of 20 /20
1. Anatomi Sistem Pernapasan Berdasarkan letaknya jalan napas terbagi atas: a. Upper respiratory tract (Jalan napas atas) Nasus Pharynx b. Lower respiratory tract (Jalan napas bawah) Larynx Trachea Arbor bronchiales dan pulmo. Setiap bagian dari sistem ini memainkan peranan penting dalam proses pernapasan, yaitu dimana oksigen dapat masuk ke aliran darah dan karbon dioksida dapat dilepaskan. 1

Anatomi Dan Fisiologi Jalan Napas manusia

Embed Size (px)

DESCRIPTION

menerangkan tentang anatomi dan fisiologi jalan nafas manusia

Citation preview

1. Anatomi Sistem Pernapasan

Berdasarkan letaknya jalan napas terbagi atas:

a. Upper respiratory tract (Jalan napas atas)

Nasus

Pharynx

b. Lower respiratory tract (Jalan napas bawah)

Larynx

Trachea

Arbor bronchiales dan pulmo.

Setiap bagian dari sistem ini memainkan peranan penting dalam proses

pernapasan, yaitu dimana oksigen dapat masuk ke aliran darah dan karbon

dioksida dapat dilepaskan.

Gambar 1 Sistem respirasi.

1

1.1 Jalan Napas Atas

Jalan napas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan

udara atmosfear masuk melalui hidung, mulut dan bronkus hingga ke alveoli.

Jalan napas terdiri dari rongga hidung dan rongga mulut, laring, trakea sampai

percabangan bronkus. Udara yang masuk melalui rongga hidung akan mengalami

proses penghangatan, pelembaban, dan penyaringan dari segala kotoran. Setelah

rongga hidung, dapat dijumpai daerah faring mulai dari bagian belakang platum

mole sampai ujung bagian atas dari oesofagus. Faring terbagi menjadi tiga yaitu:

a. Nasofaring (bagian atas), dibelakang hidung

b. Orofaring (bagian tengah), dapat dilihat saat membuka mulut

c. Hipofaring (bagian akhir), sebelum menjadi laring.

Di bawah faring terletak oesofagus dan laring yang merupakan

permulaan jalan napas bawah. Di dalam laring ada pita suara dan otot-otot yang

dapat membuatnya bekerja, serta terdiri dari tulang rawan yang kuat.

Gambar 2 Jalan napas atas.

2

Pita suara merupakan suatu lipatan jaringan yang mendekat di garis tengah.

Tepat di atas laring, terdapat struktur yang berbentuk daun yang disebut epiglotis.

Epiglotis ini berfungsi sebagai pintu gerbang yang akan menghantarkan udara yang

menuju trakhea, sedangkan benda padat dan cairan akan dihantarkan menuju oesofagus.

Dibawah laring, jalan napas selanjutnya adalah trachea, yang terdiri dari cincin-

cincin tulang rawan.

Gambar 3 Epiglottis dan vocal cords.

1.2 Jalan Napas Bawah

Jalan napas bawah terdiri dari larynx, trachea, arbor bronchiales, dan pulmo.

Pada saat inspirasi, udara masuk melalui jalan napas atas menuju jalan napas

bawah sebelum mencapai paru-paru. Trachea terbagi dua cabang, yaitu bronkus

3

utama kanan dan bronkus utama kiri. Masing-masing primary bronchi akan

kembali bercabang menjadi secondary bronchi. Secondary bronchi bercabang

menjadi tertiary bronchi dan tertiary bronchi bercabang lagi menjadi bronchioles.

Gambar 4 Jalan napas bawah.

2. Fisiologi Sistem Pernapasan

Tujuan dari pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan

membuang karbondioksida. Untuk mencapai tujuan ini, pernapasan dapat dibagi

menjadi empat fungsi utama:

a. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara atmosfir dan

alveoli paru

b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah

c. Pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh ke

dan dari sel jaringan tubuh

d. Pengaturan ventilasi

4

Ketika udara atmosfer mencapai alveoli, oksigen akan bergerak dari alveoli

melintasi membran alveolar-kapiler dan menuju sel darah merah. Sistem sirkulasi

kemudian akan membawa oksigen yang berikatan dengan sel darah merah ini

menuju jaringan tubuh, dimana oksigen akan digunakan sebagai bahan bakar

dalam proses metabolisme. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida pada

membran alveolar–kapiler dikenal dengan istilah difusi pulmonal. Setelah proses

pertukaran gas selesai, maka sel darah merah yang telah teroksigenasi (kadar

karbondioksida rendah) ini akan menuju sisi kiri jantung dan akan dipompakan ke

seluruh sel dalam tubuh. Saat mencapai jaringan, sel darah merah yang

teroksigenasi ini akan melepaskan ikatannya dengan oksigen dan oksigen tersebut

digunakan untuk bahan bakar metabolisme.

Sementara karbondioksida dari jaringan akan masuk ke sel darah merah

yang rendah oksigen menuju sisi kanan jantung, untuk kemudian dipompakan ke

paru-paru. Hal yang sangat penting dalam proses ini adalah alveoli harus terus

menerus mengalami pengisian dengan udara segar yang mengandung oksigen

dalam jumlah yang cukup.

Proses pernapasan dibagi menjadi dua, yaitu Inspirasi dan ekspirasi . Paru-paru

dapat dikembang kempiskan melalui dua cara, yaitu:

a) Gerakan naik turunnya diafragma untuk memperbesar atau memperkecil

rongga dada. Selama inspirasi, kontraksi diafragma menarik permukaan

bawah paru ke arah bawah. Kemudian selama ekspirasi, diafragma

mengalami relaksasi, dan sifat elastis daya lenting paru (elastic recoil),

dinding dada, dan struktur abdomen akan menekan paru-paru dan

5

mengeluarkan udara. Namun selama bernapas kuat, daya elastis tidak cukup

kuat untuk menghasilkan ekspirasi cepat yang diperlukan, sehingga

diperlukan tenaga ekstra yang terutama diperoleh dari kontraksi otot-otot

abdomen, yang mendorong isi abdomen ke atas melawan dasar diafragma,

sehingga mengkompresi paru.

b) Depresi dan elevasi tulang iga untuk memperbesar atau memperkecil

diameter anteroposterior rongga dada.

Pusat pernapasan ada di batang otak, yang mendapatkan rangsangan melalui

baro resptor yang terdapat di aorta dan arteri carotis. Dalam keadaan normal, maka

ada volume tertentu yang kita hirup saat bernapas yang dikenal sebagai volume tidal.

Bila membutuhkan oksigen lebih banyak maka akan dilakukan penambahan

volume pernapasan melalui pemakaian otot-otot pernapasan tambahan.

3. Tanda - tanda objektif obstruksi jalan nafas

Tanda – tanda obstruksi dapat kita lihat melalui pemeriksaan fisik dengan

cara look, listen dan feel.

a. Look

Lihat apakah pasien mengalami agitasi, penurunan kesadaran, sianosis ( kulit

biru keabu abuan) yang menunjukkan tanda hipoksemia yang terlihat dari kulit,

kuku, lidah, telinga, dan kulitt sekitar mukut. Lihat apakah terdapat retraksi,

penggunaan otot nafas tambahan. Lihat apakah terdapat deformitas ataupun

jaringan yang rusak.

6

b. Listen

Dengarkan apakah pasien dapat berbicara normal. Selain itu, apakah terdapat

suara nafas tambahan, seperti suara mendengkur (snoring), suara berkumur

(gurgling), dan bersiul ( crowing sound, stridor). Suara suara nafas tambahan

disebabkan adanya sumbatan parsial pada jalan nafas.

c. Feel

Rasakan, apakah terdapat udara yang keluar dari hidung, rasakan kulit dingin

atau hangat, tentukan apakah trakea berada di tengah, dan rasakan apakah terdapat

fraktur. Periksa mulai dari leger sampai thoraks. Nilai keadaan jaringan, adamya

hematoma atau edena dan krepitasi.

4. Teknik-Teknik Mempertahankan Jalan Nafas

Bila pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran maka lidah mungkin

jatuh ke belakang dan menghambat hipofaring. Bentuk sumbatan seperrti ini dapat

segera diperbaiki dengan cara mengangkat dagu (chin lift maneuver) atau dengan

mendorong rahang bawah ke arah depan (jaw thrust maneuver), jalan nafas

selanjutnya dapat dipertahankan dengan oropharyngeal airway atau nasopringeal

airway. Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka airway dapat

menyebabkan atau memperburuk cedera spinal. Oleh karena itu, selama

mengerjakan prosedur-prosedur ini harus dilakukan imobilisasi segari (inline

immobilization).

7

4.1 Chin Lift Manuver

Jari jemari salah satu tangan diletakkan di bawah rahang yang kemudian

secara hati-hati diangkat ke atas untuk membawa dagu ke arah depan. Ibu jari

tangan yang sama dengan tangan menahan bibir bawah untuki membuka mulut.

Ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri (insicor) bawah dan secara

bersama, dagu dengan hati-hati diangkat. Maneuver chin lift tidak boleh

menyebabkan hiperekstensi leher. Maneuver ini berguna pada korban trauma

karena tidak membahayakan pasien dengan kemungkinan patah ruas tulang leher

atau mengubah patah tulang tanpa cedera sumsum tulang menjadi cedera sumsum

tulang.

Gambar 1. Manuver chin-lift digunakan pada pasien trauma karena dapat

mencegah kerusakan lebih lanjut pada cedera spinal

4.2 Jaw Thrust Maneuver

Maneuver jaw thrust dilakukan dengan cara memegang sudut rahang bawah

(angulus mandibula) kiri dan kanan dan mendorong rahang bawah ke depan. Bila

cara ini dilakukan sambil menggunakan masker dari alat bag valve dapat dicapai

kerapatan yang baik dan ventiulasi yang adekuat. Hal ini harus dilakukan dengan

hati-hati untuk mencegah ekstensi kepala.

8

Gambar 2. Jaw thrust Maneuver

4.3 Oropharyngeal Airway

Teknik yang dipilih adalah dengan menggunakan spatula lidah untuk

menekan lidah dan menyisipkannya ke belakang. Alat tidak boleh mendorong

lidah ke belakang yang justru akan menghambat jalan nafas. Alat ini tidak boleh

digunakan pada pasien yang sadar karena dapat menyebabkan sumbatan, muntah,

dan aspirasi.pasien yang dapat mentolerasni orofaringeal airway kemungkinan

besar membutuhkan intubasi.

Gambar 3. Oropharyngeal airway

9

4.4 Nasopharyngeal Airway

Nasopharyngeal airway disisipkan pada salah satu lubang hidung ndan

dilewatkan secara hati-hati ke orofaring posterior. Alat tersebut sebaiknya

dilumasi kemudian disisipkan ke lubang hidung yang tampak tidak tertutup. Bila

hambatan dirasakan selama pemasangan airway, hentikan dan coba melalui

lubang hidung lainnya.

4.5 Laryngeal Mask Airway (LMA)

Laryngeal mask airway (LMA) sangat bermanfaat pada pertolongan pasien

dengan airway yang sulit terutama bila usaha intubasi endotrakeal atau bag mask

gagal. Akan tetapi LMA bukan airway definitif dan penempatan alat yang benar

sulit tanpa latihan yang cukup. Bila seorang pasien datang ke bagian gawat darurat

dengan terpasang LMA, dokter harus merencanakan suatu cara airway definitif.

4.6 Multilumen Esophageal Airway

Multilumen esophageal airway digunakan oleh petugas pra rumah sakit

sebelum tiba di rumah sakit untuk memperoleh suatu jalan nafas bila suatu airway

definitif tidak mungkin dilakukan. Salah satu lubang menghubungkan esofagus

dan lubang lain dengan airway. Petugas paramedik yang menggunakan cara ini

dilatih untuk mengetahui bagian yang menyumbat esofagus dan yang mana yang

memberi udara pada trakea. Lubang esofagus kemudian ditutup dengan suatu

balon dan lubang lain yang diventilasi. Suatu detektor CO2 memperbaiki ketepatan

alat ini, alat airway esofageal multilumen harus dilepaskan dan/atau suatu airway

definitif diberikan oleh dokjter di RS setelah penilaian yang baik.

4.7 Laringeal Tube Airway (LTA)

10

Laryngeal tube airway adalah suatu alat airway di luar glotis untuk memberi

ventilasi pasien dengan baik. LTA bukanlah suatu alat airway definitif dan

rencana untuk memberikan suatu airway definitif diperlukan seperrti LMA, LTA

dipasang tanpa visualisasi glotis langsung dan tanpa memberikan manipulasi yang

bermakna pada kepala dan leher untuk pemasangannya.

4.8 Gum Elastic Bougie

Gum elastic bougie atau eschmann tracheal tube introducer (ETTI), pertama

kali diperkenalkan sebagai suatu bantuan untuk intubasi yang sulit pada tahun

1949 oleh Macintosh, penggunaannya pada awalnya dilakukan di kamar bedah,

tapi sejak saat itu diperluas di bagian gawat darurat dan pra rumah sakit. Alat ini

memiliki ujung distal dengan gradasi 10 cm. Tidak ada persiapan khusus yang

diperlukan untuk alat ini karena langsung siap untuk digunakan. GEB digunakan

bila pita suara tidak dapat dilihat dengan laringoskopi.

Dengan laringoskop terpasang di tempatnya, GEB dimasukkan melewati

epiglotis dengan ujung yang bersudut diposisikan secara anterior. Posisi intra-

trakeal diketahui dengan adanya bunyi klik pada waktu ujung distal menggesek

sepanjang cincin-cincin tulng rawan trakea (65-90%), pipa berputar ke kiri atau ke

kanan bila masuk ke bronchus dan bila pipa terhambat ranting bronkus (10-13%)

yang biasanya diketahui pada tanda 50 cm. Tanda-tanda di atas tidak akan

ditemukan bila GEB masuk ke esofagus. Ujung proksimal dilumasi dari suatu

pipa endotrakeal dengan diameter internal 6 cm atau lebih besar dimasukakan di

atas GEB melewati pita suara. Bila pipa endotrakeal terhambat pada lipatan

aritenoid atau ariaepiglotik, pipa ditarik sedikit dan diputar 90% untuk

11

memfasilitasi masuknya pipa melewati hambatan atau obstruksi tersebut. GEB

dikeluarkan dan posisi pipa ditegakkan dengan auskultasi bunyi napas dan

capnograf.

Pada banyak penelitian kamar bedah, intubasi yang berhasil diperoleh lebih

dari 95% dengan bantuan GEB. Pada kasus-kasus dimana diduga kuat terjadi

cedera tulang servikal, intubasi yang dibantu GEB berhasil 100%, pada kasus

dengan waktu kurang dari 45 detik. Meskipun kondisi kamar bedah jauh lebih

baik dari bagian gawat darurat dan lingkungan di luar rumah sakit., GEB juga

sangat berhasil ditempatkan/dipasang dalam keadaan ini. Alat yang sederhana ini

berhasil untuk intubasi cepat pada hampir 80% pasien pra rumah sakit dimana

pemeriksaan dengan laringosopi langsung adalah sulit.

5. Algoritma Penjagaan Airway

Bla....bla... blaa dulu sebelum ketabel.

12

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Indah AR, Sari FR, Mekarsari KA, Utami OC, Azzulfa SA. Gangguan Jalan Napas. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. 2012.

2. Ikawati Z. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernapasan. (Available on-line with updates at http://zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/wp-content/uploads/an-phys-respiratory-system.pdf): [diunduh 25 Agustus 2013].

3. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi II. Jakarta: EGC; 2007. hal. 495-506.

4. Chin lift manuever and jaw thrust maneuver. http://accessemergencymedicine.com/. [diunduh 25 agustus 2013]

5. American college of surgeons. Advanced trauma life support (ATLS) student course manual. 8th edition. Chicago. 2008

6. Airway CPG Algorithm. http://www.itim.nsw.gov.au. [diunduh 25 Agustus

2013]

14