karya tulis ilmiah

  • View
    21

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asuhan keperawatan

Text of karya tulis ilmiah

48

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Peningkatan kemajuan lalulintas baik dari segi jumlah pemakai jalan, maupun pemakai kendaraan dan jaringan jalan serta kecepatan kendaran yang dapat menimbulkan kecelakaan yang berakibat pada penyebab fraktur (Mansjoer 2000). Dampak yang dapat ditimbulkan pada fraktur adalah putusnya kontinuitas jaringan tulang, serta terjadi spasme otot yang mengakibatkan nyeri terus-menerus dan bertambah berat (Brunner & Suddarth 2001 : 2357).Menurut WHO (2007) terdapat 300 ribu orang yang mengalami fraktur. Di Indonesia kejadian terjadinya fraktur pada periode 2005 sampai 2007 terdapat 34.409 orang akibat kecelakaan yang mengalami fraktur di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 mencapai 600 orang (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2013). Dari hasil pengambilan data di RSUD Genteng Banyuwangi tahun 2013 angka kejadian fraktur sebanyak 62 korban.Fraktur disebabkan oleh trauma secara langsung, trauma tidak langsung, dan kondisi pathologis (Kusuma, 2012 : 184). Apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah fraktur pada tulang yang dapat menyebabkan seseorang memiliki kerterbatasan gerak, ketidak seimbangan dan nyeri pergerakan jaringan lunak yang terdapat disekitar fraktur, seperti pembuluh darah, syaraf dan otot terganggu serta organ lainnya yang berdekatan dapat dirusak pada waktu trauma (Padila, 2012 : 298).

Penatalaksanaan medik dengan pasien pada fraktur terbuka harus segera dilakukan karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). Sebelum kuman jauh meresap maka dilakukan pembersihan luka, eksisi jaringan mati atau debridement, hecting situasi (jahitan sementara), dan pemberian analgesic, ATS (Anti Tetanus Serum), serta antibiotic (Wahid, 2013 : 16). Tindakan secara non farmakologi juga dapat dilakukan dengan teknik relaksasi, yang merupakan tindakan eksternal yang mempengaruhi respon internal individu terhadap nyeri. Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu asuhan keperawatan serta reposisi untuk mengembalikan keposisi semula. Dengan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk gerakan fragmen tulang (Smetltzer dan Bare, 2002).

B. RUMUSAN MASALAHBagaimanakah asuahan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014?

C. TUJUAN

1. Tujuan umum :

Mampu menerapkan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.2. Tujuan khusus :

Mampu :

a. Mengkaji asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.b. Merumuskan diagnosa asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.c. Merencanakan tindakan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.d. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.e. Mengevaluasi asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di ruang bedah RSUD Genteng-Banyuwangi Tahun 2014.D. SISTEMATIKA PENULISANSistematika penulisan pada proposal ini meliputi :Bagian awal terdiri: halaman sampul, halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan.

1. Bab I Pendahuluan : pada bab ini membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika penulisan, pengumpulan data.

2. Bab II Tujuan kepustakaan : pada bab ini membahas anatomi dan fisiologi, konsep medis fraktur, konsep asuhan keperawatan fraktur.3. Bab III Tinjauan pustaka : pada bab ini membahas pengkajian, analisa data, rumusan masalah, intervensi, implementasi, dan evaluasi4. Bab IV Pembahasan5. Bab V Kesimpulan dan saran

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data guna penyusunan penulisan, misal: 1. Observasi : dengan cara mengamati langsung keadaan klien melalui pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi untuk mendapat data objektif.2. Wawancara : pengumpulan data dengan melakukan komunikasi lisan yang didapat secara langsung dari klien dan keluarga untuk mendapatkan data subjektif.3. Studi dokumentasi : pengumpulan data yang didapatkan dari buku status kesehatan klien yaitu meliputi catatat medik yang berhubungan dengan klien.4. Studi kepustakaan : dengan cara penggunaan buku-buku sumber untuk mendapatkan landasan teori yang berkaitan dengan kasus yang dihadapi, sehingga dapat membandingkan teori dengan fakta di lahan praktek.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Fraktur

1. Definisi frakturFraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yan biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma (Lukman & Ningsih, 2013 : 26).

2. Klasifikasi FrakturKlasifikasi fraktur menurut (Lukman & Ningsih, 2013 : 27)

a. Fraktur tertutup (fraktur simpel) adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit atau kulit tidak ditembus oleh fragmen tulang.

b. Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai ke patahan tulang. Konsep penting pada fraktur terbuka yang harus diperhatikan adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tembat terjadinya fraktur tersebut.

1) Fraktur terbuka terbagi atas 3 derajat :a) Derajat I

(1) Luka < 1 cm(2) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk(3) Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan(4) Kontaminasi minimalb) Derajat II

(1) Laserasi > 1 cm(2) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse(3) Fraktur kominutif sedang(4) Kontaminasi sedang

c) Derajat IIITerjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovascular serta kontaminasi derajat tinggic. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. Sebaliknya fraktur tidak komplit terjadi ketika tulang yang patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

d. Fraktur transfersal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.

e. Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahanya membentuk sudut terhadap tulang.

f. Fraktur spiral adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang.

g. Fisura, disebabkan oleh beban lama atau trauma ringan yang terus-menerus yang disebut fraktur kelelahan, misalnya diafisis metatarsal.

h. Fraktur impaksi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainya.

i. Fraktur kompresi adalah fraktur dimana anatara dua tulang mengalami kompresi pada tulang ketiga yang berada diantaranya.3. Etiologi frakturMenurut (Rosyidi 2013 : 35-36) penyebab dari fraktur yaitu a. Kekerasan langsung

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.

b. Kekerasan tidak langsung

Kekerasan tidak langsung dapat menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vector kekerasan.

c. Kekerasan akibat tarikan otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekanan, dan kombinasi dari ketiganya.4. Manifestasi Klinis FrakturMenurut Lukman dan Ningsih (2013 : 30-31)

a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukanya tetap rigid seperti normalnya.c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.d. Saat ekstermitas dengan tangan, teraba adanya derik tulang, dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu yang lainya.e. Pembekakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan mengikuti fraktur.

5. PenatalaksanaanMenurut (Padila, 2012 : 286) penatalaksanaan pada fraktur meliputi:

a. Fraktur harus segera diimobilisasi untuk memungkinkan pembentukan fraktur dan meminimalkan kerusakan. b. Penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar terjadi pemulihan posisi yang normal dan rentang gerak. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan tanpa intervensi bedah (reduksi tertutup). Apabila diperlukan pembedahan untuk fiksasi (reduksi terbuka), pin atau sekrup dapat dipasang untuk mempertahankan sambungan dan menstimulasi penyembuhan.c. Imobilisasi jangka panjang setelah reduksi penting dilakukan agar terjadi pembentukan kalus dan tulang baru. Imobilisasi jangka panjang biasanya dilakukan dengan pemasangan gips atau penggunaan bidai.

Menurut (Wahid, 2013 : 16-19) ada empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan untuk menangani fraktur, yaitu:a. Rekognisi/pengenalan :Riwayat kejadian harus jelas untuk menentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya.b. Reduksi/manipulasi/reposisi :(mengembalikan posisi tulang ke posisi anatomis)1) Reduksi terbuka. Dengan pembedahan, memasang alat fiksasi interna (mis, pen, kawat, sekrup, plat, paku dan batang)2) Reduksi tertutup. Ekstremitas dipertahankan dengan gips, traksi, brace, bidai, dan fiksator eksterna.c. Retensi/Imobilisasi :Setelah direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi atau di