Asfiksia Forensik

  • View
    143

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah ini memuat tentang materi ilmu kedokteran forensik yaitu asfiksia dan visum et repertum

Text of Asfiksia Forensik

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangSistem respirasi memainkan peranan penting yang esensial dalam mencegah hipoksia jaringan dengan mengoptimalkan kadar oksigen di dalam darah pada arteri melalui pertukaran gas yang efisien.Sistem pernapasan melaksanakan pertukaran udara antar atmosfer dan paru melalui proses ventilasi. Pertukaran O2dan CO2 dalam paru dan darah dalam kapiler paru berlangsung melalui dinding kantung udara atau alveolus yang sangat tipis. Saluran pernapasan menghantarkan udara dari atmosfer ke bagian paru tempat pertukaran gas berlangsung. Paru terletak dalam kompartemen toraks yang tertutup, yang volumenya dapat diubah-ubah oleh aktivitas kontraksi otot-otot pernapasan.Tiga tahap yang terlibat pada proses pertukaran gas adalah: VentilasiVentilasi atau bernapas adalah proses pergerakan udara masuk-keluar paru secara berkala sehingga udara alveolus yang lama dan telah ikut serta dalam pertukaran O2dan CO2dengan darah kapiler paru diganti oleh udara atmosfer segar. Mekanisme ventilasi: Pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru terjadi karena perbedaan tekanan yang disebabkan oleh perubahan dalam volume paru-paru. Udara mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Kita tidak dapat merubah tekanan atmosfer sekitar kita menjadi lebih tinggi dibanding tekanan dalam paru-paru, alternatif yang mungkin adalah menurunkan tekanan dalam paru-paru dengan memperluas rongga thoraks.Ventilasi secara mekanis dilaksanakan dengan mengubah secara berselang-seling arah gradien tekanan untuk aliran udara antara atmosfer dan alveolus melalui ekspansi dan penciutan berkala paru. Kontraksi dan relaksasi otot-otot inspirasi (terutama diafragma) yang berganti-ganti secara tidak langsung menimbulkan inflasi dan deflasi periodik paru dengan secara berkala mengembang-kempiskan rongga toraks dengan paru secara pasif mengikuti gerakannya.Karena kontraksi otot inspirasi memerlukan energi, inspirasi adalah proses aktif, tetapi ekspirasi adalah proses pasif pada bernapas tenang karena ekspirasi terjadi melalui penciutan elastik paru sewaktu otot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan energi. Untuk ekspirasi aktif yang lebih kuat, kontraksi otot-otot ekspirasi (terutama otot abdomen) semakin memperkecil ukuran rongga toraks dan paru yang semakin meningkatkan gradien tekanan intra-alveolus terhadap atmosfer. Semakin besar gradien antara alveolus dan atmosfer, semakin besar laju aliran udara, karena udara terus mengalir sampai tekanan intra-alveolus seimbang dengan tekanan atmosfer.Selain secara langsung proporsional dengan gradien tekanan, laju aliran udara juga berbanding terbalik dengan resistensi saluran pernapasan. Karena resistensi saluran pernapasan, yang bergantung pada kaliber saluran pernapasan, dalam keadaan normal sangat rendah, laju aliran udara biasanya bergantung pada gradien gradien tekanan yang tercipta antara alveolus dan atmosfer. Apabila resistensi saluran pernapasan meningkat secara patologis akibat penyakit paru obstruktif menahun, gradien tekanan harus juga meningkat melalui peningkatan aktivitas otot pernapasan agar laju aliran udara konstan. PerfusiDinding alveoli mengandung cabang kapiler yang padat yang membawa darah vena dari jantung kanan. Barriernya yang sangat tipis memisahkan darah pada kapiler dan udara di alveoli. Perfusi darah melewati kapiler ini menyebabkan terajdinya difusi dan pertukaran gas.Untuk memperoleh pertukaran gas yang efisien , aliran gas (ventialsi:V) dan aliran darah (perfusi:Q) harus seimbang. Rasio V:Q yang normal sekitar 1:1. Ketidakseimbangan ventilasi:perfusi adalah penyebab umum dari hipoksemia dan mendasari banyak penyakit sistem respirasi. DifusiPada pertukaran gas, difusi terjadi melewati kapiler alveolar membrane. Difusi molekul O2dan CO2terjadi sepanjang gradient tekanan parsial. Udara pada atmosfer dihirup dan dilembabkan mengandung 21 % oksigen. Hal ini berarti 21 % dari total molekul di udara adalah oksigenOksigen bertanggung jawab untuk 21 % dari total tekanan udara; ini yang disebut tekanan parsial, diukur dalam mmHg atau kPa daan disingkat PO2Oksigen dan CO2bergerak melintasi membran tubuh melalui proses difusi pasif mengikuti gradien tekanan parsial. Difusi netto O2mula-mula terjadi antara alveolus dan darah, kemudian antara darah dan jaringan akibat gradien tekanan parsial O2yang tercipta oleh pemakian terus menerus O2oleh sel dan pemasukan teru-menerus O2segar melalui ventilasi. Difusi netto CO2terjadi dalam arah yang berlawanan, pertama-tama antara jaringan dan darah, kemudian antara darah dan alveolus, akibata gradien tekanan parsial CO2yang tercipta oleh produksi terus-menerus CO2oleh sel dan pengeluaran terus-menerus CO2alveolus oleh proses ventilasi. Transportasi gasKarena O2dan CO2tidak terlalu larut dalam darah, keduanya terutama harus diangkut dalam mekanisme selain hanya larut secara fisik. Hanya 1,5% O2yang larut secara fisik dalam darah, dengan 98,5% secara kimiawi berikatan dengan hemoglobin (Hb). Faktor utama yang menentukan seberapa banyak O2yang berikatan dengan Hb adalah PO2darah. Karbon dioksida yang diserap di kapiler sistemik diangkut dalam darah dengan tiga cara : 10% larut secara fisik. 30% terikat ke Hb. 60% dalam bentuk bikarbonat (HCO3)Kondisi-kondisi yang berkaitan dengan asfiksia adalah sebagai berikut: Gangguan pertukaran udara pernapasan. Penurunan kadar oksigen (O2) dalam darah (hipoksia). Peningkatan kadar karbondioksida (CO2) dalam darah (hiperkapnea). Penurunan suplai oksigen (O2) ke jaringan tubuh.Kerusakan akibat asfiksia disebabkan oleh gagalnya sel menerima atau menggunakan oksigen. Kegagalan ini diawali dengan hipoksemia. Hipoksemia adalah penurunan kadar oksigen dalam darah. Manifestasi kliniknya terbagi dua yaitu hipoksia jaringan dan mekanisme kompensasi tubuh. Tingkat kecepatan rusaknya jaringan tubuh bervariasi. Yang paling membutuhkan oksigen adalah sistem saraf pusat dan jantung. Terhentinya aliran darah ke korteks serebri akan menyebabkan kehilangan kesadaran dalam 10-20 detik. Jika PO2jaringan dibawah level kritis, metabolisme aerob berhenti dan metabolisme anaerob berlangsung dengan pembentukan asam laktat.

1.2. Tujuan PembahasanAgar Mahasiswa mengetahui dan memahami tentang asfiksia dan penulisan Visum et Repertum sesuai tingkat kompetensi yang telah ditentukan Standar Kompetensi Kedokteran Indonesia (SKDI) 2012.

Modul XXII Medikolegal Skenario 3 27

1.3. Rumusan MasalahAdapun skenario yang kami dapatkan sebagai berikut:

SKENARIO 3MATI TENGGELAM (DROWNING)Dijumpai sesosok mayat wanita terapung di sungai. Masyarakat setempat melaporkan temuan tersebut ke polisi dan kemudian mayat dibawa ke kamar mayat suatu rumah sakit. Pada mayat dijumpai tanda-tanda asfiksia seperti sianosis pada kuku dan bibir , perdarahan pada subconjunctiva, terdapat buih hallus yang sukar pecah di hidung , juga dijumpai cadaveric spasme, women washers hand, dan cutis anserina. Polisi mencurigai kematian korban akibat tindakan pidana., dimana korban dibunuh terlebih dahulu baru ditenggelamkan, sehingga polisi meminta kepada dokter di rumah sakit tersebut untuk membuatkan VeR.

Dari skenario tersebut, kami merumuskan beberapa learning objectives diantaranya:Mengetahui dan memahami tentang asfiksia dan visum et repertum:1) Definisi asfiksia2) Klasifikasi asfiksia3) Etiologi asfiksia4) Patofisiologi asfiksia5) Gejala dan tanda post mortem6) Definisi VeR7) Manfaat VeR8) Bentuk dan Susunan VeR9) Aspek Hukuum VeR

1.4. Metode dan TeknikDalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami menggunakan metode dan teknik secara deskriptif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya setelah itu dianalisis sehingga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas setelah itu berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.Itulah sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah ini.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Asfiksia 2.1.1. DefinisiAsfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernapasan yang normal. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernapasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Kedua gangguan tersebut akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang (hipoksia) yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida (hiperkapnea) (Idries, 1997).Asfiksia dalam bahasa Indonesia disebut dengan mati lemas. Sebenarnya pemakaian kata asfiksia tidaklah tepat, sebab kata asfiksia ini berasal dari bahasa Yunani, menyebutkan bahwa asfiksia berarti absence of pulse (tidak berdenyut), sedangkan pada kematian karena asfiksia, nadi sebenarnya masih dapat berdenyut untuk beberapa menit setelah pernapasan berhenti. Istilah yang tepat secara terminologi kedokteran ialah anoksia atau hipoksia (Knight, 2001).

2.1.2. Etiologi2.1.2.1. AlamiahMisalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.2.1.2.2. MekanikKerusakan akibat asfiksia (asphyxial injuries) dapat disebabkan oleh kegagalan sel-sel untuk menerima atau menggunakan oksigen. Kehilangan oksigen dapat terjadi parsial (hipoksia) atau total (anoksia). Asphyxial injuries dapat dibagi menjadi empat kategori umum, yaitu:a. Penutupan saluran pernafasan bagian atas: SuffocationPeristiwa suffokasi dapat terjadi jika oksigen yang ada di udara lokal kurang memadai, seperti misalnya di dalam satu ruang kecil tanpa ventilasi cukup berdesak-desakan dengan banyak orang, pertambangan yang mengalami keruntuhan, ataupun terjebak di dalam ruang yang tertutup rapat. Kematian dalat terjadi dalam beberapa jam, tergantung dari luasny