Click here to load reader

ANALISIS FAKTOR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS FAKTOR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PENDAPATAN NELAYAN MUARA ANGKE
Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
JAKARTA
2016/1437H
i
2. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 1 April 1993
3. Alamat
20 Sawangan Depok
4. Telepon : 081297027691
5. Email : [email protected]
II. PENDIDIKAN FORMAL
2. SD Islamiyah terpadu Depok
Tahun 1999-2004 (Akselerasi
5. S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010-2016
III. PENDIDIKAN NON FORMAL
2. LBPP LIA Ciputat 2011-2014
3. Program Bahasa Jerman di Euro Management 20116-sekarang
4. Sekolah Demokrasi Tangerang Selatan D1 Politik
ii
IV. SEMINAR DAN WORKSHOP
FAST dan FEB, 9 Desember 2013.
2. Dialog jurusan dan seminar konsentrasi “Mengenal Lebih Dekat
Dengan Jurusan Sendiri”, diselenggarakan oleh HMJ IESP Fakultas
Ekonomi dan Bisnis” UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 3 Oktober
2015.
4. Peserta dalam Seminar Nasional IAEI dengan tema “Penyiapan SDM
Berbasis Kompetensi Syariah Dalam Pengembangan Perbankan
Syariah Era MEA 2015”, yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli
Ekonomi Islam Indonesia bekerjasama dengan universitas Prof. Dr.
Moestopo (Beragama), 11 Oktober 2014.
5 Delegasi IESP UIN Jakarta untuk Konferensi Mahasiswa Ekonomi
Indonesia oleh BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta 2011
6 Peserta Seminar Nasional Potensi Lembaga Keuangan Syariah 2011
7 Peserta Seminar Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dengan
Aktivis Perempuan tentang Peningkatan Pemahaman berkonstitusi
dan Hukum 2016
Imtaq dan Iptek Pemudia Indonesia oleh Deputi Bidang
Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda Dan Olahraga republik
Indonesia.
Panitia Pekan IESP 2013, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UI Syarif
Hdayatullah Jakarta
Keuangan
iv
ABSTRACT
This research aims to analyze the impact of Experience and Fish
Price influence the Income of the fishermen in Muara Angke. This
research uses Ordinary Least Square method on 50 member Muara
Angkes Fisherman Group. Of the two factors which influence on the
fishermen income, experieenc gives bigger contribution compared with
fish price. However, fish price factor must also be considered because
these factors are supporting factors to the income of fishermen.
By taking care of the result of this study that experience factors
gives bigger contribution compared with other factors on the income of the
fishermen, it is suggested to open access to get more capital by
cooperating with cooperation or banks and non-banking institutions. It is
also necessary to perform founding and the development of ability in
catching the fish and to improve the technology in catching fish by using
effective technology.
v
ABSTRACT
Sebagai Nelayan (X1), Harga Ikan (X2) terhadap Pendapatan Nelayan Muara
Angke. Penelitian ini bersifat kuantitatif deskriptif dengan menggunakan data
primer dan penelitian ini menggunakan metode analisis Ordinary Least Square
(OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Pengalaman Sebagai
Nelayan (X1), dan variabel Harga Ikan (X2) memiliki pengaruh positif signifikan
terhadap Pendapatan Nelayan Muara Angke.
Kata Kunci: Pengalaman Sebagai Nelaya, Harga Ikan, Nelayan, Muara Angke
vi
Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah memberikan
kita kesempatan hidup di dunia ini dan memberikan nafas yang dengannya kita
dapat merasakan keindahan untuk bisa menyembah-Mu. Sungguh tidak ada
satupun kejadian yang terjadi secara kebetulan, semua sudah terencana, semua
telah ditentukan oleh qadha dan qodar-Nya. Salawat serta Salam tidak lupa kita
curahkan kepada junjungan kita, Baginda Nabi Muhammad SAW semoga kelak
kita mendapat syafaatnya dihari akhir yang pasti terjadi.
Ilmu yang kita miliki pada haikatnya adalah titipan dari Allah, yang sama
sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita. Semoga kita
dimudahkan oleh Allah untuk meraih ilmu yang bisa menjadi penerang dalam
kegelapan dan dapat menjaga ilmu tersebut dengan penuh kerendahan hati. Tidak
ada yang tidak mungkin, selama kita mau berdoa dan berusaha, seperti pepatah
bahasa Arab “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya barang siapa yang bersunguh-
sungguh akan mendapatkannya. Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk
mendahului orang lain, tapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan
rekor diri sendiri dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari yang lebih baik.
Itulah sepenggal kalimat yang menjadi penggugah demi terselesaikannya skripsi
yang sederhana ini, yang berjudul “Analisis Faktor Faktor Yang
Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Muara Angke”
Dengan selesainya skripsi ini, penulis ingin menyampaikan rasa
terimakasih kepada:
2. Sodara kandung Bagas Prasetyo Wibowo dan Febriana Regita yang
telah mendukung penulis dalam menyelesaikan penulisan penelitian
ini.
vii
3. Dr. Arief Mufraini selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang baru semoga dapat memajukan dan
mengembangkan FEB lebih baik lagi.
4. Bapak Pheni Chalid Ph.D sebagai pembimbing 1 yang senantia
memberikan masukan serta arahan bagi penulisan skripsi ini.
5. Bapak Arief Fitrijanto M.Si sebagai pembimbing 2 yang senantia
memberikan masukan serta arahan bagi penulisan skripsi ini.
6. Terimakasih kepada Dosen-dosen IESP yang pernah mengajari saya
yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Bantuan kalian dalam
menyampaikan materi yang sangat membantu saya dalam memahami
materi perkuliahan Semoga ini dapat menjadi nilai ibadah dan
semoga Allah SWT membalas semua jasamu.
7. Terimakasih kepada Agus Suherman, teman sehati yang telah
memberikan motivasi dan doa sepenuh hati.
8. Terimakasih kepada Aprian Subhan yang telah meluangkan waktu
untuk berdiskusi mengenai skripsi ini.
9. Teman-teman seperjuangan IESP angkatan 2010, yang tidak bisa
saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih atas waktu, tawa, senyum,
pengalaman baru selama ini.
sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki
penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta
masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Daftar Riwayat Hidup ................................................................................... i
B. Jenis dan Sumber Data ......................................................................... 48
C. Populasi dan Sampel ............................................................................ 49
D. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 49
E. Uji Validitas Data ................................................................................. 50
F. Metode Analisis Data ........................................................................... 51
G. Operasional Variabel ............................................................................ 57
A. Deskripsi Umum ............................................................................ 59
2. Kependudukan dan Jumlah Nelayan ........................................ 60
3. Nelayan Muara Angke ............................................................. 61
4. Kehidupan Nelayan Muara Angke ........................................... 63
5. Perikanan .................................................................................. 66
4. Koefisien Determinasi .............................................................. 86
2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu 39
3.1 Tabel Uji Durbin-Watson 51
4.1 Tabel Demografi dan Kependudukan Kapuk Muara 57
4.2 Tabel Pertumbuhan Nelayan Muara Angke 57
4.3 Produksi Perikanan Muara Angke 58
4.4 Uji Validitas Pengalaman Sebagai Nelayan 59
4.5 Uji Validitas Harga Ikan 59
4.6 Uji Validitas Kuantitas Ikan yang Ditangkap 60
4.7 Tabel Pendapatan Nelayan 62
4.8 Tabel Lama Pengalaman Nelayan 64
4.9 Matriks Korelasi Multikolinearitas 64
4.10 Tabel Uji Heteroskedastisitas 65
4.11 Tabel Uji Regresi Linier Berganda 66
4.12 Tabel Uji Lagrange-Multiplier 67
4.13 Tabel Uji-t 75
4.14 Tabel Uji-F 76
2.2 Gambar Kurva Penawaran 37
2.3 Gambar Kerangka Berpikir 45
1
sebagian masyarakat Indonesia baik dalam pencaharian ekonomi,
kebutuan makan, jalur transportasi, dll. Pramodya Ananta Toer pun dalam
bukunya berjudul Arus Balik 2002 mengungkapkan, kerajaan Majapahit
dapat mengusai hampir seluruh Indonesia hingga Singapura (Tumasik),
Malaysia (Malaka), dan beberapa negara ASEAN lainnya, lantaran
Majapahit menjadi kekuatan maritim terbesar pada abadnya (1350-1389
M).
melukiskan kegagahan nenek moyang orang Indonesia sebagai pelaut.
Sejarah pun telah menyebutkan bahwa bersatunya Nusantara adalah
karena kebesaran armada maritim.
moyang kita telah berlayar jauh dengan kapal bercadik ke utara
mengarungi laut Tiongkok, ke Barat memotong lautan Hindia hingga
Madagaskar, ke Timur hingga Pulau Paskah. Kian ramainya pengangkutan
komoditas perdagangan melalui laut, mendorong munculnya kerajaan-
2
kerajaan di Nusantara yang bercorak maritim dan memiliki armada laut
yang besar (Arus Balik, 2002: 92).
Hingga saat ini, Indonesia masih diakui sebagai salah satu Negara
Maritim terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.500 pulau dan
memiliki garis panjang pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada
(18.000km 2 ) sehingga luas wilayah Indonesia 2/3 merupakan wilayah
lautan. Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, luas laut yang sekitar 3,2
juta km 2 terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km
2 dan laut
teritorial seluas 0,3 juta km 2 . Perairan Indonesia juga memiliki potensi
sumber daya hayati dan non hayati yang melimpah.
Besarnya potensi perikanan Indonesia ini belum mampu
menjadikan sektor perikanan menjadi salah satu sektor riil yang potensial
di Indonesia. Berdasarkan data Kelautan dan Perikanan Dalam Angka
2011, potensi ekonomi dari sektor perikanan diperkirakan mencapai US$
82 miliar per tahun. Potensi ini meliputi: potensi perikanan tangkap
sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7
miliar per tahun, potensi perairan umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun,
potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi
budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi
bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.
Bahkan, menurut Daryanto (2007: 15), sumber daya pada sektor
perikanan salah satu sumber daya yang penting bagi hajat hidup
masyarakat dan memiliki potensi dijadikan sebagai penggerak utama
3
Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang besar baik ditinjau dari
segi kuantitas maupun diversitas. Kedua, adanya keterkaitan sektor-sektor
lain terhadap sektor perikanan. Ketiga, industri perikanan berbasis sumber
daya nasional atau lebih deikenal dengan istilah national resources based
industries, dan kempat indonesia sektor perikanan Indonesia memiliki
keunggulan (comparative advantage) sebagaimana yang dicerminkan
dari potensi sumber daya yang ada.
Dengan potensi wilayah tersebut Indonesia memiliki potensi
ekonomi di sektor kelautan dan perikanan baik berupa perikanan tangkap
maupun perikanan budidaya yang merupakan suatu potensi yang dapat
dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur (Solikhin,
dkk: 2005, 121). Disisi lain, dewasa ini kesejahteraan nelayan berbanding
terbalik dangan kekayaan maritim yang sering kali didengungkan.
Ironisnya, data Badan Pusat statistik (BPS) 2011 menyebutkan, 25,14
persen atau 7,87 juta penduduk miskin adalah dari nelayan, dari total 31,02
juta jiwa.
Pendapatan yang diterima oleh nelayan tergantung pada hasil tangkapan
atau produksi dan harga yang berlaku, dimana teknologi akan sangat
menentukan terhadap hasil usaha penangkapan diantaranya perlengkapan
yang digunakan dalam operasi penangkapan seperti motor. Selain itu
4
dipengaruhi oleh daerah penangkapan ikan (fishing ground), cuaca saat itu
dan efektivitas alat tangkap yang digunakan (Hermanto : 2006, 153).
Karena pendapatan nelayan tidak tetap, kadang mengalami
keuntungan yang besar dan kadang mengalami kerugian. Belum lagi
nelayan harus mengeluarkan iuran retribusi kepada pengelola pelelangan
ikan. Dalam penelitian ini, dari sekian banyak kampung nelayan di
Indonesia, akan dipilih nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Menurut
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2004,
pelabuhan perikanan diklasifikasikan menjadi pelabuhan perikanan
samudera (tipe A), pelabuhan perikanan nusantara (tipe B), pelabuhan
perikanan pantai (tipe C) dan pangkalan pendaratan ikan (tipe D).
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke sebagai salah satu
pelabuhan tipe D yang terbesar di Jakarta Utara.
Tabel 1.1
Status Nelayan
2008 3.665 408 4.073
2009 3.472 386 3.858
2010 3.760 418 4.178
2011 2.989 333 3.322
2012 2.197 245 2.442
2013 2.914 324 3.238
Berdasarkan Tabel 1.1, terlihat bahwa selama periode 2008-2013
jumlah nelayan terbanyak adalah nelayan penetap pekerja pada tahun
2010, yaitu sebanyak 3.760 orang. Jumlah nelayan paling sedikit adalah
5
nelayan penetap pekerja dimana pada tahun 2012 jumlahnya 2.197 orang.
Jika dibandingkan antara jumlah nelayan penetap dan pendatang, ternyata
nelayan yang melakukan aktivitas bongkar muat dan sandar di PPI Muara
Angke selama periode 2008-2013, yaitu lebih banyak nelayan pendatang
karena pendapatan di daerahnya tidak mencukupi untuk menghidupi
keluarganya sehari-hari. Hal tersebut disebabkan karena harga ikan yang
dilelang di daerah tidak setinggi harga ikan yang dilelang di Jakarta.
Produksi nelayan di Muara Angke, sejak 2008 hingga 2013 pun
cenderung fluktuatif. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Tabel 1.1
Status Nelayan
PDRB
Jumlah produksi pada tahun 2008 sebesar 39.820 ton dengan nilai
produksi sebesar Rp 35. 368.628.250, dalam periode ini PPI Muara Angke
memiliki kontribusi sebesar 6,8% PDRB DKI Jakarta. Jumlah produksi
pada tahun 2009 sebesar 30.362 ton dengan nilai produksi sebesar Rp
29.378.803.460, dalam periode ini PPI Muara Angke memiliki kontribusi
sebesar 6,6% PDRB DKI Jakarta. Jumlah produksi pada tahun 2010
6
dalam periode ini PPI Muara Angke memiliki kontribusi sebesar 7,1%
PDRB DKI Jakarta. Jumlah produksi pada tahun 2011 sebesar 25.298 ton
dengan nilai produksi sebesar Rp 28.384.532.100, dalam periode ini PPI
Muara Angke memiliki kontribusi sebesar 6,5% PDRB DKI Jakarta.
Jumlah produksi pada tahun 2012 sebesar 21.203 ton dengan nilai
produksi sebesar Rp 27.373.598.440, dalam periode ini PPI Muara Angke
memiliki kontribusi sebesar 6,8% PDRB DKI Jakarta.
Ikan pada dasarnya merupakan Sumber Daya Alam (SDA) yang
dikategorikan sebagai SDA yang dapat diperbarui atau dipulihkan.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa sumber daya ikan tersebut dapat
ditangkap secara sembarangan, misalnya dengan menggunakan bahan-
bahan peledak atau menggunakan alat tangkap yang dapat mengakibatkan
kerusakan lingkungan atau ekologi laut maupun melakukan tangkap lebih
(over eksploitasi). Untuk mendukung pemulihan sumber daya ikan sangat
diperlukan faktor pendukung yang lain, yakni faktor lingkungan laut atau
ekologi laut, misalnya terumbu karang, yang meskipun terumbu karang ini
dapat diperbarui atau dipulihkan namun pemulihannya memerlukan waktu
yang sangat lama dan biaya yang besar.
Untuk diketahui bahwa potensi sumber daya ikan Indonesia
diperkirakan adalah 6,4 juta ton per tahun, dari jumlah tersebut 1,26 juta
ton berasal dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) (Retnowati:
2011, 151). Berdasarkan Pasal 1 angka 8 Undang- Undang Republik
7
Indonesia No. 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara, yang dimaksud
ZEEI adalah suatu area di luar dan berdampingan dengan laut teritorial
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai Perairan Indonesia, dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut
dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur. Adapun yang
dimaksudkan dengan Undang- Undang yang mengatur tentang Perairan
Indonesia disini adalah Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun
l996 tentang Perairan Indonesia.
Indonesia serta melimpahnya sumber daya ikan yang dikandungnya maka
secara logika menunjukkan terbukanya peluang kerja di sektor ini dan
adanya kehidupan nelayan yang mapan. Namun dalam realitanya
kehidupan nelayan Indonesia masih sangat memprihatinkan. Kemiskinan
masih dijumpai di daerah-daerah pesisir, nelayan rentan terhadap konflik
antar mereka. Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang sering terjadi,
Kemiskinan pada umumnya ditandai dengan derita keterbelakangan,
ketertinggalan, rendahnya produktivitas, selanjutnya meningkat menjadi
rendahnya pendapatan yang diterima. Hampir di setiap negara, kemiskinan
selalu terpusat di tempat-tempat tertentu, yaitu biasanya di pedesaan atau
daerah-daerah yang kekurangan sumber daya alam.
Ciri-ciri demografi yang berhubungan dengan pendapatan nelayan
dan kemiskinan meliputi : umur, tingkat pendidikan, pengalaman sebagai
nelayan, jumlah keluarga dan anggota keluarga yang bekerja. Sedangkan
8
sosio-ekonomi nelayan berkaitan dengan variabel/variabel pemilikan
perahu, jenis perahu, nilai aset penangkapan ikan, nilai aset di luar
aktivitas penangkapan ikan. Variabel sosio-budaya mencakup variabel
institusi koperasi, hubungan dengan pemilik modal, dan perilaku nelayan.
Kendati demikian, penulis ingin mengkaji pendapatan rumah
nelayan menggunkan variabel pengalaman sebagai nelayan, dan harga ikan
sebagai variabel yang mempengaruhi.
secara teoritis dalam buku tentang ekonomi tidak ada yang membahas
pengalaman merupakan fungsi dari pendapatan atau keuntungan. Namun,
dalam kegiatan menangkap ikan (produksi) dalam hal ini nelayan dengan
semakin berpengalamannya nelayan akan meningkatkan pendapatan.
Selanjutnya, salah satu yang mempengaruhi pendapatan nelayan
adalah mengenai harga ikan. Harga adalah sejumlah uang yang harus
dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan produk atau jasa yang
dibelinya guna memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Harga merupakan
faktor yang paling menarik dari suatu perubahan yang di hadapi oleh
konsumen dan produsen. Dalam hukum penawaran mengatakan bahwa,
produsen (nelayan) akan menawarkan jumlah barang (ikan) pada saat
9
harga naik. Hal ini dikarenakan, pada saat harga ikan naik, maka
pendapatan yang diperoleh oleh nelayan akan naik.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka pertanyaan penelitian dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh Pengalaman Sebagai Nelayan
terhadap Pendapatan Nelayan Muara Angke ?
2. Seberapa besar pengaruh Harga Ikan terhadap Pendapatan
Nelayan Muara Angke ?
C. Tujuan Penelitian
masalah yang telah dikemukakan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Pengalaman
Sebagai Nelayan terhadap Pendapatan Nelayan Muara Angke.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Harga Ikan
terhadap Pendapatan Nelayan Muara Angke.
D. Manfaat
pedoman bagi peneliti lainnya yang berminat dibidang ini.
1. Teoritis.
10
2. Praktis
terhadap pemerintah dan kalangan ekonom di Indonesia
mengenai besarnya pengaruh pengalaman, harga dan kuantitas
ikan terhadap pendapatan nelayan di PPI Muara Angke.
3. Kebijakan
menindaklanjuti hal-hal yang harus segera dilaksanakan,
sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umumnya,
dan bagi nelayan PPI Muara Angke pada khususnya.
11
laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir
pantai atau pesisir laut. komunitas nelayan adalah kelompok orang
yang bermata pencaharian hasil laut dan tinggal di desa-desa pantai
atau pesisir (Sastrawijaya, 2002: 211). Lebih lanjut, nelayan adalah
orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan (UU
No.45/2009 – Perikanan) . Nelayan adalah orang yang secara aktif
melakukan kegiatan menangkap ikan, baik secara langsung (seperti
penebar dan pemakai jaring), maupun secara tidak langsung (seperti
juru mudi perahu layar, nakhoda kapal ikan bermotor, ahli mesin
kapal, juru masak kapal penangkap ikan), sebagai mata pencaharian
(Ensiklopedia Indonesia, 2010:817).
hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budi
daya. Mereka pada umumnya tinggal dipinggir pantai, sebuah
lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya. Ciri
komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, sebagai berikut
(Sastrawijaya, 2002: 98) :
a. Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah mereka yang segala
aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, atau
mereka yang menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian
mereka.
gotong royong. Kebutuhan gotong royong dan tolong
menolong terasa sangat penting pada saat untuk mengatasi
keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan
pengerahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar,
membangun rumah atau tanggul penahan gelombang di sekitar
desa.
ketrampilan sederhana. Kebanyakan mereka bekerja sebagai
nelayan adalah profesi yang di turunkan oleh orang tua, bukan
yang dipelajari secara professional.
suatu entitas tunggal, mereka terdiri dari beberapa kelompok. Hal ini
dapat dilihat dari beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Kepemilikan Alat Tangkap
tangkap milik orang lain, atau biasa disebut dengan pekerja
nelayan dan mendapatkan upah dari juragan nelayan.
2) Nelayan Juragan
ikan dimiliki oleh nelayan juragan, sementara buruh
nelayan mendapatkan upah dari hasil menangkap.
3) Nelayan Perorangan
tidak melibatkan orang lain.
yaitu sebagai nelayan. Hanya menggantungkan hidupnya
dengan profesi kerjanya sebagai nelayan dan tidak memiliki
pekerjaan dan keahlian selain menjadi seorang nelayan.
2) Nelayan Sambilan Utama
lainnya untuk tambahan penghasilan. Apabila sebagian
14
3) Nelayan Sambilan Tambahan
sumber penghasilan. Sedangkan pekerjaan sebagai nelayan
hanya untuk tambahan penghasilan.
1964 tentang Bagi Hasil Perikanan)
1) Nelayan Penggarap
menyediakan tenaganya turut serta dalam usaha
penangkapan ikan laut, bekerja dengan sarana penangkapan
ikan milik orang lain.
penangkap ikan yang dipergunakan dalam usaha
penangkapan ikan yang dioperasikan oleh orang lain. Jika
pemilik tidak melaut maka disebut juragan atau pengusaha.
Jika pemilik sekaligus bekerja melaut menangkap ikan
maka dapat disebut sebagai nelayan yang sekaligus pemilik
kapal.
dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain.
2) Nelayan Kelompok Usaha Bersama
Merupakan gabungan dari minimal 10 orang nelayan yang
kegiatan usahanya terorganisir tergabung dalam kelompok
usaha bersama non-badan hukum.
terikat dengan perjanjian kerja laut atau PKL dengan badan
usaha perikanan.
e. Jenis Perairan (UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan
Indonesia)
ataupun masuk dalam laut zona ekonomi eksklusif.
2) Nelayan Perairan Umum Pedalaman
Nelayan yang menangkap ikan di daerah pantai atau sisi
darat dari garis air rendah pantai-pantai suatu negara.
f. Mata Pencaharian
1) Nelayan Subsisten
yang menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan
sendiri.
walaupun dalam skala yang sangat kecil.
3) Nelayan Komersil
yang menangkap ikan untuk tujuan komersial atau
dipasarkan baik untuk pasar domestik maupun pasar
ekspor.
orang orang yang secara prinsip melakukan kegiatan
penangkapan ikan hanya sekedar untuk kesenangan atau
berolahraga.
bersertifikasi atau berijazah.
2) Nelayan Nonformal
dilatih dari orang tua atau generasi pendahulu secara
nonformal.
wilayah pengelolaan perikanan (WPP) yang dikeluarkan
oleh otoritas pemerintahan daerah setempat.
2) Nelayan Andon
kembara ikan di perairan otoritas teritorial dengan legalitas
izin antar pemeritah daerah.
yang sederhana, umumnya peralatan penangkapan ikan
dioperasikan secara manual dengan tenaga manusia.
18
pantai.
yang lebih canggih dibandingkan dengan nelayan
tradisional. Ukuran modernitas bukan semata-mata karena
penggunaan motor untuk menggerakkan perahu melainkan
juga besar kecilnya motor yang digunakan serta tingkat
eksploitasi dari alat tangkap yang digunakan. Perbedaan
modernitas teknologi alat tangkap juga akan berpengaruh
pada kemampuan jelajah operasional mereka.
j. Jenis Kapal
1) Nelayan Mikro
berukuran 0 (nol) GT (Gross Tonage) sampai dengan 10
(sepuluh) GT.
berukuran 11 (sebelas) GT (Gross Tonage) sampai dengan
60 (enam puluh) GT.
berukuran 61 (enam puluh satu) GT (Gross Tonage) sampai
dengan 134 (seratus tiga puluh empat) GT.
4) Nelayan Besar
135 (seratus tiga puluh lima) GT.
2. Teori Produksi
hubungan di antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah
tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat
produksi barang tersebut. Dalam analisis tersebut dimisalkan bahwa
faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap jumlahnya, yaitu modal dan
tanah jumlahnya dianggap tidak mengalami perubahan. Juga teknologi
dianggap tidak mengalami perubahan. Satu-satunya faktor produksi…