of 41 /41
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ashma Bronchiale ialah ISPA disebabkan beberapa faktor diantaranya oleh tekanan emosi, kerja fisik, alergi terhadap sesuatu, virus, bakteri dll. Ashma bronchiale dapat terbentuk oleh faktor ikstrinsik/alergi, intrinsik/non alergi, campuran Faktor ekstrinsik bisa terjadi karena inhalan yang masuk ke dalam tubuh melalui alat pernafasan, sedangkan intrinsik disebabkan karena adanya peradangan dan faktor campuran terjadi dari faktor ekstrinsik dan intrinsik. Pada ashma bronchiale apabila dalam keadaan emosi atau kerja fisik yang berat tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih sehingga untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen fungsi pernafasan harus bekerja dengan maximal, sehingga klien terjadi stress dan nafas terengah-engah karena ada gangguan pada system pernafasan. B. MAKSUD DAN TUJUAN Penulis merasa tertarik untuk mengambil kasus ini adalah untuk membandingkan antara teori yang diberikan di bangku kuliah dengan pelaksanaan di lapangan dan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis sehingga 1

Askep Asma Bule

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep Asma Bule

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ashma Bronchiale ialah ISPA disebabkan beberapa faktor diantaranya

oleh tekanan emosi, kerja fisik, alergi terhadap sesuatu, virus, bakteri dll.

Ashma bronchiale dapat terbentuk oleh faktor ikstrinsik/alergi, intrinsik/non

alergi, campuran

Faktor ekstrinsik bisa terjadi karena inhalan yang masuk ke dalam

tubuh melalui alat pernafasan, sedangkan intrinsik disebabkan karena

adanya peradangan dan faktor campuran terjadi dari faktor ekstrinsik dan

intrinsik.

Pada ashma bronchiale apabila dalam keadaan emosi atau kerja fisik

yang berat tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih sehingga untuk

memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen fungsi pernafasan harus bekerja

dengan maximal, sehingga klien terjadi stress dan nafas terengah-engah

karena ada gangguan pada system pernafasan.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Penulis merasa tertarik untuk mengambil kasus ini adalah untuk

membandingkan antara teori yang diberikan di bangku kuliah dengan

pelaksanaan di lapangan dan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan

penulis sehingga memungkinkan bagi pihak yang membutuhkan. Adapun

tujuannya adalah :

a. Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang

asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa ashma

bronchiale.

b. Tujuan Khusus

1. Pengkajian pada klien dengan ashma bronchiale

1

Page 2: Askep Asma Bule

2. Penegakan diagnosa keperawatan pada klien dengan

ashma bronchiale

3. Perencanaan tindakan pada klien ashma bronchiale

4. Pelaksanaan tindakan perawatan pada klien ashma

bronchiale

5. Evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan

6. Pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien

ashma bronchiale

C. RUANG LINGKUP

Pencegahan dan penanganan pada penyakit ashma bronchiale perlu

disosialisasikan di setiap lapisan masyarakat dengan tujuan untuk

mengurangi angka moralitas dan morbilitas di masyarakat dalam makalah ini

akan diuraikan mengenai :

1. Definisi ashma bronchiale

2. Penyebab ashma bronchiale

3. Diagnosa keperawatan pada ashma bronchiale

4. Rencana tindakan

5. Evaluasi

D. METODE PENULISAN

Makalah ini penulis susun dengan menggunakan metode deskriptif

analisis, yaitu yang pertama penulis menjelaskan secara jelas dan

sistematika mengenai ashma bronchiale sesuai dengan literatur yang penulis

dapatkan, kedua penulis mengadakan observasi lapangan dan wawancara

sehingga pada akhirnya didapatkan suatu makalah asuhan keperawatan

yang sistematik.

2

Page 3: Askep Asma Bule

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR

a. Pengertian

Asthma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya

obstruksi jalan nafas yang hilang secar spontan atau yang

disebabkan oleh adanya spasme otot lunak,bronchial, scresi mukus

yang berlebihan dan oedena yang berlebihan.

Asthma Bronchial adalah suatu penyakit saluran pernafasan

yang ditandai dengan meningkatnya respons trachea dan bronchi

oleh berbagai rangsangan.

Asthma Bronchiae adalah suatu kondisi dimana bronchus

sangat responsif terhadap stimulus dan bersifat reversibel.

Obstruksi jalan napas pada dasarnya ditentukan dengan suatu

keseimbangan antara mekanisme fisiologi yang menstimuli kontriksi

otot lunak dan yang mendorong relaksasi otot-otot lunak.

Kenaikan resistensi aliran udara pada batang traceobranchial

yang terjadi pada asthma sebagai akibat spasme otot lunak. Ganguan

resistensi tidak didistribusikan ke paru-paru yang mana menyebabkan

penurunan PaO2 dan oksigen serta kenaikan FRC. FRC adalah

kapasitas residu fungsional atau banyaknya udara yang tertinggal.

Karena kesulitan dalam mengeluarkan semua udara selama

ekspirasi, paru-paru secara progresif menjadi hiperinflasi dan udara

terjebak terhadap adanya sumbatan mukus udara ini direabsobsi oleh

darah dan atelektasi berkembang.

3

Page 4: Askep Asma Bule

Asthma Bronchiale

Hyperaktif Bronchus

Bronchus Spasme, Edema Mucosa, Sekresi

Lumen Menyempit

Meningkatkan Frekuensi Nafas

Kebutuhan O2 IWL Melalui Pernapasan &

Keringat

+

Tachycardi Intake Cairan

Kelelahan Sekresi Kental

Atelektasis

Hypoxemia

Penerapan kesehatan terhadap klien ISPA dibeberapa tempat masih

bervariasi. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dalam

memberikan perawatan secara optimal. Salah satunya perawatan

pada pasien dengan Ashma Bronchiale.

b. Etiologi

Ashma bronchiale adalah suatu ISPA yang disetuskan oleh

beberapa faktor diantaranya oleh tekanan emosi, kerja fisik, alergi

4

Page 5: Askep Asma Bule

terhadap sesuatu, virus, bakteri, dll. Ashma bronchiale dapat

terbentuk oleh faktor :

- Ekstrinsik/alergi

- Intrinsik / non alergi

- Campuran

Faktor ekstrinsik bisa terjadi karena inhalan yang masuk ke

dalam tubuh melalui alat pernafasan (makanan, obat obatan, serpihan

binatang dll.), sedangkan intrinsik disebabkan karena adanya

peradangan. Faktor Campuran terjadi dari faktor ekstrinsk dan

intrinsik.

c. Patofisiologi

Pada ashma bronchiale apabila dalam keadaan emosi atau

kerja fisik yang berat tubuh memerlukan asupan oksigen yang lebih

sehingga untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen, fungsi

pernafasan harus bekerja dengan maximal, sehingga klien terjadi

stress dan nafas terengah-engah karena ada gangguan pada system

pernafasan.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

Serangan Asthma dapat terjadi secara progresif dalam beberapa hari

atau secara tiba-tiba .

Tanda-tanda serangan adalah adanya peningkatan dyspnoe dengan

ekspirasi panjang dan batuk, wheezing sering terjadi pada saat inspirasi dan

ekspirasi. Wheezing yang terjadi pada jalan nafas besar di sebabkan adanya

desakan udara melalui suatu jalan yang sempit dalam tekanan yang cukup

untuk menghasilkan vibrasi udara yang menimbulkan bunyi. Gejala lain

adalah :

1. Pola nafas dispnoe

2. Batuk dengan sputum yang banyak.

3. Retaksi otot-otot strenal.

5

Page 6: Askep Asma Bule

4. Retaksi otot-otot perut.

5. Ekspirasi memanjang.

6. Wheezing, Ranchi.

7. Kulit dingin, pucat dan cyanosis

8. Pasien tampak cemas, ketakutan, gelisah karena sesak.

9. Tanyakan kapan mulai serangan terjadi ? Apa penyebab serangan

terjadi ?

10. Apakah pernah mengalami serangan yang sama ? kapan

terakhir ?.

11. Riwayat penyakit dalam keluarga

12. Riwayat alergi dan ISPA

13. Analisa gas darah.

Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep di terapkan

dalam praktik keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang

sequensial dan berhubungan : pengkajian, diagnosis, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi (Iyer et ah, 1996). Tujuan proses keperawatan

adalah untuk membuat suatu kerangka konsep berdasarkan kebutuhan

individu dari klien, kekuarga dan masyarakat dapat terpenuhi.

1. Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan

merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data

dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi

status kesehatan klien (iyer et ah 1996)

Pengumpulan Data (Pulta) :

1. Tipe Data

Ada 2 tipe pada pengkajian

Data Subyektif

Adalah data yang di dapatkan dari klien sebagai suatu

pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.

Data obyektif

6

Page 7: Askep Asma Bule

Adalah data yang dapat diobservasi dan di ukur (iyer et ah

1996). Contoh dat obyektif : frekuensi pernafasan, tekanan

darah, edema dan berat badan.

2. Karakteristik Data

Pengumpulan data klien memiliki karakteristik : lengkap, akurat,

nyata, dan relevan.

Sumber Data

1. Klien

2. Orang terdekat

3. Catatan Klien

4. Riwayat Penyakit

5. Konsultasi

6. Hasil Pemeriksaan Diagnostik

7. Catatn Medis dan Anggota tim kesehatan lainnya

8. Perawat lain

9. Kepustakaan

Diagnosa Keperawatan

Dari analisa dan hasil pengkajian di dapatkan masalah-masalah yang

menyimpang sehingga dapat di diagnosa sebagai berikut :

a. Pernapasan tidak efektif.

b. Perubahan pola istirahat tidur

c. Intoleransi aktivitas

d. Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi

2. Perencanaan dan pelaksanaan.

Selama serangan atsma rencana perawatan di fokuskan pada

upaya untuk membebaskan spasme bronchiale, mengencerkan

sekresiyang kental, mengurangi hypoxia, arterial, mencegah infeksi,

mengurangi rasa takut, memberi rasa nyaman.

7

Page 8: Askep Asma Bule

1. Mengurangi resistensi jalan nafas

Agent simpatometik seperti ephinerpin yang membuat aktifitas

beta 2 adrenergik dan beta 2 diberikan secara subkutan atau

dengan aeresol dosis sampai 0,1 sampai 0,5 ml. Therapi ini

menyebabkan relaksi otot halus atau vaso kontriksi dalam selaput

lendir bronchial, mengurangi kongesti, edema dan resistensi

nafas.

2. Membebaskan Spasme Bronchial

Bronchodilatator diberikan untuk mengurangi dan mencegah

broncho kontriksi. Macam-macam obat bronchodilataor seperti iso

proteronol, epedrin, Metaproteranol, Isoe tharin.

3. Mengurangi edema pada selaput lendir Bronchial

Klorstikosteroid misalnya kortisan (hydro kortisan) solumenadrol

diberikan secara intra vena.

4. Mempertahankan hidrasi.

Pemasangan infus dapat berguna untuk memasukan obat serta

dapat memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan dehidrasi

karena klien mempunyai kecenderungan untuk hyperventilasi dan

sebagai akibatnya terjadi kehilangan cairan.

5. Mengurangi Hipoxemia Arterial

Therapi oksigen di berikan ntuk mencukupi kebutuhan oksigen

pada paru.

6. Mencegah Infeksi.

Untuk mencegah infeksi di berikan anti biotik.

7. Mengurangi rasa takut, dan memenuhi kebutuhan istirahat dan

rasa nyaman

Klien diupayakan tetap nyaman dengan memberikan posisi flower

atau semi flower, selama klien masih dalam perawatan, keluarga

kliean juga diperhatikan, di berikan dorongan emosionaldan di

beritahu tentang perkembangan klien.

Perawat harus memberikan dorongan ketenangan dan

menenangkan sitiasi, pakaian basah segera di ganti.

8. Memperhatikan keseimbangan nutrisi

8

Page 9: Askep Asma Bule

Keseimbangan nutrisi di cukupi dengan pemberian makan dengan

porsi kecil dan sering.

Makanan dalam porsi besar dihindari karena dapat meningkatkan

distensi abdomen yang menyebabkan bernafas lebih sulit.

9. Evaluasi

Evaluasi dilakukan dan diarahkan kepada / terhadap pencapaian

tujuan dan efektifitas tindakan yang dilakukan.

3. Evaluasi

Adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan

yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana

tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.

Tujuan evaluasi

Untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan.

Proses evaluasi

Proses evaluasi terdiri dari dua tahap :

1. Mengukur pencapaian klien.

2. Membandingkan data yang sudah terkumpul dengan tujuan dan

pencapaian tujuan.

9

Page 10: Askep Asma Bule

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY.T DENGAN ASHMA BRONCHIALE

DI RUANG PERAWATAN VII RUMAH SAKIT DUSTIRA

A. PENGKAJIAN

I. Identitas

a. Identitas Klien

Nama : Ny. T

Umur : 49 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil TNI-AD

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa/Indonesia

Status : Kawin

Tanggal Masuk : 21 November 2001

Tanggal dikaji : 24 November 2001

No Reg : 2496/XI/2001

Alamat : Perumahan Puri Fajar Cibeber - Cimahi

Diagnosa : Asma Bronchiale

II. Riwayat Kesehatan Sekarang

1. Alasan Masuk Rumah Sakit

Setengah jam SMRS klien sesak nafas (setelah satu minggu

pulang dari perawatan di RS Dustira Rung Perawatan VII

10

Page 11: Askep Asma Bule

dengan diagnosa Angina Pectoris), setelah itu klien berobat ke

Rumah Sakit Dustira dan langsung dirawat di Ruang

Perawatan VII.

2. Keluhan Utama Saat Didata

Klien mengeluh nyeri di daerah dada sebelah kiri, nyeri yang

dirasakan seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 4 (nyeri

berat), nyeri bertambah apabila klien batuk dan nyeri dirasakan

berkurang apabila klien tidur setengah duduk (semi fowler).

Nyeri yang dirasakan menyebar ke daerah dada sebelah

kanan dan nyeri berlangsung secara bertahap kurang lebih 5-8

menit setiap terserang.

III. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengatakan bahwa sebelumnya klien pernah dirawat kurang

lebih selama satu bulan di Ruang Perawatan VII Rumah Sakit Dustira

dengan diagnosa Angina Pectoris.

IV. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan bahwa asma yang dideritanya diturunkan dari

ibunya dan sekarang menurun kepada anak klien yang pertama

V. Struktur Keluarga

11

Page 12: Askep Asma Bule

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Klien

: Hubungan keluarga

: Hubungan perkawinan

: Meninggal

: Tinggal serumah

Klien adalah anak ke-6 dari enam bersaudara. Klien menderita asma

yang diturunkan oleh nenek dari ibunya dan kini menurun kepada

anak pertamanya. Kini kllien tinggal bersama anak keduanya,

menantu dan ke-3 cucunya.

VI. Data Biologis

NO POLA DI RUMAH DI RUMAH SAKIT1 Nutrisi

a. MakanJenis

BanyakFrekuensiMakanan pantanganKeluhan

b. MinumJenisJumlahFrekuensiKeluhan

MB : Nasi, lauk pauk dan sayur1 porsi makan habis

3 X perharitidak ada

T.a.k

Air putih4-6 gelas perhari

5-6 X perhariT.a.k

ML:Bubur nasi,telur

½ porsi makan3x perharitidak ada

T.a.k

Air putih4-6 gelas perhari

5-6 x perhariT.a.k

12

Page 13: Askep Asma Bule

2

3

4

Eliminasia. BAB

FrekuensiKonsistensiWarnaBauKeluhan

b. BAKFrekuensiWarnaBauKeluhan

Istirahat dan Tidura. Siang

Kuantitas

Kualitas

Keluhan

b. MalamKuantitas

Kualitas

Keluhan

Personal Hygenea. Mandi

b. Gosok gigi

c. Keramas

1x perhariLembek berbentukKuning trengguli

KhasT.a.k

3-6 xperhariKunung jernih

KhasT.a.k

1-3 jam perhari (10.00-13.00)

Tidur lelap

T.a.k

7-8 gelas perhari(21.00-05.00)

Tidur terlelap tanpa terbangun

T.a.k

2 x/hari dengan memakai sabun

2 x/hari dengan memakai pasta gigi

3-4 x/minggu dengan memakai shampo

1x perhariLembek berbentukKuning trengguli

KhasT.a.k

3-6 x perhariKunung jernih

KhasT.a.k

1-4 jam/hari (10.00-12.00,13.00-

14.00)Tidur lelap

walaupun tak lama Sering terbangun

sesuai dengan nyeri dada dan sesak

4-6 jam /hari (22.00-24.00,01.00-

03.00)Tidur lelap walau sering terbangun

Tidur sering terbangun sesuai

dengan nyeri dada karena sesak dan

batuk

2x /hari diseka dengan memakai

sabun1-2 x/hari dengan

memakai pasta gigiBelum pernah selama masuk

rumah sakit tapi sehari sebelum

masuk rumah sakit klien sebelumnya

13

Page 14: Askep Asma Bule

5

d. Kebersihan kuku

Aktivitas

1 x dalam seminggu

Klien dapat melakukan aktivitas

sesuai dengan peran dan fungsinya

walaupun kualitasnya sudah menurun

sehubungan dengan usianya yang sudah

tua

keramas dengan memakai shampo

Belum pernah selama di rumah

sakit

Di rumah sakit klien Bedrest sehingga

tidak dapat melakukan aktivitas

sesuai dengan peran dan funsinya

sebagaimana mestinya

sehubungan dengan rasa sakit dan sesak yang klien rasakan

VII. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Kesadaran : Composmentis

Klien tampak lemah dan wajah klien tampak

meringis menahan rasa nyeri

Tanda-tanda vital

TD : 140/80 mmHg

R : 20 x/menit

S : 36 C

N : 84 x/mnt

2 Sistem integumen

- Turgor kulit baik dan tidak menurun

- Tektur kulit lembut dan tdak bersisik

3. Sistem penglihatan

- Bentuk dan ukuran mata simetris

- Konjungtiva menurun berwarna merah dan tidak terdapat nyeri

tekan pada kelopak mata

14

Page 15: Askep Asma Bule

- Sklera berwarana putih dan jernih (Tidak ikterik)

- Reflek pupil positif, terhadap cahaya, bentuk dan ukuran

simetris

- Reflek kornea positif, isokor gerakan bola mata mampu melirik

kesamping kiri, kanan, atas dan bawah

- Kornea berwarena licin dan transfaran

- Lapang pandang baik tidak menurun

- Terdapat lingkaran hitan di sekitar kelopak mata

4. Sistem pencernaan

- Mulut dan kerongkongan

Inspeksi

- Bibir berwarna merah muda dan lembab

- Mucosa mulut lembab,tidak ada stomatitis

- Warna gusi merah muda tidak terdapat

stomatitis, tidak terdapat perdarahan.

- Lidah berwarna merah muda

- Warna gigi putih kekuning-kuningan, tampak

bersih dengan jumlah gigi 26 buah tidak ada

caries.

Palpasi

- Reflek menelan baik

- Tidak terdapat nyeri tekan

- Abdomen

Inspeksi : Bentuk abdomen datar dan lembut

berwarna coklat muda

Palpasi : Hepar tidak teraba membesar, limpa

tidak teraba membesar dan tidak

terdapat nyeri tekan

Perkusi : -Bunyi timpani diatas lambung dan

usus

-Distensi :Kandung kemih

15

Page 16: Askep Asma Bule

Auskultasi : Terdapat bunyi bising usus 10

x/menit

5. Sistem Pernapasan

Inspeksi :

- Hidung simetris dan tampak kokoh, berwarna coklat

muda

- Terdapat pernapasan cuping hidung

- Tidak terdapat pengeluaran sekret pada hidung dan

tidak terdapat nodul

- Sinus frontalis dan maksilaris tidak terdapat

kemerahan

- Trakhea simetris posisi ditengah

- Dada simetris dan terdapat retraksi dinding dada

Palpasi :

- Tidak terdapat nyeri tekan pada hidung, sinus

frontalis maupun maksilaris

- Terdapat nyeri tekan pada dinding dada

- Ekspansi paru simetris

- Vokal premitus : vibrasi meningkat pada jalur napas

utama dan menurun pada jalur napas terakhir

Perkusi :Terdapat bunyi resonan pada permukaan paru

Auskultasi :

- Trakhea:Bunyi napas vesikuler

- Ronchi +/+ , Whezing +/+ pada dada

6. Sistem Kardiovaskuler

Inspeksi :

16

Page 17: Askep Asma Bule

Tidak ada lesi pada leher,nodul maupun masa, bentuk

simetris, JVP meningkat,trakhea ditengah, tidak ada

varises dan plebitis

Palpasi :

Jantung tidak terdapat nyeri tekan dan akral teraba dingin

Auskultasi :

- Bunyi jantung bunyi murmur

- Denyut jantung 85 x permenit

7. Sistem Genito Urinaria

Palpasi :

Ginjal : Tidak teraba membesar,tidak ada nyeri tekan dan

tidak ada nyeri saat perkusi

Bladder : Teraba kosong dan tidak terdapat nyeri tekan

Perkusi : Terdapat bunyidalness pada kandung kemih

8. Sistem Muskuloskleletal

- Ekstremitas atas

ROM :Mampu fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan

rotasi

Kekuatan otot :Tangan kanan dan kiri klien mampu

mengangkat dan dapat menahan tekanan dari perawat

(skala +5)

- Ekstremitas bawah

ROM :Mampu fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotaso,

inversi dan eversi

Kekuatan otot :Kaki kanan dan kiri klien mampu bergerak

Tonus otot :Kekuatan tidak ada hipotony maupun

hipertony

VIII. Aspek Psikologis

1. Status Emosi

17

Page 18: Askep Asma Bule

Ekspresi wajah klien tampak murung,namun klien dapat

menerima keadaan penyakitnya dengan harapan klien dapat

sembuh sehingga klien dapat berkumpul lagi bersama keluarga

2. Konsep Diri

a. Body Image

Klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya tidak

berpengaruh terhadap body image ataupun penampilannya

b. Harga Diri

Klien mengatakan bahwa dirinya tidak merasa minder saat

kerabatnya menjanguk klien ataupun terhadap orang lain

c. Ideal Diri

Klien mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan apa-

apa,klien hanya berharap supaya ia bisa sembuh seperti

semula

d. Peran

Klien mengatakan bahwa kegiatannya sehari-hari sudah

tidak dapat dilakukannya lagi

e. Identitas Diri

Klien mengatakan bahwa dirinya adalah anak terakhir dari

enam bersaudara, dan kini klien tinggal bersama anak

keduanya, menantu, dan tiga orang cucunya

3. Koping Mekanisme

Dalam menyelesaikan masalahnya klien lebih terbuka kepada

anak-anaknya sendiri,karena klien merasa hanya anak-anaknya

yang mampu mendengarkan dan membantu menyelesaikan

masalahnya

IX. Aspek Sosial

1. Gaya Komunikasi

Dalam berkomunikasi klien selalu menjawab pertanyaan

dengan menggunakan bahasa verbal dan klien cukup terbuka

mengungkapkan perasaannya serta mampu menerima

masukan dari orang lain

18

Page 19: Askep Asma Bule

2. Pola Interaksi

Klien mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang alin

yang ada disekitarnya

X. Aspek Spiritual

Klien adalah seorang penganut agama islam yang selalu berusaha

menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran agamanya walau

dalam keadaan sakit sekalipun

XI. Data Sosial

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil TNI-AD

Hubungan keluarga : Dapat berinteraksi dengan baik

Sosio Kultural : Jawa

Gaya Hidup : Sederhana

XII. Data Penunjang

No Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interpretasi1

2

Kimia DarahSGOT/PT

GlobulinAlbuminAlkali PhopalaseUrea NKreatininAsam UratKolesterolLED

Hasil UrineWarnaLeukositEpitelProteinEritrositBakteri

11,7 U/I

5,0 gr/dl3,0 gr/dl59 U/I

11 mg/dl0,9 mg

3,7 mg/dl242 mg/dl

80/125

Kuning jernihPenuh

2-5+

8-13+

15-30/10-55 U/I

7-18 mg/dl0,7-1 mg/dl

2,2-900 mg/dl

0-15

Kuning jernih-----

Infeksi /peradangan

NormalNormalNormal

Terkena infeksi/adanya infeksi

berat

XIII. Therapi

1. Ventolin Nebu 1 amp

19

Page 20: Askep Asma Bule

2. Aminophylin 500 mg per oral

3. Kalmethason 3x2 amp (IM)

4. OBH 3x1

5. Amoxillin 3x 500 mg

6. Glibenclamid ½-0-1/2

7. Salbutamol 3x 500 mg

ANALISA DATA

Nama : Ny.T

R.Perawatan : VII

NO DATA ETIOLOGI MASALAH1

2

DS:-Klien mengatakan bahwa dirinya sangat sesak untuk bernapas-Keluarga klien mengatakan bahwa klien mempunyai riwayat asmaDO:-Frekuensi napas cepat (R:24x/menit)-Ronchi +/+, Wheezing +/+-Terdapat retraksi dinding dada-Klien tampak batuk

DS:Klien mengatakan sering terbangun /jumlah jam tidur klien berkurang karena sesak dan batukDO :-Frekuensi napas normal (R:85 x/menit)-Klien tampak batuk-batuk-Terdapat lingkaran hitam disekitar kelopak mata

Dampak vasokontriksi bronchus

Penurunan

kemampuan respirasi

Penumpukan sekrat di bronchus

Peningkatan frekuensi nafas disertai batuk

Merangsang susunan saraf otonom untuk

mengaktivasi norepinephrine

Saraf simpatis

terangsang untuk mengaktifkan kerja

Tidak epektifnya jalan napas

Perubahan pola istirahat tidur

20

Page 21: Askep Asma Bule

3

4

DS:Klien mengatakan bahwa aktivitasnya tergangguDO:-Klien bedrest-Klien tidak dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri

DS:Klien mengatakan bahwa dirinya telah pulang dari perawatan sebulan yang lalu (dirawat di RS Dustira RP.VII)DO:Klien dirawat kembali di RP.VII

organ tubuh

REM menurun

Klien terjaga

Klien bedrest

Mobilisasi terbatas

Aktivitas terganggu

Ketidaktahuan klien terhadap proses

perawatan dirumah

Resiko terhadap penatalaksanaan

program terapeutik infeksi

Intoleransi aktivitas

Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS MASA

1. Tidak efektifnya jalur nafas berhubungan dengan adanya penumpukan

sekret dibroncus.

2. Perubahan pola istirahat, tidur berhubungan dengan meningkatnya

fekuensi nafas yang disertai batuk.

3. Intolerasi aktifitas berhubungan dengan klien bedrest.

4. Resiko terhadap penatalaksanaan program therapetutik infeksi

berhubungan dengan tidak tahanan klien terhadap proses perawatan

dirumah.

21

Page 22: Askep Asma Bule

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Klien : Ny. T

R. Perawatan : VII

NO DIAGNOSA KEPRAWATANTANGGAL

DITEMUKAN

TANGGAL

DIATASTTD

1.

2.

3.

4.

Tidak efektifnya jalan nafas

berhubungan dengan adanya

penumpukan sekret di

bronchus.

Perubahan pola istirahat, tidur

berhubungan dengan

meningkatnya frekuensi nafas

yang disertai batuk.

Intileransi aktifitas

berhubungan dengan klien

bedrest.

Resiko terhadap

penatalaksanaan therapeutik

infeksi berhubungan dengan

ketidak tahuan klien terhadap

proses perawatan di ruamah.

24-11-01

24-11-01

24-11-01

24-11-01

25-11-01

25-11-01

25-11-01

22

Page 23: Askep Asma Bule

B. PERENCANAAN

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama klien : NY.T

R.Perawatan : VII

NODIAGNOSA

KEPERAWATANTUJUAN INTERPENSI RASIONAL TTD

1. Tidak efektifmya jalan

pernafasan

berhubungan dengan

adanya penumpukan

sekret di bronchus yang

di tandai dgn :

DS :

Klien mengatakan bhwa

dirinya seak untuk

bernafas dan keluarga

klien mengatakan

mepunyai riwayat asma.

DO :

- Freku

ensi nafas cepat (R

: 24x /menit)

- Suar

a penafasan

rendah. +/+

Tidak efektifnya

jalan nafas

teratasi dengan

kriteria :

- Frekunsi

nafas (N) (R =

20 x/menit)

- S

uara

pernafasan

- P

onehi -/-,

wheezing -/-

- R

etraksi dinding

dada (-)

ingkar

panjang:

Tolak

1. Atur posisi

semifouler.

2. Obs. TTV

3. Anjurkan fs

nafas

dalam dan

batuk

efektif.

1. Melancarkan

jalan nafas.

2. Deteksi dini

terhadap

perubahan

kondisi klien

terutama

frekuensi

nafas.

3. Nafas dapat

memudahkan

ekspansi

maksimum

paru-paru jalan

nfas lebih kecil.

Batuk adalah

mekanisme

membersihkan

jalan nfas

23

Page 24: Askep Asma Bule

2.

wheezing +/+

- Retra

ksi dinding dada (+)

- Klien

batuk.

Perubahan pada

istirahat, tidur

berhubungan dengan

meningkatnya frekuensi

nafas yang disertai

dengan batuk ditandai

dengan :

DS :

Klien mengatakan

sering terbangun

karena sesak nafas dan

batuk.

DO :

- Freku

ensi nafas lebih

dari normal (R :

efektifitasnya

jalan nafas

teraksi

sepenuhnya

dalam jangka

eaktu + 1

minggu.

Gangguan

pemenuhan

kebutuhan

istirahat-tidur

teratasi dengan

kriteria :

Jamgka pendek :

- Frekuensi nafas

normal.

- Batuk (-)

- Lingkaran hitam

(-)

Jangka panjang

gangguan

aktifitas teratasi

sepenuhnya

dalam jangka

waktu + 1-2 hari

4. Anjurkan

(K)

mengurusi

aktifitas

berlebih.

5. Beri

theraphi

nebulizer.

1. Ciptakan

suasana

lingkungan

ruang

perawatan

yang

tenang dan

nyaman

2. Batasi

pengunjun

g dan

penunggu

klien.

alami.

4. Aktifitas

berlebih dapat

menyebabkan

terjadinya

penyempitan

pembuluh

darah pada

jantung

sehingga

terjadi

penumpukan

suplai O2

kejantung yang

akhirnya dapat

meningkatkan

fremasi nafas.

5. Memudahkan

pengenceran

dan

pembuangan

sekret

1. Dengan

suasana yang

tenang klien

dapat tenang

sehingga dapat

beristirahat

dengan

nyaman

2. Pengunjung

atau penunggu

yang terlalu

banyak

menyebabkan

ruangan

menjadi sempit

sehingga dapat

menyebabkan

terjadinya

perebutan O2.

24

Page 25: Askep Asma Bule

3.

4.

85x/ menit)

- Klien

tampak batuk

- Terda

pat lingkaran hitam

disekitar mata

Intoleransi aktifitas

berhubungan dengan

klie bedrest yang

ditandai dengan :

DS :

Klien mengatakan

aktifitasnya terganggu

DO :

- Klien

bedrest

- Klien

tidak bisa

melakukan aktifitas

secara mandiri.

Resiko terhadap

penatalaksanaan

infeksi yang ditandai

dengan:

DS :

Klien mengatakan

bahwa dirinya sebulan

yang tak pulang di

R.VII

DO :

Klien masuk Ruang

Perawatan VII

Gangguan

aktifitas dapat

teratasi dengan

kretaria jangka

pendek :

- Klien sudah

tidak bedrest

- Klien dapat

melaksanakan

aktifitasnya

secara mandiri

Jangka panjang :

Gangguan

aktifitas teratasi

sepenuhnya

dalam jangka

waktu + 5-7 hari .

Resiko terhadap

penatalaksanaan

program terapetik

teratasi dengan

kriteria :

Jangka pendek

dan jangka

panjang klien

mengetahui

tentang

penatalaksanaan

program terapetik

infeksi dalam

jangka waktu + 1-

7 hari.

1. Anjurkan

klien

melakukan

latihan

positif

2. Beri

dorongan

atau

semangat

secara

terus

menerus

3. Bantu

aktifitas

klien

sesuai

dengan

kemampua

nnya

1. Jelaskan

tentang penata

laksanaan atau

perawatan diri

selama di RS

atau di Rumah.

1. Dapat melatih

pergerakan

otot.

2. Terdorong

mencoba untuk

melakukan

aktifitas ringan

3. Memotifasi

untuk

beraktifitas

secara mandiri.

1. Klien dapat

mengerti dan

memahami tentang

penatalaksanaan

perawatan diri baik

dirumah maupun

dirumah sakit.

25

Page 26: Askep Asma Bule

C. IMPLEMENTASI

Nama : Ny.T

R. Perawatan : VII

No Tanggal dan Jam Tindakan dan Evaluasi TT/Nama

1. 24 November 2001

14.00

14.15

14.30

14.40

-Memberikan terapi nebulizer (ventolin 1

amp )

Hasil : Sesak klien agak sedikit

berkurang

-Mengatur posisi semi fowler dan

memberikan latihan napas dalam dan

batuk epektif

Hasil :Sesak klien agak sedikit berkurang

-Mengobservasi TTV

Hasil : T:140/80 mmHg

N :84 x/menit

S ; 36 C

R : 21 x/menit

-Mengajarkan klien latihan pasif

Hasil : Klien agak sedikit menggerak-

gerakan atau melakukan

26

Page 27: Askep Asma Bule

2.

3.

14.45

16.30

18.00

25 November 2001

14.00

14.30

15.00

16.30

17.00

18.00

26 November 2001

14.30

16.30

mobilisasi terbatas

-Mengatur posisi tidur klien senyaman

mungkin

Hasil :Klien masih susah untuk tidur

-Memberi klien makan ML

Hasil : ½ porsi makan habis

-Memberi suntikan kalmethason (iv)3x2

amp

-Memberikan nebulizer (ventolin 1 amp )

Hasil : Klien tampak sudah tidak sesak

-Mengobservasi TTV

Hasil :

T:120/80 mmHg R:20x/menit

N:80x/menit S:36C

-Mengajarkan klien latihan pasif dan

mengatur posisi tidur klien senyaman

mungkin

Hasil :Klien bisa menggerakan anggota

tubuhnya walaupun secara

terbatas dan dapat tidur walaupun

sebentar

-Memberi makan ML

Hasil :Habis ½ porsi

-Memberi dorongan /semangat demi

kesembuhan klien

Hasil : Klien mengerti dan memahami

betapa pentingnya kesehatan

-Memberi suntikan kalmethason (3x2

amp ) iv

-Mengobservasi TTV

Hasil :

T:120/80 mmHg S :36C

N:80 x/menit R:20x/menit

-Memberi makan kepada klien (ML)

27

Page 28: Askep Asma Bule

15.00

18.00

19.00

19.10

Hasil :1 porsi makan habis

-Mengatur posisi tidur klien senyaman

mungkin

Hasil : Klien dapat tidur

-Memberikan nebu ventolin1 amp

Hasil :Klien sudah tidak sesak lagi

-Memberikan suntikan kalmethasoniv (1

amp)

-Membantu klien turun dari tempat tidur

Hasil :Setelah dibantu klien dapat turun

sendiri tanpa bantuan perawat

ataupun keluarga

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pengkajian studi kasus yang telah penulis lakukan, maka

dapat diuraikan kesimpulannya sebagai berikut :

Diharapkan mahasiswa sebelum melakukan proses asuhan

keperawatan, pendalaman teori diperlukan dalam memberikan asuhan

keperawatan pada klien sehingga akan memudahkan dalam melakukan

semua kegiatannya.

1. Pengkajian

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan oleh perawat maka

didapatkan masalah-masalah keperawatan yang muncul pada klien

Asthma Bronchiale yaitu : Tidak efektifnya jalan napas berhubungan

dengan adanyan penumpukan sekret dibronchus,Perubahan pola

istirahat ; tidur berhubungan dengan meningkatnya frekuensi napas

yang disertai batuk, Intoleransi aktivitasberhubungan dengan klien

bedrest, Resiko terhadap penatalaksanaan program terapeutik infeksi

28

Page 29: Askep Asma Bule

berhubungan dengan ketidak tahuan klien terhadap proses perawatan

di rumah .

2. Perencanaan

Dalam perencanaan asuhan keperawatan diperlukan data yang

akurat mengenai kondisi klien, lingkungan, dan keluarga. Hal ini untuk

memudahkan tindakan keperawatan.

3. Pelaksanaan

Setiap tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan intervensi yang

telah ditetapkan oleh perawat

4. Evaluasi

Berdasarkan tindakan keperawatan yang telah dilakukan, maka

didapatkan tidak efektifnya jalan nafas teratasi sepenuhnya,

gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur teratasi sepenuhnya

dan gangguan aktivitas teratasi sebagian

B. SARAN

Untuk dapat melaksanakan asuhan keperawatan dengan

meningkatkan kualitas keperawatan serta kualitas profesional keperawatan

yang lebih baik, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut :

1. Untuk Rumah Sakit

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang baik akan

meningkatkan mutu pelayanan, hal tersebut perlu ditunjang dengan

tersedianya alat, tenaga kesehatan yang profesional.

2. Untuk Keluarga

Diperlukan kerja sama yang baik antara perawat dengan keluarga

klien, dalam hal ini keluarga diharapkan dapat memantau

perkembangan klien selama dirawat dan menyediakan lingkungan

yang terapeutik ketika klien telah berada di rumah.

3. Untuk Mahasiswa

Penulis berharap sebelum melaksanakan praktek keperawatan

khususnya di ruangan, perlu kesiapan dalam segala hal seperti

kesiapan dalam teori dan keterampilan dalam berkomunikasi. Dalam

hal ini proses belajarpun harus teus ditingkatkan baik didalam kampus

maupun di luar kampus.

29

Page 30: Askep Asma Bule

DAFTAR PUSTAKA

1. Arief Mansjoer, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius :

FKUI, Jakarta.

2. Haznams Kompedium, 1992, Diagnostik dan Terapi Ilmu

Pengetahuan, WB Haznams : Bandung.

3. Marylin E Dongoes, 1992, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi Tiga,

FKUI, Jakarta : EGC.

4. FKPP, 1996, Perawatan Pasien V-A, Bandung.

5. Price Sylvia Anderson, dkk., 1995, Konsep Klinis Proses-Proses

Penyakit, Edisi Empat, Jakarta : EGC.

30