of 30 /30
ASKEP POST OPERASI SEKSIO SESAREA ATAS INDIKASI PLASENTA PREVIA A. Konssep Dasar Puerpurium 1. Definisi Nifas Nifas adalah waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil.( Hellen Farrer , 2000:225 ) Nifas adalah waktu penyembuhan dan perubahan , waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru ( Persis Mary Hamilton , 1995 :281 ) Nifas adalah masa yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-kira enam minggu dimana seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum hamil ( Sarwono Prawiro Harjo, 1997 : 237 ) 2. Adaptasi Fisiologi Dan Psikologis Ibu Post Partum a. Adaptasi fisiologis Pada masa pertumbuhan terjadi perubahan-perubahan fisiologis, yaitu : 1) Tanda-tanda vital Setelah persalinan 24 jam pertama suhu badan bisa meningkat tetapi bila kenaikan tubuhn lebih dari 38 0 C dan berlangsung berturut-turut selama 2 hari, kemungkinan ada tanda-tanda infeksi. Bradikardi umumnya ditemukan pada 6-8 jam pertama setelah melahirkan, nadi antara 50–70 kali permenit dianggap normal tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali. 2) Uterus Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat segera setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri + 2 jari di bawah pusat pada hari ke 5

Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Embed Size (px)

DESCRIPTION

askep sc

Citation preview

Page 1: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

ASKEP POST OPERASI SEKSIO SESAREA ATAS INDIKASI

PLASENTA PREVIA

A.      Konssep Dasar Puerpurium1.         Definisi Nifas

Nifas adalah waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada

keadaan tidak hamil.( Hellen Farrer , 2000:225 )

Nifas adalah waktu penyembuhan dan perubahan , waktu kembali pada keadaan

tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru ( Persis Mary

Hamilton , 1995 :281 )Nifas adalah masa yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir kira-kira enam minggu dimana seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum hamil ( Sarwono Prawiro Harjo, 1997 : 237 )

2.    Adaptasi Fisiologi Dan Psikologis Ibu Post Partum

a.       Adaptasi fisiologis

Pada masa pertumbuhan terjadi perubahan-perubahan fisiologis, yaitu :

1)      Tanda-tanda vital

Setelah persalinan 24 jam pertama suhu badan bisa meningkat tetapi bila kenaikan

tubuhn lebih dari 380 C dan berlangsung berturut-turut selama 2 hari, kemungkinan

ada tanda-tanda infeksi. Bradikardi umumnya ditemukan pada 6-8 jam pertama

setelah melahirkan, nadi antara 50–70 kali permenit dianggap normal tekanan

darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali.

2)      Uterus

Setelah janin dilahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat segera setelah plasenta

lahir tinggi fundus uteri + 2 jari di bawah pusat pada hari ke 5 post partum uterus

kurang lebih 7 cm diatas simpisis pubis, setelah 12 hari uterus tidak teraba lagi,

dan sesudah enam minggu ukurannya sudah kembali seperti semula.

3)      LocheaAdalah pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas  (Hellen farrer, 2000 : 226 )Jenis lochea terdiri dari 3 menurut karakteristiknya yaitu :

a)      Lochea Rubra ( hari ke 1-4 )

Page 2: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Terdiri dari sebagian besar darah, desidua dan robekan trobastik dan bakteri.

b)      Lochea Serosa ( hari ke 4-8 )Terdiri dari darah yang sudah tua, serum, lekosit dan jaringan .

c)      Lochea Aiba ( hari ke 8-14 )Jumlahnya sedikit berwarna putih atau sampai tidak berwarna .

4)      ServiksServiks mengalami involusi bersama–sama uterus. Setelah persalinan, oscium eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan . setelah 6 minggu post natal , serviks menutup. Pada klien yang melahirkan pada dengan seksio sesaria tidak terjadi perubahan pada serviks. 

5)      Vulva dan VaginaDalam beberapa hari pertama sesudah post partum kedua organ tersebut tetap berada dalam keadaan kendur, himen mengalami ruptur pada saat melahirkan bayi pervaginam. Pada klien yang melahirkan dengan secsio sesaria tidak terjadi perubahan tersebut .

6)      PeriniumSegera setelah melahirkan, perinium menjadi kendur karena sebelumnya terganggu oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada klien yang melahirkan dengan secsio sesarea perubahan tersebut tidak terjadi.

7)      PayudaraPayudara mengalami maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi payudara akan menjadi besar, kencang dan mula-mula nyeri tekan reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi

8)      Sistem perkemihanFungsi ginjal kembali normal dalam beberapa bulan setelah persalinan dalam 24 jam pertama BAK sulit sehingga kandung kemih penuh dan menekan uterus sehingga mengeras, hal ini menambah ketidak nyamanan pada klien

9)      Sistem PencernaanPada klien post secsio sesaria dengan nekrose umum biasanya dipuasakan , fungsi kolon akan mengalami penurunan karena pengaruh anastesi setelah fungsi dan peristaltik usus kembali normal, maka mulailah pemberian minum dan makanan peroral secara bertahap.

10)   Sistem KardiovaskulerSetelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar ekstrogen, volume darah kembali pada keadaan tidak hamil, tekanan darah menurun akibat volume darah yang berkurang

Page 3: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

11)   Sistem IntegumenKloasma kehamilan sering kali hilang akhir kehamilan, mungkin terdapat hiperpigmentasi ariola dan putting susu terutama pada multipara, linea nigra lebih sering terdapat pada multipara .

12)   Sistem EndokrinSetelah kelahiran terdapat penurunan kadar estrogen dan progesteron, sehingga tidak mengganggu kerja lakto genik prolaktin, ditambah dengan rangsang isap pada puting susu yang dapat mencetuskan peninggian prolaktin. Neuro hifosis mensekresikan oksitosin sehingga merangsang pengeluaran air susu saat ada isapan bayi.

13)   Sistem MuskuloskeletalAdaptasi pada masa ini yaitu terjadi perubahan pusat gravitasi ibu yang disebabkan pembesaran uterus. Stabilisasi sendi secara sempurna terjadi pada 6 sampai 8 minggu setelah persalinan.

b.      Adaptasi Psikologis Post Partum

Ada tiga tahap adaptasi psikologis ibu post partum yaitu :

1)    Tahap I ketergantungan

       Tahap ini terjadi pada hari kesatu dan kedua setelah melahirkan.

2)    Tahap 2 ketergantungan–ketidak tergantungan .       Tahap kedua mulai pada sekitar hari ketiga setelah melahirkan pada minggu

keempat sampai kelima.3)    Tahap 3 saling ketrergantungan       Dimulai sekitar minggu ke-5 sampai dengan melahirkan , sistem  keluarga telah

menyesuaikan diri dengan anggota keluarga yang baru.

3.      Konsep Dasar Seksio Sesaria Dengan Anastesi Umum

a.       Konsep dasar seksio sesarea

1)  Definisi Seksio Sesarea

Seksio sesarea adalah suatun tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan

diatas 500 gram, melalui sayatan dinding uterus yang masih utuh ( Sarwono

Prawiro Harjo, 1997 : 863 )

2)   Indikasi

Indikasi seksio sesarea ada dua yaitu indikasi bagi ibu dan janin

a.       Indikasi pada ibu

Page 4: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

(1) Panggul sempit

(2) Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi.

(3) Preekslamsi dan Hipertensi

(4) Plasenta prefia lokalis dan leteralis

(5) Dis proporsi cevalo pelvik.

(6) Ruptura uteri.

(7) Distorsia

(8) Partus tidak maju

b.      Indikasi janin

(1). Kelainan letak.

(2). Gawat janin.

(3). Janin besar.

3)        Komplikasi Seksio Sesaria

Tindakan secsio sesaria dapat menimbulkan komplikasi yaitu :

a)      Pada ibu

(1)   Infeksi periperal

(2)   Perdarahan

(3)   Pundus uteri

(4)   Luka pada kandung kencing

(5)   Embolisme paru-paru

4)        Jenis-Jenis Operasi Secsio Sesaria

a)      Secsio sesaria ismika

Yaitu dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim.

Kelebihan :

-          Penjahitan lebih mudah

-          Penutupan luka dengan riferitonealisasi yang baik

-          Perdarahan kurang

-          Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri sepontan kurang atau

lebih ringan

Kekurangan :

-          Luka dapat melebar kekiri dan kekanan serta kebawah sehingga dapat

menyebabkan arteri uterina putus sehingga terjadi pendarahan yang banyak

-          Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi

b)      Secsio sesaria ekstra peritoneal

Yaitu tanpa membuka peritonium parietalis, dengan membuka kavum abdominalis.

Page 5: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Kelebihan :

-          Mengeluarkan janin lebih cepat

-          Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik

-          Sayatan bisa diperpanjang atau diatas

Kekurangan :

-          Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena reperitonial yang baik

-          Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan

b.      Anastesi yang digunakan pada secsio sesaria

Anastesi adalah suatu tindakan untuk menghilangkan kesadaran disertai hilangnya

rasa sakit yang sifatnya sementara

1)      Jenis anastesi umum

-          Anastesi inhalasi

-          Anastesi intravena

-          Anastesi rektal

2)      Tehnik anastesi

-          Metode tetes terbuka

-          Metode spora tertutup

-          Metoda tertutup

-          Intubasi tracheal

3)      Komplikasi dan efek samping

-          Gangguan pernafasan

-          Kerja jantung berhenti

-          Turgor distasi : Suatu keadaan keluarnya isi lambung ke faring tanpa adanya

tanda-tanda

-          Muntah

-          Pendarahan

-          Reaksi toksik iskemik

-          Sakit kepala dan keluhan neurologi post anastesi

-          Komplikasi durameter : Jarum atau kateter anastesi bisa menembus kantong dura

meter atau pembuluhnya.

-          Komplikasi pada janin

1) Oksigenasisasi pada janin terganggu

Page 6: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

2) Pengaruh obat-obatan yang melewati urin

4)      Konsep dasar plasenta previa

a.     Pengertian

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abdormal, yaitu pada segmen

bawaan uterus bawaan uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh

permukaan jalan lahir ( Sarwono Prawiroharjo, 2002: 365 ).

b.    Klasifikasi plasenta previa

Didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada

waktu tertentu.

1)      Plasenta Previa Totalis

Apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.

2)      Plasenta Previa Parsialis

Apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.

3)      Plasenta Previa Marginalis.

Apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir plasenta berada tepat pada

pinggir pembukaan

4)      Plasenta Letak Rendah

Plasenta yang letaknya abnormal pada sigmen bawah uterus akan tetapi belum

sampai menutupi jalan lahir.

c.     Etiologi

1)        Vaskularisasi yang berkurang, atau perubahan atrofi pada desidua  akibat

persalinan yang lampau

2)        Sebagian besar pada penderita dengan parietas tinggi

3)        Kehamilan kembar

4)        Primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun.

d.      Tanda dan gejala plasenta previa

1)      Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri

2)      Perdarahan terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa

3)      Perdarahan biasanya tidak banyak

4)      Darah bewarna merah segar

5)      Sering  dikatakan terjadi pada triwulan ketiga

e.       Penanganan pada plasenta previa

Page 7: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Prinsip dasar penanganan, setiap ibu dengan perdarahan antepartum harus segera

dikirim kerumah sakit yang memiliki fasilitas melakukan tranfusi darah dan

operasi.

1)      Penanganan pasif

Penanganan pasif pada beberapa kasus plasenta previa yang janinnya masih

prematur dan perdarahannya tidak berbahaya sehingga tidak diperlukan tindakan

pengakhiran kehamilan segera.

2)      Memilih cara persalinan

a)      Persalinan pervaginam

Pemecahan selaput ketuban adalah cara yang terpilih untuk melangsungkan

persalinan pervaginam, karena (1)bagian terbawah janin akan menekan plasenta

dan bagian plasenta yang berdarah(2) Bagian plasenta yang berdarah itu dapat

bebas mengikutio rengangan segmen-bawah uterus, sehingga pelepasan plasenta

dari segmen bawah uterus lebih lanjut dapat dihindarkan.

b)      Secsio sesaria

Bertujuan untuk secepatnya mengangkat sumber perdarahan, dengan demikian

memberikan kesempatan kepada uterus untuk berkontruksi menghentikan

perdarahannya, dan untuk menghindarkan perlukaan serviks dan segmen bawah

uterus yang rapuh apabila dilangsungkan persalinan pervaginam

5)        Konsep dasar nifas dengan secsio sesaria

Perawatan nifas selanjutnya bagi ibu harus mencangkup hal-hal berikut :

a.         Analgesia

Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntikan intramuskuler 75 mg

mecriain  setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit

b.        Tanda-tanda vital

       Perlu dievaluasi setiap 4 jam yaitu tekanan darah, pengeluaran urin, dandarah yang

hilang.

c.         Terpi cairan dan diit

       Masa nifas akan di tandai dengan cairan yang tertahan selama kehamilan yang

kemudian jumlah menjadi berlebih pada saat persalinan di selesaikan

d.        Visika urinaria dan usus

       Kateter harus sudah di lepas dari vesika urinaria setelah 0012 jam post operasi atau

pada esok paginya setelah operasi

e.         Ambulasi

Page 8: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

       Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawat dapat

bangun dari tempat tidur sekurang-kurangnya dua kali

f.         Perawatan luka

       Secara normal jahitan di angkat pada hari ke empat

g.        Perawatan payudara

       Pemberian ASI dapat di berikan pada hari ke dua post partum

B.   Konsep Dasar Bayi Baru Lahir

1.         Posture

       Lengan, kaki dalam fleksi yang cukup

2.         Tanda-tanda vital

Pols dapat dilihat dari midclavikula kiri antara intra kostal ke lima, pols apikal

intra kostal ke empat jaraknya 140 kali permenit. Temperatur axiler 370 C,

temperatur stabil usia 8-10 jam setelah melahirkan, respirasi rate 40 kali permenit

3.      Warna kulit

       Bayi harus berwarna merah muda

4.      Antopometri

-       Berat badan

Perempuan berat normalnya : 3400 gram, sedangkan laki-laki : 3500 gram

-       Panjang

Normalnya 50 cm

-       Lingkar kepala

Ukurannya 2 cm kurang dari lingkar dada, jika prematur ukurannya kurang dari 30

cm

-       Lingkar abdomen

Abdomen membesar setelah makan di sebabkan karena otot abdoman longgar

ukuran sama dengan lingkar dada

5.      Kepala

Pada saat palpasi kulit kepala perlu di lihat integumentum chepalhematom yang

terbentuk keras disebabkan karena trauma lahir. Saat di palpasi seluruh saluraan

telah bersatu

6.      Genetalia

Vagina orivisium terbuka dan keluar mukoid, pada laki-laki meatus di ujung penis,

preposium menutupi gians penis, testis pada saat di palpasi turun

7.      Anus

Page 9: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Pada saat inspeksi dan palpasi terdapat satu lubang dengan satu splinter yang baik.

Mengandung mekonium dalam 24 jam setelah lahir

8.      Refleks

-            Refleks moro

       Merupakan tanda adanya koordinasi neuro mokuler tidak ada refleks ini

menunjukan serebral

-            Refleks menggenggam

       Berlangsung pada usia 3 - 4 bulan menurun sampai dengan usia 8 bulan dan masih

dapat di lihat sampai dengan usia 1 tahun

-            Refleks menghisap dan rooting

       Refleks rooting berkaitan dengan menghisap

-            Refleks babinsky

       Terjadi ketika bagian rateral di goreskan dari mulai ke atas sampai dengan

menyilang ke bawah

C.  Konsep Dasar Keperawatan1. Pengkajian

Tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam

pengumpulan berbagai data untuk mengevaluasi  dan meng identifikasi status

kesehatan klien

a.         Pengumpulan data

Data di kumpulkan melalui wawancaran tentang riwayat kesehatan, pengkajian

fisik, pemeriksaan laboratorium. Selain dari klien data juga dapat di peroleh dari

keluarga, orang terdekat pada saat itu, dari masyarakat, atau pun dari perawat

ruangan. Data dasar dapat diperoleh dari klien post operasi seksio sesarea dengan

anastesi umum

1)      Tinjau uang catatan pranatal dan intra operatif serta indikasi kelahiran sesarea

2)      Sirkulasi

Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml

3)      Menunjukan labilitas emosional dari kegembiraan, kekuatan, marah dan menarik

diri

4)      Eliminasi

Kateter urinalisis terpasang : urine jernih pucat, bising usus tidak ada  samar atau

jelas

5)      Makanan dan cairan

Page 10: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Abdomen lunak dan tidak ada distensi.

6)      Neuro sensori

Kerusakan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anastesia, spiral, epidural

7)      Klien mengeluh nyeri dan tidak nyaman

8)      Bunyi paru jelas dan vasikuler

9)      Balutan abdomen tampak sedikit noda, kering, utuh

10)  Pemeriksaan diagnostik

b.      Analisa data

Analisa data pada klien post operasi secsio sesarea menggunakan dasar – dasar

anatomi fisiologi sistem reproduksi. Patofisiologi dari indikasi dilakukannya secsio

sesaria  dengan anestesi umum. Data dasar dari post operasi secsio sesaria diteliti

kembali. Kelompokan berdasarkan kebutuhan psikososial, spirutual, dibandingkan

dengan standar dan dibuat kesimpulan dari kesenjangan tersebut sehingga dapat

disimpulkan masalah yang muncul.

c.       Prioritas masalah

Masalah yang telah ditemukan dari hasil penganalisaan tersebut diperioritaskan

menurut Hierarki maslow, sehingga dapat ditentukan masalah mana yang harus

diatasi terlebih dahulu berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa data yang diperoleh melalui

pengkajian .

a.     Komponen diagnosa keperawatan

1)      Problem ( masalah )

Keadaan pasien, kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang

harusnya terjadi.

2)      Etiologi

Keadaan ini menunjukan penyebab dari masalah kesehatan.

3)      Sigh / symtom

Ciri, tanda dan gejala diperluka untuk merumuskan diagnosa keperawatan.

Page 11: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

b.    Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien secsio sesarea menurut Susan martin tucker.

1)      Nyeri berhubungan dengan kondisi pasca operasi.

2)      Kerusakan perpusi jaringan kardio pulmoner dan perifer berhubungan dengan

interupsi aliran sekunder terhadap imobilitas pasca operasi.

3)      Potensial terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan konstipasi

berhubungan dengan manipulasi atau trauma sekunder terhadap secsio sesarea.

4)      Potensial infeksi berhubungan prosedur pembedahan

5)      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

perawatan melahirkan pasca sesarea

6)      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

prosedur dan perawatan sebelum melahirkan

3. Rencana asuhan keperawatan

Langkah-langkah dalam membuat rencana asuhan keperawatan antara lain:

a.    Nyeri berhubungan dengan kondisi pasca operasi

Kriteria hasil :

1)        Nyeri diminimalkan dan terkontrol

2)        Klien mengungkapkan bahwa dia nyaman

Intervensi:

1)        Antisipasi nyeri dengan metode tambahan penghilang nyeri

Rasional : Merileksasikan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri serta

meningkatkan kenyamanan.

2)        Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat penghilang nyeri dan evaluasi

efeksitasnya.

       Rasional : Analgesik dapat meningkatkan kenyamanan dan memperbaiki status

psikologis dan menghilangkan nyeri.

3)        Berikan tindakan kenyamanan klien seperti perubahan posisi atau menyokong

dengan bantal

Rasional : merelaksasikan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri

meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distrasi yang tidak menyanangkan

Page 12: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

b.      Kerusakan perfusi jaringan kardio pulmoner dan perifer berhubungan dengan

interupsi aliran sekunder sekunder terhadap imobilitas paska operatif

Kriteria hasil : Mempertahankan kontrol pola pernapasaan

Intervensi :

1)   Kaji status pernapasan dan tanda- tanda vital

Rasional : Pada banyak pasien nyeri dapat meningkatkan tekanan darah.

2)   Dokumentasikan dan laporkan terhadap peningkatan frekuensi pernapasan, batuk

non produktif, ronchi, dan rales.

Rasional : Ronchi menandakan tertahannya sekresi dan bunya napas berkurang

selama 24 jam pembedahan

3)   Perhatikan gejala trombosis vena, nyeri betis, bengkak dan hommansign

Rasionalnya : Trombosit vena akan meningkatkan aliran balik vena dan

terbentuknya trombus, hommonsign merupakan tanda dari plebitis

c.       Potensial terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan konstipasi

berhubungan dengan manipulasi atau trauma sekunder terhadap seksio sesarea

Kriteria hasil :

1)      Mendapatkan pola berkemih biasa setelah pengangkatan kateter

2)      Motilitas usus kembali ( bising usus aktif, platus )

3)       Pola eliminasi normal kembali dalam 9 hari post partum

Itervensi :

1)      Ajurkan berkemih setiap 4-6 bila mungkin, yang penuh mengganggu mobilitas

dan involusio uterus dan meningkatkan aliran lochea, distensi yang berlebihan

akan mengakibatkan atonia uteri

Rasional : Kandungkemih yang npenuh mengganggu mobilitas dan invousio uterus

dan meningkatkan aliran lochea, distensai yang berlebihan akan mengakibatkan

atonia uteri

2)      Palpasi abdomen bawah klien mengaluh distensi kandung kemih

Rasional : Pada periode pertama paska partum aliran plasma ginjal tetap tinggi

( meningkat 25% - 50% ) dan mengakibatkan pengisian kandung kemih

3)      Pantau masukan intake dan output cairan

Rasional : Oliguria disebabkan karena kehilangan cairan ketidak adekuatan

penggantian cairan dan efek-efek anti diuretik

d.      Potensial infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan

Kriteria hasil :

1)      Insisi bersih, kering tanpa tanda-tanda dan gejala infeksi

Page 13: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

2)      Involusi uterus lanjut secara normal

Intervensi :

1)   Pantau terhadap peningkatan suhu

Rasional : Demam setelah paska operasi hari ke tiga menunjukan infeksi

peningkatan suhu 38,30 C dalam 24 jam pertama adalah mengidentifikasikan

infeksi

2)   Observasi insisi terhadap tanda-tanda infeksi, kemerahan, nyeri tekan, bengkak

pada sisi insisi disertai keluhan nyeri

Rasionalnya : Tanda-tanda tersebut merupakan tanda-tanda infeksi

3)   Penggantian balutan bila basah

Rasional : Lingkungan lembab merupakan media paling baik untuk pertumbuhan

bakteri, bakteri dapat berpindah melalui aliran kapiler melalui balutan basah ke

luka

4)   Evaluasi tanda-tanda vital terhadap gejala infeksi

     Rasionalnya : Demam, leukositosis, tachikardia menunjukan infeksi peningkatan

suhu sampai 380 C hari ke dua paska partum adalah bermakna

e.       Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

perwatan paska sesaria

Kriteria hasil :

1)      Mengungkapkan pemahaman mengenai kebutuhan individu

2)      Melakukan aktifitas /prosedur dengan benar dan alasan tindakan .

Intervensi :

1)      Berikan penjelasan pada ibu mengenai : perlunya menghindari koitus selama 4-6

minggu. Perawatan payudara bila menyusui, perlunya menghindari duduk dalam

periode lama ,lutut ditekuk , perawatan insisi .

Rasional : Melakukan koitus dapat menyebabkan infeksi, perawatan payudara

dapat melancarkan pengeluaran asi , perawatan insisi dapat mencegah terjadinya

infeksi.

2)      Pentingnya latihan ,tetapi tidak dimulai dengan latihan keras sesuai izin dari

dokter.

Rasional : klien yang telah menjalani sesarea memerlukan bantuan lebih banyak 

f. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

prosedur dan perawatan sebelum melahirkan

Kriteria hasil :

Klien dapat mengungkapkan rasional melahirkan sesar dan dapat bekerja sama

Page 14: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Intervensi :

1)      Berikan informasi akurat dengan istilah sederhana

Rasional : Memberikan informasi dan mengklasifikasi kesalahan konsep

2)       Diskusikan sensasi yang di antisifikasi Skema melahirkan dan periode pemulihan

Rasional : Mengetahui apa yang di rasakan dan apa yang normal yang dapat

membantu masalah yang tidak perlu

4. Implementasi

Implementasi merupakan pelaksanaan dari tercapainya intervensi yang telah di

tetapkan pada tahap ini perawat menerapkan keterampilan, sikap dan pengetahuan

berdasarkan ilmu keperawatan  dan ilmu yang terkait secara terintegrasi.

Komponen dari tahap implementasi adalah tindakan keperawatan mandiri dan

kolaborasi, pendokumentasian tindakan keperawatan dan respon klien terhadap

asuhan keperawatan

5. Evaluasi

Hasil dari tindakan keperawatan diamati dan di bandingkan dengan kriteria hasil

pada tahap perencanaan komponen dari tahap evaluasi adalah : Pencapaian kriteria

hasil, keefektifan terhadap proses keperawatan.

Langkah-langkah dalam evaluasi adalah : Mengumpulkann data baru tentang

pasien, menafsirkan data baru, membandingkan data baru dengan setandar yang

berlaku.Diposkan oleh Kapevi Hatake di 4:37 AM 

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Dasar Penyakit

1.      Definisi

a.       Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus

sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh penbukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 1994).

b.      Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus

sehingga dapat menutupi jalan lahir (Mansjoer, 2001).

Page 15: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

c.       Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding

perut dan dinding rahim (Mansjoer, 2001).

2.      Anatomi fisiologi

Perubahan anatomi fisiologi pada wanita hamil Terjadinya kehamilan Peristiwa prinsip pada

peristiwa terjadinya kehamilan

a.     Pembuahan/ fertilisasi: bertamunya sel telur/ ovum wanita dengan   spermatozoa pria

b.    Pembelahan sel (zigot), hasil pembuahan tersebut

c.     Nidasi/ implantasi zigot tersebut pada dinding selama reproduksi (pada

   keadaan normal: implantasi pada lapisan endometrium dinding kavum        uteri)

d.   Pertumbuhan dan perkembangan xigot-embrio-janin-menjadi bakal individu baru

Kehamilan dipengaruhi berbagai hormone: estrogen, progesterone, human chorionic

gonadotropin (HCG) adalah hormon aktif khusus yang berperan selama awal masa

kehamilan, berfluktualisasi kadarnya selama kehamilan. Terjadi perubahan juga pada

anatomi dan fisiologi organ-organ sistem reproduksi dan organ-organ tubuh lainya, yang

dipengaruhi terutama oleh perubahan keseimbangan hormonal tersebut.

Adapun perubahan pada organ-organ sistem reproduksi sebagai berikut:

1.      Uterus

Uterus membesar primer maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intra uterin.

Esterogen menyebabkan hyperplasia jaringan, progesterone berperan untuk elastisitas/

kelenturan uterus. Tafsiran kasar pembesaran uterus pada perabaan tinggi fundus:

1)      Tidak hamil/ normal sebesar telur ayam (±30 gram)

2)      Kehamilan 8 minggu sebesar telur bebek

3)      Kehamilan 12 minggu sebesar telur angsa

4)      Kehamilan 16 minggu: pertengahan simfisis pusat

5)      Kehamilan 20 minggu: pinggir bawah pusat

6)      Kehamilan 24 minggu: pinggir atas pusat

7)      Kehamilan 28 minggu: sepertiga pusat-xypoid

8)      Kehamilan 32 minggu: pertengahan pusat xypoid

9)      Kehamilan 36-42 minggu sekitar 3 sampai 1 jari dibawah xypoid

Ismus uteri bagian dari servik batas anatomic, menjadi sulit ditentukan pada kehamilan

terisemester I memanjang dan lebih kuat. Pada kehamilan 16 minggu menjadi satu bagian

dengan korpus dan pada kehamilan diatas 32 minggu menjadi segmen bawah uterus.

Vaskularisasi sedikit lapis muscular tipis, mudah rupture, kontraksi minimal lebih berbahaya

jika lemah, dapat rupture, mengancam nyawa janin dan nyawa ibu. Servik uteri mengalami

hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan perlunakan akibat progesterone (> tanda

hegar), warna menjadi livide/ kebiruan, sekresi lender serviks meningkat pada kehamilan

memberikan gejala keputihan.

2.      Vagina/ vulva

Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh oksigen dan progesterone, warna merah

kebiruan (tanda Chadwick).

3.      Ovarium

Page 16: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Sejak kehamilan 16 minggu fungsi diambil oleh plasenta terutama fungsi reproduksi dan

esterogen. Selama kehamilan ovarium tenang/ beristirahat, tidak terjadi pembentukan dan

pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi

4.      Payudara

Akibat pengaruh esterogen terjadi hyperplasia system duktus dan jaringan intertisial

payudara. Hormone laktogenik plasenta (diantaranya somatommotropin menyebabkan

hipertropi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta mengingkatkan produksi zat-zat

kasein laktoalbumin, laktoglobulin sel-sel lemak, kolostrum. Mamae membesar dan tegang

terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar montmogeri, terutama daerah aerola dan

papilla akibat pengaruh melanopor. Putting susu membesar dan menonjol (beberapa

kepustakaan tidak memasuki payudara dalam system reproduksi wanita yang dipelajari

dalam ginekologi). Peningkatan berat badan selama hamil normal berat badan meningkat

sekitar 6-16 kilogram, terutama dari pertumbuhan isi konsepsi dan volume berbagai organ/

cairan intra uterin.

Berat janin + 2,5-3,5 kilogram, berat palsenta + 0,5 kilogram, cairan amnion + 1,0 kilogram,

berat uterus + 1.0 kilogram, penambahan volume sirkulasi maternal 1,5 kilogram,

pertumbuhan mamae + 1 kilogram, penumpukan cairan intertisial di pelvis dan ekstremitas +

1.001,5 kilogram.

Gejala dan tanda yang dapat mengarah diagnosis adanya kehamilan:

1)      Amenorea (sebenarnya bermakna jiak 3 bulan atau lebih)

2)      Pembesaran uterus (tampak disertai pembesaran perut atau pada kehamilan muda

diperiksa dengan palpasi)

3)      Adanya kontraksi uterus pada palpasi (Braxton-Hicks)

4)      Teraba atau terasa gerakan janin pada palpasi atau tampak padaimaging

5)      Terdengan jantung janin (dengan alat Laennec/ dopller) atau visual tampak jangtung pada

imaging (Fetal ultrasound choscopy).

6)      Teraba bagian tubuh janin pada palpasi/ Leopold atau tampak pada imaging (ultrasonografi)

7)      Perubahan serviks uterus (chad wick/ hegar sign)

8)      Kurva suhu tubuh meningkat

9)      Tes urine B-HCG (pack’s test/ gallimianini) positif

10)  Titer B-HCG meningkat pada kehamilan sekitar 90 hari kemudian menurun seperti awal

kehamilan bahkan dapat sampai tidak terdeteksi

11)  Perasaan mual dan muntah berulang, morning sickness

12)  Perubahan payudara

13)  Poliuria

(www.wordpress.com)

3.      Etiologi

Adapun etiologi pada plasenta previa yaitu sebagai berikut:

Page 17: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

a.    Belum diketahui pasti

b.    Frekuensi plasenta previa meningkat pada grade multipara

c.    Primigravida tua

d.   Bekas seksio sesarea

e.    Bekas aborsi

f.     Kelainan janin

g.    Leiomioma uteri

     (Mansjoer, 2001)

4.      Patofisiologi

Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak usia kehamilan 20 minggu

saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan telah melebar serta menipis. Umumnya

terjadi pada trisemester ketiga kerena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami

perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus

uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robwkan sinus

marginal dari palsenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan kerena ketidakmampuan serabut

otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi pada plasenta letak normal (Mansjoer, 2001).

Patoflow DiagramPlasenta previaPerdarahan jalan lahir dari orivisium uteri eksternumBagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggulPersalinan macetpersalinanTertutupnya jalan lahirSeksio sesareaResiko tinggi infeksiKondisi pasca pembedahanInsisi bedahNyeri luka operasiKalainan letak janinTertutupnya jalan lahirTidak mengerti proses penyakitGangguan pemenuhan ADLAktivitas terbatasNyeri bila bergerak

Page 18: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Kelemahan fisikKurang pengetahuanSalah interpretasi informasiInsisi bedahNyeriResiko infeksi 

                                                                                                                                               

                                                       (Mansjoer,2001)

5.      Manifestasi klinis

a.       Perdarahan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab terutama pada

multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu

b.      Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul

c.       Perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum

(Mansjoer, 2001)

Page 19: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

6.      Pemeriksaan dianostik

a.       USG

Yaitu untuk diagnosis pasti, yaitu untuk menentukan letak plasenta.

b.      Pemeriksaan darah: hemoglobin, hematokrit

(Mansjoer, 2001)

7.      Penatalaksanaan

Harus dilakukan di Rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk anjurkan pasien

untuk:

a.    Tirah baring total dengan menghadap kekiri

b.    Tidak melakukan senggama

c.    Menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misalnya: batuk, mengedak karena sulit

buang air besar).

d.   Pasang infuse NaCl fisiologis

e.    Penanganan dirumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan, bila terjadi rejatan usia

gestasi < 3 minggu, tafsiran berat janin < 2.500 gram, maka:

1)   Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu lalu lakukan mobilisasi

beberapa hari. Beri kortikosteroid 12 mg intravena perhari selama 3 hari

2)   Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO. Bila ada kontraksi ditangani seperti persalinan

normal pereterm (Mansjoer, 2001).

8.      Komplikasi

Adapun komplikasi menurut Mansjoer, 2001 sebagai berikut:

a.       Komplikasi pada ibu

1)      Dapat terjadi perdarahan

2)      Syok

3)      Anemia kerena perdarahan

4)      Plasentitis

5)      Endometritis pasca persalinan

b.      Komplikasi pada janin

1)      Terjadi persalinan premature

2)      Komplikasinya seperti asfixia berat

B.     Konsep Dasar Keperawatan

1.      Pengkajian

Pengkajian fisik memberikan data yang sangat bernilai sebagai dasar asuhan

keperawatan. Pemeriksaan tersebut meliputi inspeksi, auskultasi dan palpasi. Pemeriksaan

fisik mungkin akan dilakukan oleh salah satu orang atau lebih dan harus disesuaikan

kemajuan persalinan. Hal tersebut meliputi evaluasi, tanda-tanda vital, kontraksi,

pemeriksaan.

Pengkajian dilakukan meliputi:

1)      Data dasar

1)      Identifikasi klien

Page 20: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

2)      Riwayat kehamilan dan persalinan lalu klien tidak pernah mengalami operasi seksio

3)      Riwayat kesehatan sekarang:

a)      Keluhan utama: keluhan nyeri karena masa pembedaha, peningkatan kebutuhan istirahat,

tidur dan penyembuhan (sedjo Winarso Marjono, 1998)

b)      Riwayat persalinan: kegagalan untuk melanjutkan persalinan, presentase bokong dan letak

lintang

c)      Riwayat psikologis: tingkat kesehatan, gembira, respon keluarga terhadap kelahiran

(Doenges, 1999)

2)      Pemeriksaan fisik

Tanda-tanda vital, karakter lochea, fundus uteri, payudara, abdomen (keadaan luka insisi),

kandung kencing, kebersihan diri dan genital

3)      Pemeriksaan penunjang

1)      Test laboratorium: Jumlah darah lengkap terutama hemoglobin dan hematokrit (Doenges,

2001)

2)      Pelvimetri rontgen (Wiknjosastro, 1994)

2.      Diagnosa keperawatan

Berdasarkan data pengkajian diagnosa keperawatan klien yang utama yang

berhubungan dengan plasenta previa post seksio adalah meliputi: (Doenges, 2001)

a.       Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap

insisi bedah

b.      Gangguan perubahan kebutuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik

c.       Kurang pengetahuan mengenai proses bersalin berhubungan dengan kurang informasi

d.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman konsep diri dan ancaman/ actual dari

kesejahteraan maternal dan janin

e.       Resti infeksi berhubungan pasca pembedahan.

3.      Rencana keperawatan

Adapun rencana keparawatan pada klien dengan seksio sesarea adalah:

a.       Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap

insisi bedah

Tujuan:

Klien tidak nyeri dan mampu menggunakan teknik relaksasi setelah pencapaian

kesembuhan luka

Kriteria hasil:

Klien mengatakan nyeri berkurang, skala intenstias nyeri berkurang sampai hilang, ekspresi

wajah rileks dank lien mampu mendemonstrasikan teknik dengan tarik napas dalam

Intervensi:

Page 21: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

1)      Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi dan intensitas dengan menggunakan skala (0-10)

Rasional:

Membantu mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan untuk keefektipan

analgesic

2)      Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan sesuai kebutuhan

Rasional:

Meningkatkan kemampuan koping terhadap nyeri yang timbul

3)      Dorong mengendalikan sifat nyeri dan teknik imajinasi

Rasional:

Meningkatkan kemampuan koping terhadap nyeri yang timbul

4)      Dorong dan ajar penggunaan teknik relaksasi, berika posisi nyaman, latihan napas dalam

saat batuk

Rasioanal:

Kurang memahami keadaan dan penyebab nyeri membuat kecemasan sehingga koping

tidak efektif untuk meredakan nyeri

5)      Kolaborasi dengan dokter member obat paracetamol 2 tablet PO

Rasional:

Diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikasn relaksasi mental dan fisik

b.      Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan:

Kebutuhan ADL tanpa terbatas oleh nyeri

Kriteria hasil:

Nyeri saat bergerak tidak ada, klien bisa melakukan mandi, makan, eliminasi secara mandiri

dan proses penyembuhan luka tercapai

Intervensi:

1)      Tentukan kemampuan saat ini skala (0-4) dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan

Rasional:

Mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan

2)      Gunakan kelengkapan khusus kebutuhan korset

Rasional:

Meningkatkan kemampuan bergerak dan membantu persepsi yang benar

3)      Bantu dalam memindahkan dan ambulasi jika dibutuhkan ingatkan keluarga dalam hal ini

Rasional:

Mencegah terjadinya kecelakaan seperti jatuh atau cedera atau menambah nyeri

4)      Berikan bantuan memenuhi ADL yang dibutuhkan oleh klien dengan keterbatasab aktivitas

mandi, ganti baju

Rasional:

Memberikan keamanan dan perlindungan terhadap ketidakmampuan mobiliasai

5)      Dorong pasien melakukan aktivitas atau latihan pasif yang dapat ditoleransi

Rasional:

Meningkatkan harga diri, meningkatkan rasa control dan kemandirian

c.       Kutang pengetahuan mengenai cara perawatan luka post operasi berhubungan dengan

kurang informasi

Page 22: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

Tujuan:

Meminta informasi

Kriteria hasil:

Mengungkapkan pemahaman tentang indikasi kelahiran sesarea dan mengenali ini sebagai

metode alternative kelahiran bayi

Intervensi:

1)      Kaji kebutuhan belajar

Rasioanal:

Metode kelahiran alternative ini diduskusikan pada kelas persiapan anak, tetapi banyak klien

gagal untuk menyerap informasi

2)      Catat tingkat stress dan apakah prosedur ini direncanakan atau tidak

Rasional:

Mengidentifikasi kesiapan klien/ pasangan untuk menerima informasi

3)      Berikan informasi akurat dengan istilah-istilah sederhana. Anjurkan pasangan untuk

mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan pertanyaan mereka

Rasional:

Memberikan informasi dan mengklasifikasikan kesalahan konsep. Memberikan kemampuan

untuk mengevaluasi pemahaman klien/ pasangan terhadap situasi

4)      Tinjau ulang indikasi-indikasi terhadap pilihan alternative kelahiran

Rasional:

Perkiraan 5 atau 6 kelahiran melalui sesarea seharusnya dilihat sebagai alternative bukan

cara yang abnormal untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan meternal/ janin

5)      Berikan penyuluhan pasca operasi, termasuk instruksi, latihan, kaki, batuk dan nafas dalam

dan teknik/ latihan pengetatan abdomen

Rasional:

Memberikan teknik untuk mencegah komplikasi yang berhubungan dengan statis vena dan

pneumonia hipostatistik dan menurunkan stress pada sisi operasi

d.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman konsep diri dan ancaman yang

dirasakan/ actual dari kesejahteraan maternal dan janin

Tujuan:

Ketergantungan klien menurun, distress, kegelisahan dan ketakutan akan sesuatu yang

akan terjadi dapat diatasi

Kriteria hasil:

Klien mengungkapkan rasa takut pada keselamatan diri dan janin, klien/suami/keluarga

mendiskusikan kelahiran sesarea, klien tampak benar-benar rileks

Intervensi:

1)      Kaji respon psikologis pada kejadian dan kesediaan system pendukung

Rasioanal:

Makin klien merasaknan ancaman makin besar tingkat ansietas

2)      Pastikan apakah prosedur direncanakan atau tidak direncanakan

Rasional:

Pada kelahiran sesarea yang tidak direncanakan klien/ pasangan biasanya tidak mempunyai

persiapan secara psikologis atau fisiologis

Page 23: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

3)      Anjurkan pengungkapan perasaan

Rasional:

Mengidentifikasikan area untuk diatasi reaksi klien bervariasi dan dapat menyulitkan

diagnosa pada periode operasi

4)      Berikan komunikasi verbal dari pengkajian dan intervensi informasi tertulis dapat diberikan

pada waktu selanjutnya

Rasional:

Bila masalah harga diri timbul pada klien, ini dapat menjadi berat pada periode pra operasi,

klien difokuskan pada saat ini dan ini tidak siap untuk membaca atau menerima informasi

tambahan

5)      Anjurkan klien/ pasangan dalam aktivitas ikatan diruang melahirkan (misalnya: menyusui

dan menggendong bayi)

Rasional:

Memberikan penguatan pengalaman dan menghilangkan suasanan perbedahan terhadap

kelahiran

(Doenges, 2001)

4.      Implementasi

Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik

(Nursalam, 2001).

Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah

ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan perencanaan

tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika ada keinginan klien untuk

berpartisipasi dalam pelaksanaan tindakan dan selama tahap pelaksanaan, perawat terus

melakukan pengumpulan data memiliki tindakan keperawatan yang paling sesuai dengan

kebutuhan klien (Nursalam, 2001).

a.       Fase persiapan

1)      Preview antisipasi tindakan keperawatan

2)      Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan

3)      Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul

4)      Persiapan alat

5)      Persiapan lingkungan yang kondusif

b.      Fase intervensi terdiri dari:

1)      Independent

Tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa tergantung pada program medis atau tim

kesehatan lain

2)      Interdependent

Tindakan keperawatan yang memerlukan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya: ahli gizi,

fisioterapi, laboratorium dan lain-lain

3)      Dependent

Tindakan keperawatan yang berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan

dimana medis dilaksanakan oleh perawat

Page 24: Askep Post Operasi Seksio Sesarea Atas Indikasi Plasenta Previa

5.      Evaluasi

Adapun evaluasi menurut Nursalam (2001) yaitu:

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang digunakan sebagai alat

untuk menilai keberhasilan dalam asuhan keperawatan dan proses ini berlangsung terus

menerus yang diarahkan pada pencapaian tujuan.

Ada empat yang dapat terjadi pada tahap evaluasi, yaitu:

a.       Masalah teratasi

b.      Masalah teratasi sebagian

c.       Masalah tidak teratasi

d.      Timbul masalah baru

Evaluasi terdiri dari 2 jenis yaitu: evaluasi formatif dsn evaluasi sumatif. Evaluasi formatif

disebut juga proses evaluasi jangka pendek atau evaluasi sedang berjalan dimana evaluasi

dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai.

Sedangkan evaluasim sumatif disebut juga evaluasi akhir atau hasil atau jangka panjang.

Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan paripurna dan menjadi suatu

metode dalam memonitori kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini

lazimnya menggunakan format SOAP.

6.      Perencanaan pulang

Penyuluhan dan perencanaan diperlukan ketika pasien mengalami perawatan dirumah sakit

Sebelum pulang klien atau keluarga akan:

a)      Menunjukan niat untuk berbagi beban dengan orang yang dipercaya

b)      Mengidentifikasi tanda-tanda, gejala-gejala yang harus dilakukan pada tenaga kesehatan

c)      Mengidentifikasikan ketersediaan sumber komunikasi.

(Carpenito Lynda Juall, 2000)

7.         Dokumentasi Keperawatan

            Dokumentasi keperawatan merupakan pencatatan dan pelaporan yang         dimiliki

perawat dalam melakukan catatan perawat dan tim kesehatan           dalam memberikan

pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang         akurat dan lengkap secara

tertulis tentang tanggung jawab perawat (Hidayat. A. 2001).Agar seluruh proses

keperawatan yang dilakukan oleh           perawat dapat             dipertanggung jawabkan,

maka perlu dilakukan         pendokumentasia.      Menurut Capernito (1995) dikutip

Anastasi        Anna (2000) standar        dokumentasi keperawatan meliputi

pengkajian          awal dan ulang, diagnosa keperawatan dan kebutuhan asuhan

klien,    rencana tindakan keperawatan, respons klien dan hasil dari

asuhan             keperawatan yang diberikan serta kemampuan untuk meneruskan

asuhan    setelah klien pulang.