of 87/87
1 GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG PENCEGAHAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS POASIA KOTA KENDARI KARYA TULIS ILMIAH Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan OLEH : RISAL SURUDIN NIM. P00320013061 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2016

KARYA TULIS ILMIAH - repository.poltekkes-kdi.ac.id Tulis Ilmiah.pdf · menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. 8 Akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita

  • View
    58

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of KARYA TULIS ILMIAH - repository.poltekkes-kdi.ac.id Tulis Ilmiah.pdf · menyelesaikan Karya Tulis...

  • 1

    GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG

    PENCEGAHAN ISPA PADA BALITA

    DI PUSKESMAS POASIA

    KOTA KENDARI

    KARYA TULIS ILMIAH

    Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III

    Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan

    OLEH :

    RISAL SURUDIN

    NIM. P00320013061

    KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

    POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI

    JURUSAN KEPERAWATAN

    TAHUN 2016

  • 2

  • 3

  • 4

    RIWAYAT HIDUP

    A. Identitas

    1. Nama : Risal Surudin

    2. Tempat Tanggal Lahir : Pu’usangi, 23 Oktober 1995

    3. Suku / Bangsa : Tolaki / Indonesia

    4. Jenis Kelamin : Laki-Laki

    5. Agama : Islam

    B. Pendidikan

    1. SD Negeri 1 Laronanga Tamat Tahun 2007

    2. SMP Negeri 1 Asera Tamat Tahun 2010

    3. SMA Negeri 1 Asera Tamat Tahun 2013

    4. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan Masuk tahun 2013

  • 5

    MOTTO

    Sesungguhnya kesulitan itu ada kemudahan.

    Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan)

    Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain)

    Dan hanya kepada Tuhan mu lah hendaknya kamu berharap

    Barang siapa yang menjaga dirinya (dari minta-minta)

    Akan dijaga oleh Allah

    Barang siapa yang merasa cukup

    Akan dicukupkannya oleh Allah

    Dan barang siapa yang bisa bersabar

    Akan disabarkan oleh Allah

    Kupersembahkan Karya Tulis ini teruntuk Ayah dan Ibu tercinta,

    yang selalu memberikan kasih sayangnya serta tak henti – hentinya

    mendoakan untuk keselamatan dan Keberhasilan anaknya serta memberikan

    dorongan moril dan materil untuk menyelesaikan penulisan Karya Tulis IImiah ini.

    Risal Surudin

  • 6

    KATA PENGANTAR

    Tiada kata yang paling indah dan paling mulia yang patut penulis panjatkan

    kepada Allah SWT kecuali rasa syukur atas rahmat dan Hidayah-Nya sehingga

    penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul ”Gambaran Pengetahuan dan

    Sikap Ibu Tentang Pencegahan Ispa Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari”.

    Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis sadari amat banyak aral yang

    melintang, namun berkat Allah SWT yang senantiasa memberi petunjuk-Nya serta

    keyakinan pada kemampuan diri sendiri, sehingga segala hambatan yang penulis

    hadapi dapat teratasi. Terimakasih yang tak ternilai serta sembah sujud penulis

    ucapkan kepada Kedua Orangtua yang amat kucintai, Ayahanda Suruddin dan Ibunda

    Hasna atas segala doa dan kasih sayang yang tak henti-hentinya tercurahkan demi

    keberhasilanku serta semua pengorbanan materil yang telah dilimpahkan, tanpa ridho

    keduanya penulis tidak ada apa-apanya.

    Selanjutnya penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada kedua

    pembimbingku Ibu Lena Atoy, S.ST.,MPH selaku Pembimbing I dan Ibu Dali,

    SKM.,M.Kes Selaku Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan

    membimbing penulis sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan.

    Pada kesempatan ini penulis tidak lupa juga mengucapkan banyak terima

    kasih dan penghargaan yang tulus kepada yang terhormat :

    1. Bapak Petrus, SKM, M.Kes, Selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari.

  • 7

    2. Kepala Kantor Badan Riset Sultra yang telah memberikan izin penelitian kepada

    penulis dalam penelitian ini.

    3. Kepala Puskesmas Poasia yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk

    melaksanakan penelitian.

    4. Bapak Muslimin L., A.Kep., S.Pd., M.Si, Selaku Ketua Jurusan Keperawatan

    Poltekkes Kemenkes Kendari dan selaku Penguji I.

    5. Bapak Indriono Hadi, S.Kep.,Ns.M.Kep selaku penguji II dan Ibu Reni Devianti

    U, M.Kep, Sp.Kep.,MB selaku Penguji III yang telah membantu dan

    mengarahkan penulis dalam ujian Proposal sehingga penelitian ini dapat lebih

    terarah.

    6. Bapak / Ibu Dosen Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan yang turut

    membekali ilmu pengetahuan pada penulis selama kuliah.

    7. Saudara-saudaraku tersayang, kakak-kakakku yang kucintai dunia-akhirat

    Hasnita, Budi Haryono, fdan adik-adikku Anisa Febrianti, Nirma Salsabila, Muh.

    Syahban Ramadhan, Muh. Dytha Ramadhan yang selalu memberikan dukungan

    dan kasih sayangnya.

    8. Terakhir, teruntuk sahabat-sahabatku Jusran Hatta, Agus Trianto, Ardian, Mijrat,

    uni Elis, Andi Harianto, Iyan Sapta Manus, Muh. Nurahmad, Albert, Alfindra,

    Irawan beserta teman-temanku angkatan 2013 khususnya teman-teman tingkat III

    A dan B, yang telah memberikan motivasi dan dukungan selama penulis

    menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

  • 8

    Akhir kata, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua

    khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peneliti selanjutnya di

    Politeknik Kesehatan Kendari serta kiranya Tuhan selalu memberi rahmat kepada kita

    semua. Amin.

    Kendari, Juni 2016

    Penulis

  • 9

    ABSTRAK

    Risal Surudin (P00320013061) Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang

    Pencegahan ISPA Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari. Yang dibimbing

    oleh Ibu Lena Atoy, S.ST.,MPH dan Ibu Dali, SKM.,M.Kes (xii + 62 Halaman + 10

    Lampiran + 7 Tabel). Data yang diperoleh dari Puskesmas Poasia Kota Kendari tahun

    2013 tercatat jumlah kunjungan pasien balita yang mengalami ISPA berjumlah 4.414

    kasus, tahun 2014 berjumlah 4.413 kasus, pada tahun 2015 berjumlah 5.822 kasus

    dan pada tahun 2016 periode bulan Januari - Mei berjumlah 150 kasus dengan rata-

    rata 30 kasus perbulan. Jenis Penelitian deskriptif yang dilakukan pada tanggal 08

    Juni – 28 Juni 2016. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 150 ibu dengan jumlah

    sampel 30 ibu yang diambil secara accidental sampling. Data diperoleh dari data

    sekunder dan primer dengan instrument penelitian Lembar Kuisioner. Data diolah

    dengan cara coding, editing, scoring, dan tabulating. Hasil Penelitian di peroleh

    Responden terbesar adalah ibu yang memiliki pengetahuan kurang yang berjumlah 17

    ibu (56,67%) dan responden terkecil adalah ibu yang memiliki pengetahuan baik

    yang berjumlah 13 ibu (43,33%) dan responden terbesar adalah ibu yang memiliki

    sikap kurang yang berjumlah 18 ibu (60,00%), dan responden terkecil adalah ibu

    yang memiliki sikap baik yang berjumlah 12 ibu (40,00%). Kesimpulan menunjukan

    secara keseluruhan yang paling dominan yang menjadi pencegahan ISPA di pada

    balita Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016 terbanyak adalah pencegahan

    kurang yang berjumlah 18 ibu (60,00%), dan responden terkecil adalah pencegahan

    baik yang berjumlah 12 ibu (40,00%) di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016. Saran kepada pihak Puskesmas Poasia khususnya dan Petugas Kesehatan agar

    dapat melaksanakan penyuluhan mengenai ISPA, sehingga memberikan informasi

    yang berguna sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat di Wilayah Kerja

    Puskesmas Poasia.

    Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Pencegahan ISPA, Balita

    Daftar Pustaka : 21 (2007 - 2016)

  • 10

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL………………………………………………………………….. i

    LEMBAR PERSETUJUAN…………………………………………………………. ii

    LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………….. iii

    MOTTO……………………………………………………………………………….. iv

    RIWAYAT HIDUP……………………………………………………………….….. v

    ABSTRAK……………………………………………………………………………. vi

    KATA PENGANTAR…………………………………………………………….…. vii

    DAFTAR ISI………………………………………………………………………….. ix

    DAFTAR TABEL………..……………………………………………………….….. xi

    DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………………. xii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang…………………………………………………………. 1 B. Rumusan Masalah……………………………………………………… 5 C. Tujuan Penelitian………………………………………………………. 5 D. Manfaat Penelitian……………….…………………………………….. 5

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    A. Tinjauan Tentang Pengetahuan……….……………………....…..……. 6 B. Tinjauan Tentang Sikap…...……………………….…………………... 10 C. Tinjauan Tentang ISPA………………..………………………………. 15 D. Tinjauan Tentang Balita……….………………………………………. 36

    BAB III KERANGKA KONSEP

    A. Dasar Pemikiran………………………………………………………... 39 B. Kerangka Pikir………..………………………………………………... 40 C. Variabel Penelitian……………………………………………………... 40 D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif…………………………….. 41

    BAB IV METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian………..…………………………………………..…… 44 B. Tempat dan Waktu Penelitian………..………………………………... 44 C. Populasi dan Sampel…………………..…………………………..…… 44 D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data….……………………………….… 46 E. Pengolahan Data……………..………………………….……………... 46 F. Analisa Data………..……………….……………….………..……...… 47 G. Penyajian Data….………..……………………………………………. 48

  • 11

    H. Etika Penelitian…………..………………………………………..…… 48

    BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Hasil Penelitian……………...……………………………... 50 B. Hasil Penelitian………………………………………………………… 52 C. Pembahasan……………………………...…………………………….. 55

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan……………...……………………………………………... 62 B. Saran…………………….……………………………………………... 62

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • 12

    DAFTAR TABEL

    Tabel 5.1 Distribusi Umur Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari................................ 52

    Tabel 5.2 Distribusi Pendidikan Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari....................... 52

    Tabel 5.3 Distribusi Pekerjaan Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari......................... 53

    Tabel 5.4 Distribusi Status Imunisasi Balita di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari..... 53

    Tabel 5.5 Distribusi Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada Balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016................................................ 54

    Tabel 5.6 Distribusi Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada Balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016................................................................... 54

    Tabel 5.7 Distribusi Pencegahan ISPA Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari Tahun

    2016..................................................................................................... 55

  • 13

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Surat Permohonan Menjadi Responden

    Lampiran 2. Surat Pernyataan Persetujuan Menjadi Responden (Informed Concent)

    Lampiran 3. Kuisioner Penelitian

    Lampiran 4. Tabulasi Data Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Ispa Pada Balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari

    Lampiran 5. Tabulasi Data Sikap Ibu Tentang Pencegahan Ispa Pada Balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari

    Lampiran 6. Master Tabel Penelitian

    Lampiran 7. Photo Penelitian

    Lampiran 8. Surat Izin Penelitian dari Poltekkes Depkes Kendari

    Lampiran 9. Surat Izin dari Badan Penelitian Dan Pengembangan Provinsi Sulawesi

    Tenggara

    Lampiran 10. Surat keterangan telah melakukan penelitian

  • 14

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menurut World Health

    Organization (WHO) adalah infeksi saluran pernapasan akut yang cenderung

    menjadi epidemi dan pandemi serta dapat menimbulkan kekhawatiran kesehatan

    masyarakat. ISPA umumnya ditularkan melalui droplet. Namun demikian, pada

    sebagian patogen ada juga kemungkinan penularan melalui cara lain, seperti

    melalui kontak dengan tangan atau permukaan yang terkontaminasi (WHO,

    2008). Hasil survei morbiditas yang dilaksanakan oleh subdit ISPA dan

    Balitbangkes (2007) menunjukkan angka kesakitan 5,12%, namun karena jumlah

    sampel dinilai tidak representatif maka subdit ISPA tetap menggunakan angka

    WHO yaitu 10% dari jumlah Balita. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian

    oleh Rudan et al (2004) di negara berkembang termasuk Indonesia insidens ISPA

    sekitar 36% dari jumlah Balita.

    ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Insidens

    menurut kelompok umur balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di

    negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Hal ini

    menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per tahun dimana

    151 juta episode (96,7%) terjadi di Negara berkembang. Kasus terbanyak terjadi

    di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) dan Bangladesh,

  • 15

    Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta episode. Dari semua kasus yang terjadi

    di masyarakat, 7-13% merupakan kasus berat dan memerlukan perawatan rumah

    sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per

    tahun (Rudan et al Bulletin, WHO 2015).

    Di Indonesia menurut hasil Riskesdas tahun 2007 proporsi kematian

    balita karena ISPA menempati urutan kedua (13,2%) setelah diare. Sedangkan

    menurut SKRT tahun 2004 proporsi kematian Balita karena ISPA menempati

    urutan pertama. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di

    puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%). Pengendalian ISPA di

    Indonesia dimulai pada tahun 1984, bersamaan dengan diawalinya pengendalian

    ISPA di tingkat global oleh WHO.

    Tingginya angka kematian balita akibat ISPA di Indonesia terjadi karena

    Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan bencana seperti banjir, dan

    kebakaran hutan. Kebakaran hutan dan banjir selama dekade ini, mempunyai

    potensi utama penyumbang ISPA terbesar terutama pada musim kemarau dan

    penghujan. Asap dari kebakaran hutan dan hawa dingin dapat menimbulkan

    penyakit ISPA yang dapat memperberat kondisi seseorang yang sudah menderita

    ISPA.

    Pada situasi bencana kebakaran hutan, jumlah kasus ISPA terutama

    pada anak balita sangat besar dan menduduki peringkat teratas. Selain itu, asap

    rumah tangga seperti pengunaan kayu bakar, asap rokok, dan penggunaan obat

    nyamuk juga menjadi salah satu faktor risiko terkena ISPA. Hal ini dapat

  • 16

    diperburuk apabila ventilasi rumah kurang baik dan dapur menyatu dengan ruang

    keluarga atau kamar. Selain itu, kondisi polusi udara di lingkungan tempat

    tinggal yang terpapar dengan asap kendaraan bermotor, dan rusaknya kondisi

    jalan di area sekitar rumah dapat menjadi penyebab ISPA akibat debu yang

    berterbangan sehingga udara menjadi kotor. (Kemenkes RI, 2012).

    Untuk itu, upaya pencegahan dapat dilakukan oleh keluarga terutama

    ibu yang memiliki anak balita, dikarenakan ibu merupakan orang terdekat balita.

    Adapun sikap dan langkah-langkah yang dapat dilakukan ibu yaitu dengan cara

    menjaga kondisi lingkungan yang bersih dan sehat, immunisasi lengkap dan

    pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai usia anak 2 tahun

    (Kemenkes RI, 2012). Selain itu upaya perawatan ibu di rumah sangatlah penting

    dalam upaya penatalaksanaan balita yang mengalami ISPA. Kesembuhan

    seorang anak dengan infeksi pernafasan sangat tergantung dari pengetahuan dan

    sikap yang diberikan oleh ibu. Oleh sebab itu, ibu harus banyak memiliki

    pengetahuan dan sikap yang benar terhadap fungsi pemeliharaan kesehatan di di

    dalam keluarganya, terutama ketika ia memiliki anak balita dengan penyakit

    ISPA. Fungsi pemeliharaan kesehatan terdiri dari pencegahan primer, yang

    meliputi peningkatan kesehatan dan tindakan preventif khusus yang dirancang

    untuk menjaga anggota keluarga bebas dari penyakit dan cedera; pencegahan

    sekunder yang terdiri atas deteksi dini, diagnosa dan pengobatan; dan

    pencegahan tersier yang mencakup tahap penyembuhan dan rehabilitasi, yaitu

  • 17

    bertujuan untuk meminimalkan ketidakmampuan klien dan memaksimalkan

    tingkat fungsinya. (Leavell, 2014).

    Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara (2015),

    bahwa kasus ISPA di Sulawesi Tenggara dari 51.306 pasien terdapat14,52%,

    yang terkena ISPA 8,75% diantaranya merupakan balita yang merupakan usia

    kelompok yang paling rentan terhadap infeksi saluran pernapasan (ISPA).

    Sedangkan di Kota Kendari kejadian ISPA pada balita sebanyak 8.615 orang

    atau sebesar 4,9% penderita (2015). Berdasarkan data awal yang peneliti

    peroleh di Puskesmas Poasia Kota Kendari tahun 2013 tercatat jumlah

    kunjungan pasien balita yang mengalami ISPA berjumlah 4.414 kasus, tahun

    2014 berjumlah 4.413 kasus, pada tahun 2015 berjumlah 5.822 kasus dan pada

    tahun 2016 periode bulan Januari - Mei berjumlah 150 kasus dengan rata-rata

    30 kasus perbulan.

    Banyaknya jumlah pasien di Puskesmas Poasia biasanya terjadi pada

    musim penghujan atau dengan pasien dengan riwayat ISPA yang terpapar

    polusi atau asap rumah tangga. Oleh sebab itu bila tidak dilakukan penanganan

    dengan cepat dan baik oleh petugas kesehatan, maupun oleh ibu maka dapat

    dipastikan jumlah penderita ISPA akan meningkat dari tahun ketahun.

    Penanganan yang tepat, dan cepat bila ditunjang oleh sikap dan pengetahuan

    yang baik dapat menurunkan angka kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan

    latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan

  • 18

    judul “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada

    Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari”

    B. Rumusan Masalah

    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah

    Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada Balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016?”

    C. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

    Mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA

    Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016.

    2. Tujuan Khusus

    a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pencegahan ISPA

    pada balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari.

    b. Untuk mengetahui gambaran sikap ibu tentang pencegahan ISPA pada

    balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Bagi Puskesmas Poasia Kota Kendari/ Penentu kebijkan

    Sumber informasi bagi Puskesmas Poasia Kota Kendari dalam upaya

    meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita tentang ISPA guna

    menurunkan angka kejadian ISPA terutama pada balita.

  • 19

    2. Bagi Institusi

    Manfaat bagi institusi/pendidikan merupakan sumbangan ilmiah dan

    sebagai bahan pertimbangan sekaligus bahan acuan dalam mengembangkan

    penelitian selanjutnya khususnya mengenai mengenai pengetahuan dan sikap

    ibu tentang ISPA pada balita.

    3. Bagi klien

    Bahan informasi bagi ibu balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari tentang

    cara pencegahan dan penanganan penyakit ISPA oleh Ibu pada anak

    balitanya.

    4. Bagi Peneliti Selanjutnya

    Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka menambah

    wawasan ilmu pengetahuan serta pengembangan ilmu pengetahuan yang

    telah diperoleh selama dibangku kuliah.

  • 20

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Tinjauan Tentang Pengetahuan

    a. Pengertian

    Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui karena

    mempelajarinya, dan pengetahuan diketahui karena melihat, mengalami, dan

    mendengarnya (Badudu dan Zain, 2007). Pengetahuan adalah merupakan hasil

    dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu

    objek tertentu, pengindraan terjadi melalui panca indra manusia seperti

    penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba (Notoatmodjo, 2013).

    Orang yang disebut tahu disebut mempunyai pengetahuan. Jadi pengetahuan

    tidak lain dari hasil tahu (Poedjawijatna, 2011).

    Pengetahuan merupakan keyakinan suatu objek yang telah dibuktikan

    kebenarannya, bahwa kita hanya dapat mempunyai pengetahuan mengenai

    sesuatu yang benar, pengetahuan merupakan kemampuan seseorang untuk

    fakta, simbol, prosedur tehnik dan teori (Notoatmodjo, 2013). Staton (1978)

    menyatakan pengetahuan atau knowledge adalah ketika individu tahu apa

    yang akan dilakukan dan bagaimana mestinya melakukannya (Notoatmodjo,

    2013)

  • 21

    b. Tingkatan pengetahuan

    Menurut Notoatmodjo (2013) pengetahuan yang dicakup dalam

    domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu :

    a. Tahu (know)

    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

    sebelumnya.

    b. Memahami (comprehension)

    Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar

    tentang objek yang diketahui dan dapat mengintrepasikannya secara benar.

    c. Aplikasi (Application)

    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

    telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

    d. Analisis (Analysis)

    Analisis adalah suatu kemapuan untuk menjabarkan materi atau suatu

    objek dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur

    organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

    e. Sintesis (Syntesis)

    Sintesis merupan kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

    bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

    f. Evaluasi (Evalution)

    Evaluasi ini berkaitan dengan kemapuan untuk melakukan justifikasi atau

    penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan suatu

  • 22

    criteria yang telah ditentukan sendiri, dan menggunakan kriteria yang telah

    ada.

    c. Cara memperoleh pengetahuan

    Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang

    berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa, media

    elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, kerabat kerja dan sebagainya

    (Istiarti, 2010).

    Notoatmodjo (2013) mengelompokkan dua cara mendapatkan

    pengetahuan yaitu cara tradisional dan cara modern, cara tradisional seperti

    cara coba salah, cara kekuasaan atau otoritas, berdasarkan pengalaman pribadi

    dan melalui jalur piker, sedangkan cara modern merupakan cara memperoleh

    pengetahuan yang lebih sistematis, logis dan ilmiah.

    d. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Suharjo (2006)

    bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

    1) Tingkat pendidikan, dimana tinggi rendahnya pendidikan akan

    mempengaruhi pengetahuan, dengan pendidikan yang tinggi maka

    pengetahuan yang diperoleh akan semakin banyak, begitupun sebaliknya.

    2) Status social, dimana status sosial yang berbeda-beda, maka pengetahuan

    yang diperolehpun berbeda-beda.

    3) Derajat penyuluhan, bahwa semakin banyak penyuluhan yang diperoleh

    atau makin banyak frekwensi penyuluhan, maka pengetahuan yang

    diperoleh akan semakin banyak.

  • 23

    4) Faktor lingkungan, lingkungan merupakan faktor penentu derajat

    pengetahuan, maka kita akan merasa semakin tertarik untuk memperoleh

    pengetahuan yang sama dengan cara bertukar pikiran.

    5) Sarana prasarana, dengan sarana dan prasarana yang menunjang, maka

    pengetahuan akan diperoleh akan lebih besar bila dibandingkan dengan

    kurangnya sarana dan prasarana.

    e. Cara mengukur pengetahuan

    Cara pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

    yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau

    responden (Notoatmodjo, 2010).

    Menurut Arikunto (2006) tingkatan pengetahuan dapat dikategorikan berdasakan

    nilai sebagai berikut:

    1) Pengetahuan baik : mempunyai nilai pengetahuan > 75 %

    2) Pengetahuan cukup : mempunyai nilai pengetahuan 60-75 %

    3) Pengetahuan kurang : mempunyai nilai pengetahuan < 60 %

    B. Tinjauan Tentang Sikap

    a. Pengertian Sikap

    Sikap adalah konstruksi psikologis seperti halnya dengan semua

    konstruk psikologis, sikap merupakan suatu hipotesis, sikap tidak dapat

    diamati atau diukur secara langsung (Moler, 2010).

    Sikap adalah afeksi untuk melawan, penilaian tentang suka dan tidak

    suka akan, tanggapan positif atau negatif terhadap suatu objek psikologis.

  • 24

    Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

    terhadap suatu stimulus atau objek. Dalam sikap positif ada kecendrungan

    untuk memenuhi objek tertentu, sedangkan sikap negatif ada kecendrungan

    untuk memenuhi obyek tertentu, sikap seseorang dapat dilihat dari prilakunya

    (Notoatmodjo, 2013).

    b. Komponen Sikap

    Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu :

    1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh

    individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype

    yang dimiliki individu mengenai sesuatu yang dapat disamakan

    penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau

    problem yang kontroversial.

    2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek

    emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam

    sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan

    terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap

    seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki

    seseorang terhadap sesuatu.

    3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berprilaku tertentu

    sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dan berisi tendensi atau

    kecenderungan untuk bertindak/bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-

    cara tertentu serta berkaitan dengan objek yang dihadapinya, adalah logis

  • 25

    untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam

    bentuk prilaku.

    c. Tingkatan Sikap

    1) Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

    memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang

    terhadap suatu hal dan mau melakukannya.

    2) Merespon (Responding) yaitu memberikan jawaban apabila ditanya,

    mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu

    indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab

    pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu

    benar dan salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

    3) Menghargai (Valuing) yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan dan

    mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu

    indikasi sikap.

    4) Bertanggung jawab (Responsible) atas segala sesutu yang dipilihnya

    dengan segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi

    (Notoatmodjo, 2013).

    d. Sifat Sikap

    Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Adapun sifat

    sikap yaitu :

    1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,

    mengharapkan obyek tertentu.

  • 26

    2) Sikap negative terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,

    membenci, tidak menyukai obyek tertentu (Purwanto dalam Rezky,

    2012).

    e. Ciri-Ciri Sikap

    1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari

    sepanjan perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini

    membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus,

    kebutuhan akan istirahat.

    2) Sikap dapat berubah-rubah karena sikap itu dapat dipelajari dan sikap

    dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan

    syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.

    3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

    tertentu terhadap suatu obyek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,

    dipelajari, atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu

    yang dapat dirumuskan dengan jelas.

    4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan

    kumpulan dari hal-hal tersebut.

    5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah

    yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-

    pengetahuan yang dimiliki orang lain (Purwanto dalam Rezky, 2012).

  • 27

    f. Penilaian Sikap

    Sikap dapat diukur dengan metode/teknik :

    1) Measurement by scales pengukuran sikap dengan menggunakan skala,

    munculah skala sikap.

    2) Measurement by rating pengukuran sikap dengan meminta pendapat atau

    penilaian para ahli yang mengetahui sikap individu yang dituju.

    3) Indirect method pengukuran sikap secara tidak langsung yakni mengamati

    (eksperimen) perubahan sikap/pendapat yang bersangkutan.

    Skala sikap, yaitu :

    1) Skala Sikap Likert (Notoadmojo, 2010).

    Skala Sikap Likert tersusun atas beberapa pernyataan positif (favorable

    statements) dan pernyataan negatif (unfavorable statements) yang

    mempunyai lima kemungkinan jawaban (option) dengan kategori yang

    continuum, dari mulai jawaban sangat setuju (strongly agree) sampai

    sangat tidak setuju (strongly disagree).

    a) Pernyataan positif diberi skor :

    1) Sangat Setuju (SS) = 5

    Setuju (S) = 4

    Ragu-ragu (R) = 3

    Tidak Setuju (TS) = 2

    Sangat Tidak Setuju = 1

  • 28

    b) Sedangkan pernyataan negatif diberi skor sebaliknya, yaitu :

    Sangat Setuju (SS) = 1

    Setuju (S) = 2

    Ragu-ragu (R) = 3

    Tidak Setuju (TS) = 4

    Sangat Tidak Setuju = 5

    C. Tinjauan Tentang ISPA

    1. Pengertian

    Infeksi Saluran Pernapasan Akut sering disingkat dengan ISPA. Istilah ini

    diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI).

    ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan dan akut dengan

    pengertian (Yudarmawan, 2012). ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang

    dapat berlangsung sampai dengan 14 (empat belas) hari. Yang dimaksud dengan

    saluran pernapasan adalah organ yang dimulai dari hidung sampai alveoli paru

    berserta organ-organ adneksanya (misalnya : sinus, ruang telinga tengah, dan

    pleura) (Kemenkes RI, 2013). ISPA dalah infeksi saluran pernafasan bagian atas

    dan saluran pernapasan bagian bawah beserta adneksanya ( Rahardjo, 2011). Bila

    disimpulkan maka pengertian ISPA yaitu :

    a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia

    dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

    b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta

    organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA

  • 29

    secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan

    bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran

    pernapasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran

    pernapasan (respiratory tract).

    c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14

    hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa

    penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung

    lebih dari 14 hari.

    Menurut WHO (2007), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

    didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh

    agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala

    biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari.

    2. Klasifikasi ISPA

    ISPA terdiri dari sekelompok kondisi klinik dengan etiologi dan

    perjalanan klinik yang berbeda. Sampai saat ini ISPA diklasifikasikan Sebagai

    berikut :

    a. Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi :

    1) Klasifikasi berdasarkan anatomik

    Infeksi akut yang menyerang hidung sampai epiglotis dengan organ

    adneksanya, misalnya : rhinitis akut, faringitis akut, sinusitis akut dan

    sebagainya.

  • 30

    2) Infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah

    Infeksi yang terjadi pada saluran nafas bagian bawah mulai dari

    epiglotis sampai alveoli paru, misalnya : trakeitis, bronkitis akut,

    bronkiolitis, pneumonia, dan lain-lain.

    b. Klasifikasi berdasarkan etiologi

    Etiologi ISPA disebabkan oleh virus dan bakteri. Adapun klasifikasinya

    adalah sebagai berikut :

    Virus penyebab ISPA antara lain : golongan Miksovirus (termasuk

    didalamnya virus influensa, virus prainfluenza dan virus campak),

    Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpes virus.

    Bakteri penyebab ISPA misalnya Streptokokus hemolitikus, stafilokokus,

    Pneumokokus, Hemofilus influenzae, Bordetela pertusis, Korinebakterium

    difteria.

    c. Klasifikasi berdasarkan derajat keparahan penyakit

    1) ISPA ringan, dimana penatalaksanaanya cukup dengan tindakan

    penunjang, tanpa pengobatan anti mikroba.

    2) ISPA sedang, dimana penatalaksanaanya memerlukan pengobatan

    dengan anti mikroba, tetapi tidak perlu dirawat cukup berobat jalan.

    3) ISPA berat, dimana kasus ini harus dirawat di rumah sakit atau

    puskesmas dengan sarana perawatan

  • 31

    3. Gambaran Klinik ISPA

    Menurut WHO (2007), penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat

    menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan

    tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya

    berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti

    bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan

    nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak.

    Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung

    bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan berkurang sesudah

    3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi

    telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan

    pneumonia (radang paru). Secara umum gejala ISPA meliputi demam, batuk,

    dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi atau

    kesulitan bernapas). Dengan berbagai macam tanda dan gejala tersebut,

    seperti : batuk, bersin, serak, sakit tenggorokan, keluar cairan dari telinga,

    sesak napas, pernapasan yang cepat, wheezing, penarikan dada kedalam,

    mual, muntah, nafsu makan menurun dan badan lemah. Maka dapat

    disimpulakn bahwa manifestasi klinik ISPA berdasarkan tingkat keparahanya

    adalah sebagai berikut :

  • 32

    a. ISPA ringan

    Satu atau lebih gejala berikut : batuk, pilek, serak, dengan atau tanpa

    demam, keluarnya cairan dari telinga yang lebih dari 2 minggu tanpa rasa

    sakit pada telinga.

    b. ISPA sedang

    Manifestasi klinik dari tingkatan ini adalah pernapasan yang cepat lebih

    dari 50 kali permenit (tanda utama), wheezing, panas 39oC atau lebih,

    sakit telinga, keluarnya cairan dari telinga yang belum lebih dari 2

    minggu.

    c. ISPA berat

    Tanda dan gejala ISPA ringan/sedang ditambah dengan 1 atau lebih tanda

    dan gejala berikut : penarikan dada kedalam pada saat menarik nafas

    (tanda utama), stridor, tak mampu atau tak mau makan. Adapun tanda dan

    gejala ISPA berat yang lain : kulit kebiru-biruan (sianosis), napas cuping

    hidung, kejang, dehidrasi, kesadaran menurun.

    Menurut Kemenkes RI ( 2011) klasifikasi ISPA dibedakan untuk

    golongan umur dibawah 2 bulan dan dan untuk golongan umur 2 bulan

    sampai 5 tahun.

    a. Golongan umur 2 bulan – 5 tahun

    1) Pneumonia berat : bila disertai nafas sesak yaitu adanya tarikan

    dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik napas.

  • 33

    2) Pneumonia : bila disertai napas cepat. Batas napas cepat adalah untuk

    usia 2 bulan -12 bulan yaitu 50 kali permenit atau lebih. Untuk usia 1-

    4 tahun yaitu 40 kali permenit atau lebih.

    3) Bukan Pneumonia : batuk pilek biasa yaitu tidak ditemukan tarikan

    dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

    b. Golongan umur kurang dari 2 bulan

    1) Pneumonia berat : bila disertai salah satu tarikan kuat dinding pada

    bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan

    umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit.

    2) Bukan Pneumonia : batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda

    tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

    4. Cara penularan penyakit ISPA

    Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah

    tercemar, bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, oleh

    karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease.

    Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi

    tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi.

    Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak

    langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya

    adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau

    mikroorganisme penyebab (WHO, 2007).

  • 34

    5. Penanganan ISPA

    Penanganan ISPA didasarkan pada jenis dan klafikasi ISPA, yaitu :

    a. ISPA ringan

    Pemberian paracetamol pada demam yang lebih dari 38oC, diberikan

    selama 2 hari. Dosis 10 – 15 mg/kg BB sehari 3 kali. Mempertahankan

    suhu lingkungan dan pakaian yang sesuai. Untuk mengatasi batuk biasa

    dianjurkan pemakaian obat-obatan tradisional yaitu berikan minuman

    hangat yang banyak, misalnya air jeruk nipis bila anak sudah balita. Pilek

    diatasi dengan membersihkan hidung memakai kertas/kain penyerap yang

    bersih. Mempertahankan konsumsi makanan dan minuman, pergunakan

    bantal yang agak tinggi (Pujiarto. PS, 2007).

    Indikasi rujukan bila : panas tidak turun selama dua hari, timbul satu atau

    lebih tanda ISPA sedang dan berat, anak dengan kondisi gizi kurang dan

    bayi kurang dari 4 bulan (Kemenkes RI, 2011).

    b. ISPA sedang

    Pemberian antibiotik. Dosis antibiotic disesuaikan dengan jenis antibiotic

    yang dipakai. Pemberian paracetamol bila ada peningkatan suhu tubuh.

    Untuk pilek/hidung tersumbat dibersihkan dengan gulungan kain atau

    kertas penyerap. Uap dapat digunakan untuk melembabkan udara dan

    melapangkan jalan napas bagian atas, terutama pada kasus wheezing.

    Digunakan uap air yang didihkan dalam ketel selama 10 menit. Obat-

    obatan penekan batuk dan anthistamin tidak dianjurkan karena tidak

  • 35

    efektif pada peradangan (infeksi). Keluarnya cairan di telingan dapat

    dikeringkan dengan gulungan-gulungan kain penyerap tiga kali sehari

    selama cairan masih keluar dari telinga.

    Indikasi rujukan bila : timbul satu atau lebih tanda ISPA berat, terutama

    penarikan dada ke dalam, kejang, pernapasan kadang-kadang terhenti

    dehidrasi berat, tidak mampu makan dan minum.

    c. ISPA berat

    ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas yang mempunyai

    saran perawatan, dengan syarat tersedianya fasilitas minimal sebagai

    berikut : perlengkapan pemberian zat asam (oksigen), alat pengisap lendir,

    sarana pemberian cairan intravena, obat-obatan yang cukup antimikroba,

    brondikolator, digitalis, serum anti difteri.

    Beberapa tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi ISPA,

    pada umumnya didasarkan pada gejala yang muncul, antara lain :

    a. Flu

    Bagian terpenting yang harus dilakukan memberi anak minum lebih

    banyak dari biasanya sedikit-sedikit tapi sering, buat anak merasa lebih

    nyaman. Bila ingus sangat kental, berikan garam steril (NaCl 0,9 %)

    sebagai tetes hidung. Air garam steril ini adalah air garam yang ada di

    tubuh kita dan tidak menimbulkan efek samping (Pujiarto.PS, 2007).

  • 36

    b. Batuk

    Berikan anak minuman cairan hangat yang banyak, jangan ada asap rokok

    di rumah atau di sekeliling anak, letakan anak dalam posisi tegak atau

    separuh tegak. Untuk obat batuk dianjurkan untuk yang kerjanya menekan

    refleks lainnya (Tjokronegoro, 2009).

    c. Demam

    Saat ini yang lazim digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh

    adalah kompres air hangat atau suam-suam kuku (37,8 o C). dengan suhu

    di luar terasa hangat, maka tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu

    luar cukup panas. Dengan demikian tubuh akan menurunkan control

    pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh

    lagi. Disamping itu, lingkungan luar yang hangat akan membuat

    pembuluh darah tepi di kulit melebar atau mengalami vasolatasi, juga akan

    membuat pori-pori kulit terbuka sehingga akan mempermudah

    pengeluaran panas dari tubuh (Hartanto, 2012).

    d. Infeksi telinga

    Berikan obat untuk menghilangkan rasa sakit (parasetamol), letakan anak

    pada posisi tegak. Posisikan telinga yang sakit di atas handuk yang sudah

    di hangatkan atau isi botol dengan air hangat dan bungkus dengan sapu

    tangan atau handuk kecil, hindari anak minum dari dot botol sambil

    tiduran. Umumnya otitis media akan sembuh sendiri dan tidak

    memerlukan antibiotic (Pujiarto.PS, 2007).

  • 37

    6. Pencegahan ISPA

    Pencegahan penyakit infeksi saluran pernapasan akut meliputi tiga aspek

    yaitu:

    a. Pencegahan tingkat pertama (primary)

    Pendidikan kesehatan pada aspek ini kelompok yang berisiko untuk

    menderita ISPA, dengan demikian dapat mencegah munculnya penyakit

    ISPA.

    1) pemberian makanan pada bayi yang tidak bisa mengisap dengan baik.

    Stomatitis (radang dalam mulut) yang berat dapat mengganggu anak

    mengisap ASI dengan baik. Kondisi seperti ini ibu harus memeras ASI

    kedalam mangkuk, atau menyiapkan susu buatan yang baik, kemudian

    memberikan kepada anak dengan sendok.

    2) Pemberian makanan pada anak yang muntah

    Anak yang muntah terus biasa mengalami malnutrisi. Ibu harus

    memberi makanan pada saat muntahnya reda, usahakan pemberian

    makanan sesering mungkin selama sakit dan sesudah muntah dan

    menghindari makanan goreng-gorengan.

    3) Pemberian ASI

    Bila anak belum menerima makanan tambahan apapun, maka ibu

    harus memberikan ASI lebih sering dari pada biasanya. Pada

    prinsipnya ASI harus diberikan sejak lahir sampai anak berumur 2

    tahun.

  • 38

    4) Imunisasi

    Balita yang tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap, sangat

    berisiko untuk menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut.

    b. Pencegahan tingkat kedua (secondary)

    Sasaran pencegahan pada aspek ini adalah agar penderita mampu

    mencegah penyakit agar tidak menjadi lebih parah, beberapa upaya yang

    harus dilakukan adalah :

    1) Pemberian makan selama anak sakit.

    Untuk anak berumur 4 – 6 bulan atau lebih, berilah makanan dengan

    nilai gizi dan kalori yang tinggi. Dengan melihat umurnya, berilah

    campuran tepung dengan kacang-kacangan, atau tepung dengan

    daging atau ikan. Bila umur anak kurang dari 4 bulan atau belum

    mendapat makanan tambahan, anjurkan ibunya untuk lebih sering

    memberi ASI.

    2) Bersihkan hidung agar tak mengganggu pemberian makanan.

    Pakailah kain bersih yang lunak untuk membersihkan lubang hidung.

    Jika lubang hidung tersumbat karena ingus yang telah mengering,

    tetesilah hidung dengan air garam untuk membasahi lendir.

    3) Mengatasi demam yang tinggi

    Demam yang tinggi (≥ 39 oC) bisa juga mengganggu pemberian

    makanan dan harus diobati dengan paracetamol. Serta anak diberikan

    kompres hangat pada bagian ubun-ubun.

  • 39

    4) Berilah minuman lebih banyak pada balita

    Anak dengan infeksi saluran pernapasan dapat kehilangan cairan lebih

    banyak dari biasanya terutama bila demam tetapi harus menghindari

    air es. Ibu harus memberi cairan tambahan yaitu lebih banyak

    pemberian ASI, menambah pemberian susu buatan, air putih, sari buah

    dan sebagainya.

    c. Pencegahan tingkat tiga (tertiary)

    Pencegahan yang dilakukan pada tahapan ini adalah penanganan pada

    balita yang telah sembuh dari penyakit. Pada umumnya balita yang sedang

    sakit hanya bisa makan sedikit. Karena itu setelah sembuh, usahakan

    pemberian makanan ekstra setiap hari selama seminggu, atau sampai berat

    badan balita mencapai normal. Hal ini akan mempercepat balita mencapai

    kesehatan semula serta mencegah malnutrisi. Malnutrisi akan

    mempermudah atau memperberat infeksi saluran pernapasan

    (Notoatmodjo, 2013).

    7. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ISPA

    1) Agent

    Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya

    bisa secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks,

    faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal

    sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek, merupakan penyakit virus

  • 40

    yang paling sering terjadi pada manusia. Penyebab penyakit ini adalah

    virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo (WHO, 2007).

    2) Manusia

    a. Umur

    Risiko untuk terkena ISPA pada balita yang lebih muda umurnya

    lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua umurnya. Dari

    hasil sebuah penelitian menunjukkan ada pengaruh umur terhadap

    kejadian ISPA pada balita. Dengan demikian, umur merupakan

    determinan dari kejadian ISPA pada balita.

    b. Jenis kelamin

    Tidak terdapat perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA

    pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Namun menurut

    beberapa penelitian kejadian ISPA lebih sering didapatkan pada anak

    laki-laki dibandingkan anak perempuan, terutama anak usia muda, di

    bawah 6 tahun.

    c. Mengatur Pola makan balita

    Menurut Sumirta (2005) salah satu faktor yang mempengaruhi status

    gizi anak balita adalah pola pemberian makanan. Suatu pola makan yang

    seimbang dan teratur akan menyajikan semua makanan yang berasal

    dari sebuah kelompok makanan dengan jumlahnya sehingga zat gizi

    yang dikonsumsi seimbang satu sama lain. Telah lama diketahui adanya

    interaksi sinergis antara malnutrisi dan penyakit infeksi. Anak balita

  • 41

    dengan status gizi yang buruk memiliki daya tahan tubuh terhadap

    tekanan dan stress menurun. Sistem imunitas dan antibody berkurang

    sehingga akan mudah terkena penyakit infeksi.

    Untuk itu balita yang terkena infeksi memerlukan zat gizi yang tinggi

    agar dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk pemulihan kondisi tubuh.

    Adapun tiga fungsi zat gizi yaitu member energy, pertumbuhan dan

    pemulihan jaringan tubuh, mengatur proses tubuh.

    d. Status ASI eksklusif

    Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi

    yang kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri

    dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6 hari) payudara akan

    menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan

    (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor dan sel-sel leukosit)

    yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi. Bayi (0-12

    bulan) memerlukan jenis makanan ASI, susu formula, dan makanan

    padat. Pada enam bulan pertama, bayi lebih baik hanya mendapatkan

    ASI saja (ASI Eksklusif) tanpa diberikan susu formula. Usia lebih dari

    enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI atau susu

    formula, kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika anak tidak bisa

    mendapatkan ASI, seperti ibu dengan komplikasi post natal.

    Berdasarkan hasil penelitian Arini (2012), frekuensi kejadian ISPA

    sering lebih banyak terjadi pada anak yang tidak diberikan ASI (84,4%),

  • 42

    dan secara parsial sebesar 87,5 % dan pola pemberian ASI secara

    predominan sebagian besar mengalami ISPA dengan frekuensi jarang

    (82,1%), sementara yang tidak mengalami kejadian ISPA terjadi pada

    anak dengan pola pemberian ASI secara eksklusif (94,6%). Anak yang

    tidak diberikan ASI mengalami kejadian ISPA dengan frekuensi jarang

    sebesar 267 kali lebih tinggi dibandingkan pada anak yang diberi ASI

    secara eksklusif, namun tidak ada hubungan antara pola pemberian ASI

    secara eksklusif dengan frekuensi kejadian ISPA yang sering pada anak

    usia 6-12 bulan.

    e. Status imunisasi

    Menurut Kemenkes RI (2007), imunisasi adalah suatu upaya untuk

    melindungi seseorang terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan

    terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan

    pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya

    terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak. Imunisasi bermanfaat

    untuk mencegah beberapa jenis penyakit, seperti : polio (lumpuh layu),

    TBC (batuk berdarah), difteri, liver (hati), tetanus, dan pertusis. Bahkan

    imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit

    tersebut. Jadwal pemberian imunisasi sesuai dengan yang ada dalam

    Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu BCG : 0-11 bulan, DPT 3 kali : 2-11

    bulan, Polio 4x : 0-11 bulan, Campak 1 kali : 9-11 bulan, Hepatitis B 3

    kali : 0-11 bulan. Selang waktu pemberian imunisasi yang lebih dari 1

  • 43

    kali adalah 4 minggu. Adanya hubungan yang bermakna antara status

    imunisasi dengan kejadian penyakit ISPA pada balita. Balita yang status

    imunisasinya tidak lengkap memiliki risiko 3,25 kali lebih besar untuk

    menderita penyakit ISPA dibandingkan dengan balita dengan status

    imunisasi lengkap.

    f. Lingkungan

    Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian

    penyakit ISPA. Faktor lingkungan tersebut dapat berasal dari dalam

    maupun luar rumah. Untuk faktor yang berasal dari dalam rumah sangat

    dipengaruhi oleh kualitas sanitasi dari rumah itu sendiri, seperti :

    1) Kelembaban ruangan

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI

    Nomor1077/Menkes/Per/V/ 2011 tentang Pedoman Penyehatan

    Udara Dalam Ruang Rumah menetapkan bahwa kelembaban yang

    sesuai untuk rumah sehat adalah 40- 60%. Kelembaban yang terlalu

    tinggi maupun rendah dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan

    mikrorganisme, termasuk mikroorganisme penyebab ISPA

    (Kemenkes RI, 2011). Penelitian Nindya dan Sulistyorini (2005),

    tentang hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita

    yang dilakukan di tiga daerah yang berbeda, yaitu di Kelurahan

    Penjaringan Sari Kecamatan Rungkut Kota Surabaya, Desa

    Sidomulyo Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo, dan di Desa

  • 44

    Tual Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara didapatkan

    bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap ISPA pada balita.

    2) Suhu ruangan

    Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu

    optimum 18- 300C. Hal ini berarti, jika suhu ruangan rumah di

    bawah 180C atau di atas 300C, keadaan rumah tersebut tidak

    memenuhi syarat (Kemenkes RI, 2011).

    3) Penerangan alami

    Rumah yang sehat adalah rumah yang tersedia cahaya yang cukup.

    Suatu rumah atau ruangan yang tidak mempunyai cahaya, dapat

    menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat mendatangkan

    penyakit. Sebaliknya suatu ruangan yang terlalu banyak mendapatkan

    cahaya akan menimbulkan rasa silau, sehingga ruangan menjadi

    tidaksehat. Agar rumah atau ruangan mempunyai sistem cahaya yang

    baik, dapat dipergunakan dua cara (Kemenkes RI, 2011), yaitu :

    a) Cahaya alamiah, yakni mempergunakan sumber cahaya yang

    terdapat di alam, seperti matahari. Cahaya matahari sangat

    penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam

    rumah. Pencahayaan alami dianggap baik jika besarnya minimal

    60 lux . Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat jendela,

    perlu diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke

    dalam ruangan, dan tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi

  • 45

    jendela di sini, di samping sebagai ventilasi juga sebagai jalan

    masuk cahaya. Lokasi penempatan jendelapun harus diperhatikan

    dan diusahakan agar sinar matahari lebih lama menyinari lantai

    (bukan menyinari dinding).

    b) Cahaya buatan adalah menggunakan sumber cahaya yang bukan

    alamiah seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.

    Pencahayaan alami dan/atau buatan langsung maupun tidak

    langsung dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya

    60 lux, dan tidak menyilaukan.

    4) Ventilasi

    Ventilasi sangat penting untuk suatu tempat tinggal, hal ini karena

    ventilasi mempunyai fungsi ganda. Fungsi pertama sebagai lubang

    masuk dan keluar angin sekaligus udara dari luar ke dalam dan

    sebaliknya. Dengan adanya jendela sebagai lubang ventilasi, maka

    ruangan tidak akan terasa pengap asalkan jendela selalu dibuka.

    Untuk lebih memberikan kesejukan, sebaiknya jendela dan lubang

    angin menghadap ke arah datangnya angin, diusahakan juga aliran

    angin tidak terhalang sehingga terjadi ventilasi silang (cross

    ventilation). Fungsi ke dua dari jendela adalah sebagai lubang

    masuknya cahaya dari luar (cahaya alam/matahari). Suatu ruangan

    yang tidak mempunyai sistem ventilasi yang baik akan menimbulkan

    beberapa keadaan seperti berkurangnya kadar oksigen, bertambahnya

  • 46

    kadar karbon dioksida, bau pengap, suhu dan kelembaban udara

    meningkat. Keadaan yang demikian dapat merugikan kesehatan dan

    atau kehidupan dari penghuninya, bukti yang nyata pada kesehatan

    menunjukkan terjadinya penyakit pernapasan, alergi, iritasi

    membrane mucus dan kanker paru. Sirkulasi udara dalam rumah akan

    baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai

    ventilasi minimal 10% dari luas lantai (Kemenkes RI, 2009).

    5) Kepadatan hunian rumah

    Kepadatan penghuni rumah merupakan perbandingan luas lantai

    dalam rumah dengan jumlah anggota keluarga penghuni rumah

    tersebut. Kepadatan hunian ruang tidur adalah minimal 8 m2, dan

    tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu

    ruang tidur, kecuali anak di bawah umur lima tahun .

    6) Penggunaan anti nyamuk

    Pemakaian obat nyamuk bakar merupakan salah satu penghasil bahan

    pencemar dalam ruang. Obat nyamuk bakar menggunakan bahan

    aktif octachloroprophyl eter yang apabila dibakar maka bahan

    tersebut menghasilkan bischloromethyl eter (BCME) yang diketahui

    menjadi pemicu penyakit kanker, juga bisa menyebabkan iritasi pada

    kulit, mata, tenggorokan dan paru-paru (Kemenkes RI, 2011).

  • 47

    7) Bahan bakar untuk memasak

    Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat

    menyebabkan kualitas udara menjadi rusak, terutama akibat

    penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan, serta penggunaan

    sumber energi yang relatif murah seperti batubara dan biomasa

    (kayu, kotoran kering dari hewan ternak, residu pertanian)

    (Kemenkes RI, 2011).

    8) Keberadaan perokok

    Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif.

    Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 di antaranya

    merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic

    Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain (Kemenkes RI, 2011).

    Berdasarkan hasil penelitian Nasution et al. (2009) serta Winarni et al

    (2010), didapatkan hubungan yang bermakna antara pajanan asap

    rokok dengan kejadian ISPA pada balita.

    9) Debu rumah

    Menurut Kemenkes RI (2011a), partikel debu diameter 2,5μ (PM2,5)

    dan Partikel debu diameter 10μ (PM10) dapat menyebabkan

    pneumonia, gangguan system pernapasan, iritasi mata, alergi,

    bronchitis kronis. PM2,5 dapat masuk ke dalam paru yang berakibat

    timbulnya emfisema paru, asma bronchial, dan kanker paru-paru

    serta gangguan kardiovaskular atau kardiovascular (KVS). Secara

  • 48

    umum PM2,5 dan PM10 timbul dari pengaruh udara luar (kegiatan

    manusia akibat pembakaran dan aktivitas industri). Sumber dari

    dalam rumah antara lain dapat berasal dari perilaku merokok,

    penggunaan energy masak dari bahan bakar biomasa, dan

    penggunaan obat nyamuk bakar.

    10) Dinding rumah

    Fungsi dari dinding selain sebagai pendukung atau penyangga atap

    juga untuk melindungi rumah dari gangguan panas, hujan dan angin

    dari luar dan juga sebagai pembatas antara dalam dan luar rumah.

    Dinding berguna untuk mempertahankan suhu dalam ruangan,

    merupakan media bagi proses rising damp (kelembaban yang naik

    dari tanah) yang merupakan salah satu faktor penyebab kelembaban

    dalam rumah. Bahan dinding yang baik adalah dinding yang terbuat

    dari bahan yang tahan api seperti batu bata atau yang sering disebut

    tembok. Dinding dari tembok akan dapat mencegah naiknya

    kelembaban dari tanah (rising damp) Dinding dari anyaman bambu

    yang tahan terhadap segala cuaca sebenarnya cocok untuk daerah

    pedesaan, tetapi mudah terbakar dan tidak dapat menahan lembab,

    sehingga kelembabannya tinggi.

    11) Status ekonomi dan pendidikan

    Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari

    satu individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit,

  • 49

    persepsi terhadap penyakitnya merupakan hal yang penting dalam

    menangani penyakit tersebut. Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu

    sangat menentukan tindakan pengobatan yang akan diterima oleh

    anaknya. Berdasarkan hasil penelitian Djaja et al. (2001), didapatkan

    bahwa bila rasio pengeluaran makanan dibagi pengeluaran total

    perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang membawa anaknya

    berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Berdasarkan hasil uji

    statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali

    lebih banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan

    dengan ibu yang status ekonominya rendah. Ibu dengan pendidikan

    lebih tinggi, akan lebih banyak membawa balita berobat ke fasilitas

    kesehatan, sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak

    mengobati sendiri ketika balita sakit ataupun berobat ke dukun. Ibu

    yang berpendidikan minimal tamat SLTP 2,2 kali lebih banyak

    membawa anaknya ke pelayanan kesehatan ketika sakit dibandingkan

    dengan ibu yang tidak bersekolah, hal ini disebabkan karena ibu yang

    tamat SLTP ke atas lebih mengenal gejala penyakit yang diderita

    oleh balitanya.

    D. Konsep tentang Balita

    Balita adalah kelompok dibawah lima tahun (1-5 tahun) merupakan

    kelompok umur yang rawan penyakit, artinya pada tahap usia ini balita gampang

    terkena penyakit. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling

  • 50

    menderita akibat gizi (KKP), dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa

    kondisi atau anggapan yang menyebabkan balita ini rawan kesehatan antara lain

    sebagai berikut :

    1. Balita baru berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang

    dewasa.

    2. Biasanya balita ini sudah mempunyai adik, atau ibunya sudah bekerja penuh

    sehingga perhatian ibu sudah berkurang.

    3. Balita sudah mulai main di tanah, dan sudah dapat main di luar rumahnya

    sendiri, sehingga leih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi

    yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit.

    4. Balita belum dapat mengurus dirinya sendiri, termasuk dalam memilih bahan

    makanan (Notoadmodjo, 2013).

    Seperti yang telah dikemukakan bahwa balita berhak untuk sehatdan

    memperoleh perlindungan. Perlindungan yang dimaksud adalah melindungi balita

    dari segala bentuk cedera fisik maupun psikologis. Cedera fisik dan berbagai

    penyakit infeksi merupakan penyeban utama kematian pada balita. Pada dasarnya

    permasalahan yang muncul pada balita merupakan kondisi yang dapat dicegah

    dan dapat dihindari. Karena itu perhatikan kondisi yang dapat mencelakakan

    balita dan hal pertaa yang perlu dilakukan adalah kondisi di rumah, apakah aman

    bagi balita.

    Balita merupakan kelompok usia yang paling berisiko untuk menderita

    berbagai penyakit dan cedera fisik. Di usia balita anak sangat aktif dan memiliki

  • 51

    rasa ingin tahu yang sangat besar, impulsif, ceroboh, penuh energi. Mereka berada

    pada fase menjelajah dan mengeksplorasi, sementara mereka belum mengenal

    konsep bahaya. Pada masa ini di satu sisi orang tua harus merangsang dan

    menstimulasi rasa ingintahu balita di lain pihak, orang tua harus memastikan

    bahwa risiko cedera sudah sangat diminimalisir. Oleh karena itu, sebagai orang

    tua harus dapat menjaga dan mengawasi anak balita setiap saat.

    Fase balita merupakan fase pertumbuhan dan perkembangan terjadi dengan

    pesat, dimana balita mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan

    psikomotor. Balita juga sangat aktif tetapi insting mereka sudah mulai terbentuk

    sehingga sudah memulai memahami konsep bahaya dan mulai memahami

    perlunya melindungi diri dari berbagai hal yang dapat mencederai diri mereka.

    Namun mereka masih peril diawasi dengan ketat (Notoatmodjo, 2013).

    Pada fase balita mendekati dua tahun, balita sudah mampu mendongak

    gelasnya. Di lain pihak, nafsu makan anak cenderung menurun. Pada masa ini

    pertumbuhan fisik mereka lambat sehingga kebutuhan kalori tidak setinggi

    sebelumnya. Pada fase ini ibu harus memberikan pilihan makanan rendah lemak

    termasuk susu rendah lemak (Pujiarto, 2007).

  • 52

    BAB III

    KERANGKA KONSEP

    A. Dasar Pemikiran Variabel

    Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit

    penyebab kematian utama pada balita. Mengingat penyakit ini adalah penyakit

    yang dapat menyebabkan kematian bagi balita, maka pengetahuan tentang ISPA

    dalam hal ini pencegahan yang perlu melibatkan masyarakat khususnya ibu

    balita. Pemahaman yang baik yang dimiliki ibu balita tentang ISPA, akan

    membantu menekan angka kematian akibat penyakit tersbut.

    Dengan adanya pengetahuan tentang ISPA oleh ibu balita, maka ibu balita

    dapat mendeteksi dini gejala ISPA serta dapat menentuakn langkah dan sikap

    selanjutnya dalam melakukan perawatan pada balita, sehingga tidak terjadi

    komplikasi yang berbahaya. Beberapa upaya yang dapat dilakukan ibu adalah

    dengan tetap memberikan makan pada balita yang sakit, membersihkan hidung

    agar tidak menghalangi pemberian makan, mengatasi demam, dan memberi

    minum yang banyak pada balita. Pada penelitian ini, peneliti berasumsi bahwa

    dengan pemahaman ibu yang baik tentang ISPA maka dapat meningkatkan proses

    kesembuhan ISPA pada balita.

  • 53

    B. Bagan Kerangka Pikir

    Variabel bebas Variabel Terikat

    Keterangan :

    : Variabel independent yang diteliti

    : Variabel dependent yang diteliti

    C. Variabel Penelitian

    1. Variabel bebas

    Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang

    menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

    (Sugiyono, 2011). Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah

    pengetahuan dan sikap ibu tentang pencegahan ISPA pada balita.

    2. Variabel terikat

    Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

    akibat, karena adanya variabel bebas. Pada penelitian ini yang menjadi

    variabel terikat adalah pencegahan ISPA pada balita.

    Pengetahuan

    Ibu

    Sikap

    Ibu

    Pencegahan ISPA

    Pada Balita

  • 54

    D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

    1. Definisi Operasional

    a. Balita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah balita yang berusia 0 – 5

    tahun dan menderita ISPA dan berkunjung untuk berobat di Puskesmas

    Poasia.

    b. Ibu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang tua perempuan yang

    memiliki anak balita yang menderita ISPA dan datang berkunjung di

    Puskesmas Poasia.

    c. Pengetahuan dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang

    pencegahan penyakit ISPA berupa langkah-langkah yang dapat dilakukan

    ibu yaitu seperti: pemberian makanan pada bayi yang tidak bisa mengisap

    ASI dengan baik, Pemberian ASI sampai balita berumur 2 tahun,

    imunisasi, pemberian makan selama balita sakit, membersihkan hidung

    balita, pemberian antipeuretik, kompres hangat pada ubun-ubun,

    pemberian banyak minum pada balita, pemberian makanan ekstra yang

    baru sehat. Penilaian pengetahuan ibu dilakukan dengan membuat

    kuisioner sebanyak 10 pertanyaan untuk tiap variabel jika menjawab benar

    diberi skor 1 dan bila salah diberi skor 0.

    Kriteria Objektif :

    Pengetahuan baik : Bila responden memperoleh nilai ≥ 60%, dari

    pertanyaan yang ada pada kuisioner

  • 55

    Pengetahuan kurang : Bila responden memperoleh nilai < 60%, dari

    pertanyaan yang ada pada kuisioner.

    d. Sikap di dalam penelitian ini adalah sikap ibu yang merupakan reaksi atau

    respon ibu (masih tertutup) terhadap suatu stimulus atau objek. Objek ibu

    dimaknai sebagai reaksi atau respon ibu dalam upaya berupa tindakan

    pencegahan penyakit ISPA pada balita. Dalam hal ini sikap ibu dalam

    mengusahakan agar faktor penyebab penyakit ISPA dapat dicegah.

    Kriteria Objektif :

    Sikap baik : Bila responden memperoleh nilai ≥ 60%, dari

    pertanyaan yang ada pada kuisioner

    Sikap kurang : Bila responden memperoleh nilai < 60%, dari

    pertanyaan yang ada pada kuisioner

    Cara mengukur sikap pada penelitian ini menggunakan skala Likert.

    Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala likert

    mempunyai gradasi positf, yang dapat berupa kata-kata.Sehingga, jika

    didapatkan jawaban dari kuisioner dan diberikan poin berupa nilai maka :

    Nilai 1 = Sangat tidak setuju

    Nilai 2 = Tidak setuju

    Nilai 3 = Ragu-ragu

    Nilai 4 = Setuju

    Nilai 5 = sangat setuju

    Dimana jumlah pertanyaan sebanyak 10 setiap pertanyaan berskala 1-50.

  • 56

    Skor tertinggi = 10 x 5 = 50 = 100%

    Skor terndah = 10 x 1 = 10 = 20%

    Kisaran (range) = skor tertinggi – skor terndah = 100% -20% = 80%

    80% = 40, sehingga didapatkan 100%-40% = 60 %

    2

  • 57

    BAB IV

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian adalah penelitian survey deskriptif untuk memperoleh

    gambaran pengetahuan dan sikap ibu tentang pencegahan ISPA pada balita di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari.

    B. Tempat Dan Waktu Penelitian

    1. Waktu

    Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 08 Juni – 28 Juni 2016.

    2. Tempat

    Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Poasia Kota Kendari Kota Kendari

    Provinsi Sulawesi Tenggara.

    C. Populasi dan Sampel

    1. Populasi

    Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita yang

    menderita ISPA dan datang berobat di Puskesmas Poasia sebanyak 150 Ibu.

    2. Sampel

    a. Besar Sampel

    Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita yang

    menderita ISPA dan datang berobat di Puskesmas Poasia yang diambil

    dengan tehnik accidental sampling yaitu metode pengambilan sampel yaitu

  • 58

    pada ibu yang kebetulan ada/ dijumpai/ serta berkunjung bersama anaknya

    ke Puskesmas Poasia hingga sampel mencukupi yaitu sebanyak 30 ibu.

    b. Kriteria Sampel

    Responden dengan kriteria Sampel sebagai berikut :

    1) Kriteria Inklusi :

    Adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi

    target dan terjangkau untuk diteliti

    a) Ibu yang bersedia menjadi responden.

    b) Ibu yang mampu membaca dan menulis.

    c) Ibu yang memiliki balita yang menderita ISPA dan berkunjung di

    Puskesmas Poasia.

    2) Kriteria Eksklusi :

    Adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi

    yang tidak dapat dijadikan target untuk diteliti

    a) Ibu tidak bersedia menjadi responden.

    b) Ibu tidak mampu membaca dan menulis.

    c) Ibu yang tidak memiliki anak balita dan tidak berkunjung di

    Puskesmas Poasia.

  • 59

    D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

    1. Jenis Data

    a. Data Primer

    Data primer diperoleh dengan menggunakan lembar kuisioner pada

    responden terpilih sebagai sampel yang memuat variabel-variabel.

    b. Data Sekunder

    Data sekunder dalam penelitian ini adalah diperoleh dari instansi

    terkait yang berhubungan dengan penelitian dalam hal ini data di

    Puskesmas Poasia Kota Kendari Kota Kendari Provinsi Sulawesi

    Tenggara.

    2. Cara Pengumpulan Data

    Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar kuisioner

    pada responden yang disusun berdasarkan variabel penelitian.

    E. Pengolahan Data

    Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan diolah dengan langkah-

    langkah sebagai berikut :

    1. Edit

    Tahap ini dilakukan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar

    dengan memperhatikan kelengkapan jawaban pada kuisioner baik yang berupa

    jelas tidaknya jawaban maupun pengisian tabel distribusi frekuensi maupun

    master tabel bila ditemukan kesalahan.

  • 60

    2. Kode

    Pengkodean dimaksudkan adalah pengkodean data yang diperoleh agar

    memudahkan mengolah dan menganalisis data dengan memberikan kode-kode

    dalam bentuk angka, ceklist maupun silang pada pertanyaan kuisioner maupun

    tabel distribusi hasil penelitian.

    3. Skoring

    Melakukan pemasukan skor jawaban yang salah dan benar yang sudah dikode

    terlebih dahulu pada tabulasi hasil penelitian.

    4. Tabulasi

    Melakukan pemasukan data hasil kuisioner, jumlah jawaban yang salah dan

    benar yang sudah dikode terlebih dahulu ke komputer untuk membuat tabel

    hasil penelitian.

    5. Pengecekan

    Yaitu melakukan pembersihan dan pengecekan kembali data masuk, hal ini

    diperlukan untuk mengetahui apakah ada kesalahan ketika memasukkan data.

    F. Analisis Data

    Analisis Data

    Untuk mendapatkan persentase hasil dari observasi yang telah diteliti maka akan

    dianalisa dengan menggunakan rumus :

    (Candra B, 2008).

    X = f/n x K

  • 61

    Keterangan :

    X = Jumlah persentase variabel yang diteliti

    f = Jumlah jawaban benar responden berdasarkan variabel yang diteliti

    n = Jumlah sampel penelitian

    K = Konstanta (100%)

    G. Penyajian Data

    Penyajian data pada penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel

    distribusi frekuensi persentase dan dinarasikan kemudian dilakukan

    pembahasan yang selanjutnya didapatkan kesimpulan penelitian.

    H. Etika Penelitian

    Dalam penelitian ini, masalah etika sangat diperhatikan dengan menggunakan

    metode :

    1. Informed concent

    Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan

    memberikan lembar persetujuan (informed concent). Informed concent tersebut

    diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan

    untuk menjadi responden mengerti maksud dan tujuan penelitian serta

    mengetahui dampaknya.

    2. Ananomity (tanpa nama)

    Dilakukan dengan cara tidak memberikan nama responden pada lembar alat

    ukur, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

  • 62

    3. Confidentiality (kerahasiaan)

    Yaitu menjamin kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun masalah-

    masalah lainnya. Informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

    peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

  • 63

    BAB V

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian.

    1. Gambaran Lokasi Penelitian

    1. Letak geografis

    Puskesmas Poasia terletak di Kecamatan Poasia Kota Kendari,

    sekitar 9 km dari Ibu Kota Provinsi serta memiliki kondisi geografis

    daerah dataran rendah yang berbatasan dengan:

    a. Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Kendari

    b. Sebeah Timur berbatasan dengan Kecamatan Abeli

    c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo

    d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kambu.

    Luas wilayah kerja Puskesmas Poasia sekitar 4.175 Ha atau 44,75

    km2

    atau 15,12 % dari luas daratan Kota Kendari terdiri dari 4 kelurahan

    definitif yaitu Anduonohu, Rahandauna, Anggoya dan Matabubu dengan

    82 RW/RK. Jumlah pendududk 25.474 jiwa serta tingkat kepadatan

    penduduk 490 orang/km2 dengan tingkat kepadatan hunian rumah rata-rata

    5 orang/rumah.

    2. Keadaan demografi

    Jumlah penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia pada tahun

    2014 adalah sebanyak 25.474 jiwa serta tingkat kepadatan penduduk 490

  • 64

    orang/km2 dengan tingkat kepadatan hunian rumah rata-rata 5

    orang/rumah.

    3. Fasilitas pelayanan

    Poliklinik Umum Puskesmas Poasia memberikan pelayanan rawat

    jalan kepada pasien khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia yaitu

    Wilayah Kecamatan Poasia dan penduduk di luar wilayah kerja

    Puskesmas Poasia seperti Kecamatan Abeli bahkan di luar kota kendari

    seperti penduduk Kabupaten Konawe Selatan.

    Selain Poliklinik Umum, Puskesmas Poasia memiki Poliklinik

    Kesehatan Ibu dan Anak dan Poliklinik Gigi. Sehingga pelayanan di luar

    perawatan gigi dan kesehatan ibu dan anak dilakukan di Poliklinik Umum.

    Fasilitas pelayanan terdiri dari pelayanan penyakit umum, kesehatan mata,

    kesehatan jiwa dan penanganan TB paru dan kusta.

    4. Ketenagaan

    Jumlah tenaga pegawai Puskesmas Poasia sebanyak 144 orang,

    yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 80 orang dan non

    pegawai negeri sipil (Non PNS) sebanyak 62 orang. Pegawai Poliklinik

    umum sebanyak 10 orang yang terdiri dari 4 orang dokter umum, seorang

    kepala ruangan yang merangkap sebagai kordinator TB paru dan kusta, 3

    orang perawat pelaksana, seorang perawat kesehatan mata, dan seorang

    perawat kesehatan jiwa.

  • 65

    Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 08 Juni – 28 Juni 2016 dan

    bertempat di Puskesmas Poasia Kota Kendari, data diperoleh dengan tehnik

    accidental sampling dengan jumlah sampel 30 ibu dan didapatkan hasil sebagai

    berikut :

    1. Karakteristik Responden

    Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Umur Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari

    No Umur Ibu f %

    1.

    2.

    3.

    20 – 25 tahun

    26 – 30 tahun

    31 – 35 tahun

    11

    14

    5

    36,66

    46,66

    16,68

    Jumlah 30 100

    Sumber : Data primer 2016

    Pada tabel 5.1 diatas menunjukan bahwa frekuensi umur ibu terbesar

    berada pada rentang umur 26 – 30 tahun dengan jumlah 14 ibu (46,66%) dan

    frekuensi umur ibu terkecil berada pada rentang umur 31 – 35 tahun dengan

    jumlah 5 ibu (16,68%).

    Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari

    No Pendidikan Ibu f %

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    Pendidikan rendah (SD/SMP)

    Pendidikan Menengah

    (SMA)

    Pendidikan Tinggi

    (D3/S1/S2)

    10

    16

    4

    33,33

    53,55

    13,34

    Jumlah 30 100

    Sumber : Data primer 2016

  • 66

    Pada tabel 5.2 diatas menunjukan bahwa frekuensi tingkat pendidikan

    ibu terbanyak berada pada pendidikan menengah dengan jumlah 19 ibu

    (63,33%) dan frekuensi tingkat pendidikan ibu terkecil berada pada

    pendidikan tinggi dengan jumlah 4 ibu (13,34%)

    Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari

    No Pekerjaan Ibu f %

    1.

    2.

    3.

    PNS

    Pegawai Swasta

    IRT

    10

    5

    15

    33,33

    16,68

    49,99

    Jumlah 30 100

    Sumber : Data primer 2016

    Pada tabel 5.3 diatas menunjukan bahwa frekuensi pekerjaan ibu

    terbanyak adalah IRT dengan jumlah 15 ibu (49,99%) dan pekerjaan ibu

    terkecil adalah pegawai swasta dengan jumlah 5 ibu (16,68%).

    2. Hasil Penelitian

    Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan

    ISPA Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016

    No Pengetahuan Ibu f %

    1.

    2.

    Baik

    Kurang

    13

    17

    43,33

    56,67

    Jumlah 30 100

    Sumber : Data primer 2016

    Pada Tabel 5.4 diatas menunjukan bahwa frekuensi responden terbesar

    adalah ibu yang memiliki pengetahuan kurang yang berjumlah 17 ibu

  • 67

    (56,67%), dan frekuensi responden terkecil adalah ibu yang memiliki

    pengetahuan baik yang berjumlah 13 ibu (43,33%).

    Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada

    Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016

    No Sikap Ibu f %

    1.

    2.

    Baik

    Kurang

    12

    18

    40,00

    60,00

    Jumlah 30 100

    Sumber : Data primer 2016

    Pada Tabel 5.5 diatas menunjukan bahwa frekuensi responden terbesar

    adalah ibu yang memiliki sikap kurang yang berjumlah 18 ibu (60,00%), dan

    frekuensi responden terkecil adalah ibu yang memiliki sikap baik yang

    berjumlah 12 ibu (40,00%).

    B. Pembahasan

    1. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016

    Pada Tabel 5.4 diatas menunjukan bahwa responden terbesar adalah ibu

    yang memiliki pengetahuan kurang yang berjumlah 17 ibu (56,67%).

    Responden yang kategori kurang di dalam penelitian ini disebabkan oleh

    berbagai faktor, salah satunya adalah faktor umur dimana responden yang

    berumur 20 – 25 tahun, tergolong ke dalam umur yang muda dan memiliki

    pengalaman yang kurang mengenai perawatan ISPA pada balita, hal ini juga

    didukung adanya responden yang memiliki tingkat pendidikan yang berbeda

    dikarenakan ibu berpendidikan rendah yaitu hanya tamatan SD, serta

  • 68

    pekerjaan responden yang kebanyakan hanya tinggal dirumah atau sebagai ibu

    rumah tangga, sehingga penerimaan pengetahuan yang disampaikan oleh

    petugas kesehatan kurang diterima dan dapat diserap dengan baik oleh

    responden, dan didukung kurangnya sarana prasarana untuk melakukan

    penyuluhan kepada ibu mengenai pencegahan penyakit ISPA oleh petugas

    kesehatan, seperti tersedianya buku panduan dan gambar atau brosur

    mengenai penyakit ISPA sehingga ibu tidak memiliki pengetahuan tentang

    pencegahan penyakit ISPA pada balita, hal ini sejalan dengan teori

    pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan tersedianya sarana dan

    prasarana yang memadai, seperti yang dikemukakan oleh Suharjo (2006)

    dimana tinggi rendahnya pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan yang

    diperoleh semakin tinggi pendidikan, maka pengetahuan yang diperoleh akan

    semakin banyak, begitupun sebaliknya.

    Sarana dan prasarana yang menunjang, maka pengetahuan yang

    diperoleh akan lebih besar bila dibandingkan dengan kurangnya sarana dan

    prasarana. Selain itu dapat disebabkan kurangnya pengalaman, kesadaran

    ataupun pendidikan mengenai status gizi balita hal ini bisa didapatkan

    melalui mendengar, pendidikan formal, nonformal, maupun pengalaman.

    Pengetahuan adalah suatu yang diketahui atau kepandaian yang dimiliki

    seseorang melalui pendidikan maupun pengalaman (Badudu, 2012).

    Responden yang kategori baik memiliki pengetahuan mengenai

    perawatan penyakit ISPA, responden mempunyai pengalaman, kesadaran

  • 69

    ataupun pendidikan dimana kebanyakan responden berpendidikan S1 dan

    SMA sehingga memiliki pengetahuan dengan baik mengenai perlunya

    pencegahan ISPA pada balita selama sakit, hal ini responden dapatkan melalui

    mendengar, pendidikan formal, nonformal, maupun pengalaman. hal ini

    sejalan dengan teori pengetahuan, bahwa pengetahuan adalah suatu yang

    diketahui atau kepandaian yang dimiliki seseorang melalui pendidikan

    maupun pengalaman (Badudu, 2012).

    2. Gambaran Sikap Ibu Tentang Pencegahan ISPA Pada Balita di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016

    Pada Tabel 5.5 diatas menunjukan bahwa responden terbesar adalah

    ibu yang memiliki sikap kurang yang berjumlah 18 ibu (60,00). Pada balita,

    pengaruh dari keluarga sangat kuat. Sikap dan perilaku orang tua, terutama

    ibu, dalam melakukan pencegahan memberikan pengaruh yang cukup

    signifikan terhadap pencegahan penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena

    orang tua adalah orang yang paling dekat dengan balita. Peran serta orang tua

    sangat diperlukan dalam membimbing, memberikan pengertian,

    mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada balita agar balita terhindar

    dari penyakit ISPA. Adapun cara pencegahan penyakit ISPA yang dapat

    ditunjukkan lewat langkah-langkah yang dapat dilakukan ibu yaitu seperti:

    pemberian makanan pada bayi yang tidak bisa mengisap ASI dengan baik,

    Pemberian ASI sampai balita berumur 2 tahun., Imunisasi, Pemberian makan

    selama balita sakit, membersihkan hidung balita, pemberian antipiretik,

  • 70

    kompres hangat pada ubun-ubun, pemberian banyak minum pada balita, serta

    pemberian makanan ekstra yang baru sehat.

    Responden yang kategori baik memiliki sikap yang baik. Sikap

    merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu

    stimulus atau objek. Dalam sikap positif ada kecendrungan untuk memenuhi

    objek tertentu, sedangkan sikap negatif ada kecendrungan untuk memenuhi

    obyek tertentu, sikap seseorang dapat dilihat dari prilakunya (Notoatmodjo,

    2013). Ibu yang memiliki sikap yang baik adalah ibu yang memiliki

    pengetahuan akan perawatan sekunder ISPA, dimana responden mempunyai

    pengetahuan dan kesadaran.

  • 71

    BAB VI

    PENUTUP

    A. Kesimpulan.

    Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016, dapat disimpulkan bahwa :

    1. Responden terbesar adalah ibu yang memiliki pengetahuan kurang yang

    berjumlah 17 ibu (56,67%) dan responden terkecil adalah ibu yang memiliki

    pengetahuan baik yang berjumlah 13 ibu (43,33%) di Puskesmas Poasia Kota

    Kendari Tahun 2016

    2. Responden terbesar adalah ibu yang memiliki sikap kurang yang berjumlah 18

    ibu (60,00%), dan responden terkecil adalah ibu yang memiliki sikap baik

    yang berjumlah 12 ibu (40,00%) di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun

    2016

    3. Secara keseluruhan yang paling dominan yang menjadi pencegahan ISPA di

    pada balita Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun 2016 terbanyak adalah

    pencegahan kurang yang berjumlah 18 ibu (60,00%), dan responden terkecil

    adalah pencegahan baik yang berjumlah 12 ibu (40,00%) di Puskesmas Poasia

    Kota Kendari Tahun 2016

    B. Saran.

    1. Disarankan kepada pihak Puskesmas Poasia khususnya dan Petugas

    Kesehatan agar dapat melaksanakan penyuluhan mengenai ISPA, sehingga

  • 72

    memberikan informasi yang berguna sebagai bentuk pelayanan kepada

    masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia

    2. Disarankan kepada institusi Poltekkes Kemenkes Kendari, khususnya bagi

    mahasiswa agar dapat mengembangkan penelitian ini.

    3. Disarankan pada ibu yang mempunyai balita yang mengalami ISPA agar

    dapat mempraktekkan cara pencegahan penyakit ISPA pada balitanya untuk

    menghindari komplikasi yang lebuh parah.

    4. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengambil variabel – variabel

    lain yang berhubungan dengan ISPA lainnya.

  • 73

    DAFTAR PUSTAKA

    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :

    Rineka Cipta

    Badudu, J. S & Zain, Moh. Sutan. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta :

    Pustaka Sinar Harapan

    Balitbangkes, 2007 Riskesdas Indonesia tahun 2007, Depkes RI. Jakarta

    Candra, B. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta : EGC.

    Data Puskesmas Poasia Kecamatan Poasia Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara

    Tahun 2015-2016.

    Http://www.who.int/campaigns/ Acute Respiratory Infections -week/2008 diakses 15

    maret 2016.

    Istiarti. 2010. Menanti Buah