of 132/132
i FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN LENSA KONTAK PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN Skripsi Diajukan Sebagai Tugas Akhir Strata-1 (S1) pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) OLEH: KHAERUNNISA NIM : 108104000011 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H /2012 M

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25578/1... · i pernyataan persetujuan . skripsi dengan judul . faktor-faktor yang berhubungan

  • View
    226

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN...

  • i

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

    PENGGUNAAN LENSA KONTAK PADA PASIEN DENGAN

    GANGGUAN PENGLIHATAN

    Skripsi Diajukan Sebagai Tugas Akhir Strata-1 (S1) pada

    Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan

    Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

    OLEH:

    KHAERUNNISA

    NIM : 108104000011

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    1433 H /2012 M

  • i

    PERNYATAAN PERSETUJUAN

    Skripsi dengan judul

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN

    LENSA KONTAK PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN

    Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi

    Program Studi Ilmu Keperawatan

    Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

    DISUSUN OLEH:

    KHAERUNNISA

    108104000011

    Pembimbing I Pembimbing II

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1433 H/2012 M

    Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB

    NIP: 197311062005012003

    NIA DAMIATI, S.Kp, MSN

    NIP: 197901142005012007

  • ii

    LEMBAR PENGESAHAN

    PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    Jakarta, 09 Oktober 2012

    Penguji I

    Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep.

    NIP. 19700122 20080102 05

    Penguji II

    Nia Damiati, S.Kp, MSN

    NIP. 197901142005012007

    Penguji III

    Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB

    NIP. 19731106 2005 01 2003

  • iii

    LEMBAR PENGESAHAN

    PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    Jakarta, 09 Oktober 2012

    Mengetahui,

    Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

    Tien Gartinah, MN

    Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

  • iv

    LEMBAR PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa :

    1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

    salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran

    dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

    Jakarta.

    2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

    cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran

    dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

    Jakarta.

    3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

    atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

    menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

    Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Jakarta, Oktober 2012

    Khaerunnisa

  • v

    RIWAYAT HIDUP

    Nama : Khaerunnisa

    Tempat, Tgl. Lahir : Tangerang, 02 Juli 1991

    Agama : Islam

    Jenis Kelamin : Perempuan

    Status : Belum Menikah

    Alamat : Jl.H.Mean I/Jl.Garuda 1 Komp.Perumahan Karang

    Timur RT.003 RW 03 No.34 Ciledug Tangerang

    15157

    No. Telp/HP : 081298485340

    E-mail : [email protected]

    Riwayat Pendidikan :

    1996 2002 : SDI Ar-Rahman, Karang Tengah Ciledug-

    Tangerang

    2002 2005 : SMP Yadika 3 Ciledug

    2005 2008 : SMAN 101 Jakarta Barat

    2008 sekarang : S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan

    Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN)

    Syarif Hidayatullah Jakarta

    Pengalaman Organisasi :

    2007-2008 : Anggota KIR (Karya Ilmiah Remaja) SMAN 101

    Jakarta Barat

    2007-2008 : Anggota ABNONKU Jakarta Barat

    2010 2011 : Anggota Departemen Keilmuwan Badan Eksekutif

    Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Ilmu Keperawatan UIN

    mailto:[email protected]

  • vi

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    Skripsi, Oktober 2012

    Khaerunnisa, NIM : 108104000011

    Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Lensa Kontak Pada

    Pasien Dengan Gangguan Penglihatan

    xvi + 93 halaman + 12 tabel + 2 bagan + 3 lampiran

    ABSTRAK

    Lensa kontak merupakan benda pengganti kacamata yang berfungsi untuk

    mengoreksi kelainan refraksi mata. Saat ini, banyak orang yang beralih dari

    menggunakan kacamata ke lensa kontak. Tahun 2004, tercatat 128 juta orang yang

    menggunakan lensa kontak di seluruh dunia dan ini akan meningkat setiap

    dekadenya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang

    berhubungan dengan penggunaan lensa kontak pada pasien dengan gangguan

    penglihatan. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross

    sectional study dan pengambilan sampel menggunakan teknik accidental

    sampling dengan besar sampel sebanyak 63 orang. Penelitian ini dilakukan pada

    bulan Juli-Agustus 2012 dan data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.

    Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan SPSS. Uji

    bivariat dengan menggunakan Chi-Square dan Correlation Spearman pada =

    0,05. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekonomi (pendapatan)

    (Pvalue=0,721), pengetahuan (Pvalue=0,133), dan lingkungan sosial (Pvalue=1), tidak

    berhubungan dengan penggunaan lensa kontak pada pasien dengan gangguan

    penglihatan. Namun, untuk motivasi (alasan mengikuti Tren) (Pvalue=0,021)

    berhubungan dengan penggunaan lensa kontak pada pasien dengan gangguan

    penglihatan . Peneliti menyarankan untuk melanjutkan variabel lain untuk diteliti

    seperti variabel terjadinya gangguan kesehatan mata akibat penggunaan lensa

    kontak.

    Kata kunci : Lensa Kontak, Ekonomi (pendapatan), Pengetahuan,

    Lingkungan Sosial, Motivasi.

    Daftar Bacaan : 41 (1995 - 2012)

  • vii

    NURSING SCIENCE STUDY

    FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES

    ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    Under graduated thesis, Oktober 2012

    Khaerunnisa, NIM: 108104000011

    Factors Associated With Contact Lens Use In Patients With Impaired Vision

    xvi + 93 pages + 12 table + 2 chart + 3 attachments

    ABSTRACT

    Contact lenses are objects that replacement eyeglasses to correct refractive

    eye disorders. Today, many people are switching from glasses to contact lenses

    use. In 2004, there were 128 million people use contact lenses worldwide and will

    increase each decade. This study aims to determine what factors are associated

    with the use of contact lenses in patients with visual impairment. This is a

    descriptive methods study with cross sectional study and sampling using

    accidental sampling with a large sample of 63 people. The research was conducted

    in July-August 2012 and the data was collected using a questionnaire. Data were

    analyzed using univariate and bivariate SPSS. Bivariate test using Chi-Square and

    Spearman Correlation at = 0.05. The results of this study showed that economic

    (income) (pvalue = 0.721), knowledge (pvalue = 0.133), and social environment

    (pvalue = 1) was not associated with the use of contact lenses in patients with

    visual impairment. Motivation variabel (tren factor) (pvalue = 0.021) associated

    with the use of contact lenses in patients with visual impairment. Researchers

    suggest to continue other variables be investigated as a variable occurrence of eye

    health problems due to the use of contact lenses.

    Keywords : Contact Lenses, Economics (income), Science, Social

    Environment, Motivation.

    Reading List : 41 (1995 - 2012)

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, segala puji kehadirat Allah SWT yang Maha Segalanya dan

    selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat

    dan rahmat-Nya hingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Shalawat dan salam

    selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa

    umatnya dari alam kejahiliyahan menuju alam yang penuh dengan ilmu

    pengetahuan.

    Skripsi dengan judul Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan

    Penggunaan Lensa Kontak Pada Pasien Dengan Gangguan Penglihatan Mata

    disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) pada

    Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN

    Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Penelitian skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan

    banyak pihak yang telah memberikan bantuan, petunjuk, bimbingan, motivasi,

    dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih kepada :

    1. Prof. DR. (hc). dr. Muhammad Kamil Tadjudin, Sp.And, selaku Dekan

    Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta.

    2. Drs. H. Achmad Gholib, MA, selaku Pembantu Dekan Bidang Administrasi

    Umum, dan Dra. Farida Hamid, M.Pd, selaku Pembantu Dekan Bidang

    Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

    Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • ix

    3. Ibu Tien Gartinah, MN, selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

    (PSIK) sekaligus sebagai Penasihat Akademik, dan Ibu Irma Nurbaeti,

    S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan

    (PSIK) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam

    Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

    4. Ibu Ernawati, S.Kp., M.Kep, Sp.KMB, selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu

    Nia Damiati, S.Kp, MSN, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa

    meluangkan waktunya untuk membimbing penulis, dan banyak memberikan

    masukan, nasihat, serta arahan kepada penulis selama menyusun skripsi.

    Thanks for everything bu, semoga Allah membalas kebaikan dan budi

    muliamu.

    5. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) yang telah

    membekali penulis dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang sangat

    berguna, selama penulis mengikuti perkuliahan.

    6. Segenap jajaran staff Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Fakultas

    Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN)

    Syarif Hidayatullah Jakarta.

    7. Kedua orang tuaku, Mama dan Papa yang aku sayangi, spirit of my life,

    yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan baik moril, materiil

    maupun spiritual yang tak terhingga, serta nasihat kepada penulis untuk

    selalu semangat menggapai cita-cita, dan selalu menjadi sumber inspirasi

    dan kekuatan.

  • x

    8. Segenap optik-optik Kota Tangerang Selatan Kecamatan Ciputat Timur

    yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis untuk melakukan

    penelitian di Puskesmas Pamulang.

    9. Segenap responden optik-optik Kecamatan Ciputat Timur yang telah

    berpartisipasi dalam penelitian ini.

    10. Seluruh saudaraku Mohammad Anwar Sadat & Anna Raihana yang

    senantiasa mendoakan. Terima kasih atas segala dukungan yang selalu ada

    dalam setiap fase hidup dan pendidikanku. I love you all.

    11. Seseorang yang selalu ada disaat-saat tersulit dalam fase kehidupanku

    Agung. Terima kasih untuk semua kesabaran, kasih sayang, perhatian, dan

    semangat yang tak terhingga selama penulis menyusun skripsi ini.

    12. Teman-teman PSIK angkatan 2008 yang sama-sama merasakan suka dan

    duka semasa kuliah, terima kasih atas semua kenangan dan kebersamaan

    yang indah selama ini. Tetap Semangat Untuk Meraih Masa Depan yang

    Lebih Baik.

    Akhir kata, dengan segala keterbatasan yang ada dan kerendahan hati,

    penulis menyadari penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempuranaan. Penulis

    berharap semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun

    pembaca lain.

    Jakarta, Oktober 2012

    Khaerunnisa

  • xi

    DAFTAR ISI

    halaman

    JUDUL

    PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................................................ i

    LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................... ii

    LEMBAR PERNYATAAN ....................................................................................... iv

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................................. v

    ABSTRAK .................................................................................................................. vi

    ABSTRACT ................................................................................................................ vii

    KATA PENGANTAR ................................................................................................ viii

    DAFTAR ISI ............................................................................................................... xi

    DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xv

    DAFTAR BAGAN ...................................................................................................... xvi

    DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xvii

    DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................ xviii

    BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

    A. Latar Belakang .................................................................................................. 1

    B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 6

    C. Pertanyaan Penelitian ....................................................................................... 7

    D. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 7

    1. Tujuan Umum ............................................................................................. 7

    2. Tujuan Khusus ............................................................................................ 7

    E. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 8

    1. Bagi Peneliti ................................................................................................ 8

    2. Bagi Tenaga Kesehatan Keperawatan ......................................................... 8

  • xii

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 9

    A. Perilaku ............................................................................................................. 9

    1. Pengertian Perilaku ...................................................................................... 9

    2. Tiga Domain Perilaku ................................................................................. 10

    B. Teori Mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku ......................... 15

    1. Teori Lawrence Green.................................................................................. 18

    2. Teori Snehandu B.Kar .................................................................................. 19

    3. Teori WHO.................................................................................................. 19

    4. Penelitian terkait .......................................................................................... 21

    C. Lensa Kontak ..................................................................................................... 22

    1. Definisi Lensa Kontak.................................................................................. 22

    2. Indikasi dan Kontraindikasi Pengguna Lensa Kontak ................................. 22

    3. Klasifikasi Lensa Kontak ............................................................................. 24

    4. Teknik Penggunaan Lensa Kontak yang Aman ........................................... 27

    5. Bentuk-bentuk Resiko Gangguan Kesehatan Mata Akibat Lensa Kontak .. 29

    D. Gangguan Penglihatan dan Mata....................................................................... 38

    1. Gangguan Kornea ........................................................................................ 38

    a. Miopia ...................................................................................................... 38

    b. Hipermetropia .......................................................................................... 42

    c. Abrasi Kornea ......................................................................................... 42

    E. Kerangka Teori ................................................................................................. 43

    BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI

    OPERASIONAL ....................................................................................................... 44

    A Kerangka Konsep Penelitian .............................................................................. 44

    B. Hipotesis ............................................................................................................ 44

    C. Definisi Operasional .......................................................................................... 46

  • xiii

    BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ................................................................ 50

    A. Desain Penelitian ............................................................................................... 50

    B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ........................................................... 50

    1. Populasi ....................................................................................................... 50

    2. Sampel .......................................................................................................... 50

    3. Besar Sampel ................................................................................................ 51

    C. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................................. 53

    D. Metode Pengumpulan Data ............................................................................... 53

    1. Instrumen Penelitian..................................................................................... 53

    2. Uji Validitas dan Reabilitas ......................................................................... 55

    3. Langkah-langkah Pengumpulan Data ......................................................... 57

    E Pengolahan Data ................................................................................................. 58

    1. Teknik Pengolahan Data .............................................................................. 58

    2. Analisa Data ................................................................................................ 59

    F. Etika Penelitian ................................................................................................. 60

    BAB V HASIL PENELITIAN .................................................................................. 63

    A. Gambaran Tempat Penelitian ............................................................................ 63

    B. Analisis Univariat ............................................................................................. 65

    1. Gambaran Perilaku Penggunaan Lensa Kontak .......................................... 65

    2. Gambaran Pengetahuan Responden ............................................................. 66

    3. Gambaran Ekonomi (Pendapatan) Responden............................................. 66

    4. Gambaran Motivasi Responden ................................................................... 67

    5. Gambaran Pengaruh Sosial Responden ....................................................... 68

    C. Analisis Bivariat ................................................................................................ 68

    1. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ......... 69

    2. Hubungan Pengaruh Sosial dengan Perilaku Penggunaan lensa Kontak ..... 70

    3. Hubungan Motivasi dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ............... 71

    4. Hubungan Ekonomi (Pendapatan) dengan Perilaku Penggunaan Lensa

    Kontak ......................................................................................................... 78

  • xiv

    BAB VI PEMBAHASAN .......................................................................................... 80

    A. Analisis Univariat .............................................................................................. 80

    1. Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ............................................................ 80

    2. Pengetahuan ................................................................................................. 81

    3. Pengaruh Sosial ............................................................................................ 82

    4. Motivasi ....................................................................................................... 83

    5. Ekonomi (Pendapatan) ................................................................................. 84

    B. Analisis Bivariat ................................................................................................ 84

    1. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ......... 84

    2. Hubungan Pengaruh Sosial dengan Perilaku Penggunaan lensa Kontak ..... 86

    3. Hubungan Motivasi dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ............... 87

    4. Hubungan Ekonomi (Pendapatan) dengan Perilaku Penggunaan Lensa

    Kontak ......................................................................................................... 89

    C. Keterbatasan Penelitian ..................................................................................... 90

    1. Tinjauan Pustaka Penelitian ......................................................................... 90

    2. Instrumen Penelitian..................................................................................... 90

    BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 91

    A. Kesimpulan ...................................................................................................... 91

    B. Saran ................................................................................................................. 93

    DAFTAR PUSTAKA

  • xv

    DAFTAR TABEL

    No Tabel Halaman

    Tabel 2.1 Keuntungan dan Kerugian dari Masing-masing Jenis Lensa Kontak ............ 25

    Tabel 3.1 Definisi Operasional .................................................................................... 46

    Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Agama, Usia dan Pekerjaan Responden .................... 64

    Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Perilaku Penggunaan Lensa Kontak .......................... 65

    Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Penggunaan Lensa Kontak .................. 66

    Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Ekonomi (Pendapatan) Penggunaan Lensa Kontak .. 66

    Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Motivasi Penggunaan Lensa Kontak ......................... 67

    Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Pengaruh Sosial Penggunaan Lensa Kontak ............. 68

    Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak ........ 69

    Tabel 5.8 Hubungan Pengaruh Sosial dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak .. 71

    Tabel 5.9 Hubungan Motivasi dengan Perilaku Penggunaan Lensa Kontak .............. 72

    Tabel 6.5 Hubungan Ekonomi (Pendapatan) dengan Perilaku Penggunaan Lensa

    Kontak ....................................................................................................... 78

  • xvi

    DAFTAR BAGAN

    No Bagan Halaman

    Bagan 2.1 Faktor-faktor yang Berhubugan dengan Penggunaan Lensa kontak pada

    Pasien dengan gangguan Pengelihatan Adaptasi dari Lawrence Green

    (1980) dalam Notoatmodjo (2010), Brunner &Suddarth (2001) .................. 43

    Bagan 3.1 Kerangka Konsep ....................................................................................... 44

  • xvii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 : Lembar Informed Consent

    Lampiran 2 : Lembar Kuesioner

    Lampiran 3 : Lembar Hasil Pengolahan Data-Data Penelitian

  • xviii

    DAFTAR SINGKATAN

    1. UMR : Upah Minimum Regional 2. OR : Odds Ratio 3. CI : Confidence Interval 4. WHO : World Health Organization

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar belakang

    Mata adalah organ penglihatan yang tidak sama seperti organ tubuh

    manusia pada umumnya karena secara anatomis mata memiliki struktur

    yang sangat khusus dan kompleks, berperan dalam penerimaan dan

    pengiriman data ke korteks serebral (Brunner & Suddarth, 2001). Mata

    adalah jendela hati, jadi dari mata kita dapat melihat dan menikmati

    berbagai pemandangan di sekitar kita. Namun seiring berjalannya

    waktu, kemampuan mata pun dapat menurun dan akhirnya timbul

    berbagai keluhan pada mata.

    Mata dapat mengalami berbagai kondisi yang diantaranya dapat

    bersifat primer maupun sekunder sebagai akibat dari kelainan pada

    sistem organ tubuh lainnya. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah

    sedangkan yang lainnya bila dapat terdeteksi lebih awal maka dapat

    dikontrol dan penglihatan masih dapat dipertahankan (Brunner &

    Suddarth, 2001). Kelainan mata yang umum dijumpai adalah kelainan

    pembiasan/refraksi (ametropia) yang dapat ditemukan dalam bentuk-

    bentuk kelainan seperti rabun dekat (hipermetropi), rabun jauh

    (miopia), dan astigmatisme (Ilyas, 2004).

    Kelainan pada mata dapat diatasi, seperti kelainan miopi dapat

    menggunakan kaca mata. Namun, Keberadaan lensa kontak untuk

  • 2

    membantu penglihatan serta operasi lasik pun mulai menjadi alternatif

    bagi pengguna kacamata.

    Pada saat ini penggunaan lensa kontak sangat digemari

    masyarakat dari berbagai kalangan, usia, latar belakang pekerjaan

    maupun pendidikan. Perkembangan ini ditunjang gaya hidup kita,

    sebagai konsumen, yang semakin dinamis menuntut alat bantu

    penglihatan di samping kacamata. Namun, lensa kontak paling digemari

    oleh kalangan wanita karena selain bisa menggantikan fungsi kaca mata

    lensa kontak juga mampu mempercantik penampilan karena warna-

    warnanya yang cerah membuat mata tampak lebih indah (American

    Academy of Ophthalmology, 2002-2003).

    Diperkirakan saat ini terdapat 125 juta orang pengguna lensa

    kontak yang tersebar di seluruh dunia (Griggs, 2009). Jumlah pengguna

    lensa kontak di USA 28 juta dan 17 juta di UK (Bausch & Lomb,

    1994). Jumlah pengguna lensa kontak juga tersebar di Amerika Utara

    (36 juta) kemudian Asia (24 juta) termasuk Jepang (14 juta), dan Eropa

    (20 juta) (Artini, 2010). Saat ini di Indonesia, pengguna lensa kontak

    mengalami pertumbuhan lebih dari 15 persen per tahun-nya (Artini,

    2010).

    Di lihat dari faktor usia dan jenis kelamin dapat disimpulkan

    bahwa wanita lebih banyak menggunakan lensa kontak dibandingkan

    pria. Berdasarkan Contact Lens Council (2004) 64% wanita

    menggunakan lensa kontak jenis lensa lunak dan 70% wanita

    menggunakan lensa kontak jenis lensa rigid/kaku. Sedangkan pria 36%

  • 3

    menggunakan lensa kontak jenis lensa lunak dan 30% menggunakan

    lensa kontak jenis lensa rigid/kaku. Menurut dr. Noor Syamsu usia >40

    tahun tidak disarankan lagi untuk menggunakan lensa kontak

    dikarenakan daya tahan tubuh yang semakin menurun.

    Menurut Quraisy (2009) beberapa orang yang menggunakan lensa

    kontak adalah untuk alasan estetika. Mereka merasa lebih baik

    menggunakan lensa kontak dibandingkan dengan kacamata. Selain itu,

    lensa kontak menjadi pilihan karena mempertimbangkan sisi praktisnya.

    Mereka tidak bisa bermain olahraga tertentu dengan kaca mata. Adapun

    seseorang yang terpaksa untuk menggunakan lensa kontak untuk alasan

    terapeutik (Amirah, 2010).

    Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010)

    bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor

    predisposisi seperti pengetahuan, ekonomi (pendapatan), hubungan

    sosial (lingkungan, sosial, budaya) dan motivasi, faktor pemungkin

    seperti sarana atau fasilitas kesehatan dan faktor penguat seperti sikap

    dan perilaku petugas kesehatan. Faktor-faktor tersebut harus

    diperhitungkan untuk mengetahui seberapa jauh dapat mempengaruhi

    perilaku kesehatan dalam hal ini penggunaan lensa kontak.

    Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh Winda (2010) di

    fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara, bahwa tingkat

    pengetahuan yang dimiliki pengguna lensa kontak sangat penting

    sebagai prevensi untuk tidak terjadinya komplikasi akibat penggunaan

    lensa kontak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Winda (2010)

  • 4

    bahwasanya pengetahuan responden tentang dasar penggunaan lensa

    kontak pada tingkat pemahaman sedang.

    Para pengguna lensa kontak memiliki alasan meraka masing-

    masing untuk menggunakan lensa kontak seperti untuk koreksi mata

    atau memperindah penampilan (American Academy of Ophthalmology,

    2002-2003). Jika dilihat dari faktor sosial, pengguna lensa kontak yang

    sedang tren sekarang ini secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang

    untuk ikut menggunkan lensa kontak walaupun hanya berfungsi sebagai

    kosmetik saja.

    Situasi ekonomi (pendapatan) akan mempengaruhi seseorang untuk

    menggunakan lensa kontak. Selain itu, Faktor pekerjaan juga

    mempengaruhi seseorang untuk menggunakan lensa kontak. Hal ini

    didasarkan atas kebutuhan mereka akan lensa kontak seperti

    olahragawan yang tidak bisa menggunakan kaca mata (Kharuna, 2007).

    Motivasi juga merupakan salah satu faktor seseorang

    menggunakan lensa kontak. Menurut Terry G (1986) motivasi adalah

    keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang

    mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan, tindakan,

    tingkah laku atau perilaku (Notoatmodjo, 2010).

    Lensa kontak yang digunakan dengan tepat sesuai dengan prosedur

    yang berlaku dapat membawa dampak positif bagi penggunanya, salah

    satunya adalah lensa kontak memungkinkan penggunanya memperoleh

    beberapa keuntungan diantaranya lapang penglihatan yang jauh lebih

  • 5

    baik, terhindar dari kaca mata yang cenderung mengganggu aktivitas

    dan lensa tidak berpengaruh pada perubahan suhu (Ilyas, 2004).

    Dibandingkan dengan kacamata, lensa kontak memiliki kelebihan

    lain, seperti warna dan corak yang lebih bervariasi serta penggunaannya

    yang tidak terpengaruh oleh perubahan suhu sehingga dapat digunakan

    dimanapun dan kapanpun. Musim panas yang kering ataupun musim

    hujan yang berembun tidak mempengaruhi penampilan dan

    kenyamanan seseorang saat menggunakan lensa kontak. Jika

    dibandingkan dengan kacamata maka akan berkabut bila terjadi

    perubahan suhu (Ilyas, 2004).

    Menurut Ibrahim (2007) kehadiran lensa kontak memang banyak

    membantu mereka yang kurang nyaman dengan kaca mata tapi belum

    banyak yang tahu ternyata hal tersebut dapat memicu rusaknya kornea

    mata seperti keratitis. Penggunaan lensa kontak adalah salah satu

    penyebab keratitis yang tertinggi di seluruh dunia terutama pada negara

    maju. Keratitis bisa disebabkan bakteri, parasit, jamur, trauma dan lain-

    lain. Penggunaan lensa kontak dapat mengakibatkan keratitis

    Acanthamoeba, angka kejadiannya sebanyak 95% kasus yang telah

    dilaporkan. Sebelum munculnya populasi yang menggunakan lensa,

    keratitis Acanthamoeba sangat jarang. Pada tahun 2000, diperkirakan

    jumlah pengguna lensa kontak adalah sebanyak 80 milyar (Amirah,

    2010).

    Menurut Verhelst (2006) dalam Ibrahim (2007) studi selama 7

    tahun di Belgia berlangsung dari tahun 1997 sehingga 2003

  • 6

    menunjukkan peningkatan jumah pasien yang dirawat di rumah sakit

    akibat ulser kornea terkait dengan penggunaan lensa kontak (Amirah,

    2010). Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, terlihat setiap minggunya

    memang selalu ada pasien yang masuk dikarenakan keluhan atas

    penggunaan lensa kontak, di perkirakan setiap pasien yang masuk

    dikarenakan hal tersebut sebanyak 20-30 orang bahkan bisa lebih setiap

    minggunya (Fadilawati, 2011).

    Dari uraian beberapa faktor tersebut menggugah ketertarikan

    peneliti untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan

    penggunaan lensa kontak yang marak sekarang ini di kalangan

    masyarakat. Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran dan ilmu

    kesehatan, sudah sewajarnya mampu memberikan pendidikan kesehatan

    bagi masyarakat yang belum mengerti makna dari penggunaan lensa

    kontak seperti indikasi, kontraindikasi, cara perawatan dan hal-hal yang

    harus diperhatikan saat menggunakan lensa kontak sehingga lensa

    kontak digunakan dengan alasan yang tepat sehingga mampu mencegah

    terjadinya resiko gangguan kesehatan mata seperti keratitis.

    B. Rumusan Masalah

    Kita ketahui bersama penggunaan lensa kontak sedang marak di

    jaman modern sekarang ini. Berdasarkan pengamatan peneliti penggunaan

    lensa kontak digunakan karena berbagai tujuan diantaranya untuk

    kebutuhan urgent seperti koreksi mata dan ada pula hanya untuk aksesoris

    saja. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melihat faktor-faktor yang

  • 7

    berhubungan dengan penggunaan lensa kontak pada pasien dengan

    gangguan penglihatan di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, rumusan

    masalahnya adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan

    lensa kontak pada pasien dengan gangguan penglihatan.

    C. Pertanyaan Penelitian

    Melihat rumusan permasalahan diatas, maka yang menjadi pertanyaan

    penelitian adalah:

    1. Apakah ada hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan lensa

    kontak?

    2. Apakah ada hubungan antara pengaruh sosial (lingkungan teman dan

    lingkungan keluarga) dengan penggunaan lensa kontak?

    3. Apakah ada hubungan antara ekonomi (pendapatan) dengan

    penggunaan lensa kontak?

    4. Apakah ada hubungan antara motivasi dengan penggunaan lensa

    kontak?

    D. Tujuan

    1. Tujuan Umum

    Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan

    lensa kontak pada pasien dengan gangguan penglihatan.

    2. Tujuan Khusus

    Mengidentifikasi faktor-fakor yang berhubungan dengan

    penggunaan lensa kontak pada pasien dengan gangguan penglihatan:

  • 8

    a. Hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan lensa kontak

    b. Hubungan antara pengaruh sosial (lingkungan teman dan lingkungan

    keluarga) dengan penggunaan lensa kontak

    c. Hubungan antara ekonomi (pedapatan) dengan penggunaan lensa

    kontak

    d. Hubungan antara motivasi dengan penggunaan lensa kontak

    E. Manfaat penelitian

    1) Bagi Peneliti

    Peneliti mendapatkan pengalaman dalam proses belajar- mengajar

    khususnya dalam bidang metodologi penelitian dan memambah

    wawasan ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan

    dengan penggunaan lensa kontak pada pasien dengan gangguan

    penglihatan, salah satu faktornya yaitu tingkat pengetahuan, dimana

    sangat penting untuk perawatan lensa kontak agar terhindar dari resiko

    gangguan kesehatan mata.

    2) Bagi Tenaga Kesehatan Keperawatan

    Untuk memperkaya kajian-kajian dalam ilmu kesehatan khusunya

    bidang oftalmologi, khusunya bagi profesi keperawatan agar dapat

    mengembangkan teori-teori yang telah ada. Selain itu, bisa digunakan

    untuk memberikan dasar pertimbangan kepada tenaga kesehatan dalam

    pemberian pelayanan.

  • 9

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Perilaku

    1. Pengertian Perilaku

    Margono (1988, dalam Aselmahumka,2009) mengemukakan

    bahwa perilaku terdiri dari tiga domain yang meliputi: domain perilaku

    pengetahuan (knowing behavior), domain perilaku sikap (feeling

    behavior), dan domain perilaku keterampilan (doing behavior).

    Sedangkan (Green 1984, dalam Notoatmodjo, 2003) menganalisis

    perilaku manusia dari tingkat kesehatan.

    Robbins (1993, dalam Denovoidea, 2009) mengemukakan bahwa

    perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan, yaitu perilaku pada

    umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai tujuan

    tertentu. Tujuan spesifik tersebut tidak selalu diketahui secara sadar

    oleh indivdu yang bersangkutan. Freud adalah orang pertama yang

    memahami pentingnya motivasi dibawah sadar (subconscious

    motivation). Freud beranggapan bahwa manusia tidak selalu menyadari

    tentang segala sesuatu yang diinginkan mereka hingga sebagian besar

    perilaku mereka dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan dibawah sadar.

    Maka oleh karenanya, sering kali hanya sebagian kecil dari motivasi

    jelas terlihat atau disadari oleh orang yang bersangkutan.

    Selanjutnya menurut Notoatmodjo (2003) perilaku itu sendiri

    ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu:

  • 10

    a. Faktor-faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,

    kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

    b. Faktor-faktor pendukung, yang terwujud dalam lingkungan fisik,

    tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana

    kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi,

    jamban dan sebagainya.

    c. Faktor-faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku

    petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan

    kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

    2. Tiga Domain Perilaku

    a. Pengetahuan

    1) Pengertian Pengetahuan

    Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi melalui

    panca indera seseorang (penginderaan) terhadap suatu obyek

    tertentu, yaitu melalui indera penglihatan, pendengaran,

    penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia

    diperoleh melalui mata dan telinga. Oleh karena itu pengetahuan

    merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

    perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003).

    2) Tingkat Pengetahuan

    Ada 6 tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain

    kognitif, yakni:

  • 11

    a) Tahu (know)

    Diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari

    sebelumnya. Seperti mengingat kembali (recall) terhadap

    sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang telah

    dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

    b) Memahami (comprehension)

    Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

    secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

    menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

    c) Menerapkan (application)

    Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

    materi yang telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya.

    d) Analysis (analisis)

    Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

    obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam

    suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama

    lainnya.

    e) Sintesa (synthesis)

    Menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

    atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

    keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah

    kemampuan untuk menyususn formulasi-formulasi yang ada.

  • 12

    f) Evaluasi (evaluation)

    Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

    melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau

    materi.

    3) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

    Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat

    dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

    a) Pengalaman

    Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri

    maupun orang lain.

    b) Tingkat Pendidikan

    Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan

    seseorang.

    c) Keyakinan

    Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan

    tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa

    mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu

    sifatnya positif maupun negatif.

    d) Fasilitas

    Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat

    mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio,

    televise, majalah, koran, dan buku.

  • 13

    e) Penghasilan

    Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap

    pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan

    cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau

    membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi.

    f) Sosial Budaya

    Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat

    mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang

    terhadap sesuatu.

    4) Pengukuran Pengetahuan

    Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

    wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang

    ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman

    pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat

    disesuaikan dengan tingkatan domain diatas.

    b. Sikap

    1) Pengertian Sikap

    Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap

    dirinya sendiri, orang lain, obyek, atau issue (Petty & Cocopio,

    1986, dalam Azwar 2000, dalam Creasoft 2008).

    2) Komponen Sikap

    Menurut Azwar (2000) sikap terdiri atas 3 komponen yang

    saling menunjang yaitu:

  • 14

    a) Komponen kognitif

    b) Komponen afektif

    c) Komponen konatif

    3) Tingkatan Sikap

    a) Menerima

    b) Merespon (responding)

    c) Menghargai (valuing)

    d) Bertanggung jawab (responsible)

    c. Praktek/Tindakan

    Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan

    (overt behavior), hal ini diperlukan faktor pendukung atau suatu

    kondisi yang memungkinkan terwujudnya suatu tindakan,

    diantaranya adalah faktor dukungan dari pihak lain. Beberapa

    tingkatan dalam praktek antara lain:

    1. Persepsi (perception), merupakan praktek pada tingkat pertama.

    Pada tingkat ini individu mampu mengenal dan memilih berbagai

    objek terkait dengan tindakan yang akan diambil.

    2. Respon terpimpin (guide response), indikator pada tingkat ini

    adalah individu mampu melakukan sesuatu dengan urutan yang

    benar.

    3. Mekanisme (mechanism), pada tingkat ini individu sudah

    menjadikan suatu tindakan yang benar menjadi suatu kebiasaan.

  • 15

    4. Adopsi (adoption), individu sudah mampu memodifikasi suatu

    tindakan tanpa mengurangi nilai kebenaran dari tindakan tersebut.

    Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung dengan

    cara wawancara terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh

    individu sebelumnya, dan secara langsung dengan mengobservasi

    tindakan atau kegiatan individu tersebut (Notoatmodjo, 2003)

    B. Teori Mengenai Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku

    Dalam proses pembentukan dan perubahannya, perilaku

    dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor yang berasal dari

    dalam dan faktor dari luar individu itu sendiri (faktor internal dan faktor

    eksternal) (Notoatmodjo, 1997).

    Faktor intern mencakup:pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi,

    motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari

    luar, sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik

    maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial ekonomi, kebudayaan, dan

    lain sebagainya. Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam diri

    seseorang dapat diketahui melalui:

    a. Persepsi, yaitu pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera, setiap

    orang mempunyai persepsi yang berbeda walupun mengamati objek

    yang sama.

    b. Motivasi, yaitu suatu dorongan untuk bertindak suatu tujuan juga dapat

    terwujud dalam bentuk perilaku.

  • 16

    c. Emosi, aspek psikologi yang mempengaruhi emosi berhubungan erat

    dengan keadaan jasmani, pada hakikatnya merupakan faktor bawaan

    (keturunan).

    Perilaku terjadi diawali dengan adanya pengalaman-pengalaman

    seseorang serta faktor-faktor diluar orang tersebut (lingkungan) baik fisik

    maupun nonfisik. Kemudian pengalaman dan lingkungan tersebut

    diketahui, dipersepsikan, diyakini, dan sebagainya sehingga menimbulkan

    motivasi, niat untuk bertindak, dan akhirnya terjadilah perwujudan niat

    tersebut yang berupa perilaku.

    Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan (knowledge) adalah

    hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

    terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera

    manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

    raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

    telinga.

    Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori,

    yaitu:

    a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari

    seluruh petanyaan

    b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari

    seluruh pertanyaan

    c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari

    seluruh pertanyaan

  • 17

    Pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon

    terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang dengan pendidikan tinggi

    akan memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang

    dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang mugkin akan mereka

    peroleh dari menggunakan lensa kontak.

    Pada status ekonomi dalam keluarga mempengaruhi daya beli

    keluarga dalam memenuhi kebutuhan baik kebutuhan primer, sekunder

    ataupun tersier. Semakin tinggi pendapatan keluarga akan lebih mudah

    tercukupi kebutuhan sekunnder atau tersiernya dibanding dengan status

    ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan pada

    keluarga.

    Pada hubungan sosial (lingkungan, sosial, budaya), manusia adalah

    makhluk sosial dimana kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan

    yang lain. Keluarga dan lingkungan teman sekitar yang berinteraksi secara

    langsung akan lebih besar terpapar informasi. Sehingga lingkungan sekitar

    mempengaruhi untuk menggunakan lensa kontak.

    Selanjutnya, motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri

    seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan

    tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi menurut penyebabnya

    dibagi menjadi motivasi instrinsik (tanpa adanya rangsangan dari luar) dan

    motivasi ekstrinsik (adanya rangsangan dari luar).

  • 18

    1. Teori Lawrence Green (1980)

    Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010)

    bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor

    predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat.

    a. Faktor predisposisi (predisposing factors)

    Faktor predisposisi yaitu faktor-faktor yang mempermudah

    atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang meliputi

    pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi dan

    sebagainya.

    b. Faktor pemungkin (enabling factors)

    Faktor pemungkin adalah faktor-faktor yang memungkinkan

    atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Yang dimaksud

    dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas

    untuk terjadinya perilaku kesehatan. Faktor pemungkin terwujud

    dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-

    fasilitas atau sarana-saran kesehatan. Fasilitas fisik seperti

    puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi dan sebagainya

    (Notoatmodjo, 2010).

    c. Faktor penguat (reinforcing factors)

    Faktor penguat adalah faktor-faktor yang mendorong atau

    memperkuat terjadinya perilaku. Faktor penguat ini terwujud dalam

    sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang

    merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat

    (Notoatmodjo, 2010). Karenanya, petugas kesehatan harus memiliki

  • 19

    sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Selain

    itu perilaku tokoh masyarakat juga dapat menjadi panutan orang lain

    untuk berperilaku sehat.

    2. Teori Snehandu B.Kar (1980)

    Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitilk tolak bahwa

    perilaku merupakan fungsi dari (Notoatmodjo, 2010):

    a. Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan

    objek atau stimulus diluar dirinya (behavior intention).

    b. Adanya dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social

    support).

    c. Adanya atau tidak adanya informasi-informasi terkait dengan

    tindakan yang akan diambil oleh seseorang (accesebility of

    information).

    d. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil

    tindakan atau keputusan (personal autonomy).

    e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

    3. Teori WHO (1984)

    WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang

    berperilaku tertentu adalah karena adanya 4 alasan pokok :

    a. Pemikiran dan perasaan (thoughts and feeling), yaitu dalam bentuk

    pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang

    terhadap objek (objek kesehatan).

  • 20

    1) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman

    orang lain.

    2) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau

    nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan

    dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

    3) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap

    objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang

    lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau

    menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap

    tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu

    tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh

    tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti

    atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau

    sedikitnya pengalaman seseorang.

    b. Tokoh penting sebagai panutan. Apabila seseorang itu penting

    untuknya, maka apa yang ia katakana atau perbuat cenderung untuk

    dicontoh.

    c. Sumber-sumber daya (resource), mencakup fasilitas, uang, waktu,

    tenaga dan sebagainya.

    d. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-

    sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola

    hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan.

    Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu

  • 21

    berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradaban umat

    manusia (Notoatmodjo, 2010).

    4. Penelitian Terkait

    Peneliti menemukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan

    topik yang akan diteliti.

    a. Penelitian yang dilakukan oleh Finera Winda tahun 2010 berjudul

    Tingkat Pengetahuan Pengguna Lensa Kontak Terhadap Dampak

    Negatif Penggunaannya Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

    USU Angkatan 2007-2009. Hasil penelitian menunjukkan

    mayoritas tingkat pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran

    USU pengguna lensa kontak terhadap dampak negatif

    penggunaannya berada pada kategori sedang.

    b. Penelitian yang dilakukan oleh Fatin Amirah Kamaruddin tahun

    2010 berjudul Gambaran Penggunaan Lensa Kontak Pada

    Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU dan Kemungkinan

    Terjadinya Keratitis. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar

    yaitu sebanyak 90% mempunyai kemungkinan resiko rendah untuk

    terkena keratitis dengan mengamalkan pemakaian lensa kontak

    yang baik dari segi jenis, cara penggunaan dan cara perawatan

    lensa kontak. Sebanyak 20% mahasiswa mempunyai kemungkinan

    resiko keratitis sedang kerana mengamalkan cara pemakaian lensa

    kontak yang kurang baik.

  • 22

    C. Lensa Kontak

    1. Definisi Lensa Kontak

    Lensa kontak adalah lensa yang menempel pada mata atau selaput

    bening yang dipergunakan seseorang dengan gangguan penglihatan

    untuk memperbaiki penglihatannya. Pada mata tidak dipergunakan kaca

    mata akan tetapi lensa yang diatur kelengkungannya sehingga dapat

    menempel pada selaput bening (Ilyas, 2004).

    2. Indikasi dan Kontraindikasi Pengguna Lensa Kontak

    Seseorang yang menggunakan lensa kontak sebaiknya seseorang

    yang sukar menggunakan kaca mata dan seseorang yang mendapat

    kesukaran dengan ukuran lensa kaca mata yang berbeda sehingga

    mengeluh pusing (Ilyas, 2004).

    Menurut Kharuna (2007),indikasi-indikasi pengguna lensa kontak

    adalah sebagai berikut:

    a. Indikasi optik, termasuk untuk anisometropia, aphakia unilateral,

    myopia yang berminus tinggi, keratokonus dan astigmatisma

    irreguler. Lensa kontak dapat digunakan oleh setiap orang yang

    memiliki kelainan refraksi mata dengan tujuan kosmetik.

    b. Indikasi terapeutik, yang meliputi:

    1) Penyakit pada kornea, contohnya ulkus kornea non-healing,

    keratopathi bullousa, keratitis filamentari, dan sindrom erosi

    kornea yang rekuren.

  • 23

    2) Penyakit pada iris mata, contohnya aniridia, koloboma, albino

    untuk menghindari kesilauan cahaya.

    3) Pada pasien glukoma, lensa kontak digunakan sebagai alat

    pengantar obat.

    4) Pada pasien ambliopia, lensa kontak opak digunakan untuk

    oklusi.

    5) Bandage soft contact lenses digunakan untuk keratoplasti dan

    perforasi mikrokornea.

    c. Indikasi preventif, digunakan untuk prevensi simblefaron dan

    restorasi forniks pada penderita luka bakar akibat zat kimia, keratitis,

    dan trichiasis.

    d. Indikasi diagnostik, termasuk selama menggunakan gonioskopi,

    elektroretinografi, pemeriksaan fundus pada astigmatisma irreguler,

    fundus fotografi, dan pemeriksaan goldmanns 3 bayangan.

    e. Indikasi operasi, lensa kontak digunakan selama operasi goniotomi

    untuk glukoma kongenital, vitrektomi, fotokoagulasi endokular.

    f. Indikasi kosmetik, termasuk skar pada kornea mata yang

    menyilaukan mata (lensa kontak warna), ptosis, lensa sklera

    kosmetik pada phthisis bulbi.

    g. Indikasi occupational, termasuk olahragawan, pilot, dan aktor

    (Kharuna, 2007).

    Seseorang yang tidak dianjurkan menggunakan lensa kontak yaitu

    lansia dimana gerakan sudah kaku, pada mata yang meradang, masih

    belum dewasa dan ingin mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa,

  • 24

    seseorang yang mempunyai kebiasaan menggosok mata, seseorang

    yang tidak mengerti artinya steril, seseorang yang memiliki reumatik

    pada tangan karena akan sulit saat menggunakan lensa kontak dan

    seseorang dengan bakat alergi (Ilyas, 2004).

    Menurut Kharuna (2007) Pengguanaan lensa kontak

    dikontraindikasikan pada orang yang memiliki gangguan mental dan

    tidak ada gairah hidup, blepharitis kronik dan styes rekuren,

    konjungtivitis kronis, dry-eye syndrome, distrofi dan degenarasi kornea

    mata, penyakit yang rekuren seperti episkleritis, skleritis, dan

    iridocyclitis.

    3. Klasifikasi Lensa Kontak

    Lensa kontak terdiri dari berbagai bentuk antara lain lensa kontak

    lembut, lensa kontak keras dan lensa kontak gas permeable. Lensa

    kontak lembut terbuat dari pada bahan yang lebih lembut. Lensa ini

    terbuat dari hidroksi etil meta krilat (HEMA), EDMA, PVP, bersifat

    sangat lentur yang memberikan lebih sedikit keluhan pada

    penggunaannya karena mudah mengikuti bentuk permukaan kornea.

    Lensa kontak lembut dipakai untuk pengobatan seperti cedera mata

    akibat bahan kimia dan pada selaput bening yang cacat karena sifatnya

    yang lentur, mengandung banyak air, baik untuk astigmat irregular,

    edema kornea atau keratitis bulosa, erosi rekuren, trauma kimia, dan

    perforasi kecil kornea. Lensa kontak lembut dapat mengakibatkan

    penglihatan tidak sempurna seperti lensa kontak keras, ongkos yang

  • 25

    lebih besar akibat penyimpanannya yang steril dan pada lensa lembut

    dapat tertimbun lemak (Ilyas, 2004).

    Lensa kontak keras terbuat dari bahan polimetilmetakrilat

    (PMMA) dengan bentuk yang disesuaikan kelengkungannya dengan

    permukaan selaput bening mata. Ukuran atau penampang lensa ini lebih

    kecil dari pada penampang selaput bening untuk memudahkan zat asam

    masuk ke dalam selaput bening yang ditutupnya. Lensa ini memenuhi

    seluruh syarat lensa kontak akan tetapi dengan daya tembus gas

    terutama oksigen yang buruk. Lensa kontak gas permeable terbuat dari

    akrilat dan silicon yang mempunyai daya serap gas terbaik (Ilyas,

    2004).

    Tabel 2.1 Keuntungan dan kerugian dari masing-masing jenis lensa

    kontak

    Bentuk Lensa Keuntungan Kerugian

    Lensa kontak

    keras

    Tajam penglihatan

    yang lebih baik dari

    pada lensa kontak

    lembut

    Astigmat ringan akan

    dapat hilang akibat

    permukaan selaput

    bening yang

    melengkung ditutup

    oleh lensa kontak keras

    Tidak dapat dipakai

    lebih dari 12 jam karena

    zat asam tidak dapat

    melaluinya

    Pada pemulaan

    penggunaan akan

    sangat terasa

    mengganggu

    Untuk merasa nyaman

    memerlukan waktu

  • 26

    Lensa kontak keras

    bersifat netral dan tidak

    menimbulkan reaksi

    alergi terhadap jaringan

    mata

    sampai beberapa

    minggu

    Dapat mengakibatkan

    penurunan kerentanan

    selaput bening

    Lensa kontak

    lembut

    Penggunaannya akan

    dapat menyesuaikan

    diri akibat tidak begitu

    terasa pada permulaan

    penggunaannya

    Lensa kontak lembut

    ada yang dapat

    dipergunakan lebiih

    dari 12 jam akibat lensa

    kontak lembut dapat

    dilalui zat asam

    Astigmat atau silinder

    tidak dapat diimbangi

    lensa kontak lembut,

    karena ia mengikuti

    permukaan selaput

    bening yang lonjong

    Lensa kontak lembut

    akan memberikan

    penglihatan tidak

    setajam penglihatan

    dengan lensa kontak

    keras karena ia banyak

    mengandung air dan

    mudah dilalui zat asam

    Lensa kontak lembut

    mudah terinfeksi dan

    kotor sehingga perlu

    sering dibersihkan

    Pelarut lensa kontak

  • 27

    lembut dapat

    merupakan bahan yang

    merangsang mata

    sehingga menimbulkan

    reaksi alergi

    Infeksi selaput bening

    bagi pengguna lensa

    kontak dapat berakibat

    kebutaan

    Lensa kontak lembut

    pakai lama (extended)

    memperbesar resiko

    untuk timbulnya infeksi

    pseudomonas.

    Pseudomonas

    merupakan kuman yang

    berbahaya dan dapat

    berkembang biak pada

    lensa kontak dan pelarut

    lensa kontak.

    Sumber: (Ilyas, 2004)

    Lensa kontak memiliki keuntungan bagi para penggunanya

    yaitu wajah terlihat wajah asli, kaca mata berat terhindar, lapang

    penglihatan akan lebih baik, dapat dipakai saat berolahraga kecuali renang,

  • 28

    dan kaca mata akan berkabut bila terjadi perubahan suhu, dan hal ini tidak

    akan terjadi pada lensa kontak lembut (Ilyas, 2004).

    4. Teknik Penggunaan Lensa Kontak Yang Aman

    Rekomendasi bagi para pengguna lensa kontak terkait hal-hal apa

    saja yang harus dilakukan dan di hindari agar penggunaannya menjadi

    bersih dan aman dari American Optometric Association antara lain:

    a. Temui dokter ahli mata untuk mendapatkan lensa kontak yang sesuai

    dan layak.

    b. Selalu cuci tangan sebelum menyentuh lensa kontak.

    c. Bersihkan lensa kontak secara rutin. Usap lensa kontak dengan jari

    dan bilas dengan cairan pembersih sebelum menyimpan lensa kontak

    dalam wadah yang sudah diisi cairan pembersih.

    d. Simpan wadah lensa kontak di tempat yang lembab dan terlindung

    dari sengatan sinar matahari langsung. Ganti wadah penyimpan

    setiap tiga bulan sekali.

    e. Untuk menyimpan lensa kontak, gunakan cairan yang masih baru.

    Jangan menggunakan cairan yang sudah dipakai walaupun masih

    terlihat bening. Cairan pembersih dan penyimpan lensa kontak harus

    diganti setiap hari meskipun lensa kontaknya sendiri tidak dipakai

    setiap hari.

    f. Selalu patuhi jadwal penggantian lensa kontak sesuai resep dokter.

    g. Lepaskan lensa kontak sebelum berenang atau berendam air panas.

    h. Temui dokter mata secara rutin untuk melakukan pemeriksaan ulang.

  • 29

    Ketika menggunakan atau membersihkan lensa kontak:

    1) Jangan pernah menaruh lensa kontak dalam mulut atau

    membasahi mereka dengan air liur, yang penuh dengan bakteri

    dan potensi sumber infeksi.

    2) Jangan menggunakan air keran atau larutan saline buatan sendiri.

    Penyalahgunaan solusi telah dikaitkan dengan suatu kondisi yang

    berpotensi menyilaukan pengguna soft lens.

    3) Jangan gunakan lensa kontak yang tidak diresepkan oleh seorang

    dokter mata. Menggunakan lensa kontak bukan merupakan

    pilihan bagi semua orang, berkonsultasi dengan dokter mata

    untuk melihat apakah lensa kontak adalah pilihan yang tepat

    untuk koreksi penglihatan.

    5. Bentuk- Bentuk Risiko Gangguan Kesehatan Mata Akibat Lensa

    Kontak

    Resiko dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu internal risk dan

    external risk (Flanagan & Norman, 1993 dalam Universitas Kristen

    Petra, 2006). Internal risk merupakan resiko yang berasal dari dalam

    misalnya pengetahuan dan motivasi seseorang terkait penggunaan dan

    perawatan lensa kontak. Sedangkan external risk berasal dari faktor luar

    misalnya fasilitas informasi tentang lensa kontak dan kondisi social

    budaya dari pengguna lensa kontak.

    a. Kelopak mata

  • 30

    1) Giant papillary conjunctivitis (GPC) adalah komplikasi yang

    tersering timbul akibat penggunaan soft lens. Ini timbul akibat

    salah satu dari 3 faktor yaitu peningkatan frekuensi penggunaan

    lensa, penurunan lama penggunaan lensa kontak, perubahan

    larutan pembersih yang kuat. Untuk lensa RGP, ia mudah

    berpindah dari kornea ke forniks atas. Jika tidak dapat dideteksi,

    maka lensa akan mengikis forniks melewati konjungtiva dan

    membawanya ke dalam jaringan yang lembut di kelopak mata,

    dan akan menimbulkan gejala yang relatif asimptomatik.

    Akibatnya, jaringan yang disekitar lensa kontak akan mengalami

    iritasi dan inflamasi, dan menimbulkan abses yang steril. Lensa

    yang dianggap sebagai benda asing akan terbentuk jaringan

    granulasi disekitar lensa, dan membungkusnya seperti bentuk

    kista.

    2) Ptosis, ini timbul akibat adanya massa pada lensa, skar, jaringan

    fibrosa di kelopak mata. Lensa kontak yang menempel pada

    kornea mata juga akan membentuk skar dan kontraksi pada

    jaringan kelopak mata yang mengakibatkan retraksi pada

    kelopak mata. Ptosis juga dapat timbul akibat dari giant

    papillary conjunctivitis yang berat.

    b. Konjungtiva

    1) Alergi kontak merupakan reaksi hipersensitivitas dermatitis

    kontak akibat dari zat-zat kimia host yang didapati dari larutan

    lensa kontak. Manifestasi klinisnya adalah rasa gatal yang

  • 31

    diikuti dengan adanya injeksi, rasa terbakar, merah, berair,

    secret mukoid, dan chemosis. Sebagai tambahan kelopak mata

    bisa edema dan eritema.

    2) GPC, rata-rata 1-3% pengguna lensa kontak akan mendapatkan

    simptom GPC yang kompleks, terdiri dari injeksi konjungtiva,

    sekret mukoid, gatal, debris pada tear film, lapisan lensa,

    pandangan kabur, dan pergerakan lensa yang berlebihan.

    3) Contact lens-induced superior limbic keratoconjunctivits (CL-

    ISLK) merupakan suatu reaksi imun pada konjungtiva perifer.

    Manifestasi klinisnya adalah penebalan konjungtiva, eritema,

    dan timbul berbagai warna pada konjungtiva bulbaris superior.

    Sel epitelium keratinisasi akan berisi banyak sel-sel goblet yang

    diinvasi oleh neutrofil. Akibatnya akan terasa seperti ada benda

    asing, fotofobia, berair, rasa terbakar, gatal, dan penurunan

    akuitas visual.

    c. Epitelium kornea

    1) Kerusakan epitel yang mekanik. Lensa kontak merupakan banda

    asing yang akan menggosok kornea dan menekan epitel kornea

    setiap mengedipkan mata sepanjang hari dan menimbulkan

    abrasi kornea. Jika tidak dikenali dan diobati akan

    mengakibatkan stres pada epitel yang kronis. Kerusakan epitel

    akan memudahkan bakteri menempel pada kornea dan

    mengakibatkan infeksi stroma, serta menstimulus sub-epitel

    fibrosa tanpa adanya infeksi.

  • 32

    2) Chemical epithelial defect. Berbagai larutan kimia lensa kontak

    akan menimbulkan kerusakan epitel ditandai dengan adanya

    erosi. Larutan pembersih surfaktan biasanya akan menyebabkan

    nyeri, merah, fotopobia, dan berair, segera setelah

    dibersihkannya lensa. Gejala ini akan hilang dalam 1-2 hari. Jika

    hidroksi peroksida diteteskan ke mata, maka akan timbul

    gelembung-gelembung gas pada intra-epitel dan sub-epitel.

    Gelembung ini terlihat dan menyebabkan hilangnya penglihatan

    secara signifikan yang bersifat temporer, dan hidroksi peroksida

    juga menyebabkan perubahan refraksi permanen dan larutan

    desinfeksi kimia dapat merusak epitel yang tidak terlihat dan

    bersifat intermiten.

    3) Hypoxia. Kebutuhan oksigen di kornea mata dipengaruhi karena

    lapisan lensa kontak mengurangi jumlah oksigen yang masuk.

    Hipoksia yang ringan mengakibatkan edema epitel dan

    penglihatan kabur yang temporer, sedangkan hipoksia berat

    akan terjadi kematian sel-sel epitel dan deskuamasi. Pengguna

    tidak merasa nyaman, penurunan penglihatan temporer, dan

    fotopobia. Salah satu tanda hipoksia kornea kronis adalah

    adanya neovaskularisasi superfisial terutama sepanjang limbus

    superior. Epitel kornea yang lebih tipis dibandingkan lensa

    kontak menyebabkan hipoksia yang kronis dan menurunkan

    aktivitas mitosis. Pembentukan sel-sel epitel menurun,

  • 33

    ukurannya membesar, dan memudahkan menempelnya

    Pseudomonas aeruginosa pada permukaan sel epitel.

    4) Reaksi imun superfisial. Variasi larutan lensa kontak dapat

    menimbulkan toksik superfisial atau reaksi imun. Ditandai

    dengan adanya keratophati, injeksi konjungtiva, berair, gatal,

    dan chemosis.

    d. Stroma kornea

    1) Infiltrat steril. Penggunaan lensa kontak akan menginduksi

    terjadinya keratitis steril, dengan onset adanya infiltrat pada

    stroma anterior atau leukosit polimorfonuklear di sub-epitel dan

    sel mononuklear di perifer kornea secara tiba-tiba. Berdiameter

    0,1-2 mm, tunggal atau berkelompok, dengan bentuk bulat, oval,

    dan menempel pada sel epitel yang menyebabkan kerusakan

    epitel. Manifestasi klinisnya adalah nyeri ringan, inflamasi pada

    anterior chamber yang minim, kerusakan epitel, kemudian

    terbentuk ulkus.

    2) Infeksi kornea (keratitis). Disebabkan oleh bakteri, jamur,

    protozoa (acanthamoeba keratitis). Infeksi bakteri biasanya

    timbul di kelopak mata dan kelenjar air mata. Penggunaan lensa

    kontak mengganggu pertukaran air mata, sehingga air mata

    terkumpul di kornea mata. Selain itu, ketebalan epitel menurun,

    pergantian sel menurun dan terjadi deskuamasi, sehingga

    meningkatkan risiko infeksi bakteri pada sel epitel. Gejala awal

    tidak begitu kelihatan, tetapi gejala yang mungkin ada seperti

  • 34

    berair dan sedikit sulit mengedipkan mata. Bakteri yang sering

    menimbulkan infeksi kornea mata adalah P. aeruginosa,

    Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Infeksi

    ini biasanya berasal dari larutan lensa kontak yang

    terkontaminasi. Infeksi bakteri yang akut biasanya terjadi dalam

    waktu 24 jam dengan simptom nyeri, fotopobia, berair, sekret

    purulen, dan penurunan penglihatan. Awalnya infiltrat stroma

    berwarna putih kekuningan yang berkembang di bawah sel

    epitel yang rusak diikuti adanya reaksi di anterior chamber dan

    injeksi konjungtiva. Setelah itu, berkembang menjadi edema

    epitel kemudian menjadi nekrosis. Dilaporkan di United State

    dan Netherland, bahwa infeksi kornea mata memiliki risiko

    yang paling sering ditimbulkan akibat penggunaan lensa kontak

    dalam 2 dekade terakhir ini.

    3) Acanthamoeba keratitis merupakan infeksi yang sulit untuk

    diterapi. Sumber infeksi ini berasal dari larutan lensa kontak,

    dimana tempat larutan tersebut telah terkontaminasi oleh

    acanthamoeba. Manifestasi klinis awal yang timbul adalah

    adanya sensasi benda asing, penglihatan kabur yang ringan, dan

    merah. Kemudian diikuti rasa nyeri yang progresif, injeksi

    konjungtiva, epitelnya kasar, dan pada pemeriksaan dengan

    senter terlihat adanya penebalan saraf-saraf kornea mata. Infeksi

    ini bersifat progresif, berat, dan bentuk infiltratnya seperti cincin

    di sentral.

  • 35

    4) Mata merah akut (tight lens syndrome). Lensa kontak dapat

    menebalkan mata dan sebagai tanda adanya inflamasi stroma

    difus dan reaksi pada anterior chamber. Manifestasi klinisnya

    adalah rasa nyeri, fotopobia, injeksi, dan berair baik akut

    maupun kronik.

    5) Kikisan kornea mata (corneal warpage). Selama menggunakan

    lensa kontak akan terjadi perubahan kontur kornea. Corneal

    warpage menyebabkan astigmatisma irreguler, dan ini dapat

    dikoreksi dengan menggunakan kacamata.

    6) Contact lens-induced keratoconus. Hubungan antara

    keratokonus dengan lensa kontak masih kontroversi. Persentasi

    yang tinggi (20-30%) penderita keratokonus didiagnosis akibat

    dari penggunaan lensa kontak, tetapi bagaimanapun tidak ada

    penyebab yang berhubungan langsung dengan penyakit tersebut.

    e. Endotel kornea mata

    Penggunaan lensa kontak juga berhubungan dengan endotel

    kornea mata. Pengguna memiliki variasi ukuran sel endotel

    (polymegethism) dan peningkatan frekuensi sel non-heksagonal

    (polymorphism) lebih tinggi daripada yang menggunakan lensa

    kontak (Ventocilla, 2010).

    Infeksi dan iritasi pada mata dapat disebabkan oleh beberapa

    faktor resiko. Chang,Daly, dan Elliot (2006) menyebutkan bahwa

    faktor resiko tersebut yakni:

    1) Kelompok usia ekstrim

  • 36

    2) Kerusakan intengritas jaringan

    3) Potensial mengidap penyakit tertentu

    4) Immunosupresi

    5) Terdapat aspek pengobatan atau prosedur tertentu (tindakan

    invasif, operasi, dll)

    6) Penggunaan antibiotik

    Berdasarkan hasil penjabaran faktor resiko gangguan mata

    diatas, jika dikaitkan dengan penggunaan dan perawatan lensa

    kontak, maka dapat diringkas sebagai berikut:

    1) Pengetahuan

    Pengetahuan yang domain kognitif yang mempengaruhi

    perilaku seseorang. Pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat

    menghasilkan persepsi dan motivasi terhadap perilaku. Oleh

    karena itu, seseorang dengan pengetahuan tertentu secara tidak

    langsung akan melakukan tindakan yang sesuai dengan apa yang

    diketahuinya. Pengetahuan mengenai perawatan lensa kontak

    akan membentuk perilaku seseorang dalam menggunakan dan

    merawat lensa kontak yang pada akhirnya akan berdampak pada

    kesehatan mata.

    2) Motivasi

    Motivasi adalah konsep yang dipakai untuk menguraikan

    keadaan yang menstimulasi perilaku tertentu dan respon instrinsik

    yang ditampilkan sebagai perilaku (Swansburg, 2000). Motivasi

  • 37

    menjadi hal penting untuk menghasilkan keinginan pada diri

    seseorang yang mempengaruhi perilaku dalam merawat lensa

    kontak. Motivasi dapat mendukung seseorang untuk melakukan

    perawatan lensa kontak sesuai prosedur. Motivasi juga

    mempengaruhi seseorang untuk selalu menjaga kesehatan mata.

    3) Usia ekstrim

    Masa usia ekstrim meliputi terlalu muda dan usia terlalu

    tua. Pada masa ini, seseorang memiliki kerentanan tubuh yang

    memudahkan agen penyakit dan radikal bebas menyerang system

    tubuh. Lansia, bayi, dan toddler merupakan kelompok masa usia

    ekstrim. Ketidakmaturan dan penuaan sel menyebabkan

    penurunan fungsi tubuh terhadap tahanan penyakit atau radikal

    bebas. Oleh karena itu, pada masa usia ini seseorang akan dengan

    mudah terserang penyakit dibandingkan dengan usia menengah.

    Lansia memiliki resiko lebih tinggi terhadap serangan penyakit

    sesuai dengan imunitas yang dikemukan oleh Stanley & Beare

    (2007), ketika orag bertambah tua, pertahanan mereka terhadap

    organisme asing mengalami penurunan sehingga mereka lebih

    rentan untuk menderita berbagai penyakit. Begitupun bayi dan

    toddler memiliki kerentanan terhadap penyakit karena

    immaturitas sistem tubuh terutama sistem immun menurut

    Whaley & Wong (1995) dalam Potter & Perry (2005) kelompok

    usia bayi adalah lahir-12 bulan atau 18 bulan, toddler 1-3 tahun.

    Sedangkan kelompok usia lansia menurut Departemen Kesehatan

  • 38

    RI (2003) terbagi menjadi tiga, yaitu pra usia lanjut (45-59 tahun),

    usia lanjut (60-69 tahun), usia lanjut resiko tinggi (lebih dari 70

    tahun atau usia lanjut berumur 60 tahun atau lebih dengan

    masalah kesehatan)

    4) Status kesehatan

    Kondisi kesehatan sangat mempengaruhi fungsi sistem

    tubuh. Penyakit yang tengah dialami seseorang baik kronik

    ataupun akut secara bertahap meyebabkan penurunan dan

    kelemahan pada organ yang terkena penyakit, organ-organ sekitar

    yang terkena penyakit, bahkan kekebalan tubuh namun demikian

    terdapat faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan.

    Menurut definisi penyakit lingkungan yang dikemukakan oleh

    Pringgoutomo, Himawan, & Tjarta (2002) bahwa penyakit

    lingkungan merupakan penyakit yang terjadiakibat interaksi

    manusia dengan lingkunganya berikut merupakan kondisi yang

    mempengaruhi status kesehatan seseorang:

    a) Potensial mengidap penyakit

    b) Immunosupresi

    c) Kerusakan integritas jaringan mata

    D. Gangguan Penglihatan dan Mata

    Mata dapat terkena berbagai kondisi, beberapa diantaranya bersifat

    primer sedang yang lain sekunder akibat kelainan pada system organ tubuh

    lain. Kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah, lainnya apabila

  • 39

    terdeteksi awal dapat dikontrol, dan penglihatan dapat dipertahankan

    (Brunner & Suddarth, 2001). Berikut ini adalah kelainan oftalmik serta

    penatalaksanaannya yang sering dijumpai.

    1. Gangguan Kornea

    a. Mipoia

    Definisi

    Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan

    difokuskan di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi

    berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan pada kondisi refraktif

    dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek yang masuk pada mata

    akan jatuh di depan retina, tanpa akomodasi. Miopia berasal dari

    bahasa Yunani muopia yang memiliki arti menutup mata. Miopia

    merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya

    adalah nearsightedness (American Optometric Association, 2006).

    Miopia adalah keadaan pada mata dimana cahaya atau benda yang

    jauh letaknya jatuh atau difokuskan didepan retina. Supaya objek

    atau benda jauh tersebut dapat terlihat jelas atau jatuh tepat di retina

    diperlukan kaca mata minus (Rini, 2004).

    Miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh merupakan jenis

    kerusakan mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang

    terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu cekung

    (Sidarta, 2007).

    Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan

    pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang

  • 40

    dibiaskan di depan retina (bintik kuning). Pada miopia, titik fokus

    sistem optik media penglihatan terletak di depan makula lutea. Hal

    ini dapat disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu kuat, miopia

    refraktif atau bola mata terlalu panjang (Sidarta, 2003).

    Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar

    sejajar yang datang dari jarak tidak terhingga oleh mata dalam

    keadaan tidak berakomodasi dibiaskan pada satu titik di depan retina

    (Sativa, 2003).

    Klasifikasi

    Secara klinis dan berdasarkan kelainan patologi yang terjadi pada

    mata, myopia dapat dibagi kepada dua yaitu :

    1. Miopia Simpleks : Terjadinya kelainan fundus ringan. Kelainan

    fundus yang ringan ini berupa kresen miopia yang ringan dan

    berkembang sangat lambat.

    Biasanya tidak terjadi kelainan organik dan dengan koreksi yang

    sesuai bisa mencapai tajam penglihatan yang normal. Berat kelainan

    refraksi yang terjadi biasanya kurang dari -6D. Keadaan ini disebut

    juga dengan miopia fisiologi.

    2. Miopia Patologis : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia

    maligna atau miopia progresif. Keadaan ini dapat ditemukan pada

    semua umur dan terjadi sejak lahir. Tanda-tanda miopia maligna

    adalah adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada

    pemeriksaan oftalmoskopik. Pada anak-anak diagnosis ini sudah

    dapat dibuat jika terdapat peningkatan tingkat keparahan miopia

  • 41

    dengan waktu yang relatif pendek. Kelainan refrasi yang terdapat

    pada miopia patologik biasanya melebihi -6 D (Sidarta, 2007).

    Menurut American Optometric Association (2006), miopia secara

    klinis dapat terbagi lima yaitu:

    1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola

    mata yang terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa

    kristalina yang terlalu tinggi.

    2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi

    di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata

    seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia

    ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar

    untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan

    aberasi dan menambah kondisi miopia.

    3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan

    terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada

    otot otot siliar yang memegang lensa kristalina. Di Indonesia,

    disebut dengan miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya

    sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan.

    Untuk kasus ini, tidak boleh buru buru memberikan lensa koreksi.

    4. Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif,

    miopia maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia

    derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal

    meskipun telah mendapat koreksi.

  • 42

    Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu. 5. Miopia

    Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat obatan,

    naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus

    lensa dan sebagainya.

    a. Klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang

    dibutuhkan untukmengkoreksikannya (Sidarta, 2007):

    1. Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri

    2. Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.

    3. Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.

    b. Klasifikasi miopia berdasarkan umur adalah (Sidarta, 2007):

    1. Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.

    2. Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.

    3. Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40

    tahun.

    4. Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).

    c. Hipermetropia

    d. Abrasi kornea

    Abrasi kornea adalah defek pada lapisan epitel. Dapat

    disebabkan oleh trauma, benda asing, lensa kontak yang dipakai

    dalam jangka waktu lama, defek lapisan air mata, kesulitan menutup

    kelopak mata atau malposisi kelopak mata atau bulu mata.

    Penatalaksanaan. Abrasi kornea kambuhan, yang

    diakibatkan oleh kebiasaan menggosok mata, dapat ditangani dengan

    larutan pelumas buatan pada saat tidur atau lensa kontak jenis

  • 43

    pembalut (lensa kontak yang dapat dibeli bebas, dipakai untuk

    melindungi kornea dari iritasi yang disebabkan oleh gerakan kelopak

    mata).

    E. Kerangka Teori

    Gambar 2.1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan lensa

    kontak pada pasien dengan gangguan penglihatan adaptasi dari Lawrence

    Green (1980) dalam Notoatmodjo (1997 dan 2010), Brunner & Suddarth

    (2001)

    Beberapa

    gangguan mata :

    - Miopia - Hipermetropi - Abrasi kornea

    Perilaku

    penggunaan

    lensa kontak

    Perilaku

    penggunaan

    kaca mata

    Perilaku dipengaruhi oleh

    beberapa faktor:

    1) Faktor intern

    - Pengetahuan - Kecerdasan - Persepsi - Emosi - Motivasi

    2) Faktor ekstern Lingkungan sekitar baik

    fisik maupun non fisik

    seperti:

    - Iklim - Manusia - Sosial ekonomi - Kebudayaan

  • 44

    BAB III

    KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

    A. Kerangka Konsep Penelitian

    Berdasarkan tinjauan pustaka, kerangka teori serta tujuan dari penelitian

    maka kerangka konsep yang akan dilakukan peneliti di Optik-optik Kecamatan

    Ciputat Timur sebagai berikut :

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Lensa Kontak Pada

    Pasien dengan Gangguan Penglihatan

    Variabel Independen Variabel Dependen

    Gambar 3.1 Kerangka Konsep

    B. Hipotesis

    Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah di susun,

    maka hipotesis yang diangkat yaitu:

    1. Ada hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan lensa kontak

    2. Ada hubungan antara pengaruh sosial (lingkungan teman dan lingkungan

    keluarga) dengan penggunaan lensa kontak

    Perilaku penggunaan

    lensa kontak :

    - Menggunakan lensa kontak

    - Tidak menggunakan lensa kontak

    - Pengetahuan - Pengaruh social (lingkungan

    teman dan keluarga) - Ekonomi (pendapatan) - Motivasi

  • 45

    3. Ada hubungan anatara ekonomi (pendapatan) dengan penggunaan lensa

    kontak

    4. Ada hubungan antara motivasi dengan penggunaan lensa kontak

  • 46

    C. Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional

    Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur

    Pengetahuan Pengetahuan pengguna

    lensa kontak terhadap

    perawatan lensa kontak.

    Meliputi:

    - Definisi lensa kontak

    - Indikasi dan

    kontraindikasi penggunaan

    lensa kontak

    - Hal yang harus dihindari

    ketika menggunakan

    lensa kontak

    - Hal yang harus dilakukan

    untuk perawatan lensa

    kontak

    - Cara membersihkan lensa

    kontak

    - Efek yang dapat

    ditimbulkan pada

    pengguna lensa kontak

    Responden

    diberi

    pertanyaan

    tentang cara

    perawatan

    lensa kontak:

    pengetahuan

    mengenai

    definisi lensa

    kontak,

    indikasi dan

    kontraindikasi

    penggunaan

    lensa kontak,

    hal yang harus

    dihindari

    ketika

    menggunakan

    lensa kontak,

    hal yang harus

    dilakukan

    untuk

    perawatan

    lensa kontak,

    cara

    Kuesioner Ordinal a) Pengetahuan baik (skor

    jawaban

    responden 76-

    100%)

    b) Pengetahuan cukup (skor

    jawaban

    responden 56-

    75%)

    c) Pengetahuan kurang (skor

    jawaban

    responden

    55%)

    (Arikunto,

    2006)

  • 47

    membersihkan

    lensa kontak

    dengan pilihan

    jawaban benar

    atau salah.

    (Skala

    Gutman)

    Sosial Yang dimaksud sosial di

    sini adalah lingkungan

    teman dan keluarga di

    sekitar responden yang

    paling mempengaruhi

    perilaku responden.

    Responden

    diberi

    pertanyaan

    mengenai

    lingkungan yang

    paling

    mempengaruhi

    responden untuk

    menggunakan

    lensa kontak

    apakah dari

    teman atau

    keluarga

    Kuesioner Nominal

    1. Teman 2. Lingkungan

    keluarga

    Ekonomi

    (pendapatan)

    Pendapatan responden

    secara rutin dalam satu

    bulan baik diperoleh dari

    pekerjaan, pensiunan, atau

    pemberian keluarga

    Responden

    dianjurkan

    mengisi kolom

    mengenai

    rentang

    pendapatan

    Kuesioner Ordinal

    - Ekonomi

    menengah ke

    atas:>=1.290rb/ka

    pita/bulan

    - Ekonomi menengah ke

  • 48

    sebulan sekali. bawah

  • 49

    Sedangkan

    faktor ekstrinsik

    yaitu motivasi

    yang berfungsi

    karena adanya

    rangsangan dari

    luar seperti

    lingkungan

    masyarakat

    sekitar;

    kelompok teman

    (Notoatmodjo,

    2010).

  • 80

    BAB IV

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Desain Penelitian