KARYA TULIS ILMIAH

  • View
    266

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PAPER RAHMAT

Text of KARYA TULIS ILMIAH

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangHemoroid dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien merupakan penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak jaman dahulu. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini. Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal (anus dan rektum) dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengannya. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa tinja keluar dari dalam tubuh. Sedangkan rektum merupakan bagian dari saluran pencernaan di atas anus, dimana tinja disimpan sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Sepuluh juta orang di Amerika dilaporkan menderita hemoroid dengan prevalensi lebih dari 4 %. (Probosuseno, 2009).Hemoroid terkjadi akibat pembendungan struktur vaskuler normal selama mengejan. Gejalanya adalah perdarahan, rasa penuh, secret, gatal dan dapat mengalami thrombosis dengan nyeri hebat, kadang-kadang terkikis melalui kulit. (Seymour l. Schwartz, 2000:424)

Gejala hemoroid dan ketidak nyamanan dapt dihilangkan dengan personel hygiene yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah. Bila tindakan ini gagal laktasif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati usus dapat membantu, rendam duduk dengan salep dan supositor yang mengandung anestesi, astrigen da tirah baring adalah tindakan yang memungkinkan pembesaran berkurang. (Suzanne C. Smeltzer, dkk, 2002:1138).

Kebanyakan penderita dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan bila menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahn rektal. (Suzanne C. Smeltzer, dkk, 2002:1123).

1.2 Tujuan

1. Tujuan Umum:Teori yang telah dikaji dan dipahami dapat diimplementasikan dalam menangani kasus pasien dengan hemorroid. Dalam implementasi kasus diharapkan teori yang telah dikaji dan dipahami dapat mendapatkan hasil yang memuaskan.2. Tujuan Khusus

Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis terhadap pasien dengan hemoroid. Mampu menyusun rencana tindakan kegawat daruratan pada pasien hemoroid

Mampu mengevaluasi hasil akhir dari tindakan yang telah dilakukan pada pasien hemoroid1.3 Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Menambah ilmu terutama dalam kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan hemoroid dan memperbaharui teori yang ada tentang hemoroid (ambeien/ wasir).

2. Manfaat Praktis

Untuk memperoleh pengalaman dalam hal mengadakan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sehingga penulis terpacu untuk meningkatkan potensi diri sehubungan dengan pengetahuan tentang hemoroid.

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN2.1 Anamnesa

a. Identitas Pasien dan keluargaDalam identitas pasien ini perlu ditanyakan antara lain adalah nama pasien, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaaan, status perkawinan dan alamat.

b. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan sekarang

Pasien mengeluh BAB keras, tidak teratur dan bila mengedan terasa nyeri

Perdarahan pada waktu defekasi berwarna merah segar yang disertai pengeluaran lendir

Terasa gatal pada anus

Pasien mengeluh adanya varises atau hemoroid yang keluar dari anus saat defekasi

Pasien yang varises berat tidak dapat memasukan sendiri secara spontan tetapi harus didorong kembali sedangkan varises sedang bisa masuk sendiri, untuk yang tidak dapat masuk maka akan terjadi pembengkakan dan kemerahan pada anus.2) Riwayat kesehatan dahulu

Pasien tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya

3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Hemoroid bukanlah suatu penyakit menular tetapi ada juga dipengaruhi oleh faktor keturunan.2.2 Patofisiologi

Secara herediter dinding vena lemah, ini bisa ditimbulkan dari factor mengejan yang dapat meningkatkan tekanan intra abdomen. Hal ini dipengaruhi antara lain pekerjaan, misalnya mengangkat yang terlalu berat, batuk kronis, dan mengejan saat proses persalinan, makanan yang merangsang misalnya makanan yang pedas-pedas, diet rendah serat (selulosa).Letak plexus vena berada antara mukosa dan spingter ani. Pada kebiasaan berak yang terlalu lama dapat terjadi dilatasi spingter ani. Karena vena kurang penyangga maka spingter ani akan mengendor, dengan demikian lama kelamaan akan menimbulkan varises. Akibat vena yang melebar dan berkelok, maka akan menimbulkan gejala perdarahan. Karena dindingnya menonjol dan terlalu tipis, sehingga tinja akan menyebabkan perdarahan segar, setelah itu pada perkembangannya dapat timbul benjolan. (Darma Adji, 1991)

Kolon sigmoid mulai setinggi krista illiaca dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S, lekukan bagian bawah membelok ke kiri waktu kolon sigmoid bersatu dengan rectum, yang menjelaskan alasan anatomis meletakkan penderita pada sisi kiri bila diberi barium enema. Pada posisi ini, gaya berat membantu menyalinkan air dari rectum ke pleksura sigmoid. Bagian utama usus besar yang terakhir dinamakan rektum dan terbentang dari kolon sigmoid sampai anus( muara ke bagian luar tubuh). Satu inci dari rektum dinamakan kanalis ani dan dilindungi oleh spingter ani eksternus dan internus. Panjang rektum dan kanalis ani sekitar 5,9 inci (15cm).Suplai darah tambahan untuk rektum adalah melalui arteria sacralis media dan arteria hemorhoidalis inferior dan media yang dikembangkan dari arteria iliaka interna dan aorta abdominalis.

Alur balik vena dari kolon dan rectum superior melalui vena mesenterika superior dan inferior dan vena hemorhoidalis superior, yaitu bagian dari system vorta yang menyalinkan darah ke hati.

Vena hemorhoidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan merupakan bagian dari sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosik antara vena hemorhoidalis superior, media dan inferior, sehingga peningkatan tekanan vorta dapat mengakibatkan aliran balik ke dalam vena-vena ini dan mengakibatkan hemorrhoid.2.3 Etiopatogenesa

Teori pergeseran lapisan anus (sliding anal lining theory) merupakan teori yang paling tepat menjelaskan etiologi terjadinya penyakit hemoroid. Hemoroid terjadi karena gangguan pada Treitzs muscle dan jaringan ikat elastis. Hipertropi dan kongesti vaskular merupakan akibat sekunder. Hemoroid terjadi akibat sering mengedan dan BAB yang tidak teratur, yang merupakan gambaran yang cocok untuk teori pergeseran lapisan anus. Feses yang keras dan besar, serta tenesmus karena diare menyebabkan bantalan anal bergeser ke bawah anal kanal dan mukosa yang melapisinya akan menjadi tipis dan rapuh. Mengedan terus-menerus saat defekasi menyebabkan pengembangan dari bantalan anal lalu terjadi prolaps akibat regangan berlebihan dari submukosa Treitzs muscle. Jika prolaps tidak bisa direduksi kembali dan jaringan mengalami strangulasi serta nekrosis, penyakit sistemik dan sepsis pelvis melalui sistem portal akan terjadi. Teori ini juga didukung oleh penelitian histologis yang menunjukkan adanya penurunan jaringan penyokong anal pada dekade ketiga kehidupan.Pecahnya jaringan ikat yang mendukung bantalan anal kanal menyebabkan terjadinya penurunan bantalan. Hal ini terjadi seiring dengan umur yang menyebabkan kelemahan struktur jaringan ikat dan akibat mengedan karena feses yang keras. Mengedan menyebabkan peningkatan tekanan vena lalu menimbulkan prolaps bantalan anal. Pada bantalan yang mengalami prolaps terjadi gangguan venous return sehingga mengakibatkan dilatasi pleksus dan stasis vena. Inflamasi terjadi akibat erosi epitel bantalan yang pada akhirnya menimbulkan perdarahan.

2.4 Pemeriksaan Fisik

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien hemoroid biasanya ditandai dengan:

1. Keadaan umum: lemah dan gelisah sampai renjatan (stadium lanjut)

2. Kesadaran

: composmentis

3. Tanda-tanda vital: biasanya dalam batas normal jika ada kelainan maka akan terjadi peningkatan atau penurunan tanda-tanda vital

4. Rectum/anus: terjadi pembengkakan, kemerahan, varises satu atau lebih pada anus dan bila tertekan akan nyeri.

2.5 Pemeriksaan penunjang

Dilakukan pemeriksaan:

a. Darah

Terjadi peningkatan leukosit, dimana normal leukosit 5000-10.000 mm juga ditemukan adanya peningkatan laju endapan darah yang normalnya adalah pada laki-laki 0-20, wanita 0-15. Serta pemeriksaaan agar diketahui apakah pasien mengalami anemia atau tidak. Normal HB laki-laki 14-16 gr%, wanita 12-14 gr%.b. Sigmoidoskopi

Pemeriksaan lumen distal 25-30 cm kolorectum untuk memungkinkan inspeksi terjadi pada kolon.c. Kolonoskopi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui area obstruksi atau lesi sesuai dengan penyakit peradangan atau neoplastik dapat diidentifikasi dengan foto yang dibuat dalam beberapa posisi.

BAB III

PEMBAHASAN

1.1 DefinisiHemoroid adalah pelebaran vena didalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik. (R. Sjamsuhidajat- Wim De Jong, 2005:672)Lokasi terjadinya pelebaran hemoroid: Lateral kiri jam 3

Anterior kanan jam 11

Posterior kanan jam 7

Gambar 3.1 lokasi hemoroid (www.google.com)

1.2 Epidemiologi

Hemoroid dialami 50% masyarakat berusia lebih dari 50 tahun tetapi hanya 5% yang menderita gejala yang dapat dikaitkan dengan hemoroid. Di Indonesia penyakit hemoroid sekitar 1/3 penderita lansia. Dengan frekuensi 0,2-5% prevalensinya mencapai 24-37% pada lansia wanita dibandingkan lansia pria. (William Skach,dkk, 1996:403)1.3 AnatomiBantalan anal (anal cushion) terdiri dari pembuluh darah, otot polos (Treitzs muscle), dan jaringan ikat elastis di submukosa. Bantalan ini berlokasi di anal kanal bagian atas, dari linea dentata menuju cincin anorektal (otot puborektal). Ada tiga bantalan anal, masing-masing terletak di lateral kiri, anterolateral kanan, dan posterolateral kanan. Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut.Otot polos (Treitzs muscle