of 24 /24
1 LAPORAN PENDAHULUAN A. Pengertian Menurut WHO stroke adalah adanya defisit neurologis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000) Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi penyebab yang tiba-tiba defisit neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri (aneurisma) (Lynda Juall Carpenito, 1995). B. Etiologi Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain: 1. Thrombosis Cerebral. Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya. Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam setelah thrombosis.

Askep STROKE Jadi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Askep STROKE Jadi

1

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian

Menurut WHO stroke adalah adanya defisit neurologis yang berkembang cepat

akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung

selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain

yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi penyebab yang tiba-tiba defisit

neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi suplai

darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder terhadap arterisklerosis, terhadap

embolisme berasal dari tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur

arteri (aneurisma) (Lynda Juall Carpenito, 1995).

B. Etiologi

Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain:

1. Thrombosis Cerebral.

Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga

menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di

sekitarnya. Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau

bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan

tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis

seringkali memburuk pada 48 jam setelah thrombosis.

Beberapa keadaan di bawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak:

a. Atherosklerosis

Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta

berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah.

Manifestasi klinis atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi

melalui mekanisme berikut:

Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.

Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.

Merupakan tempat terbentuknya thrombus, dan kemudian melepaskan

kepingan thrombus (embolus).

Dinding arteri menjadi lemah, terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi

perdarahan.

Page 2: Askep STROKE Jadi

2

b. Hypercoagulasi pada polysitemia

Darah bertambah kental, peningkatan viskositas/hematokrit meningkat

dapat melambatkan aliran darah serebral.

c. Arteritis (radang pada arteri)

2. Emboli

Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan

darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung

yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung

cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini

dapat menimbulkan emboli :

1) Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease (RHD).

2) Myokard infark

3) Fibrilasi,. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan

ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu

kosong sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.

4) Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya

gumpalan-gumpalan pada endocardium.

3. Haemorhagi

Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang

subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena

atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan

perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,

pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan ,sehingga otak akan

membengkak, jaringan otak tertekan.

Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi :

a. Aneurisma Berry, biasanya defek congenital

b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis.

c. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.

d. Malformasi arteriovenous, terjadi hubungan persambungan pembuluh

darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.

e. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan

dan degenerasi pembuluh darah.

Page 3: Askep STROKE Jadi

3

C. Faktor – faktor resiko stroke

1) Hipertensi: faktor resiko utama

2) Penyakit kardiovaskuler, emboli serebral berasal dari jantung: gagal jantung, penyakit

jantung kongestif

3) Kolesterol tinggi, obesitas

4) Peningkatan hemolitik meningkatkan resiko infark serebral

5) Diabetes: dikaitkan dengan aterogenesise terakseberasi

6) Kontrasepsi oral (khusus dengan disertai hypertensi, merokok dan kadar estrogen

tinggi

7) Merokok, menyalahgunakan obat (khusus kokain) konsumsi alkohol.

D. Klasifikasi

1) Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu:

Stroke Haemorhagi,

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid.

Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu.

Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa

juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.

Stroke Non Haemorhagi

Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya

terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak

terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan

selanjutnya dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umummnya baik.

2) Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya:

TIA (Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama

beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang

dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan

neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan

24 jam atau beberapa hari.

Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau

permanen. Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh

serangan TIA berulang.

E. Pemeriksaan Penunjang

Page 4: Askep STROKE Jadi

4

1. Pemeriksaan radiologi

a) CT scan: didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau

menyebar ke permukaan otak.

b) MRI untuk menunjukkan area yang mengalami infark,hemoragik.

c) Angiografi serebral: Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik

seperti perdarahan atau obstruksi arteri.

d) Pemeriksaan foto thorax dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah

terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi

kronis pada penderita stroke.

2. Pemeriksaan laboratorium

a) Pungsi lumbal: Menunjukan adanya tekanan Normal dan cairan tidak

mengandung darah atau jernih.

b) Pemeriksaan darah rutin

c) Pemeriksaan kimia darah: pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula

darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur

turun kembali.

d) Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.

F. Penatalaksanaan Stroke

Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut:

1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan:

a) Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendir

yang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu

pernafasan.

b) Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha

memperbaiki hipotensi dan hipertensi.

2. Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.

3. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.

4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin

pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.

Pengobatan Konservatif

1. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan, tetapi

maknanya pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.

2. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.

Page 5: Askep STROKE Jadi

5

3. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi

pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.

Pengobatan Pembedahan

Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral:

1. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan membuka

arteri karotis di leher.

2. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling

dirasakan oleh pasien TIA.

3. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut.

4. Ligasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.

G. Pengkajian keperawatan

Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien

yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat

perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien (Marilynn E.

Doenges et al, 1998).

1. Identitas klien

Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,

pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor

register, diagnose medis.

2. Keluhan utama

Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo,

dan tidak dapat berkomunikasi.

3. Riwayat penyakit sekarang

Sakit kepala hebat pada saat bangun pagi atau pada saat istirahat disertai

mual muntah, kesadaran menurun,otot terasa melemah atau kaku.

4. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat

trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan,

aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.

5. Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes

melitus.

Page 6: Askep STROKE Jadi

6

6. Riwayat psikososial

Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk

pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga

sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan

keluarga.

7. Ekstremitas

Mekanisme Udem

Reaksi Ag-Ab

Peradangan glomelorus

Permebealitas membrane basalis meningkat

Proteinuria

Hipoalbuminemia

Tekanan osmotic kapiler ↓

Transudasi kedalam interstisium Hipovolemia

Edema ADH ↑ GFR ↓& RPF↓

Aldosteron ↑ Retensi Na+& H2O

8. Pola-pola fungsi kesehatan

a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat

kontrasepsi oral.

b) Pola nutrisi dan metabolism

Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah

pada fase akut.

c) Pola eliminasi

Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya

terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

d) Pola aktivitas dan latihan

Page 7: Askep STROKE Jadi

7

Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan

sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah.

e) Pola tidur dan istirahat

Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang

otot/nyeri otot

f) Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan

pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit.

Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.

g) Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak

kooperatif.

h) Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami

kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.

i) Pola reproduksi seksual

Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa

pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.

j) Pola penanggulangan stress

Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena

gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.

k) Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak

stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

H. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran

Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak

bisa bicara

Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi.

2. Pemeriksaan integument

Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan

maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus

terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke non hemoragik harus

bed rest 2-3 minggu

Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

Page 8: Askep STROKE Jadi

8

Rambut: umumnya tidak ada kelainan.

3. Pemeriksaan kepala dan leher

Kepala: bentuk normocephalik

Muka: umumnya tidak simetris yaitu miring ke salah satu sisi

Leher: kaku kuduk jarang terjadi.

4. Pemeriksaan dada

Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing

ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks

batuk dan menelan.

5. Pemeriksaan abdomen

Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan

kadang terdapat kembung.

6. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.

7. Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

8. Pemeriksaan neurologi:

Pemeriksaan nervus cranialis

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi.

Pemeriksaan reflex

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah

beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks

patologis.

9. Prioritas Keperawatan:

1) Meningkatkan perfusi serebri dan oksigenasi yang adekuat.

2) Mencegah dan meminimalkan komplikasi dan kelumpuhan permanen.

3) Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

4) Memberikan dukungan terhadap proses mekanisme koping dan

mengintegrasikan perubahan konsep diri.

5) Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognosis, pengobatan dan

kebutuhan rehabilitasi.

10. Tujuan Akhir keperawatan:

Page 9: Askep STROKE Jadi

9

1) Meningkatnya fungsi serebral dan menurunnya defisit neurologis.

2) Mencegah/meminimalkan komplikasi.

3) Kebutuhan sehari-hari terpenuhi baik oleh dirinya maupun orang lain.

4) Mekanisme koping positip dan mampu merencanakan keadaan setelah sakit

5) Mengerti terhadap proses penyakit dan prognosis.

I. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH1 2 3 41 DS :

Klien mengatakan tubuhnya lemah.

Klien mengeluh tangan dan kaki kanannya masih agak kaku dan paresthesi (baal).

DO : Keadaan tubuh klien lemah. Kekuatan otot berkurang Terjadi kelemahan pada

extremitas.

Gangguan aliran darah otak

menyebabkan kerusakan neuromotorik

sehingga transmisi impuls

dari LMN tertanggu

Hal ini menyebabkan kelemahan otot secara

progresif

ketidakmampuan pergerakan sendi

kelamahan

mobilitas terganggu

Gangguan mobilitas fisik

2 DS : Klien mengeluh tidak bisa

tidur karena kepalanya terasa nyeri

DO : Klien tampak sering terjaga

dan memegang kepala. Klien tampak lesu, wajah

pucat Tampak lingkaran hitam

pada palpebra tensi, 160/100mmHg

Waktu kurang dari 6 jam/hari.

Nyeri kepala yang sangat

merangsang susunan saraf otot ROM mengaktifkan

norepinefrin

Sehingga saraf sintesis terangsang untuk memicu

RAS maktifkan kerja organ tubuh

REM menurun

klien terjaga

Gangguan pola tidur

Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur

3 DS : Klien mengeluh kurang

nafsu makan Klien makannya lambat

DO : Klien tampak lambat

mengunyah dan menelan Porsi makan tidak habis Kehilangan sensasi kecap Klien lemah

Adanya kelemahan jaringan yang menekan area saraf di

korteks serebri

akan menyebabkan pada nervus kranilasi yang

mengenai nervus trigeminus, glasofaringeus, vagus.

sehingga kelemahan pada otot-otot yang digunakan

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan

Page 10: Askep STROKE Jadi

10

untuk menelan dan mengunyah serta penurunan

sesasi kecap

Intake nutrisi kurang4 DS :

Klien menanyakan tentang keadaan klien dan harapan untuk sembuh.

DO : Keluarga klien bertanya-

tanya kepada dokter dan perawat yang merawatnya.

Kurangnya informasi dan pengetahuan keluarga, klien

tentang penyakit stroke

merupakan stressor psikologis bagi keluarga dan klien

menimbulkan perasaan cemas

Gangguan rasa aman cemas

5 DS : Klien mengatakan mandi

dengan bantuan istri dan anaknya.

DO : Selama di rawat klien di

bantu bahkan kadang diseka oleh keluarganya.

Klien tampak kusam Kulit klien agak lengket Aktivitas klien dibantu oleh

keluarga

Kekurang mampuan klien untuk bergerak

adanya kelamahan otot

aktifitas klien terganggu

Defisit kebersihan diri

Defisit perawatan diri, resiko kerusakan integritas kulit.

6 DS : Klien mengatakan slit untuk

digerakan badan bagian kanan

DO : Klien bedrest Pungung teraba panas Punggung terlihat merah Klien selalu terlentang

Kelamahan pada sebagian badan

klien bedrest

imobilitas

Penekanan yang lama pada

daerah punggung dan bokong

suplai nutrisi dan O2 ke daerah tertekan berkurang

menimbulkan luka pada

daerah tertekan

Potensial gangguan integritas kulit pada bagian bokong dan area tertekan lainnya

J. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan jaringan otak

2. Gannguan pola tidur berhubungan dengan nyeri kepala

3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia

4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

6. Potensial gangguan integritas kulit pada bagian bokong dan area tertekan lainnya

berhubungan dengan tirah baring lama

Page 11: Askep STROKE Jadi

11

7. Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral.

8. Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada

saraf sensori, penurunan penglihatan

9. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan

yang tidak adekuat

10. Resiko tinggi terjadinya cedera berhubungan dengan penurunan luas lapang pandng,

penurunan sensasi rasa.

11. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan

refleks batuk dan menelan.

12. Gangguan konsep diri citra tubuh berhubungan dengan perubahan persepsi

13. Gangguan eliminasi urin (inkontinensia urin) yang berhubungan dengan penurunan

sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi

14. Ketidakpatuhan terhadap regimen teurapeutik berhubungan dengan kurangnya

informasi, perubahan status kognitif.

15. Gannguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan sensori, penurunan

penglihatan.

16. Resiko penurunan pelaksanaan ibadah spiritual berhubungan dengan kelemahan

neuromuscular pada ekstremitas

17. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perubahan status sosial, ekonomi,

dan harapan hidup.

18. Takut berhubungan dengan parahnya kondisi.

Page 12: Askep STROKE Jadi

12

K. Intervensi

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUANPERENCANAAN

INTERVENSI RASIONAL1 2 3 4 51 Gangguan mobilisasi fisik

sehubungan dengan penurunan fungsi neuromotorik akibat kematian jaringan di otak (gangguan suplai darah otak) menyebabkan kematian jaringan DS : Klien mengatakan tubuhnya

lemah. Klien mengeluh tangan dan kaki

kanannya masih agak kaku dan paresthesi (baal).

DS Keadaan tubuh klien lemah. Klien mengatakan tangan dan

kaki kanan masih kaku dan parasthesi

DO : Keadaan tubuh lemah terdapat

keterbatasan gerak pada extremitas.

Kebutuhan mobilisasi fisik klien terpenuhi dengan kriteria :Jangka Panjang Tonus otot baik Kekuatan otot

meningkat.

Jangka Pendek Kelemahan pada

persendiaan yang lain tidak terjadi

Tidak terjadi atropi otot Posisi persendan letak

anatomis Extremitas tidak kaku

dan paras thesi

1. Bantu klien melakukan gerakan sendi secara pasif.

2. Lakukan latihan extremitas atas dan bawah

3. Buat posisi seluruh persendian dalam letak anatomis dengan memberi penyangga pada lekukan sendi.

4. Motivasi klien untuk melakukan aktivitas dan beri pujian bila klien dapat melakukannya dengan baik dan anti spasmodik sesuai dengan program pengobatan.

1. Dengan melakukan gerakan sendi secara pasif dan latihan extremitas atas dan bawah, sirkulasi darah akan lancar dan melancarkan O2 di otak.

2. Dengan memotivasi klien agar pujian klien akan terus berlatih melakukan gerakan dan sendi-sendi tidak kaku.

3. Dengan kolaborasi dengan dokter diharapkan dapat mendapat obat-obatan untuk kesembuhannya selain latihan gerakan sendi.

2 Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur sehubungan dengan adanya nyeri kepala yang

Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi dengan kriteria :

1. Batasi aktifitas klien yang berat di luar latihan pergerakan (ROM)

1. Dengan membatasi latihan klien diharapkan tidak terjadi kontraktur

Page 13: Askep STROKE Jadi

13

sangat.DS: Klien mengeluh tidak bisa tidur

karena kepalanya terasa nyeri

DO: Klien tampak sering terjaga dan

memegang kepala. Klien tampak lesu, wajah pucat Tampak lingkaran hitam pada

palpebra tensi, 160/100mmHg Waktu kurang dari 6 jam/hari.

Jangka Pendek Sakit kepala berkurang Klien dapat tidur

nyenyak (7-8jam/hari)

Jangka Panjang Kebutuhan istirahat dan

tidur terpenuhi Tidur siang 2-3 jam Tidur malam 7-8 jam

2. Latih dan anjutkan klien untuk melakukan teknik relaxasi

3. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang menjelang dan selama klin tidur

4. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain(dokter) untuk pemberian terapi analgetik.

otot dan sendi2. Dengan melakukan teknik

relaxasi diharapkan klien tenang dan dapat melancarkan sirkulasi O2

dan darah ke otak.3. Dengan menciptakan

lingkungan yang tenang misalnya teknik distraksi, mendengarkan musik sehingga klien dapat tidur dan merasa tenang.

3 Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan melemahnya otot-otot yang digunakan untuk mengunyah dan menelan.

DS: Klien mengeluh kurang nafsu

makan Klien makannya lambat

DO: Klien tampak lambat

mengunyah dan menelan Porsi makan tidak habis Kehilangan sensasi kecap Klien lemah

Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria :Jangka Pendek Tanda-tanda mal nutrisi

tidak ada BB normal

Jangka Panjang Porsi makan bertambah

atau bisa habis 1 porsi Klien tidak lemah

1. Berikan makan sesuai diet sedikit secara perlahan.

2. Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk pengaturan diet.

3. Timbang berat badan setiap satu minggu sekali untuk mengontrol asupan

1. Dengan memberikan makan sesuai diet rendah natrium dan colestrol membantu proses penyembuhan.

2. Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi membantu dan meringankan kerja otot-otot pengunyah dan menelan.

3. Dengan melakukan penimbangan, BB diketahui status nutrisi dan perkembangan kondisi tubuhnya.

4. Gangguan rasa aman cemas Gangguan rasa aman 1. Kaji pengetahuan 1. Dengan pengkajian

Page 14: Askep STROKE Jadi

14

berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan keluarga tentang keadaan klien :

DS : Keluarga dan klien menanyakan

tentang keadaan penyakit dan kondisinya.

DO : Keluarga tampak bertanya-

tanya.

nyaman cemas teratasi dengan kriteria :Jangka Pendek Pengtahuan keluarga

dan klien tentang penyakitnya bertambah atau baik.

Kondisi klien membaik.

Jangka Panjang Keluarga mengetahui

kondisi klien

Keluarga menyadari dan menerima kondisi penyakit klien.

keluarga tentang penyakit klien dan beri rasa empati dan beri kesempatan kepada keluarga untuk mengekspresikan perasaannya

2. Beri penjelasan kepada keluarga tentang kondisi klien.

3. Libatkan keluarga dalam pengambilan keputusan dan perencanaan program yang dilaksanakan.

4. Berikan support kepada klien dan keluarga dalam proses penyembuhan klien.

pengetahuan keluarga tentang penyakit klien tidak diharapkan kesalah pahaman tentang penyakit yang diderita, klien dan keluarga sedikitnya tahu apa yang terjadi dengan klien.

2. Dengan melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan dan perencanaan di harapkan terwujudnya penatalaksaannya kekuatan yang baik antar perawat, keluarga dan klien.

3. Dengan memberikan support terhadap klien diharapkan klien mempunyai motivasi dan semangat untuk kesembuhaanya dan tabah dalam menghadapi kenyataan yang dialaminya.

5 Defisit perawatan diri sehubungan ketidakmampuan klien untuk bergerakDS : Klien mengatakan mandi

dengan bantuan istri dan anaknya.

Defisit perawatan diri teratasi dengan kriteria :Jangka Pendek Klien bisa mandi

dengan mandiri. Kulit klien tidak lengket Klien tampak segar

1. Observasi kebersihan klien

2. Menjelaskan manfaat pentingnya menjaga kebersihan diri klien

3. Anjurkan pada klien dan keluarga untuk mandi minimal 2xsehari.

1. Untuk mengetahui klien tentang kebersihan diri

2. Untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang kebersihan diri.

3. Untuk menjaga kebersihan diri dan mengikutsertakan peran

Page 15: Askep STROKE Jadi

15

DO : Selama di rawat klien di bantu

bahkan kadang diseka oleh keluarganya.

Klien tampak kusam Kulit klien agak lengket

Jangka Panjang Kulit klien tampak segar

dan berseri Keluarga dan klien dapat

menjaga kebersihan.

keluarga dalam merawat klien tentang kebersihan diri.

4. untuk membantu keluarga dan klien menjaga kebersihan diri.

6 Potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan penekanan area punggung dan bokong terus-menerus akibat tirah baring yang lama.DS : Klien mengatakan slit untuk

digerakan badan bagian kanan

DO : Klien bedrest Pungung teraba panas Punggung terlihat merah Klien selalu terlentang

Potensial ganggua integritas kulit teratasi dengan kriteria:Jangka Pendek Klien setelah

melakukan tindakan diharapkan

Area punggung dan bokong tidak teraba panas

Area punggung dan bokong tidak merah

Jangka Panjang Tidak terdapat tanda-

tanda dekubitus

1. Atur posisi klien tiap 2 jam sekali.

2. Massage daerah punggung dan bokong

3. Pertahankan alat tenun dan pakaian agar tetap kering, berih dan teratur.

4. Dorong klien untuk berlatih sendiri

5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi.

1. Mengatur posisi akan mengurangi tekanan pada suatu daerah tertentu.

2. Untuk mengurangi rasa sakit.

3. Untuk memberikan rasa nyaman dan mencegah dekubitus.

4. Membantu memenuhi pemulihan kakunya dan meningkatkan kekuatan otot.

Page 16: Askep STROKE Jadi

16

L. PENANGANAN STROKE

- Terapi modalitas

Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan

apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat

penghancur bekuan darah.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa

dicegah atau dipulihkan jika recombinant tissue plasminogen activator (RTPA) atau

streptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3

jam setelah timbulnya stroke.

Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi

dan tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan

menambah risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.

Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk

memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan

(misalnya heparin), tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.

Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran

darah ke daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu

biasanya tidak dilakukan pembedahan.

Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan

atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa

yang akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.

Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita

stroke akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang

sangat berat mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk

mempertahankan pernafasan yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus

kepada fungsi kandung kemih, saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya

luka di kulit karena penekanan).

Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang

menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan

darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan

suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

Page 17: Askep STROKE Jadi

17

DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin 2008, asuhan keperawatan dengan ganguan system persarafan,

Jakarta: salemba medika.