengan infeksi saluran nafas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Farekuensi serangan 3-4 kali dalam 1 tahun, tiap serangan beberapa hari sampai beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi umur 8-13 tahuin. Jika serangan terjadi lebih dari 1-2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hai Fever dapat ditemukan pada golongan asma kronik atau persisten. Gangguan pertumbuhan jangan terjadi. Golongan ini merupakan 20 % dari populasi asma pada anak.

3. Asma Kronik atau PersistenPada 25 % anak golongan ini serangan pertama terjadi sebbelum umur 6 bulan, 75 % sebelum umur 3 tahun, lebih dari 50 % anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan 50 % adanya serangan episodic. Pada umur 5-6 tahun tampak jelas adanya abstruksi saluran nafas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari, malam hari terganggu oleh batuk dan mengi obstruksi jalan nafas mencapai puncaknya pada umur 8-14 tahun, baru kemudian terjadi perubahan, biasanya perbaikan. Pada pemeriksaan fisik dapat terjadi perubahan bentuk torakssepertii dada burung (pigeon chest) barrel chest. Pada golongan ini terjadi gangguan pertumbuhan yaitu bertubuh kecil sebagian kecil ada yang mengalami gangguan psikosososial.C. Etiologi1. Secara pasti belum diketahui2. Ada beberapa factor predisposisi atau pencetus :a) Faktor Ekstrinsik: reaksi antigen-antibodi, karena intalasi allergen (debu,serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)b) Faktor intirinsik, infeksi : Para influenza virus, pneumonia, mycoplasma. Kemudian dari fisik: cuaca dingin, perubahan atemeratur iritan: kimia, polusi udara (C0, asap rokok, parfum) Emosional: takut, cemas dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi factor pencetus.

D. PatofisiologiAsma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.Dengan adanya alergi otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibody tubuh muncul (Ig E) dengan adanya alergi Ig E dimunculkan pada reseptor sel mast yang menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediaataor lainnya. Media tersebut akan memberikan gejala asthma.Respon asthma terjadi dalam tiga tahap immediate yang ditandai dengan bronkokonstriksi (1-2 jam), tahap delayed dimana bronkokonstriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama. Tahap late ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.Ashthma juga dapat terjadi factor pencetusnya karena latihan kecemasan, dan udara dingin.Pada stadium permulaan serangan terlihata mukosa pucata, terdapat edema dan sekresi bertambah.Akibat dari spasme lumen bronkus menyempit sehingga tejadi kongesti pembuluh darah, inflitarasi se eosinofis dalam secret di dalam lumen. Jika serangan terjadi dan lama akan terlihat deskluamasi epitel, penebal membran hialin basal, hiperplasi serat elastin, hiperplasi dan hipertrfi otot bronkus .Anak yang mengalami asthma akan menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas sehingga terjadi obstruksi jalan nafas yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi O2, sehingga terjadi penurunan PO2 (hipoksia). Selama serangan asthmatic, CO2 tertahan dengan meningkatnya resistensijalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hipercapnea. Kemudian system pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan tacypneu kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah.

E. PathwayF. Stimulus non imunologik,infeksi virus,stimulus fisik dan kimiaPengaktifan selStimulus imunologik antigen

Reaksi antibodi (Ig A)

Reseptor sel Mast

Menegeluarkan sejumlah bahan histamin

Mediator radang, kontraksi otot-otot pernafasan kemotaksis

Respon granulositNetrofil,eusinofil,basofil,aktifnya sel mononukleusMakrofag limfosit

Mediator radang

Obstruksi bronkusBronco spasmeInfiltrat selule sekresiMukus meningkat

Kerusakan alveoliBersihan jalan nafas inefektif

Gangguan pertukaran gasDistress pernafasanDypsneu

Anoreksia

Intoleransi aktivitas

Gangguan nutrisi

F. Manifestasi Klinis1. Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan oto-otot asesori, pernafasan, cuping hidung, retraksi dada, dan stridor2. Batuk kering (tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan nafas sempit3. Tachypnea, orthopnea4. Gelisah5. Diaphorosis6. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan7. Fatique8. Tidak toleran terhadap aktivitas, makan, bermain, berjalan, bahkan bicara9. Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran10. Serangan yang tiba-tiba atau beransur-ansur11. TD meningkat,nadi meningkat12. Sianosis

G. PenatalaksanaanMedisSerangan asma yang ringan cukup diobati dengan obat bronkodilator oral atau aerosol, bahkan yang ringan sekali tidak memerlukan pengobatan yang cepat kerjanya, misalnya bronkodilator aerasal atau bronkodilator sub kutan, adrenalin. Pada serangan ringan itu tidak diperlukan kortikosteroid. Sedangkan pada serangan ringan kronik atau sedang perlu oksigen, untuk pasien yang mengalami serangan asma berat bila gagal dengan bronkodilator aerosol oral atau subkutan dan kortikosteroid perlu teofilin intravena dan koreksi penyimpangan asam basa serta elektrolit.Hal-hal yang harus diperhatikan 1. Menjaga keserasian keluarga agar tidak menimbulkan masalah psikologis bagi anak.2. Menjaga kesehatan anak dengan memberi makanan yang bergizi dan menghindari makanan yang mengandung allergen3. Kapan anak harus dibawa konsultasi4. Ikut kelaksanaan/mengawasi kegiatan anak5. Pada anak yang telah mengerti diberi penjelasan tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak.

Bila pasien sedang mendapat serangan asma, masalah yang perlu diperhatikan:1. Pasien menderita kesukaran bernafas 2. Gangguan rasa aman dan nyama

Penanggulangana) Oksigenb) Terapi cairan parenteralc) Terapi pengobatan sesuai program

1. Albuterol (proventol, ventolin)Dengan memberikan oksigen, dosis oral; 0,1 mg/kg setiap 8 jam, nebulizer, 0,15 mg/kg per dosis dalam 2 ml normal salin, inhasi 1 atau 2 isapan setiap 4-6 jam. Efeknya, tachycardia, palpitasi, pusing kepala, mual dysrhythmia, tremor, hypertensi dan insomania.2. TerbutalinDosis, usia 2-6 tahun; 0,15 mg/kg tiga hari (tidak lebih dari 5 mg per hari); 6-14 tahun, 2 mg tiga kali sehari (tidak lebih dari 24 mg perhari); 14 tahun dan dewasa, 2-6 mg/kg dalam tiga kali sehari atau empat kali sehari (tidak lebih dari 32 mg per hari), inhalasi, 1 atau 2 hisapan setiap 4-6 jam, nebulizer, 05-15 mg setiap ,4-6 jam. Efek samping tachycardia, pusing kepala, tremor atau gemetar, mual dan insomnia.

3. Metrapotenol (alupen, metaprel)Dosis, 0,3-05 mg/kg per dosis setiap 6-8 jam, maksimum 20 mg per dosis. Efek samping tachycardia, palpitasi, hipertensi, gemetar, lemah, pusing kepala, mual, muntah, mulut rasa tidak enak. 4. BronkodilatorDilatasi bronkus dan bronkiolus, mengurangi bronkopasme, dan meningkatkan bersihan jalan nafas.5. Theophylline etylenediamie(Aminophylline)Dosis ; pada klien tanpa thophylline, dosis, 6 mg/kg dan melalui intravena usia 6-9 bulan : 1,0-1,2 mg/kg/jam usia 9-12 jam, 0,9-1,0 mg/kg/jam usia 12-16 tahun: 0,6 0,7 mg/kg/jsmKeperawatanDitujukan padaPerawat pasien asma:Bila pasien sedang tidak mendapat serangan asma, perawatan ditujukan untuk mencegah timbuknya asma dengan memberikan pendidikan kepada pasien sendiri ataupun keluarganya dan menghilangkan factor pencetus.Pendidikan mengenai:1. Tanda akan terjadi serangan asma2. Cara memberikan obat bronkodilator sebagai pencegahan baik dengan aerosol/semprot atau oral3. Faktor pencetus4. Diet5. Latihan fisik 6. Emosi7. Perubahan lingkungan

H. Pemeriksaan Penunjang1. Jumlah leukosit meningkat2. AGD Kasus berat : pd awal pH meningkat, PCO2 dan PO2 turun (alkalosis respiratori)Hiperventilasi, pH turun, P02 turun dan PCO2 meningkat .3. Jumlah eosinofil meningkat dalam darah4. Pemeriksaan allergi(radioallergosor test:RAST)5. Foto toraks6. Uji fungsi paru : Vulume tidal menurun, kapasitas vital menurun2.2 Konsep dasar ISPAA. DefinisiISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik bakteri, virus maupun riketsia tanpa disertai radang parenkim paru.ISPA adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia mulai organ hidung hingga alveoli beserta organ seperti sinus-sinus rongga telinga tengah dan pleura dan berkembang biak yang berlangsung sampai dengan 14 hari (Depkes RI, 1996:4).

B. Klasifikasi1. Umur 2 bulan sampai < 5 tahun1) Pneumonia berat : Adanya tarikan dada ke dalam2) Pneumonia Tidak ada tarikan dada ke dalam Nafas cepat- 2 bulan sampai < 12 bulan kurang lebih 50 kali permenit- 1 sampai < 5 tahun kurang lebih 40 kali permenit

3) Bukan Pneumonia Ditandai secara klinis oleh batuk, pilek bisa disertai demam, faringitis dan tonsillitis. Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam Tidak ada nafas cepat2. Umur kurang 2 bulan.1) Pneumonia berat Nafas cepat : lebih dari 60 kali permenit Tarikan dinding kedalam kuat

2) Bukan Pneumonia Tidak ada nafas cepat : kurang dari 60 kali permenit Tidak ada tarikan dinding dada dalam

C. EtiologiISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri maupun riketsia, infeksi bakterial. Penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dll.Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.

D. Faktor RisikoFaktor-faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya ISPA:1.UsiaAnak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.2. Status ImunisasiAnak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.3. Lingkungan Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.

E. PatofisiologiTerjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal disaluran nafas.Infeksi oleh bakteri dan virus dapat merubah pola kerja system pernafasan. Virus dan bakteri menginvasi sistem pernafasan sehingga dapat menurunkan kerja silia dan juga dapat menurunkan kemampuan makrofag dalam proses fagositosit virus dan bakteri.Hal ini menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga akan menyebabkan reaksi infeksi pada tubuh. Sebagai kompensasai dari reaksi tersebut, tubuh akan mengalami peningkatan suhu tubuh. Selain itu membran mukosa pada saluran pernafasan juga akan mengalami hipersekresi mukus menyebabkan penumpukan sekret pada saluran pernafasan.

F. Pathway

Bakteri-streptococcus-stafilococcus-Pnemococus-hemofilus-bordetella-korinebakteriumVirus-Mikrovirus-Adenovirus-Koronavirus-Pikornavirus-Mikoplasma-herpesvirus

Menginvasi pada saluran pernafasan

Paparan asap rokok dan polusi udara

Kerja silia

Menurunkan kemampuan makrofag untuk membunuh bakteriDaya tahan tubuh

Reaksi infeksi

Merangsang hipotalamus

Membran mukosa saluran pernafasan hipersekresi

hipertermi

Produksi mukus

Menurunkan keinginan untuk makan

Sekret menumpuk

AnoreksiaBersihan jalan nafas inefektif

Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh

G. Manifestasi Klinis

1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk.3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bahkan tidak mau minum.4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebihmudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan

H. PenatalaksanaanTujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.Penatalaksanaan pada anak dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452). Adapun pengobatan berdasarkan klasifikasinya yakni: Pneumonia berat: dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, dan pemberian oksigen. Pneumonia: diberikan obat antibiotic kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kotrimoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksilin, atau penisilin prokain. Bukan pneumonia: tanpa pemberian antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan, dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas seperti parasetamol.Upaya pencegahan:Pencegahan dapat dilakukan dengan : Menjaga keadaan gizi agar tetap baik. Immunisasi. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.Pengobatan dan perawatan Prinsip perawatan ISPA antara lain : Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari Meningkatkan makanan bergizi Bila demam beri kompres dan banyak minum Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih mengkonsumsi ASI

I. Pemeriksaan Penunjang1. Kultur Kultur tenggorok mungkin dilakukan untuk mengidentifikasi organisme yang bertanggung jawab terhadap faringitis. Selain itu, kultur tenggorok juga dapat membantu dalam mengidentifikasi organisme yang bertanggung jawab terhadap infeksi saluran pernafasan bawah. Swab hidung dapat juga dilakukan untuk alasan yang sama.2. BiopsiBiopsi yakni eksisi sejumlah kecil jaringan, dapat dilakukan untuk memungkinkan pemeriksaan sel-sel dari faring, laring, dan saluran hidung.Anestesi lokal, topical, atau umum dapat diberikan selama prosedur ini, tergantung pada letak dan prosedurnya.3. Pemeriksaan PencitraanPemeriksaan pencitraan ini termasuk rontgen jaringan lunak, dan pencitraan resonan magnetic (MRI), mungkin dilakukan sebagai bagian pemeriksaan diagnostik untuk menentukan keluasan infeksi dalam sinusitis atau pertumbuhan tumor dalam kasus kanker.

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN3.1 Asuhan Keperawatan Asma3.1.1 Pengkajianb. IdentitasNama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi ,pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasienc. Riwayat kesehatan Keluhan UtamaSesak Nafas Riwayat Penyakit SekarangSesak nafas diikuti kenaikan frekuensi pernafasan, batuk dan wheezing beberapa hari.Batuk kering karena sekret kental Riwayat Penyakit Dahulu Antenatal: bila salah satu atau kedua orang tua menderita asma, kemungkinan diturunkan secara pilogenik. Natal : tidak ditemukan penyebab terjadinya asma ketika bayi dilahirkan. Postnatal : Perlu dikaji faktor-faktor yang berperan, seperti:1. Faktor Imunologi-alergi2. Faktor Infeksi3. Faktor Psikologi4. Faktor Iritan, cuaca

Riwayat Kesehatan keluargaPenyakit asma termasuk penyakit menurun, kemungkinanditurunkan secara pilogenik. Riwayat PsikososialFaktor psikis merupakan factor pencetus, tidak adanya perhatian/tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma oleh keluarga / anak akan meningkatkan usaha pencegahan. Apabila terlalu cemas akan memperberat serangan. Pemeriksaan Fisika) Keadaan Umum : Fatique, tachypneu, dyspneub) HidungTerdapat cyanosis sekitar hidung, pernafasan cuping hidung.c) MulutTerdapat cyanosis pada bibird) Dada Inspeksi: Terdapat tarikan intercostae, Tachypneu, dyspneu, Bentuk dada barrel chestPalpasi: Vocal fremitus antara dada kanan dan kiri tidak samaPerkusi: Terdapat hipersonor pada seluruh toraks terutama bagian bawah poterior.Auskultasi: Wheezing (inspirai dan ekspirasi). Penurunan suara nafas (akibat obstruksi dan spasme otot bronkus, aliran udara sangat sedikit.Rales, ronchi.e) ExtermitasTerdapat cyanosis pada ujung-ujung kulit dan kuku akral dingin

Fungsional gordon

Aktivitas/ istirahatGejala: keletihan, kelelahan, malaise Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihanTanda: Keletihan Gelisah, insomnia Kelemahan umum/kehilangan masa ototSirkulasiGejala: Pembengkakan pada ekstremitas bawahTanda: Peningkatan TD Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat,disritmia Distensi vena leher(penyakit berat) Bunyi jantung redup(yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada) Warna kulit /membran mukosa: normal atau abu-abu/ sianosis;kuku tabuh dan sianosis periferIntegritas egoGejala: Peningkatan faktor resiko Perubahan pola hidupTanda: ansietas, ketakutan,peka rangsangMakanan / cairanGejala: mual/muntah nafsu makan buruk/ anoreksia ketidakmampuan untuk makan karena distres pernafasantanda: turgor kulit buruk berkeringathigienegejala: penurunan kemampuan /peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-haritanda: kebersihan buruk, bau badanpernafasan gejala: nafas pendek khususnya pada kerja;cuaca atau episode berulangnya sulit napas; rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas,tanda: biasanya cepat,dapat lambat; fase ekspirasi memanjang penggunaan otot bantu pernafasan bunyi nafas wheezingkeamanangejala : riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan adanya /berulangnya infeksi berkeringatinteraksi sosialgejala: hubungan ketergantungan kurang sistem pendukung kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang terdekat penyakit lama atau ketidakmampuan membaiktanda: ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara karena distres pernafasan keterbatasan mobilitas fisik kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

C. Analisa data

No.dxDataEtiologiMasalah

1Ds :pasien mengatakan sulit untuk bernafas,serta seperti ada yang menghalangi dalam bernafas.Do : adanya otot bantu pernafasan peningkatan produksi sputumTTV(TD:>115/60mmHg.Nadi: >110x/mntRR: >30X/mntS: >37,5C

adanya bunyi nafas abnormal batuk kering karena sekret kentalBronco spasme ,penumpukkan lendirBersihan jalan nafas inefektif

2DS: Klien menyatakan sesak dalam benafas DO: Takipneu(RR=>30 x/mnt) klien tampak gelisah sianosis GDA tidak dalam batas norma(paO2:45)

Kerusakan alveoliGangguan pertukara gas

3DS: Klien mengaku mudah lelah dan letih ketika beraktivitas. kien mengaku sesak nafas ketika digunakan untuk beraktivitasDO: TTV(TD=>115/60mmHg, T=>37,5C,N=>110 x/mnt, RR=>30 x/mnt) Klien tampak pucat Kekuatan otot

4 4 4 4Kelemahan fisikIntoleransi aktifitas

D. Dianosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul1. Bersihkan jalan nafas inefektif b/d bronco spasme,penumpukan secret.2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveoli3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik

E. Rencana KeperawatanDiagnosa INo.Tujuan & KHIntervensiRasional

1Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan jalan nafas kembali efektifKH:TTV normal(TD:100/60-115/60mmHgNadi: 70-110x/mntRR: 15-30X/mntS: 36,5-37,5C Tidak ada tarikan otot intercoste Bebas dari suara nafas tambahan Produksi sputum berkurang dan batuk menurun/ tidak ada

1. Monitor respirasi, denyut jantung, tekanan darah,suhu Menentukan derajat distress pernafasan dan / atau kronisnya proses penyakit

2. Auskultasi suara nafas dan observasi usaha bernafas dan penyimpanganBeberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi nafas dan dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi nafas abnormal

3. Berikan posisi yang lebih nyaman dan ajarkan batuk produktifAnak-anak akan mencari posisi yang menurutnya enak dan merasa aman sehingga dengan posisi tersebut kita dapat melakuakn tindakan atau membuat aliran udara lebih lancar dan upaya batuk produktif untuk mempermudah pengeluaran sekret.

4. Berikan obat sesuai hasil kolaborsi,monitor obat dan respon sampingannya (Bronkodilator, steroid, antibiotik)

Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local, menurunkan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa, /, kortikosteroid di gunakan untuk mencegah reaksi alergi/ menghambat pengeluaran histamin, menurunkan berat dan frekuensi spasme jalan nafas, inflamasi pernafasan dan dipsnea

5. Berikan O2 sesuai dengan indikasi (jika anak mempunyai retensi O2 kronik, jangan melampaui 2 liter/menit gunakan nasal canule untuk O2 anak-anak Memperbaiki / mencegah memburuknya hipoksia. Pemberian yang berlebihan dapat mengiritasi jalan nafas sehingga akan memperburuk keadaan

6.kolaborasi pemberian humidifikasi tambahan misalnya: nebulizer Memberikan kelembapan pada membran mukosa , membantu pengenceran sekret. Dan merangsang pengeluaran secret lebih banyak

Diagnosa IITujuan & KHIntervensiRasional

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam diharapkan terjadi perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan kriteria hasil: Tidak sesak Tidak sianosis Tidak gelisah Tidak terjadi hipoksia GDA dalam batas norma(paO2: 80-100%, paCO2:35-45)

1. kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan/ pelebaran nasalKecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan berfariasi tergantung derajat gagal nafas

2. Observasi warna kulit, membran mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifer atau sentral

Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam atau menggigil. Namun sianosi daun telinga, membran mukosa, dan kulit sekitar mulut ( membran hangat) menunujukkan hipoksemia sistemik

3.Kaji status mental

Gelisah, mudah terangsang, bingung, dan somnolen dapat menunjukkan hipoksemia atau penurunan oksigenasi serebral

4.Awasi frekuensi irama jantung

Takikaardi biasanya ada sebagai akibat demam atau dehidrasi tetapi dapat sebagai respon terhadap hipoksemia

5.Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah perasaanAnsietas adalah manifestasi masalah psikologi sesuai dengan respon fisiologiterhadap hipoksia. Pemberian keyakinan dan meningkatkan rasa aman dapat menurunkan komponen psikologis, sehingga menurunkan kebutuhan oksigen dan efek merugikan dari respon fisiologis

6. Pantau GDAMengevaluasi proses penyakit dan memudahkan terapi penyakit

Diagnosa IIINo.dxTujuan & KHIntervensiRasional

3

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan klien menunjukkan perubahan terhadap intoleransi aktivitas,dengan KH: Keadaan umum klien baik TTV(TD:100/60-115/60mmHgNadi: 70-110x/mnt,RR: 15-30X/mnt, S: 36,5-37,5C) Badan tidak lemas Klien dapat beraktivitas secara mandiri Kekuatan otot terasa pada sekala normal5 55 5

1.Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas ,catat laporan dypsneu ,peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitasMenetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi

2. 2.Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahatTirah baring di pertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik ,menghemat energi untuk penyembuhan

3. 3.bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat atau tidur Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk ke depan meja atau bantal

4.bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.berikan kemajuan peningkatan aktivitas selam fase penyembuhan Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

5.berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi dan ukur skala otot.Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan ,menaikkan istirahat dan untuk mengetahui skala otot pasien.

3.2 Asuhan Keperawatan ISPA3.2.1 Pengkajian Anamnesa meliputi :I. Identitas klienNama,Usia,Jenis kelamin, Suku/ bangsa, Agama, Status marital, Pendidikan/ pekerjaan,alamat.II. Keluhan utamaDemam, batuk, sakit tenggorokan, pilek.III Riwayat kesehatan: Riwayat penyakit sekarang Sakit kepala, sakit tenggorokan, disfagia, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat dan rasa tidak nyaman seperti keletihan. Riwayat penyakit dahulu Apakah pasien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang. Riwayat penyakit keluarga Apakah anggota keluarga sebelumnya ada yang pernah mengalami sakit seperti penyakit pasien. Riwayat sosialKeadaan rumah yang kotor, kumuh dan kurangnya menjaga kebersihan badan.3.2.2 Pemeriksaan Fisik1. Keadaan Umum : Pasien tanpak lemah, demam tinggi, batuk produktif dan disertai hidung tersumbat.2. Tanda Tanda VitalTD: >115/60mmHgNadi : >110x / mntSuhu : >37,5CRR: >30x/mnt

3. Pemeriksaan fisik di difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan.a. Inspeksi1. Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan2. Tonsil tampak kemerahan dan edema3. Tampak batuk produktifb.Palpasi1. Adanya demam2. Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis3. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroidc.Perkusi1. Suara paru normal (resonance)d.Auskultasi 1. Suara nafas tambahan seperti wheezing, ronchi.

Pola fungsi kesehatan0. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehatPerlu dikaji pada keluarga apakah keluarga mengerti tentang penyakit anaknya dan dibawah kemana bila sakit0. Pola nutrisi dan metabolisme Pada kasus ini pola makan dan minum klien cenderung menurun, karena adanya batuk dan pilek serta tidak jarang karena klien mengalami muntah dan diare0. Pola eliminasi Pada umumnya klien diare0. Pola istirahat dan tidurBiasanya sulit tidur karena batuk0. Pola aktivitas dan latihan Pada umumnya klien tidak bisa beraktivitas (bermain) dengan baik0. Pola persepsi dan konsep diriKeluarga akan khawatir dengan anak karena mereka tidak mengetahui apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan pada anak yang sakit dan dampak dirawat di rumah sakit0. Pola sensasi dan kognitifDisesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 0. Pola reproduksi sosialPerlu ditanyakan jenis kelamin pada klien,apakah ada kelainan dalam sistem reproduksinya0. Pola hubungan peranPerlu dikaji bagaimana si anak beradaptasi dengan lingkungan baru dan keluarganya0. Pola penaggulangan stessPerlu dikaji bagaimana si anak pola tingkah lakunya dalam mengatasi penyakitnya 0. Pola tata nilai dan kepercayaanDalam pola ini kadang ada yang mempercayakan diri pada hal-hal yang bersifat gaib.

3.2.3 Analisa DataNODATAETIOLOGIPROBLEM

1.DS:Ibu mengatakan badan anaknya panasDO: 1. TTV:TD: >115/60mmHgNadi : >110x / mntSuhu : >37,5CRR: >30x/mnt2. Wajah nampak pucat

Reaksi infeksi saluran pernafasan.Peningkatan suhu tubuh (hipertermi)

2.DS:Ibu mengatakan anaknya sulit bernafas akibat hidungnya tersumbat.DO: 1. Adanya penumpukan sekret pada mukosa hidung.2. Batuk produktif3. TTV:TD: >115/60mmHgNadi : >110x / mntSuhu : >37,5CRR: >30x/mnt4. Adanya suara nafas tambahan seperti wheezing dan ronchi.Penumpukan sekret.Bersihan jalan nafas tidak efektif

3.DS: Anak mengatakan tidak mau makanDO:A:Penurunan berat badanB:Kadar protein dalam darah menurun C:Mukosa bibir kering D:Porsi makan tidak habis

AnoreksiaNutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3.2.4 Diagnosa 1. Hipertermi b.d reaksi infeksi saluran pernafasan.2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan produksi sekret.3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

3.2.1 PerencanaanDiagnosa INo dxTujuan & KHIntervensiRasional

1Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam diharapkan suhu tubuh klien menurun secara bertahap.Kriteria Hasil:1.TTV normal:TD:100/60-115/60mmHgNadi: 70-110x/mntRR: 15-30X/mntS: 36,5-37,5C2. Pasien merasa nyaman3. Istirahat tidur tercukupi 1.Observasi TTV1.Tanda-tanda vital dilakukan sebagai pengawasan terhadap adanya keadaan umum klien.

2.Ajarkan keluarga untuk mengatasi hipertermi seperti: tirah baring, beri kompres dingin dan anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat.2.Upaya tersebut dapat membantu klien menurunkan suhu tubuh

3.Anjurkan pasien untuk minum banyak 1 -2 liter dalam 24 jam3.Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan yang banyak

4.Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi aktivitas4.Upaya untuk memudahkan klien untuk istirahat dengan tenang

5.Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian antipiretik5.Menurunkan panas pada pusat hipotalamus

Diagnosa II NodxTujuan & KHIntervensiRasional

2

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam,di harapkan bersihan jalan nafas kembali efektif Kriteria Hasil:1. TTV normal:TD:100/60-115/60mmHgNadi: 70-110x/mntRR: 15-30X/mntS: 36,5-37,5C2. Penurunan produksi sputum3. Tidak ada bunyi nafas tambahan.4. Pasien mampu melakukan cara batuk efektif.

1.observasi tanda-tanda vital; terutama pernafasanPernafasan merupakan karakteristik utama yang terpengaruh oleh adanya sumbatan jalan nafas

2. Ajarkan batuk efektif pada pasienBatuk efektif memudahkan pengeluaran sekret

3.Auskultasi adanya bunyi nafas tambahanUntuk mengetahui adanya bunyi nafas abnormal pada pasien

4.Beritahu keluarga pasien tindakan untuk menurunkan viskositas sekret : mempertahankan hidrasi yang adekuat dg meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. Untuk mengencerkan sekret yang kental dan memudahkan pengeluarannya.

5.Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian expectorant.

Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir

Diagnosa III

No dxTujuan & KHIntervensi Rasional

3

setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x 24 jam diharakan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi secara adekutKriteria Hasil :A: Tidak terjadi penurunan berat badanB: kadar protein darah normal (3-5mg)C:Mukosa bibir lembabD:Porsi makan habis Nafsu makan membaik

1.Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan dan bantu sesuai dengan kebutuhan

Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi releks dan menyenangkan

2.Diskusikan dan jelaskan pada keluarga pasien tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh.

Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses me tabolisme dan katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan sakit,penimbangan

3.Timbang berat badanBB untuk mengetahui sejauh mana nutrisi pasien terpenuhi.

4.Kolaborasi dengan petugas lab dalam pemeriksaan kadar protein darah

Penurunan kadar protein darah menunjukkan penurunan keb nutrisi

5.Kolaborasikan dengan ahli gizi atau dengan dokter mengenai makanan yang dibutuhkan

makanan bergizi penting untuk klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien

BAB IVPENUTUP1.1 KesimpulanAsma ialah penyakit paru dengan Ciri khas yakni saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifesasi berupa serangan asthma Asma disebut juga dengan RAD, adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara reversible yang ditandai sengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan reaksi jalan nafas terhadap berbagai stimulusInfeksi saluran pernafasan atas adalah suatu keadaan dimana kuman penyakit berhasil menyerang saluran pernafasan yaknimulai dari hidung,faring, laring dan berlangsung sampai 14 hariBakteri, virus, dan jamur.Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza

1.2 Saran Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah pengetahuan kita apa itu Asma dan ISPA,dan bagaimana Asuhan keperawatan pada penderita Asma dan ISPA. Sedangkan Dalam perawatan klien, sebaiknya banyak melibatkan orang terdekat klien, mulai dari keluarga,, mulai dari keluarga,abat samapi teman akrab klien.

DAFTAR PUSTAKADongoes E. Marylin. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC.Lynda Juall Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.Suriadi dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV. Sagung Seto.