Keperawatan Komunitas: Keperawatan Keluarga (Resume)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Keperawatan Keluarga (Resume)

Text of Keperawatan Komunitas: Keperawatan Keluarga (Resume)

Resume Kasus 3-CNP 2

Nama: Tantri NoviantiNPM: 220110120120Tutor: 2

Asuhan Keperawatan Keluarga

Pengkajian dan Analisa Data

Family health care nursing (asuhan keperawatan keluarga) ialah suatu proses pemberian pelayanan kesehatan terhadap kebutuhan keluarga dalam ruang lingkup praktik keperawatan. Asuhan keperawatan tersebut dapat ditujukan ke arah the family as context (keluarga sebagai konteks), the family as a client (keluarga sebagai klien), the family as a system (keluarga sebagai sistem), dan the family as a component of society (keluarga sebagai bagian dari masyarakat), (Kaakinen et al., 2010). Keempat komponen tersebut merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan.

a. The Family as a ContextPendekatan pertama ini berfokus pada pengkajian dan perhatian terhadap klien secara individual di mana keluarga sebagai konteksnya. Dengan kata lain, pendekatan ini disebut juga Family Centered atau Family Focused. Fokus pendekatan tradisional ini menjadikan individu sebagai latar depan dan keluarga sebagai latar belakang pengkajian. Keluarga berperan dalam konteks pemberi dukungan maupun stres bagi kondisi sehat sakit seseorang.b. The Family as a ClientPendekatan kedua berfokus pada pengkajian terhadap seluruh anggota keluarga. Perawat keluarga tertarik pada keadaan di mana semua anggota keluarga secara individu terpengaruhi oleh keaadan kesehatan salah satu anggota keluarga tersebut. Dalam pendekatan ini, semua anggota keluarga menjadi latar depan, maka pengkajian berfokus pada setiap individu dan asuhan keperawatan diberikan pada setiap anggota keluarga.c. The Family as a SystemPendekatan ketiga memandang keluarga sebagai satu kesatuan sistem interaksi. Dengan kata lain, interaksi antaranggota keluarga menjadi target intervensi keperawatan berdasarkan pada pengkajian keluarga secara keseluruhan. Pendekatan ini berfokus pada individu dan keluarga dengan bersamaan, menekankan pada pola interaksi antaranggota keluarga. Semakin banyak anak, suatu keluarga akan memiliki interaksi yang semakin kompleks. Pendekatan sistem ini selalu menyiratkan bahwa ketika sesuatu terjadi pada salah satu sistem, hal tersebut akan memengaruhi bagian sistem yang lain (Kaaninen, 2014).

d. The Family as a Component of SocietyPendekatan ke empat melihat keluarga sebagai salah satu institusi dalam masyarakat, sama seperti kesehatan, pendidikan, keagamaan, atau institusi ekonomi. Keluarga merupakan unit primer atau dasar yang menjadi bagian dari sistem kemasyarakatan yang lebih besar. Sebuah keluarga secara keseluruhan berinteraksi dengan institusi lainnya untuk saling menerima, bertukar, maupun mengirim informasi melalui pelayanan dan komunikasi.

Gambar 1. Pendekatan Keperawatan Keluarga

Model Pengkajian Keluarga

Keluarga merupakan sistem sosial yang kompleks di mana perawat berinteraksi dengan cara dan konteks yang berbeda-beda, penggunaan pendekatan pengkajian keperawatan yang logis dan sistematis menjadi penting dalam hal ini. Terdapat model dan instrumen pengkajian keluarga yang dapat digunakan dalam praktik keperawatan keluarga, di antaranya: The Family Assessment and Intervention Model dikembangkan oleh Barkey-Mischke dan Hanson (1991); FS3I (The Family System Stressor-Strength Inventory) dikembangkan oleh Hanson (2001); Firedman Family Assessment Model (Friedman et al., 2003); The Calgary Family Assessment Model (CFAM) dan The Calgary Family Intervention Model (CFIM) dikembangkan oleh Wright dan Leahey (2013).

Tabel berikut menunjukkan perbandingan dari keempat model pengkajian keperawatan keluarga (Kaakinen, 2015, dalam buku Family Health Care Nursing: Theory, Practice, and Research).

Nama ModelThe Family Assessment and Intervention Model dan FS3IFiredman Family Assessment ModelThe Calgary Family Assessment and Intervension Model

KutipanBarkey-Mischke dan Hanson (1991);Hanson (2001)(Friedman et al., 2003)Wright dan Leahey (2013)

TujuanKonkret, berfokus pada instrumen pengukuran yang membantu keluarga mengidentifikasi stresor keluarga dan melakukan intervensi sesuai dengan kekuatan keluarga.Konkret, panduan global wawancara pengkajian keluarga yang terutama melihat keluarga dalam komunitas yang lebih besar di mana mereka berada.Model konseptual dan pendekatan multidimensi untuk keluarga dengan melihat kecocokan antarfungsi keluarga, afektif, dan aspek-aspek perilaku.

Landasan TeoriSistem:- Family System- Neuman SystemModel:- Stress-Coping- Theory- Developmental- Structural-functional- Family stress-coping- EnvironmentalSistem:- Cybernetics Communication Change Theory

Tingkat pengumpulan dataKuanitatif: Ordinal & IntervalKualitatif: NominalKualitatif: NominalKualitatif: Nominal

Seting yang paling banyak digunakanRawat inap;Rawat jalan;Komunitas.Rawat jalan;Komunitas.Rawat jalan;Komunitas.

Unit analisisFamily as context;Family as client;Family as system;Family as component of society.Family as client;Family as component of society.Family as system.

KekuatanSingkat,Mudah dilakukan,Hasil data dapat membandingkan satu anggota keluarga dengan anggota lainnya,Fokus pengkajian dan pengukuran menyajikan masalah.Area yang komprehensif untuk mengkaji keluarga.Konseptual.

KelemahanVariabel yang sempit.Banyak data yang mungkin tidak berkaitan dengan masalah,Tidak adanya data kuantitatif.Tidak cukup konkret untuk digunakan sebagai panduan, kecuali jika model ini telah diuji secara mendalam.

Dalam buku lain, Nurses and Families: A Guide to Family Assessment and Intervension (Wright & Leahey, 2013) menjelaskan tentang aplikasi model CFAM dan CFIM, di mana CFAM memiliki tiga kategori pengkajian, yaitu Structural, Developmental, dan Functional. Setiap kategori memiliki sub-kategori yang dapat perawat pilih untuk menjadi fokus pengkajian. Artinya perawat dituntut untuk cermat dalam menentukan apa saja yang harus dikaji terhadap keluarga yang dihadapinya, dan tidak semua sub-kategori perlu dikaji. Berikut diagram cabang dari CFAM:

Instrumen Pengkajian Keluarga

Family GenogramSuatu format yang menggambarkan pohon keluarga dengan mencantumkan informasi mengenai anggota keluarga dan hubungannya, minimal tiga generasi (McGoldrick, Gerson, & Petry, 2008). Data yang dibutuhkan untuk membuat genogram keluarga di antaranya: Identifikasi siapa saja keluarga inti. Identifikasi siapa yang mempunyai masalah kesehatan. Identifikasi semua orang yang tinggal bersama keluarga inti. Tentukan bagaimana hubungan antaranggota dalam keluarga tersebut. Mengumpulkan data diri setiap anggota keluarga, meliputi: umur, jenis kelamin, pengejaan nama yang tepat, masalah kesehatan, pekerjaan, tanggal-tanggal hubungan (menikah, berpisah, bercerai, kembali tinggal serumah), serta tanggal dan usia kematian (anggota keluarga terkait, bila ada). Dapatkan informasi yang sama dari semua anggota keluarga lintas generasi, sebagai konsistensi data dan untuk mengungkap pola keadaan sehat-sakit keluarga. Tambahkan informasi yang berkaitan dengan situasi, seperti lokasi geografis dan pola interaksi.

Simbol-simbol yang bisa digunakan:

Laki-laki Perempuan Identifikasi-klien MeninggalMenikahPisah

Cerai Cerai Anak angkat Aborsi Kembar

Tinggal dalam 1 rumah

Family EcomapFamily Ecomap menyediakan informasi mengenai sistem di luar keluarga inti yaitu, sumber dukungan sosial atau stresor bagi keluarga (Olsen et al., 2004).

___________________________________________________________________________

Berdasarkan uraian di atas, yang termasuk dalam poin pengkajian keluarga, adalah:a. Mengidentifikasi data demografi dan socio-cultural.b. Data lingkunganc. Struktur dan fungsi keluarga.d. Stres dan strategi koping yang digunakan keluargae. Perkembangan keluarga.Sedangkan yang termasuk pada pengkajian terhadap individu sebagai anggota keluarga, adalah pengkajian: Fisik, Mental, Emosi, Sosial, dan Spiritual.Sumber informasi dari tahapan pengkajian dapat menggunakan metode :1. Wawancara keluarga2. Observasi fasilitas rumah3. Pemeriksaan fisik dari anggota keluarga (dari ujung rambut ke ujung kaki)4. Data sekunder, seperti contoh: hasil laboratorium, X-Ray, pap semar, dsb)Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah:Data UmumPengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :1) Nama kepala keluarga (KK)2) Usia3) Alamat dan telepon4) Pekerjaan kepala keluarga5) Pendidikan kepala keluarga6) Komposisi keluargaRiwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga 1) Tahap perkembangan keluarga saat ini2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi3) Riwayat keluarga inti4) Riwayat keluarga sebelumnyaPengkajian Lingkungan1) Karakteristik rumah2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW3) Mobilitas geografis keluarga4) Perkumpulan keluarga dari interaksi dengan masyarakat5) Sistem pendukung keluargaStruktur Keluarga1) Pola komunikasi keluarga2) Struktur kekuatan keluarga3) Struktur peran4) Nilai dan norma keluargaFungsi Keluarga1) Fungsi afektif2) Fungsi sosialisasi3) Fungsi perawatan kesehatan4) Fungsi reproduksi5) Fungsi ekonomiStres dan Koping Keluarga1) Stresor jangka pendek dan panjang2) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stresor3) Strategi koping konstruktif yang digunakan4) Strategi adaptasi disfungsional5) Sistem pendukung keluargaPemeriksaan FisikPemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik.Harapan KeluargaPada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.

Rencana Asuhan Keperawatan - Penentuan Diagnosa Keperawatan

Setelah data pengkajian didapatkan, kemudian dilakukan analisa data lalu diketahui berbagai masalah kesehatan keluarga yang mungkin muncul. Gambar berikut menunjukkan beberapa diagnosa keperawatan terkait masalah keperawatan keluarga:

Menentukan Masalah Prioritas

Dikenal tipologi dari diagnosis keperawatan, yaitu:1. Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala dari gangguan kesehatan.2. Resiko (ancaman kesehatan)Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan, contohnya: Resiko konflik keputusan pada keluarga Bapak A berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah gangguan komunikasi verbal.3. Potensial (Keadaan sejahtera/Wellness)Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Contoh: Potensial peningkatan gizi pada ibu hamil (Ibu M) keluarga Bapak K. Potensial peningkatan menyusui efektif bayi keluarga Bapak X.

Catatan: Etiologi dari diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan hasil pengkajian dari tugas perawatan kesehatan keluarga. Khusus untuk mendiagnosis keperawatan potensial (sejahtera / wellness) boleh menggunakan/ tidak menggunakan etiologi. Dalam satu keluarga dapat saja perawat menemukan lebih dari 1 (satu) diagnosis keperawatan keluarga. Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosis keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan cara sebagai berikut:Skala untuk Menentukan PrioritasAsuhan Keperawatan Keluarga(Bailon dan Maglaya, 1978)

NoKriteriaSkorBobot

1.

2.

3.

4.Sifat masalah:Skala : Tidak/kurang sehat/aktual Ancaman kesejatan/resiko Keadaan sejahtera/potensia

Kemungkinan masalah dapat diubahSkala: Mudah Sebagian Tidak dapat

Potensial masalah untuk dicegahSkala: Tinggi Cukup Rendah

Menonjol masalahSkala: Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani Masalah tidak dirasakan321

210

321

2101

2

1

1

Skoring:1) Tentukan skor untuk setiap kriteria2) Skore dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot : SkoreXBobotAngka tertinggi3) Jumlahkan skor untuk semua kriteria

Faktor-Faktor yang dapat Memengaruhi Penentuan Prioritas

Dengan melihat kriteria yang pertama, yaitu sifat masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada tidak/kurang sehat karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga.Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut:1. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani masalah.2. Sumber daya keluarga: dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga3. Sumber daya perawat: dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu.4. Sumber daya masyarakat: dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyarakat (dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyarakat dan sokongan masyarakat).Kriteria ketiga, yaitu potensial masalah dapat dicegah, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah:1. Kepelikan dari masalah, yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.2. Lamanya masalah, yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu ada.3. Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah.4. Adanya kelompok high risk atau kelompok yang sangat peka penambahan potensi untuk mencegah masalah.Kriteria keempat, yaitu menonjolnya masalah perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut. Nilai skore yang tertinggi yang terlebih dahulu dilakukan intervensi keperawatan keluarga.

Perencanaan Perawatan Keluarga

Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan, yang menyangkut tujuan umum dan tujuan khusus serta dilengkapi dengan kriteria dan standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan.

Implementasi/Intervensi

Perawat keluarga hendaknya mengkaji seberapa aktif tingkat keterlibatan keluarga dalam proses pengambilan keputusan. Perawat secara sadar memengaruhi tingkat stres keluarga dengan mengontrol seberapa banyak (dan seberapa cepat) mereka saling melibatkan diri dalam merawat anggota keluarganya (Corlett & Twycross, 2006). Perawat juga mengatur seberapa banyak informasi yang mereka bagi dengan keluarganya, seberapa sering mereka melibatkan keluarga dalam rutinitas sehari-hari, waktu kunjungan, bahkan diskusi antaranggota keluarga.Tindakan keperawatan terhadap keluarga mencakup hal-hal di bawah ini:1. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan.2. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat.3. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit.4. Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat.5. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

Shared Decision Making (Pengambilan Keputusan Bersama)

Terkadang tenaga kesehatan lupa bahwa keluarga juga merasa ingin dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan (Bruera, Sweeny, Calder, Palmer, & Benisch-Tolly, 2001). Option Grid ialah salah satu strategi dalam implementasi pengambilan keputusan bersama (Elwyn et al., 2012), dibuat dalam bentuk format lembar kerja pengambilan keputusan bersama dengan pendekatan terapeutik terhadap kondisi kesehatan spesifik yang membuat keluarga dapat mengetahui manfaat ataupun timbal balik berhubungan dengan keputusan perawatan lain yang memungkinkan. Pendekatan lain dalam proses pengambilan keputusan bersama ialah dengan menggunakan Patient/Parent Involvement Information Assessment Tool (PINT), dikembangkan oleh Sobo (2004). PINT adalah survey yang dikelola sendiri, dapat disimpan dalam rekam medis sebagai fasilitas dan target informasi-komunikasi antara tim tenaga kesehatan dan keluarga.

Evaluasi

Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga. Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP secara operasional.

S hal-hal yang dikemukakan keluarga secara subjektif setelah dilakukan intervensi keperawatan, misalnya: keluarga menyatakan nyeri dari penyakitnya berkurang.O adalah hal-hal yang ditemui oleh perawat secara objektif setelah dilakukan intervensi keperawatan, misalnya: BB naik 1 kg dalam 1 bulan.A adalah analisa dari hasil yang telah dicapai dengan mengacu pada tujuan jangka pendek yang terkait dengan diagnosis.P adalah perencanaan yang akan datang setelah melihat respon dari keluarga pada tahapan evaluasi.

Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan, sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir.

Chronic Illness Framework

Chronic illness framework diusulkan oleh Rolland (1987, 1944) untuk membantu pemberi asuhan memahami bagaimana penyakit kronis memengaruhi keluarga. Penyakit kronis ialah konsep yang kompleks dan berimplikasi luas terhadap individu maupun keluarga. Kerangka konsep Rolland terus berkembang dan membantu perawat dalam memikirkan berbagai faktor dari penyakit dan bagaimana hal tersebut berpengaruh pada fungsi keluarga. Konsep ini disebut juga Family System and Chronic Illness Framework, memiliki tiga elemen utama: Illness Types (Tipe Penyakit) Onset of Illness: Gradual or AcuteApabila penyakit kronis muncul dari onset akut, keluarga beradaptasi dengan cepat untuk menanggulangi situasi. Strategi tersebut termasuk ke dalam short-term role flexibility (fleksibilitas jangka pendek), yaitu keluarga menggunakan pendekatan penyelesaian masalah yang sebelumnya pernah dilakukan serta memanfaatkan sumber dukungan dari luar. Ketika menghadapi penyakit akut yang beralih menjadi kronis, atau penyakit kronis yang memiliki onset bertahap, adaptasi keluarga muncul dalam jangka waktu yang panjang.

Course of Illness: Progressive, Constant, or Relapsing/EpisodicAdaptasi keluarga terhadap kondisi penyakit anggota keluarga dipengaruhi oleh perjalanan penyakitnya. Penyakit kronis yang progresif menunjukkan ketidakmampuan/penurunan kemampuan secara bertahap. Keluarga dihadapkan pada gejala yang terus-menerus, yang membutuhkan adaptasi secara kontinyu dengan periode tenang yang sebentar. Biasanya stres keluarga dan kelelahan muncul dalam kondisi ini.Penyakit kronis dikatakan konstan apabila setelah mengalami keparahan dari fase akut, penyakit tersebut berkembang ke arah perubahan semipermanen yang cenderung dapat diprediksi. Stres keluarga dan kelelahan akan tetap ada namun pada level yang lebih rendah dari pada kondisi penyakit kronis progresif.Penyakit kronis yang episodik membuat keluarga selalu berada pada kondisi antara fase remisi (stabil) dan ekserbasi (kambuh). Keadaan yang tak menentu dan tidak terprediksi ini sangat membebani keluarga. Outcome: Trajectory of IllnessProses perjalanan penyakit dan kemungkinan akhir dari penyakit memengaruhi fungsi keluarga. Stres konstan dan adaptasi memburuk saat kondisi penyakit menjadi fatal dan memperpendek harapan hidup. Outcome: IncapacitationPenyakit kronis yang menimbulkan kecacatan memicu stres yang berbeda bagi keluarga dan individu yang mengalaminya. Kecacatan dapat berupa kognitif (Alzhaimer, dsb), produksi energi (Congestive heart failure, dll), hambatan mobilitas (stroke), kecacatan fisik (amputasi), atau stigma masyarakat (mental health disorder, HIV). Time Phases of The Illness (Fase Penyakit) Initial/Crisis Time PhaseKetika anggota keluarga pertama kali didiagnosa dengan suatu penyakit kronis, mereka hendaknya (1) membangun hubungan kerja yang positif dengan tenaga kesehatan, (2) mengumpulkan informasi terkait diagnosa, dan (3) menerima hasil diagnosis (Danielson, Hamel-Bissel, Winstead-Fry, 1993). Mid-Time PhaseKeluarga menghadapi proses jangka panjang dari penyakit kronisnya. Menutrut Rolland (2005), hal-hal yang harus diperhatikan dala fase ini ialah (1) menghindari pekerjaan yang terlalu keras/melelahkan bagi anggota keluarga yang sakit, (2) meminimalisir perselisihan antara pasien dan anggota keluarga yang lain, (3) mempertahankan otonomi setiap anggota keluarga, (4) memelihara atau mendesain ulang tujuan tahap perkembangan keluarga dengan keterbatasan dari penyakit, dan (5) mempertahankan kedekatan/keintiman dalam menghadapi ancaman kehilangan.

Terminal Time PhaseTugas perawat pada fase terminal terdiri atas bekerja dengan keluarga untuk menghadapi anggota keluarga yang sekarat (dying), melewati proses berduka (grieving). Perawat bekerja sama dengan keluarga untuk mengganti fokus dari mengelola penyakit menjadi comfort care strategies dan bekerja dengan konsep letting-go (Rolland, 2005). Setiap anggota keluarga akan memberi respon berbeda terhadap kehilangan, dan keluarga akan selamanya berubah akibat kehilangan tersebut. Kehilangan menuntut keluarga untuk menyesuaikan diri/beradaptasi dan membangun identitas yang berbeda tanpa keberadaan seseorang (anggota keluarga yang meninggal). Family Functioning (Fungsi Keluarga)Keluarga memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Ketika terdapat anggota keluarga yang mengalami penyakit kronis, hal tersebut memicu stres pada keluarga untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasien (demands of the illness). Peran perawat ialah mendukung kekuatan keluarga untuk beradaptasi dengan tantangan penyakit kronis, sesuai dengan model, teori, dan kerangka pemikiran mengenai praktik keperawatan.

Peka Budaya dalam Pemberian Asuhan Keperawatan Keluarga

Budaya ialah hal yang tidak dapat dipisahkan dari keluarga. Dalam hal ini perawat membutuhkan model yang sesuai untuk praktik proses keperawatan keluarga dengan latar budaya yang berbeda. Beberapa penelitian telah menguji model-model asuhan keperawatan transkultural (transcultural nursing), salah satunya ialah konsep dan teori Leininger (1977).

AplikasiTranscultural Nursingdalam Asuhan Keperawatan

Terlaksananya asuhan keperawatan transkultural sangat ditentukan oleh pemahaman pengetahuan perawat tentang teori asuhan keperawatan transkultural, karena pengetahuan yang dimiliki tersebut akan mengklarifikasi fenomena, mengarahkan dan menjawab fenomena yang dijumpai pada diri klien dan keluarganya. Dalam proses keperawatan, konsep Leininger diterapkan sebagai berikut:1. PengkajianPengkajian dilakukan terhadap respon adaptif dan maladaptif untuk memenuhi kebutuhan dasar yang tepat sesuai dengan latar belakang budayanya. Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada Leiningers Sunrise Models dalam teori keperawatan transkultural Leininger yaitu: faktor teknologi faktor agama dan falsafah hidup faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan faktor nilai-nilai budayan dan gaya hidup faktor kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku faktor ekonomi faktor pendidikan2. Diagnosa keperawatanRespon klien yang ditegakkan oleh perawat dengan cara mengidentifikasi budaya yang mendukung kesehatan, budaya yang menurut klien pantang untuk dilanggar, dan budaya yang bertentangan dengan kesehatannya.Terdapat tiga diagnosa keperawatan transkultural yang sering ditegakkan yaitu: Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur Gangguan interksi sosial berhubungan dengan disorientasi sosiokultural Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini3. PerencanaanPerencanaan dan implementasi keperawatan transkultural menawarkan tiga strategi sebagai pedoman Leininger (1984) ; Andrew & Boyle, 1995 yaitu: Perlindungan/mempertahankan budaya(Cultural care preservation/maintenance) Bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi/menegosiasi budaya (Cultural care accommodation/negotiations) Apabila budaya klien kurang mendukung kesehatan mengubah dan mengganti budaya klien dan keluarganya(Cultural care repartening/recontruction).

Apabila budaya klien bertentangan dengan kesehatan, perawat perlu melakukan 3 hal dibawah ini:1. Cultural care preservation/maintenancea. Identifikasi perbedaan konsepb. Bersikap tenangc. Mendiskusikan kesenjangan budaya2. Cultural care accomodation/negotiationa. Gunakan bahasa yang mudahb. Libatkan keluargac. Lakukan negosiasi3. Cultual care repartening/reconstructiona. Beri kesempatand. Terjemahkan terminologib. Tentukan tingkat perbedaane. Berikan informasic. Gunakan pihak ketiga4. ImplementasiBila budaya klien dengan perawat berbeda maka perawat dan klien mencoba memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang pada akhirnya akan memperkaya budaya mereka, sehingga akan terjadi tenggang rasa terhadap budaya masing-masing.Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak tidak percaya pada klien yang akan mengakibatkan hubungan perawat-klien yang bersifat terapeutik terganggu.

5. EvaluasiEvaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

Dalam konteks keperawatan keluarga, konsep transcultural nursing dapat dikolaborasikan dalam proses keperawatan dari mulai pengkajian hingga evaluasi, apabila memang diperlukan pendekatan kebudayaan pada kasus keluarga tertentu. Seperti dalam kasus 3 CNP 2, di mana keluarga berlatar budaya yang berbeda.Evidence Based Practice (EBP) terkait praktik keperawatan keluarga yang berhubungan dengan kasus 3 CNP 2 ini membahas tentang partisipasi keluarga terhadap perawatan anggota keluarga lain yang sakit. Pada jurnal tersebut diungkapkan bahwa tingkat partisipasi dan dukungan keluarga yang tinggi berdampak baik terhadap peningkatan kualitas hidup pasien.

Lampiran: Jurnal-jurnal yang berkaitan dengan kasus 3Referensi: E-book Family Health Care Nursing: Theory, Practice, and ResearchBy Joanna Rowe Kaakinen, Deborah Padgett Coehlo, Rose Steele, Aaron Tabacco, Shirley May Harmon Hanson yang diakses melalui website:https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=NYAQBAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR2&dq=textbook+of+nursing+family+assessment&ots=v8h3PktIVN&sig=LusOxZAD560SXkKGDLDtil0aIQI&redir_esc=y#v=onepage&q=textbook%20of%20nursing%20family%20assessment&f=false

E-book Nurses and Families: A Guide to Family Assessment and InterventionBy Lorraine M Wright, Maureen Leahey yang diakses melalui website:https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=_YT2AAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR4&dq=textbook+of+nursing+family+assessment&ots=sJMp6onRGC&sig=XjmTnBqjVB0YbszlG_uLsCpPje4&redir_esc=y#v=onepage&q=textbook%20of%20nursing%20family%20assessment&f=false

E-book Transcultural Nursing: Assessment and InterventionBy Joyce Newman Giger yang diakses melalui website:https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=3NPsAwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=textbook+of+nursing+family+assessment+-+cultural+consideration&ots=TvxTjph5Xr&sig=KJQCj7Up1UYvvvlIGoBVKqtCmmg&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

E-book Culture Care Diversity and Universality: A Worldwide Nursing TheoryBy Madeleine M. Leininger, Marilyn R. McFarland yang diakses melalui website:https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=NmY43MysbxIC&oi=fnd&pg=PR5&dq=textbook+of+nursing+family+assessment+-+cultural+consideration&ots=Jkckg99ae_&sig=ndFkCGBRdaQj2J7PFD44kZsNsNI&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false