of 133/133
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI (Studi Kasus Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang) ANNEKE PUSPASARI DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI … · alih fungsi lahan tertinggi. Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk memberikan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih

  • View
    228

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI … · alih fungsi lahan tertinggi. Penelitian ini...

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP

PENDAPATAN PETANI (Studi Kasus Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur,

Kabupaten Karawang)

ANNEKE PUSPASARI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP

PENDAPATAN PETANI (Studi Kasus Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur,

Kabupaten Karawang)

ANNEKE PUSPASARI

H44080103

Skripsi sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

RINGKASAN

ANNEKE PUSPASARI. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Dampaknya Terhadap Pendapatan Petani (Studi Kasus Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang). Dibimbing oleh ACENG HIDAYAT.

Permasalahan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian saat ini terus mengalami peningkatan. Sejalan dengan adanya peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan kebutuhan lahan meningkat. Adanya peningkatan kebutuhan lahan untuk pembangunan, sementara ketersediaan lahan relatif tetap menyebabkan persaingan dalam pemanfaatan lahan. Kabupaten Karawang sebagai lumbung padi nasional juga mengalami alih fungsi lahan pertanian terutama lahan sawah. Dari tahun 2001-2010 luas lahan sawah yang mengalami alih fungsi sebesar 317,10 hektar. Terjadinya alih fungsi lahan akan memberikan dampak baik pada lingkungan maupun pendapatan petani. Kecamatan Karawang Timur merupakan salah satu kecamatan yang mengalami alih fungsi lahan tertinggi.

Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk memberikan informasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian dan dampaknya terhadap pendapatan petani. Tujuan khusus dari penelitian ini: (1) mengkaji laju alih fungsi lahan di Kecamatan Karawang Timur, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di Kecamatan Karawang Timur, (3) menganalisis dampak alih fungsi lahan terhadap pendapatan petani, (4) menganalisis dampak lingkungan akibat alih fungsi lahan pertanian di Desa Kondangjaya.

Penelitian ini dilakukan di Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Pengambilan data dilakukan selama bulan Februari - April 2012. Data primer diperoleh dari hasil wawancara melalui kuisioner. Data sekunder diperoleh melalui dinas-dinas terkait serta studi literatur atau referensi lainnya berupa jurnal dan penelusuran data melalui internet. Laju alih fungsi lahan dianalisis dengan persamaan laju alih fungsi lahan, pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan menggunakan model regresi linier berganda dan model regresi logistik, dampak alih fungsi lahan dianalisis dengan analisis uji beda rata-rata. Pengolahan data dilakukan secara manual serta komputerisasi dan melalui program Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS 20.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren laju alih fungsi lahan sawah di Kecamatan Karawang Timur mengalami fluktuasi dari tahun 2006-2011. Laju alih fungsi lahan tahun 2006-2011 sebesar 0,47 persen per tahun. Laju alih fungsi lahan sawah paling tinggi terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar 5,58 persen. Hal ini disebabkan karena adanya pembangunan pemukiman akibat peningkatan jumlah penduduk di Kecamatan Karawang Timur. Faktor-faktor yang mempengaruhi Alih fungsi lahan pertanian di tingkat wilayah adalah jumlah industri, dan proporsi luas lahan sawah terhadap luas wilayah. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di tingkat petani dipengaruhi oleh tingkat usia, luas lahan, lama pendidikan, dan pengalaman bertani. Rata-rata pendapatan total petani sebelum dan sesudah alih fungsi lahan terjadi perubahan dari Rp 1.421.514,03 menjadi Rp 1.299.796,30. Namun, terjadinya alih fungsi lahan tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani. Keterampilan rendah dan

pendidikan rendah yang dimiliki oleh responden menyebabkan perubahan mata pencaharian tidak terlalu berpengaruh terhadap pendapatan responden. Pembangunan terus-menerus menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah di Desa Kondangjaya. Alih fungsi lahan sawah menyebabkan dampak lingkungan. Dampak lingkungan dilihat dari kondisi air, udara, dan terjadinya banjir. Namun, dampak lingkungan yang terjadi tidak terlalu dirasakan oleh responden untuk saat ini.

Kata Kunci: Alih Fungsi Lahan, Pendapatan Petani, Lingkungan

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian dan

Dampaknya Terhadap Pendapatan Petani (Studi kasus: Desa

Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang)

Nama : Anneke Puspasari

NRP : H44080103

Disetujui,

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT

NIP. 19660717 199203 1 003

Diketahui,

Ketua Departemen

Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT

NIP. 19660717 199203 1 003

Tanggal Lulus:

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian dan Dampaknya Terhadap

Pendapatan Petani (Studi kasus: Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur,

Kabupaten Karawang) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing

dan belum diajukan dalam bentuk apa pun pada perguruan tinggi mana pun.

Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam

Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juni 2011

Anneke Puspasari H44080103

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.Penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan selama proses

penyusunan skripsi ini, terutama kepada:

1. Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan,

saran, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

2. Ir. Ujang Sehabudin selaku dosen penguji utama dan pembimbing akademik.

3. Novindra, Sp, M.si selaku dosen penguji perwakilan departemen.

4. Ibu (Fahriana), Bapak (Budy Christianto), kakak (Lieke Puspasari dan Deni

Angela), adik (Debrina Puspasari), dan Nenek (Ny. Desman) atas doa, saran,

dukungan dan motivasinya selama ini.

5. Kecamatan Karawang Timur dan Desa Kondangjaya.

6. Bapak Aat selaku Ketua Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan

Karawang Timur serta para penyuluh pertanian Kecamatan Karawang Timur

yang telah membantu penulis dalam pengambilan data.

7. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Karawang, Badan

Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Karawang, Dinas Pertanian,

Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Karawang.

8. Rekan satu bimbingan Ria Kantri, Esti Rahmaniah, Anggi Presti A,

Miftahurohmah, Arindy Pratiwi, dan Ai Surya terima kasih atas bantuan, saran

dan semangatnya selama ini.

9. Nurul Wulan S, Dwipanca P, Pradipta, Evi N, Vicky A, Erwan P, Dhilla,

Andri L dan Ade atas dukungan dan doanya selama ini.

10. Teman-teman ESL 45 atas kebersamaannya selama ini.

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Dan

Dampaknya Terhadap Pendapatan Petani (Studi Kasus Desa Kondangjaya,

Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang). Skripsi ini disusun untuk

memperoleh gelar sarjana pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan

Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Tujuan dari penelitian didalam skripsi ini adalah mengetahui laju alih

fungsi lahan yang terjadi di wilayah tersebut, mengidentifikasi faktor-faktor yang

diduga mendorong terjadinya alih fungsi lahan, menganalisis dampak alih fungsi

lahan pertanian terhadap pendapatan petani, serta menganalisis dampak

lingkungan dari alih fungsi lahan pertanian.

Dengan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini dari awal hingga akhir penulisan.

Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna. Akhir kata, penulis berharap

skripsi ini dapat diterima dan bermanfaat bagi berbagai pihak yang memerlukan.

Bogor, Juni 2012

Anneke Puspasari

viii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ..................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xii

I. PENDAHULUAN ................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................... 5 1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................... 9 1.4. Manfaat Penelitian ....................................................................... 10 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 12

2.1. Lahan Pertanian ............................................................................ 12 2.2. Alih Fungsi Lahan Pertanian ........................................................ 13 2.3. Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian . 15 2.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Alih fungsi Lahan ............... 17 2.5. Peraturan Tentang Alih Fungsi Lahan ......................................... 21 2.6. Penelitian Terdahulu 23

III. KERANGKA PEMIKIRAN .............................................................. 25

IV. METODE PENELITIAN .................................................................. 28

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 28 4.2. Jenis dan Sumber Data . 28 4.3. Metode Pengambilan Sampel .. 29 4.4. Metode dan Prosedur Analisis .. 30

4.4.1. Analisis Deskriptif 30 4.4.2. Analisis Laju Alih Fungsi . 31 4.4.3. Analisis Regresi Berganda 32 4.4.4. Analisis Regresi Logistik .. 40 4.4.5. Analisis Uji Beda Rata-Rata . 45

V. GAMBARAN UMUM 47

5.1. Gambaran Umum Kabupaten Karawang . 47 5.2. Gambaran Umum Kecamatan Karawang Timur . 48

5.2.1. Gambaran Umum Desa Kondangjaya ... 53 5.3. Karakteristik Umum Responden .. 54

5.3.1. Tingkat Usia .. 55 5.3.2. Pendidikan . 56 5.3.3. Lama Bertani . 57 5.3.4. Luas Lahan Sawah . 58

ix

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN .. 59

6.1. Laju Alih Fungsi Lahan di Kecamatan Karawang Timur .. 59 6.2. Alih Fungsi Lahan Pertanian Tingkat Wilayah 66 6.3. Alih Fungsi Lahan Pertanian Tingkat Petani ... 74

6.3.1. Proses Alih Fungsi Lahan .. 77 6.3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan

Tingkat Petani 79 6.4. Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Pendapatan Petani ... 83 6.5. Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Lingkungan . 89

6.5.1. Dampak Terhadap Sampah 90 6.5.2. Dampak Terhadap Kondisi Udara ..... 91 6.5.3. Dampak Terhadap Ketersediaan Air . 92 6.5.4. Dampak Terhadap Banjir .. 95

VII. KESIMPULAN DAN SARAN . 97

7.1. Kesimpulan .. 97 7.2. Saran . 98

VIII. DAFTAR PUSTAKA .. 99

LAMPIRAN .. 104

RIWAYAT HIDUP .. 120

x

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Nilai PDB Indonesia Tahun 2010-2011 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000........................................................................................... 2

2. Nama-Nama Perusahaan di Desa Kondangjaya 2000-2011...... 9

3. Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Karawang .. 48

4. Penggunaan Lahan di Kabupaten Karawang Tahun 2010 ..... 49

5. Luas wilayah Desa dan Kelurahan di Kecamatan Karawang Timur Tahun 2010 .. 51

6. Jumlah Penduduk Masing-masing Kelurahan dan Desa di Kecamatan Karawang Timur Tahun 2010 .. 51

7. Keadaan Penduduk di Kecamatan Karawang Timur Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2011 ...... 52

8. Data Alih Fungsi Lahan Sawah di Kecamatan Karawang Timur Tahun 2011 .. 53

9. Mata Pencaharian Penduduk Desa Kondangjaya Tahun 2011.. 54

10. Luas Lahan Pemukiman (Bangunan, dan Pekarangan) di Kecamatan Karawang Timur Tahun 2006-2011 .... 65

11. Jumlah Perusahaan Pembangun Perumahan di Lahan Sawah Kecamatan Karawang Timur Tahun 2000-2011 ........ 66

12. Hasil Estimasi Faktor-faktor yang Memperngaruhi Alih Fungsi Lahan di Tingkat Wilayah .................................. 69

13. Luas Perubahan Lahan Sawah Menjadi Perumahan Tahun 2001-2010 ........................................................................... 72

14. Luas Lahan yang Mengalami Alih Fungsi ................. 75

15. Penggunaan Hasil Pengalih Fungsian Lahan Oleh Petani ...... 79

16. Proses Alih Fungsi Lahan Oleh Petani Responden di Kecamatan Karawang Timur ..... 80

17. Hasil Estimasi Model Regresi Logistik Terhadap Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Tingkat Petan ....................................................................................... 83

18. Sumber Pendapatan Utama Petani yang Melakukan Alih Fungsi Lahan Pertanian .................... 88

19. Perbandingan Rata-rata Pendapatan Petani Sebelum dan Sesudah Terjadinya Alih Fungsi Lahan ..... 89

xi

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Jumlah Penduduk Kabupaten Karawang .. 4

2. Diagram Alur Pikir 27

3. Tingkat Usia Responden Tahun 2012 ... 54

4. Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2012 .... 55

5. Lama Bertani Responden ...... 56

6. Luas Lahan Sawah Responden ...... 57

7. Laju Luasan Lahan Sawah di Kecamatan Karawang Timur . 59

8. Tren Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Karawang Timur Tahun 2006-2010 ... 64

9. Tren Perubahan Luas Lahan Tegalan dan Kebun Campuran Tahun 2001-2010 ..................................................................... 71

10. Kondisi Sampah di Desa Kondangjaya Tahun 2012 ......... 90

11. Kondisi Udara di Desa Kondangjaya Tahun 2012 .... 91

12. Perolehan Air Responden di Desa Kondangjaya ... 93

13. Kualitas Air di Desa Kondangjaya Tahun 2012 .... 94

14. Kejadian Banjir di Desa Kondangjaya Tahun 2012 .. 95

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Daftar Kebutuhan Data, Jenis Data, Sumber Data .... 105

2. Peta Kabupaten Karawang ........................................................ 106

3. Laju Alih Fungsi Lahan di Kecamatan Karawang Timur .......... 107

4. Jumlah Penduduk Kecamatan Karawang Timur 2006-2010 ..... 107

5. Penurunan Luas Lahan Sawah Kabupaten Karawang .............. 107

6. Data Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Tingkat Wilayah ....................................................................... 108

7. Data Pendapatan Sebelum dan Sesudah Melakukan Alih Fungsi Lahan ............................................................................ 109

8. Hasil Estimasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Tingkat Wilayah ........ 111

9. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan di Tingkat Petani .................... 115

10. Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Pendapatan Total ..... 117

11. Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Pendapatan Usaha Tani . 118

12. Dokumentasi Penelitian ............................................................ 119

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian merupakan basis

utama perekonomian nasional. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih

menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Sektor pertanian telah

memberikan sumbangan besar dalam pembangunan nasional, seperti peningkatan

ketahanan nasional, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan

masyarakat, peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB),

perolehan devisa melalui ekspor-impor, dan penekanan inflasi.

Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor

kedua setelah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi besar

terhadap peningkatan PDRB Indonesia. PDRB merupakan salah satu indikator

yang menggambarkan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara. Hal ini

dapat dilihat pada Tabel 1. dimana pertanian, peternakan, kehutanan, dan

perikanan pada tahun 2010 dan 2011 menyumbang masing-masing sebesar Rp

985,40 triliyun dan Rp 1.039,50 triliyun. Sumbangan sektor pertanian ini naik

sebesar Rp 54,10 triliyun. Jika berdasarkan harga konstan, pertanian, peternakan,

kehutanan, dan perikanan menyumbang sebesar Rp 304,70 triliyun dan Rp 313,70

triliyun. Sumbangan sektor pertanian berdasarkan harga konstan naik sebesar

Rp9,00 triliyun. Hal ini menunjukkan bahwa sector pertanian, peternakan,

kehutanan, dan perikanan masih memberikan sumbangan yang besar terhadap

pembangunan di Indonesia.

2

Tabel 1. Nilai PDRB Indonesia pada Tahun 2010-2011 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000.

Lapangan Usaha

Atas dasar harga berlaku

Atas dasar harga konstan

2000 2010 2011 2010 2011

Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan

985,40 1093,5

304,7

313,7

Pertambangan dan penggalian 718,1 886,3 186,6 189,2Industri pengolahan 1595,8 1803,5 597,1 634,2Listrik, gas dan air bersih 49,1 55,7 18,1 18,9Bangunan 660,9 756,5 150,0 160,1Perdagangan, hotel, restoran 882,5 1.022,1 400,5 437,2Pengangkutan dan komunikasi 423,2 491,2 218 241,3Keuangan, persewaan, jasa perusahaan 466,6 535,0 221,0 236,1Jasa-jasa 654,7 783,3 217,8 232,5

Produk Domestik Bruto (PDB) 6.436,3 7.427,1 2.313.8 2.463,2PDB Tanpa Migas 5936,2 6794,4 2.171 2.321,8

Sumber: Badan Pusat Statistik (2012)

Dalam menghadapi pembangunan, sektor pertanian masih terdapat banyak

persoalan besar yang harus diselesaikan, salah satu diantaranya adalah

permasalahan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian yang saat

ini terus mengalami peningkatan. Menurut Utomo (1992) Alih fungsi lahan atau

konversi lahan adalah berubahnya satu penggunanaan lahan ke penggunanaan

lahan lainnya. Banyak faktor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi

terjadinya alih fungsi lahan.

Alih fungsi lahan pertanian sebenarnya bukan masalah baru. Sejalan

dengan adanya peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kebutuhan

infrastruktur seperti, perumahan, jalan, industri, perkantoran, dan bangunan lain

menyebabkan kebutuhan akan lahan meningkat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi

yang tinggi menyebabkan pertumbuhan yang sangat cepat di beberapa sektor

ekonomi. Pertumbuhan tersebut juga membutuhkan lahan yang lebih luas

sehingga terjadi peningkatan kebutuhan lahan untuk pembangunan, sementara

3

ketersediaan lahan relatif tetap menyebabkan persaingan dalam pemanfaatan

lahan. Kebanyakan lahan yang dialihfungsikan umumnya adalah lahan-lahan

pertanian karena land rent (sewa lahan). Menurut Barlowe, sewa ekonomi lahan

(land rent) mengandung pengertian nilai ekonomi yang diperoleh oleh satu bidang

lahan bila lahan tersebut digunakan untuk kegiatan proses produksi. Land rent

lahan pertanian relatif lebih tinggi penggunaannya untuk non-pertanian

dibandingkan dengan lahan pertanian yang dikelola oleh petani (Putri 2009).

Fenomena alih fungsi lahan pertanian merupakan dampak dari

transformasi sruktur ekonomi (pertanian ke industri), dan demografi (pedesaan ke

perkotaan) yang pada akhirnya mendorong transformasi sumberdaya lahan dari

pertanian ke non-pertanian (Supriyadi 2004). Persoalan ini harus dicarikan solusi

pemecahannya karena melihat juga dampak yang ditimbulkan dari alih fungsi

lahan ini dapat merugikan petani khususnya dan masyarakat Indonesia pada

umumnya. Adanya alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan sawah akan

mempengaruhi produksi beras yang mana merupakan makanan pokok masyarakat

Indonesia sehingga akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan.

Fenomena alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non-pertanian saat

ini terjadi sangat pesat di beberapa wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa.

Alih fungsi lahan yang terjadi di Pulau Jawa sebesar 54 persen lebih tinggi

dibandingkan Pulau Sumatera sebesar 38 persen dan beberapa daerah di seluruh

wilayah Indonesia (Anugrah 2005). Dalam sepuluh tahun terakhir, konversi lahan

sawah di sentra utama penghasil beras Indonesia yakni Pulau Jawa, rata-rata lebih

dari 22.000 hektar/tahun (Sumaryanto et all 2006), dan Karawang sebagai salah

4

1600000

1700000

1800000

1900000

2000000

2100000

2200000

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Tahun

Jum

lah

Pend

uduk

jumlah penduduk

1600000

1700000

1800000

1900000

2000000

2100000

2200000

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Tahun

Jum

lah

Pend

uduk

jumlah penduduk

satu wilayah penyumbang beras tertinggi khususnya di Jawa Barat sampai saat ini

tetap mengalami alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan sawah.

Salah satu wilayah di Indonesia yang mengalami alih fungsi lahan

pertanian adalah kabupaten Karawang. Wilayah ini juga terkenal sebagai lumbung

padi nasional. Kabupaten Karawang menjadi penghasil padi terbesar ketiga

setelah Indramayu dan Subang di Jawa Barat1. Selain itu, lahan pertanian terutama

lahan sawah cukup luas. Sebesar 55,62 persen luas wilayah Kabupaten Karawang

merupakan lahan sawah. Namun, Kabupaten Karawang merupakan wilayah yang

rawan akan masalah lahan, terutama karena adanya kawasan industri serta

pemukiman penduduk. Adanya pertambahan jumlah penduduk Kabupaten

Karawang setiap tahun dengan laju rata-rata setiap tahun sebesar 1,75 persen

menyebabkan kebutuhan baik pemukiman maupun perumahan terus meningkat.

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang 2011 (diolah)

Gambar 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Karawang Tahun 2001-2010

Selain itu, kemudahan akses serta letak geografis yang berada di dua kota

besar yaitu Jakarta dan Bandung mengakibatkan daerah ini menjadi daerah

penyangga yang strategis untuk menjadi salah satu pusat perekonomian sehingga

1 www.BPS.go.id. Diakses pada tanggal 14 Februari 2012 pukul 20.00

5

sektor-sektor ekonomi pun menjadi tumbuh (Sandi 2009). Sejak dibangunnya

jalan tol Jakarta-Cikampek telah menjadikan kabupaten Karawang sebagai salah

satu lokasi strategis untuk kegiatan industri (Jamal 1999).

1.2 Rumusan Masalah

Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian yang terjadi selama ini di

Indonesia sebenarnya tidak menguntungkan bagi sektor pertanian. Adanya alih

fungsi lahan justru menimbulkan dampak negatif karena dapat menurunkan hasil

produksi pertanian dan daya serap tenaga kerja sehingga akan berpengaruh

terhadap keberlanjutan hidup petani. Namun, potensi dampak yang akan terjadi

kurang diperhatikan masyarakat ataupun pemerintah dan upaya untuk

pengendalian terhadap alih fungsi lahan sepertinya diabaikan. Inilah yang menjadi

konsentrasi pemerintah dan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah

Kabupaten Karawang terutama di wilayah Kecamatan Karawang Timur.

Perkembangan Kabupaten Karawang telah mengakibatkan terjadinya

persaingan dalam penggunaan lahan yang menyebabkan terjadinya peningkatan

permintaan lahan dimana luas lahan tetap, yaitu seluas 175.327 hektar. Sebagai

konsekuensi dari hal ini maka terjadilah alih fungsi lahan pertanian. Berdasarkan

data Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Karawang (2011) menunjukkan

bahwa secara umum luas lahan sawah yang mengalami alih fungsi dari tahun

2001-2010 mencapai 346,9 hektar atau 34,69 hektar per tahun2.

Perubahan penggunaan lahan dilakukan pada lahan pertanian yang

bertempat pada zonasi kawasan yang dialokasikan sebagai kawasan industri

maupun pemukiman. Penetapan zonasi wilayah diatur pada Peraturan Daerah

2 Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Karawang (2011)

6

Kabupaten Karawang mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Penetapan RTRW Kabupaten Karawang tahun 2004 berdasarkan perda no 19

tahun 2004 memiliki zonasi industri lebih besar dibandingkan RTRW Kabupaten

Karawang sebelumnya, yaitu 1999 (Ervani 2011).

Perubahan fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan non-pertanian di

Kabupaten Karawang tidak saja menghilangkan kesempatan dalam memproduksi

padi dan komoditas pertanian lainnya, namun juga menghilangkan kesempatan

usaha yang akan mengancam kelangsungan hidup petani. Sebanyak 61,9 persen

penduduk Kabupaten Karawang bergerak di bidang usaha pertanian dengan

presentasi buruh tani sekitar 59,43 persen3. Akibat adanya alih fungsi lahan ini,

banyak petani yang kehilangan mata pencahariaannya. Sebagian besar dari

mereka beralih dari petani pemilik menjadi petani penggarap ataupun beralih

profesi menjadi buruh pabrik atau tukang ojek. Hal ini akan berpengaruh terhadap

pendapatan petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Petani yang sebelumnya sangat bergantung pada sektor pertanian sebagai

mata pencahariannya kini banyak diantara mereka tidak bisa bertani kembali.

Selain itu, bertambahnya wilayah terbangun (built up area) menyebabkan muka

tanah yang merupakan peresapan akan jauh berkurang luasannya (Achard et

al.1987) dalam (Barbier 1999). Rendahnya daya resapan air menyebabkan

peningkatan aliran air permukaan. Tingginya aliran permukaan akan

menyebabkan terjadinya banjir. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap

kondisi lingkungan wilayah sekitar.

3 www.pelitakarawang.com Wilayah Lumbung Padi Karawang . Diakses pada tanggal 14 Februari 2012 pukul 21.30

7

Kecamatan Karawang Timur merupakan salah satu wilayah yang

mengalami alih fungsi lahan tertinggi di Kabupaten Karawang. Pada tahun 2011,

wilayah ini mengalami alih fungsi lahan tertinggi mencapai 254,60 hektar

berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten

Karawang. Lahan yang mengalami alih fungsi sebagian besar adalah lahan sawah

produktif. Saat ini luas lahan pertanian khusunya lahan sawah sebesar 69,8 persen.

Namun seiring dengan adanya pembangunan, banyak lahan yang beralih fungsi

terutama untuk pembangunan perumahan.

Sejak adanya penetapan RTRW tahun 2004, Kecamatan Karawang Timur

terus mengalami pembangunan. Wilayah ini memiliki peluang yang tinggi untuk

investor dalam menanamkan modalnya karena wilayah ini merupakan pusat bisnis

dan tata niaga. Selain itu, wilayah ini juga merupakan pusat kota dari

pemerintahan Kabupaten Karawang dan pintu gerbang ibu kota Jakarta. Hal

tersebut mendorong terjadinya alih fungsi lahan di Kecamatan Karawang Timur,

khususnya Desa Kondangjaya.

Desa Kondangjaya merupakan desa yang mengalami alih fungsi lahan

pertanian paling tinggi di Kecamatan Karawang Timur. Sebagian besar lahan di

wilayah ini merupakan lahan sawah. Pada tahun 2011, lahan pertanian khususnya

sawah yang mengalami alih fungsi seluas 130 hektar. Lahan yang dialihfungsikan

berupa lahan sawah produktif, yakni lahan sawah irigasi teknis. Saat ini, luas

lahan sawah di Desa Kondangjaya hanya tinggal 33 persen dari luas wilayah4.

Pembangunan di wilayah ini lebih banyak untuk perumahan. Banyak

kontraktor perumahan (developer) yang membangun perumahan karena wilayah

4 Kantor Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, 2011

8

ini sangat strategis, dekat dengan pusat Kabupaten Karawang dan dekat dengan

jalan alternatif (By Pass). Namun, penggunaan lahan sawah yang dilakukan

developer menimbulkan banyak dampak, terutama terhadap lingkungan dan

pendapatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di Desa Kondangjaya.

Berikut nama-nama perusahaan atau developer dari perumahan yang di bangun

diatas lahan sawah di Desa Kondangjaya:

Tabel 2. Nama Perusahaan Perumahan di Desa Kondangjaya 2000-2011

Nama Perusahaan Luas (Hektar)

PT Trimertta Griya Lestari 8,19

PT Tawakal Griya Husada 6,32

PT Griya Tata Mandiri 7,20

PT Tawakal Griya Husada 11,00

PT Cipta Cakti Carono 3,10

PT Sinar Kompas Utama 10,00

PT Daun Permata Mulia 10,00

PT Ristia Bintang Mahkota Sejati Tbk 15,00

HENDRIK UTAMA 5,12

PT Perkasa Internusa Mandiri 150,00

PT Duta Bersama 40,00

PT Arrayan Nusantara Development 300,00

Sumber: Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Karawang 2011

Berdasarkan Tabel 2, pembangunan perumahan-perumahan di lahan sawah

tetap dibiarkan atau diberikan izin oleh pemerintah daerah. Padahal adanya

pembangunan di lahan sawah dapat memberikan dampak terhadap lingkungan.

Dampak lingkungan dirasakan langsung oleh masyarakat di Desa Kondangjaya,

yaitu, udara yang mulai tercemar, air yang mulai sulit diperoleh, serta ancaman

terhdadap banjir.

Pergeseran penggunaan lahan dari lahan sawah ke non-pertanian di Desa

Kondangjaya menyebabkan terjadinya penurunan luas lahan dan pergeseran mata

9

pencaharian penduduk. Pada awalnya sebagian besar penduduk berprofesi sebagai

petani, namun saat ini hanya 19,40 persen penduduk yang memiliki mata

pencaharian di bidang pertanian. Saat ini, sebagian besar penduduk memiliki mata

pencaharian di bidang perdagangan, industri, wiraswasta, dan jasa seperti tukang

ojek. Hal ini akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh penduduk

sebelum dan sesudah melakukan alih fungsi lahan di Desa Kondangjaya. Kondisi

ini menggambarkan bahwa terjadinya alih fungsi lahan sawah justru merugikan

petani.

Berdasarkan berbagai kenyataan dan permasalahan di atas maka rumusan

masalah di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana laju alih fungsi lahan di Kecamatan Karawang Timur?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian?

3. Bagaimana dampak alih fungsi lahan terhadap pendapatan petani di Desa

Kondangjaya?

4. Bagaimana dampak akibat alih fungsi lahan terhadap lingkungan di Desa

Kondangjaya?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan hasil uraian rumusan masalah diatas, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Mengkaji laju alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Karawang Timur.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pada

tingkat wilayah maupun tingkat petani.

3. Menganalisis dampak alih fungsi lahan terhadap pendapatan petani di

Desa Kondangjaya.

10

4. Menganalisis dampak lingkungan akibat alih fungsi lahan pertanian di

Desa Kondangjaya.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti, diharapkan penelitian ini dapat menjadi sarana dalam

mengaplikasikan ilmu pengetahuan bidang keilmuan ekonomi sumberdaya

dan lingkungan yang dipelajari selama menjalani perkuliahan di Institut

Pertanian Bogor.

2. Bagi pemerintah, informasi ini dapat menjadi acuan dalam pembuatan

kebijakan pembangunan infrastruktur yang sejalan dengan pembangunan

pertanian.

3. Bagi civitas akademika, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi

informasi yang digunakan untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih

Fungsi Lahan Pertanian dan Dampaknya Terhadap Pendapatan Petani (Studi

Kasus Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang)

diperlukan batasan penelitian agar lebih fokus dalam penelitian. Adapun

pembatasan penelitian dari penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini dilakukan di Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang

Timur, Kabupaten Karawang.

2. Alih fungsi lahan pertanian yang terjadi berupa lahan sawah di Kecamatan

Karawang Timur.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan dilihat dari faktor

yang mempengaruhi alih fungsi lahan ditingkat wilayah dan faktor-faktor

11

yang mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan

pertanian.

4. Pendapatan yang diperhitungkan dilihat dari perubahan pendapatan rumah

tangga dari petani sebelum dan sesudah kegiatan alih fungsi lahan

pertanian khususnya lahan sawah.

5. Dampak lingkungan yang dinilai dari dampak yang dirasakan langsung

oleh masyarakat dilihat dari kondisi udara, air, sampah, dan banjir.

12

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lahan Pertanian

Sumberdaya lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki

banyak manfaat bagi manusia, seperti sebagai tempat hidup, tempat mencari

nafkah. Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan. Hampir

semua sektor pembangunan fisik memerlukan lahan seperti sektor pertanian,

kehutanan, perumahan, industri, pertambangan, dan transportasi.

Lahan mempunyai arti penting bagi para stakeholder yang

memanfaatkannya. Fungsi lahan bagi masyarakat sebagai tempat tinggal dan

sumber mata pencaharian. Bagi petani, lahan merupakan sumber memproduksi

makanan dan keberlangsungan hidup. Bagi pihak swasta, lahan adalah aset untuk

mengakumulasikan modal. Bagi pemerintah, lahan merupakan kedaulatan suatu

negara dan untuk kesejahteraan rakyatnya. Adanya banyak kepentingan yang

saling terkait dalam penggunaan lahan, hal ini mengakibatkan terjadinya tumpang

tindih kepentingan antar aktor yaitu petani, pihak swasta, dan pemerinntah dalam

memanfaatkan lahan.

Lahan pertanian merupakan lahan yang diperuntukan untuk kegiatan

pertanian. Sumberdaya lahan pertanian memiliki banyak manfaat bagi manusia.

Menurut Sumaryanto dan Tahlim (2005) menyebutkan bahwa manfaat lahan

pertanian dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, use values atau nilai

penggunaan dapat pula disebut sebagai personal use values. Manfaat ini

dihasilkan dari hasil eksploitasi atau kegiatan usahatani yang dilakukan pada

sumber daya lahan pertanian. Kedua, non use values dapat pula disebut sebagai

intrinsic values atau manfaat bawaan. Berbagai manfaat yang tercipta dengan

13

sendirinya walaupun bukan merupakan tujuan dari kegiatan eksploitasi dari

pemilik lahan pertanian termasuk dalam kategori ini.

Salah satu lahan pertanian yang banyak terdapat di Indonesia khusunya

Pulau Jawa adalah lahan sawah. Lahan sawah adalah suatu tipe penggunaan lahan

yang untuk pengelolaannya memerlukan genangan air. Oleh karena itu, lahan

sawah selalu memiliki permukaan datar atau yang didatarkan dan dibatasi oleh

pematang untuk menahan air genangan (Pusat Penelitian dan Pengembangan

Tanah dan Agroklimat 2003).

Menurut Yoshida (1994) dan Kenkyu (1996) dalam Sumaryanto et al

(2005) bahwa dari aspek lingkungan, keberadaan lahan pertanian dapat

berkontribusi dalam lima manfaat, yaitu: pencegahan banjir, pengendali

keseimbangan tata air, pencegahan erosi, pengurangan pencemaran lingkungan

yang berasal dari limbah rumah tangga, dan mencegah pencemaran udara yang

berasal dari gas buangan.

2.2 Alih Fungsi Lahan pertanian

Alih fungsi lahan pertanian bukan merupakan hal yang baru. Dengan

semakin meningkatnya taraf hidup dan terbukanya kesempatan untuk

menciptakan peluang kerja, yang ditandai oleh semakin banyaknya investor

ataupun masyarakat dan pemerintah dalam melakukan pembangunan, maka

semakin meningkat pula kebutuhan akan lahan. Dipihak lain jumlah lahan yang

terbatas sehingga menimbulkan penggunaan lahan yang seharusnya beralih ke

penggunaan non-pertanian.

Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian merupakan isu yang perlu

diperhatikan karena ketergatungan masyarakat terhadap sektor pertanian.

14

Konversi lahan atau alih fungsi lahan adalah berubahnya satu penggunaan lahan

ke penggunaan lainnya, sehingga permasalahan yang timbul akibat konversi

lahan, banyak terkait dengan kebijakan tataguna tanah (Ruswandi 2005). Menurut

Kustiawan (1997) alih fungsi atau konversi lahan secara umum menyangkut

transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke

penggunaan lainnya. Alih fungsi lahan umumnya terjadi di wilayah sekitar

perkotaan dan dimaksudkan untuk mendukung perkembangan sektor industri dan

jasa.

Dalam kegiatan alih fungsi lahan sangat erat kaitannya dengan permintaan

dan penawaran lahan. Adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan

permintaan dimana penawaran terbatas sedangkan permintaan tak terbatas

menyebabkan alih fungsi lahan. Menurut Barlowe (1978), faktor faktor yang

mempengaruhi penawaran lahan adalah karateristik fisik alamiah, faktor ekonomi,

faktor teknologi, dan faktor kelembagaan. Selain itu, faktor-faktor yang

mempengaruhi permintaan lahan adalah populasi penduduk, perkembangan

teknologi, kebiasaan dan tradisi, pendidikan dan kebudayaan, pendapatan dan

pengeluaran, selera dan tujuan, serta perubahan sikap dan nilai-nilai yang

disebabkan oleh perkembangan usia.

Sumaryanto dan Tahlim (2005) mengungkapkan bahwa pola konversi

lahan dapat ditinjau dalam beberapa aspek. Pertama, alih fungsi secara langsung

oleh pemilik lahan yang bersangkutan. Lazimnya motif tindakan ada 3: (a) untuk

pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal, (b) dalam rangka meningkatkan

pendapatan melalui alih usaha, (c) kombinasi dari (a) dan (b) seperti

pembangunan rumah sekaligus dijadikan tempat usaha. Pola alih fungsi lahan ini

15

terjadi disembarang tempat, kecil-kecil, dan tersebar. Dampak alih fungsi lahan

dengan pola ini terhadap eksistensi lahan sawah sekitarnya baru significant untuk

jangka waktu lama.

Kedua, alih fungsi yang diawali dengan alih penguasaan lahan. Pemilik

menjual kepada pihak lain yang akan memanfaatkannya untuk usaha non-

pertanian atau kepada makelar. Secara empiris, alih fungsi lahan melalui cara ini

terjadi dalam hamparan yang luas, terkonsentrasi, dan umumnya berkorelasi

positif dengan proses urbanisasi (pengkotaan). Dampak alih fungsi lahan terhadap

eksistensi lahan sawah sekitarnya berlangsung cepat dan nyata.

Alih fungsi lahan dapat bersifat permanen dan juga dapat bersifat

sementara (Utomo 1992). Jika lahan sawah beririgasi teknis berubah menjadi

kawasan pemukiman atau industri, maka alih fungsi lahan bersifat permanen.

Akan tetapi, jika sawah tersebut berubah menjadi perkebunan tebu, maka alih

fungsi lahan tersebut bersifat sementara, karena pada tahun-tahun berikutnya

dapat dijadikan sawah kembali. Alih fungsi lahan permanen biasanya lebih besar

dampaknya dari pada alih fungsi lahan sementara.

2.3 Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian

Terkonsentrasinya pembangunan perumahan dan industri di Pulau Jawa

menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan. Di satu sisi alih fungsi lahan ini

menambah terbukanya lapangan kerja di sektor non-pertanian seperti jasa

konstruksi, dan industri, akan tetapi juga menimbulkan dampak negatif yang

kurang menguntungkan. Menurut Widjanarko et al (2006) dampak negatif akibat

alih fungsi lahan, antara lain:

16

1. Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan turunnya produksi padi, yang

mengganggu tercapainya swasembada pangan.

2. Berkurangnya luas sawah yang mangakibatkan bergesernya lapangan kerja

dari sektor pertanian ke non-pertanian, yang apabila tenaga kerja lokal yang

ada tidak terserap seluruhnya justru akan meninggikan angka pengangguran.

Dampak sosial ini akan berkembang dengan meningkatnya kecemburuan

sosial masyarakat setempat terhadap pendatang yang pada gilirannya

berpotensi meningkatkan konflik sosial.

3. Investasi pemerintah dalam pengadaan prasarana dan sarana pengairan

menjadi tidak optimal pemanfaatannya.

4. Kegagalan investor dalam melaksanakan pembangunan perumahan maupun

indusri sebagai dampak krisis ekonomi atau karena kesalahan perhitungan

mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanah yang telah diperoleh sehingga

meningkatkan luas lahan tidur yang pada gilirannya akan menimbulkan

konflik sosial seperti penjarahan tanah.

5. Berkurangnya ekosistem sawah terutama di jalur pantai utara Pulau Jawa yang

terbaik dan telah terbentuk puluhan tahun, sedangkan pencetakan sawah baru

yang sangat besar biayanya di luar Pulau Jawa seperti di Kalimantan Tengah,

tidak memuaskan hasilnya.

Sumaryanto et al (2005) mengungkapkan bahwa dampak negatif dari

konversi lahan sawah adalah degradasi daya dukung ketahanan pangan nasional,

pendapatan pertanian menurun, dan meningkatnya kemiskinan masyarakat lokal.

Selain itu dampak lainnya adalah rusaknya ekosistem sawah, serta adanya

17

perubahan budaya dari agraris ke budaya urban sehingga menyebabkan terjadinya

kriminalitas.

Menurut Firman (2005) bahwa alih fungsi lahan yang terjadi menimbulkan

dampak langsung maupun dampak tidak langsung. Dampak langsung yang

diakibatkan oleh alih fungsi lahan berupa hilangnya lahan pertanian subur,

hilangnya investasi dalam infrastruktur irigasi, kerusakan natural lanskap, dan

masalah lingkungan. Kemudian dampak tidak langsung yang ditimbulkan berupa

inflasi penduduk dari wilayah perkotaan ke wilayah tepi kota.

Kegiatan alih fungsi lahan pertanian juga berpengaruh terhadap

lingkungan. Perubahan lahan pertanian menjadi lahan non-petanian akan

mempengaruhi keseimbangan ekosistem lahan pertanian. Menurut Ruswandi et al

(2007) secara faktual alih fungsi lahan atau konversi lahan menimbulkan beberapa

konsekuensi, antara lain berkurangnya lahan terbuka hijau sehingga lingkungan

tata air akan terganggu, serta lahan untuk budidaya pertanian semakin sempit.

Furi (2007) menjelaskan bahwa konversi lahan atau alih fungsi lahan yang

terjadi mengubah status kepemilikan lahan dan penguasaan lahan. Perubahan

dalam penguasaan lahan di pedesaan membawa implikasi bagi perubahan

pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat yang menjadi indikator

kesejahteraan masyarakat desa. Terbatasnya akses untuk menguasai lahan

menyebabkan terbatas pula akses masyarakat atas manfaat lahan yang menjadi

modal utama mata pencaharian sehingga terjadi pergeseran kesempatan kerja ke

sektor non-pertanian (sektor informal).

18

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan

Laju penggunaan lahan akan semakin meningkat seiring dengan

pembangunan pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya permintaan akan lahan

mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian. Menurut

Pakpahan (1993), faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi atau konversi

lahan sawah ke penggunaan non-pertanian dapat dibedakan menjadi dua yaitu

faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah di tingkat wilayah yaitu

faktor yang tidak langsung mempengaruhi keputusan petani untuk melakukan

konversi dan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah di tingkat

petani yaitu faktor yang langsung mempengaruhi keputusan petani untuk melakukan

alih fungsi.

Di tingkat wilayah, alih fungsi lahan sawah secara tidak langsung

dipengaruhi oleh perubahan struktur ekonomi, pertumbuhan penduduk, arus

urbanisasi, dan konsistensi implementasi rencana tata ruang. Sedangkan secara

tidak langsung dipengaruhi oleh pertumbuhan pembangunan sarana transportasi,

pertumbuhan lahan untuk industri, pertumbuhan sarana pemukiman, dan sebaran

lahan sawah.

Pengaruh langsung dipengaruhi oleh pengaruh tidak langsung, seperti

pertumbuhan penduduk akan menyebabkan pertumbuhan pemukiman, perubahan

struktur ekonomi ke arah industri dan jasa akan meningkatkan kebutuhan

pembangunan sarana transportasi dan lahan untuk industri, serta peningkatan arus

urbanisasi akan meningkatkan tekanan penduduk atas lahan dipinggiran kota. Adapun

faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah di tingkat petani adalah

kondisi sosial ekonomi petani seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan kemampuan

ekonomi secara keseluruhan serta pajak tanah, harga tanah dan lokasi tanah.

19

Menurut Situmeang (1998), perubahan struktur ekonomi dimana telah terjadi

peningkatan peranan sektor non-pertanian terhadap perekonomian dapat mempercepat

perubahan pola penggunaan lahan ke arah pengkotaan. Selanjutnya, perubahan

struktur perekonomian sendiri dapat dijelaskan dengan terjadinya pertumbuhan

ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi dapat mempercepat terjadinya struktur

ekonomi kearah sektor manufaktur, jasa dan sektor non-pertanian lainnya.

Menurut Winoto (2005) faktor-faktor yang mendorong terjadinya alih

fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian antara lain:

1. Faktor Kependudukan. Pesatnya peningkatan jumlah penduduk telah

meningkatkan permintaan tanah. Selain itu, peningkatan taraf hidup

masyarakat juga turut berperan menciptakan tambahan permintaan lahan.

2. Faktor ekonomi, yaitu tingginya land rent yang diperoleh aktivitas sektor non-

pertanian dibandingkan sektor pertanian. Rendahnya insentif untuk bertani

disebabkan oleh tingginya biaya produksi, sementara harga hasil pertanian

relatif rendah dan berfluktuasi. Selain itu karena faktor kebutuhan keluarga

petani yang terdesak oleh kebutuhan modal usaha atau keperluan keluarga

lainnya.

3. Faktor sosial budaya, antara lain keberadaan hukum waris yang menyebabkan

terfragmentasinya tanah pertanian, sehingga tidak memenuhi batas minimum

skala ekonomi usaha yang menguntungkan.

4. Perilaku myopic, yaitu mencari keuntungan jangka pendek namun kurang

memperhatikan jangka panjang dan kepentingan nasional secara keseluruhan.

Hal ini antara lain tercermin dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang

cenderung mendorong konversi tanah pertanian untuk penggunaan tanah non-

pertanian.

20

5. Lemahnya sistem perundang-undangan dan penegakan hukum (Law

Enforcement) dari peraturan-peraturan yang ada.

Menurut Kustiawan (1997) dalam hasil kajiannya menyatakan bahwa ada

faktor yang berpengaruh terhadap proses alih fungsi lahan pertanian sawah, yaitu

(1) Faktor Eksternal adalah faktor-faktor dinamika pertumbuhan perkotaan,

demografi maupun ekonomi yang mendorong alih fungsi lahan sawah ke

penggunaan non-pertanian, (2) Faktor-faktor Internal adalah kondisi sosial

ekonomi rumah tangga pertanian pengguna lahan yang mendorong lepasnya

kepemilikan lahan, dan (3) Faktor Kebijaksanaan Pemerintah.

Utomo (1992) memaparkan bahwa secara umum masalah alih fungsi

dalam penggunaan lahan terjadi antara lain karena pola pemanfaatan lahan masih

sektoral, delineasi antar kawasan belum jelas, kriteria kawasan belum jelas,

koordinasi pemanfaatan ruang masih lemah, dan pelaksanaan UUPA (Undang-

undang Pokok Agraria) masih lemah dan penegakan hukum yang masih lemah.

Menurut Winoto (1996) dalam hasil penelitiannya alih fungsi lahan sawah

ditentukan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan sistem pertanian yang ada

seperti halnya perubahan di dalam land tenure system dan perubahan dalam sistem

ekonomi pertanian. Faktor luar sistem pertanian seperti industrialisasi dan faktor-

faktor perkotaan menjelaskan 32,17 persen dan faktor demografis hanya

menjelaskan 8,75 persen.

2.5 Peraturan Tentang Alih Fungsi Lahan Pertanian

Dasar kebijaksanaan pertanahan adalah pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang

dijabarkan lebih lanjut dalam UU No 5 tahun 1960 mengenai Undang-Undang

Pokok Agraria (UUPA). Pada pasal 2 ayat (1) UUPA ditegaskan lagi bahwa bumi,

21

air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya

dikuasai oleh negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Selanjutnya

pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan bahwa hak menguasai dari negara

memberikan wewenang untuk:

1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan

pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa.

2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang

dengan bumi, air, dan ruang angkasa.

3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang

dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Menurut Widjanarko et al. (2006) ada tiga kebijakan nasional yang

berpengaruh langsung terhadap alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian

ialah:

1. Kebijakan privatisasi pembangunan kawasan industri sesuai Keputusan

Presiden Nomor 53 tahun 1989 yang telah memberikan keleluasaan kepada

pihak swasta untuk melakukan investasi dalam pembangunan kawasan

industri dan memilih lokasinya sesuai dengan mekanisme pasar. Dampak

kebijakan ini sangat berpengaruh pada peningkatan kebutuhan lahan sejak

tahun 1989, yang telah berorientasi pada lokasi subur dan menguntungkan dari

ketersediaan infrastruktur ekonomi.

2. Kebijakan pemerintah lainnya yang sangat berpengaruh terhadap perubahan

fungsi lahan pertanian ialah kebijakan pembangunan permukiman skala besar

dan kota baru. Akibat penerapan kebijakan ini ialah munculnya spekulan yang

mendorong minat petani menjual lahannya.

22

3. Selain dua kebijakan tersebut, kebijakan deregulasi dalam hal penanaman

modal dan perizinan sesuai Paket Kebijaksanaan Oktober Nomor 23 Tahun

1993 memberikan kemudahan dan penyederhanaan dalam pemrosesan

perizinan lokasi. Akibat kebijakan ini ialah terjadi peningkatan sangat nyata

dalam hal permohonan izin lokasi baik untuk kawasan industri, permukiman

skala besar, maupun kawasan pariwisata.

Landasan Hukum dan Kebijakan alih fungsi lahan pertanian selain UUPA,

antara lain:

a. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan

Pertanian Pangan Berkelanjutan.

b. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Undang-

undang ini merupakan penggantian dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun

1992 Tentang Penataan Ruang yang menyebutkan bahwa RTRW

mempertimbangkan budidaya tanaman pangan dimana perubahan fungsi ruang

kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan, pemukiman, kawasan

industri, dan sebagainya memerlukan kajian dan penilaian atas perubahan

fungsi ruang tersebut secara lintas sektor, lintas daerah, dan terpusat.

c. Peraturan pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah.

d. Peraturan pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 Tentang Penertiban dan

Pendayagunaan Lahan Terlantar. Pasal 11 ayat (3b) yang berbunyi: tanah

yang diperoleh dasar penggunaannya oleh orang-perseorangan yang tidak

menggunakan tanah tersebut sesuai keadaannya atau menurut sifat dan tujuan

pemberian haknya atau tidak memelihara dengan baik atau tidak mengambil

langkah-langkah pengelolaan bukan karena tidak mampu dari segi ekonomi,

23

maka Kepala Kantor Pertanahan mengusulkan kepada Kepala Kantor Wilayah

agar kepada pemegang hak diberi peringatan agar dalam waktu tertentu sudah

menggunakan tanahnya sesuai keadaannya atau menurut sifat dan tujuan

pemberian haknya.

e. Peraturan Menteri Agraria Nomor 2 Tahun 1999 Tentang Izin Lokasi. Pasal 6

ayat 1 yang berbunyi: izin lokasi diberikan berdasarkan pertimbangan

mengenai aspek penguasaan tanah dan teknis tata guna tanah meliputi keadaan

hak serta penguasaan tanah yang bersangkutan, penilaian fisik wilayah,

penggunaan tanah, serta kemampuan tanah.

2.6 Penelitian Terdahulu

Solihah (2002) dalam penelitiannya bahwa terjadi penurunan luas lahan

sawah sebanyak 2.946 hektar di Kabupaten Bogor. Faktor-faktor yang

berpengaruh positif penurunan luas lahan jumlah penduduk, panjang jalan

kabupaten, dan sarana pendidikan. Serta faktor-faktor yang berpengaruh negatif

terhadap penurunan luas lahan adalah produktivitas tanaman padi sawah. Dalam

menganalisis faktor-faktor ini menggunakan analisis regresi berganda. Kemudian

faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani adalah pendidikan,

kepala keluarga, jumlah tangungan, persentase pendapatan usaha tani padi

terhadap pendapatan total petani, jarak lahan dari pusat pertumbuhan ekonomi,

dan pengaruh tetangga yang melakukan alih fungsi lahan. Dalam menganalisis

faktor-faktor di tingkat petani menggunakan analisis fungsi logit.

Ruswandi (2005) dalam penelitianya bahwa terjadi konversi lahan

pertanian di Kecamatan Lembang dan Parompong sebesar 3.134,39 hektar dengan

laju sebesar 2,96 persen per tahun. Beberapa faktor yang mempengaruhi konversi

24

lahan pertanian adalah kepadatan petani pemilik 1992, kepadatan petani non

pemilik 1992, jumlah masyarakat miskin, jarak desa ke kota kecamatan, luas

lahan guntai dari luas wilayah desa tahun 1992, dan peningkatan persentase luas

lahan guntai. Dalam menganalisis faktor-faktor ini digunakan analisis regresi

berganda. Secara umum konversi lahan berpeluang menurunkan kesejahteraan

petani yang dianalisis dengan metode logistik binari.

Barokah et al (2010) dalam penelitiannya Dampak Konversi Lahan

Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Petani Di Kabupaten Karanganyar

menjelaskan bahwa terjadi perubahan alih fungsi lahan pertanian menyebabkan

penurunan luas lahan pertanian di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa selama kurun waktu 12 tahun dari 1998-2010 telah terjadi perubahan

fungsi lahan sawah 0,120 hektar per rumah tangga petani, proporsi pendapatan

usahatani berkurang 8,30 persen dari 42 persen menjadi 33,7 persen dan proporsi

pendapatan luar usahatani meningkat 10,30 persen dari 54 persen menjadi 64,30

persen). Berdasarkan hasil analisis uji t dengan = 5 persen menunjukkan

pendapatan rumah tangga petani sebelum konversi tidak sama dengan sesudah

konversi lahan pertanian (pendapatan bertambah Rp 1.482.000 per tahun). Metode

yang digunakan dalam penelitian ini untuk melihat perubahan pendapatan

digunakan uji beda rata-rata.

Sitorus (2011) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa telah terjadi

konversi lahan sawah di Kabupaten Bogor sebesar 2.520,40 hektar dengan laju

konversi 81,95 persen per tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi

lahan sawah adalah PDRB sektor bangunan dan harga GKG. Analisis data yang

digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

25

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Lahan merupakan modal penting yang diperlukan dalam proses produksi

pertanian. Namun, perkembangan sektor ekonomi di suatu kawasan mendorong

perubahan penggunaan lahan di kawasan tersebut. Perkembangan sektor ekonomi

mendorong perubahan sumberdaya lahan ke penggunaan yang memberikan nilai

ekonomi lebih tinggi. Pertumbuhan sektor ekonomi yang paling terlihat adalah

industri. Pertumbuhan sektor industri menyebabkan lahan untuk kebutuhan

industri semakin meningkat. Lahan yang awalnya berupa lahan pertanian

khususnya lahan sawah kini berubah menjadi bentuk lain yang memiliki nilai

ekonomi lebih tinggi. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat

maka kebutuhan akan tempat tinggal serta sarana dan prasarana untuk memenuhi

kebutuhan hidup sehari-hari juga meningkat. Peningkatan kebutuhan tempat

tinggal membutuhkan jumlah lahan yang luas sehingga permintaan akan lahan

meningkat. Keberadaan lahan yang sifatnya relatif tetap, sedangkan permintaan

atas sumberdaya lahan meningkat mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan

pertanian ke non-pertanian. Alih fungsi lahan bisa terjadi alami atau alih fungsi

lahan buatan yang telah direncanakan wilayah berdasarkan Rencana Tata Ruang

Wilayah (RTRW).

Alih fungsi lahan pertanian merupakan tuntutan terhadap pembangunan di

sektor non-pertanian seperti, industri, perumahan, dan lain-lain. Hal ini

mengakibatkan terjadinya penyempitan lahan. Penyempitan pada lahan akan

berdampak langsung terhadap volume produksi padi yang dilakukan petani di

wilayah tersebut. Penyempitan lahan ini juga akan berdampak pada kondisi

ekonomi petani. Petani yang pada awalnya merupakan petani pemilik kini secara

26

perlahan mereka mulai berubah kedudukannya menjadi petani penggarap, buruh

tani, pengangguran ataupun pindah ke pekerjaan lain. Hal ini tentunya

menggambarkan bahwa telah terjadinya transformasi dari sektor pertanian ke non-

pertanian. Adanya transformasi ini disebabkan karena dalam usaha pertanian,

lahan merupakan salah satu faktor yang menentukan jumlah produksi. Penurunan

volume produksi padi akan menghilangkan nilai produksi pertanian dan

pendapatan petani. Selain itu, adanya alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian

juga akan berpengaruh juga terhadap kondisi lingkungan secara fisik, seperti:

banjir, kekurangan air, dan pencemaran air. Hal ini akan berpengaruh terhadap

kondisi lingkungan masyarakat.

Adanya alih fungsi lahan dari pertanian ke non-pertanian dipengaruhi oleh

berbagai faktor, baik faktor yang mempengaruhi di tingkat wilayah maupun faktor

yang mempengaruhi di tingkat petani. Faktor yang mempengaruhi alih fungsi

lahan di tingkat wilayah, yaitu faktor yang secara tidak secara langsung

mempengaruhi keputusan petani melakukan alih fungsi lahan. Faktor yang

mempengaruhi alih fungsi di tingkat petani, yaitu faktor yang secara langsung

mempengaruhi keputusan petani dalam melakukan alih fungsi lahan.

Skema faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian dan

dampaknya terhadap pendapatan petani ditampilkan secara sederhana dalam

Gambar 2.

27

Pembangunan sektor ekonomi

Gambar 2. Diagram Alur Pikir

Laju Alih Fungsi Lahan

Pertanian

Dampak Ekonomi

Alih Fungsi Lahan Pertanian

Dampak Lingkungan

Rekomendasi Kebijakan

Faktor-faktor yang

mempengaruhi alih fungsi lahan

Perubahan Pendapatan Petani

Menurunnya Kondisi Lingkungan

Peningkatan Kebutuhan Pemukiman

Peningkatan Kebutuhan Lahan Industri

Pertumbuhan Penduduk

28

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan di Kecamatan

Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan atas

wilayah Kecamatan Karawang Timur dijadikan sebagai kawasan pemukiman dan

kawasan industri berskala kecil berdasarkan rencana tata ruang wilayah

Kabupaten Karawang. Hal ini mengindikasikan terjadinya alih fungsi lahan

pertanian ke pemukiman ataupun industri. Selain itu, wilayah ini juga merupakan

pusat pemerintahan Kabupaten Karawang sehingga memberikan implikasi

terjadinya perubahan tata guna lahan.

Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel Desa Kondangjaya.

Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) atau disebut juga

judgemental sampling karena wilayah tersebut merupakan wilayah yang

mengalami alih fungsi lahan tertinggi di Kabupaten Karawang pada tahun 2011.

Proses pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Februari

hingga April 2012.

4.2 Jenis dan Sumber data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

data sekunder. Data primer digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi alih fungsi lahan di tingkat petani, dampak lingkungan dari alih

fungsi lahannya, serta dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap pendapatan

petani. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dari pemilik lahan

baik melalui kusioner maupun melalui wawancara mendalam. Data sekunder

digunakan untuk mengetahui laju alih fungsi lahan dan faktor-faktor yang

29

mempengaruhi alih fungsi lahan di tingkat wilayah dengan menggunakan data

time series 2001 2010. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS)

nasional, BPS kabupaten Karawang, Dinas Pertanian, kehutanan, perkebunan, dan

Peternakan Kabupaten Karawang, Kantor Kecamatan Karawang Timur, dan

Kantor Desa Kondangjaya, Bappeda Kabupaten Karawang dan dinas-dinas terkait

lainnya. Data sekunder berupa data kebijakan alih fungsi lahan yang berlaku,

harga lahan, dan kependudukan, serta data-data lain yang di anggap mendukung

dalam menjawab pertanyaan penelitian.

4.3 Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sample yang dilakukan kepada petani pemilik lahan yang

mengalami alih fungsi lahan dan tidak mengalami alih fungsi lahan dilakukan

secara purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan bentuk dari

non-probability sampling method. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode

sampling non-probability disebabkan oleh jumlah masing-masing populasi yang

akan diteliti tidak diketahui secara pasti. Sampel pada sampling tidak acak akan

menyebabkan populasi yang akan diteliti tidak memiliki kesempatan yang sama

untuk dipilih sebagai sampel.

Responden dalam penelitian ini adalah petani setempat yang lahan usaha

taninya pernah mengalami alih fungsi lahan dan tidak mengalami alih fungsi

lahan. Penelitian yang dilaksanakan mengambil responden berjumlah 40

responden. Penetapan sampel ini disasarkan pada pendapat Bailey dalam Hasan

(2002) yang menyatakan bahwa ukuran sampel minimum yang menggunakan

analisis data statistik ialah 30 responden dimana populasi menyebar normal.

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu

30

yang juga mewakili karateristik tertentu, jelas, dan lengkap yang bisa dianggap

bisa mewakili populasi.

Pengambilan data primer dilakukan melalui teknik wawancara dengan

bantuan kuisioner kepada responden. Responden merupakan pihak yang

memberikan informasi dan dapat mewakili dalam menjawab permasalahan

penelitian.

4.4 Metode dan Prosedur Analisis Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan dua metode analisis, yaitu metode analisis

deskriptif dan analisis kuantitatif. Metode analisis deskriptif digunakan dengan

tujuan untuk memberikan penjelasan dan interpretasi atas data dan informasi pada

tabulasi data. Kemudian metode analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui

laju alih fungsi lahan, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi

lahan, mengetahui dampak alih fungsi lahan terhadap pendapatan petani dan

lingkungan. Metode analisis kuantitatif menggunakan persamaan laju alih fungsi

lahan, analisis regresi berganda, analisis regresi logistik. dan analisis uji beda rata-

rata.

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.

Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dan menggunakan

komputer dengan program microsoft office exel 2007 dan Statistical Program and

Service Solution (SPSS) 20.0.

4.4.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan metode pencarian fakta dengan interpretasi

yang tepat mengenai masalah-masalah yang ada dalam masyarakat, tata cara yang

berlaku, serta situasi-situasi tertentu termasuk tentang hubungan, kegiatan, sikap,

31

pandangan, serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari suatu fenomena

(Withney 1960) dalam (Nazir 2005). Data yang diperoleh dari hasil penelitian

kemudian diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Penulisan data dan informasi yang diperoleh selama penelitian dengan

tujuan untuk mengevaluasi data. Hal ini dilakukan untuk menghindari

kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama pengamatan.

2. Merumuskan data yang diperoleh ke dalam bentuk tabel untuk menghindari

kesimpangsiuran interpretasi serta sekaligus untuk mempermudah

interpretasi data.

3. Menghubungkan hasil penelitian yang diperoleh dengan kerangka pemikiran

yang digunakan dalam penelitian, dengan tujuan mencari arti atau memberi

interpretasi yang lebih luas dari data yang diperoleh.

Dengan menggunakan analisis deskriptif ini maka akan diperoleh gambaran

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian dan

dampaknya terhadap pendapatan petani.

4.4.1 Analisis Laju Alih Fungsi Lahan

Dalam penghitungan laju alih fungsi lahan pertanian digunakan persamaan

alih fungsi lahan yang digunakan oleh sutandi (2009) dalam Astuti (2011). Laju

alih fungsi lahan dapat ditentukan dengan cara menghitung laju alih fungsi lahan

secara parsial. Laju alih fungsi lahan secara parsial dapat dijelaskan sebagai

berikut:

.................................................................................. (4.1)

32

dimana:

V = laju alih fungsi lahan (%)

Lt = Luas lahan tahun ke-t (ha)

Lt-1 = Luas lahan sebelumnya (ha)

Laju alih fungsi lahan (%) dapat ditentukan melalui selisih antara luas

lahan tahun ke-t dengan luas lahan tahun sebelumnya (t-1). Kemudian dibagi

dengan luas lahan tahun sebelumnya dan dikalikan dengan 100 persen. Hal ini

dilakukan juga pada tahun-tahun berikutnya sehingga diperoleh laju alih fungsi

lahan setiap tahun.

4.4.1 Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan lahan akibat

alih fungsi lahan pertanian digunakan model analisis regresi linear berganda.

Analisis regresi adalah sebuah alat analisis statistik yang memberikan penjelasan

tentang pola hubungan (antara dua variabel atau lebih). Tujuan dari analisis

regresi ini adalah meramalkan nilai rata-rata satu variabel. Metode ini sebenarnya

menggambarkan hubungan antara peubah bebas atau independent (Y) dengan

peubah tak bebas atau dependent (X) dan sering disebut dengan peubah penjelas.

Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap kegiatan alih fungsi lahan

di tingkat wilayah adalah:

1. Laju Pertumbuhan Penduduk (persen)

Jumlah penduduk mempengaruhi permintaan lahan. Semakin meningkat

jumlah penduduk maka permintaan lahan terutama untuk pembangunan

perumahan akan semakin tinggi sehingga mendorong penurunan luas

lahan sawah akibat alih fungsi lahan sawah yang semakin tinggi.

33

2. Jumlah Industri (unit)

Adanya peningkatan jumlah industri mendorong terjadinya peningkatan

permintaan lahan. Semakin tinggi jumlah industri maka semakin tinggi

penurunan luas lahan sawah akibat alih fungsi lahan sawah yang terjadi.

3. Produktivitas Lahan Pertanian (ton/ha)

Semakin rendah produktivitas lahan pertanian, maka diduga akan

meningkatkan penurunan luas lahan sawah akibat alih fungsi lahan karena

lahan dianggap memiliki opportunitunity cost.

4. Proporsi Luas Lahan Sawah Terhadap Luas Wilayah (persen)

Peningkatan luas lahan sawah karena adanya pencetakan sawah baru

menyebabkan terjadinya pembangunan yang dilakukan di atas lahan sawah

akan semakin besar. Semakin luas proporsi luas lahan sawah terhadap luas

wilayah maka akan semakin tinggi penurunan luas lahan sawah akibat alih

fungsi lahan yang terjadi.

5. Kebijakan pemerintah (dummy)

Adanya kebijakan pemerintah mengenai tata ruang wilayah pada saat ini

dan saat tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk membedakan

penggunaan lahan pertanian berdasarkan kebijakan tata ruang wilayah saat

ini dan tahun sebelumnya. Adanya perubahan kebijakan menyebabkan

terjadinya peningkatan penggunaan lahan sawah untuk keperluan non-

pertanian.

Persamaan model regresi linear berganda untuk mengetahui faktor yang

mempengaruhi alih fungsi lahan adalah sebagai berikut:

Y = + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5D + ........................................... (4.2)

34

Tanda yang diharapkan:

1 > 0

2 > 0

3 < 0

4 > 0

D > 0

Dimana:

Y = Penurunan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan (m2 )

= Intersep

Xi = Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi alih fungsi lahan

i = Koefisien Regresi

D = Dummy

= Eror Term

Model analisis regresi linear berganda merupakan metode analisis yang

didasarkan pada metode Ordinary Least Square (OLS). Konsep dari metode least

square adalah menduga koefisien regresi () dengan meminimumkan kesalahan

(error). Ordinary least square (OLS) dapat menduga koefisien regresi dengan

baik karena: (1) memiliki sifat tidak bias dengan varians yang minimum (efisien)

baik linear maupun bukan, (2) konsisten, dangan meningkatknya ukuran sampel

maka koefisien regresi mengarah pada nilai populasi yang sebenarnya, serta (3) 0

dan 1 terdistribusi secara normal (Gujarati 2002).

Model ini mencangkup hubungan banyak variabel terdiri dari satu variabel

dependent dan berbagai variabel independent. Penggunaan metode ini saling

terikat antara satu variabel dengan variabel lainnya. Jika dijumpai bahwa saat satu

35

variabel terikat yang dipengaruhi oleh beberapa variabel bebas dalam

mempengaruhi variabel terikat itu bermacam maka bentuk hubungan antar

variabel pun juga akan berbeda. Dalam regresi linear berganda sifat hubungan

berjenjang sering kali terjadi dalam kajian ilmu sosial.

Sebagai langkah awal pengujian dilakukan pengujian ketelitian dan

kemampuan model regresi. Pengujian model regresi diperlukan dalam penelitian

ini terdiri dari tiga pengujian, yaitu uji koefisien determinasi (R-squared), Uji F,

dan Uji t.

Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh peubah-peubah dalam

persamaan akan mempengaruhi alih fungsi lahan pertanian akan uji statistik

sebagai berikut:

1. Uji Koefisien Determinasi (R-squared)

Nilai R-squared mencerminkan seberapa besar keragaman dari variabel

dependen yang dapat diterangkan oleh variabel independen. Nilai R-squared

memiliki besaran yang positif dan besarannya adalah 0 < R-squared < 1. Jika nilai

R-squared bernilai nol maka artinya keragaman variabel dependen tidak dapat

dijelaskan oleh variabel independennya. Sebaliknya, jika nilai R-squared bernilai

satu maka keragaman dari variabel dependen secara keseluruhan dapat

diterangkan oleh variabel independennya secara sempurna (Gujarati, 2002). R-

squared dapat dirumuskan sebagai berikut:

....................................................................................................(4.3)

Dimana:

ESS = Explained of Sum Squared

TSS = Total Sum of Squared

36

2. Uji t

Uji t dilakukan untuk menghitung koefisien regresi masing-masing

variabel independen sehingga dapat diketahui pengaruh variabel independen

tersebut terhadap variabel dependennya. Adapun prosedur pengujiannya yang

diungkap Gujarati (2002):

H0 : 1 = 0

H0 : 1 0

.................................................................................................... (4.4)

Dimana:

b = Parameter dugaan

t = Parameter Hipotesis

Se = Standar error parameter

Jika t hitung (n-k) < t tabel /2, maka H0 diterima, artinya variabel berarti variabel

(Xi) tidak berpengaruh nyata terhadap (Y). Namun, jika t hitung (n-k) > t tabel /2, maka H0

ditolak, artinya variabel (Xi) berpengaruh nyata terhadap (Y)

3. Uji F

Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independent atau

bebas (Xi) secara bersama-sama terhadap variabel dependent atau tidak bebas (Y).

Adapun prosedur yang digunakan dalam uji F (Gujarati 2002):

H0 = 1 = 2 = 3 = .... = i = 0

H1 = minimal ada satu i 0

..................................................................................... (4.5)

37

Dimana:

JKR = Jumlah Kuadrat Regresi

JKG = Jumlah Kuadrat Galat

k = jumlah variabel terhadap intersep

n = jumlah pengamatan/sampel

Apabila F hitung < F tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti

bahwa variabel bebas (Xi) tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas

(Y). Sedangkan apabila F hitung > F tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang

berarti bahwa variabel (Xi) berpengaruh nyata terhadap variabel (Y).

Model yang dihasilkan dari regresi linear berganda haruslah baik. Jika

tidak baik maka akan mempengaruhi interpretasinya. Interpretasi ini menjadi tidak

benar apabila terdapat hubungan linear antara variabel bebas (Chatterjee and price

dalam Nachrowi et all 2002) Namun, agar diperoleh model regresi linear

berganda yang baik, maka model harus memenuhi kriteria BLUE (Best Linear

Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi asumsi klasik. Uji

asumsi klasik merupakan pengujian pada model yang telah berbentuk linear untuk

mendapatkan model yang baik. Setelah model diregresikan kemudian dilakukan

uji penyimpangan asumsi.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah model tersbut baik atau

tidak. Model dikatakan baik jika mempunyai distribusi normal atau hampir

normal. Uji yang dapat digunakan adalah Uji Kolmogorov-Smirnov.

Hipotesis pada uji Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut:

H0 : Error term terdistribusi normal.

38

H1 : Error term tidak terdistribusi normal.

Dengan kriteria uji :

Jika P-value < maka tolak H0

Jika P-value > maka terima H0

Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan

persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat lain. Penerapan pada uji

Kolmogorov-Smirnov adalah jika signifikansi di atas 5 persen berarti tidak

terdapat pebedaan yang signifikan antara data yang akan diuji dengan data normal

baku, artinya data tersebut normal.

b. Uji Autokorelasi

Menurut Nachrowi et all (2002), Autokorelasi adalah adanya korelasi

antara variabel itu sendiri, pada pengamatan berbeda waktu dan individu.

Umumnya, kasus autokorelasi terjadi pada data time series. Ada beberapa cara

yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Salah satu cara

yang digunakan adalah Uji Durbin Watson (DW-test). Uji ini hanya digunakan

untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan

adanya intercept dalam model regresi dan tidak ada variabel lag diantara variabel

penjelas. Jika pengujian autokorelasi diabaikan, maka akan berdampak terhadap

pengujian hipotesis dan proses peramalan. Besarnya nilai statistik DW dapat

diperoleh dengan rumus (Nachrowi et all. 2002):

............... (4.6) Dimana:

d = statistik Durbin-Watson

ut dan ut-1 = Gangguan estimasi

39

Pengambilan keputusannya:

Jika nilai DW terletak antara batas atau upper bound (du) dan (4-du), maka

koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi

positif.

Jika nilai DW lebih rendah dari pada batas bawah atau lower bound (dl),

maka koefisien autokorelasi lebih besar dari pada nol, berarti ada

autokorelasi positif.

Jika DW lebih besar dari pada (4-dl), maka koefisien autokorelasi lebih kecil

dari pada nol, berarti ada autokorelasi positif.

Jika nilai DW lebih besar dari pada (4-dl), maka koefisien autokorelasi lebih

kecil dari pada nol, berarti ada autokorelasi negatif.

Jika nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW

terletak antara (4-du) dan (4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.

c. Uji Multikolinearitas

Jika suatu model regresi berganda terdapat hubungan linear sempurna

antar peubah bebas dalam model tersebut, maka dapat dikatakan model tersebut

mengalami multikolinearitas. Terjadinya multikolinearitas menyebabkan R-

squared tinggi namun tidak banyak variabel yang signifikan dari uji t. Ada

berbagai cara untuk menentukan apakah suatu model memiliki gejala

multikolinearitas. Salah satu cara yang digunakan adalah uji Varian Infiaction

Factor (VIF). Cara ini sangat mudah, hanya melihat apakah nilai VIF untuk

masing-masing variabel lebih besar dari 10 atau tidak. Bila nilai VIF lebih besar

dari 10 maka diindikasikan model tersebut mengalami multikolinearitas.

40

Sebaliknya, jika VIF lebih kecil dari 10 maka diindikasikan bahwa model tersebut

tidak mengalami multikolinearitas yang serius.

d. Uji Heteroskedastisitas

Asumsi penting dari regresi linear klasik adalah bahwa gangguan yang

muncul dalam fungsi regresi adalah heteroskedastisitas. Menurut Juanda (2009),

heteroskedastisitas terjadi jika ragam sisaan tidak sama untuk tiap pengamatan ke-

i dari peubah-peubah bebas dalam model regresi. Masalah heteroskedastisitas

biasanya sering terjadi dalam data cross section. Salah satu cara dalam mendeteksi

heteroskedastisitas adalah dengan transformasi terhadap peubah respon dilakukan

dengan tujuan untuk menjadikan ragam menjadi homogeny pada peubah respon

hasil transformasi tersebut. Namun, dalam mendeteksi terjadinya

heteroskedastisitas dalam model dapat digunakan juga metode grafik (Nachrowi et

all 2002). Selain itu, dapat juga dilakukan dengan uji glejser. Uji Glejser

dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai absolute

residualnya (Gujarati 2006). Jika nilai signifikan dari hasil uji Glejser lebih besar

dari maka tidak terdapat heteroskedastisitas dan sebaliknya.

4.4.2 Analisis Regresi Logistik

Dalam mengestimasi faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam

mengalihfungsikan lahan sawah digunakan analisis regresi logistik. Menurut

Nachrowi et all (2002), model logit adalah model non linear, baik dalam

paramater maupun dalam variabel. Model logit diturunkan berdasarkan fungsi

peluang logistik yang dapat di spesifikasikan sebagai berikut (Juanda 2009):

....................................... (4.7)

41

Dimana e mempresentasikan bilangan dasar logaritma natural (e=2.718...).

Kemudian dengan menggunakan aljabar biasa, persamaan dapat ditunjukkan

menjadi:

................................................................................................. (4.8)

Peubah Pi / 1 Pi dalam persamaan diatas disebut sebagai odds, yang

sering diistilahkan dengan resiko atau kemungkinan, yaitu rasio peluang

terjadinya pilihan 1 terhadap peluang terjadinya pilihan 0 alternatif. Parameter

model estimasi logit harus diestimasi dengan metode maximum likelihood (ML).

Jika persamaan ditransformasikan dengan logaritma natural, maka:

................................................... (4.9)

Persamaan model regresi logistik untuk mengetahui faktor yang

mempengaruhi alih fungsi lahan adalah sebagai berikut:

= Z = + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 X5 + 6 X6 + ...... (4.10)

Dimana:

Z = Peluang alih fungsi lahan (1) dan tidak alih fungsi lahan (0)

= Intersep

Xi = Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan alih fungsi lahan

i = Koefisien Regresi

= Eror Term

Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi keputusan petani dalam

mengalihfungsikan lahan, antara lain:

42

1. Tingkat Usia (Tahun)

Tingkat usia menunjukkan produktivitas seseorang dalam bekerja.

Semakin tinggi usia seseorang maka produktivitas dalam bekerja akan

semakin menurun. Hal ini akan mendorong terjadinya alih fungsi lahan

yang dilakukan.

2. Lama Pendidikan Petani (Tahun)

Lama pendidikan diduga berpengaruh terhadap keputusan petani dalam

melakukan alih fungsi lahan. Lama pendidikan menunjukkan tingkat

pendidikan yang dicapai. Semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka

akan semakin bijaksana dalam pengambilan keputusan alih fungsi lahan.

3. Luas Lahan (Hektar)

Petani yang memiliki ukuran lahan yang luas cenderung untuk

mempertahankan lahannya karena semakin luas lahan maka usaha tani

akan semakin efisien dan relatif lebih besar keuntungannya. Semakin luas

lahan yang dimiliki oleh petani maka semakin kecil alih fungsi lahan yang

terjadi.

4. Proporsi pendapatan hasil usaha tani (Persen)

Semakin rendah pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha tani, maka

akan semakin tinggi peluang petani dalam melakukan alih fungsi lahan.

Jika pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha tani rendah maka ada

kecenderungan untuk memilih pendapatan di luar sektor pertanian dan

lahan yang dimiliki dialihfungsikan karena pendapatan usaha tani tidak

dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

43

5. Jumlah tanggungan petani (Jiwa)

Jumlah tanggungan yang harus ditanggung petani mempengaruhi alih

fungsi lahan dimana semakin banyak jumlah tanggungan yang harus

ditanggung, maka alih fungsi lahan akan semakin tinggi. Semakin banyak

tanggungan yang dimiliki maka biaya yang dibutuhkan dalam memenuhi

kebutuhan sehari-hari semakin banyak sehingga petani akan cenderung

untuk mengalih fungsikan lahannya.

6. Pengalaman bertani (Tahun)

Semakin lama petani pengalaman dalam bertani, maka akan semakin berat

dalam pengambilan keputusan untuk alih fungsi lahan. Hal ini disebabkan

karena semakin lama pengalaman bertani, maka keahlian yang dalam

bertani akan semakin tinggi sehingga petani akan cenderung untuk terus

mempertahankan lahannya.

7. Produktivitas (Ton/Ha)

Semakin tinggi tingkat produktivitas lahan maka keputusan petani untuk

melakukan alih fungsi lahan akan semakin rendah. Hal tersebut

disebabkan karena semakin tinggi produktivitas, pendapatan yang

diperoleh dari sektor pertanian akan semakin tinggi sehingga petani akan

cenderung mempertahankan lahannya.

Agar diperoleh hasil analisis regresi logit yang baik perlu dilakukan

pengujian. Pengujian dilakukan untuk melihat apakah model logit yang dihasilkan

secara keseluruhan dapat menjelaskan keputusan pilihan secara kualitatif. Dalam

hal ini pilihan yang digunakan untuk melakukan alih fungsi lahan atau tidak

melakukan. Pengujian parameter dilakukan dengan menguji semua parameter

44

secara keseluruhan dan menguji masing-masing parameter secara terpisah.

Statistik uji yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Odds Ratio

Odds merupakan rasio peluang kejadian terjadi sukses (terjadinya pristiwa

y=1) terhadap peluang terjadi gagal (terjadinya pristiwa y=0) (Nachrowi et all.

2002). Odds ratio ini sering juga digunakan sebagai suatu ukuran asosiasi yang

sering ditemukan dalam epidemologi. Pada dasarnya odds ratio digunakan untuk

melihat hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat dalam model logit.

Nilai tersebut dapat diperoleh dari perhitungan eksponensial dari koefisien

estimasi (i) atau exp (j). Odds Ratio dapat didefinisikan sebagai berikut:

dimana P menyatakan peluang terjadinya peristiwa (Z=1) dan 1-P menyatakan

peluang tidak terjadinya peristiwa.

b. Likelihood Ratio

Likelihood Ratio merupakan suatu rasio kemungkinan maksimum yang

digunakan untuk menguji peranan variabel penjelas secara serentak (Hosmer dan

Lemeshow 2002). Statistik uji yang dapat menunjukkan nilai likelihood ratio

adalah Uji G. Rumus umum Uji G adalah:

......................................................................................... (4.11)

Dimana l0 merupakan nilai likelihood tanpa variabel penjelas dan li

merupakan nilai likelihood model penuh. Statistik uji G akan mengikuti sebaran

chi-square dengan derajat bebas . Kriteria keputusan yang diambil adalah jika G

> chi-square maka H0 ditolak. Jika H0 ditolak maka dapat disimpulkan bahwa

45

minimal ada j 0, dengan pengertian lain, model regresi logistik dapat

menjelaskan atau memprediksi pilihan individu pengamatan.

4.4.3 Uji Beda Rata-rata

Perubahan pendapatan dilihat dari perubahan pendapatan rumah tangga

petani sebelum dan sesudah melakukan alih fungsi lahan. Untuk mengetahui ada

tidaknya perbedaan tingkat pendapatan petani sebelum alih fungsi lahan dan

setelah alih fungsi lahan yang dimilikinya digunakan pendekatan perbedaan dua

rata-rata. Pengujian ini dilakukan dengan uji T-test baik untuk menguji data

sampel masing-masing jenis alih fungsi lahan maupun untuk menguji data sampel

secara keseluruhan (Sutrisno 1995).

Persamaan uji T adalah sebagai be