of 13 /13
1 BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dan pembangunan industri perikanan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi sudah berjalan sejak tahun 1970 (Tempo, 2011). Industri- industri tersebut pada awalnya merupakan industri kecil, tetapi saat ini sebagian dari industri tersebut telah berkembang menjadi industri besar yang berorientasi pada ekspor. Industri besar tersebut mempunyai kondisi yang sangat baik, di mana dalam melakukan proses produksi telah ditunjang dengan menggunakan peralatan modern, sementara sisanya masih merupakan industri kecil dengan peralatan dan proses produksi yang belum modern. Industri perikanan tersebut meliputi industri pengalengan ikan, minyak ikan, pemindangan ikan, dan produksi pengolahan ikan lainnya. Industri yang berdiri di Kecamatan Muncar sebagian besar terletak di Desa Kedungrejo. Industri tersebut telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan banyak menyerap tenaga kerja sejumlah 4.797 orang dari jumlah keseluruhan industri (Setiyono & Yudo, 2008:70). Industri tersebut telah menjadi suatu kebanggaan atau andalan dan ciri khas dari wilayah Banyuwangi. Industri juga menimbulkan dampak negaitf berupa pencemaran terhadap lingkungan sekitar yang dapat menurunkan potensi-potensi yang ada di kawasan tersebut. Pencemaran lingkungan tersebut mulai muncul saat kegiatan pendaratan ikan, transportasi ikan, pencucian bahan baku, proses produksi sampai sarana pengolahan limbah yang kurang berfungsi dengan baik.

BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

  • Upload
    others

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

Page 1: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

1

BAB I

PENDAHULUUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dan pembangunan industri perikanan di Kecamatan

Muncar, Banyuwangi sudah berjalan sejak tahun 1970 (Tempo, 2011). Industri-

industri tersebut pada awalnya merupakan industri kecil, tetapi saat ini sebagian

dari industri tersebut telah berkembang menjadi industri besar yang berorientasi

pada ekspor. Industri besar tersebut mempunyai kondisi yang sangat baik, di mana

dalam melakukan proses produksi telah ditunjang dengan menggunakan peralatan

modern, sementara sisanya masih merupakan industri kecil dengan peralatan dan

proses produksi yang belum modern. Industri perikanan tersebut meliputi industri

pengalengan ikan, minyak ikan, pemindangan ikan, dan produksi pengolahan ikan

lainnya.

Industri yang berdiri di Kecamatan Muncar sebagian besar terletak di Desa

Kedungrejo. Industri tersebut telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat

setempat dan banyak menyerap tenaga kerja sejumlah 4.797 orang dari jumlah

keseluruhan industri (Setiyono & Yudo, 2008:70). Industri tersebut telah menjadi

suatu kebanggaan atau andalan dan ciri khas dari wilayah Banyuwangi.

Industri juga menimbulkan dampak negaitf berupa pencemaran terhadap

lingkungan sekitar yang dapat menurunkan potensi-potensi yang ada di kawasan

tersebut. Pencemaran lingkungan tersebut mulai muncul saat kegiatan pendaratan

ikan, transportasi ikan, pencucian bahan baku, proses produksi sampai sarana

pengolahan limbah yang kurang berfungsi dengan baik.

Page 2: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

2

Dalam proses produksi, limbah hasil dari olahan seperti air yang sudah

tercemar akibat pencucian ikan, dibuang secara langsung tanpa ditampung terlebih

dahulu. Kondisi tersebut berpengaruh pada lingkungan sekitar, baik pembuangan

limbah di drainase, sungai yang menuju laut maupun pembuangan limbah yang

langsung dialirkan menuju laut lepas. Proses produksi, juga mengakibatkan

pencemaran udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Pencemaran

udara tersebut berupa asap yang keluar dari industri pengolahan ikan yang

berjumlah sangat banyak.

Industri kurang memperhatikan efek pencemaran lingkungan yang

dihasilkan dari aktivitas produksi. Tingkat pencemaran sudah menjangkau

kawasan perairan Muncar sejauh 200 hingga 350 meter dari bibir pantai.

Termasuk sungai-sungai di kecamatan muncar yang dijadikan tempat

pembuangan limbah seperti kali mati, kali tratas, dan kali moro. Hal ini

memungkinkan ikan-ikan tersebut berpindah ke perairan lain (Detik.com, 2011).

Pencemaran lingkungan di kawasan industri Desa Kedungrejo membentuk suatu

pola tertentu. Terdapat konstruksi sosial di mana masyarakat terbiasa dengan

kondisi-kondisi lingkungan yang tercemar dan bau limbah yang ada. kondisi

sosial tersebut membuat masyarakat setempat kurang teliti dalam menanggapi isu

lingkungkan yang ada di daerah mereka. Masyarakat lebih bersifat

antroposentrisme atau lebih mempreoritaskan kelanjutan hidup mereka yang

bergantung pada sektor industri dan hasil tangkapan laut tanpa memikirkan

dampak limbah industri yang akan berpengaruh pada generasi selanjutnya.

Pembangunan industri juga menjadi penyebab nelayan saat ini mengalami

penurunan dalam jumlah pencarian ikan. Pembuangan limbah industri yang tidak

Page 3: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

3

sesuai prosedur mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Dampak pencemaran

tersebut menurut Setiyono dan Yudo (2008:73-74) meliputi: 1) dampak terhadap

estetika lingkungan. Penumpukan materi yang tak terkendali akan menimbulkan

berbagai dampak seperti bau menyengat, pemandangan yang kotor dan

menimbulkan masalah estetika lain yang tidak diharapkan. 2) dampak terhadap

kondisi sosial. Adanya pencemaran seperti pembuangan limbah membuat

masyarakat berfikir jeli untuk mengolahnya kembali. Mereka melihat limbah

tersebut masih memiliki kandungan minyak dan bahan padat yang dapat diolah.

3) dampak terhadap kualitas air permukaan. Air laut di wilayah Kecamatan

Muncar memiliki kualitas di bawah standar kualitas air permukaan. Hal ini

menunjukkan bahwa telah ada pembuangan limbah yang jumlahnya di atas daya

tampung lingkungan, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas air yang ada.

4) Dampak terhadap kehidupan biota air. Zat beracun dari limbah industri

mengakibatkan kematian ikan-ikan dan kerusakan pada tanaman atau tumbuhan

air.

Proses industri berskala besar tersebut tidak semuanya mempunyai tempat

pembuangan air limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL

merupakan tempat untuk memproses atau mengolah cairan sisa proses produksi

pabrik, sehingga cairan tersebut layak dibuang ke lingkungan sekitar. Adanya

IPAL sangat bermanfaat bagi biota-biota yang ada di laut yang merupakan sumber

pencaharian masyarakat setempat. Industri yang sudah memilik IPAL berjumlah

10, satu industri dalam proses pembangunan, dan 59 industri belum mempunyai

IPAL (Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi, 2015). Tingkat pemahaman IPAL

dan sistem menejemen limbah yang rendah menjadi penyebab dalam proses

Page 4: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

4

pengolahan limbah, sehingga limbah yang dihasilkan di wilayah tersebut langsung

dibuang ke saluran umum. Hal tersebut menjadi penyebab pencemaran

lingkungan yang sangat tinggi di sekitar lokasi industri.

Gambar 1 : Limbah di kali mati

Sumber : Hasil Observasi

Gambar 2 : Limbah di kali mati

Sumber : Hasil Observasi

Page 5: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

5

Proses industri seharusnya mempunyai komitmen dan kesadaran

perusahaan industri dalam rutinitas kegiatannya. Industri juga harus

memperhatikan prinsip-prinsip pengolahan limbah industri, sehingga tercapai

pembangunan berkelanjutan yang berwawasan pada lingkungan, antara lain

(Publikasi awal Agenda 21 Indonesia dalam Bethan, 2008:194) : 1) limbah

industri tidak boleh terakumulasi di alam sehingga pencemaran tidak terlalu

berdampak parah terhadap lingkungan sekitar. 2) pembuangan limbah industri

harus dibatasi pada tingkat yang tidak melebih daya dukung lingungan tersebut.

dengan adanya batas pembuangan limbah industri, pencemaran yang terjadi bisa

terserap oleh lingkungan tersebut dan tidak menimbulkan efek yang berlebihan. 3)

sistem tertutup penggunaan materi seperti daur ulang dan pengomposan harus

dimaksimalisasi, sehingga limbah tidak mengalami akumulasi yang berlebihan.

Pembangunan berkelanjutan juga dibutuhkan dalam proses industri.

Pembangunan berkelanjutan secara simultan mencakup tiga dimensi pokok, yakni

(Salim, 2010:100) : 1) berkelanjutan ekonomi; 2) berkelanjutan sosial-budaya dan

politik; serta 3) berkelanjutan lingkungan dalam suatu ruang lingkup global.

Apabila pembangunan industri hanya fokus dalam satu atau dua pokok maka

industri tersebut belum memenuhi pembangunan berkelanjutan. Sehingga efek

dari pembangunan industri akan dirasakan oleh generasi mendatang.

Pemerintah dalam program kesehatan lingkungan dan pengendalian

pencemaran, tidak teliti dalam mengindentifikasi masalah tersebut, seringkali

tidak tersedia data spesifik menganai jenis, jumlah, dan dampak relatif sumber

pencemaran untuk sebagian besar kota atau kawasan industri. Data mengenai

jenis, jumlah, dan lokasi sumber pencemaran merupakan prasyarat untuk

Page 6: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

6

melakukan tindakan yang diperlukan. Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka

peneliti tertarik untuk menggali informasi yang lebih mendalam, tentang

“Konstruksi Sosial Masyarakat tentang Limbah Industri Pengolahan Ikan”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalahnya adalah :

Bagaiamana konstruksi sosial masyarakat tentang limbah industri pengolahan

ikan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan lebih jauh konstruksi

sosial masyarakat tentang limbah industri pengolahan ikan.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis :

1. Mengetahui relevansi antara yang digagas oleh Peter L. Berger dengan

kondisi lapangan yang diteliti yaitu konstruksi sosial masyarakat tentang

limbah industri pengolahan ikan.

2. Memperkuat gagasan Peter L. Berger berkaitan dengan konstruksi sosial

masyarakat tentang limbah industri pengolahan ikan.

Manfaat Praktis :

1. Diharapkan dari hasil penelitian ini bisa menjadi masukan bagi pengambil

kebijakan untuk pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi.

2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya

dalam melakukan riset sejenis.

Page 7: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

7

1.5 Definisi Konsep

1. Konstruksi Sosial

Menurut Berger dan Luckman (2013:176-177) konstruksi sosial

atas realitas (The sosial construction of reality) didefinisikan sebagai

proses dialektis dalam masyarakat di mana individu menciptakan suatu

realitas sosial yang berlangsung secara terus-menerus melalui pemahaman

atau penafsiran langsung dari suatu peristiwa objektif sebagai

pengungkapan suatu makna atau sebagai suatu manifestasi dari proses-

proses subjektif.

2. Masyarakat

Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup

dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri

mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan

batas-batas yang dirumuskan dengan jelas (Soekanto, 2006:22).

3. Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau

dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke

dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku

mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan (Undang-undang Republik

Indonesia Nomor 14 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup).

4. Industri

Industri dapat didefinisikan sebagai aplikasi dari metode-metode

yang kompleks dan canggih untuk memproduksi barang dan jasa secara

Page 8: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

8

ekonomis. Metode-metode yang kompleks yang dimaksud misalnya

dengan menggunakan mesin-mesin sebagai alat untuk memperbaiki atau

mengembangkan kuantitas dan kualitas produksi (Sastrodiningrat, 1986:3).

1.6 Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian

kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan analisis

yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif

lainnya. Penelitian yang diteliti sangat rinci dibentuk dengan kata-kata.

Penelitian kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna, suatu

peristiwa, interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti menemukan keadaan

sebenarnya dari objek yang diteliti. Dalam penelitian ini lokasi yang

ditentukan di kawasan industri Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar,

Kabupaten Banyuwangi. Alasan peneliti mengambil lokasi tersebut karena

selain memudahkan peneliti mendapatkan data, juga karena terdapat

pencemaran industri pengolahan ikan di daerah tersebut.

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ditentukan secara purposive, yaitu salah satu strategi

menentukan subjek, di mana subjek ditentukan sesuai dengan kriteria terpilih

yang relevan dengan masalah penelitian. Dengan menggunakan prinsip

Page 9: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

9

purposive dapat ditentukan sejumlah subyek yang sesuai dengan tujuan

penelitian. Adapun sibjek tersebut, yakni:

a. Subjek merupakan masyarakat Kecamatan Muncar sekitar kawasan

industri yakni, :

1. Karyawan industri

Karyawan industri yang dimaksud adalah karyawan industri

yang bekerja sebagai buruh pabrik maupun karyawan tetap.

2. Ibu rumah tangga

Ibu rumah tangga yang dimaksud adalah ibu rumah tangga

yang bertempat tinggal di kawasan industri.

3. Nelayan

Nelayan yang dimaksud adalah nelayan yang mencari ikan

diperairan Selat Bali Kecamatan Muncar yang tercemar

oleh limbah industri.

b. Informan merupakan bagian dari pemerintahan, baik itu perangkat

desa, pemerintahan dalam kecamatan, maupun instansi pemerintah

yang terkait dengan pengelolaan lingkungan meliputi :

1. Kepala Desa Kedungrejo

2. Kepala Camat Muncar

3. Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi

4. Sumber Data

Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari data

primer dan sekunder.

Page 10: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

10

a. Data primer, adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data utama

yaitu dengan wawancara langsung dan observasi langsung di lokasi

penelitian. Peneliti menggunakan data primer karena informasi yang di

dapat lebih aktual, dalam hal ini data yang diperoleh sesuai kenyataan

yang sebenar-benarnya. Hal tersebut akan mempermudah peneliti untuk

mengambil data dari masyakat kawasan industri Desa Kedungrejo demi

memperoleh data yang diinginkan. Data primier tersebut berupa

wawancara dengan subjek atau informan yang sudah ditentukan.

b. Data sekunder, adalah sumber data yang diperoleh dari arsip-arsip, hasil

laporan, buku dan internet yang memuat terkait dengan penelitian yang

akan dilakukan. Peneliti juga menggunakan data sekunder sebagai faktor

pendukung data primer yang didapat dari masyarakat sekitar kawasan

industri, sehingga data yang diperoleh lebih sempurna dengan bantuan

data sekunder. Data sekunder tersebut berupa hasil penelitian terdahulu

dan media online seperti berita, foto maupun video mengenai pencemaran

lingkungan di kawasan industri Desa Kedungrejo.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

a. Observasi

Metode ini dipakai untuk mendapatkan data melalui kegiatan

melihat, mendengar dan penginderaan lainnya yang mungkin dilakukan

untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan (Arikunto,

1997:146). Dalam proses obeservasi ini, peneliti langsung terjun ke

lapangan untuk melihat kondisi riil lingkungan masyarakat yang diteliti

Page 11: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

11

dengan cara melihat dan mengamati kondisi sosial yang ada, serta perilaku

yang dikonstruksi masyarakat tentang L lingkungan akibat limbah yang

terjadi di kawasan industri Desa Kedungrejo. Adapun observasi yang

dilakukan peneliti adalah bagaimana konstruksi masyarakat tentang

pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah industri di kawasan

tersebut. Observasi ini dilakukan di kawasan industri Desa Kedungrejo,

Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

b. Wawancara

Metode wawancara atau metode interview adalah cara yang

digunakan seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba

mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari responden

dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut

(Koentjaraningrat, 1986:129).

Peneliti dalam penitian ini menggunakan wawancara terpimpin,

yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-

pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Wawancara terpimpin

seringkali disebut juga sebagai wawancara terstruktur. Contoh, wawancara

yang dilakukan pembawa acara televisi kepada pihak yang diwawancarai

(pejabat, pemuka masyarakat, dan ahli).

Wawancara dilakukan terhadap subjek penelitian yaitu karyawan

industri, petani, nelayan, dan tokoh masyarakat. informan, yaitu bagian

dari pemerintahan baik itu perangkat desa, pemerintah dalam kecamatan,

maupun instansi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan. Adapun

maksud dari wawancara adalah untuk mendapatkan data dan keterangan

Page 12: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

12

secara langsung, mendalam dan terinci mengenai Konstruksi Sosial

Masyarakat tentang Limbah Industri Pengolahan ikan dari para subjek dan

informan secara terstruktur.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal atau

variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda

dan lain-lain (Koentjaraningrat, 1986:149).

Adapun cara peneliti lakukan untuk menunjang terpenuhinya

kebutuhan adalah mengambil dokumentasi di kantor Desa Kedungrejo,

dan di kantor Kecamatan Muncar, yang bisa berupa arsip-arsip terkait,

baik gambaran desa ataupun yang lain.

6. Teknik Analisis Data

Bogdan menyatakan dalam Sugiyono (2009:246), analisis data

merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

sehingga dapat dengan mudah dipahami dan temuannya dapat

diinformasikan kepada orang lain. Dalam penelitian ini menggunakan

model analisis data model model Interaktif Miles dan Huberman, yakni:

a. Reduksi data

Reduksi data adalah proses merangkum, memilih hal-hal yang

pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan

polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan

memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah

peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

Page 13: BAB I PENDAHULUUAN 1.1 Latar Belakang

13

b. Penyajian data

Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,

bagan, hubungan antar kategori. Miles dan Huberman (Sugiyono,

2009) yang paling sering digunakan untuk menyajikan data

dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat

naratif.

c. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan bagian penting dalam

penelitian kualitatif, kesimpulan dalam penelitian kualitatif dapat

menjawab rumusan masalah yang bersifat sementara dan akan

berkembang setelah berada dilapangan. Proses penarikan

kesimpulan ini bertujuan untuk menganalisis, mencari makna

dari data yang didapat di lapangan.