of 23 /23
Sectio Sesarea Seksio sesarea, ialah di mana janin, plasenta dan selaput ketuban dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding abdomen dan dinding rahim. 1 Sejak 35 tahun yang lalu, kadar ibu yang melahirkan dengan tindakan seksio sesarea semakin meningkat dari 5% menjadi 25%. Dengan terjadinya peningkatan ini menyebabkan:- 2 1. Penurunan jumlah persalinan spontan/ pervaginam. 2. Penurunan persalinan pervaginam setelah pasien pernah melakukan tindakan seksio sesarea kelahiran anak sebelumnya atau pada parut uterus (VBAC). 3. Penurunan persalinan pervaginam untuk anak letak songsang. Indikasi Tindakan seksio sesarea ulang. Tindakan insisi rahim sebelumnya atas indikasi miomektomi atau tindakan persalinan secara seksio sesarea dapat menyebabkan melemahnya dinding uterus atau predisposisi terjadi ruptura uteri jika persalinan pervaginam dilakukan. Walaubagaimanapun, pada tahun 2000, nasional mempunyai target untuk menurunkan jumlah tindakan seksio sesarea menjadi 3%, manakala meningkatkan VBAC menjadi 35%. 2 Secara umumnya, pasien yang tidak dianjurkan untuk mencoba dengan persalinan pervaginam ialah pasien dengan seksio sesarea klasik dengan insisi vertikal pada korpus uteri atau miomektomi sebelumnya. Pasien yang sesuai untuk dilakukan

Seksio Sesarea Bro

  • Upload
    galahad

  • View
    43

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SC bro

Citation preview

Page 1: Seksio Sesarea Bro

Sectio Sesarea

Seksio sesarea, ialah di mana janin, plasenta dan selaput ketuban dilahirkan melalui

suatu insisi pada dinding abdomen dan dinding rahim.1 Sejak 35 tahun yang lalu, kadar ibu

yang melahirkan dengan tindakan seksio sesarea semakin meningkat dari 5% menjadi 25%.

Dengan terjadinya peningkatan ini menyebabkan:-2

1. Penurunan jumlah persalinan spontan/ pervaginam.

2. Penurunan persalinan pervaginam setelah pasien pernah melakukan tindakan seksio

sesarea kelahiran anak sebelumnya atau pada parut uterus (VBAC).

3. Penurunan persalinan pervaginam untuk anak letak songsang.

Indikasi

Tindakan seksio sesarea ulang.

Tindakan insisi rahim sebelumnya atas indikasi miomektomi atau tindakan persalinan

secara seksio sesarea dapat menyebabkan melemahnya dinding uterus atau predisposisi

terjadi ruptura uteri jika persalinan pervaginam dilakukan. Walaubagaimanapun, pada tahun

2000, nasional mempunyai target untuk menurunkan jumlah tindakan seksio sesarea menjadi

3%, manakala meningkatkan VBAC menjadi 35%.2

Secara umumnya, pasien yang tidak dianjurkan untuk mencoba dengan persalinan

pervaginam ialah pasien dengan seksio sesarea klasik dengan insisi vertikal pada korpus uteri

atau miomektomi sebelumnya. Pasien yang sesuai untuk dilakukan persalinan pervaginam

pada parut uterus atau bekas seksio sesarea ialah:2

1. Pernah dilakukan seksio sesarea dengan insisi uterus transversal pada segmen bawah

rahim.

2. Pasien dengan tanda-tanda mulai persalinan.

3. Pasien tanpa kondisi berulang seperti kehamilan songsang, gawat janin atau plasenta

previa.

4. Pasien yang pernah bersalin secara spontan sebelumnya.

Jika persalinan pervaginam akan dilakukan, pasien perlulah dimonitor dengan ketat

denyut jantung janin dan aktivitas kontraksi uterusnya, dan dokter kebidanan dan

anestesiologi haruslah sentiasa bersiap sedia jika terjadinya ruptura uteri. Penelitian

menunjukkan jumlah kematian ibu ialah 1% jika terjadi kasus ruptura uteri, manakala jumlah

kematian janin mendekati 50%.2

Page 2: Seksio Sesarea Bro

Distosia/ Cephalopelvic Disproportion (CPD)

Keadaan di mana kepala janin terlalu besar untuk melewati rongga panggul ibu dan

diindikasikan untuk dilakukan seksio sesarea. Jika kepala janin belum masuk ke panggul ibu

sampai bidang Hodge 3 atau bidang O, pasien belum mancapai syarat untuk dilakukan

persalinan pervaginam. Hal ini perlu diwaspada pada ibu hamil primigravida dengan kepala

janin gagal untuk masuk ke rongga panggul. Dispropotion pada rongga panggul tengah ibu

perlu diwaspada jika conjugata vera sempit, spina ischiadica menonjol dan kepala janin

besar.2

Malposisi dan Malpresentasi

Letak lintang dan letak songsang adalah indikasi yang sering untuk dilakukan

tindakan seksio sesarea. Terdapat penelitian telah dilakukan untuk membandingkan kondisi

janin dengan letak songsang pada persalinan pervaginam dan persalinan dengan tindakan

seksio sesarea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi janin lebih baik pada persalinan

dengan tindakan seksio sesarea.2

Gawat Janin

Memonitor kondisi janin seperti denyut jantung janin sebelum dan saat persalinan

dapat mengurangkan risiko terjadinya gawat janin dan jika terjadi dapat dilakukan

penanganan secepat mungkin. Penanganan yang terbaik untuk gawat janin ialah dengan

dilakukan persalinan secara seksio sesarea. Penelitian menunjukkan bahwa 10% tindakan

seksio sesarea yang dilakukan pada ibu hamil adalah disebabkan oleh gawat janin.2

Indikasi lain

Kondisi lain yang menjadi indikasi untuk dilakukan persalinan secara seksio sesarea

ialah plasenta previa, preeklampsia-eklampsia dengan bayi masih prematur, kehamilan ganda,

kelainan janin seperti hidrosefalus dan kanker serviks. Selain itu, sebab lain dilakukan seksio

sesarea ialah disebabkan atas permintaan pasien sendiri.2

Persiapan sebelum tindakan seksio sesarea

Pertama perlu mendapatkan informed consent dari pasien terlebih dahulu dengan

memberikan segala informasi berkaitan dengan tindakan seksio sesarea yang akan

dilakukan.Informasikan kepada pasien tentang indikasi harus dilakukan seksio sesarea,

pilihan tindakan lain serta risiko dan komplikasi yang dapat terjadi dari tindakan tersebut.

Page 3: Seksio Sesarea Bro

Kemudian, pasien dipasangkan dengan infus IV sebelum tindakan operasi. Pasien juga

diberikan antacid untuk mengurangkan terjadinya aspirasi saat anestesi. Kateter foley juga

dipasang untuk mengosongkan kandung kemih sebelum, saat dan selepas operasi.2

Lapisan-lapisan abdomen

Sectio cesarea dimana janin, plasenta dan selaput ketuban dilahirkan melalui insisi

pada dinding perut dan dinding rahim, berikut lapisan-lapisan dari dinding perut sampai

dinding uterus:

Lapisan Kulit

Lapisan Subkutis

Lapisan Fascia

Lapisan Otot

Lapisan Peritoneum

Uterus

Page 4: Seksio Sesarea Bro

Teknik operasi

1. Seksio Sesarea Klasik

Seksio sesarea klasik (corporal), yaitu insisi pada segmen atas uterus atau korpus uteri, Teknik ini juga memiliki beberapa kerugian yaitu, kesembuhan luka insisi relatif sulit, kemungkinan terjadinya ruptur uteri pada kehamilan berikutnya dan kemungkinan terjadinya perlekatan dengan dinding abdomen lebih besar

Indikasi untuk dilakukan operasi dengan teknik seksio sesarea klasik ialah:-

Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim.1,2

Kelahiran prematur dengan segment bawah yang masih belum terbentuk dengan

sempurna.2

Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen

bawah rahim, misalnya karena adanya perlekatan-perlekatan akibat pembedahan

seksio sesarea yang lalu, atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim.1

Janin besar dalam letak lintang.1

Prosedur

1. Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit

dengan kain suci hama.

Page 5: Seksio Sesarea Bro

2. Pada dinding perut dibuat insisi mediana atau vertikal dari atas simfisis sepanjang

±12cm sampai di bawah umbilicus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal

terbuka.

3. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.

4. Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atas rahim (SAR), kemudian

diperlebar sacara sagital dengan gunting.

5. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan

meluksir kepala dan mendorong fundus uteri. Setelah janin lahir seluruhnya, tali pusat

dijepit dan dipotong di antara kedua penjepit.

6. Plasenta dilahirkan secara manual. Disuntikan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara

intramural.

7. Luka insisi SAR dijahit kembali.

Lapisan I : endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang

catgut khromik.

Lapisan II : hanya miometrium saja dijahit secara simpul (berhubung otot SAR sangat

tebal) dengan catgut khromik.

Lapisan III: perimetrium saja, dijahit sacara simpul dengan benang catgut biasa.

8. Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.

9. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit.

2. Seksio Sesarea Transperitoneal Profunda

Seksio sesarea transperitoneal profunda merupakan suatu pembedahan dengan

melakukan insisi pada segmen bawah uterus. memiliki beberapa keunggulan seperti

kesembuhan lebih baik, dan tidak banyak menimbulkan perlekatan. Adapun kerugiannya

adalah terdapat kesulitan dalam mengeluarkan janin sehingga memungkinkan terjadinya

perluasan luka insisi dan dapat menimbulkan perdarahan.

Prosedur.

1. Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit

dengan kain suci hama.

2. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah

umbiikus lapis demi lapis sehingga kavum peritonei terbuka.

3. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.

4. Dibuat bladder-flap, yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing ( plika

vesikouterina) di depan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Plika

Page 6: Seksio Sesarea Bro

vesikouterina ini disisihkan secara tumpul kea rah samping dan bawah, dan kandung

kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum

kandung kencing.

5. Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi

secara tajam dengan pisau bedah ±2cm, kemudian diperlebar melintang sacara tumpul

dengan kedua jari telunjuk operator. Arah insisi pada segmen bawah rahim adalah

dengam melintang (transversal).

6. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan, janin dilahirkan dengan

meluksir kepalanya. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Tali pusat

dijepit dan dipotong, plasenta dilahirkan secara manual. Ke dalam otot rahim intra mural

disuntikan 10 U oksitosin.

Luka dinding rahim dijahit.

Lapisan I : dijahit jelujur, pada endometrium dan miometrium.

Lapisan II : dijahit jelujur hanya pada miomtrium saja.

Lapisan III : dijahit jelujur pada plika vesikouterina.

7. Setelah dinding rahim selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi.

8. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit

Page 7: Seksio Sesarea Bro

3. Seksio- Histerektomi

Pengangkatan uterus setelah seksio sesarea karena atoni uteri yang tidak dapat diatasi

dengan tindakan lain, pada uterus miomatousus yang besar dan atau banyak, atau pada ruptur

uteri yang tidak dapat diatasi dengan jahitan

Prosedur

1. Setelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan hemostasis pada insisi

dinding rahim, cukup dengan jahitan jelujur atau simpul.

2. Untuk memudahkan histerektomi, rahim boleh dikeluarkan dari rongga pelvis.

3. Mula-mula ligamentum rotundum dijepit dengan cunam Kocher dan cunam Oschner

kemudian dipotong sedekat mungkin dengan rahim, dan jaringan yang sudah dipotong

diligasi dengan benang catgut khromik no.0. Bladder-flap yang telah dibuat pada waktu

seksio sesarea transperitoneal profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral. Pada

ligamentum latum belakang dibuat lubang dengan jari telunjuk tangan kiri di bawah

adneksa dari arah belakang. Dengan cara ini ureter akan terhindar dari kemungkinan

terpotong.

4. Melalui lubang pada ligamentum latum ini, tuba fallopii, ligamentum uteroovarika, dan

pembuluh darah dalam jaringan tersebut dijepit dengan 2 cunam Oschner lengkung dan

di sisi rahim dengan cunam Kocher. Jaringan di antaranya kemudian digunting dengan

gunting Mayo. Jaringan yang terpotong diikat dengan jahitan transfiks untuk hemostasis

dengan catgut no.0.

5. Jaringan ligamentum latum yang sebagian besar adalah avaskular dipotong secara tajam

kea rah serviks. Setelah pemotongan ligamentum latum sampai di daerah serviks,

kandung kencing disisihkan jauh ke bawah dan samping.

6. Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservikal dilakukan penjepitan dengan

cunam Oschner lengkung secara ganda, dan pada tempat yang sama di sisi rahim dijepit

dengan cunam Kocher lurus. Kemudian jaringan di antaranya digunting dengan gunting

Mayo. Tindakan ini dilakukan dalam beberapa tahap sehingga ligamentum kardinale

terpotong seluruhnya. Puntung ligamentum kardinale dijahit transfiks secara ganda

dengan benang catgut khromik no.0.

7. Demikian juga ligamentum sakro-uterina kiri dan kanan dipotong dengan cara yang

sama. Dan diligasi secara transfiks dengan benang catgut khromik no.0.

8. Setelah mencapai di atas dinding vagina-serviks, pada sisi depan serviks dibuat irisan

Page 8: Seksio Sesarea Bro

sagital dengan pisau, kemudian melalui insisi tersebut dinding vagina dijepit dengan

cunam Oschner melingkari serviks dan dinding vagina dipotong tahap demi tahap.

Pemotongan dinding vagina dapat dilakukan dengan gunting atau pisau. Rahim akhirnya

dapat diangkat.

9. Puntung vagina dijepit dengan beberapa cunam Kocher untuk hemostasis. Mula-mula

puntung kedua ligamentum kardinale dijahitkan pada ujung kiri dan kanan puntung

vagina, sehingga terjadi hemostasis pada kedua ujung puntung vagina. Puntung vagina

dijahit secara jelujur untuk hemostasis dengan catgut khromik. Puntung adneksa yang

telah dipotong dapat dijahitkan digantungkan pada puntung vagina, asalkan tidak terlalu

kencang. Akhirnya puntung vagina ditutup dengan retro-peritonealisai dengan

menutupkan bladder flap pada sisi belakang puntung vagina.

10. Setelah rongga perut dibersihkan dari sisa darah, luka perut ditutup kembali lapis demi

lapis.

4. Seksio Sesarea Ekstraperitoneal

Seksio sesarea ekstraperitoneal, yaitu seksio yang dilakukan tanpa insisi peritoneum

dengan mendorong lipatan peritoneum ke atas dan kandung kemih ke bawah atau ke garis

tengah, kemudian uterus dibuka dengan insisi di segmen bawah

Komplikasi

Kelahiran sesarea bukan tanpa komplikasi, baik bagi ibu maupun janinnya.

Morbiditas pada seksio sesarea lebih besar jika dibandingakan dengan persalinan

pervaginam. Ancaman utama bagi wanita yang menjalani seksio sesarea berasal dari tindakan

anastesi, keadaan sepsis yang berat, serangan tromboemboli dan perlukaan pada traktus

urinarius, infeksi pada luka.

Demam puerperalis didefinisikan sebagai peningkatan suhu mencapai 38,50C. Demam

pasca bedah hanya merupakan sebuah gejala bukan sebuah diagnosis yang menandakan

adanya suatu komplikasi serius . Morbiditas febris merupakan komplikasi yang paling sering

terjadi pasca pembedahan seksio seksarea.

Perdarahan masa nifas post seksio sesarea didefenisikan sebagai kehilangan darah

Page 9: Seksio Sesarea Bro

lebih dari 1000 ml. Dalam hal ini perdarahan terjadi akibat kegagalan mencapai homeostatis

di tempat insisi uterus maupun pada placental bed akibat atoni uteri. Komplikasi pada bayi

dapat menyebabkan hipoksia, depresi pernapasan, sindrom gawat pernapasan dan trauma

persalinan.

Komplikasi yang tersering terjadi pada tindaka seksio sesarea ialah perdarahan pasca

persalinan, endometritis dan infeksi pada luka. Pemberian antibiotik profilaksis dapat

mengurangkan komplikasi dari terjadinya infeksi pada luka. Faktor terbesar yang member

efek pada penyembuhan luka pada insisi uterus ialah hemostasis, kesempurnaan jahitan dan

pencegahan infeksi dari terjadi. Secara umum dinyatakan bahwa semakin lama operasi

berjalan, semakin tinggi kemungkinan untuk pasien mengalami komplikasi pasca operasi.2

Perawatan Pasca Sectio caesarea

Perawatan luka insisi

o Luka insisi dibersihkan dengan alkohol dan larutan betadin dan sebagainya,

lalu ditutup dengan kain penutup luka. Secara periodik pembalut luka diganti

dan luka dibersihkan.

Tempat perawatan pasca bedah

o Setelah tindakan di kamar operasi selesai, pasien dipindahkan ke dalam kamar

rawat khusus yang dilengkapi dengan alat pendingin kamar udara selama

beberapa hari. Bila pasca bedah kondisi gawat segera pindahkan ke ICU untuk

perawatan bersama-sama dengan unit anastesi, karena di sini peralatan untuk

menyelamatkan pasien lebih lengkap. Setelah pulih barulah di pindahkan ke

tempat pasien semula dirawat.

Pemberian cairan

o Karena selama 24 jam pertama pasien puasa pasca operasi, maka pemberian

cairan perinfus harus cukup banyak dan mengandung elektrolit yang

diperlukan, agar tidak terjadi dehidrasi.

Nyeri

o Nyeri pasca operasi merupakan efek samping yang harus diderita oleh mereka

yang pernah menjalani operasi, termasuk bedah Caesar. Nyeri tersebut dapat

disebabkan oleh perlekatan-perlekatan antar jaringan akibat operasi. Nyeri

tersebut hampir tidak mungkin di hilangkan 100%, ibu akan mengalami nyeri

atau gangguan terutama bila aktivitas berlebih atau melakukan gerakan-

Page 10: Seksio Sesarea Bro

gerakan kasar yang tiba-tiba.Sejak pasien sadar dalam 24 jam pertama rasa

nyeri masih dirasakan didaerah operasi. Untuk mengurangi rasa nyeri tersebut

dapat diberikan obat-obat anti nyeri dan penenang seperti suntikan

intramuskuler pethidin dengan dosis 100-150 mg atau morfin sebanyak 10-15

mg atau secara perinfus.

Mobilisasi

o Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalanya

penyembuhan pasien. Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadinya

thrombosis dan emboli. Miring ke kanan dan kiri sudah dapat dimulai sejak 6-

10 jam setelah pasien sadar. Latihan pernafasan dapat dilakukan pasien sambil

tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar. Pada hari kedua pasies dapat

didukukan selama 5 menit dan dan diminta untuk bernafas dalam-dalam lalu

menghembuskanya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk

melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri

pasien bahwa ia mulai pulih. Kemudian posisi tidur terlentang dirubah

menjadi setengah duduk (semi fowler).selanjutnya secara berturut-turut, hari

demi hari pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan dan

berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5 pasca bedah

Kehamilan Dan Persalinan Dengan Parut Uterus Atau Bekas

Seksio Sesarea

Epidemiologi

Di tahun 70-an dan awal 80-an seksio sesarea meningkat cepat. Di tahun 90-an

dilaporkan di dunia ini wanita melahirkan dengan seksio sesaea meningkat 4 kali dibanding

30 tahun sebelumnya. Sebabnya multifaktorial, termasuk di antaranya meningkatnya indikasi

seksio sesarea ulang pada kehamilan dengan parut uterus. Sampai saat ini belum ada hasil

penelitian berdasarkan Randomized Controlled trials (RCT) untuk menilai keuntungan atau

kerugian antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea ulang pada kasus kehamilan

dengan parut uterus.

Terdapat indikasi utama untuk melakukan seksio sesarea yaitu:-3

Page 11: Seksio Sesarea Bro

1. Distosia.

2. Gawat janin.

3. Kelainan letak.

4. Parut uterus/ bekas seksio sesarea.

Di tahun 80-an seksio sesarea atas indikasi parut uterus berkisar 25-30% dari angka

kenaikan seksio sesarea di Amerika Serikat. Dilihat dari angka kejadian seksio sesarea

dilaporkan di Amerika Serikat indikasi parut uterus 35%, Australia 35%, Skotlandia 43%,

dan Perancis 28%.3

Di tahun 90-an angka seksio sesarea atas indikasi parut uterus menurun dengan

dikembangkan persalinan pervaginam pada parut uterus, Vaginal Birth After Cesarean

(VBAC). Di Amerika Serikat pada tahun 2000-an, dari 10 wanita yang melahirkan terdapat 1

wanita dengan parut uterus. Di bandung, seksio sesarea dengan parut uterus adalah 10%,

tetapi indikasi awal tidak selalu karena parut uterus. Angka kejadian seksio sesarea primer

dan VBAC di Amerika Serikat 1989-1998 dilaporkan sebagai berikut: seksio sesarea 20,7 –

22,8% dari seluruh persalinan hidup, seksio sesarea primer 14,6 – 16,1% pada wanita yang

belum pernah mendapat seksio sesarea dan 18,9 – 28,3% wanita melahirka pervaginam

dengan parut uterus (VBAC).3

Kehamilan dengan Parut Uterus

Konseling wanita hamil dengan parut uterus umumnya adalah sama seperti kehamilan

normal, hanya yang harus diperhatikan bahwa konseling ditekankan pada:3

1. Persalinan harus dilakukan di rumah sakit dengan peralatan yang memadai untuk

kasus persalinan dengan parut uterus.

2. Konseling mengenai rencana keluarga berencana untuk memilih keluarga kecil

dengan cara kontrasepsi mantap alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) segera setelah

plasenta lahir, terutama untuk persalinan pada luka parut uterus ketiga kalinya.

Persalinan dengan Parut Uterus

Diktum dari Craign (1916) bahwa ‘ sekali dilakukan seksio sesarea selanjutnya

persalinan harus dilakukan seksio sesarea ulang’. Diktum ini sekarang sudah tidak dipakai

lagi. Dahulu seksio sesarea dilakukan dengan sayatan vertikal pada korpus uteri (secara

klasik), sekarang umumnya memakai teknik sayatan melintang pada segmen bawah rahim.

Page 12: Seksio Sesarea Bro

Kejadian dehisens parut uterus dan uterus ruptur meningkat dengan bertambahnya jumlash

seksio sesarea pada kehamilan berikutnya.4

Seksio sesarea elektif dilakukan pada wanita hamil dengan parut uterus yang akan

melakukan sterilisasi tubektomi. Konseling mengenai keluarga berencana perlu ditekankan,

karena morbiditas dan mortalitas meningkat pada wanita dengan parut uterus. Makin sering

bersalin dengan seksio sesarea makin besar bahaya terjadinya rupture uteri. Seksio sesarea

elektif dilakukan pada kehamilan dengan cukup bulan dengan paru-paru janin yang matur dan

dianjurkan pula dilakukan tubektomi parsialis.3

Di beberapa rumah sakit dapat dilakukan induksi/ akselerasi persalinan dengan parut

uterus dengan oksitosin. Induksi atau akselerasi persalinan pada parut uterus dengan

menggunakan oksitosin atau derivat prostalglandin sangat berbahaya. Tidak dianjurkan untuk

melakukan induksi atau akselerasi pada kasus persalinan dengan parut uterus.3

Hal yang perlu dperhatikan untuk menentukan prognosis persalinan pervaginam

dengan parut uterus adalah sebagai berikut:-3

Jenis sayatan uterus yang telah dilakukan pada operasi terdahulu.

Indikasi operasi seksio sesarea terdahulu.

Apakah jenis operasi terdahulu adalah seksio sesarea elektif atau emergensi.

Apa komplikasi operasi terdahulu.

Dilaporkan angka kejadian ruptura uteri pada parut uterus cukup tinggi, terutama di

negara sedang berkembang. Angka kejadian di negara maju hanya 0-2%, sedangkan di negara

sedang berkembang dilaporkan sampai 4-7 %. Masalahnya berkait dengan kurangnya akses

wanita untuk melahirkan di rumah sakit.3

Hal yang perlu diperhatikan dalam antisipasi terjadinya komplikasi kehamilan maupun

persalinan ini adalah sebagai berikut:

Selama kehamilan perlu konseling mengenai bahaya persalinan pada kasus parut

uterus.

Tidak diperkenankan ibu bersalin di rumah atau Puskesmas pada kasus parut uterus.

Perlu konseling bahwa risiko persalinan untuk terjadinya dehisens dan ruptura uteri

adalah tinggi, sehingga perlu dilakukan rujukan segera.

Page 13: Seksio Sesarea Bro

Di rumah sakit, perlu fasilitas memadai untuk menangani kasus seksio sesarea

emergensi dan dilakukan seleksi ketat untuk melakukan persalinan pervaginam

dengan parut uterus.

Persalinan pervaginam pada parut uterus ( Vaginal Birth After Cesarean / VBAC atau Trial of

Labor After Cesarean /TOLAC)

Dengan berkembangnya teknik pertolongan persalinan, tindakan persalinan pervaginam pada

parut uterus meningkat. Dahulu ditakutkan terjadinya ruptura uteri. Di Amerika Serikat angka

kejadian VBAC meningkat dari 18,9% menjadi 28,3% dalam kurun waktu tahun 90-an.

Gambaran ini memperlihatkan bahwa penanganan persalinan pervaginam lebih diutamkan

pada akhir-akhir ini.3

Prosedur persalinan pervaginam dengan parut uterus (Menurut ALARM International)

Hal dasar yang perlu diperhatikan ialah:

Identifikasi pasien apakah memenuhi syarat untuk dilakukan pertolongan persalinan

pervaginam.

Jelaskan dengan cermat mengenai rencana pertolongan persalinan dengan diakhiri

penandatanganan persetujuan pasien/keluarga (informed consent).

Persiapkan pemantauan ibu dan janin dalam persalinan secara terus-menerus termasuk

pencatatan denyut jantung tiap 30 menit.

Persiapkan sarana operasi segera untuk menghadapi kegagalan VBAC/TOLAC.

Pemilihan pasien:

Kenali jenis operasi terdahulu.

Bila mungkin mengenal kondisi operasi terdahulu dari laporan operasinya (adakah

kesulitan atau komplikasinya).

Dianjurkan VBAC dilakukan hanya pada uterus dengan luka parut sayatan transversal

segmen bawah rahim (SBR).

Kontraindikasi VBAC:

Luka parut uterus jenis klasik.

Jenis luka T terbalik atau jenis parut yang tidak diketahui.

Luka parut pada otot rahim di luar SBR.

Page 14: Seksio Sesarea Bro

Bekas ruptura uterus.

Kontraindikasi relative, misalnya panggul sempit relative.

Dua atau lebih luka parut transversal di SBR.

Kehamilan ganda.

Pertolongan persalinan dilakukan sesuai dengan Standar Prosedur Tetap yang dibuat sesuai

dengan kondisi sarana pelayanan persalinan setempat. Perlu mendapat perhatian.

Observasi proses persalinan dengan baik termasuk kondisi ibu dan kesejahteraan

janin.

Bila perlu berikan analgesia.

Ingat kemungkinan terjadi ruptura uteri.

Page 15: Seksio Sesarea Bro

Daftar Pustaka

1. Sarwono Prawirohardjo, Hanifa Wiknjosastro. Perdarahan pada kehamilan muda. Dalam:

Ilmu bedah kebidanan. Edisi kedelapan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;

2010.ms.133-40.

2. Steven W. Ainbinder, Mohammed W. Akhter, D. Ellene Andrew, Dennis R. Anti, Carol L.

Archie, Christina Arnett et al. Operative delivery. In Alan H. DeCherney, editor. Current

diagnosis and treatments in obstetrics and gynaecology. 10 th edition. United States:

McGraw-Hill Companies;2007.

3. Sarwono Prawirohardjo, Hanifa Wiknjosastro. Kehamilan dan persalinan dengan parut

uterus. Dalam: Ilmu kebidanan. Edisi keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo; 2010.ms.614-8.

4. Schorge, Schaffer, Halvorson, Hoffman, Bradshaw, Cunningham. Prior caesarean

delivery. In John O. Schorge, editor. Williams gynaecology. China: McGraw-Hill’s; 2008.