of 16/16
PENGARUH PEMBIAYAAN MUDHARABAH, MUSYARAKAH DAN MURABAHAH TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA TAHUN 2016-2019 JURNAL ILMIAH Disusun oleh : MU’AMELA RESYARAHMA 175020518113017 JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2021

PENGARUH PEMBIAYAAN MUDHARABAH, MUSYARAKAH DAN MURABAHAH …

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENGARUH PEMBIAYAAN MUDHARABAH, MUSYARAKAH DAN MURABAHAH …

INDONESIA TAHUN 2016-2019
Muamela Resyarahma
Universitas Brawijaya
Email : [email protected]
musyarakah dan murabahah terhadap profitabilitas dengan menggunakan rasio Return on
Asset (ROA) bank umum syariah di Indonesia pada tahun 2016-2019. Penelitian ini
menggunakan teknik analisis data kuantitatif dengan metode regresi linier berganda. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara parsial variabel mudharabah dan murabahah tidak
berpengaruh terhadap profitabilitas bank umum syariah, sedangkan variabel musyarakah
berpengaruh terhadap profitabilitas bank umum syariah di Indonesia. Secara simultan
variabel mudharabah, musyarakah dan murabahah berpengaruh terhadap profitabilitas
adalah sebesar 62,7%. Sedangkan untuk sisanya sebesar 37,3% dijelaskan oleh variabel
lain diluar ketiga variabel indepeden yang diteliti.
Kata Kunci : Bank Syariah, Mudharabah, Musyarakah, Murabahah, Profitabilitas
ABSTRACT
This study aims to determine the effect of mudharabah, musyarakah and
murabahah financing on profitability by using the Return on Assets (ROA) ratio of
Islamic commercial banks in Indonesia in 2016-2019. This study uses quantitative data
analysis techniques with multiple linear regression method. The results showed that
partially the mudharabah and murabahah variables had no effect on the profitability of
Islamic commercial banks, while the musyarakah variable affected the profitability of
Islamic commercial banks in Indonesia. Simultaneously, the mudharabah, musyarakah
and murabahah variables affect the profitability of 62.7%. As for the remaining 37.3%, it
is explained by other variables outside the three independent variables that must be
investigated.
Keberadaan perbankan syariah di Indonesia merupakan refleksi kebutuhan
atas sistem perbankan dan perbankan syariah di Indonesia yang dapat memberikan
kontribusi stabilitas kepada sistem keuangan nasional. Industri perbankan syariah
juga mencerminkan permintaaan masyarakat yang membutuhkan suatu sistem
perbankan alternatif yang menyediakan jasa perbankan yang memenuhi prinsip-
prinsip syariah (Rukmana, 2010). Saat ini, Perbankan di Indonesia terus
mengalami perkembangan yang cukup bagus dengan seiring berkembangnya
pemikiran masyarakat tentang sistem syariah yang tanpa menggunakan bunga
(riba). Dapat diketahui di Indonesia terdapat dua jenis bank yang ditinjau dari
prinsipnya yaitu bank konvensional dan bank syariah. Kedua jenis bank ini
memiliki produk yang hampir sama, yang membedakan hanya pada sistem
operasinya. Bank konvensional menggunakan sistem bunga, sedangkan bank
syariah menerapkan sistem bagi hasil.
Peran bank syariah sebagai lembaga yang bertujuan mendukung
pelaksanaan pembangunan nasional, mempunyai kegiatan utama yaitu
menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana kepada masyarakat.
Kegiatan penyaluran dana ini diwujudkan dalam bentuk pinjaman atau lebih
dikenal dengan istilah pembiayaan. Pembiayaan merupakan dana yang
dipinjamkan berdasarkan persetujuan dan kesepakatan bagi hasil antara pihak
yang meminjam dana dengan pihak perbankan atau lembaga keuangan dan dana
tersebut wajib dikembalikan dengan jangka waktu tertentu (Kasmir,2005). Dalam
menyalurkan dananya kepada masyarakat, secara garis besar produk pembiayaan
syariah beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas diantaranya
adalah pembiayaan dengan prinsip bagi hasil yang terdiri dari pembiayaan
mudharabah dan musyarakah: pembiayaan berbasis jual beli yang terdiri dari
murabahah, salam,istishna’: pembiayaan berbasis sewa (ijarah), dan pembiayaan
akad lengkap seperti hiwalah,rahn, qardh, dan lain sebagainya.
Tiap produk bank memberikan keuntungan bagi pihak bank, sama halnya
dengan kedua pembiayaan investasi tersebut. Keuntungan itu dapat dilihat dari
tingkat profitabilitas yang diukur menggunakan rasio keuangan. Rasio keuangan
yang digunakan adalah rasio Return On Assets (ROA) yaitu tingkat pengembalian
modal bank tersebut. Alasan menggunakan rasio dikarenakan untuk mengetahui
kemampuan ank dalam mengelola modal yang dimilikinya untuk pembiayaan
mudharabah musyarakah dan murabahah. Rasio ini juga merupakan ukuran
kepemilikan bersama dari pemilik bank tersebut.
Perekonomian pasti erat berhubungan dengan dunia keuangan dan
perbankan. Untuk melihat pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari baik atau
buruknya keadaan keuangan negara dan peran dari perbankan yang berjalan
dengan lancar atau tidak. Seiring berjalannya waktu, keadaan perekonomian
Indonesia yang sedikit memburuk dengan adanya penurunan nilai tukar rupiah,
maka masyarakat mulai banyak mencari penghasilan melalui kegiatan berbisnis
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berjalannya kegiatan bisnis tersebut
membutuhkan modal dana yang cukup besar, sehingga banyak masyarakat yang
ingin mempunyai bisnis besar atau pebisnis melakukan kerjasama dengan pihak
bank. Dalam hal ini peran perbankan adalah sebagai lembaga intermediasi antara
bank dan masyarakat, yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan disalurkan
kepada masyarakat untuk kegiatan yang dapat meningkatkan taraf hidup.
Penelitian ini menggunakan laporan keuangan Bank Umum Syariah di
Indonesia tahun 2016-2019 yang diambil di web resmi OJK (Otoritas Jasa
Keuangan). Oleh karena itu, maka penting dan menarik untuk diteliti lebih lanjut,
dikarenakan untuk mengetahui efisiensi pengelolaan modal pada masing-masing
bank. tentang “Pengaruh Pembiayaan Mudharabah, Musyarakah dan
Murabahah Terhadap Tingkat Profitabilitas (Return On Asset) Bank Umum
Syariah di Indonesia tahun 2016-2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan menganalisis pengaruh pembiayaan mudharabah, musyarakah
dan murabahah terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada Bank Umum Syariah
secara parsial dan simultan.
Bank syariah adalah lembaga intermediasi dan penyedia jasa keuangan
yang bekerja berdasarkan etika dan system nilai islam, khususnya yang bebas dari
bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif yang non produktif, bebas dari hal-hal
yang tidak jelas (gharar), berprinsip keadilan dan hanya membiayai kegiatan
usaha yang halal. Fungsi bank syariah terbagi menjadi dua, yaitu: (1) sebagai
badan usaha, bertugas untuk menghimpun dana, menyalurkan dana dan
menyediakan jasa keuangan atau non keuangan (2) sebagai badan sosial, bertugas
untuk penghimpunan dan penyaluran zakat serta menyalurkan dana pinjaman
kebajikan (Ascarya,2007).
Produk bank syariah terbagi menjadi empat, yaitu: (1) Produk pendanaan
yang meliputi pola titipan (wadiah) berbentuk giro dan tabungan, pinjaman
(qardh) berbentuk giro dan tabungan, bagi hasil (mudharabah) dalam bentuk
tabungan, deposito dan obligasi serta sewa(ijarah) berbentuk obligasi, (2) produk
pembiayaan meliputi pola bagi hasil (mudharabah dan musyarakah)berbentuk
pembiayaan investasi dan modal kerja , jual beli (murabahah, salam, isthisna)
berbentuk dalam pembiayaan properti, sewa (ijarah) berbentuk sewa beli dan
akuisisi aset serta pinjaman (qardh) berbentuk pembiayaan surat berharga, (3)
produk jasa perbankan yang meliputi pola titipan (wadiah) berbentuk safe deposit
box , bagi hasil (mudharabah) berbentuk investasi terikat dan pola lain ( wakalah,
kafalah, hawalah, rahn, ujr, sharf) berbentuk transfer dan kliring, (4) produk
kegiatan sosial dalam bentuk pola pinjaman (qardh) yang diterapkan untuk dana
talangan kepada nasabah dan sumbangan sektor usaha kecil.
Pembiayaan Bank Syariah
pihak lain berdasarkan prinsip syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan
didasarkan pada kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dan kepada pengguna dana.
Menurut (Rivai, 2008) mengemukakan bahwa pembiayaan adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu dan berdasarkan persetujuan dan
kesepakatan pinjam-meminjam antara lembaga keuangan dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan imbalan atau bagi hasil.
Tujuan pembiayaan ini yaitu: (1) secara mikro adalah peningkatan
ekonomi, tersedianya dana bagi peningkatan usaha, meningkatkan produktivitas,
membuka lapangan kerja baru, dan terjadi distribusi pendapatan (2) secara makro
adalah upaya memaksimalkan laba, upaya meminimalkan resiko, pendayagunaan
sumber ekonomi, penyaluran kelebihan dana. Berdasarkan sifat penggunaannya,
pembiayaan ini dibagi menjadi dua, yaitu: (1) pembiayaan produktif, untuk
memenuhi pembiayaan kebutuhan produksi (2) pembiayaan konsumtif, untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi.
memberikan uang kepada partner lain untuk diinvestasikan ke perusahaan
komersial. Pihak bank (shahibul maal) berkewajiban memberikan dana 100%
kepada nasabah (mudharib) dan dana mudharib hanya mengelola usaha yang
sudah ditentukan oleh pihak shahibul maal. Pembagian keuntungan akan dibagi
berdasarkan kesepakatan pada awal kontrak, sedangkan jika terjadi kerugian akan
ditanggung oleh pemilik modal. Pengelola juga bertanggung jawab apabila
kerugian itu disebabkan oleh pihak pengelola (Rivai,2012).
Syarat akad pembiayaan mudharabah ini adalah (1) modal harus berupa
uang atau barang yang dinilai, diketahui jumlahnya, harus tunai atau bukan
piutang (2) keuntungan harus dibagi kedua pihak, besar keuntungan disepakati
pada waktu awal kontrak, penyedia dana menanggung kerugian. Sedangkan
Rukun akad pembiayaan ini adalah (1) pelaku akad (2) objek akad (3) ijab dan
qabul. Beberapa Jenis pembiayaan mudharabah adalah (a) mudharabah
muqayyadah, jenis usaha akan ditentukan oleh pihak bank (shahibul maal) dan
nasabah hanya mengelolanya, (b) mudharabah mutlaqah, jenis usaha boleh
ditentukan oleh pihak nasabah (mudharib), meskipun modal tetap ditanggung oleh
shahibul maal.
Pembiayaan Musyarakah
Transaksi musyarakah dilandasi dengan adanya keinginan para pihak yang
bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara bersama-
sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka
secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang
berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusi dari pihak
yang bekerja sama dapat berupa dana, barang dagangan (trading asset),
kewiraswastaan (entrepreneur), kepandaian (skill), kepemilikan (property) dan
barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang (Karim, 2004).
Syarat akad adalah (1) berlakunya akad (2) sahnya akad (3) terealisasinya
akad (4) syarat lazim.Rukun akad adalah (1) pelaku akad (2) objek akad (3) ijab
dan qabul. (Ascarya,2011). Jenis pembiayaan musyarakah adalah (1) syirkah al-
milk, kepemilikan dua atau lebih pihak dari suatu property (2) syirkah al-‘aqd,
kemitraan terjadi karena kontrak bersama. Syirkah al-aqd’ ini dibagi menjadi
empat, yaitu: (a) syirkah al-amwal, kerjasama antar mitra usaha dimana porsi
penyertaan modal dan kerja tidak sama, (b) syirkah al-mufawadhah, kerjasama
antar mitra usaha dengan kesamaan porsi penyertaan modal, pembagian
keuntungan dan pengelolaan kerja, (c) syirkah al-a’mal, kerjasama dimana semua
mitra usaha ikut memberikan jasa pada pelanggan, (d) syirkah al-wujuh,
kerjasama dimana mita usaha tidak memiliki investasi sama sekali.
Pembiayaan Murabahah
perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.
Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts, karena dalam
murabahah ditentukan berapa required rate of profitnya (keuntungan yang ingin
diperoleh). Karena dalam definisinya disebut adanya “keuntungan yang telah
disepakati” karakteristik murabahah adalah si penjual harus memberi tahu
pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan
yang ditambahkan pada biaya tersebut. Misalnya, seseorang membeli barang
kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar
keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah atau dalam bentuk
presentase dari harga pembeliannya, missal 10% atau 20%.
Profitablitias
laba dari aktivitas operasinya yang dihasilkan dari kegiatan usahanya selama
periode tertentu. Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
atau menilai kemampuan perusahaan untuk menari keuntungan. Rasio ini juga
memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini
ditujukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.
Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. Rasio
profitabilitas merupakan rasio yang melihat kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba atau profitabilitas. Tingkat profitabilitas bank syariah
merupakan suatu kualitas yang dinilai berdasarkan keadaan atau kemampuan
suatu bank syariah dalam menghasilkan laba. (Kasmir, 2004).
Dalam penelitian ini memilih menggunakan ROA (Return on Asset). ROA
menunjukkan kemampuan manajeman bank dalam menghasilkan laba dari
pengelolaan asset yang dimiliki. ROA digunakan untuk mengukur profitabilitas
bank karena Otoritas Jasa keuangan (OJK) sebagai Pembina dan pengawas
perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank, diukur dengan
asset yang dananya sebagaian besar dari dana simpanan masyarakat. Semakain
besar ROA suatu perbankan syariah, maka semakin besar pula tingkat keuntungan
yang ingin dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank dari segi
penggunaan asset. Rumus untuk mengitung ROA (Return on Asset) tersebut
adalah :
profitabilitas (ROA) bank umum syariah pada tahun 2016-2019
H2 : Hubungan variabel pembiayaan musyarakah (X2) secara parsial terhadap
profitabilitas (ROA) bank umum syariah pada tahun 2016-2019
H3 : Hubungan variabel pembiayaan murabahah (X3) secara parsial terhadap
profitabilitas (ROA) bank umum syariah pada tahun 2016-2019
H4 : Hubungan variabel pembiayaan mudharabah (X1), musyarakah (X2), dan
murabahah (X3) secara simultan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum
syariah pada tahun 2016-2019
(independen) meliputi pembiayaan mudharabah, musyarakah dan murabahah ,
serta variabel terikat (dependen) meliputi tingkat profitabilitas (ROA). Sumber
data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari website Otoritas
Jasa Keuangan yaitu www.ojk.go.id. Teknik sampling yang dipilih dalam
penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling jenuh
(saturation sampling). Saturation sampling merupakan sebuah teknik penentuan
sampel jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. .Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa data laporan tahunan
Bank Umum Syariah dari internet. Instrumen penelitiannya adalah pedoman
dokumentasi. Kemudian Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
regresi berganda dan uji asumsi klasik (uji normalitas, heterokedastisitas,
multikoliniearitas, autokorelasi), serta uji hipotesis (uji t, uji F, koefisien
determinasi).
Perkembangan bank syariah yang pesat ditunjukkan dengan adanya
pertumbuhan yang pesat selama 10 tahun terakhir ini dari tahun 2009-2019 pada
indikator total asset. Penelitian ini menggunakan data pembiayaan mudharabah,
musyarakah, murabahah dan tingkat ROA dari tahun 2016-2019. Data tersebut
Jasa Keuangan). Berdasarkan hasil penelitian, pembiayaan mudharabah terendah
pada tahun 2018 senilai 5.477 Miliar. Sedangkan pembiayaan tertinggi pada
pembiayaan murabahah yaitu senilai 132.013 Miliar pada tahun 2019. Jika dilihat
dari tingkat ROA (Return on Asset) mengalami kenaikan yang drastic dari tahun
2017 sampai tahun 2019 yaitu sebesar 1,73 %. Selanjutnya Hasil pengujian yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Uji Asumsi Klasik
adalah agar dihasilkan nilai taksiran parameter yang sesuai dengan nilai
sebenarnya, sehingga nilai parameter tersebut memiliki karakteristik tidak bias,
konsisten dan efesien (BLUE). Hasil pengujian asumsi klasik adalah sebagai
berikut :
Pada prinsipnya normalitas dideteksi dengan melihat penyebaran
data (titik), pada sumbu diagonal pada grafik atau dengan melihat histogram
dari residualnya. Dari tampilan grafik normal P-Plot of Regressiondi atas,
hasil normalitas menunjukkan bahwa sebaran data (titik-titik) dapat
dikatakan berada disekitar garis diagonal serta mengikuti arah garis
diagonalnya. Berikut ini adalah hasil dari Uji Normalitas :
b. Uji Multikolinearitas
Jika nilai VIF dibawah 10 maka model regresi yang diajukan tidak
terdapat multikolinearitas, begitu juga sebaliknya jik VIF (Variance Inflaction
Factor). Tabel di bawah ini menjelaskan sebagai berikut : Mudharabah (X1) =
6,048 , Musyarakah (X2) = 7,385 dan Murabahah (X3) = 3,631. Dari tabel
tersebut semua variabel independen kurang dari 10 dan tidak melebihi dari 10.
Maka diartikan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.
Coefficientsa
a. Dependent Variable: ROA
regresi ini terjadi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Gambar di bawah ini merupakan grafik scatterplot
antara SRESID dan ZPRED menunjukkan pola penyebaran data. Terlihat titik-
titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Data
tersebar baik diatas dan dibawah titik nol paya sumbu (Y). Hal ini
menunjukkan bahwa dalam pengujian ini tidak terjadi Heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menggunakan Uji Durbin Watson (DW). Berdasarkan
tabel Uji Durbin Watson pengujian statistik sebesar 1,946 dengan nila α = 0,05
pada N = 48 dan k = 3. Diketahui nilai batas atas (dU) sebesar 1,6708, nilai(4
– dU) sebesar 2,3292. Jika dilihat dari nilai Durbin Watson (du<d<4-du) maka
diporelah hasil sebagai berikut (1,6708<1,946<2,3292). Berdasarkan nilai yang
dihasilkan dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan tidak
terjadi Autokorelasi baik positif maupun negatif.
Change Statistics
.651 27.338 3 44 .000 1.946
2. Uji Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar pengaruh pembiayaan mudharabah, musyarakah dan murabahah
terhadap profitabilitas (ROA) pada bank umum syaria di Indonesia. Dari
analisis regresi linier berganda, maka persamaan regresi linier yang terbentuk
adalah sebagai berikut:
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
MUD (X1) .000 .000 -.298 -1.362 .180
MUS (X2) 2.949E-5 .000 .765 3.162 .003
MUR (X3) -1.325E-5 .000 -.297 -1.750 .087
a. Dependent Variable: ROA
Uji Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan ada
tidaknya pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Uji
Hipotesis ini terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t), pengujian
koefisien regresi secara bersama-sama atau simultan (uji F), dan pengujian
koefisien determinasi Goodness of fit test (R2). Hasil pengujiannya sebagai
berikut :
secara parsial (sendiri). Berikut ini adalah hasil uji hipotesis perhitungan hasil
uji t (secara parsial) didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Hasil uji t variabel mudharabah didapatkan nilai t hitung < t tabel (-
1,362 < 2,015) dan nilai signifikan > 0,05 (0,180 > 0,05). Maka,
hipotesis H0 diterima dan H1 ditolak, artinya variabel mudharabah
tidak mempengaruhi profitabilitas (ROA) bank umum syariah.
2. Hasil uji t variabel musyarakah didapatkan nilai t hitung > t tabel (3.162
> 2,015) dan nilai signifikan < 0,05 (0,003 < 0,05). Maka H0 ditolak
dan H2 diterima, artinya variabel musyarakah mempengaruhi
profitabilitas (ROA) bank umum syariah.
3. Hasil uji t variabel murabahah didapatkan nilai t hitung < t tabel (-
1,750 < 2,015) dan nilai signifikan > 0,05 (0,087 > 0,05). Maka H0
diterima dan H3 ditolak, artinya variabel murabahah tidak
mempengaruhi profitabilitas (ROA) bank umum syariah.
b. Uji F (Simultan)
secara simultan (bersama-sama). Berdasarkan pengujian menunjukkan bahwa
nilai signifikannya sebesar 0,000 sehingga lebih kecil dari 0,05 dan hasil F
hitung sebesar 27,338 lebih besar daripada F tabel yaitu sebesar 2,82. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan atau
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA).
ANOVAa
1 Regression 4.840 3 1.613 27.338 .000b
Residual 2.597 44 .059
c. Koefisien Determinasi
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hasil koefisien determinasi
adalah Adjusted R-Square yaitu sebesar 0,627 atau 62,7%. Artinya hubungan
korelasi antara variabel bebas mudharabah, musyarakah dan
murabahahterhadap profitabilitas (ROA) sebesar 62,7%. Sedangkan untuk
sisanya sebesar 37,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model regresi.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, dengan hasil tersebut
variabel dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pembiayaan mudharabah secara parsial berpengaruh positif dan tidak
signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) bank umum syariah
dikarenakan ketidakpastian pendapatan keuntungan dan tingkat risiko yang
cukup besar membuat bank cenderung kurang berminat menyalurkan
pembiayaan mudharabah.
terhadap tingkat profitabilitas (ROA) bank umum syariah dikarenakan
semakin banyak pembiayaan musyarakah yang disalurkan ke masyarakat,
maka pendapatan yang diperoleh bank akan meningkat dan secara signifikan
akan meningkatkan tingkat profitabilitas.
signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum syariah dikarenakan
nasabah kurang tepat waktu dalam pengembalian dana yang telah disalurkan
oleh bank, sehingga akan berdampak kepada tingkat profitabilitas yang
dimiliki oleh Bank Umum Syariah.
4. Pembiayaan mudharabah, musyarakah dan murabahah secara simultan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum
syariah, karena sistem bagi hasil akan memudahkan nasabah dan sistem
pembiayaan cukup konsumtif sehingga bisa memberikan kontribusi tingkat
laba, yang mengakibatkan profitabilitas naik.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka terdapat
beberapa saran yang dapat disampaikan sebagai berikut :
1. Bagi Perbankan Syariah
Saran peneliti bagi perbankan syariah, sebaiknya bank umum syariah lebih
berhati-hati dalam memilih nasabah yang akan bekerjasama dengan
menggunakan pembiayaan bagi hasil dan jual beli, dikarenakan pembiayaan
bagi hasil memiliki resiko yang lebih tinggi. Pihak bank harus bisa
meminimalisir risiko yang ada dalam pembiayan tersebut. Sedangkan dalam
pembiayaan jual beli, lebih ditekankan agar nasabah lebih tepat waktu dalam
pengembalian dana. Kedepannya Perbankan syariah seharusnya lebih
mengembangkan pembiayaan mudharabah, musyarakah dan murabahah ini
agar menarik minat nasabah dalam bekerjasama, sehingga mempengaruhi
pendapatan yang diterima oleh pihak bank.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Saran bagi peneliti selanjutnya yang akan membahas mengenai profitabilitas
bank umum syariah yang digambarkan dalam rasio Return on Asset (ROA)
agar menggunakan variabel yang sekiranya lebih berpengaruh terhadap ROA,
serta diharapkan lebih memperbarui dan menambah periode penelitian agar
hasil lebih maksimal.
Aditya, M.R. dan Nugroho, M.A. (2016). Pengaruh pembiayaan mudharabah dan
musyarakah terhadap tingkat profitabilitas Bank Umum Syariah tahun
2010-2014. Jurnal Profita Edisi 4. 1-11. Diakses pada 11 November 2020.
Arifianto, T. dan Apollo. (2020). Pengaruh bagi hasil pembiayaan mudharabah,
musyarakah dan murabahah terhadap profitabilitas. Universitas Mercu
Buana Jakarta. Vol 1 no 4. 385-392. Daiakses pada 16 November 2020.
Arifin dan Rivai, V. R. (2010). Islamic Banking. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Ascarya. (2011). Akad & Produk Bank Syariah : Cetakan Ketiga. Jakarta:
Rajawali Pers.
Universitas Widyatama. Diakses pada 20 November 2020.
Emha, Bustomi. (2014). Analisis pengaruh pembiayaan mudharabah, musyarakah
dan ijarah terhadap kemampu labaan Bank Muamalat di Indonesia.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Diakses pada 20
Oktober 2020.
murabahah, isthisna’,ijarah, mudharabah dan musyarakah terhadap
profitabilitas Bank Umum Syariah di Indonesia. Jurnal Magister
Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. Vol 6 no 3. 10-18.
Diakses 21 Oktober 2020.
Karim. (2014). Bank Islam (Analisis Fiqih dan Keuangan). Jakarta: PT Raja
Grafindo.
Kasmir. (2004). Bank & Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Machmud Rukmana, A. (2010). Bank Syariah Teori, Kebijakan dan Studi Empiris
di Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Rivai, V. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan. Jakarta:
PT Grafindo Persada.
Yaya, R. (2014). Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik Kontemporer.
Jakarta: Salemba Empat.