of 17 /17
Batuk berdahak kental disertai panas badan Step 1 1. Batuk berdahak kental kehijauan : kemungkinan terjadinya bronkiektasis, dahak kental kehijauan menandakan infeksi bakteri. 2. Sesak nafas : perasaan tidak nyaman saat bernafas biasanya pendek dan pelan, dapat disesbabkan oleh gangguan sistem pernafasan hidung, tenggorok, paru2. 3. infiltrat : gambaran konsolidasi akibat tidak adanya difusi di alveolus. 4. Suara dasar bronchial : suara yg berfrekuensi tinggi, kasar, dan nyaring, dan terdapat waktu jeda di antara inspirasi dan ekspirasi. 5. Pengecatan gram : suatu tehnik pewarnaan yg paling penting yg digunakan untuk mengindentifikasi bakteri. 6. Kultur sputum : tujuannya untuk mendapatkan data mikroorganisme patogen, sitologi sel ganas, pehintungan diferensial sel, ph, protein, glukosa, ldh, dan berat jenis. 7. Pneumonia severity index : score untuk menilai derajat resiko atau keparahan dari pneumonia. Step 2 1. Apa Etiologi dari scenario ? 2. Apa Manifestasi klinis dari scenario? 3. Bagaimana patofisiologi pada scenario? 4. Mengapa pasien mengeluhkan batuk berdahak kental kehijauan ? 5. Mengapa pasien disertai panas terus menerus dan sesak nafas? 6. Mengapa pada pemeriksaan paru pada lobus kanan dan kiri redup, ronki basah, dan terdengar suara dasar bronchial? 7. Bagaimana interpretasi hasil foto rontgen ada infiltrat pada kedua lapang paru? 8. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk kasus di scenario?

LI LBM 3 zakka Respirasi.docx

Embed Size (px)

Text of LI LBM 3 zakka Respirasi.docx

Batuk berdahak kental disertai panas badanStep 11. Batuk berdahak kental kehijauan: kemungkinan terjadinya bronkiektasis, dahak kental kehijauan menandakan infeksi bakteri.2. Sesak nafas : perasaan tidak nyaman saat bernafas biasanya pendek dan pelan, dapat disesbabkan oleh gangguan sistem pernafasan hidung, tenggorok, paru2.3. infiltrat : gambaran konsolidasi akibat tidak adanya difusi di alveolus.4. Suara dasar bronchial : suara yg berfrekuensi tinggi, kasar, dan nyaring, dan terdapat waktu jeda di antara inspirasi dan ekspirasi.5. Pengecatan gram : suatu tehnik pewarnaan yg paling penting yg digunakan untuk mengindentifikasi bakteri.6. Kultur sputum : tujuannya untuk mendapatkan data mikroorganisme patogen, sitologi sel ganas, pehintungan diferensial sel, ph, protein, glukosa, ldh, dan berat jenis.7. Pneumonia severity index : score untuk menilai derajat resiko atau keparahan dari pneumonia.Step 21. Apa Etiologi dari scenario ?2. Apa Manifestasi klinis dari scenario?3. Bagaimana patofisiologi pada scenario?4. Mengapa pasien mengeluhkan batuk berdahak kental kehijauan ?5. Mengapa pasien disertai panas terus menerus dan sesak nafas?6. Mengapa pada pemeriksaan paru pada lobus kanan dan kiri redup, ronki basah, dan terdengar suara dasar bronchial?7. Bagaimana interpretasi hasil foto rontgen ada infiltrat pada kedua lapang paru?8. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk kasus di scenario?9. Bagaimana cara penegakan diagnosis dan apa DD dari scenario?10. Apa saja klasifikasi penyakit pada scenario?11. Mengapa dilakukan pengecatan gram dan kultur sputum?12. Bagaimana interpretasi pneumonia severity index?13. Mengapa dokter memberi antibiotik dan apa penatalaksanaannya?14. Apa komplikasi dari kasus pada scenario?15. Bagaimana prognosisnya?16. Bagaimana cara mengedukasinya? Step 31. Apa Etiologi dari scenario ? Bakteri, ex : steptococcus pnemoniae tipe pneumonia bakterial. Streptococcus pyogenes tipe penyakit legionnaires Staphylococcus aureus tipe pneumonia aspirasi / anaerob Fungi ex : aspergilus tipe aspergilosis Actinomicetes ex : nocardia asteroides tipe nocardiosis pulmonal Ricketsia ex : cocxyela burneti tipe demam Q Klamidia ex : Klamidia psittaci tipe Psitakosis, ornitosis Mikoplasma ex : mikplasma pneumoniae tipe pneumonia mikoplasma Virus ex : influenza virus, adeno virus tipe pnemonia viral Protozoa ex : pneumosistis Carini tipe pneumonia pneumosistisBahan kimia atau paparan fisik (radias dan suhu) tipe pneumonitisUsia Etiologi yang seringEtiologi yang jarang

Lahir 20 hari BakteriBakteri

E. colliBakteri anaerob

Streptoccus group BStreptoccous group D

Listeria monocytogenesHaemophilllus influenzae

Streptococcus pneumoniae

Ureaplasma urealyticum

Virus

Virus sitomegalo

Virus Herpes simpleks

3 minggu 3 bulan BakteriBakteri

Chlamydia trachomatisBordetella pertusis

Streptococcus pneumoniaeHaemophilus influenzae tipe B

VirusMoraxella catharalis

Virus AdenoStaphylococcus aureus

Virus Influenza Ureaplasma urealyticum

Virus Parainfluenza 1,2,3 Virus

Respiratory Syncytial Virus Virus sitomegalo

4 bulan 5 tahunBakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B

Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis

Streptococcus pneumoniae Neisseria meningitidis

Virus Staphylococcus aureus

Virus Adeno Virus

Virus Influenza Virus Varisela-Zoster

Virus Parainfluenza

Virus Rino

Respiratory Syncytial virus

5 tahun remajaBakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae

Mycoplasma pneumoniae Legionella sp

Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus

Virus

Virus Adeno

Virus Epstein-Barr

Virus Influenza

Virus Parainfluenza

Virus Rino

Respiratory Syncytial Virus

2. Apa Manifestasi klinis dari scenario? Demam Batuk Sesak nafas Sakit tenggorokan Mual berat Sakit kepala berat karena virus influenza Produksi sputum sedikit pneumonia fase awal / dehidrasiRusty sputum, sputum seperti karet besi karena infeksi pneumococcusSputum berbau busuk . Karena pneumoni aspirasi / infeksi anaerob Mialgia

Clinical ManifestationsThe clinical manifestations are generally the same in VAP as in all other forms of pneumonia: fever, leukocytosis, increase in respiratory secretions, and pulmonary consolidation on physical examination, along with a new or changing radiographic infiltrate. The frequency of abnormal chest radiographs before the onset of pneumonia in intubated patients and the limitations of portable radiographic technique make interpretation of radiographs more difficult than in patients who are not intubated. Other clinical features may include tachypnea, tachycardia, worsening oxygenation, and increased minute ventilation.

3. Bagaimana patofisiologi pada scenario?Virus penfasan atasBakteri dan aspirasi menyerang epiglotis penafasan bawah makrofag aktif menyerang sel T dan neutrofil protease dan lisozim aktif inflamasi akumulasi eksudat di alveolus pneumonia

4. Mengapa pasien mengeluhkan batuk berdahak kental kehijauan ?Neutrofil memproduksi bahan kimia antiseptik ini diperlukan bantuan sebuah enzim yang disebut myeloperoxidase. Enzim ini sendiri juga membutuhkan 'pembantu', yang disebut co-enzim, agar enzim dapat berfungsi lebih baik. Dan co-enzim yang berperan adalah co-enzim besi, dan inilah yang akhirnya memberikan mukus warna hijaunya. Sumber : http://www.nejm.org/search?q=pneumonia&asug=pne Warna sputum yang berwarna kuning menunjukkan proses infeksi, warna hijau menunjukkan adanya penimbunan nanah. Warna hijau timbuk karena adanya verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukosit PMN dalam sputum. Sputum yang berwarna hijau sering ditemukan dalam pneumonia dan bronkiektasis akibat infeksi. Patofisiologi sylvia a. Prince volume 2 edisi 6 EGC Karena adanya fibrinopurulen (kombinasi fibrin dan neutrofil) di dalam rongga alveolus. Hal ini terjadi akibat kongesti pada kapiler sebagai bentuk mekanisme pertahanan paru yg menyebabkan kapiler di sekitar alveolus berdilatasi dan bocor sehingga neutrofil dan fibrin keluar dari kapiler untuk membersihkan alveolus dari mikroorganisme. Fibrinopurulen inilah yg menyebabkan sputum berwarna hijau. Kemudian eksudat fibrin ini akan dicerna secara enzimatis dan dikeluarkan dari alveolus dengan cara dibatukkan. 5. Mengapa pasien disertai panas terus menerus dan sesak nafas?

6. Mengapa pada pemeriksaan paru pada lobus kanan dan kiri redup, ronki basah, dan terdengar suara dasar bronchial?

redup atau gangguan resonansi di akibatkan oleh setiap keadaan yang menganggu getaran resonan normal dalam paru-paru atau keadaan yang menggangu pengahtaran dari getaran tersebut dari luar. Oleh karen itu konsilidasi parenkim paruparu mengakibatkan suara perkusis resup contoh penyakit seperti penumonia, neoplasma, atelektasis, fibrosis pleura, efusi pleura. Suara resonansi skodaik bagian bawah paru mengalami kompresi oleh setiap efusi pleuritik dan volume bagian atasnya berkurang , suara bagian atas toraks akan bersifat timpani (pneumonia lobaris) di atas daerah konsolidasi. Sumber: DELF, Mohlan. H. 1996. Major Diagnosis Fisik. Ed 9. Jakarta :EGC

7. Bagaimana interpretasi hasil foto rontgen ada infiltrat pada kedua lapang paru? X Foto Toraks. Gambaran konsolidasi radang. Udara dalam alveoli digantikan oleh cairan dan sel radang -- bayangan homogen densitas tinggi pada satu segmen, lobus, sekumpulan segmen lobus berdekatan. Beda dengan atelektasis -- tidak terdapat pengurangan volum. Bercak sekitar bronkus, melibatakan alveoli -- bronkopneumonia.

8. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk kasus di scenario? Pemeriksaan Penunjang mendengar crackles atau napas normal terdengar ketika mendengarkan dada Anda dengan stetoskop. Lain suara pernapasan abnormal juga dapat didengar melalui stetoskop atau dengan menekan di dinding dada (perkusi). Radiologi : di temukan adanya infiltrat Gas darah arteri : saturasi oksigen normal sampai turun Darah rutin : peningkatan jumlah leukosit (neutrofil) CT scan dada: di temukan adanya infiltat Cultur dahak : mencari bakteri atau virus yang menyebabkan gejala Cultur cairan pleura: jika ada cairan dalam ruang di sekitar paru-paru Kadar CRP: terjadi kenaikan CRP akibat infeksi Pemeriksaan yang jarang : Bronkoskopi: di temukan adanya peradangan dan cairan Thoracentesis :menghapus cairan dari ruang antara lapisan luar dari paru-paru dan dinding dada

9. Bagaimana cara penegakan diagnosis dan apa DD dari scenario?

10. Apa saja klasifikasi penyakit pada scenario?

11. Mengapa dilakukan pengecatan gram dan kultur sputum?12. Bagaimana interpretasi pneumonia severity index?13. Mengapa dokter memberi antibiotik dan apa penatalaksanaannya?Antibiotic ResistanceIf it were not for the risk of infection with MDR pathogens (Table 257-1), VAP could be treated with the same antibiotics used for severe CAP. However, antibiotic selection pressure leads to the frequent involvement of MDR pathogens by selecting either for drug-resistant isolates of common pathogens (MRSA and extended-spectrum -lactamasepositive Enterobacteriaceae) or for intrinsically resistant pathogens (P. aeruginosa and Acinetobacter spp.). Frequent use of -lactam drugs, especially cephalosporins, appears to be the major risk factor for infection with MRSA and extended spectrum -lactamasepositive strains.P. aeruginosa has demonstrated the ability to develop resistance to all routinely used antibiotics. Unfortunately, even if initially sensitive, P. aeruginosa isolates have also shown a propensity to develop resistance during treatment. Either derepression of resistance genes or selection of resistant clones within the large bacterial inoculum associated with most pneumonias may be the cause. Acinetobacter spp., Stenotrophomonas maltophilia, and Burkholderia cepacia are intrinsically resistant to many of the empirical antibiotic regimens employed (see below). VAP caused by these pathogens emerges during treatment of other infections, and resistance is always evident at initial diagnosis.

Preventif Cuci tangan Anda sering, terutama setelah: Meniup hidung Anda Pergi ke kamar mandi Popok Juga mencuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan. Jangan merokok. Tembakau merusak kemampuan paru-paru Anda untuk menangkal infeksi. Vaksin dapat membantu mencegah beberapa jenis pneumonia. Mereka bahkan lebih penting untuk orang tua dan orang-orang dengan diabetes, asma emfisema,, HIV, kanker, atau kondisi jangka panjang: Vaksin Flu mencegah pneumonia dan masalah lain yang disebabkan oleh virus influenza. Ini harus diberikan setiap tahun untuk melindungi terhadap strain virus baru. Vaksin pneumokokus (Pneumovax, Prevnar) menurunkan kesempatan Anda untuk mendapatkan pneumonia dari Streptococcus pneumoniae. Jika Anda memiliki kanker atau HIV, berbicara dengan dokter Anda tentang cara-cara untuk mencegah pneumonia dan infeksi lainnya.

Farmakologis Sebagian besar kasus pneumonia dapat diobati tanpa rawat inap. Biasanya, antibiotik oral, istirahat, cairan, dan perawatan di rumah yang cukup untuk resolusi lengkap. Namun, orang dengan pneumonia yang mengalami kesulitan bernapas, orang dengan masalah medis lainnya, dan orang tua mungkin memerlukan perawatan lebih lanjut. Jika gejala memburuk, pneumonia tidak membaik dengan perawatan di rumah, atau terjadi komplikasi, orang tersebut akan sering harus dirawat di rumah sakit. Bakteri pneumonia Antibiotik digunakan untuk mengobati pneumonia bakteri. Sebaliknya, antibiotik tidak berguna untuk radang paru-paru, meskipun mereka kadang-kadang digunakan untuk mengobati atau mencegah infeksi bakteri yang dapat terjadi di paru-paru yang rusak oleh radang paru-paru. Pilihan antibiotik tergantung pada sifat pneumonia, mikroorganisme yang paling umum menyebabkan pneumonia di wilayah geografis lokal, dan status kekebalan dan kesehatan yang mendasari individu. Pengobatan untuk pneumonia idealnya harus didasarkan pada mikroorganisme penyebab dan sensitivitas diketahui antibiotik. Namun, penyebab khusus untuk pneumonia diidentifikasi dalam hanya 50% dari orang-orang, bahkan setelah evaluasi yang luas. Karena pengobatan umumnya harus tidak ditunda dalam setiap orang dengan pneumonia yang serius, pengobatan empiris biasanya dimulai jauh sebelum laporan laboratorium tersedia. Di Inggris, amoksisilin dan klaritromisin atau eritromisin adalah antibiotik yang dipilih untuk kebanyakan pasien dengan pneumonia komunitas-diperoleh, pasien alergi terhadap penisilin diberikan eritromisin sebagai pengganti amoksisilin. Di Amerika Utara, di mana "atipikal" bentuk komunitas-pneumonia menjadi lebih umum, macrolides (seperti azitromisin dan klaritromisin), para fluoroquinolones, dan doksisiklin telah mengungsi amoksisilin sebagai lini pertama pengobatan rawat jalan bagi masyarakat-pneumonia. Lamanya pengobatan secara tradisional tujuh sampai sepuluh hari, tetapi ada bukti peningkatan bahwa kursus pendek (sesingkat tiga hari) sudah cukup. Antibiotik untuk pneumonia didapat di rumah sakit termasuk sefalosporin ketiga dan keempat generasi, carbapenems, fluoroquinolones, aminoglikosida, dan vankomisin. Antibiotik biasanya diberikan secara intravena. Beberapa antibiotik dapat diberikan dalam kombinasi dalam upaya untuk mengobati semua mikroorganisme penyebab yang mungkin. Pilihan antibiotik bervariasi dari rumah sakit ke rumah sakit karena perbedaan regional dalam mikroorganisme yang paling mungkin, dan karena perbedaan kemampuan mikroorganisme 'untuk melawan berbagai perawatan antibiotik. Orang-orang yang mengalami kesulitan bernapas karena pneumonia mungkin memerlukan tambahan oksigen. Individu sangat sakit mungkin memerlukan perawatan intensif, sering termasuk intubasi endotrakeal dan ventilasi buatan.

pneumonia Viral Radang paru-paru yang disebabkan oleh influenza A dapat diobati dengan rimantadine atau amantadine, sedangkan radang paru-paru yang disebabkan oleh influenza A atau B dapat diobati dengan oseltamivir atau zanamivir. Perawatan ini bisa menguntungkan hanya jika mereka dimulai dalam waktu 48 jam dari timbulnya gejala. Banyak strain influenza H5N1 A, juga dikenal sebagai flu burung atau "flu burung," telah menunjukkan perlawanan terhadap amantadine dan rimantadine. Tidak ada pengobatan yang efektif dikenal pneumonia virus yang disebabkan oleh coronavirus SARS, adenovirus, hantavirus, atau virus parainfluenza. pneumonia Aspirasi Tidak ada bukti untuk mendukung penggunaan antibiotik dalam pneumonitis kimia tanpa infeksi bakteri. Jika infeksi hadir dalam pneumonia aspirasi, pilihan antibiotik akan tergantung pada beberapa faktor, termasuk organisme penyebab dicurigai dan apakah pneumonia diakuisisi pada masyarakat atau dikembangkan di rumah sakit. Pilihan umum termasuk klindamisin, kombinasi antibiotik beta-laktam dan metronidazol, atau aminoglikosida. Kortikosteroid biasanya digunakan dalam pneumonia aspirasi, tetapi tidak ada bukti untuk mendukung penggunaan mereka baik. Radang paru-paru dapat bertahan lebih lama, dan pneumonia mikoplasma dapat mengambil empat sampai enam minggu untuk menyelesaikan sepenuhnya. Dalam kasus di mana pneumonia berkembang menjadi keracunan darah (bakteremia), lebih dari 20% penderita meninggal. Pneumonia Atipikal Makrolid merupakan antibiotik pilihan utama pada pneumonia atipik . Eritromisin mempunyai efektivitas klinis yang baik pada infeksi Mycoplasma pneumoniae, tetapi tidak efektif dalam mengeradikasikan mikroorganisme dari jaringan. Dosis eritromisin untuk anak berkisar antara 30-50 mg/kgBB/hari, diberikan setiap 6 jam selama 10-14 hari.

Non farmakologis Bernapas hangat, lembab (basah) udara membantu melonggarkan lendir lengket yang dapat membuat Anda merasa seperti Anda tersedak. Hal-hal ini mungkin membantu: Tempatkan kain lap, hangat dan basah longgar menutupi hidung dan mulut. Isi humidifier dengan air hangat dan menghirup kabut hangat. Ambil beberapa napas dalam-dalam dua atau tiga kali setiap jam. Napas dalam-dalam akan membantu membuka paru-paru Anda. Tekan dada dengan lembut beberapa kali sehari dan berbaring dengan kepala lebih rendah dari dada Anda. Hal ini dapat membantu memunculkan lendir dari paru-paru. Minum banyak cairan (asalkan dokter mengatakan tidak apa-apa): Minum air, jus, atau teh lemah Minum setidaknya 6 sampai 10 cangkir sehari Jangan minum alkohol Dapatkan banyak istirahat ketika Anda pulang. Jika Anda mengalami kesulitan tidur di malam hari, tidur siang siang hari. Sumber : Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada anak balita, orang dewasa, usia lanjut. Edisi 1. Jakarta : Pustaka obor Populer.

14. Apa komplikasi dari kasus pada scenario?ComplicationsApart from death, the major complication of VAP is prolongation of mechanical ventilation, with corresponding increases in length of stay in the ICU and in the hospital. In most studies, an additional week of mechanical ventilation because of VAP is common. The additional expense of this complication often warrants costly and aggressive efforts at prevention.In rare cases, some types of necrotizing pneumonia (e.g., that due to P. aeruginosa) result in significant pulmonary hemorrhage. More commonly, necrotizing infections result in the long-term complications of bronchiectasis and parenchymal scarring leading to recurrent pneumonias. The long-term complications of pneumonia are underappreciated. Pneumonia results in a catabolic state in a patient already nutritionally at risk. The muscle loss and general debilitation from an episode of VAP often require prolonged rehabilitation and, in the elderly, commonly result in an inability to return to independent function and the need for nursing home placement.

15. Bagaimana prognosisnya?PrognosisVAP is associated with significant mortality. Crude mortality rates of 5070% have been reported, but the real issue is attributable mortality. Many patients with VAP have underlying diseases that would result in death even if VAP did not occur. Attributable mortality exceeded 25% in one matched cohort study. Patients who develop VAP are at least twice as likely to die as those who do not. Some of the variability in VAP mortality rates is clearly related to the type of patient and ICU studied. VAP in trauma patients is not associated with attributable mortality, possibly because many of the patients were otherwise healthy before being injured. However, the causative pathogen also plays a major role. Generally, MDR pathogens are associated with significantly greater attributable mortality than non-MDR pathogens. Pneumonia caused by some pathogens (e.g., S. maltophilia) is simply a marker for a patient whose immune system is so compromised that death is almost inevitable.

16. Bagaimana cara mengedukasinya?