of 23/23
PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6) PENDAHULUAN Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Indra pengindraan dan keseimbangan serta penghantar suara terletak dalam tulang temporal, yang ikut membentuk kubah tengkorak dan tulang pipi. Tulang temporal terdiri dari bagian skuamosa, bagian timpani, bagian mastoid, dan pars petrosa. Bagian skuamosa os temporal sebagian besar tipis dan cembung kearah luar sebagai tempat perlengketan muskulus temporalis. Bagian timpani berbentuk suatu silinder yang tidak sempurna, bersama-sama dengan bagian skuama membentuk liang telinga luar bagian tulang. Bagian terbesar os temporal dibentuk oleh bagian mastoid. Bagian mastoid mengalami pneumatisasi yang luas. Pars petrosa yang disebut sebagai pyramid petrosa yang berisi labirin telinga. Bagian superior tulang ini membentuk permukaan inferior fossa kranii media. 1 | Page

Otitis Media Akut

  • View
    156

  • Download
    19

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah pbl

Text of Otitis Media Akut

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

PENDAHULUAN Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Indra pengindraan dan keseimbangan serta penghantar suara terletak dalam tulang temporal, yang ikut membentuk kubah tengkorak dan tulang pipi. Tulang temporal terdiri dari bagian skuamosa, bagian timpani, bagian mastoid, dan pars petrosa. Bagian skuamosa os temporal sebagian besar tipis dan cembung kearah luar sebagai tempat perlengketan muskulus temporalis. Bagian timpani berbentuk suatu silinder yang tidak sempurna, bersamasama dengan bagian skuama membentuk liang telinga luar bagian tulang. Bagian terbesar os temporal dibentuk oleh bagian mastoid. Bagian mastoid mengalami pneumatisasi yang luas. Pars petrosa yang disebut sebagai pyramid petrosa yang berisi labirin telinga. Bagian superior tulang ini membentuk permukaan inferior fossa kranii media.

1|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

ANAMNESIS Penegakan diagnosis diawali dengan anamnesis (history taking). Oleh karena kasus ini sering berlaku pada anak-anak maka pertanyaan diajukan kepada orang tuanya dengan cara alloanamnesis. Antara yang ditanyakan ialah : a. Keluhan utama b. Perjalanan penyakitnya seperti apa saja : Sudah berapa lama berlaku? Gejala apa saja yang timbul? Sakitnya seperti apa dan dimana? Frekuensi sakitnya? Apakah ada cairan yang keluar dari telinga atau tidak? Jika ada warnanya apa? Ada bau atau tidak?

c. Riwayat penyakit sebelumnya Apakah ada demam sebelumnya? Apakah ada infeksi saluran nafas seperti batuk,pilek dan sebagainya?

Selalunya pada infeksi telinga dalam berlaku pada anak kecil yang belum bisa memberitahu ke orang tuanya rasa sakit. Jadi ditanyakan pada orang tuanya apakah anaknya mempunyai gejala seperti : Menarik-narik cuping telinganya sendiri Rewel dan sering nangis Susah tidur Demam Cairan keluar dari telinga Gangguan keseimbangan atau sering jatuh Kesukaran mendengar atau kurang merespon terhadap sesuatu bunyi

2|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik1 Inspeksi Periksalah kedua-dua telinga pasien yaitu dibagian aurikula,preaurikula dan retroaurikula. Dilihat sama ada terdapat edema, massa, fistula, abses, pucat atau hiperemis Meatus akustikus externus : dilihat apakah terdapat edema, massa, fistula, hiperemis, abses, dan furunkel Membran timpani : diperiksa reflex cahaya positif atau negatif, keadaannya masih utuh atau tidak (perforasi), warna, menonjol atau tidak.

Palpasi Adakah terdapat nyeri pada pergerakan aurikula Apakah ada rasa nyeri tekan pada tragus

Pemeriksaan Penunjang2 Pemeriksaan otoskopi Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.

Pemeriksaan audiologi Evaluasi audiometri, pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran tulang dan udara, penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.

Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologi merupakan alat penunjang diagnostik yang penting dalam diagnosis penyakit telinga. Setelah memperoleh riwayat lengkap dan pemeriksaan telinga tengah dan mastoid yang cermat dengan otoskop, maka dapat diputuskan perlu tidaknya pemeriksaan radiologis.4 Pemeriksaan radiologi pada telinga berfungsi untuk menentukan :

3|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

a. Struktur anatomi tulang mastoid, meliputi sel udara mastoid, diploe dan sklerotik mastoid. b. Mendeteksi adanya perubahan patologis seperti perselubungan pada sel mastoid, erosi pada tulang dan pembentukan kavitas. c. Keadaan telinga dalam, kanalis auditorius interna, kanalis semisirkularis dan nervus fasialis. d. Keadaan tulang-tulang pendengaran pada telinga tengah.

Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan tulang temporal. Oleh karena, tulang temporal mempunyai struktur anatomi yang overlapped dengan beberapa struktur tulang tengkorak lainnya. Tulang temporal merupakan struktur yang unik karena ukurannya yang kecil yang dikelilingi oleh sistem sel pneumatisasi yang ekstensif. Oleh karena densitas berlainan dari komponen tulangnya dan ruang yang berisi udara dan cairan disekeliling dan didalamnya, tulang temporal memperlihatkan gambaran radiografi yang akurat. Hal ini dapat dibuat dengan pemeriksaan radiografi konvensional atau dengan teknik tomografi yang khas.2 Pemeriksaan radiologi konvensional pada tulang temporal mempunyai nilai penyaring serta dapat menentukan status pneumatisasi mastoid dan pyramid tulang petrosa. Dengan pemeriksaan radiologi konvensional ini dapat dinilai besar dan perluasan suatu lesi besar yang berasal dari tulang temporal atau yang merupakan perluasan dari lesilesi struktur sekitar tulang temporal kearah tulang temporal. Hal ini bermanfaat untuk mempelajari mastoid, telinga tengah, labirin dan kanalis akustikus internus. 1. Posisi Schuller2 Posisi ini menggambarkan penampakan lateral mastoid. Proyeksi foto dibuat dengan bidang sagital kepala terletak sejajar meja pemeriksaan dan sinar-X ditujukan dengan membentuk sudut 30o cephalo-caudad. Pada posisi ini perluasan pneumatisasi mastoid serta struktur trabekulasi dapat tampak dengan jelas. Posisi ini juga memberikan informasi dasar tentang besarnya kanalis auditorius eksterna dan hubungannya dengan sinus lateralis. 2. Posisi Owen2

4|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

Posisi ini juga menggambarkan penampakan lateral mastoid dan proyeksi dibuat dengan kepala terletak sejajar meja pemeriksaan atau film lalu wajah diputar 30o menjauhi film dan berkas sinar-X ditujukan dengan sudut 30-40o cephalo-caudal. Umumnya posisi owen dibuat untuk memperlihatkan kanalis auditorius eksternus, epitimpanikum, bagian-bagian tulang pendengaran dan sel udara mastoid. 3. Posisi Chausse III2 Posisi ini merupakan penampakan frontal mastoid dan ruang tengah telinga. Proyeksi dibuat dengan oksiput terletak diatas meja pemeriksaan, dagu ditekuk kearah dada lalu kepala diputar 10-15o kearah sisi berlawanan dari telinga yang diperiksa. Posisi ini merupakan posisi tambahan setelah pemeriksaan posisi lateral mastoid. Posisi Chausse III ini merupakan posisi radiologik konvensional yang paling baik untuk pemeriksaan telinga tengah terutama untuk pemeriksaan otitis media kronik atau kolesteatoma. 4. Posisi Law2 Posisi law hampir serupa dengan posisi lateral, sangat bernilai dalam evaluasi mastoiditis akut. Posisi ini kini sering diminta sebelum dilakukan pembedahan mastoid untuk melakukan letak patokan-patokan utama seperti tegmen mastoid dan sinus sigmoideus, dan juga menentukan ukuran mastoid secara keseluruhan. 5. Posisi Stenvers2 Kepala terletak sejajar meja pemeriksaan atau film lalu wajah diputar 45o menjauhi film dan berkas sinar-X Posisi Stenvers memperlihatkan sumbu panjang pyramid petrosus dengan kanalis akustikus internus, labirin dan antrum.

5|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS Otitis eksternal3 Otitis eksternal atau "telinga perenang" adalah infeksi kulit yang menutupi telinga luar dan saluran telinga. Otitis eksternal akut umumnya infeksi bakteri yang disebabkan oleh streptococcus, Staphylococcus, atau jenis pseudomonas bakteri. Infeksi telinga perenang biasanya disebabkan oleh paparan air yang berlebihan dari berenang, menyelam, surfing, kayak, atau olahraga air lainnya. Ketika air terkumpul dalam saluran telinga (sering terjebak oleh lilin), kulit bisa menjadi lembek dan melayani sebagai daerah mengundang bagi bakteri untuk tumbuh. Luka atau lecet pada lapisan saluran telinga (misalnya, dari cedera kapas) juga dapat menyebabkan rentan terhadap infeksi bakteri pada saluran telinga. Gejala pertama dari infeksi adalah bahwa telinga akan merasa penuh, dan mungkin gatal. Selanjutnya, saluran telinga akan membengkak dan drainase telinga akan mengikuti. Pada tahap ini telinga akan sangat menyakitkan, terutama dengan gerakan dari bagian luar telinga. Saluran telinga dapat membengkak tertutup, dan sisi wajah dapat menjadi bengkak. Akhirnya, kelenjar getah bening (kelenjar) dari leher mungkin membesar, sehingga sulit atau menyakitkan untuk membuka rahang. Orang dengan telinga perenang mungkin mengalami beberapa gangguan pendengaran sementara di telinga yang terkena.

Otitis media supuratif kronik ( OMSK )4 Otitis media supuratif kronik ( OMSK ) ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan

perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul, sekret dapat encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis media supuratisf kronis selian merusak jaringan lunak pada telinga tengah dapat juga merusak tulang dikarenakan terbentuknya jaringan patologik sehingga sedikit sekali / tidak pernah terjadi resolusi spontan.4 Penyakit OMSK ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap dan morbiditas penyakit telinga tengah kronis ini dapat berganda, gangguan pertama berhubungan dengan infeksi telinga tengah yang terus menerus ( hilang timbul ) dan gangguan kedua adalah kehilangan fungsi pendengaran yang6|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

disebabkan kerusakan mekanisme hantaran suara dan kerusakan konka karena toksisitas atau perluasan infeksi langsung.4 Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi campuran bakteri dari meatus auditoris eksternal , kadang berasal dari nasofaring melalui tuba eustachius saat infeksi saluran nafas atas. Organisme-organisme dari meatus auditoris eksternal termasuk staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus, B.coli dan aspergillus. Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus viridans ( streptococcus A hemolitikus, streptococcus B hemolitikus dan pneumococcus.4

WORKING DIAGNOSIS Otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat akut atau tibatiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah terdapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi akibat tidak berfungsinya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anak-anak semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media akut juga semakin sering.5 Diagnosis OMA harus memenuhi 3 hal berikut 5: Penyakit onsetnya mendadak Ditemukan efusi di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu diantara tanda-tanda berikut : o Membrane timpani mengembung atau menonjol o Terbatas / tidak adanya gerakan membrane timpani o Adanya bayangan cairan di belakang telinga o Cairan yang keluar dari telinga. Adanya tanda radang pada telinga tengah yang dibuktikan dengan satu diantara tanda berikut :7|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

o Kemerahan gendang telinga o Nyeri telinga mengganggu tidur dan aktivitas normal Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan, mual, muntah serta rewel.5

Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop. Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang mengembung, perubahan warna gendang telinga (kemerahan atau agak kuning ), serta cairan di liang telinga. Jika diperlukan konfirmasi, umumnya dilakukan otoskopi pneumatic untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini juga. 6

OMA harus dibedakan dari otitis media supuratif yang mirip OMA. Gejala dan tanda Nyeri telinga, demam, rewel Efusi telinga tengah Gendang telinga suram OMA + + + Otitis media supuratif + +/+ +

Gendang yang menggembung +/Gerakan gendang berkurang Berkurangnya pendengaran + +

ETIOLOGI Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media. Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu, ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling sering. Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcushemoliticus,Haemophilus Influenzae(27%),Staphylococcus aureus(2%),Streptococcus Pneumoniae(38%),Pneumococcus. Pada anak-anak, makin sering

8|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal.6,7

EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat, 70% dari semua anak-anak mengalami satu atau lebih serangan OMA sebelum ulang tahun yang kedua. Sebuah studi dari Pittsburgh yang prospektif diikuti anak-anak perkotaan dan pedesaan untuk 2 tahun pertama kehidupan ditentukan bahwa kejadian episode efusi telinga tengah adalah sekitar 48% pada usia 6 bulan, 79% pada usia 1 tahun, dan 91% pada usia 2 tahun.8

Kejadian puncak dari AOM adalah pada anak usia 3-18 bulan. Beberapa bayi mungkin mengalami serangan pertama mereka segera setelah lahir dan dianggap otitis rawan (misalnya, berisiko untuk otitis media berulang). Dalam studi Pittsburgh, insiden tertinggi pada anak-anak miskin perkotaan. Perbedaan dalam insiden antar negara dipengaruhi oleh faktor ras, sosial ekonomi, dan iklim.8

PATOFISIOLOGI

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat tuba Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.5,6,7

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.OMA dapat berkembang menjadi otitis9|Page

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.7,8 OMA memiliki beberapa stadium klinis antara lain4: Stadium oklusi tuba eustachius a. Terdapat gambaran retraksi membran timpani. b. Membran timpani berwarna normal atau keruh pucat. c. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa virus. Stadium hiperemis a. Pembuluh darah tampak lebar dan edema pada membran timpani. b. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat. Stadium supurasi a. Membran timpani menonjol ke arah luar. b. Sel epitel superfisila hancur. c. Terbentuk eksudat purulen di kavum timpani. d. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga tambah hebat. Stadium perforasi a. Membran timpani ruptur. b. Keluar nanah dari telinga tengah. c. Pasien lebih tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. Stadium resolusi a. Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali. b. Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering. c. Resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan bila virulensi rendah dan daya tahan tubuh baik

10 | P a g e

PBL 23 : Otitis Media Akut (Skenario 6)

GEJALA KLINIS Gejala klinis OMA bergantung kepada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat bicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan disamping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. 2,3,4 Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh ditelinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil, gejala khas OMA ialah suhu tubuh yang tinggi sampai dapat sampai 39.5C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur , diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi rupture membrane timpani, maka secret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.2,3,4

FAKTOR RISIKO6 Perubahan cuaca dan suhu Paparan terhadap rokok dan allergen Setiap hari di hantar ke baby daycare Tidak mendapat ASI ekslusif Riwayat keluarga yang mempunyai infeksi telinga dan allergy. Mempunyai riwayat ISPA Mempunyai kelainan anatomi seperti sumbing, kelainan tuba Eustachii, tumor nasopharynx Mempunyai riwayat sebelum usia 6 bulan pernah mempunyai kelainan immunologi ataupun anatomi.

PENATALAKSANAAN6 Pengobatan OMA bergantung kepada stadium penyakitnya. Stadium oklusi Bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius, sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung. HCL 0.5% dalam larutan fisiologis (anak