asam basa perbaikan

  • View
    871

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of asam basa perbaikan

LABORATORIUM KIMIA FARMASI JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

LAPORAN LENGKAP KIMIA ANALISIS FARMASI PERCOBAAN TITRASI ASIDI ALKALIMETRI

OLEH:

KELOMPOK : GOLONGAN : ASISTEN :

III (TIGA) III (TIGA) MUH. FIRDAUS, S.Farm

SAMATA - GOWA 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kimia analitik terbagi atas dua yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisi kualitatif didasarkan pada identikasi zat yang terkandung dalam sampel yang hendak dianalisis. Sedangkan analisis kuantitatif didasarkan pada penentuan jumlah zat yang terkandung dalam suatu sampel analit. Dalam menentukan jumlah zat dari sampel analisis, dapat

digunakan beberapa metode diantaranya adalah metode volumetric, gravimetric, potensiometri, kalorimetri, dan metode-metode lainnya. Metode volumetric didasarkan pada pengukuran volume titran, sehingga disebut juga titrimetri. Metode ini dapat diklasifikasikan kedalam 4 kelas, yaitu: titrasi asam basa, tirasi redoks, titrasi pengendapan, dan titrasi pembentukan kompleks. Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan reaksi asam dan basa, baik kuat maupun lemah. Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir titrasi yang tajam dengan pengamatan pada perubahan warna indicator, sehingga titik ekivalen titrasi pun dapat ditentukan. Dalam

titrasi asam basa jika volume yang dihitung adalah volume dari larutan asam maka disebut metode acidimetri, dan jika volume yang dihitung adalah volume dari larutan basa maka disebut metode alkalimetri. Larutan standar yang sering digunakan dalam titrasi ini adalah HCl dan NaOH dengan indicator diantaranya adalah fenoftalein dan metil merah. Dalam dunia farmasi, titrasi asam basa sangat berguna dalam menentukan kadar suatu obat yang bersifat asam atau basa. Misalnya untuk obat-obat sakit mag. Oleh karena itu, percobaan ini sangat penting untuk dilakukan karna dapat menambah pengetahuan seorang farmasis.

B. Maksud Dan Tujuan 1. Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara penetapan kadar suatu senyawa dengan menggunakan metode volumetri atau titrimetri. 2. Tujuan Percobaan a. Menentukan alkalimetri. b. Menentukan kadar Natrium Bikarbonat menggunakan metode asidimetri. kadar Asam Salisilat menggunakan metode

C. Prinsip Percobaan Penetuan kadar kadar Asam Salisilat menggunakan metode alkalimeri berdasarkan reaksi netralisasi dimana sampel bersifat asam dititrasi dengan larutan baku yang bersifat basa, dengan penambahan indicator Fenolftalein dimana titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Penentuan kadar Natrium Bikarbonat dengan menggunakan metode asidimetri berdasaekan reaksi netralisasi dimana sampel bersifat basa dititrasi dengan larutan baku asamdengan penambahan indicator Metil Merah dimana titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi merah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum. Kimia analisis bisa di bagi menjadi bidang-bidang yang bisebut analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia: mengenali unsur atau senyawa apa yang ada di dalam suatu sampel. Analisis kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut,yang sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analitik, menyusun entah sebagian kecil ataupun sebagaian besar sampel yang dianalisis. Jika zat yang di analisa tersebut menyusun lebih dari sekitar 1% dari sampel, maka analitik dianggap sebagai konstituen utama. Zat itu di anggap konstituen minor jika jumlahnya berkisar antara 0,01% hingga 1% dari sampel, dan jika suatu zat yang ada hingga kurang dari 0,01% dianggap sebagai konstituen perunut (trace) Klasifikasi lain dari analisis kuantitatif bisa didasarkan pada ukuran dari sampel yang tersedia untuk dianalisis. Jika sampel memiliki bobot lebih dari 0,1 gram maka analisisnnya tercakup dalam analisis makro, jika sampel memiliki bobot sekitar 10 sampai 100 mg, maka analisisnnya di anggap sebagai analisis semimikro, analisis mikro di pakai untuk sampel dengan bobot di antara 1 sampai 10 mg, dan analisis ultra mikro meliputi sampel dalam mikogram (Underwood. 2002; 2). Dalam menentukan jumlah zat dari sampel analisis, dapat digunakan beberapa metode. Metode yang sering di gunakan adalah volumetri, gravimetri, potensiometri dan kalorimetri. Metode volumetric di dasarkan pada pengukuran volume larutan titran. Analisis ini dikenal juga sebagai titrimetri, dimana zat yang akan di analisis di biarkan bereaksi dengan zat lain ( titran ) yang konsentrasinnya telah di ketahui dan dialirkan dari dalam buret. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui ( analit ) kemudian dihitung. Syaratnnya adalah reaksi harus berjalan cepat,

reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping. Selain itu jika reagen penitrasi yang diberikan berlebih , maka harus dapat diketahui dengan suatu indicator. Metode titrimetri bergantung pada larutan standar yang mengandung sejumlah reagen persatuan volum larutan dengan ketetapan yang tinggi. Metode volumetric atau titrimetri secara garis besar dapat di klasifikasi dalam empat kategori, yaitu: 1. Titrasi asam basa yang melibatkan reaksi asam dan basa baik kuat maupun lemah 2. Titrasi redoks adalah titrasi yang meliputi hamper semua reaksi oksidasi reduksi. 3. Titrasi pengendapan, adalah+

yang meliputi pemberitakan endapan,

seperti titrasi Ag dengan K4Fe(CN)6 dengan indicator pengabsorbsi. 4. Titrasi kompleksiometri, sebagian besar meliputi titrasi EDTA seperti titrasi spesifik dan juga dapat digunakan untuk melihat perbedaan pH pada pengkompleksan (Khopkar. 1990; 36-37). Sejauh ini, relative sedikit reaksi kimia yang dapat digunakan sebagai basis untuk reaksi. Sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan: 1. Reaksi tersebut harus diproses sesuai dengan persamaan kimia tertentu, seharusnya tidak ada reaksi sampingan. 2. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekuivalensi. Cara lain untuk menyatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan reaksi tersebut haruslah amat besar. 3. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Harus tersedia indicator atau metode instrumental. 4. Di harapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat diselesaikan dengan beberapa menit (Underwood.2002;45). TITRASI ASAM BASA Asam dan basah kuat terurai sempurna dalam air. Oleh karena itu, pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah

stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan ole tingkat terurainya air. Pada suhu 250C pH air murni adalah 7,00 (Underwood.2002;129). Titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indicator bila pH pada titik ekivalen antara 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi, akan tajam pada titik akhir titrasi asam atau basa lemah jika penitriasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan tetapan disosiasi asam lebih berkisar dari 104. Selama titrasi asam basa, pH lrutan berubah secara khas. pH berubah secara drastis bila volume titrannya mencapai titik ekivalen. Pada reaksi asam basa, proton ditransfer dari suatu molekul ke molekul lain. Dalam air, proton biasanya tersolvasi sebagai H3+O. Reaksi asam basa bersifat reversible, reaksi dapat digambarkan sebagai berikut: HA + B H2 O H3+O + A- (air sebagai basa) BH+ + OH- (air sebagai asam)

+ H2O

Disini [A-] adalah basa konjugasinya, BH+ adalah asam konjugasinya berarti secara umum : Asam + basa CH3COOH + H2O CH3COO- + H2O (Khopkar.1990; 38). Dalam memilih suatu asam yang digunakan dalam larutan standar, hendaknya diperhatikan faktor-fakotr sebagai berikut: 1. Asam itu harus kuat, yakni terionisasi secara sempurna 2. Asam tersebut tidak mudah menguap 3. Larutan asam harus stabil 4. Garam dari asam tersebut harus mudah larut 5. Asam tersebut harus pengoksidasi yang kuat untuk menghancurkan senyawa-senyawa organic yang digunakan sebagai indicator. Asam klorida dan sam sulfat paling banyak digunakan untuk larutan standar, walaupun tidak satupun keduanya yang memenuhi syarat tersebut. basa konjugasi + asam konjugasi CH3COO- + H3O+ (basa) CH3COOH + OH- (asam)

Asidimetri merupakan metode yang digunakan dalam titrimetri atau volumetri yang didasarkan pada perhitungan jumlah volume asam baik untuk zat-zat organik maupun anorganik. Sedangkan alkalimetri adalah metode volumetri yang didasarkan pada pengukuran seksama jumlah volume basa yang digunakan. Natrium hidroksida merupakan basa yang sering digunakan untuk titrasi asam basa. Berbagai macam zat asam dan basa, baik organic maupun anorganik dapat ditentukan dengan titrasi asam basa. Terdapat juga banyak contoh dimana analit dapat diubah secara kimia menjadi suatu asam dan kemudian ditentukan dengan titrasi. Sejumlah gugus fungsi organic dapat ditentukan dengan titrasi asam basa seperti; asam karbosiklat, R-COOH, asam sulfonat, RSO3H dapat dititrasi dengan basa basa standard (Haeria. 2011; 5-6). Indicator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membedntuk fluorsen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Indicator asam basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indicator dapat berubah asam atau basa, larut, stabil dan menunjukan perubahan warna yang kuat serta bisanya adalah zat organic. Perubahan warna diresonasi isomer electron. Berbagai indicator

mempunnyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnnya mereka menunjukan warna pada range pH yang berbeda. Indicator asam basa secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan : 1. Indicator ftalein dan indicator sulfoftalein 2. Indicator azo 3. Indicator trifenil metana Indikator ftalein dibuat dengan ko