Hubungan Shift Kerja Terhadap Gangguan Pola Tidur Pada

  • View
    470

  • Download
    18

Embed Size (px)

Text of Hubungan Shift Kerja Terhadap Gangguan Pola Tidur Pada

Menurut Japardi (2002) gangguan pola tidur adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami resiko perubahan jumlah (kuantitas) dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan. Dalam Ristiani (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan kualitas dan kuantitas tidur menurut Suzuki (2005) meliputi umur, jenis kelamin, shift kerja, konsumsi alkohol, obat-obatan, dan status pernikahan. Sedangkan menurut Nakata, et al (2004) faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gangguan tidur adalah umur, tipe pekerjaan, status pernikahan, masa kerja, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan kafein. Salah satu faktor yang memiliki kontribusi besar untuk menimbulkan gangguan tidur adalah shift kerja. Kuswadji (1997) menyebutkan bahwa salah satu hal yang menjadi perhatian adalah 60-80% pekerja dengan sistem kerja shift mengalami gangguan pola tidur. Dan hasil penelitian oleh Handayani (2008) menyebutkan pada pekerja didapatkan 78% gangguan tidur terjadi pada pekerja yang bekerja dengan sistem shift dan sekitar 22% gangguan tidur terjadi pada pekerja yang bekerja dengan sistem non shift.

Penelitian sebelumnya oleh Alawiyah (2009) yang dilakukan di RS syarif hidayatullah Jakarta ditinjau dari kuantitas dan kualitas diketahui bahwa perawat yang mengalami gangguan pola tidur lebih banyak pada perawat yang bekerja dengan sistem shift dibandingkan perawat yang bekerja dengan sistem non shift. Perawat yang mengalami gangguan pola tidur lebih banyak dibandingkan dengan perawat yang tidak mengalami gangguan pola tidur sebanyak 53,6%.

RS Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan rumah sakit yang menerapkan kerja shift dalam menjalankan proses pelayananannya. Sistem shift yang digunakan adalah tidak beraturan dan terdapat 1 hari libur setelah 2 hari bekerja shift malam. Berdasarkan hal di atas maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara gangguan pola tidur dengan penerapan shift kerja pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta, dan faktorfaktor pencetusnya

Diperkirakan faktor pencetus terjadinya gangguan pola tidur dapat berasal dari lingkungan kerja (seperti masa kerja shift seseorang, penerapan sistem kerja shift di perusahaan, serta adanya tuntutan atau tekanan-takanan dalam pekerjaan), lingkungan keluarga dan sosial (meliputi status perkawinan dan kegiatan yang biasa dilakukan di lingkungan tempat tinggal), dan faktor individu yang bersangkutan (meliputi usia, gaya hidup, dan akibat suatu penyakit yang sedang diderita oleh individu tersebut). (Handayani,2008) Berdasarkan penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa shift kerja merupakan salah satu penyebab utama gangguan tidur yang dirasakan oleh pekerja. Dengan demikian diperlukan adanya suatu penelitian untuk membuktikan apakah ada hubungan antara pola tidur dengan penerapan shift kerja, serta pola tidur dengan usia, masa kerja shift, status perkawinan, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur pada perawat di RS. Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013.

1. Bagaimana gambaran pola tidur perawat di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013? 2. Bagaimana gambaran penerapan shift kerja di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013? 3. Bagaimana gambaran faktor confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan pekerja, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) penerapan shift kerja dengan pola tidur perawat di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013? 4. Apakah ada hubungan antara penerapan shift kerja dengan pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013?

5. Apakah ada hubungan antara faktor confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan pekerja, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) penerapan shift kerja dengan pola tidur perawat di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013? 6. Apakah faktor confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan pekerja, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) terbukti mempengaruhi pola tidur perawat di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013?.

Tujuan TUJUAN Tujuan Khusus UmumMengetahui bagaimana hubungan shift kerja terhadap gangguan pola tidur pada perawat RS Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2013.a) Diketahuinya gambaran pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. b) Diketahuinya gambaran penerapan shift kerja di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. c) Diketahuinya gambaran faktor confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) penerapan shift kerja dengan pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. d) Diketahuinya hubungan antara penerapan shift kerja dengan pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. e) Diketahuinya hubungan faktor confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan pekerja, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) penerapan shift kerja dengan pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. f) Diketahuinya confounding (usia pekerja, masa kerja shift, status perkawinan pekerja, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan penggunaan obat tidur) yang terbukti mempengaruhi pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta.

1. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai pengaruh shift kerja malam terhadap gangguan pola tidur pada pekerja khususnya perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta 2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gangguan pola tidur pada perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta dilihat dari pengaruh shift kerja, karakteristik pekerja, dan gaya hidup pekerja. Sasaran penelitian adalah para perawat yang bekerja secara shift maupun non-shift di RS Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-April 2013

A. Shift kerja Menurut Sumamur (1994), shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam. B. Irama sirkadian Dalam 24 jam tubuh akan mengalami fluktuasi berupa temperatur, kemampuan untuk bangun, aktivitas lambung, denyut jantung, tekanan darah dan kadar hormon, dikenal sebagai irama sirkadian (Folkard dan Monk dalam Hery Firdaus, 2005).

C. Gangguan pola tidurGangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada pekerja shift. Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurunkan daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain.

D. Faktor faktor yang berhubungan dengan gangguan pola tidurColligan et al menyebutkan bahwa gangguan pola tidur dapat dipengaruhi oleh status perkawinan, konsumsi alkohol dan kafein, dan penggunaan obat tidur. Selanjutnya, beberapa teori juga menyebutkan bahwa usia pekerja (Grandjean, 1988), masa kerja shift (Bohle, 1991), jenis kelamin (Remelda, 2008), status kesehatan (Klein, 2004), dan kebiasaan merokok (Noor, 2003) juga dapat mempengaruhi pola tidur

Cont 1. Karakteristik pekerja : Usia Menurut Prayitno (2002) terdapat perbedaan pola tidur seseorang berdasarkan usianya. Kebutuhan tidur seseorang akan berkurang dengan semakin berlanjutnya usia seseorang. Kelompok usia lanjut cenderung lebih mudah terbangun dari tidurnya. Kebutuhan tidur akan berkurang dengan berlanjutnya usia. 2. Status perkawinan Menurut Maasen et.al (Rosmaliana, 2004) status perkawinan sangat mempengaruhi tidur pekerja shift. Pekerja yang sudah menikah cenderung mengalami gangguan pola tidur yang lebih tinggi karena bertambahnya tanggung jawab terhadap keluarga seperti istri atau suami dan anak-anak. 3. Masa kerja shift Menurut Chan (2006) gangguan pola tidur terjadi pada masa kerja lebih dari 3 tahun. Menurut Bohle (1991) dalam Rosmaliana (2004) gangguan pola tidur biasanya terjadi pada 5 tahun pertama atau pada masa adaptasi. Jika ditinjau secara teoritis masalah serius baru akan terjadi pada saat masa kerja shift mencapai 30 tahun, karena efek dari kerja shift pada gangguan pola tidur bersifat akumulasi. (Ristiani, 2011) 4. Jenis kelamin Menurut Hestiantoro (2001) selaku staff bagian obstetric dan ginekologi fakultas kedokteran Universitas Indonesia, gangguan tidur lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan dengan laki-laki 5. Status kesehatan Menurut Klein (2004), salah satu faktor pencetus gangguan tidur yang berasal dari individu adalah akibat suatu penyakit yang sedang diderita. Dalam sumber lain disebutkan pula bahwa sakit fisik dapat menjadi penyebab gangguan tidur, seperti sesak napas pada orang yang terserang asma, sinus, dan influenza sehingga hidung yang tersumbat dapat menyebabkan gangguan tidur

Gaya hidup : 1. Kebiasaan merokok Menurut Noor (2003) dalam Handayani (2008), gangguan tidur dapat disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor gaya hidup yang meliputi kafein, alkohol,dan nikotin yang berasal dari rokok. 2. Konsumsi alkohol Mengkonsumsi alkohol dan kafein merupakan salah satu penyebab gangguan tidur yang diakibatkan oleh faktor gaya hidup (Klein, 2004). Colligan et al (1997) menjelaskan bahwa seorang pekerja shift sering kali mengkonsumsi alkohol agar mudah tertidur. Alkohol dapat membuat seseorang menjadi mudah tertidur, tetapi juga dapat mengganggu tidur

3. Konsumsi kafeinDalam penelitian Afriani (2002) disebutkan bahwa dari 200 responden yang diteliti 21,5% diantaranya memiliki kebiasaan mengkonsumsi kafein terutama pada shift pagi dan malam. Selain itu dilaporkan pula dalam Francini et al (2007) bahwa 67% pekerja shift di Amerika mengkonsumsi 3 cangkir/kaleng minuman berkafein setiap harinya. 4. Penggunaan ob