of 113 /113
EVALUASI MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA BANK SYARIAH MUAMALAT Oleh: ASEP SYAIFUL BAHRI NIM : 102046125320 KONSENTRASI PERBANKAN SYARI’AH PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM) FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429H/2008M

EVALUASI MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789...evaluasi manajemen risiko pembiayaan murabahah pada bank syariah muamalat

  • Author
    lytuong

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EVALUASI MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA...

  • EVALUASI MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH

    PADA BANK SYARIAH MUAMALAT

    Oleh:

    ASEP SYAIFUL BAHRI

    NIM : 102046125320

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UIN SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    1429H/2008M

  • KATA PENGANTAR

    Puji dan Syukur ke Hadirat Ilaahi Robbi yang telah memberikan nikmat,

    hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

    baik. Shalawat serta Salam semoga dilimpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad

    SAW yang telah membawa umatnya dari alam kegelapan hingga alam terang

    benderang yang penuh dengan cahaya, juga kepada keluarga, dan para sahabatnya,

    dan semoga kami semua mendapatkan syafaatnya di hari kiamat nanti. Amin

    Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

    telah membantu dan memberikan dukungan baik moril maupun materil, karena

    penulis menyadari dan yakin bahwa tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua

    pihak, sulit bagi penulis untuk dapat menyelesai skripsi ini.

    Ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya penulis sampaikan kepada :

    1. Bapak Prof. Dr. Komarudin Hidayat, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta. Bapak Prof. Dr. H. Amin Suma, SH, MA, MM, selaku Dekan

    Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Ibu Euis Amalia, M.Ag., dan Bapak Ah. Azharuddin Latif. M.Ag, selaku

    Ketua dan Sekretaris Jurusan Muamalat di Fakultas Syariah dan Hukum.

  • 3. Bapak H. M. Dawud A. Khan, SE, M.Si, Ak, CPA dan Bapak Supriyono, SE,

    MM, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan waktu,

    bimbingan, saran petumjuk, kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

    4. Ibu Dwi Nurani Ihsan SE, MM dan Ibu Titi Dewi Warninda, SE., M.Si.

    selaku Dosen Penguji yang sudah menguji dan membantu merevisi skripsi

    saya sehingga skripsi saya menjadi lengkap.

    5. Bapak dan Ibu dosen serta segenap Civitas Akademika Fakultas Syariah dan

    Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah

    memberikan ilmu kepada penulis baik secara langsung maupun tidak

    langsung.

    6. Seluruh Staff dan Karyawan Muamalat Institute terutama Mbak Sani atas

    segala bantuan dan kesempatan untuk meluangkan waktu dari awal hingga

    akhir penelitian.

    7. Rasa tazhim dan terima kasih yang mendalam untuk Ayahanda/papa Endin

    Fachrudin dan Ibunda/mama Aan Rihanah yang telah memberikan dukungan

    baik moril maupun materil, perhatian, pengertian, kasih sayang dan doa-

    doanya yang tidak henti-hentimya diberikan kepada penulis. Robbihgfirli

    waliwalidayya war hamhuma kama robbayani shogiro.

    8. Yang tercinta dan tersayang adik-adikku Deela, Dewinda, Deana yang telah

    memberikan dukungan, dan spirit serta doa bagi penyelesaian penulisan

    skripsi ini.

  • 9. Hormat penulis kepada kakak sepupuku AA Deni yang sedang menyelesaikan

    S2 di Malaysia dan sekeluarga di Sukabumi serta kepada keluarga besar H.

    Deden dan Wa Empah di Sukabumi atas perhatian dan doa yang selalu

    diberikan kepada penulis.

    10. Teman-temanku dirumah bang Ipul, Dian, Iwan, Ahmad, bang Fadli dan

    teman-temanku lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah

    memberikan dukungan dan menjadi penghibur dikala penulis sedang merasa

    jenuh sehingga dapat memberikan semangat dan inspirasi kembali.

    11. Sahabat-sahabatku yang terbaik di kampus UIN Syahid, Try Sari, Malik

    Ibrahim, H. Fauzan H, Dedy Akmadi, Syatria Rahman, Ibnu Said, Muisah,

    Tety Mariwati, Muhandi, dan sahabatku lainnya mahasiswa Jurusan

    Perbankan Syariah angkatan 2002, terutama kelas D maaf tidak bisa

    menyebutkan namanya satu persatu tetapi memori terindah bersama tidak

    akan pernah terlupakan.

    12. Untuk Istriku yang tersayang Rahmatiyah, Akbar dan sekeluarga terima kasih

    atas segala perhatian, pengertian dan spirit secara lahir batin serta doa yang

    telah diberikan kepada penulis. Ya Allah limpahkanlah rahmat, inayah dan

    hidayah-Mu baginya.

    13. Boy Nunumete Sebagai Manager Operasional dan Samuel sebagai Asisten

    Manejer Transjakarta Busway yang telah mengizinkan penulis untuk tidak

    masuk kerja karena untuk menyelesaikan skripsi ini, serta Teman-temanku di

    tempat kerja Transjakarta Busway, Ridho, Ronald & Koko sebagai Spv,

  • Babay, Haryo, Hendri, Dani, Eemaa, Yani, Dian, Rani Tati dan teman-teman

    tiketingku lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah

    memberikan dukungan serta waktunya untuk menggantikan kerja dikala

    penulis ada keperluan didalam menyelesaikan skripsi ini dan menjadi

    penghibur dikala penulis sedang merasa jenuh sehingga dapat memberikan

    semangat dan inspirasi kembali.

    14. Pimpinan dan segenap staf perpustakaan umum UIN, perpustakaan Syariah,

    atas kemudahan yang diberikan kepada penulis untuk mendapatkan referensi

    yang mendukung penyelesaian skripsi ini.

    15. al-Mukarram Habib Husein Al-Haddad di Depok dan Ust. Ridwan Shaleh di

    Lenteng Agung yang banyak memberi dukungan, spirit, dan doa kepada

    penulis.

    Akhirnya penulis berharap dan berdoa kepada Allah SWT, agar seluruh

    bantuan, pengorbanan dan amal baik yang telah kalian berikan semua, akan

    mendapatkan balasan setimpal disisi Allah SWT.

    Jakarta, Maret 2008 M 1429 H

    Penulis

  • DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR ......................................................................................... i

    DAFTAR ISI ........................................................................................................ v

    DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii

    DAFTAR GAMBAR.............................................................................................

    viii ..................................................................................................

    Bab I PENDAHULUAN

    1. ............................................................................................ Latar

    Belakang Masalah ...................................................................................... 1

    2. ............................................................................................ Rum

    usan Masalah.............................................................................................. 4

    3. ............................................................................................ Tuju

    an Penelitian ............................................................................................... 5

    4. ............................................................................................ Meto

    de Penelitian .............................................................................................. 6

    5. ............................................................................................ Siste

    matika Penulisan. ....................................................................................... 8

    Bab II TINJAUAN TEORITIS MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN

    MURABAHAH

    1. Pembiayaan Pada Bank Syariah...... 10

    1.1 Pembiayaan berbasis Natural Certainty Contracts.... 12

  • 1.2 Pembiayaan berbasis Natural Uncertainty Contracts.... 14

    2. Manajemen Risiko Bank Syariah 16

    2.1 Pengertian Manajemen Risiko.. 16

    2.2 Risiko Menurut Pandangan Islam. 19

    2.3 Teknik Mengidentifikasi Risiko 21

    2.4 Jenis-jenis Risiko Bank Syariah 24

    3. Mekanisme Pembiayaan Murabahah.. 30

    3.1 Murabahah Dalam Wacana Fiqih. 30

    3.2 Praktek Murabahah Dalam Sistem Perbankan Syariah. 33

    3.3 Peranan Bank Syariah Dalam Murabahah Sebagai Penyandang

    Dana Bukan Penjual... 40

    4. Prinsip Dalam Analisis Pembiayaan di Bank Syariah.. 41

    Bab III Profil Bank Syariah Muamalat

    1. Sejarah Singkat dan Perkembangan Bank Syariah

    Muamalat.. 44

    2. Visi dan

    Misi. 46

    3. Produk-produk

    Bank 47

    4. Struktur

    Organisasi... 54

  • Bab IV Manajemen Risiko Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah

    Muamalat

    1. Proses Manajemen Risiko Pada Bank Syariah..

    58

    1.1 Proses Penilaian Risiko Pada Bank Syariah.. 58

    1.2 Proses Pengelolaan Risiko Terhadap Risiko Pembiayaan

    Murabahah Pada Bank Syariah

    Muamalat.. 65

    1.3 Proses Pengelolaan Risiko Operasional

    ..... 77

    1.4 Proses Evaluasi dan Pengawasan. 78

    2. Pengelolaan Pembiayaan Bermasalah Pada Bank

    Syariah Muamalat 80

    Bab V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................ 86

    B. Saran........................................................................................... 87

    DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................

    89

    LAMPIRAN........................................................................................................... 91

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 4.1 Cutomer Risk Rating (CRR) 60

    Tabel 4.2 Industry Rating (Rating Industri) 61

    Tabel 4.3 Rating Jaminan atas RasioPemenuhan Jaminan (RPJ) 62

    Tabel 4.4 Matriks Kombinasi CRR dan RPJ Untuk penentuan

    Customer Credit Rating 63

    Tabel 4.5 Customer Credit Rating (CCR) 63

    Tabel 4.6 Aktiva Produktif Pembiayaan Murabahah dan Istishna

    Bank MuamalatTahun 2004 ... 68

    Tabel 4.7 Portofolio Murabahah dan Istishna Bank Muamalat Tahun 2004

    . 69

    Tabel 4.8 Aktiva Produktif Pembiayaan Murabahah dan Istishna

    Bank MuamalatTahun 2005 ... 70

    Tabel 4.9 Portofolio Murabahah dan Istishna Bank Muamalat Tahun 2005

    . 71

    Tabel 4.10 Aktiva Produktif Pembiayaan Murabahah dan Istishna

    Bank MuamalatTahun 2006 ... 72

    Tabel 4.11 Portofolio Murabahah dan Istishna Bank Muamalat Tahun 2006

    . 73

  • Tabel 4.12 Nilai Kredit Rasio KAP

    . 75

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1 Akad-akad dalam Bank Syariah 12

    Gambar 2.2 Siklus risiko industri. 27

    Gambar 3.1 Struktur Organisasi Bank Syariah Muamalat............................... 54

    Gambar 4.1 Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di

    Bank Syariah Muamalat. 83

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Perbankan adalah satu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu

    menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. DiDalam

    sejarah perekonomian kaum muslimin, fungsi-fungsi bank telah dikenal sejak zaman

    Rasulullah SAW. Fungsi-fungsi tersebut adalah menerima titipan harta,

    meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta

    melakukan pengiriman uang.1

    Pengertian bank menurut Undang Undang Perbankan No. 10 tahun 1998

    adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

    dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk

    lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Sedangkan Bank

    syariah adalah bank yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah, yang mengacu

    kepada al-Quran dan Hadits Nabi2, artinya bahwa Bank Syariah secara operasional

    dan teoritis mengikuti ketentuan-ketentuan Syariah yang terkandung di dalam al-

    Quran dan Hadits Nabi, yaitu tata cara bermuamalah secara Islami.

    1 Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, Islam dan Perbankan Syariah, (Jakarta : Karim Business

    Consulting, 2001), h. 1 2 Karnaen Purwaatmadja dan Muhammad Syafii Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam,

    (Yogyakarta: PT.Dana Bhakti Prima Yasa), cet.ke-1, h.1

  • Fatwa MUI tentang pengharaman bunga (interest) bank beberapa waktu lalu

    telah mampu menimbulkan optimisme yang cukup besar mengenai peranan dan

    prospek bank syariah dimasa depan. Bank syariah telah menjadi alternatif rasional di

    luar bank konvensional. Apabila bank konvensional beroperasi dengan sistem bunga

    (interest), maka bank syariah bekerja berdasarkan prinsip dasar rela sama rela atau

    suka sama suka (an taraddin minkum) dan tidak ada boleh pihak yang menzalimi dan

    dizalimi. Inilah mengapa bank syariah menjadi solusi yang tepat di tengah krisis

    moneter dan keuangan yang mengglobal sekarang ini.

    Salah satu fungsi utama bank syariah adalah menyalurkan dana. Penyaluran

    dana yang dilakukan bank syariah adalah pemberian pembiayaan kepada debitur yang

    membutuhkan, baik untuk modal usaha maupun untuk konsumsi. Praktik pembiayaan

    yang sebenarnya dijalankan oleh lembaga keuangan Islami adalah pembiayaan

    dengan sistem bagi hasil. Praktik bagi hasil ini terkemas dalam dua jenis pembiayaan,

    yaitu pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah. Jenis pembiayaan

    lainnya adalah terkemas dalam pembiayaan berakad atau sistem jual beli, yaitu

    pembiayaan murabahah, bai as-salam dan bai isthisna.3

    Dari jenis pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah, pembiayaan

    murabahah merupakan pembiayaan dengan porsi terbesar. Dari data yang ada pada

    Bank Indonesia, pembiayaan skim murabahah atau jual beli persentasenya mencapai

    3 Muhamad, DRS, M.Ag, Manajemen Bank Syariah, Yogyakarta : 2002, h. 259

  • 66,47%, mudharabah 17,97%, sementara sisanya adalah pembiayaan istishna dan

    pembiayaan lainnya sebesar 2,73% dan 1,77%.4

    Pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan berbasis Natural Certainty

    Contracts (NCC), yaitu kontrak atau akad dalam bisnis yang memberikan kepastian

    pembayaran, baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Karena itu,

    skim ini menjadi pilihan oleh mayoritas bank syariah sekarang ini. Walaupun

    demikian, bukan berarti pembiayaan ini tidak berisiko.

    Yang membedakan pembiayaan ini dengan bank konvensional adalah margin

    keuntungan bank yang tidak didasarkan atas fluktuasi bunga pasar, sehingga cash

    flow-nya bisa diprediksi dengan relatif pasti, karena sudah disepakati oleh kedua

    belah pihak yang bertransaksi di awal akad, sehingga tidak akan berubah hingga

    pengembalian pembiayaan tersebut selesai. Karena itu, jika bank melakukan

    kesalahan analisa dalam menyalurkan pembiayaan, seperti penentuan jangka waktu

    maupun pricing yang akan diberikan kepada nasabah, maka hal ini akan dapat

    menimbulkan risiko tidak bersaingnya bagi hasil kepada dana pihak ketiga (DPK).

    Disinilah pentingnya fungsi manajemen risiko bagi bank syariah. Walaupun

    demikian, dalam pandangan syariah, risiko tetap merupakan sesuatu yang lazim yang

    ditimbulkan oleh adanya ketidakpastian dan dianggap sebagai sunatullah (hukum

    alam yang Allah tetapkan), sehingga itu merupakan suatu konsekuensi yang logis atas

    dibuatnya suatu pilihan.

    4 Bank Indonesia. Laporan Indikator Perkembangan Perbankan Syariah, Jakarta : Bank Indonesia, Desember 2004

  • Hal inilah yang akan dianalisa lebih lanjut oleh penulis, karena dengan

    semakin banyaknya pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah, tentunya juga

    mempunyai risiko yang apabila dikelola kurang baik akan membahayakan

    perkembangan bank syariah itu sendiri. Bertitik tolak dari latar belakang tersebut,

    Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan ingin menuangkannya dalam

    bentuk karya ilmiah berupa skripsi yang berjudul, EVALUASI MANAJEMEN

    RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA BANK SYARIAH

    MUAMALAT INDONESIA.

    B. Rumusan Masalah

    Pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan yang dicirikan dengan

    adanya penyerahan barang di awal akad dan pembayaran kemudian, baik dalam

    bentuk angsuran maupun dalam bentuk lump sum (sekaligus). Dengan demikian,

    pemberian pembiayaan murabahah dengan jangka waktu panjang akan menimbulkan

    potensi risiko tidak bersaingnya bagi hasil kepada dana pihak ketiga.

    Selain itu, risiko-risiko seperti pembayaran yang tertunda (default risk), risiko

    industri (industry risk), market risk (seperti kenaikan nilai tukar mata uang dan

    kenaikan suku bunga) maupun potensi lainnya yang berasal dari manajemen bank

    syariah itu sendiri, harus juga menjadi perhatian khusus bagi bank syariah dalam me-

    manage risiko-risiko tersebut, sehingga setiap pembiayaan yang dikeluarkan bisa

    lebih kompetitif dibanding kredit di perbankan konvensional.

  • Secara empiris belum banayak kajian yang membahas detail mengenai hal ini.

    Oleh karena itu, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut :

    1. Bagaimana proses manajemen risiko pembiayaan murabahah pada Bank

    Syariah Muamalat Indonesia?

    2. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan Bank Syariah Muamalat Indonesia

    dalam pengelolaan risiko-risiko terkait dengan pembiayaan murabahah?

    3. Langkah-langkah dan solusi apa saja yang akan dilakukan Bank Syariah

    Muamalat Indonesia dalam penanganannya terhadap penyelesaian

    pembiayaan bermasalah?

    C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

    1. Tujuan Penulisan ini adalah :

    Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam

    penelitian ini adalah sebagai berikut :

    a. Untuk menjelaskan langkah-langkah Bank Syariah Muamalat dalam

    pengelolaan risiko-risiko terkait dengan pembiayaan murabahah.

    b. Untuk mengetahui langkah-langkah dan solusi apa saja yang akan

    dilakukan Bank Syariah Muamalat terhadap penyelesaian pembiayaan

    murabahah bermasalah.

  • 2. Manfaat Penulisan ini adalah :

    a. Menambah wawasan keilmuan tentang manajemen risiko pembiayaan

    murabahah pada Bank syariah Muamalat

    b. Memberi masukan yang bermanfaat dalam menentukan langkah

    selanjutnya kearah yang lebih baik

    c. Menambah dan melengkapi koleksi yang telah ada tentang perbankan

    syariah khususnya mengenai manajemen risiko pembiayaan murabahah

    pada bank syariah

    D. Metode Penulisan

    1. Lokasi Penelitian

    Penelitian akan dilakukan pada Bank Syariah Muammalat Indonesia

    berlokasi di. Jl. Beringin Raya No. 30 Karawaci Baru, Tangerang.

    2. Metode Penelitian

    Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kepustakaan (library

    research), penelitian lapangan (Field Research)

    Metode pengumpulan data yang digunakan adalah :

    a. Untuk Penelitian Perpustakaan (Library Research), dengan

    mengumpulkan data dari berbagai literatur yang ada, seperti buku-buku

  • sumber, dokumen-dokumen bank, makalah, serta tulisan lain yang

    berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

    b. Untuk Penelitian Lapangan (Field Research) yang menjadi data sekunder

    dilakukan penulis sebagai pelengkap data dalam hasil penulisan kelak.

    Teknik pengambilan data, yaitu :

    a. Observasi

    Observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung ke lapangan

    dengan mendatangi nara sumber yakni PT. Bank Syariah Muammalat. Hal ini

    guna mengetahui keadaan sebenarnya yang terjadi di lokasi penelitian berkaitan

    dengan penerapan Evaluasi Manajemen Risiko Pembiayaan Murabahah Pada

    Bank Syariah Muamalat.

    b. Wawancara

    Penulis mengadakan wawancara dengan tokoh lembaga/para fungsionaris Bank

    Syariah Muammalat yang dianggap berkompeten dan representatif dengan

    masalah yang dibahas untuk memperoleh informasi mengenai Evaluasi

    Manajemen Risiko Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah Muamalat.

    c. Teknik Dokumentasi (study kepustakaan)

    Dilakukan dengan cara mengumpulkan data berdasarkan data-data/laporan yang

    didapat dari Bank Syariah Muammalat dan laporan lainnya yang berkaitan

    dengan masalah penelitian.

  • Metode analisa data :

    Dalam menganalisa data, penulis menggunakan teknik deskriptif-analitis-

    evaluatif yaitu dengan menjabarkan data yang diperoleh dari observasi maupun

    wawancara dilapangan, kemudian dengan berpedoman pada sumber tertulis

    sebagai langkah konfirmasi mengenai data yang diperoleh dari penelitian

    lapangan.

    3. Teknik Penulisan

    Teknik penulisan yang digunakan adalah menunjuk pada Pedoman

    Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta : UIN

    Jakarta Press, 2002, cet. Ke-2.

    E. Sistematika Penulisan

    Adapun sistematika penulisan dalam karya ilmiah skripsi, penulis

    membagi menjadi menjadi lima bab, yaitu :

    Bab I, Pendaluhuan, yaitu meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan

    perumusan pasalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan

    sistematika penulisan.

    Bab II, Tinjauan teoritis manajemen risiko pembiayaan murabahah. dalam bab

    ini di bahas tinjauan teoritis mengenai konsep manajemen bank

    syariah, dimulai dengan pembahasan mengenai urgensi pelarangan

  • riba, profit sharing sebagai karakteriatik dasar bank syariah, perbedaan

    bank syariah dengan bank konvensional, dan jenis-jenis pembiayaan

    pada bank syariah. Dalam ini juga akan menguraikan tinjauan umum

    mengenai risiko. Selain itu, dibahas pula mengenai bagaimana

    mekanisme pembiayaan murabahah dan prinsip analisis pembiayaan di

    bank syariah

    Bab III, Profil Bank Syariah Muamalat Indonesia terdiri dari, sejarah singkat

    dan perkembangan Bank Syariah Muamalat Indonesia, visi dan misi,

    produk-produk dan struktur organisasi Bank Syariah Muamalat

    Indonesia

    Bab IV, Bab ini membahas mengenai langkah-langkah yang dilakukan bank

    syariah dalam me-manage risiko yang terkait dengan pembiayaan

    murabahah. Proses yang akan dilakukan adalah proses penilaian risiko

    pada Bank Syariah, proses pengelolaan risiko pembiayaan murabahah

    pada Bank Syariah Muamalat dan yang terakhir proses evaluasi dan

    pengawasan.. Dan yang terakhir membahas mengenai teknik

    penanganan bank syariah dalam penyelesaian pembiayaan bermasalah.

    .

    Bab V, Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

  • BAB II

    TINJAUAN TEORITIS MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN

    MURABAHAH

    1. Pembiayaan Pada Bank Syariah

    Dari segi ada atau tidaknya adanya kompensasi (keuntungan), fiqih muamalat

    membagi lagi akad pada bank syariah menjadi dua bagian, yakni akad tabarru dan

    akad tijarah/muawadah.5

    Akad tabarru (gratuitous contract) adalah segala macam perjanjian yang

    menyangkut non-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi ini pada

    hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil melainkan

    akad untuk mencari keuntungan akhirat. Dalam akad tabarru (tabarru berasal dari

    kata birr dalam bahasa Arab, yang artinya kebaikan), pihak yang berbuat kebaikan

    tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. Imbalan

    dari akad tabarru adalah dari Allah SWT, bukan dari manusia. Namun demikian,

    pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter-part-nya untuk

    sekedar menutupi biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan

    akad tabarru tersebut. Namun ia tidak dapat boleh sedikit pun mengambil laba dari

    akad tabarru itu. Contoh akad-akad tabarru adalah qard, rahn, hiwalah, wakalah,

    kafalah, wadiah, hibah, waqf, shadaqah, hadiah, dan lain-lain.6

    5 Karim, Adiwarman, Ir, S.E, M.B.A, M.A.E.P, Bank Islam : Analisis Fiqih dan Keuangan, Edisi Ketiga, Jakarta : Rajawali Press, 2004, h. 66 6 Ibid

  • Berbeda dengan akad tabarru, akad tijarah (compensational contract) adalah akad-

    akad yang menyangkut for profit transaction. Akad-akad ini dilakukan dengan

    tujuan mencari keuntungan, karena itu bersifat komersil.

    Contoh akad tijarah adalah akad-akad investasi, jual-beli, sewa-menyewa, dan lain-

    lain. Dari akad inilah kemudian muncul dua kelompok besar dalam konsep

    pembiayaan, yang dibagi berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya,

    yaitu Natural Certainty Contracts dan Natural Uncertainty Contracts. Hal inilah

    yang akan dibahas lebih lanjut.7

    7 Ibid h. 70

  • Gambar 2.1 Akad-akad dalam Bank Syariah

    Sumber : Karim, Adiwarman, Bank Islam, Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta : PT Raja

    Grafindo Persada 2004 1.1 Pembiayaan berbasis Natural Certainty Contracts (NCC)

    Pembiayaan berbasis Natural Certainty Contracts (NCC) yaitu kontrak/akad

    dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah

    Waad

    Akad

    Tabarru Not for profit transaction

    Tijarah For profit transaction

    Natural Certainty Contracts

    Natural Uncertainty Contracts

    1. Qard 2. Wadiah 3. Wakalah 4. Kafalah 5. Rahn 6. Hibah 7. Waqf 1. Murabahah

    2. Salam 3. Istishna 4. Ijarah

    1. Musyarakah (wujuh, inan, abdan, mufawadah, mudharabah)

    2. Muzaraah 3. Musaqah 4. Mukhabarah Teori

    Pertukaran

    Teori Percampuran

  • (amount) maupun waktu (timing)-nya. Cah flow-nya bias diprediksi dengan relatif

    pasti, karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi diawal akad,

    baik jumlahnya (quantity), mutunya (quality), harganya (price) dan waktu

    penyerahannya (time of delivery). Jadi, kontrak ini secara sunatullah (by their

    nature) menawarkan return yang tetap dan pasti. Yang termasuk kategori ini adalah

    kontrak-kontrak jual-beli, upah-mengupah, sewa-menyewa, dan lain-lain, yakni

    sebagai berikut :

    a. Akad Jual-Beli (Al-Bai. salam, dan Istishna)

    b. Akad Sewa-Menyewa (Ijarah dan IMBT).8

    Dalam akad-akad diatas, pihak-pihak yang bertransaksi saling

    mempertukarkan asetnya (baik real assets maupun financial assets). Jadi

    masing-masing pihak tetap berdiri sendiri (tidak saling bercampur membentuk

    usaha baru), sehingga tidak ada pertanggungan risiko bersama. Juga tidak ada

    percampuran aset si A dengan asset si B. yang ada misalnya adalah si A

    memberikan barang ke B, kemudian sebagai gantinya B menyerahkan uang

    kepada A. disini barang ditukarkan dengan uang, sehingga terjadilah kontrak

    jual-beli (al-Bai).

    Dalam jual-beli murabahah , sipenjual menyatakan dengan terbuka

    kepada si pembeli mengenai tingkat keuntungan yang diambilnya.

    Bentuk jual-beli lainnya adalah salam. Dalam jual-beli jenis ini, barang

    yang ingin dibeli biasanya belum ada (misalnya masih harus diproduksi). Dalam 8 Ibid h. 72

  • jual-beli salam, uang diserahkan sekaligus dimuka sedangkan barangnya

    diserahkan diakhir periode pembiayaan.

    Bentuk jual-beli selanjutnya adalah istishna. Akad ini sebenarnya adalah

    akad salam yang pembayaran atas barangnya dilakukan secara cicilan selama

    periode pembiayaan (jadi tidak dilakukan secara lump-sum diawal).

    Sedangkan untuk sewa-menyewa dikenal ada dua jenis yaitu ijarah dan

    IMBT. Ijarah adalah akad untuk memanfaatkan jasa, baik itu jasa atas barang

    maupun jasa atas tenaga kerja. Pada ijarah tidak terjadi perpindahan kepemilikan

    objek ijarah. Objek ijarah tetap menjadi milik yang menyewakan. Perbedaan

    yang paling utama dengan IMBT (Ijarah Muntahia bittamlik) adalah adanya

    perpindahan kepemilikan objek pada akhir periode peminjaman.

    1.2 Pembiayaan berbasis Natural Uncertainty Contracts (NUC)

    Pembiayaan berbasis Natural Uncertainty Contracts (NUC) adalah

    kontrak/akad dalam bisnis yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return),

    dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. Tingkat return-nya bisa

    positif, negatif atau nol. Dalam NUC, pihak-pihak yang bertransaksi saling

    mencampurkan asetnya (baik real asset maupun financial asset) menjadi satu

    kesatuan, dan kemudian menanggung risiko secara bersama-sama untuk mendapatkan

    keuntungan. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrak-kontrak investasi.

    Kontrak investasi ini secara sunatullah tidak menawarkan return yang tetap dan

    pasti. Jadi sifatnya tidak fixed and predetermined.

  • Contoh-contoh NUC adalah sebagai berikut:

    a. Musyarakah (wujuh, inan, abdan, mufawadah, dan mudharabah)

    b. Muzaraah (kerjasama antara pemilik lahan dengan penggarap dimana

    benih berasal dari pemilik lahan, dan pembagian keuntungan sesuai

    dengan kesepakatan bersama).

    c. Mukharabah (sama seperti muzaraah, hanya benihnya berasal dari

    penggarap).

    d. Musaqah (muzaraah yang lebih sederhana, dimana penggarap hanya

    bertanggung jawab pada penyiraman dan pemeliharaan).

    Akad musyarakah (atau disebut juga syirkah) mempunyai lima variasi,

    yakni: mufawadah, inan, wujuh, abdan, dan mudharabah. Dalam syirkah

    mufawadah, para pihak yang berserikat mencampurkan modal dalam jumlah

    yang sama. Sedangkan pada syirkah inan, para pihak yang berserikat

    mencampurkan modal dalam jumlah yamg tidak sama. Sedangkan dalam

    syirkah wujuh, terjadi percampuran antara modal dengan reputasi/nama baik

    seseorang (wujuh, bersal dari kata bahasa Arab yang berarti wajah atau

    reputasi).

    Bentuk syirkah selanjutnya adalah syirkah abdan, dimana terjadi

    percampuran keahlian/keterampilan dari pihak-pihak berserikat. Misalnya,

    ketika konsultan perbankan syariah bergabung dengan konsultan information

    technologi untuk mengerjakan proyek system informasi Bank Syariah XYZ.

    Dalam syirkah ini, tidak terjadi percampuran modal (dalam arti uang), tetapi

  • yang terjadi adalah percampuran keahlian/keterampilan dari pihak-pihak yang

    berserikat.9

    Sedangkan Bentuk syirkah yang terakhir adalah syirkah mudharabah.

    Dalam syirkah ini, terjadi percampuran antara modal dengan jasa

    (keahlian/keterampilan) dari pihak-pihak yang berserikat. Ada dua pihak yang

    berserikat yaitu penyandang dana (shahibul mal) dan pihak yang menjadi

    pelaksana/pengelola (mudharib).

    Perbadaan antara natural certainty contracts (NCC) dengan natural

    uncertainty contracts (NUC) ini sangat penting. Karena keduanya memiliki

    karakteristik khas yang tidak boleh dicampuradukkan. Bila natural certainty

    contracts diubah menjadi uncertain, terjadilah gharar (ketidakpastian). Dengan

    kata lain, kita mengubah hal-hal yang sudah pasti menjadi tidak pasti.

    Demikian pula sebaliknya, yakni bila natural uncertainty contracts diubah

    menjadi certain, maka terjadilah riba nasiah. Artinya, kita mengubah hal-hal

    yang seharusnya tidak pasti menjadi pasti. Kedua hal diatas jelas telah

    melanggar sunatullah.

    2. Manajemen Risiko Bank Syariah

    2.1 Pengertian Manajemen Risiko

    Berdasarkan bahasa, risiko mempunyai makna akibat yang kurang

    menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan 9 Ibid h.75

  • sedangkan manajemen Risiko berarti upaya untuk mengurangi dampak dari unsur

    ketidak pastian. Apabila kata-kata diatas ditambahkan dengan kata investasi dan

    pembiayaan, menjadi risiko investasi dan pembiayaan, akan memberikan makna

    akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu

    transaksi investasi dan pembiayaan. Dengan demikian manajemen risiko investasi

    dan pembiayaan berarti upaya untuk mengurangi dampak dari unsur

    ketidakpastiaan dan potensi yang menimbulkan kerugian finansial dari transaksi-

    transaksi investasi dan pembiayaan.10

    Ir. Adiwarman A. Karim (2004) dalam bukunya Bank Islam menjelaskan

    risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang

    dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan

    (unanticipated) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan

    bank. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola dan

    dikendalikan. Oleh karena itu, sebagaimana lembaga perbankan pada umumnya,

    bank syariah juga memerlukan serangkaian prosedur dan metodologi yang dapat

    digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan

    risiko yang timbul dari kegiatan usaha, atau yang biasa disebut sebagai

    manajemen risiko.11

    10 Surbakti, Muhamad Syarif, Manajemen Risiko Perbankan Syariah (PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk.), Jakarta : 2004, h. 9-10 11 Karim, Adiwarman, Ir, S.E, M.B.A, M.A.E.P, op.cit, h. 255

  • D. Borge mendefenisikan manajemen risiko sebagai suatu tindakan

    dengan penuh pertimbangan untuk menghilangkan keanehan-keanehan demi

    kepentingan kita, meningkatkan hasil yang baik dan mengurangi hasil yang buruk.

    Sementara itu, Culp menyebutkan definisi umum manajemen risiko adalah

    proses dimana seseorang mencoba untuk memastikan bahwa risiko-risiko yang

    dihadapinya adalah risiko-risiko yang diyakininya untuk dan ingin dihadapi

    dengan tujuan untuk mencapai apa yang diinginkannya.12

    Berdasarkan terminologi, beberapa pakar mengungkapkan manajemen

    risiko dengan berbagai penekanan yang berbeda, tetapi secara umum mempunyai

    makna inti yang relatif sama dengan pengertian berdasarkan bahasa diatas.

    Sebenarnya pengertian manajemen risiko bersifat umum, namun dapat dipahami

    secara khusus untuk aspek manajemen risiko investasi dan pembiayaan pada

    perbankan syariah.

    Dari berbagai uraian diatas mengenai definisi manajemen risiko, dapat

    ditarik suatu kesimpulan bahwa manajemen risiko investasi dan pembiayaan

    merupakan suatu tindakan mengidentifikasi risiko-risiko investasi dan

    pembiayaan yang ada secara terencana dan terukur, dan mempersiapkan berbagai

    pendekatan untuk mengendalikannya agar tujuan bisnis yang telah ditetapkan

    tercapai.

    12 Surbakti, Muhamad Syarif, op.cit 13

  • 2.2 Risiko Menurut Pandangan Islam

    Pada dasarnya Islam mengakui bahwa kecelakaan, kemalangan

    (kerugian) dan kematian merupakan takdir Allah. Hal ini tidak dapat ditolak.

    Hanya saja kita sebagai manusia juga diperintahkan untuk membuat perencanaan

    untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.

    Allah berfirman dalam surat Al Hasyr (59) ayat 18 :

    Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan

    hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok

    (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha

    mengetahui apa yang engkau kerjakan.

    Dalam al-Quran, surat Yusuf (12) ayat 43-49, Allah juga

    menggambarkan contoh usaha manusia membentuk sistem proteksi menghadapi

    kemungkinan yang buruk di masa depan. Secara ringkas, ayat ini bercerita tentang

    pertanyaan raja Mesir tentang mimpinya kepada Nabi Yusuf, dimana raja Mesir

    bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor

  • sapi yang kurus, dan dia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berbuah

    serta tujuh tangkai yang merah mengering tidak berbuah.

    Nabi Yusuf dalam hal ini menjawab supaya kamu bertanam tujuh tahun

    dan dari hasilnya hendaklah disimpan sebagian. Kemudian sesudah itu akan

    datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan

    untuk menghadapi masa sulit tersebut, kecuali sedikit dari apa yang disimpan.

    Sangat jelas dalam ayat ini kita dianjurkan untuk berusaha menjaga

    kelangsungan kehidupan dengan memproteksi kemungkinan terjadinya kondisi

    yang buruk. Dan sangat jelas ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Allah

    menganjurkan adanya upaya-upaya menuju kepada perencanaan masa depan

    dengan sistem proteksi.

    Dalam suatu riwayat hadits dikemukakan ketika harga-harga

    melambung tinggi dan orang-orang mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW,

    Wahai Rasulullah, tentukanlah harga untuk kami, beliau menjawab :

    Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menekan, yang

    melapangkan, dan yang memberi rezeki. Saya ingin bertemu Allah sedang tidak

    ada seorang pun dari kamu yang menuntut saya karena suatu kezaliman baik

    mengenai masalah darah maupun masalah harta. (Diriwayatkan oleh Abu daud,

    Tirmizi, Ibnu Majah, ad-Daimi dan Abu Yala).13

    Dengan hadits ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa campur tangan

    penguasa atau pihak manapun yang berkepentingan atas kebebasan seseorang 13 Qardawi, Yusuf, DR, Halal dan Haram, Robbani Press, Indonesia : 2001, h. 293

  • (mekanisme pasar) tanpa ada alasan yang mendesak adalah suatu kezaliman,

    sehingga beliau ingin bertemu Allah dalam keadaan bebas dari tanggung

    jawabnya. Kondisi ini menghindari terjadinya risiko kesewenangan pihak tertentu

    didalam menentukan harga barang-barang yang tentunya akan menzalimi pihak

    konsumen.14

    Dari beberapa contoh nash diatas, terlihat bahwa Islam sangat memperhatikan

    fungsi manajemen risiko dan syariat Islam sangat kental dengan kultur

    manajemen risiko., demi kemashlahatan manusia itu sendiri. Demikian juga

    halnya bagi perbankan syariah harus selalu menjalankan fungsi manajemen risiko

    karena sudah merupakan sunatullah dan keharusan relijius. Maka, sudah menjadi

    karakter dan kultur yang inheren bagi perbankan syariah untuk mengembangkan

    dan mengaplikasikan fungsi manajemen risiko didalam mengelola amanah

    finansial yang diembannya sehingga tidak menimbulkan kerugian finansial yang

    tidak perlu terjadi bagi pihak mudharib maupun shahibul mal. Permasalahan yang

    muncul kemudian adalah manajemen risiko yang bagaimana harus dikembangkan

    dan diaplikasikan oleh perbankan syariah agar sesuai dengan akar syariah itu

    sendiri, yaitu Islam. Pengembangan sistem manajemen risiko yang Islami akan

    mengacu kepada kaidah fiqh muamalah, yaitu semuanya boleh sepanjang terdapat

    nash yang melarangnya.

    2.3 Teknik Mengidentifikasi Risiko

    14 Surbakti, Muhamad Syarif, op.cit, h. 7

  • Identifikasi risiko yang dilakukan bank Islam tidak hanya mencakup

    berbagai risiko yang ada pada bank-bank pada umumnya, melainkan juga meliputi

    berbagai risiko yang khas hanya ada pada bank-bank yang beroperasi berdasarkan

    prinsip syariah.15

    Menurut Emmett J. Vaughan dalam bukunya Risk Management, ada

    empat (4) teknik dalam mengidentifikasikan risiko16 :

    1. Orientation

    Pada tahap awal ini, identifikasi risiko dilakukan dengan cara mengenal lebih

    dekat dengan organisasi dan teknik pelaksanaan operasional suatu perusahaan.

    Manajer risiko harus mengetahui secara cermat mengenai informasi tersebut,

    seperti perkembangan terakhir kondisi perusahaan, kemampuan perusahaan

    dalam meraih laba, maupun hubungan perusahaan dengan pihak lain seperti :

    investor, supplier, dan lainnya.

    2. Analysis of documents

    Dokumen yang wajib dianalisa adalah:

    Laporan keuangan terakhir

    Flowchart operasional internal perusahaan, apakah sudah memenuhi

    standar (Standar Operational Procedures)?

    Kebijakan perusahaan, analisa dilakukan dengan memeriksa kontrak-

    kontrak yang dahulu pernah dilakukan oleh perusahaan 15 Karim, Adiwarman, Ir, S.E, M.B.A, M.A.E.P, op.cit, h. 256 16 Vaughan, Emmett j., Risk Management, United States of America : John Wiley & Sons, Inc, 1997, h. 113

  • Loss Report, laporan ini berisi kerugian-kerugian yamg pernah dialami

    oleh perusahaan dari kegiatan operasionalnya. Kerugian yang

    dimaksud bukan saja kerugian yang di-cover oleh asuransi saja, tetapi

    semua jenis kerugian yang pernah dialami oleh perusahaan.

    Selain itu, perlu juga diperiksa dokumen-dokumen lainnya yang

    berhubungan dengan risk planning yang pernah dilakukan oleh

    perusahaan

    3. Interview

    Bagian penting lainnya adalah dengan mewawancara dengan pihak-pihak

    kompeten dengan bisnis perusahaan (seperti: Manajer Operasional, Manajer

    Keuangan, Konsultan Hukum, Manajer Sumber Daya Manusia, Supervisor,

    pihak di Divisi Pembelian dan Penjualan, hingga wawancara dengan

    pekerja/karyawan). Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi yang detail

    mengenai kondisi perusahaan yang sebenarnya. Sehingga, risiko yang dihadapi

    nantinya bisa lebih mudah untuk diantisipasi.

    4. Inspection

    Tahap ini dilakukan dengan cara menginspeksi secara langsung kondisi alat

    atau property perusahaan yang digunakan dalam kegiatan operasinya. Dari

    inspeksi ini diharapkan dapat diketahui mengenai possible loss yang mungkin

    akan dialami perusahaan dalam kegiatan operasinya.

  • 2.4 Jenis-jenis Risiko Bank Syariah

    Sebagaimana juga dialami bank konvensional, pengalaman perbankan

    syariah dalam menghadapi berbagai jenis banking risk juga kerap terjadi.karena

    bahasan pada penelitian ini adalah pembiayaan murabahah, maka risiko yang dibahas

    merupakan hasil penelitian di Bank Syariah Muamalat yang terkait dengan

    pembiayaan murabahah. Risiko-risiko tersebut dibagi menjadi dua faktor yaitu risiko

    terkait dengan faktor internal dan faktor-faktor eksternal bank syariah.

    Risiko terkait dengan Faktor Internal (Internal Factor)

    Dari hasil penelitian Bank Syariah Muamalat, ada beberapa faktor internal

    (manajemen bank syariah) yang bisa diidentifikasi dapat menimbulkan risiko pada

    pembiayaan murabahah, antara lain:

    1. Faktor Manajemen (management risk) bank syariah itu sendiri.

    - Risiko yang dihadapi karena adanya ketidakmampuan manajemen dalam

    melakukan analisa pembiayaan. Seperti ketidakmampuan manajemen bank

    dalam menilai karakter nasabah (character), menilai kelayakan (capacity)

    usaha calon nasabah, kemampuannya dalam menjalankan usaha dan

    hambatannya (constraints), dan yang terakhir dimungkinkan adanya salah

    penilaian dalam penentuan jaminan (collateral) yang harus diberikan nasabah

    kepada bank.

  • - Kurang cermatnya pihak bank dalam mengantisipasi adanya perubahan

    kebijakan moneter maupun adanya pengaruh ekonomi luar negeri.

    2. Pricing risk

    Pricing risk adalah risiko-risko yang berhubungan dengan penetapan harga

    dan jangka waktu pembiayaan. Bila risiko ini tidak diperhatikan secara hati-

    hati maka risiko ini akan memunculkan risiko tidak bersaingnya bagi hasil

    kepada dana pihak ketiga. Karena faktor penentuan harga akan sangat

    berpengaruh kepada pendapatan bank, sedangka faktor penentuan jangka

    waktu pembiayaan akan berpengaruh pada likuiditas bank.

    Oleh karena itu, bank dapat menentukan jangka waktu maksimal untuk

    pembiayaan murabahah dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini17:

    a. Tingkat keuntungan (marjin) saat ini dan prediksi perubahannya

    dimasa mendatang yang berlaku dipasar perbankan syariah (Direct

    Competitors Market Rate - DCRM18). Semakin cepat perubahan

    DCRM diperkirakan akan terjadi, semakin pendek jangka waktu

    maksimal pembiayaan.

    b. Suku bunga kredit saat ini dan prediksi perubahannya di masa

    mendatang yang berlaku di pasar perbankan konvensional (Inderect

    Competitors Market Rate - ICRM19). Semakin cepat perubahan ICRM

    17 Karim, Adiwarman, Ir, S.E, M.B.A, M.A.E.P, op.cit, h. 264 18 DCRM adalah tingkat marjin keuntungan rata-rata perbankan syariah 19 ICRM adalah tingkat suku bunga rata-rata perbankan konvensional

  • diperkirakan akan terjadi, semakin pendek pula jangka waktu

    maksimal pembiayaan.

    c. Ekspektasi Bagi Hasil kepada Dana Pihak Ketiga yang kompetitif di

    pasar perbankan syariah (Expected Competitive Return for Investors -

    ECRI20). Semakin besar perubahan ECRI diperkirakan akan terjadi,

    semakin pendek jangka waktu maksimal pembiayaan.

    Kedua hal diatas dapat memunculkan lagi risiko yang dinamakan

    Operational risk, dimana karena lemahnya sistem operasional dan prosedur

    bank syariah menyebabkan naiknya biaya operasional dan pada akhirnya

    akan mengurangi laba usaha. Secara umum, kelemahan-kelemahan tersebut

    akan menurunkan kinerja dan daya saing bank.

    Risiko terkait dengan Faktor Eksternal (External Factor)

    Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang bisa diidentifikasi

    menjadi faktor timbulnya risiko pada pembiayaan murabahah di Bank Syariah

    Muamalat :

    1. Risiko default (kelalaian), yang berasal dari nasabah, risiko ini dapat terjadi

    karena beberapa hal, antara lain :

    a. Nasabah tidak membayar atau terlambat melakukan pembayaran jumlah

    pokok atau angsuran berikut marjinnya.

    20 ECRI adalah target bagi hasil kompetritif yang diharapkan dapat diberikan kepada dana pihak ketiga

  • b. Nilai agunan atau kekuatan hukum agunan menjadi merosot, sehingga dapat

    merusak kekuatan bank terhadap pengikatan agunan, atau harganya menjadi

    jatuh. Misalnya:

    Jatuhnya nilai mesin-mesin yang dijaminkan karena sudah tua, rusak

    atau sengaja dikurangi nilainya.

    Sebagian barang agunan berupa kendaraan sudah dikontrakkan oleh

    nasabah dalam jangka waktu yang cukup panjang

    c. Kemampuan usaha nasabah menurun karena alat produksinya mulai

    ketinggalan zaman dan mulai tidak disukai oleh masyarakat.

    d. Kekayaan bersih nasabah semakin menurun karena nasabah mulai terlibat

    hutang-hutang dengan pihak lain.

    e. Adanya beberapa persyaratan pinjam (loan covenants) yang tidak dipenuhi

    oleh nasabah, baik karena tidak mampu, maupun karena memang mempunyai

    itikad tidak baik.

    2. Risiko Industri (Industry risk)

    Risiko ini ditentukan oleh siklus industri seperti dibawah ini:

    Gambar 2.2 Siklus risiko industri

    Pelunasan utang bank

    Pembelian alat produksi

    Piutang perusahaan

    Finished good

    IV I

    III II

  • Pada risiko industri, banyak hal yang harus diperhatikan dan diawasi oleh

    pihak bank syariah: (kasus pembelian alat produksi)

    Mulai dari penyediaan raw material oleh supplier, apakah selama ini

    supplier-nya berpengalaman dalam menyuplai barang? (tahap I)

    Kemudian pada divisi produksi, apakah tenaga kerjanya bagus dan

    kompeten?; apakah mesin yang digunakannya sudah usang atau tidak

    layak pakai? (tahap II)

    Ketika barang produksi telah menjadi finished goods, apakah tim

    pemasaran perusahaan tersebut kredibel dalam melakukan distribusi

    barang?; bagaimana pula dalam penentuan harga dan promosi terhadap

    barangnya? (tahap III)

    Hingga pengelolaan piutang, apakah banyak kendala? (tahap IV)

    3. Risiko Pasar (market risk), yaitu risiko kerugian pada posisi neraca dan

    rekening administratif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi

    pasar.21 Risiko ini dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu karena forex risk,

    interest dan fluktuasi harga komparatif:

    a. Forex (foreign currency exchange) risk, yaitu risiko kerugian akibat

    perubahan nilai tukar mata uang.

    21 Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia No: 7/13/PBI/2005 tentang kewajiban penyediaan Modal Minimum Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah

  • Apabila terjadi perubahan pada kurs mata uang asing terhadap rupiah pada

    saat bank memiliki posisi mata uang asing yang kurang menguntungkan

    dapat menimbulkan kerugian yang berdampak negatif terhadap kinerja

    bank. Perubahan kurs juga dapat menimbulkan kerugian bagi debitur-

    debitur bank yang memiliki pinjaman dalam mata uang asing (sementara

    sumber pengembaliannya berasal dari valuta rupiah). Ini juga berisiko bagi

    bank, karena akan berdampak pada kemampuan pengembalian debitur atas

    pinjamannya yang semakin menurun karena kenaikan kurs.

    b. Interet risk, yaitu risiko karena kenaikan suku bunga pasar. Bila terjadi

    kenaikan suku bunga pasar, maka bank tidak diperkenankan untuk

    melakukan perubahan harga jual yang telah disepakati sebelumnya diawal

    akad pembiayaan murabahah (fixed payment). Tingkat suku bunga yang

    tinggi juga dapat mempengaruhi kemampuan bank dalam melakukan

    penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).

    c. Fluktuasi harga komparatif

    Hal ini terjadi bila harga suatu barang dipasar naik setelah bank

    membelikannya untuk nasabah. Bank tidak bisa mengubah harga jual-beli

    tersebut.

    4. Disaster risk yaitu keadaan force majeur (bencana alam) yang dampaknya

    sangat besar terhadap bisnis nasabah yang dibiayai bank, seperti bencana

    sunami di Aceh. Bank syariah sendiri telah dapat mengantisipasinya dengan

  • adanya pemberlakuan jaminan, bank mensyaratkan adanya asuransi bangunan

    atau benda yang dijadikan jaminan.

    3. Mekanisme Pembiayaan Murabahah

    3.1 Murabahah Dalam Wacana Fiqih

    Murabahah adalah suatu akad jual beli barang, dimana penjual menyebutkan

    harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atasnya

    laba/keuntungan dalam jumlah tertentu. Transaksi murabahah ini lazim dilakukan

    oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya. Secara sederhana, murabahah berarti

    suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang

    disepakati. Misalnya, seseorang membeli barang kemudian menjualnya kembali

    dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan

    dalam nominal rupiah atau dalam bentuk presentase dari harga pembeliannya.

    Murabahah merupakan salah satu konsep Islam dalam melakukan perjanjian

    jual beli. Konsep ini telah banyak digunakan oleh bank-bank dan lembaga-

    lembaga keuangan Islam untuk pembiayaan modal kerja dan pembiayaan

    perdagangan para nasabahnya.

    Dalam bukunya Ir. Adiwarman Karim menjelaskan, jadi singkatnya

    murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan

    margin (keuntungan) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.22 Keseluruhan

    22 Karim, Adiwarman, Ir, S.E, M.B.A, M.A.E.P, op.cit, h. 113

  • harga barang yang telah disepakati tersebut kemudian dibayar oleh pembeli

    (nasabah) secara mencicil. Pemilikan (ownership) dari asset tersebut dialihkan

    kepada nasabah (pembeli) secara proporsional sesuai dengan cicilan-cicilan yang

    telah dibayar. Dengan demikian, barang yang dibeli berfungsi sebagai agunan

    sampai seluruh biaya dilunasi. Selain itu, bila pada kenyataannya bank meminta

    pula agunan tambahan dari nasabah, maka hal tersebut masih diperkenankan.

    Dasar Hukum :

    Al-Quran

    Ayat-ayat al-Quran yang dapat dijadikan rujukan dasar akad transaksi

    murabahah, adalah :

    Surat An-Nisa : 29

    Artinya : Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan harta

    sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang

    berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.

    Surat Al- Baqarah : 275

  • Artinya : Dan Allah SWT telah menghalakan jual beli dan mengharamkan

    riba.

    Al-Hadits

    Hadits-hadits Rasulullah SAW yang dapat dijadikan rujukan dasar akad transaksi

    murabahah, adalah :

    E. : ) (

    Dari Rafaah bin Rafie ra. Bahwa rasulullah SAW. Pernah ditanya pekerjaan

    apakah yang paling mulia, Rasulullah SAW. Menjawab : pekerjaan seseorang

    dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur (HR. Al-Bazzar, Imam

    Hakim mengkategorikan hadits ini sahih).

    : : ) (

    Dari sohib r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tiga hal yang dari dalamnya

    terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh, maqaradhah (mudharabah) dan

    mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual

    (HR. Ibnu Majah).

  • Ijma

    Umat Islam telah berkonsesus tentang keabsahan jual beli, karena manusia

    sebagai anggota masyarakat selalu membutuhkan apa yang dihasilkan dan

    dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu, jual beli adalah salah satu jalan untuk

    mendapatkannya secara sah. Dengan demikian maka mudahlah bagi setiap

    individu untuk memenuhi kebutuhannya.

    Para ulama awal seperti Imam Malik dan Imam SyafiI yang secara khusus

    menyatakan bahwa penjualan murabahah sah, walaupun tidak menyebutkan

    referensi dari hadits yang jelas. Ulama yang masyhur mulai mengungkapkan

    pandangan mereka mengenai murabahah pada pada perempat pertama abad

    kedua Hijriah, atau lebih. Karena nampaknya tidak ada acuan langsung

    kepadanya dalam al-Quran atau dalam Hadits yang diterima umum, para ahli

    hukum harus membenarkan murabahah berdasarkan landasan lain.

    3.2 Praktek Murabahah Dalam Sistem Perbankan Syariah

    Murabahah umunya diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian

    barang-barang investasi, baik domestik maupun luar negeri seperti melalui Letter

    of Credit (L/C). skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan

    menyerupai kredit investasi pada bank konvensional.

    Bank-bank syariah pada umumnya menggunakan murabahah sebagai

    metode utama pembiayaan, hampir tujuh puluh lima persen (75%) dari dana pihak

  • ketiganya. Pada awal 1984, di Pakistan, pembiayaan keuangan jenis murabahah

    berjumlah hampir delapan puluh persen (80%) dari seluruh investasi deposito PLS

    (profit Loss Sharing). Sedangkan dalam kasus Bank Islam Dubai (DIB),

    pembiayaan murabahah berjumlah delapan puluh dua persen (82%) dari seluruh

    pembiayaan untuk tahun 1989. bahkan untuk Bank Pembangunan Islam, lebih

    dari sepuluh tahun periode pembiayaan, tujuh puluh tiga persen (73%) seluruh

    pembiayaan keuangan perdagangan luar negerinya berdasarkan pola murabahah.

    Tujuan pembiayaan murabahah pada bank Islam23:

    1. Bank dapat membiayai keperluan modal kerja nasabahnya untuk membeli:

    a. Bahan Mentah

    b. Bahan setengah jadi

    c. Barang jadi

    d. Stok dan persediaan

    e. Suku cadang dan penggantian

    2. Bank dapat pula membiayai penjualan barang atau jasa yang dilakukan oleh

    nasabahnya. Termasuk didalamnya biaya produksi barang baik untuk pasar

    domestik maupun di ekspor. Pembiayaan akan meliputi :

    a. Biaya Bahan Mentah

    b. Tenaga Kerja

    c. Overhead cost 23 Muhammad, Sistem & Prosedur Operasional Bank Islam, Yogyakarta : UII press 2000, h. 25

  • d. Marjin (keuntungan)

    3. Nasabah dapat pula meminta bank untuk membiayai stok dan persediaan

    mereka. Keperluan pembiayaan mereka ditentukan pada besarnya stok dan

    persediaannya. Pembiayaan juga meliputi biaya bahan mentah, tenaga kerja

    dan overhead.

    4. Dalam hal ini nasabah perlu untuk mengimpor bahan mentah, barang setengah

    jadi, suku cadang dan penggantian dari luar negeri menggunakan letter of

    credit, bank dapat membiayai permintaan akan letter of credit tersebut dengan

    menggunakan prinsip murabahah.

    5. Nasabah yang telah mendapatkan kontrak, baik itu kontrak kerja maupun

    kontrak pemasukan barang, dapat pula meminta pembiayaan dari bank. Bank

    dapat membiayai keperluan ini dengan prinsip murabahah dan untuk itu bank

    dapat meminta surat perintah kerja (SPK) dari nasabah yang bersangkutan.

    Kondisi/syarat-syarat pembiayaan murabahah24:

    Menurut perspektif Islam, pembiayaan murabahah adalah bentuk penjualan

    karena itu kondisi murabahah sama dengan penjualan pada umumnya yang

    meliputi :

    1. Bank Islam memberitahu biaya modal kepada nasabah

    2. Kontrak pertama harus sah

    3. Kontrak harus bebas dari unsur riba

    24 www.tazkiaonline.com, Kondisi/Syarat-syarat dan Prosedur Pembiayaan Murabahah

  • 4. Bank Islam harus memiliki dan menguasai barang komoditi tersebut

    sebelum menjualnya kepada klien

    5. Komoditi yang diperjual belikan harus halal

    6. Bank Islam seharusnya mengungkapkan setiap cacat yang terjadi setelah

    pembelian atas produk dan membuka semua hal yang berhubungan

    dengan cacat

    7. Bank Islam harus membuka semua ukuran yang berlaku bagi harga

    pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang

    8. Jika syarat dalam 1, 6 atau 7 tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:

    a. Melanjutkan pembelian seperti apa adanya

    b. Kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan

    c. Membatalkan kontrak

    Prosedur pembiayaan murabahah25:

    Pembiayaan murabahah dalam bank Islam harus mengikuti prosedur sebagai

    berikut:

    1. Klien meminta bank melalui form tertulis untuk membeli produk

    tertentu, dimana klien akan melalui murabahah. Form tersebut berisi

    tentang spesifikasi produk yang diminta, persyaratan dokumen, total nilai

    produk, informasi tentang klien, pembagian laba dan sumber penawaran

    produk,

    25 Ibid

  • 2. Bank Islam mempelajari form surat permohonan klien dari segala aspek

    yang meliputi:

    a. Mempelajari posisi klien, seperti jenis bisnis klien, situasi kredit

    dan likuiditasnya.

    b. Mempelajari produk dari segi ekonomi, gambaran situasi umum

    pasar, yaitu jumlah penawaran dan permintaan produk.

    c. Mempelajari metode penawaran pembelian, seperti biaya operasi

    pembiayaan murabahah, jangka waktu perjanjian, laba

    pembiayaan dan pembayaran angsuran pinjaman.

    d. Meminta jaminan untuk melindungi hak bank dalam

    mendapatkan kembali uangnya sesuai dengan waktu perjanjian.

    3. Setelah memeriksa dan mengesahkan pembiayaan murabahah, bank

    meminta pembeli untuk menandatangani kontrak perjanjian. Pada tahap

    ini, biaya operasi pembiayaan murabahah dan penentuan pembagian laba

    didiskusikan dan disepakati. Disamping itu bank Islam meminta pembeli

    untuk membayar angsuran pertama harga murabahah. Bentuk paling

    umum kontrak pembelian bank Islam disini adalah pernyataan oleh klien

    bahwa klien akan menyelesaikan perjanjian pembeliannya ketika

    diberitahukan oleh bank bahwa produk telah tersedia.

    4. Setelah bank Islam membeli produk, kemudian bank Islam dan pembeli

    menandatangani kontrak penjualan murabahah. Pada kontrak tersebut,

  • biaya operasi yang sesungguhnya pembiayaan murabahah dan

    keuntungan yang diperoleh bank harus diketahui.

    5. Pembeli menerima produk.

    Persyaratan pembiayaan (terms of conditions):

    Semua permohonan untuk fasilitas murabahah harus memenuhi terms of

    conditions sebagai berikut :

    Persyaratan pembiayaan perusahaan26 :

    1. Proposal/Surat Permohonan

    a. Gambaran Umum Usaha

    b. Rencana atau Prospek Usaha

    c. Perincian Rencana Penggunaan Dana

    d. Jumlah dan Jangka Waktu Penggunaan Dana

    2. Legalitas

    a. Surat Ijin Umum Perusahaan (SIUP)

    b. Nomor Pokok Wajib Pajak

    c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

    d. Akta Pendirian Perusahaan

    e. Identitas Pengurus (KTP, NPWP, KK)

    26 www.muamalatbank.com, Persyaratan Pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia

  • 3. Laporan Keuangan

    a. Neraca dua tahun terakhir

    b. Rugi laba dua tahun terakhir

    c. Data Persediaan terakhir

    d. Data Penjualan tiga bulan terakhir

    e. Copy Rekening Koran tiga bulan terakhir

    4. Data Jaminan

    5. Persyaratan lainnya akan diberitahukan kemudian

    Persyaratan pembiayaan individual27 :

    1. Ketentuan Umum

    a. WNI

    b. Usia 21-54 tahun (tidak melebihi usia pensiun)

    c. Minimum pembiayaan Rp. 100.000.000,-

    d. Jangka waktu maksimal 5 tahun

    e. Masa kerja minimal 2 tahun

    2. Dokumen yang dibutuhkan

    a. Mengisi formulir permohonan pembiayaan individual

    b. Surat persetujuan suami/istri diatas materai

    c. Fotokopi KTP suami/istri (2 buah)

    d. Fotokopi Surat Nikah (1 buah) 27 Ibid

  • e. Data Penghasilan Karyawan (Surat Keterangan/Rekomendasi dari

    Perusahaan, Slip gaji asli 3 bulan terakhir, rekening Bank 3 bulan

    terakhir, Surat Pernyataan dari Bendahara Gaji perusahaan yang

    bersangkutan untuk mentransfer gaji ke Bank Syariah Muamalat).

    3. Syarat-syarat Jaminan

    a. Asli SHM/SHGB/BPKB/Pernyataan Dealer

    b. Asli IMB/Blue Print, STNK

    c. Asli PBB tahun terakhir/asli faktur pembeliaan kendaraan

    d. Denah lokasi rumah yang akan dibeli/dijaminkan/asli kuitansi

    kosong 3 lembar (1 bermaterai).

    3.3 Peranan Bank Syariah Dalam Murabahah Sebagai Penyandang Dana

    Bukan Penjual

    Peran bank syariah dalam murabahah dapat dijelaskan secara lebih tepat

    dengan istilah pembiaya dari pada istilah penjual barang. Bank tidak menangani

    barang, dan juga tidak menanggung risiko dalam hubungan ini. Kerja bank hampir

    secara penuh terkait dengan penanganan dokumen yang terkait.

    Kontrak segera dijelaskan setelah pihak bank memberikan informasi dengan

    korespondensinya bahwa eksportir atau penjual siap untuk mengirimkan barangnya,

    atau setelah dokumen tiba di bank. Bank tidak menunggu barangnya tiba untuk

    mengujinya sebelum mengirimkan barang kepada pembeli. Pada kenyataannya, hal

    tersebut tidak mendapat cukup perhatian dari bank, karena hal itu merupakan

  • tanggung jawab pembeli untuk mengecek spesifikasi item-itemnya, sebelum

    menandatangani perjanjian, dimana klien menegaskan bahwa ia tidak dapat meminta

    bantuan kepada bank atas cacat yang ada pada barang. Jika cacat terjadi, hal ini

    diperhatikan oleh perusahaan asuransi, biayanya dicakup dalam harga dan itu

    dikeluarkan oleh pembeli. Karena pembawa (perusahaan kapal atau udara atau

    lainnya) dipandang sebagai wakil bank, yang berkaitan dengan barang-barang itu,

    maka pembeli harus mampu mengatasi semua masalah yang diakibatkan pada saat

    barang diantarkan, tanpa harus mengunjungi bank. Karena itu, bank syariah

    mengeliminasi kemungkinan keharusan membayar biaya yang tidak termasuk dalam

    transaksi murabahah.

    4. Prinsip Dalam Analisis Pembiayaan di Bank Syariah

    Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis

    pembiayaan di bank syariah, adalah sebagai berikut28 :

    Prinsip Analisis Pembiayaan

    Prinsip analisis pembiayaan didasarkan pada rumus 5 C, yaitu:

    1. Character, artinya sifat atau karakter nasabah pengambil pinjaman.

    2. Capacity, artinya kemampuan nasabah untuk menjalankan usaha dan

    mengembalikan pinjaman yang diambil.

    3. Capital, artinya besarnya modal yang diperlukan peminjam. 28 Muhamad, DRS, M.Ag, op.cit bab 14

  • 4. Colateral, artinya jaminan yang telah dimiliki yang diberikan peminjam

    kepada bank.

    5. Condition, artinya keadaan usaha atau nasabah prospek atau tidak.

    Prinsip 5C tersebut terkadang ditambahkan dengan 1 C, yaitu Constraint artinya

    hambatan-hambatan yang mungkin mengganggu proses usaha.

    Tujuan Analisis Pembiayaan

    Analisis pembiayaan memiliki dua tujuan, yaitu: tujuan umum dan tujuan

    khusus. Tujuan umum analisis pembiayaan adalah pemenuhan jasa pelayanan

    terhadap kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan melancarkan

    perdagangan, produksi, jasa-jasa, bahkan konsumsi yang kesemuanya ditunjukkan

    untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sedangkan tujuan khusus analisis

    pembiayaan, adalah sebagai berikut :

    1. Untuk menilai kelayakan usaha calon peminjam

    2. Untuk menekan resiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan

    3. Untuk menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak

    Analisis pembiayaan juga bertujuan agar prinsip Syariah mampu dioptimalkan

    sebagai prinsip dalam operasional perbankan syariah, sehingga mengatur

    pembiayaan-pembiayaan yang harus dihindari, yaitu:

    1. Pembiayaan untuk usaha spekulasi;

  • 2. Pembiayaan untuk usaha tanpa data yang jelas dan informasi yang

    memadai;

    3. Pembiayaan pada bidang yang tidak dikuasai bank;

    4. Pembiayaan kepada penerima pembiayaan yang bermasalah pada bank lain;

  • BAB III

    PROFIL BANK SYARIAH MUAMALAT

    A. Sejarah Singkat

    PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1991, diprakasai

    oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai

    kegiatan operasinya pada tanggal Syawal 1412 H atau tanggal 27 1 Mei 1992.

    Didukung oleh sekelompok pengusaha dan cendikiawan muslim, pendirian Bank

    Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbuktui dari komitmen

    pembelian saham Perseroan senilai Rp 84 miliar pada saat penandatanganan akta

    pendirian Perseroan. Selanjutnya, pada acara silaturahmi pendirian di Istana

    Bogor, diperoleh tambahan komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut

    menanam modal senilai Rp 106 miliar.

    Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank

    Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Pengakuan ini

    semakin memperkokoh posisi Perseroan sebagai Bank Syariah pertama dan

    terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa maupun produk yang terus

    dikembangkan.29

    Pada akhir tahun 90-an, Indonesia dilanda krisis moneter yang

    memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor

    29 Bank Muamalat Indonesia, Bank Muamalat Laporan Tahunan 2005 Annual Report,

    (Jakarta, Muamalat Institute, 2006), h.4, t.d.

  • perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi, Bank

    Muamalat pun terimbas dampak krisis. Di tahun 1998, rasio pembiayaan macet

    (NPF) mencapai lebih dari 60 %. Perseroan mencatat rugi sebesar Rp 105 miliar.

    Ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal

    setor awal.

    Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari

    pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development

    Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21

    Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat.

    Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa

    yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat. Dalam kurun

    waktu tersebut, Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi

    laba berkat upaya dan dedikasi setiap Kru Muamalat, ditunjang oleh

    kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan

    terhadap pelaksanaan perbankan syari`ah secara murni.

    Melalui masa-masa sulit ini, Bank Muamalat berhasil bangkit dari

    keterpurukan. Diawali dari pengangkatan kepengurusan baru dimana seluruh anggota

    Direksi diangkat dari dalam tubuh Muamalat, Bank Muamalat kemudian menggelar

    rencana kerja lima tahun dengan penekanan pada (i) restrukturisasi aset dan program

    efisiensi, (ii) tidak mengandalkan setoran modal tambahan dari para pemegang

    saham, (iii) tidak melakukan PHK satu pun terhadap sumber daya insani yang ada,

    dan dalam hal pemangkasan biaya, tidak memotong hak Kru Muamalat sedikitpun,

  • (iv) pemulihan kepercayaan dan rasa percaya diri Kru Muamalat menjadi prioritas

    utama di tahun pertama kepengurusan Direksi baru, (v) peletakan landasan usaha

    baru dengan menegakkan disiplin kerja Muamalat menjadi agenda utama di tahun

    kedua, dan (vi) pembangunan tonggak-tonggak usaha dengan menciptakan serta

    menumbuhkan peluang usaha menjadi sasaran Bank Muamalat pada tahun ketiga dan

    seterusnya, yang akhirnya membawa Bank kita, dengan rahmat Allah Rabbul Izzati,

    ke era pertumbuhan baru memasuki tahun 2005 dan seterusnya.

    Bahkan hingga akhir tahun 2005, Bank Muamalat tetap merupakan Bank

    Syariah terkemuka di Indonesia dengan jumlah aktiva sebesar Rp 7,43 triliun,

    modal disetor sebesar Rp 492,79 miliar serta perolehan laba bersih sebesar Rp

    106,66 miliar pada tahun 2005.30

    B. Visi dan Misi

    1. Visi

    Menjadi Bank Syariah utama di Indonesia, dominan di pasar spiritual,

    dikagumi di pasar rasional.

    2. Misi

    Menjadi ROLE MODEL lembaga keuangan syariah dunia dengan penekanan

    pada semangat kewirausahaan, keunggulan manajemen dan orientasi investasi

    yang inovatif untuk memaksimumkan nilai kepada stakeholder.31

    30 Ibid, h.5. 31 Ibid, h.1.

  • C. Produk dan Jasa

    1. Produk Penghimpunan Dana

    a. Shar-E

    Shar-E adalah tabungan instan investasi syariah yang memadukan

    kemudahan akses ATM, Debit dan Phone Banking dalam satu kartu dan

    dapat dibeli di kantor pos seluruh Indonesia. Hanya dengan Rp 125.000,00

    langsung dapat kartu paket Shar-E dengan saldo awal tabungan

    Rp.100.000,00, sebagai sarana menabung dan berinvestasi di Bank

    Muamalat melalui kantor pos. Diinvestasikan hanya untuk usaha halal

    dengan bagi hasil kompetitif.

    b. Tabungan Ummat

    Merupakan investasi tabungan dengan akad mudharabah di counter Bank

    Muamalat di seluruh Indonesia maupun di Gerai Muamalat yang

    penarikannya dapat dilakukan di seluruh counter Bank Muamalat, ATM

    Muamalat, ATM BCA/PRIMA dan jaringan ATM Bersama.

    c. Tabungan Arafah

    Merupakan tabungan yang dimaksudkan untuk mewujudkan niat nasabah untuk menunaikan ibadah haji. Produk ini akan membantu nasabah untuk merencanakan ibadah haji sesuai dengan kemampuan keuangan dan waktu pelaksanaan yang diinginkan. Dengan fasilitas asuransi jiwa, Insya Allah pelaksanaan ibadah haji tetap terjamin.

    d. Deposito Mudharabah

  • Merupakan jenis investasi bagi nasabah perorangan dan badan hukum

    dengan bagi hasil yang menarik. Simpanan dana masyarakat akan dikelola

    melalui pembiayaan kepada sektor riil yang halal dan baik saja, sehingga

    memberikan bagi hasil yang halal. Tersedia dalam jangka waktu 1, 3, 6

    dan 12 bulan.

    e. Deposito Fulinves

    Merupakan jenis investasi yang dikhususkan bagi nasabah perorangan,

    dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan dengan nilai nominal minimal Rp

    2.000.000,00 atau senilai USD 500 dengan fasilitas asuransi jiwa yang

    dapat diperpanjang secara otomatis (Automatic Roll Over) dan dapat

    dipergunakan sebagai jaminan pembiayaan atau untuk referensi Bank

    Muamalat. Nasabah memperoleh bagi hasil yang sangat menarik setiap

    bulan.

    f. Giro Wadi'ah

    Merupakan titipan dana pihak ketiga berupa simpanan giro yang

    penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek,

    bilyet, giro dan pemindahbukuan.

    g. Dana Pensiun Muamalat

    Dana Pensiun Muamalat dapat diikuti oleh

    mereka yang berusia minimal 18 tahun, atau

  • sudah menikah, dan pilihan usia pensiun 45-65

    tahun dengan iuran sangat terjangkau, yaitu

    minimal Rp 20.000,00 per bulan dan

    pembayarannya dapat didebet secara otomatis

    dari rekening bank muamalat atau dapat

    ditransfer dari bank lain.32

    2. Produk Penanaman Dana

    a. Konsep jual beli:

    1. Murabahah

    Adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan

    keuntungan yang disepakati. Harga jual tidak boleh berubah selama

    masa perjanjian. [Q. S. An Nisaa (4): 29]

    2. Salam

    Adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari dimana

    pembayaran dilakukan dimuka, tunai. [Q. S. Al Baqarah (2): 282]

    3. Istishna

    32 Ibid, h. 177

  • Adalah jual beli barang dimana shaani (produsen) ditugaskan untuk membuat suatu barang (pesanan) dari Mustashni (pemesan). Istishna sama dengan Salam yaitu dari segi obyek pemesanannya yang harus dibuat atau dipesan terlebih dahulu dengan ciri-ciri khusus. Perbedaannya hanya pada sistem pembayarannya yaitu Istishna pembayaran dapat dilakukan di awal, di tengah atau di akhir pemesanan.

    b. Konsep bagi hasil:

    1. Musyarakah

    Adalah kerjasama antar dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung sesuai kesepakatan. [Q. S. Shad (28): 24]

    2. Mudharabah

    Adalah kerjasama antar bank dengan Mudharib (nasabah) yang

    mempunyai keahlian atau keterampilan untuk mengelola usaha. Dalam

    hal ini pemilik modal (Shahibul Maal) menyerahkan modalnya kepada

    pekerja/pedagang (Mudharib) untuk dikelola.

    c. Konsep sewa:

    1. Ijarah

    Adalah perjanjian antara bank (Muajjir) dengan nasabah (Mustajir) sebagai penyewa suatu barang milik bank dan bank mendapatkan imbalan jasa atas barang yang disewakannya.

    2. Ijarah Muntahia Bittamlia

    Adalah perjanjian antara bank (Muajjir) dengan nasabah sebagai penyewa. Mustajir/penyewa setuju akan membayar uang sewa selama masa sewa yang diperjanjikan dan bila sewa berakhir penyewa mempunyai hak opsi untuk memindahkan kepemilikan obyek sewa tersebut.

    3. Produk Jasa

    a. Wakalah

  • Merupakan akad pemberian wewenang/kuasa dari lembaga/seseorang (sebagai pemberi mandat) kepada pihak lain (sebagai wakil) untuk melaksanakan urusan dengan batas kewenangan dan waktu tertentu. Segala hak dan kewajiban yang diemban wakil harus mengatasnamakan yang memberi kuasa.

    b. Kafalah

    Merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, Kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin. [Q. S. Yusuf (12): 72].

    c. Hiwalah

    Merupakan pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal alaih atau orang yang berkewajiban membayar hutang.

    d. Rahn

    Adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas

    pinjaman yang diterimanya. Secara sederhana rahn adalah jaminan hutang

    atau gadai.

    e. Qardh

    Adalah pemberian pinjaman dari bank kepada nasabah yang dipergunakan untuk kebutuhan mendesak dan bukan untuk pinjaman yang bersifat konsumtif. Pengembalian pinjaman ditentukan dalam jangka waktu tertentu (sesuai kesepakatan bersama) sebesar pinjaman tanpa ada tambahan keuntungan dan pembayarannya dilakukan secara angsuran atau sekaligus. [Q. S. Al Hadid (57): 11].33

    4. Jasa Layanan

    a. ATM

    33 Ibid, h.179

  • Layanan ATM 24 jam yang memudahkan nasabah melakukan penarikan

    dana tunai, pemindahbukuan antar rekening, pemeriksaan saldo,

    pembayaran zakat-infaq-shadaqah (hanya pada ATM Muamalat), dan

    tagihan telepon. Untuk penarikan tunai, Kartu Muamalat dapat diakses di

    lebih dari 8.888 ATM di seluruh Indonesia, terdiri atas mesin ATM

    Muamalat, ATM BCA dan ATM Bersama, yang bebas biaya penarikan

    tunai. Kartu Muamalat juga dapat dipakai untuk bertransaksi di 18.000

    lebih merchant Debit BCA. Khusus untuk ATM Bersama saat ini sudah

    dapat dilakukan transfer antar bank yang menjadi anggota ATM Bersama.

    b. SalaMuamalat

    Merupakan layanan phone banking dan call center melalui (021) 2511616,

    0807-1-68262528 atau 0807-11-74273 yang memberikan kemudahan

    kepada nasabah, setiap saat dan di mana pun nasabah berada untuk

    memperoleh informasi mengenai produk, saldo dan informasi transaksi,

    pemindahbukuan antar rekening, serta mengubah PIN.

    c. Pembayaran Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS)

    Jasa yang memudahkan nasabah dalam membayar ZIS, baik ke lembaga-

    lembaga pengelola ZIS Bank Muamalat maupun ke lembaga-lembaga ZIS

    lainnya yang bekerjasama dengan Bank Muamalat, melalui mesin ATM

    Muamalat dan seluruh cabang Bank Muamalat.

    d. Jasa-jasa Lain

  • Bank Muamalat juga menyediakan jasa-jasa perbankan lainnya kepada

    masyarakat luas, seperti transfer, collection, standing instruction, bank

    draft, referensi bank dan sebagainya.34

    D. Manajemen dan Organisasi Perusahaan

    Gambar 3.1

    STRUKTUR ORGANISASI

    34 Ibid, h. 181

    Resident Auditor Adm. & IT System Data Control FinancingTreasury Monitoring & Audit

    Analysis

    Financing & Settlement Financing Supervision

    & SOP F.I. & Sharia Financial

    Institution Financing Product

    Development

    Compliance &Risk Management KYC Unit

    Corporate Support Communication & Public

    Relation Corp. Legal & Investor

    Relation Protocolair & Internal

    Relation Corporate Planning

    Administration MIS & Tax Personnel Adm & Log. Information &

    Technology Technical Support &

    Data Center Opr. Supervision & SOP

    Business Development Syst. Development &

    SOP Product & Dev.

    Maintenance Treasury

    Network & Alliance Network Alliance (POS. Dal

    Muamalat, Pegadaian) Shar-E & Gerai Optimizing Virtual Banking Operations

    (Call Center & Card Center)

    Business Units Opr. Head Office Coordinating

    Branches & Branches Office

    DPLK

    Business (Funding & Individual)

    Compliance & Corporate Support

    Business(Policy & Support)

    Board of Commissioners

    KPNO

    Shareholders Meeting

    President Director

    IAG

    Sharia Supervisory Board

    Administration &Financing

    Business(Net. & Alliance)

  • Sumber: Annual Report Bank Muamalat 2005

    1. Ilustrasi dari struktur organisasi adalah:

    a. Shareholders Meeting (Rapat Umum Pemegang Saham)

    RUPS di dalam struktur organisasi PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk

    merupakan pemegang kekuasaan tertinggi pada perusahaan, di mana

    kedudukannya berada pada posisi teratas dari struktur organisasi tersebut.

    RUPS di dalam pelaksanaan kekuasaannya tidak bekerja secara keseluruhan

    karena RUPS merupakan kumpulan dari para pemegang saham yang

    mengambil bagian untuk ikut serta di dalam usaha perusahaan, oleh karena

    hal ini maka RUPS mendelegasikan wewenang kepada Dewan Komisaris dan

    Dewan Syariah.

    b. Board of Commisioners (Dewan Komisaris)

    Bertugas mengawasi perseroan serta memeriksa laporan dari presiden direktur

    sekaligus melaporkannya secara tahunan ke RUPS.

    c. Sharia Supervisory Board (Dewan Pengawas Syariah)

    Badan ini berfungsi memeriksa dan mengawasi kegiatan usaha bank agar

    tidak menyimpang dari ketentuan dan prinsip syariah yang telah difatwakan

    oleh Dewan Syariah Nasional (DSN).

  • d. President Director (Direktur utama)

    Pejabat pelaksana yang secara langsung bertanggung jawab atas kelancaran

    kegiatan operasional bank dan pengambil keputusan tertinggi yang

    membawahi direktur muda.

    e. Compliance &Corporate Support

    Bertanggung jawab memastikan kepatuhan bank dalam beroperasi sesuai

    dengan prosedur dan aturan-aturan yang berlaku, serta membuat laporan yang

    akan diajukan ke Bank Indonesia, dalam hal ini compliance&corporate

    director tidak melakukan aktivitas lainnya atau tidak terjun langsung dalam

    operasional untuk membantu tugasnya, maka dibentuklah tim kerja dengan

    struktur sendiri. Didalamnya yakni corporate support group dan kumpulan

    beberapa orang yang dijadikan staff pembantu untuk compliance.

    f. Financing & Settlement

    Tugasnya adalah mempromosikan produk baru, mengumpulkan opini dari

    sharia supervision board, membangun hubungan dengan institusi luar,

    melaporkan anggaran dan jurnal laporan tahunan, mengevaluasi fortopolio

    dan memonitor NPL.

    2. Kepengurusan PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk:35

    Dewan Pengawas Syariah - Sharia Supervisory Board

    Ketua : KH. M. A. Sahal Mahfudh

    35 Ibid, h. 176

  • Anggota : KH. Maruf Amin, Prof. Dr. H. Umar Shihab dan

    Prof. Dr. H. Muardi chatib

    Dewan komisaris - Board of Commisioners

    Komisaris Utama : Drs. H. Abbas Adhar

    Komisaris : Prof. Korkut Ozal, Drs. H. Syaiful Amir, Ak, MBA,

    H. Iskandar Zulkarnain, SE, MSi dan H. Zainulbahar

    Nur, SE.

    Direktur utama : H. A. Riawan Amin, MSc.

    3. Komposisi pemegang saham PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk adalah:36

    Diagram 3.1

    36 Ibid, h. 30

    28,01%

    21,28%

    15,32%

    6,71%5,49%

    3,25% 2,98% 2,98% 2,44%

    11,56%

    1

    Komposisi Pemegang Saham PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk

    IDB Baubyan Bank KuwaitAtwill Holding Limited Abdul RohimRizal Ismael Dr. H. Abbas adharIDF Foundation BMF Holdings LimitedBadan Pengelola Dana ONHI Masyarakat

  • BAB IV

    MANAJEMEN RISIKO PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA BANK

    SYARIAH MUAMALAT

    1. Proses Manajemen Risiko Pada Bank Syariah

    Manajemen risiko adalah sebuah fungsi pengelolaan sebuah risiko untuk men-

    design dan mengimplementasikan beberapa prosedur yang dapat meminimalkan

    risiko kerugian atau meminimalkan financial impact akibat risiko-risiko tersebut.37

    Sedangkan pengelolaan risiko lainnya yang berhubungan dengan pembiayaan

    murabahah dilakukan dengan langkah-langkah yaitu : Pengelolaan pembiayaan

    bermasalah secara efektif dan efisien.

    Adapun proses manajemen resiko pada pembiayaan murabahah dilakukan

    dengan langkah-langkah sebagai berikut :

    1.1 Proses Penilaian Risiko Pada Bank Syariah

    Tujuan utama dari penilaian risiko ini adalah untuk mengukur potensi risiko

    yang mungkin terjadi pada nasabah (debitor), sehingga bank syariah mampu

    menentukan jangka waktu yang cocok dan menentukan tingkat marjin yang sesuai

    dengan karakteristik usaha nasabah. 37 Vaughan, Emmett J (1997), op.cit. hlm.30

  • Penilaian risiko ini sebenarnya bukan merupakan langkah yang dilakukan

    oleh bank tempat penulis melakukan penelitian. Penulis hanya mencoba untuk

    memberikan tool untuk mempermudah bank syariah dalam menilai kelayakan

    nasabah dalam pembiayaan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi risiko.

    Adapun dalam proses penilaian (evaluasi) risiko, bank syariah membagi

    risiko lagi menjadi (2) aspek, yaitu :

    1. First Way Out

    Jenis risiko yang terjadi pada First Way Out adalah default risk (risiko

    kebangkrutan), risiko ini dipengaruhi oleh :

    a. Industry risk, yaitu risiko yang terjadi pada jenis usaha yang ditentukan

    oleh karakteristik dan kinerja keuangan usaha nasabah.

    b. Kondisi internal perusahaan nasabah, seperti manajemen, organisasi,

    pemasaran, teknis produksi, dan keuangan.

    c. Faktor negatif lainnya, seperti keadaan force majeur, market risk (forex

    risk, interest risk), maupun karena permasalahan hukum.

    2. Second Way Out

    Pada tahap ini, risiko yang terjadi dipengaruhi oleh :

    a. Kesempurnaan pengikatan jaminan.

    b. Nilai jual kembali jaminan (marketability value of guarantee)

    c. Kredibilitas penjamin (bila ada), pihak ini yang nantinya akan

    menjamin bila nasabah tidak mampu membayar.

  • Default risk akan menentukan Customer Risk Rating (CRR, Rating Risiko

    Nasabah). Jika kondisi industry risk dan kondisi internal perusahaan nasabah baik,

    maka CRR akan tinggi ratingnya atau rendah risikonya serta diberi nilai dan score

    sebagai berikut :

    Rating Score Tingkat Risiko

    1 = baik sekali 5 Very low risk

    2 = baik 4 Low risk

    3 = cukup/sedang 3 Moderate risk

    4 = kurang 2 High risk

    5 = buruk sekali 1 Very high risk

    Sumber : Data Bank Muamalat

    Sedangkan, kondisi internal perusahaan nasabah diukur dari hasil analisis

    aspek manajemen, pemasaran, teknis produksi, dan keuangan perusahaan. Kondisi

    keuangan perusahaan (rasio keuangan perusahaan) dibandingkan dengan kinerja

    keuangan rata-rata industri. Dari hasil tersebut didapat industry rating :

    Table 4.1 Cutomer Risk Rating (CRR)

  • Score Industry Risk Rating Ciri-ciri umum

    5 Very low risk Struktur industri perusahaan sangat kuat, kinerja

    keuangan dan kinerja pinjaman diatas rata-rata

    industri.

    4 Low risk Diatas rata-rata kinerja industri.

    3 Moderate risk Rata-rata industri dengan proyek pertumbuhan

    yang memadai dan mempunyai kemampuan

    keuangan yang cukup untuk membayar kembali

    pinjamannya.

    2 High risk Di bawah rata-rata kinerja industri.

    1 Very high risk Industri berisiko untuk diberikan pinjaman

    dengan prospek dan kemampuan keuangan yang

    meragukan.

    Sumber : Data Bank Muamalat

    Recovery risk merupakan pembayaran kembali atas pinjaman nasabah dari

    hasil penjualan jaminan, apabila first way out tidak dapat diharapkan lagi. Dalam

    menilai recovery risk ini dianalisis dengan menggunakan Rasio Pemenuhan Jaminan

    (RPJ), yaitu dari prosentase Nilai Total Jaminan (NTJ) dan diberi rating sebagai

    berikut :

    Table 4.2 Industry Rating (Rating Industri)

  • RPJ TOTAL NTJ RATING JAMINAN

    > 10% Diatas ketentuan 1 (very low risk)

    s.d 10% diatas ketentuan 2 (low risk)

    Sesuai ketentuan 3 (moderate risk)

    s.d 10% di bawah ketentuan 4 (high risk)

    > 10% di bawah ketentuan 5 (very high risk)

    Sumber : Data Bank Muamalat

    Langkah terakhir adalah mengkombinasikan default risk (CRR) dan recovery

    risk (RPJ) untuk mendapatkan Customer Credit Rating dengan matriks sebagai

    berikut :

    Table 4.3 Rating Jaminan atas RasioPemenuhan Jaminan (RPJ)

  • CRR

    RPJ 1 2 3 4 5

    1 1 2 3 4 5