of 41 /41
LAPORAN PENDAHULUAN ARTHRITIS REUMATOID PADA LANSIA A. Pengertian Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248). Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999). Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006). Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dnegan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali berhubungan dengan trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya. B. Penyebab (etiologi)

asam urat 2

  • Upload
    cha-cha

  • View
    72

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

semua

Citation preview

Page 1: asam urat 2

LAPORAN PENDAHULUAN

ARTHRITIS REUMATOID PADA LANSIA

A. Pengertian

Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang

menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).

Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia

lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson

dalam Budi Darmojo, 1999).

Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik

yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi

penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).

Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana

terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan

dnegan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang

menanggung beban

Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran

sendi dan hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali

berhubungan dengan trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang,

obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya.

B. Penyebab (etiologi)

Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa

faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;

1. Usia lebih dari 40 tahun

Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor

penuaan adalah yang terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa

osteoartritis bukan akibat penuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi

pada penuaan berbeda dengan perubahan pada osteoartritis.

2. Jenis kelamin wanita lebih sering

Wanita lebih sering terkena osteosartritis lutut dan sendi.

Sedangkan laki-laki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan

tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah 45 tahun, frekuensi

Page 2: asam urat 2

osteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki dan wanita, tetapi

diatas usia 50 tahun (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih

banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran

hormonal pada patogenesis osteoartritis.

3. Suku bangsa

Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing

suku bangsa. Hal ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup

maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan

tulang.

4. Genetik

5. Kegemukan dan penyakit metabolik

Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya

resiko untuk timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria.

Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan oateoartritis pada

sendi yang menanggung beban berlebihan, tapi juga dnegan osteoartritis

sendi lain (tangan atau sternoklavikula).

Olehkarena itu disamping faktor mekanis yang berperan (karena

meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain (metabolit)

yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut. Cedera sendi, pekerjaan

dan olahraga

Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus

menerus berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu.

Olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan

resiko osteoartritis yang lebih tinggi.

6. Kelainan pertumbuhan

Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan

dengan timbulnya oateoartritis paha pada usia muda.

7. Kepadatan tulang

Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko

timbulnya osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih

padat (keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima

Page 3: asam urat 2

oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih

mudah robek.

C. Jenis Reumatik

Menurut Adelia, (2011) ada beberapa jenis reumatik yaitu:

1. Reumatik Sendi ( Artikuler )

Reumatik yang menyerang sendi dikenal dengan nama reumatik

sendi (reumatik artikuler). Penyakit ini ada beberapa macam yang paling

sering ditemukan yaitu:

2. Artritis Reumatoid

Merupakan penyakit autoimun dengan proses peradangan

menahun yang tersebar diseluruh tubuh, mencakup keterlibatan sendi dan

berbagai organ di luar persendian. Peradangan kronis dipersendian

menyebabkan kerusakan struktur sendi yang terkena. Peradangan sendi

biasanya mengenai beberapa persendian sekaligus. Peradangan terjadi

akibat proses sinovitis (radang selaput sendi) serta pembentukan pannus

yang mengakibatkan kerusakan pada rawan sendi dan tulang di

sekitarnya, terutama di persendian tangan dan kaki yang sifatnya simetris

(terjadi pada kedua sisi).

Penyebab Artritis Rematoid belum diketahui dengan pasti. Ada

yang mengatakan karena mikoplasma, virus, dan sebagainya. Namun

semuanya belum terbukti. Berbagai faktor termasuk kecenderungan

genetik, bisa mempengaruhi reaksi autoimun. Bahkan beberapa kasus

Artritis Rematoid telah ditemukan berhubungan dengan keadaan stres

yang berat, seperti tiba-tiba kehilangan suami atau istri, kehilangan

satu¬-satunya anak yang disayangi, hancurnya perusahaan yang

dimiliknya dan sebagainya. Peradangan kronis membran sinovial

mengalami pembesaran (Hipertrofi) dan menebal sehingga terjadi

hambatan aliran darah yang menyebabkan kematian (nekrosis) sel dan

respon peradanganpun berlanjut. Sinovial yang menebal kemudian

dilapisi oleh jaringan granular yang disebut panus. Panus dapat

menyebar keseluruh sendi sehingga semakin merangsang peradangan

dan pembentukan jaringan parut. Proses ini secara perlahan akan

Page 4: asam urat 2

merusak sendi dan menimbulkan nyeri hebat serta deformitas (kelainan

bentuk).

3. Osteoatritis

Adalah sekelompok penyakit yang tumpang tindih dengan

penyebab yang belum diketahui, namun mengakibatkan kelainan

biologis, morfologis, dan keluaran klinis yang sama. Proses penyakitnya

berawal dari masalah rawan sendi (kartilago), dan akhirnya mengenai

seluruh persendian termasuk tulang subkondrial, ligamentum, kapsul dan

jaringan sinovial, serta jaringan ikat sekitar persendian (periartikular).

Pada stadium lanjut, rawan sendi mengalami kerusakan yang ditandai

dengan adanya fibrilasi, fisur, dan ulserasi yang dalam pada permukaan

sendi.

Etiologi penyakit ini tidak diketahui dengan pasti. Ada beberapa

faktor risiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, yaitu :

Usia lebih dari 40 tahun, Jenis kelamin wanita lebih sering, Suku bangsa,

genetik, kegemukan dan penyakit metabolik, cedera sendi, pekerjaan,

dan olah raga, kelainan pertumbuhan, kepadatan tulang, dan lain-lain.

4. Atritis Gout

Penyakit ini berhubungan dengan tingginya asam urat darah

(hiperurisemia) . Reumatik gout merupakan jenis penyakit yang

pengobatannya mudah dan efektif. Namun bila diabaikan, gout juga

dapat menyebabkan kerusakan sendi. Penyakit ini timbul akibat kristal

monosodium urat di persendian meningkat. Timbunan kristal ini

menimbulkan peradangan jaringan yang memicu timbulnya reumatik

gout akut. Pada penyakit gout primer, 99% penyebabnya belum diketahui

(idiopatik).

Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetic dan faktor

hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat

mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga

diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh.

Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena meningkatnya

produksi asam urat karena nutrisi, yaitu mengkonsumsi makanan dengan

Page 5: asam urat 2

kadar purin yang tinggi. Purin adalah salah satu senyawa basa organic

yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk dalam

kelompok asam amino, unsur pembentuk protein. Produksi asam urat

meningkat juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang,

polisitemia), obat-obatan (alkohol, obatobat kanker, vitamin B12).

Penyebab lainnya adalah obesitas (kegemukan), penyakit kulit

(psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita diabetes yang

tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat kadar benda-benda keton

(hasil buangan metabolisme lemak) yang meninggi. Benda-benda keton

yang meninggi akan menyebabkan asam urat juga ikut meninggi.

5. Reumatik Jaringan Lunak (Non-Artikuler)

Merupakan golongan penyakit reumatik yang mengenai jaringan

lunak di luar sendi (soft tissue rheumatism) sehingga disebut juga

reumatik luar sendi (ekstra artikuler rheumatism). Jenis – jenis reumatik

yang sering ditemukan yaitu:

a. Fibrosis

Merupakan peradangan di jaringan ikat terutama

di batang tubuh dan anggota gerak. Fibrosis lebih sering

ditemukan oleh perempuan usia lanjut, penyebabnya

adalah faktor kejiwaan.

b. Tendonitis dan tenosivitis

Tendonitis adalah peradangan pada tendon yang

menimbulkan nyeri lokal di tempat perlekatannya.

Tenosivitis adalah peradangan pada sarung pembungkus

tendon.

c. Entesopati

Adalah tempat di mana tendon dan ligamen

melekat pada tulang. Entesis ini dapat mengalami

peradangan yang disebut entesopati. Kejadian ini bisa

timbul akibat menggunakan lengannya secara berlebihan,

degenerasi, atau radang sendi.

d. Bursitis

Page 6: asam urat 2

Adalah peradangan bursa yang terjadi di tempat

perlekatan tendon atau otot ke tulang. Peradangan bursa

juga bisa disebabkan oleh reumatik gout dan pseudogout.

e. Back Pain

Penyebabnya belum diketahui, tetapi berhubungan

dengan proses degenerarif diskus intervertebralis,

bertambahnya usia dan pekerjaan fisik yang berat, atau

sikap postur tubuh yang salah sewaktu berjalan, berdiri

maupun duduk. Penyebab lainnya bisa akibat proses

peradangan sendi, tumor, kelainan metabolik dan fraktur.

f. Nyeri pinggang

Kelainan ini merupakan keluhan umum karena

semua orang pernah mengalaminya. Nyeri terdapat

kedaerah pinggang kebawah (lumbosakral dan

sakroiliaka) Yng dapat menjalar ke tungkai dan kaki.

g. Frozen shoulder syndrome

Ditandai dengan nyeri dan ngilu pada daerah

persendian di pangkal lengan atas yang bisa menjalar ke

lengan atas bagian depan, lengan bawah dan belikat,

terutama bila lengan diangkat keatas atau digerakkan

kesamping. Akibat pergerakan sendi bahu menjadi

terbatas.

D. Manifestasi klinik

Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang

terkena, etrutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan.

Mula-mula terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dnegan

istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi,

pembesaran sendi dn perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi terdapat

pembesaran sendi dan krepitasi.

Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul

belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan,

gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara lain;

Page 7: asam urat 2

1. Nyeri sendi

Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya

bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.

Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang

lebih dibandingkan gerakan yang lain.

2. Hambatan gerakan sendi

Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-

pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.

3. Kaku pagi

Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah

immobilisasi, seperti duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.

4. Krepitasi

Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi

yang sakit.

5. Pembesaran sendi (deformitas)

Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut

atau tangan yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.

6. Perubahan gaya berjalan

Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut

atau panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan

gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk

kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).

E. Patofisioligi

Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,

kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang

berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago

dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup

yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan

granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago

artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.

Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. 

Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan

Page 8: asam urat 2

sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan

kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa

menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub

chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.

Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan

masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang

sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain.

terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid)

gangguan akan menjadi kronis yang progresif.

F. Pemeriksaan Diagnostik

1. Tes serologi

Sedimentasi eritrosit meningkat

Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis

Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita

2. Pemerikasaan radiologi

Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi

Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan

ankilosis

3. Aspirasi sendi

Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik,

cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.

G. Penatalaksanaan/ perawatan Osteoartritis, antara lain;

1. Medikamentosa

Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya

bersifat simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja

hanya sebagai analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu

menghentikan proses patologis

2. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada

sendi yang sakit.

3. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri

4. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera

5. Dukungan psikososial

Page 9: asam urat 2

6. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan

yang tepat

7. Diet untuk emnurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya

keluhan

8. Diet rendah purin:

Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan

asam urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan

mempertahankannya dalam batas normal. Bahan makanan yang boleh

dan yang tidak boleh diberikan pada penderita osteoartritis:

Golongan bahan

makanan

Makanan yang boleh

diberikan

Makanan yang tidak boleh

diberikan

Karbohidrat

Protein hewani

Protein nabati

Lemak

Sayuran

Buah-buahan

Minuman

Bumbu, dll

Semua

Daging atau ayam, ikan tongkol,

bandeng 50 gr/hari, telur, susu,

keju

Kacang-kacangan kering 25 gr

atau tahu, tempe, oncom

Minyak dalam jumlah terbatas.

Semua sayuran sekehendak

kecuali: asparagus, kacang

polong, kacang buncis,

kembang kol, bayam, jamur

maksimum 50 gr sehari

Semua macam buah

Teh, kopi, minuman yang

mengandung soda

Semua macam bumbu

--

Sardin, kerang, jantung, hati,

usus, limpa, paru-paru, otak,

ekstrak daging/ kaldu, bebek,

angsa, burung.

--

--

Asparagus, kacang polong,

kacang buncis, kembang kol,

bayam, jamur maksimum 50 gr

sehari

--

Alkohol

Ragi

Page 10: asam urat 2

ASUHAN KEPERAWATAN

A.Kasus

Ny.mei berusia 54 tahun,datang keklinik dengan keluhan Klien

mengatakan nyeri pada pergelangan kaki kanan, lutut kanan dan kiri, serta

pergelangan tangan kiri,Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk,Klien

mengatakan nyeri timbul pada malam dan pagi hari saat bangun tidur,Klien

mengatakan nyeri bertambah saat bergerak,Klien mengatakan nyeri hilang

timbul,Klien mengatakan sendi pergelangan kaki kanan dan kiri terasa

kaku,Klien mengatakan nyeri timbul karena kakinya bengkak,Klien tampak

berhati-hati bergerak,Status fungsional (katz indeks AKS) B: kemandirian

dalam semua hal kecuali mobilisasi,ROM terbatas pada pergelangan kaki kanan

dan kaki kiri karena nyeri,Klien menggunakan tongkat saat berdiri dan

berjalan,Skala kekuatan otot 5 atau sedang,Kaki klien gemetar saat berdiri,

Klien mengatakan selama sakit dan di wisma tidak pernah bekerja/berkebun

lagi,Klien mengatakan saat ini sudah tidak ada lagi sumber pendapatan,Klien

mengatakan pagi ini belum mandi,Klien mengatakan kesulitan saat mandi,klien

selalu bertanya-tanya tentang penyakit apa yang diderita,klien juga bertanya

tentang penyebab dari penyakitnya.

Pada pengkajian fisik skala nyri nya 5 atau sedang,Ekspresi wajah

meringis,Ada oedema, kemerahan, dan kulit teraba panas pada area dorsum

pedis dextra,Nyeri tekan pada area dorsum pedis,Klien mengatakan terasa kaku

pada sendi pergelangan kaki kanan dan kiri,Klien mengatakan jika ingin berdiri

dan jalan harus dibantu dengan tongkat,Klien mengatakan bila bergerak kakinya

bertambah nyeri, Klien jarang berinteraksi dengan penghuni panti yang

lain,Klien tidak memiliki sumber pendapatan,Rambut tampak acak-

acakan,Penampilan tidak rapi,Tercium bau badan klien,Kuku panjang dan

kotor,Frekuensi mandi 2 kali/hari namun kurang bersih.pada pemeriksaan TTV

terdapat : TD :140/100 mmHg,suhu :36,7 derajat celcius,pernapasan :28

X/mnit,nadi :84X/menit.

Page 11: asam urat 2

B.Analisa Data

NO Data Fokus Masalah

1

2.

DS:

        Klien mengatakan nyeri pada pergelangan kaki

kanan, lutut kanan dan kiri, serta pergelangan

tangan kiri.

        Klien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk.

        Klien mengatakan nyeri timbul pada malam dan

pagi hari saat bangun tidur.

        Klien mengatakan nyeri bertambah saat

bergerak.

        Klien mengatakan nyeri hilang timbul

        Klien mengatakan sendi pergelangan kaki kanan

dan kiri terasa kaku.

        Klien mengatakan nyeri timbul karena kakinya

bengkak.

DO:

        Ekspresi wajah meringis.

        Skala nyeri 5 (0-10) nyeri sedang.

        Ada oedema, kemerahan, dan kulit teraba panas

pada area dorsum pedis dextra.

        Ada nodul berisi pus pada pergelangan kaki

kanan dan lutut kiri. Nyeri tekan pada area dorsum

pedis.

DS:

        Klien mengatakan terasa kaku pada sendi

pergelangan kaki kanan dan kiri.

        Klien mengatakan jika ingin berdiri dan jalan

harus dibantu dengan tongkat.

        Klien mengatakan bila bergerak kakinya

bertambah nyeri

Nyeri

Kerusakan imobilitas fisik

Page 12: asam urat 2

3.

4.

DO:

        Klien tampak berhati-hati bergerak.

        Status fungsional (katz indeks AKS) B:

kemandirian dalam semua hal kecuali mobilisasi.

        ROM terbatas pada pergelangan kaki kanan dan

kaki kiri karena nyeri.

        Klien menggunakan tongkat (kruk) saat berdiri

dan berjalan.

        Skala kekuatan otot

        Kaki klien gemetar saat berdiri.

DS

        Klien mengatakan selama sakit dan di wisma

tidak pernah bekerja/berkebun lagi.

        Klien mengatakan saat ini sudah tidak ada lagi

sumber pendapatan.

DO:

        Klien jarang berinteraksi dengan penghuni panti

yang lain.

        Status fungsional (katz indeks AKS) B:

kemandirian dalam semua hal kecuali mobilisasi.

        Klien tidak memiliki sumber pendapatan.

DS:

        Klien mengatakan pagi ini belum mandi.

        Klien mengatakan kesulitan saat mandi.

DO:

        Rambut tampak acak-acakan.

        Penampilan tidak rapih.

        Tercium bau badan klien.

        Kuku panjang dan kotor.

Frekuensi mandi 2 kali/hari namun kurang bersih.

Perubahan peran

Defisit perawatan diri

Page 13: asam urat 2

5.

6.

DS:

DO :

klien selalu bertanya-tanya tentang penyakit apa

yang diderita.

klien juga bertanya tentang penyebab dari

penyakitnya.

DS:

Klien mengatakan terasa kaku pada sendi

pergelangan kaki kanan dan kiri,Klien mengatakan

jika ingin berdiri dan jalan harus dibantu dengan

tongkat.

DO :

Klien menggunakan tongkat saat berdiri dan

berjalan.

Kaki klien gemetar saat berdiri.

Kurang pengetahuan

Resiko cedera

Diagnosa

1. Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi

cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi. Dapat dibuktikan oleh : Keluhan nyeri,

ketidaknyamanan, kelelahan, berfokus pada diri sendiri, Perilaku distraksi/

respons autonomic. Perilaku yang bersifat hati-hati/ melindungi. Hasil yang

diharapkan/ kriteria evaluasi pasien akan:

Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol

Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas

sesuai kemampuan

Mengikuti program farmakologis yang diresepkan

Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam

program kontrol nyeri.

Page 14: asam urat 2

NO INTERVENSI RASIONAL

1. a. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan

intensitas (skala 0-10). Catat faktor-

faktor yang mempercepat dan tanda-

tanda rasa sakit non verbal.

 b. Berikan matras/ kasur keras, bantal

kecil,. Tinggikan linen tempat tidur

sesuai kebutuhan.

c. Tempatkan/ pantau penggunaan bantl,

karung pasir, gulungan trokhanter, bebat,

brace.

d. Dorong untuk sering mengubah

posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat

tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan

bawah, hindari gerakan yang menyentak.

e. Anjurkan pasien untuk mandi air

hangat atau mandi pancuran pada waktu

a.Membantu dalam menentukan

kebutuhan manajemen nyeri dan

keefektifan program.

b.Matras yang lembut/ empuk,

bantal yang besar akan mencegah

pemeliharaan kesejajaran tubuh

yang tepat, menempatkan stress

pada sendi yang sakit. Peninggian

linen tempat tidur menurunkan

tekanan pada sendi yang

terinflamasi/nyeri.

c.Mengistirahatkan sendi-sendi

yang sakit dan mempertahankan

posisi netral. Penggunaan brace

dapat menurunkan nyeri dan dapat

mengurangi kerusakan pada sendi.

d.Mencegah terjadinya kelelahan

umum dan kekakuan sendi.

Menstabilkan sendi, mengurangi

gerakan/ rasa sakit pada sendi.

e.Panas meningkatkan relaksasi

otot, dan mobilitas, menurunkan

rasa sakit dan melepaskan

kekakuan di pagi hari. Sensitivitas

Page 15: asam urat 2

bangun dan/atau pada waktu tidur.

Sediakan waslap hangat untuk

mengompres sendi-sendi yang sakit

beberapa kali sehari. Pantau suhu air

kompres, air mandi, dan sebagainya.

f. Berikan masase yang lembut

g. Dorong penggunaan teknik

manajemen stres, misalnya relaksasi

progresif,sentuhan terapeutik, biofeed

back, visualisasi, pedoman imajinasi,

hypnosis diri, dan pengendalian napas.

h.Libatkan dalam aktivitas hiburan yang

sesuai untuk situasi individu.

i. Beri obat sebelum aktivitas/ latihan

yang direncanakan sesuai petunjuk.

j. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai

petunjuk (mis:asetil salisilat) .

pada panas dapat dihilangkan dan

luka dermal dapat disembuhkan.

f. meningkatkan relaksasi/

mengurangi nyeri.

g.Meningkatkan relaksasi,

memberikan rasa kontrol dan

mungkin meningkatkan

kemampuan koping.

h. Memfokuskan kembali

perhatian, memberikan stimulasi,

dan meningkatkan rasa percaya

diri dan perasaan sehat.

i. Meningkatkan realaksasi,

mengurangi tegangan otot/

spasme, memudahkan untuk ikut

serta dalam terapi.

j. sebagai anti inflamasi dan efek

analgesik ringan dalam

mengurangi kekakuan dan

meningkatkan mobilitas.

k.Rasa dingin dapat

menghilangkan nyeri dan bengkak

selama periode akut.

Page 16: asam urat 2

k. Berikan kompres dingin jika

dibutuhkan.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas skeletal,

nyeri, penurunan kekuatan otot.

Dapat dibuktikan oleh : Keengganan untuk mencoba bergerak/

ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak dalam lingkungan fisik.

Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan

otot/ kontrol dan massa ( tahap lanjut ).

Hasil yang diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :

Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/

pembatasan kontraktur

Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi

dari dan/ atau kompensasi bagian tubuh.

Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan

melakukan aktivitas.

NO INTERVENSI RASIONAL

a.Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat

inflamasi/ rasa sakit pada sendi.

 b. Pertahankan istirahat tirah baring/

duduk jika diperlukan jadwal aktivitas

untuk memberikan periode istirahat yang

terus menerus dan tidur malam hari yang

tidak terganggu.

c. Bantu dengan rentang gerak

aktif/pasif, demikiqan juga latihan

resistif dan isometris jika

memungkinkan.

Tingkat aktivitas/ latihan

tergantung dari perkembangan/

resolusi dari peoses inflamasi.

Istirahat sistemik dianjurkan selama

eksaserbasi akut dan seluruh fase

penyakit yang penting untuk

mencegah kelelahan

mempertahankan kekuatan.

Mempertahankan/ meningkatkan

fungsi sendi, kekuatan otot dan

stamina umum. Catatan : latihan

Page 17: asam urat 2

d. Ubah posisi dengan sering dengan

jumlah personel cukup. Demonstrasikan/

bantu tehnik pemindahan dan

penggunaan bantuan mobilitas, mis,

trapeze

e. Posisikan dengan bantal, kantung

pasir, gulungan trokanter, bebat, brace.

f. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah

leher.

g. Dorong pasien mempertahankan

postur tegak dan duduk tinggi, berdiri,

dan berjalan.

 

h. Berikan lingkungan yang aman,

tidak adekuat menimbulkan

kekakuan sendi, karenanya aktivitas

yang berlebihan dapat merusak

sendi.

Menghilangkan tekanan pada

jaringan dan meningkatkan

sirkulasi. Mempermudah perawatan

diri dan kemandirian pasien. Tehnik

pemindahan yang tepat dapat

mencegah robekan abrasi kulit.

Meningkatkan stabilitas

( mengurangi resiko cidera ) dan

memerptahankan posisi sendi yang

diperlukan dan kesejajaran tubuh,

mengurangi kontraktor.

Mencegah fleksi leher.

Memaksimalkan fungsi sendi dan

mempertahankan mobilitas.

Menghindari cidera akibat

kecelakaan/ jatuh.

Berguna dalam memformulasikan

program latihan/ aktivitas yang

Page 18: asam urat 2

misalnya menaikkan kursi,

menggunakan pegangan tangga pada

toilet, penggunaan kursi rodai.

Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.

j. Kolaborasi: Berikan matras busa/

pengubah tekanan.

k. Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai

indikasi (steroid).

berdasarkan pada kebutuhan

individual dan dalam

mengidentifikasikan alat.

Mungkin dibutuhkan untuk

menekan sistem inflamasi akut.

3. Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan

dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum,

peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.

Dapat dibuktikan oleh : Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit.

Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan

penampilan. Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan

peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat.

Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi.

Perasaan tidak berdaya, putus asa.

Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi-Pasien akan :

Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam

kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya

hidup, dan kemungkinan keterbatasan.

Menyusun rencana realistis untuk masa depan.

NO INTERVENSI RASIONAL

a.Dorong pengungkapan mengenai

masalah tentang proses penyakit,

Berikan kesempatan untuk

mengidentifikasi rasa takut/

Page 19: asam urat 2

harapan masa depan.

b. Diskusikan arti dari kehilangan/

perubahan pada pasien/orang terdekat.

Memastikan bagaimana pandangaqn

pribadi pasien dalam memfungsikan

gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-

aspek seksual.

c.Diskusikan persepsi pasienmengenai

bagaimana orang terdekat menerima

keterbatasan.

d. Akui dan terima perasaan berduka,

bermusuhan, ketergantungan.

e. Perhatikan perilaku menarik diri,

penggunaan menyangkal atau terlalu

memperhatikan perubahan.

f. Susun batasan pada perilaku mal

adaptif. Bantu pasien untuk

mengidentifikasi perilaku positif yang

dapat membantu koping.

g. Ikut sertakan pasien dalam

merencanakan perawatan dan membuat

jadwal aktivitas.

kesalahan konsep dan

menghadapinya secara langsung.

Mengidentifikasi bagaimana

penyakit mempengaruhi persepsi

diri dan interaksi dengan orang lain

akan menentukan kebutuhan

terhadap intervensi/ konseling lebih

lanjut.

Isyarat verbal/non verbal orang

terdekat dapat mempunyai

pengaruh mayor pada bagaimana

pasien memandang dirinya sendiri.

Nyeri konstan akan melelahkan,

dan perasaan marah dan

bermusuhan umum terjadi.

Dapat menunjukkan emosional

ataupun metode koping

maladaptive, membutuhkan

intervensi lebih lanjut.

Membantu pasien untuk

mempertahankan kontrol diri, yang

dapat meningkatkan perasaan harga

diri.

Meningkatkan perasaan harga diri,

mendorong kemandirian, dan

mendorong berpartisipasi dalam

terapi.

Page 20: asam urat 2

h. Bantu dalam kebutuhan perawatan

yang diperlukan.

i. Berikan bantuan positif bila perlu.

j. Kolaborasi: Rujuk pada konseling

psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri,

psikolog.

k. Kolaborasi: Berikan obat-obatan

sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan

obat-obatan peningkat alam perasaan.

Mempertahankan penampilan yang

dapat meningkatkan citra diri.

Memungkinkan pasien untuk

merasa senang terhadap dirinya

sendiri. Menguatkan perilaku

positif. Meningkatkan rasa percaya

diri.

Pasien/orang terdekat mungkin

membutuhkan dukungan selama

berhadapan dengan proses jangka

panjang/ ketidakmampuan

Mungkin dibutuhkan pada saat

munculnya depresi hebat sampai

pasien mengembangkan kemapuan

koping yang lebih efektif.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal,

penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.

Dapat dibuktikan oleh : Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan

sehari-hari. Hasil yang diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :

Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang

konsisten dengan kemampuan individual.

Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk

memenuhi kebutuhan perawatan diri.

Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat

memenuhi kebutuhan perawatan diri.

NO INTERVENSI RASIONAL

a.Diskusikan tingkat fungsi umum

(0-4) sebelum timbul awitan/

Mungkin dapat melanjutkan aktivitas

umum dengan melakukan adaptasi yang

Page 21: asam urat 2

eksaserbasi penyakit dan potensial

perubahan yang sekarang

diantisipasi.

b. Pertahankan mobilitas, kontrol

terhadap nyeri dan program

latihan.

c. Kaji hambatan terhadap

partisipasi dalam perawatan diri.

Identifikasi /rencana untuk

modifikasi lingkungan.

d. Kolaborasi: Konsul dengan ahli

terapi okupasi.

e. Kolaborasi: Atur evaluasi

kesehatan di rumah sebelum

pemulangan dengan evaluasi

setelahnya.

f. Kolaborasi : atur konsul dengan

lembaga lainnya, mis: pelayanan

perawatan rumah, ahli nutrisi.

diperlukan pada keterbatasan saat ini.

Mendukung kemandirian

fisik/emosional.

Menyiapkan untuk meningkatkan

kemandirian, yang akan meningkatkan

harga diri.

Berguna untuk menentukan alat bantu

untuk memenuhi kebutuhan individual.

Mis; memasang kancing, menggunakan

alat bantu memakai sepatu,

menggantungkan pegangan untuk mandi

pancuran.

Mengidentifikasi masalah-masalah yang

mungkin dihadapi karena tingkat

kemampuan aktual.

Mungkin membutuhkan berbagai

bantuan tambahan untuk persiapan

situasi di rumah.

5. Kebutuhan pembelajaran mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat, kesalahan

interpretasi informasi.

Dapat dibuktikan oleh : Pertanyaan/ permintaan informasi,

pernyataan kesalahan konsep. Tidak tepat mengikuti instruksi/

terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Hasil yangdihapkan/

kriteria Evaluasi-Pasien akan : Menunjukkan pemahaman tentang

kondisi/ prognosis, perawatan.

Page 22: asam urat 2

Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk

modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau

pembatasan aktivitas.

NO INTERVENSI RASIONAL

a.Tinjau proses penyakit,

prognosis, dan harapan masa

depan.

b. Diskusikan kebiasaan

pasien dalam penatalaksanaan

proses sakit melalui diet,obat-

obatan, dan program diet

seimbang, latihan dan

istirahat.

c.Bantu dalam merencanakan

jadwal aktivitas terintegrasi

yang realistis,istirahat,

perawatan pribadi, pemberian

obat-obatan, terapi fisik, dan

manajemen stres.

d. Tekankan pentingnya

melanjutkan manajemen

farmakoterapeutik.

e. Anjurkan mencerna obat-

obatan dengan makanan, susu,

atau antasida pada waktu

tidur.

f. Identifikasi efek samping

obat-obatan yang merugikan,

mis: tinitus, perdarahan

gastrointestinal, dan ruam

purpuruik.

g. Tekankan pentingnya

Memberikan pengetahuan dimana pasien

dapat membuat pilihan berdasarkan

informasi.

Tujuan kontrol penyakit adalah untuk

menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain

untuk mempertahankan fungsi sendi dan

mencegah deformitas.

Memberikan struktur dan mengurangi

ansietas pada waktu menangani proses

penyakit kronis kompleks.

Keuntungan dari terapi obat-obatan

tergantung pada ketepatan dosis.

Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri

pada HS akan meningkatkan tidur dan

m,engurangi kekakuan di pagi hari.

Memperpanjang dan memaksimalkan dosis

aspirin dapat mengakibatkan takar lajak.

Tinitus umumnya mengindikasikan kadar

terapeutik darah yang tinggi.

Banyak produk mengandung salisilat

Page 23: asam urat 2

membaca label produk dan

mengurangi penggunaan obat-

obat yang dijual bebas tanpa

persetujuan dokter.

h. Tinjau pentingnya diet yang

seimbang dengan makanan

yang banyak mengandung

vitamin, protein dan zat besi.

i.Dorong pasien obesitas

untuk menurunkan berat

badan dan berikan informasi

penurunan berat badan sesuai

kebutuhan.

j. Berikan informasi mengenai

alat bantu

k. Diskusikan tekinik

menghemat energi, mis:

duduk daripada berdiri untuk

mempersiapkan makanan dan

mandi.

l. Dorong mempertahankan

posisi tubuh yang benar baik

pada sat istirahat maupun

pada waktu melakukan

aktivitas, misalnya menjaga

agar sendi tetap meregang ,

tidak fleksi, menggunakan

bebat untuk periode yang

ditentukan, menempatkan

tangan dekat pada pusat tubuh

tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko

takar layak obat/ efek samping yang

berbahaya.

Meningkatkan perasaan sehat umum dan

perbaikan jaringan.

Pengurangan berat badan akan mengurangi

tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut,

pergelangan kaki, telapak kaki.

Mengurangi paksaan untuk menggunakan

sendi dan memungkinkan individu untuk ikut

serta secara lebih nyaman dalam aktivitas

yang dibutuhkan.

Mencegah kepenatan, memberikan

kemudahan perawatan diri, dan kemandirian.

mekanika tubuh yang baik harus menjadi

bagian dari gaya hidup pasien untuk

mengurangi tekanan sendi dan nyeri.

Page 24: asam urat 2

selama menggunakan, dan

bergeser daripada mengangkat

benda jika memungkinkan.

m. Tinjau perlunya inspeksi

sering pada kulit dan

perawatan kulit lainnya

dibawah bebat, gips, alat

penyokong. Tunjukkan

pemberian bantalan yang

tepat.

mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit.

6. resiko cedera berhubungan dengan kelemahan otot

NO INTERVENSI RASIONAL

a.Berikan obat anti rematik.

b.Anjurkan klien berhati-hati saat berdiri

dan berjalan .

c.Anjurkan klien duduk apabilanyeri saat

berdiri atau berjalan.

d.Anjurkan klien menggunakan tongkat

atau alat bantu jalan.

e.Jelaskan kepada keluarga klien tentang

teknik menolong klien saat timbul nyeri

rematik.

a.meminimalkan rasa nyeri.

b.Sikap yang tidak berhati-hati

memicu tingkat cedera yang

tinggi.

c.

d.meminimalakan tingkat cedera.

e.meringankan tugas perawat

sekaligus pertolongan pertama

pada klien dalam keadaan

mendadak.

Page 25: asam urat 2

D.Evaluasi

1. Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol.

2. Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai

kemampuan.

3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.

4. Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.

5. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau

kompensasi bagian tubuh.

6. Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas

7. Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk

menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan

keterbatasan

8. Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan

kemampuan individual.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Page 26: asam urat 2

Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun sistemik

menahun yang proses patologi utamanya terjadi di cairan sinovial.

Penderita Artritis Reumatoid seringkali datang dengan keluhan artritis

yang nyata dan tanda-tanda keradangan sistemik. Baisanya gejala timbul

perlahan-lahan seperti lelah, demam, hilangnya nafsu makan, turunnya berat

badan, nyeri, dan kaku sendi.

Tujuan pengobatan adalah menghasilkan dan mempertahankan remisi

atau sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut. Tujuan

utama dari program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan,

mempertahankan fungsi sendi dan mencegah dan/atau memeperbaiki

deformaitas.

B. Saran

Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat mengerti konsep

rheumatoid atritis serta dapat  melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan

prosedur yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Kushariyadi.2011.Asuhan Keperawatan Pada Klien Lanjut Usia.Jakarta :

Salemba Medika.

Page 27: asam urat 2

Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Anonim, 2004, Arthritis, http://www.arthritis.org.

http://www.peutuah.com/artritis-reumatoid-rematik/

http://nurse87.wordpress.com/2009/12/12/asuhan-keperawatan-rheumatoid-

artritis/

http://ilmukeperawatan.wordpress.com

http://askepdoumbojo.blogspot.com/2010/08/askep-muskuloskeletal.html

http://www.peutuah.com/pengkajian-sistem-muskuloskeletal/

http://asuhankeperawatan-kumpulan-askep.blogspot.com/

2009_07_01_archive.html