of 38 /38
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Skor APGAR 2.1.1 Pengertian skor APGAR Skor APGAR merupakan metode praktis yang secara sistematis digunakan untuk menilai bayi baru lahir segera sesudah lahir, untuk membantu mengindentifikasi bayi yang memerlukan resusitasi akibat asidosis hipoksik (Rudolph, 2006). Skor APGAR adalah suatu metode klinik untuk mengidentifikasi neonatus, menilai secara cepat keadaannya apakah butuh resusitasi atau tidak, termasuk menilai efektivitas dari resusitasi itu sendiri. Skor APGAR memiliki lima komponen, yaitu Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration. Jumlah total dari kelima komponen tersebut menjadi ukuran penilaian cepat keadaan bayi yang baru lahir, yaitu dengan melihat warna kulit, denyut nadi, tonus otot, refleks menangis, dan usaha bernafas dari bayi. Tabel 2.1 Tabel skor APGAR (Rudolph) 7

ANALISIS PERBANDINGAN SKOR APGAR ANTARA LUARAN BAYI SECARA PERVAGINAM DENGAN SEKSIO SESAREA PADA KASUS PREEKLAMSIA

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ANALISIS PERBANDINGAN SKOR APGAR ANTARA LUARAN BAYI SECARA PERVAGINAM DENGAN SEKSIO SESAREA PADA KASUS PREEKLAMSIA

Citation preview

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skor APGAR

2.1.1 Pengertian skor APGAR

Skor APGAR merupakan metode praktis yang secara sistematis digunakan

untuk menilai bayi baru lahir segera sesudah lahir, untuk membantu

mengindentifikasi bayi yang memerlukan resusitasi akibat asidosis hipoksik

(Rudolph, 2006).

Skor APGAR adalah suatu metode klinik untuk mengidentifikasi

neonatus, menilai secara cepat keadaannya apakah butuh resusitasi atau tidak,

termasuk menilai efektivitas dari resusitasi itu sendiri. Skor APGAR memiliki

lima komponen, yaitu Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration. Jumlah

total dari kelima komponen tersebut menjadi ukuran penilaian cepat keadaan bayi

yang baru lahir, yaitu dengan melihat warna kulit, denyut nadi, tonus otot, refleks

menangis, dan usaha bernafas dari bayi.

Tabel 2.1 Tabel skor APGAR (Rudolph)

TANDA 0 POIN 1 POIN 2 POIN

Denyut nadi Tidak ada < 100 > 100

Usaha bernapas Tidak ada Lambat, tidak teratur

Baik, menangis

Tonus otot Lemas ekstrimitas sedikit fleksi

Bergerak aktif

Refleks iritabilitas Tidak ada respon Meringis Menangis kencang

Warna kulit Kebiruan, pucat Tubuh merah muda, ekstrimitas pucat / kebiruan

Seluruh tubuh berwarna merah muda

Sumber : Buku ajar pediatri Rudolph, 2006

7

8

Skor APGAR diukur pada menit pertama dan kelima setelah kelahiran.

Pengukuran pada menit pertama digunakan untuk menilai bagaimana ketahanan

bayi melewati proses persalinan. Pengukuran pada menit kelima menggambarkan

apakah bayi tersebut dapat bertahan setelah keluar dari rahim ibu. Pengukuran

skor APGAR dilakukan untuk menilai apakah bayi membutuhkan bantuan nafas

atau mengalami kelainan jantung (Zieve, 2011).

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya skor APGAR adalah faktor

ibu dan faktor bayi. Faktor ibu antara lain primiparitas, cara persalinan, usia dan

penyakit yang menyertai selama kehamilan, sedangkan faktor bayi antara lain

cedera pada saat lahir, hipotermia, hipoglikemia, hipoksemia, hipotensi,

pernafasan irregular, dan asfiksia berat (Ondoa-onama & Tumwine, 2003).

Jumlah skor APGAR 7-10 menyatakan bayi dalam kondisi normal atau

baik, jumlah skor 4-6 menyatakan bayi mengalami asfiksia ringan, dan jumlah

skor 0-3 menyatakan bayi mengalami asfiksia berat (Montgomery, 2000).

Tabel 2.2 Tabel interpretasi skor APGAR

Jumlah Skor Interpretasi Catatan

7-10 Normal -

4-6 Asfiksia ringan

Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lender yang menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen untuk membantu bernapas.

0-3 Asfiksia beratMemerlukan tindakan medis yang lebih intensif.

Sumber : Prawirohardjo, 2002

2.2 Asfiksia

9

2.2.1 Pengertian asfiksia

Menurut Hidayat (2009) Asfiksia neonatorum merupakan suatu kondisi

dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir

(Hidayat, 2009). Asfiksia adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas

spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan kadar oksigen dan terjadinya

peningkatan karbon dioksida yang dapat menimbulkan akibat buruk dalam

kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2007).

2.2.2 Penyebab asfiksia

Angka kematian perinatal yang tinggi pada preeklamsia disebabkan oleh

asfiksia, berat badan lahir rendah (BBLR), dan infeksi. Asfiksia bisa terjadi

karena gangguan perfusi uteroplasenter akibat vasospasme dan kerusakan arteri

spiralis. Untuk mengetahui derajat atau tingkat asfiksia pada bayi BBLR dapat

ditentukan dengan menggunakan penilaian skor APGAR (Kawuryan, 2004).

2.2.3 Etiologi dan faktor risiko asfiksia

Ada beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan

gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi

menjadi berkurang yang mengakibatkan hipoksia bayi di dalam rahim dan dapat

berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir, diantaranya adalah :

1. Faktor ibu

a. Preeklamsia dan eklamsia

b. Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)

c. Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

d. Partus lama

10

e. Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus

mengganggu sirkulasi darah ke plasenta

f. Perdarahan banyak: plasenta previa dan solutio plasenta

2. Faktor Tali Pusat

a. Lilitan tali pusat

b. Tali pusat pendek

c. Simpul tali pusat

d. Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi

a. Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

b. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu,

ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)

c. Kelainan bawaan (kongenital)

d. Air ketuban bercampur mekonium (Gomella, 2009).

2.2.4 Patofisiologi asfiksia pada preeklamsia

Ibu yang mengalami preeklamsia cenderung akan melahirkan bayi yang

asfiksia. Disfungsi endotel akan mengakibatkan gangguan keseimbangan antara

kadar hormon vasokostriktor (endotelin, tromboksan, angiotensin) dan vasodilator

(nitrioksida, prostasiklin). Vasokontriksi yang meluas menyebabkan hipertensi.

Vasokontriksi yang terjadi pada ginjal mengakibatkan peningkatan plasma protein

pada membran basalis glomerulus yang akan menyebabkan terjadinya proteinuria

(Cunningham, 2005).

11

Vasokonstriksi pembuluh darah mengakibatkan kurangnya suplai darah ke

plasenta sehingga terjadi hipoksia janin. Akibat lanjut dari hipoksia janin adalah

gangguan pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida sehingga terjadi

asfiksia neonatorum.

Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama

kemudian disusul dengan pernapasan teratur dan tangisan bayi. Proses

perangsangan pernapasan ini dimulai dari tekanan mekanik pada persalinan,

disusul dengan keadaan penurunan tekanan oksigen arterial dan peningkatan

tekanan karbondioksida arterial, sehingga sinus karotikus terangsang untuk

terjadinya proses bernapas. Bila bayi mengalami hipoksia akibat suplai oksigen ke

plasenta menurun karena efek hipertensi dan proteinuria sejak intrauterin, maka

saat persalinan maupun pasca persalinan bayi berisiko asfiksia (Winkjosastro,

2007).

2.2.5 Klasifikasi klinis asfiksia

Menurut Mochtar (1998), klasifikasi klinis asfiksia dibagi dalam 2 macam,

yaitu sebagai berikut :

1. Asfiksia Livida yaitu asfiksia yang memiliki ciri meliputi warna kulit

kebiru-biruan, tonus otot masih baik, reaksi rangsangan masih positif,

bunyi jantung reguler, prognosis lebih baik

2. Asfiksia Pallida yakni asfiksia dengan ciri meliputi warna kulit pucat,

tonus otot sudah kurang, tidak ada reaksi rangsangan, bunyi jantung

irreguler, dan prognosis jelek.

12

2.2.6 Diagnosis asfiksia

Menurut Saifuddin, (2002), asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya

merupakan kelanjutan dari hipoksia janin. Diagnosis hipoksia dapat ditegakkan

ketika dalam persalinan ditemukan adanya tanda-tanda gawat janin. Ada beberapa

hal yang perlu mendapat perhatian :

a. Denyut jantung janin

Frekuensi normal denyut jantung janin adalah antara 120 sampai

160x/menit. Selama his, frekuensi tersebut bisa turun, tetapi setelah his

dapat kembali lagi ke keadaan semula. namun apabila frekuensi turun

sampai dibawah 100x/ menit setelah his dan terlebih lagi tidak teratur, hal

tersebut merupakan tanda bahaya.

b. Pemeriksaan darah janin

Dengan menggunakan amnioskop, darah janin tersebut diperiksa kadar

pH, adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Kelahiran yang

menunjukan tanda-tanda gawat janin dan pH <7,2 kemungkinan akan

disertai dengan asfiksia neonatorum. Oleh karena itu perlu diadakan

persiapan untuk menghadapi keadaan tersebut jika terdapat asfiksia.

Tingkatannya perlu diketahui untuk melakukan tindakan resusitasi yang

sempurna. Hal tersebut diketahui dengan penilaian menurut skor APGAR.

13

2.3 Persalinan

2.3.1 Pengertian persalinan

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau

dengan jalan lain (Mochtar, 1998).

2.3.2 Sebab - sebab yang menimbulkan persalinan

Penyebab terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, yang ada

hanyalah merupakan teori-teori yang komplek antara lain dikemukakan faktor-

faktor humoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf, dan

nutrisi.

1. Teori penurunan hormon : 1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi

penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja

sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan

kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron

turun.

2. Teori plasenta menjadi tua : akan menyebabkan turunnya estrogen dan

progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan

menimbulkan kontraksi rahim.

3. Teori distensi rahim : rahim yang menjadi besar dan merenggang

menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi

utero-plasenter.

14

4. Teori iritasi mekanik : dibelakang serviks terletak ganglion servikale

(fleksus Frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya

oleh kepala janin, maka akan timbul kontraksi uterus.

2.3.3 Jenis-Jenis persalinan

a. Persalinan biasa (normal) disebut juga persalinan spontan, adalah proses

lahirnya bayi dari jalan lahir dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-

alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang

dari 24 jam

b. Persalinan luar biasa (abnormal) ialah persalinan dengan bantuan alat-alat

atau melalui dinding perut dengan operasi sesarea (Mochtar, 1998).

2.4 Persalinan Normal

2.4.1 Pengertian persalinan normal

Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya

bayi dari jalan lahir dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak

melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam (Mochtar,

1998).

2.4.2 Faktor-faktor persalinan normal

Persalinan normal dapat berlangsung karena adanya kerja sama ketiga

faktor penting berikut ini :

1. Power :

a. Kekuatan his

b. Kekuatan mengejan.

15

2. Passage :

a. Jalan lahir tulang

b. Jalan lahir lunak.

3. Passenger :

a. Janin, plasenta, dan selaput ketuban.

Selain itu terdapat dua faktor lainnya yang ikut menentukan kelangsungan

persalinan, yaitu :

4. Faktor psikologis pasien

a. Penerimaan pasien atas kehamilannya (kehamilan yang dikehendaki

atau tidak dikehendaki)

b. Penerimaan pasien terhadap petunjuk dan persiapannya untuk

menghadapi persalinan

c. Kemampuaannya untuk bekerja sama dengan pemimpin/penolong

persalinannya

d. Adaptasi pasien terhadap rasa nyeri persalinan.

2.4.3 Mekanisme persalinan normal

Persalinan letak belakang kepala menempati jumlah terbanyak dalam

sejarah persalinan, sehingga sangat penting diketahui sebagai dasar dalam

menyelesaikan persalinan dan untuk memecahkan masalah kemacetan persalinan

(distosia).

Persalinan letak belakang kepala, yang disebut dengan persalinan eutosia,

mempunyai gerakan utama sebagai berikut :

1. Turunnya (masuknya) kepala janin ke Pintu Atas Panggul (PAP)

16

2. Fleksi kepala janin

3. Putaran paksi dalam

4. Defleksi kepala janin

5. Ekstensi kepala janin

6. Ekspulsi.

Penjelasan gerakan janin dalam persalinan adalah sebagai berikut :

1. Turunnya kepala Janin

Turunnya kepala dikenal dalam dua bentuk :

a. Masuknya kepala (engagement)

Pada primigravida, hal ini sudah terjadi pada minggu ke -36. Proses ini

disebabkan oleh kontraksi braxton Hicks, ketegangan pada dinding

abdomen dan ligamentum rotundum. Pada multigravida, proses ini terjadi

karena his persalinan

b. Majunya kepala janin (decent)

Terjadi karena his persalinan diikuti dengan mekanisme persalinan

kepala.

2. Fleksi kepala janin

Proses majunya kepala janin disebabkan oleh :

a. Tekanan air ketuban (yaitu mencari tempat yang lemah)

b. Tekanan langsung bokong pada kepala janin

c. Kontraksi yang dominan pada fundus uteri

d. Mengecilnya volume uterus

e. Perubahan bentuk badan janin

17

f. Kekuatan mengejan.

3. Putaran paksi dalam

Putaran paksi dalam merupakan upaya kepala janin untuk menyesuaikan

diri dengan jalan lahir sehingga hipomoklion berada dibawah simfisis.

4. Defleksi kepala janin

Dimulai dengan suboksipitalis berada dibawah simfisis yang berfungsi

sebagai hipomoklion, disertai dengan kekuatan his dan mengejan, maka terdapat

peluang proses defleksi, dan berturut-turut lahir ubun-ubun besar (UUB), dahi,

mata, hidung, mulut, dan dagu. Dengan demikian sebagian besar kepala janin

telah lahir.

5. Ekstensi kepala

Setelah sebagian besar kepala janin keluar, kekuatan persalinan

selanjutnya akan menyebabkan ekstensi kepala, hingga seluruh kepala lahir.

Bersama dengan lahirnya seluruh kepala janin, bahu janin masuk ke jalan lahir

dalam posisi depan-belakang.

6. Putaran paksi luar

Dengan masuknya bahu ke jalan lahir dalam posisi depan-belakang, kepala

janin menyesuaikan diri, sehingga oksipitalis kembali ke posisinya, sederet

dengan posisi tulang belakang.

7. Ekspulsi (persalinan badan janin)

Dengan masuknya bahu janin ke jalan lahir dengan posisi depan-belakang,

maka bahu depan bertindak sebagai hipomoklion. Bahu belakang lahir terlebih

18

dahulu, diikuti bahu depan, sehingga kedua bahu anak lahir. Persalinan sisa badan

janin tidak mengalami kesulitan (Manuaba, 2001).

2.4.4 Proses persalinan normal

Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu :

Kala I : waktu untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10

cm

Kala II : kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his ditambah

kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir

Kala III : waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta

Kala IV : mulai dari lahirnya plasenta selama 1 – 2 jam.

1. Kala I (Kala pembukaan)

Inpartu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah

(blood show), karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar

(effacement). Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis

servikalis karena pergeseran, ketika serviks mendatar dan terbuka.

Kala pembukaan dibagi atas 2 fase, yaitu :

1. Fase laten : dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai

pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7 – 8 jam.

2. Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase

a. Periode akselerasi : berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 4 cm

b. Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pembukaan

berlangsung cepat menjadi 9 cm

19

c. Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam

pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.

2. Kala II

Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama.

Kira -kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul

sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris

menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada rektum, ibu merasa seperti

mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin

mulai kelihatan, vulva membuka dan perinium meregang. Dengan his mengedan

yang terpimpin, akan lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh badan janin.

3. Kala III (kala pengeluaran plasenta)

Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar, uterus teraba keras

dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2x

sebelumnya. Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan pengeluaran

plasenta. Dalam waktu 5-10 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke dalam

vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simpisis atau

fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.

Pengeluaran plasenta disertai dengan darah kira-kira 100 – 200 cc.

4. Kala IV

Adalah kala pengawasan selama satu jam setelah bayi dan plasenta lahir

untuk mengamati ibu terutama terhadap bahaya perdarahan postpartum (Mochtar,

1998).

20

2.5 Seksio Sesaria

2.5.1 Pengertian seksio sesaria

Suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada

dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas

500 gram (Prawirohardjo, 2007).

2.5.2 Macam – macam seksio sesarea

1. Seksio sesarea klasik menurut Sanger

lebih mudah dimulai dari insisi segmen bawah rahim, dengan indikasi :

a. Seksio sesarea yang diikuti dengan sterilisasi

b. Terdapat pembuluh darah besar sehingga diperkirakan akan terjadi

robekan segmen bawah rahim dan perdarahan

c. Pada letak lintang

d. Kepala bayi telah masuk pintu atas panggul

e. Grande multipara yang diikuti dengan histerektomi

kelebihan operasi seksio sesarea klasik menurut Sanger yaitu mudah

dilakukan karena lapangan operasi relatif luas.

Kekurangan :

a. Kesembuhan luka operasi relatif sulit

b. Kemungkinan terjadinya ruptura uteri pada kehamilan berikutnya lebih

besar

c. Kemungkinan terjadinya perlekatan dengan dinding abdomen lebih

besar (Manuaba, 1995).

21

2. Seksio sesarea ismika (profunda)

Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen

bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.

Kelebihan :

a. Penjahitan luka lebih mudah

b. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik

c. Tumpang tindih dari peritoneal flat baik sekali untuk menahan

penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum

d. Perdarahan kurang

e. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan

kurang atau lebih kecil.

Kekurangan :

a. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat

menyebabkan uterine putus dan terjadi perdarahan hebat

b. Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.

3. Seksio sesarea ekstraperitonealis

Seksio sesaria tanpa membuka peritoneum paretalis, dengan demikian

tidak membuka kavum abdominal (Mochtar, 1998).

2.5.3 Indikasi seksio sesarea

Dalam persalinan ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan

suatu persalinan yaitu jalan lahir, janin, kekuatan ibu, psikologi ibu dan penolong.

Apabila terdapat salah satu gangguan pada salah satu faktor tersebut akan

mengakibatkan persalinan tidak berjalan dengan lancar bahkan dapat

22

menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin (Mohctar,

1998).

Operasi seksio sesarea dilakukan jika kelahiran pervaginam mungkin akan

menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin. Indikasi dilakukannya seksio

sesarea adalah :

1. Indikasi ibu

Secara terperinci ada beberapa indikasi medis seorang ibu yang harus

menjalani seksio sesarea yaitu:

a. Jika panggul sempit, sehingga besar anak tidak proporsional dengan

indikasi panggul ibu (disporsi). Oleh karena itu, penting untuk

melakukan pengukuran panggul pada waktu pemeriksaan kehamilan

awal. Dengan tujuan memperkirakan apakah panggul ibu masih dalam

batas normal

b. Pada kasus gawat janin akibat terinfeksi misalnya, kasus ketuban pecah

dini (KPD)

c. Pada kasus ibu mengalami preeklamsia/eklamsia, sehingga janin

terpengaruh akibat komplikasi ibu

d. Pada kasus plasenta terletak dibawah yang menutupi ostium uteri

internum (plasenta previa), biasanya plasenta melekat di bagian tengah

rahim. Akan tetapi pada kasus plasenta previa menutupi ostium uteri

internum

e. Pada kasus kelainan letak, jika posisi anak dalam kandungan letaknya

melintang dan terlambat diperiksa selama kehamilan belum tua

23

f. Jika terjadi kontraksi yang lemah dan tidak terkordinasi, hal ini

menyebabkan tidak ada lagi kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari

rahim

g. Jika ibu mempunyai riwayat persalinan sebelumnya adalah seksio

sesarea maka persalinan berikutnya umumnya harus seksio sesarea

karena takut terjadi robekan rahim. Namun sekarang, teknik seksio

sesarea dilakukan dengan sayatan dibagian bawah rahim sehingga

potongan pada otot rahim tidak membujur lagi. Dengan demikian

bahaya rahim robek akan lebih kecil dibandingkan dengan teknik seksio

sesarea dulu yang sayatan dibagian tengah rahim dengan potongan yang

bukan melintang (Cunningham, et,al 2006)

h. Partus lama (prolonged labor)

i. Partus tak maju (obstructed labor)

2. Malpresentasi janin :

a) Letak lintang :

Greenhill dan Eastman sama-sama sependapat bahwa :

a. Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea adalah cara terbaik

dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa

b. Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong dengan seksio

sesarea, walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit

c. Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan cara-

cara lain.

24

b) Letak bokong :

Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :

a. Panggul sempit

b. Primigravida

c. Janin besar dan berharga.

c) Gemelli, menurut Eastman seksio sesarea dianjurkan :

a. Bila janin pertama letak lintang atau persentasi bahu (shoulder

presentation)

b. Distosia oleh karena tumor

c. Gawat janin (Mochtar, 1998).

3. Indikasi sosial

Selain indikasi medis terdapat indikasi nonmedis untuk melakukan seksio

sesarea yaitu indikasi sosial. Persalinan seksio sesarea karena indikasi sosial

timbul karena adanya permintaan pasien walaupun tidak ada masalah atau

kesulitan untuk melakukan persalinan normal. Indikasi sosial biasanya sudah

direncanakan terlebih dahulu untuk dilakukan tindakan seksio sesarea

(Cunningham, et,al 2006).

2.5.4 Kontraindikasi seksio sesarea

Kontraindikasi seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu

maupun untuk kepentingan anak, oleh sebab itu, seksio sesarea tidak dilakukan

kecuali tidak dalam keadaan terpaksa. Seksio sesarea tidak boleh dilakukan pada

kasus-kasus seperti ini:

25

a. Janin sudah mati dalam kandungan. Dalam hal ini dokter memastikan

denyut jantung janin tidak ada lagi, tidak ada lagi gerakan janin anak

dan dari pemeriksaan USG untuk memastikan keadaan janin

b. Janin terlalu kecil untuk mampu hidup diluar kandungan

c. Terjadi infeksi dalam kehamilan

d. Anak dalam keadaan cacat seperti Hidrocefalus dan anecepalus

(Cunningham, et,al 2006).

2.5.5 Komplikasi seksio sesarea

a) Infeksi puerperal (nifas)

a. Ringan, dengan kenaikan suhu beberapa hari saja

b. Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi

dan perut sedikit kembung

c. Berat, dengan peritonitis, sepsis, dan ileus paralitik. Hal ini sering

dijumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi

infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.

b) Perdarahan, disebabkan karena :

a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

b. Atonia uteri

c. Perdarahan pada placental bed

d. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila

reperitonialisasi terlalu tinggi

e. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang

(Mochtar, 1998).

26

2.6 Preeklamsia

2.6.1 Pengertian preeklamsia

Preeklamsia adalah sindrom klinis yang ditandai dengan hipertensi dan

proteinuria selama trimester kedua kehamilan (Powell, Levine & Karumanchi,

2011). Preeklamsia mencakup banyak hal, menyerang banyak organ yang

berhubungan dengan proses penyakit mencapai 5-8% pada kehamilan setelah 20

minggu. Tampilan klinis sangat bervariasi tetapi umumnya didapatkan kombinasi

hipertensi dan proteinuria (Turner, 2010).

2.6.2 Epidemiologi preeklamsia

Secara global jumlah kematian ibu akibat preeklamsia mencapai 10-15%.

Di amerika serikat, preeklamsia merupakan penyebab kematian ibu ketiga dengan

jumlah kematian ibu 54 orang dari 540 kematian ibu pada tahun 2004 (Turner,

2010).

Indonesia memiliki frekuensi kejadian preeklampsia sekitar 3-10%.

Berdasarkan data di RSU Dr. Soetomo, kejadian preeklamsia tercatat 30 hingga

50 kasus per tahunnya. Dengan prevalensi 1,08%, angka kejadian preeklamsia ini

lima kali lebih tinggi daripada angka kejadian di Bangkok dan 10 kali lebih besar

dari Singapura (Dachlan, 2008).

Provinsi Aceh sendiri berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh

Mayang Sari di Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh tahun 2012 didapatkan jumlah

pasien yang mengalami preeklamsia berjumlah 63 orang (30%) dan pada tahun

2013 dari bulan Januari sampai dengan bulan Mei didapatkan pasien dengan

kejadian preeklamsia berjumlah 35 orang (20%) (Sari, 2012).

27

2.6.3 Faktor risiko preeklamsia

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan sejumlah faktor yang

mempengaruhi terjadinya preeklamsia. Walaupun belum ada teori yang pasti yang

berkaitan dengan dengan terjadinya preeklamsia. Faktor risiko tersebut meliputi :

1. Riwayat preeklamsia

Seseorang yang mempunyai riwayat preeklamsia atau riwayat keluarga

dengan preeklamsia maka akan meningkatkan risiko terjadinya

preeklamsia

2. Primigravida

Pada primigravida pembentukan antibodi penghambat (blocking

antibodies) belum sempurna sehingga meningkatkan risiko terjadinya

preeklamsia. Perkembangan preeklamsia semakin meningkat pada umur

kehamilan pertama dan kehamilan dengan umur yang ekstrim, seperti

terlalu muda atau terlalu tua

3. Kegemukan

4. Kehamilan ganda

Preeklampsia lebih sering terjadi pada wanita yang sedang hamil bayi

kembar atau lebih

5. Riwayat penyakit tertentu

Wanita yang mempunyai riwayat penyakit tertentu sebelumnya, memiliki

risiko terjadinya preeklampsia. Penyakit tersebut meliputi hipertensi

kronik, diabetes, penyakit ginjal atau penyakit degeneratif (Mochtar, 1998)

28

2.6.4 Diagnosis preeklamsia

1. Preeklamsia ringan

a. Tekanan darah absolut 140/90 mmHg atau kenaikan sistolik 30 mmHg

dan diastolik 15 mmHg

b. Edema ringan

c. Kenaikan BB 1 kg/minggu

d. Proteinuria kuantitatif diatas 0,3 gr/24 jam atau kualitatif 1+ s/d 2+

pada kateter atau midstream.

2. Preeklamsia berat

a. Tekanan darah 160/110 mmHg

b. Edema umum dan paru disertai sesak dan sianosis

c. Proteinuria di atas 5 gr/24 jam atau kualititatif 3+ s/d 4+

d. Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di

epigastrium

e. Oliguria, air kencing kurang dari 500 cc/24 jam (Manuaba, 2001).

2.6.5 Penatalaksanaan preeklamsia

Tujuan utama penanganan preeklampsia adalah mencegah terjadinya

preeklamsia berat atau eklamsia, dan dapat melahirkan janin yang hidup dan

melahirkan janin dengan trauma yang sekecil-kecilnya (Wiknjosastro, 2006).

1. Preeklamsia ringan

Istirahat di tempat tidur merupakan terapi utama dalam penanganan

preeklamsia ringan. Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh menyebabkan

aliran darah ke plasenta dan aliran darah ke ginjal meningkat, tekanan vena pada

29

ekstrimitas bawah juga menurun dan reabsorpsi cairan di daerah tersebut juga

bertambah. Selain itu dengan istirahat di tempat tidur mengurangi kebutuhan

volume darah yang beredar dan juga dapat menurunkan tekanan darah dan

kejadian edema. (Wiknjosastro, 2006).

2. Preeklamsia berat

Pada preeklamsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam. Jika seksio

sesarea akan dilakukan, anestesi yang aman/terpilih adalah anastesi umum. Tidak

harus dilakukan anastesi spinal, karena anestesi spinal berhubungan dengan

hipotensi (Cunningham, 2005). Pada pasien preeklamsia berat segera harus diberi

sedativa yang kuat untuk mencegah timbulnya kejang. Sebagai pengobatan untuk

mencegah timbulnya kejang dapat diberikan larutan magnesium sulfat 40%

sebanyak 10 ml disuntikan intramuskular pada bokong kiri dan kanan sebagai

dosis permulaan. Pemberian dapat diulang dengan dosis yang sama dalam rentang

waktu 6 jam menurut keadaan pasien. Tambahan magnesium sulfat hanya dapat

diberikan jika diuresis pasien baik, refleks patella positif dan frekuensi pernafasan

lebih dari 16 kali/menit. Obat ini memiliki efek menenangkan, menurunkan

tekanan darah dan meningkatkan diuresis. Selain magnesium sulfat pasien dengan

preeklamsia dapat juga diberikan klorpromazin dengan dosis 50 mg secara

intramuskular ataupun diazepam 20 mg secara intramuskular (Wiknjosastro,

2006).

2.6.6 komplikasi preeklamsia

Preeklamsia dapat menyebabkan kelahiran awal atau komplikasi pada

neonatus berupa prematuritas. Risiko fetus diakibatkan oleh insufisiensi plasenta

30

baik akut maupun kronis. Pada kasus berat dapat ditemui fetal distress baik pada

saat kelahiran maupun sesudah kelahiran (Pernoll, 1987). Komplikasi yang sering

terjadi pada preeklamsia berat adalah :

a. Solusio plasenta. Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang

menderita hipertensi akut

b. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian

maternal

c. Kelainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara yang

berlangsung selama seminggu dapat terjadi. Perdarahan kadang-

kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat dan akan

terjadi apopleksia serebri.

d. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada pasien preeklampsia-

eklampsia diakibatkan vasospasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel

hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati

e. Kelainan ginjal. Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus berupa

pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan

struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai

gagal ginjal

f. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intrauterin

g. Komplikasi lain berupa lidah tergigit, trauma dan fraktur karena

terjatuh akibat kejang, aspirasi pneumonia (Wiknjosastro, 2006).

31

2.6.7 Pencegahan preeklamsia

Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-

tanda dini preeklamsia, dalam hal ini harus dilakukan penanganan preeklamsia

tersebut. Walaupun preeklamsia tidak dapat dicegah seutuhnya, namun frekuensi

preeklamsia dapat dikurangi dengan pemberian pengetahuan dan pengawasan

yang baik pada ibu hamil.

Pengetahuan yang diberikan berupa tentang manfaat diet dan istirahat yang

berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring, dalam hal ini

yaitu dengan mengurangi pekerjaan sehari-hari dan dianjurkan lebih banyak

duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam

dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan sangat dianjurkan. Mengenal

secara dini preeklamsia dan merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan

obat antihipertensi merupakan manfaat dari pencegahan melalui pemeriksaan

antenatal yang baik dan teratur (Wiknjosastro, 2006).