Sap Iritasi Bayi

  • View
    370

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Sap Iritasi Bayi

(SAP)D I S U S U N OLEH :

2011

SATUAN ACARA KONSELING (SAK) Pokok Bahasan Sub Pokok bahasan Sasaran Waktu Tempat Kode mata kuliah : Iritasi Pada Kulit Bayi : Pencegahan Iritasi Pada Kulit Bayi : Masyarakat : 30 Menit : Akademi Kebidanan Darmo Medan : 306

I. PENDAHULUAN Alergi atau Iritasi

Bayi bukan manusia kecil. Dibutuhkan pengetahuan khusus tentang perawatan kulit bayi yang tentunya mempunyai beberapa ciri yang membedakannya dengan manusia dewasa.

Salah satu tujuan utama perawatan kulit bayi ialah mencegah atau mengurangi iritasi. Karena ternyata iritasi masih menduduki peringkat tinggi sebagai penyebab kelainan pada kulit bayi, sejalan dengan perkembangan fisiologi kulit bayi yang mempunyai kerentanan khas terhadap faktor iritasi tersebut. Sebaliknya, sangat jarang dijumpai kelainan alergi pada kulit bayi akibat kontak (peradangan kulit yang disebut sebagai Dermatitis Kontak Alergik-DKA) dengan bahan penyebab alergi (alergen kontaktan). Memang sering kita dengar banyak ibu mengeluhkan kulit bayinya yang super-sensitif dan mudah elergi karena berkontak dengan sabun, bedak, atau lotion kosmetika bayi tertentu. Tapi perlu dicermati pengertian kata alergi khas bahasa di masyarakat tersebut. Karena bisa jadi yang dimaksud iritasi. Dengan begitu kita tidak segera menjatuhkan vonis bahwa bahan sabun atau bedak merek tertentu itu adalah penyebab alergi yang menimbulkan ruam pada bayi yang terakhir dengan diterminasinya pemakaian kosmetika baby skin care itu selamanya. Mengapa demikian ? Karena ada beberapa faktor yang menyebabkan kulit bayi lebih rentan terhadap terjadinya iritasi (Dermatitis Kontak Iritan: DKI) dibandingkan dengan alergi (Dermatitis Kontak Alergik: DKA), yaitu:

Kulit bayi yang lebih tipis dengan ikatan antarsel yang lebih lemah memudahkan penyerapan berbagai bahan kontak.

Sistem imun atau kekebalan kulit bayi yang belum berkembang sempurna menyebabkan reaktivitas alergi masih rendah. Sebagai contoh, bila kulit bayi berkontak dengan suatu bahan kimia yang sebenarnya bersifat contact sensitizer atau toksis, maka kulit bayi tidak segera bereaksi, sehingga paparan kontak dengan bahan tersebut tetap

berlangsung/diteruskan karena dianggap tidak menimbulkan kerugian bagi kulit bayi.

Akibat jangka panjang terjadi efek toksik kimia pada kulit yang menyebabkan kerusakan sel kulit dengan peradangan kulit (dermatitis) sebagai hasil akhirnya. Berat ringannya kondisi dermatitis akibat kontak bahan iritan tersebut bergantung pada jenis bahan iritan yang berkontak dan frekuensi atau lama paparan kontaknya pada kulit.

Peradangan kulit karena kontak alergi membutuhkan sistem imun yang telah lebih berkembang sempurna (umumnya anak di atas usia 2 tahun).

II. TUJUAN 1. Tujuan Umum Setelah dilakukan pendidikan kesehatan diharapkan peserta didik dapat mengetahui tentang Iritasi atau Alergi pada kulit bayi. 2. Tujuan Khusus Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 kali pertemuan peserta didik dapat: Menjelaskan tentang pengertian Iritasi pada kulit bayi. Menjelaskan penyebab-penyebab dari Iritasi pada kulit bayi Menjelaskan tanda dan gejala Iritasi pada kulit bayi. Menjelaskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan saat terjadi Iritasi pada kulit bayi

IV. TARGET Peserta didik dapat mengetahui tentang pengertian, tanda dan gejala, pertolongan dan komplikasi pada Iritasi kulit bayi.

V. MATERI 1. Pengertian Iritasi atau Alergi pada kulit bayi 2. Tanda dan gejala Iritasi atau Alergi pada kulit bayi 3. Penyebab terjadinya Iritasi atau Alergi pada kulit bayi. 4. Pertolongan yang dapat dilakukan terhadap pasien Iritasi atau Alergi. 5. Pengetahuan tentang bahaya dan komplikasi Iritasi atau Alergi pada kulit bayi

VI. METODE 1. Penyuluhan / Komunikasi Konseling 2. Diskusi, Tanya Jawab

VII.MEDIA FLIP CHART LEAFLET KRITERIA EVALUASI 1. Materi pangajaran 2. Leaflet

VIII. STRATEGI PELAKSANAAN 1. Waktu : Sabtu, 13 AGUSTUS 2011 IX. SUSUNAN ACARA No Tahap / Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta 1. Pra interaksi Mengucapkan salam pembuka 5 Menit Memperkenalkan diri Menjawab salam Menjelaskan maksud dan tujuan Mendengarkan Perkenalan 2. Interaksi Menjelaskan pengertian Iritasi atau Alergi pada kulit bayi,15 menit Menjelaskan penyebab dari Iritasi atau Alergi pada kulit bayi, Menjelaskan tentang tanda-tanda dan gejala Iritasi atau Alergi pada kulit bayi, Menjelaskan pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada Iritasi atau Alergi pada kulit bayi, Menjelaskan bahaya atau komplikasi Iritasi atau Alergi pada kulit bayi, Mendengarkan, Diskusi , Memperhatikan, Berdiskusi dengan mahasiswa (penyuluh ),

3. Post interaksi Memberikan masukan,5 menit Menyimpulkan hasil penyuluhan, Mengevaluasi peserta didik, Memperhatikan, Salam Penutup.

XII. DAFTAR PERTANYAAN 1. Apakah yang disebut dengan Iritasi atau Alergi pada kulit bayi? 2. Apa penyebab dari Iritasi atau Alergi pada kulit bayi? 3. Bagaimana tanda dan gejala terjadinya Iritasi atau Alergi pada kulit bayi? 4. Apa tindakantindakan yang dapat diberikan pada pasien yang mengalami Iritasi atau Alergi? 5. Komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami Iritasi atau Alergi .

Materi ( Iritasi atau Alergi pada kulit bayi )

A. Pengertian

Iritasi adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal. Dermatitis kontak adalah reaksi fisiologik yang terjadi pada kulit karena kontak dengan substansi tertentu, dimana sebagian besar reaksi ini disebabkan oleh iritan kulit (dermatitis kontak iritan) dan sisanya disebabkan oleh alergen (dermatitis kontak alergi) yang merangsang reaksi alergi. Dermatitis kontak iritan merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecah-pecah. DKI merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel epidermis.

B. Penyebab Penyebab iritasi dan seperti apa kelainannya Iritasi umumnya sering terjadi pada:

Pemakaian popok sintetis atau celana berlapis plastik yang lama tidak diganti, sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit akibat tertimbunnya urin dan kotoran yang mengandung amonia yang bersifat iritatif. Tertutupnya daerah popok meningkatkan suhu maupun kelembapan di daerah itu, ditambah gesekan daerah lipatan bokong makin memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia iritan tersebut. Bila berlangsung berulangulang, sawar (pelindung) kulit rusak, sehingga memudahkan berkembangbiaknya jamur Candida albicansyang akan memperburuk keadaan peradangannya.

Daerah lipatan pada bayi yang gemuk (leher, lipatan paha, lipat siku). Keringat yang menumpuk berlama-lama di daerah lipatan tertutup menjadi bersifat iritatif bagi kulit bayi. Peradangan berulang yang terjadi juga akan diperburuk dengan berkembang biaknya jamur Candida albicans.

Bayi dengan riwayat keluarga mempunyai faktor alergi, memang lebih sering dijumpai keluhan iritasi, misalnya adanya sisik halus di daerah kulit kepala akibat pemakaian produk kosmetika sampo ber-pH tinggi atau hair lotion yang terlalu wangi. Pada dada,

punggung, perut, pada kebiasaan pemakaian minyak penghangat tubuh, yang digunakan terus-menerus di iklim panas.

Kekeringan kulit bayi akibat pemakaian berulang sabun mandi yang mengandung antiseptik. Peradangan kronis akibat kontak bahan iritan lemah ini juga akan mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit, dengan akibat berkurangnya daya pertahanan alamiah kulit.

Bayi baru lahir pengguna susu sapi formula dengan pH tinggi, terkadang dijumpai kemerahan di daerah sekitar dubur.

Bagaimana mengobatinya Terpenting adalah pencegahannya, karena bila dicermati semua faktor penyebab iritasi pada kulit bayi dapat dicegah paparan berulangnya. Dan umunya kelainan kulit baru timbul bila telah terjadi paparan yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan sebelum ke dokter:

Hindari sementara pemakaian popok sekali pakai atau celana berlapis plastik selama peradangan, pakai popokkain tipis lembut yang bahannya menyerap keringat, bahkan sesekali biarkan tanpa popok/celana. Cuci daerah bokong dan sekitarnya setiap bayi buang air kecil atau buang air besar dengan sabun lembut khusus bayi dan keringkan dengan handuk lembut ditepuk-tepuk pelan dan jangan digosok kasar. Hindari pemakaian bedak saat meradang.

Daerah lipatan yang merah meradang, sering dikompres dengan waslap handuk yang dibasahi air, hindari pemakaian bedak untuk sementara waktu, Daerah lipatan sering dibuka dan diangin-anginkan. Bila berkeringat segera seka perlahan (jangan digosok) dengan waslap handuk yang dibasahi air, lalu keringkan dengan handuk dengan cara ditepuk atau ditekan lembut. Hindari pemakaian bahan handuk yang kasar. Pakailah baju longgar bahan katun yang tipis menyerap keringat.

Kulit kering kasar bersisik (kecuali di kulit kepala) dapat diberi krim pelembab khusus bayi setiap setelah mandi. Jangan mandi dengan air terlalu panas berlama-lama. Pakailah sabun ataupun sampo khusus bayi yang lembut denga pH balanced. Untuk sementara waktu tidak perlu pemakaian bedak dan hindari pemakaian berbagai produk kosmetika pewangi atau minyak yang dioleskan atau dituangkan langsung ke kulit yang bersisik tersebut.

Jangan oleskan obat salep, krim atau minyak apapun di daerah yang meradang, apalagi bila ada kalainan kulit merah dan basah.

Gunakan intuisi atau naluri ibu yang Anda miliki untuk menjadi detektif. Kumpulkan bahan-bahan seperti barang bukti dan tersangka, lalu tunjukkanlah kepada dokter.

Dapat dicegah Yang perlu diingat ialah peradangan kulit pada bayi karena faktor iritasi lebih sering disebabkan oleh bahan iritan yang lemah (keringat, urin, feses, produk perawatan kulit yang salah penggunaannya, deterjen, cairan antiseptik, dan sebagainya) dan mungkin kitapun punya andil untuk memaparkannya selama ini. Timbulnya peradangan jarang hanya akibat kontak oleh satu bahan iritan lemah itu saja. Namun umumnya ditunjang oleh beberapa faktor yang bersama-sama menciptakan kondisi yang cocok untuk timbulnya peradangan tersebut, seperti faktor kelembapan, panas, tertutup, gesekan dan sebagainya.

Popok Sekali Pakai atau Popok Kain?

Apakah Anda tahu, kalau setiap bayi berganti popok dalam kisaran 5000 hingga 8000 kali? Dan kebanyakan, popok yang dipakai adalah jenis sekali pakai.

Apa yang Anda pakaikan pada buah hati Anda? Jenis yang sekali pakai atau popok kain yang bisa dicuci? Bila Anda memilih yang jenis sekali pakai, artikel ini mungkin akan mampu mengubah pilihan Anda.

Kebanyakan popok sekali pakai melewati proses pemutihan. Proses ini jelas menambah kadar gas dioksida yang beracun. Pun, tercatat 250.000 pohon ditebang setiap tahun untuk memproduksi popok bayi. Data itu adalah untuk bayi di Amerika, bukan untuk untuk seluruh dunia.

Setelah dipakai, popok itu akan berakhir di daratan, bersamaan dengan sampah-sampah lain. Popok itu pun merusak tanah, meracuni air tanah, dan menjadi medium penyebaran parasit, virus, dan bakteri.

Pun, selain dari faktor lingkungan, popok sekali pakai dapat berakibat buruk bagi kesehatan bayi Anda.

Popok biasanya mengandung super absorbent polymer (SAP). SAP merupakan jenis polimer yang mampu menyerap air hingga 8 kali beratnya, berubah menjadi jel ketika basah sehingga mampu membuat bayi tetap kering dan tidak mengalami ruam-ruam.

Efek buruknya adalah bila popok robek saat dipakai, walau sekecil apa pun robekan itu. SAP bisa tertinggal di kulit bayi dan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pencernaan, bila SAP itu tanpa sengaja tertinggal di mulut bayi.

Selain itu, penggunaan popok akan mempersulit latihan buang air yang seharusnya dijalani oleh setiap bayi. Penelitian menemukan, bayi yang menggunakan popok kain memulai latihan menggunakan toilet hingga setahun lebih cepat daripada bayi yang menggunakan popok sekali pakai.

Nah, kini Anda punya dua alasan kuat untuk memakaikan popok kain pada anak Anda, bukan popok sekali pakai yang akan merusak lingkungan dan berpotensi mengganggu kesehatan buah hati Anda.