Click here to load reader

BAB 5 Henny

  • View
    84

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB 5 Henny

BAB 5HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1.Hasil Penelitian5.1.1.Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan

Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (RSU IPI) adalah sebuah rumah sakit swasta yang berdiri sejak tahun 1980. Pada awalnya rumah sakit ini merupakan sebuah klinik bersalin yang didirikan oleh seorang dokter umum yang berlokasi di jalan Bilal No. 48 Medan dengan luas tanah 600 m. Pada tahun 1982 dengan bertambah banyaknya pasien yang bersalin dan juga pasien yang berobat umum, Yayasan Imelda memperluas lahannya dengan membeli tanah yang berlokasi di jalan Bilal No. 52 Medan seluas 3000 m. Pada tanggal 25 Maret 1983 berdirilah Rumah Sakit Umum Imelda (RSU Imelda) Medan dan mendapat izin sementara sebagai rumah sakit umum. Pada tahun 1985, terjadi perubahan penggunaan lahan yang sudah ada dan Rumah Sakit Umum Imelda Medan pindah ke jalan Bilal No. 24 Medan dengan luas tanah 3244 m, dan mendapat izin Penyelenggaraan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor YM.02..04.2.2.864 tahun 2003. Pada tanggal 21 Mei 2004 lalu, rumah sakit yang terletak di lokasi strategis di Medan itu ditetapkan menjadi Rumah Sakit Pekerja (RSP) di Sumatera Utara dan berubah nama menjadi RUMAH SAKIT UMUM IMELDA PEKERJA INDONESIA (RSU IPI) Medan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/Menkes/SK/XII/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta dan sesuai dengan SK Depkes RI No. OT.01.01.III.3.2.452/Depkes/SK/IV/2008 tanggal 17 april 2008 RSU IPI Medan diklasifikasikan sebagai rumah sakit umum tingkat utama yang memiliki pelayanan medik umum, spesialistik, dan subspesialistik.

5.1.2.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Sosiodemografi (Umur dan Jenis Kelamin)Umur termuda 1 tahun, tertua 63 tahun, sex ratio 100%. Lebih lengkapnya distribusi proporsi berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.1. berikut ini:

Tabel 5.1.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011Kategori Umur (tahun)Jenis KelaminTotal

Laki-lakiPerempuanf%

f%f%

1 8212115153636

9 1677991616

17 248812122020

25 32226688

33 4088771515

41 48221133

49 56000000

57 64220022

Total50505050100100

Dari Tabel 5.1. di atas dapat dilihat bahwa proporsi pasien Demam Tifoid berdasarkan kelompok umur tertinggi pada kelompok umur 1 - 8 tahun (36%) dengan proporsi laki-laki 21% dan perempuan 15%, dan terendah pada kelompok umur 57 - 64 (2%) tahun dengan proporsi laki-laki 2% dan perempuan 0%.

5.1.3.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Keluhan Utama Keluhan utama pasien Demam Tifoid berbeda-beda, tidak semua pasien datang dengan keluhan utama demam, sehingga keluhan demam tidak semua tercatat di dalam kartu rekam medik sebagai keluhan utama. Selain keluhan utama demam, pasien Demam Tifoid juga memiliki keluhan utama muntah, nyeri ulu hati, diare dan lemas. Untuk lebih jelasnya distribusi proporsi berdasarkan keluhan utama dapat dilihat pada Tabel 5.2. berikut ini:Tabel 5.2.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Keluhan Utama di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Keluhan Utama Jumlah

fProporsi (%)

1Demam9494

2Muntah22

3Nyeri Ulu Hati22

4Diare11

5Lemas11

Total 100100

Dari Tabel 5.2. dapat dilihat bahwa keluhan utama pasien yang mengalami demam 94 pasien (94%), kemudian muntah dan nyeri ulu hati sebanyak 2 pasien (2%) dan yang mengalami diare dan lemas hanya 1 pasien (1%).

5.1.4.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Keluhan TambahanSelain keluhan utama pasien Demam Tifoid juga memiliki beberapa keluhan tambahan. Keluhan tambahan adalah gejala yang menyertai gejala utama pada pasien Demam Tifoid seperti muntah, mual, diare, dll. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.3. dibawah ini:

Tabel 5.3.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Keluhan Tambahan di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Keluhan Tambahan (n=100)Jumlah

fProporsi (%)

1Muntah5050

2Mual4646

3Diare2929

4Batuk2828

5Sakit Kepala2424

6Tidak Nafsu Makan2020

7Nyeri Otot dan Sendi1818

8Nyeri Ulu Hati1717

9Konstipasi77

10Demam66

11Lemas33

12Lidah Kotor22

Dari Tabel 5.3. di atas dapat dilihat keluhan tambahan yang tertinggi adalah muntah 50 pasien (50%) kemudian mual 46 pasien (46%), diare 29 pasien (29%), dan terendah adalah lidah kotor 2 pasien (2%).5.1.5.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pemeriksaan FisikPada pasien Demam Tifoid dilakukan pemeriksaan fisik yaitu untuk menemukan tanda klinis penyakit pada pasien Demam Tifoid. Dari data yang diperoleh dari rekam medik berdasarkan pemeriksaan fisik, didapatkan 59 yang tercatat dan 41 tidak tercatat.Untuk lebih jelasnya pemeriksaan fisik yang tercatat dapat dilihat pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pemeriksaan Fisik di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Pemeriksaan Fisik (n=59)Jumlah

fProporsi (%)

1Nyeri Tekan Pada Epigastrium1525,42

2Perut Kembung1322,03

3Lidah Kotor711,86

4Bibir Kering dan Pecah-Pecah58,47

5Akral Hangat46,77

6Peristaltik Usus 46,77

7Peristaltik Usus 35,08

8Akral Dingin35,08

9Wajah Pucat23,38

10Lemas23,38

11Hepatomegali 11,69

Dari Tabel 5.4. di atas dapat dilihat keluhan tambahan tertinggi adalah nyeri tekan pada epigastrium 15 pasien (25,42%), kemudian perut kembung 13 pasien (22,03%), lidah kotor 7 orang (11,86%), dan terendah hepatomegali 1 pasien (1,69%).

5.6.1.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pemeriksaan LaboratoriumPemeriksaan darah tepi pada pasien Demam Tifoid dapat berupa leukopenia, limfositosis, trombositopenia, eosinofilia dan anemia. Dari data yang diperoleh dari rekam medik berdasarkan pemeriksaan darah tepi, didapatkan 79 yang tercatat dan 21 tidak tercatat.Untuk lebih jelasnya pemeriksaan darah tepi yang tercatat dapat dilihat pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pemeriksaan Darah Tepi di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Pemeriksaan Darah Tepi (n=79)Jumlah

fProporsi (%)

1Trombositopenia2936,7

2Anemia2227,84

3Leukopenia1518,98

4Eosinofilia78,86

5Limfositosis67,59

Dari Tabel 5.5. di atas dapat dilihat pemeriksaan darah tepi tertinggi trombositopenia 29 pasien (36,7%), anemia 22 pasien (27,84%), leukopenia 15 pasien (18,98%) dan yang terendah limfositosis 6 pasien (7,59%).

5.1.7.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Hasil Pemeriksaan SerologisDari 100 pasien Demam Tifoid berdasarkan hasil pemeriksaan serologis uji Widal (+) berjumlah 94 pasien (94%), dan uji Widal (-) berjumlah 6 pasien (6%).5.1.8.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Status KomplikasiDari 100 pasien Demam Tifoid yang tidak mengalami komplikasi 98 pasien (98%) sedangkan yang mengalami komplikasi hanya 2 pasien (2%). Didalam rekam medik pasien yang mengalami komplikasi tidak tuliskan jenis komplikasi yang terjadi.

5.1.9.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Pemberian CairanPenderita Demam Tifoid harus mendapat cairan yang cukup, cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.6. dibawah ini: Tabel 5.6.Distribusi Proporsi Pasein Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pemberian Cairan di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Pemberian CairanJumlah

fProporsi (%)

1RL9898

2RA11

3Dextro11

Total 100100

Dari Tabel 5.8. di atas dapat dilihat pemberian cairan tertinggi adalah RL 98 pasien (98%), sedangkan RA dan Dextro masing-masing 1 pasien (1%).

5.1.10.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Berdasarkan Jenis PengobatanPada pasien Demam Tifoid, pemberian obat terdiri dari pengobatan antibiotik dan simtomatik. Pemberian antibiotik dapat diberikan secara oral dan parenteral demikian juga dengan pengobatan simtomatik.

Tabel 5.7.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pengobatan Antibiotik Secara Oral di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Antibiotik (n=100)Jumlah

fProporsi (%)

1Sefalosporin Generasi III3333

2Tiamfenikol3030

3Cotrimoksazol1212

4Kloramfenikol1111

5Golongan 4-Fluoroquinolon (Ciprofloxacin)99

6Amoxicilin/Ampisilin88

Dari Tabel 5.7. di atas dapat dilihat pengobatan antibiotik secara oral tertinggi adalah Sefalosporin Generasi III 33 pasien (33%), kemudian Tiamfenikol 30 pasien (30%), Cotrimoksazol 12 pasien (12%), dan terendah Amoxicilin/Ampisilin 8 pasien (8%).Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pengobatan Antibiotik Secara Parenteral di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011Dari 100 data pasien Demam Tifoid berdasarkan pengobatan antibiotik secara parenteral ssyaitu Sefalosporin Generasi III 28 pasien (28%), dan Amoxicilin/ Ampisilin sebanyak 1 pasien (1%).

Tabel 5.9.Distribusi Proporsi Pasien Demam Tifoid Rawat Inap Berdasarkan Pengobatan Simtomatik Secara Oral di RSU Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan Tahun 2011No.Obat (n=100)Jumlah

fProporsi (%)

1Analgesik - Antipiretik9999

2Antiemetik 7575

3Antasid5252

4Vitamin 3434

5Mukolitik & Ekspektoran1111

6Antitusif 1010

7Elektrolit 99

8Antidiare99

9Kortikosteroid 99

10Suplemen 77

11Antikonvulsan33

Search related