Syarifudin, profesionalisne jurnalis

  • View
    24

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Syarifudin, profesionalisne jurnalis

1. Profesionalisme Jurnalis Islami 1 2. Profesionalisme Jurnalis Islami 2 BAB I A. Pendahuluan Peran jurnalis dalam menentukan masa depan masyarakat lebih baik cukup signifikan karena karya-karyanya memiliki tiga kecenderungan yang cukup memiliki kekuatan sebagai jurnalis yang profesional. Tokoh-tokoh jurnalis yang telah menorehkan wajah perjalan sejaran jurnalis di Dunia antara lain adalah: Adam Abdullah Aluri karyanya membuat dunia jurnalis menjadi cerah dengan bukunya Sejarah Jurnalis Islam dalam membentuk cakrawala umat dunia global. Jumah Amin Aziz dalam bukunya Kaidah-kaidah Jurnalis dalam menulis straigh news. Muhammad Husein Fadullah dalam karyanya kaidah logika jurnalis yang profesional.1 Kompetensi jurnalis inilah yang memberikan pencerahan bagi jurnalis dewasa ini sehingga karya-karya jurnalis berkembang cukup pesat seiring ditemukannya teknologi informasi dan komuniaksi di Dunia Eropa. Kajian kompetensi jurnalis yang profesional di bidangnya bermuara pada mata air ilmu pengetahuan yang diproduksi secara filosofis oleh para ilmuan, untuk dijadikan rujukan bagi praktisi 1 Zainur Rofiq, Mengenal Dunia Jurnalis (Cairo: Terobososan karya Mahasiswa al-Az-Har, 1998), h. 151. 3. Profesionalisme Jurnalis Islami 3 jurnalis dalam memajukan dan meningkatkan media massa. Untuk memajukan pengolahan informasi ilmuan jurnalistik berpikir keras untuk memproduksi ilmu praktis yang dapat memudahkan praktisi jurnalistik mencari, mengolah, dan menyebarkan melalui teknologi informasi dan komunikasi di tengah masyarakat. Kompetensi Jurnalis Islami dalam buku ini akan memberikan pelajaran-pelajaran teknis tentang cara mengkonstruksi berita yang dapat menyelamatkan manusia dari berbagai macam informasi yang dapat menyesatkan dan merusak alam pikiran manusia. Buku ini berlandasakan pada QS Al- Hujurat (49) : 6. Terjemahnya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Pesan-pesan dari Al-Quran tersebut yang menjadi pondasi dalam mempelajari buku kompetensi jurnalisitik. Yakni mahasiswa akan diberikan cara mengolah, merawat, dan menjaga informasi agar tidak merusak pikiran orang lain akibat kurang adanya tahkik (konfirmasi) yang jelas. Sebagai mahasiswa perlu menjelaskan bahwa setiap informasi itu perlu diferfikasi 4. Profesionalisme Jurnalis Islami 4 darimanapun datangnya dan Sumber berita tersebut siapa narasumbernya, apakah narasumbernya jujur (credible), apa materinya, kepada siapa ia maksudkan, bagaimana cara menyampaikan berita, lewat saluran media massa yang akan disampaikan, di tengah masyarakat. Perkembangan teknologi informasi yang sangat canggih dewasa ini banyak informasi yang tersedia di media massa sehingga persaingan para jurnalis semakin kompetitif untuk menyebarkan informasi yang akan diterima oleh masyarakat. Banyak informasi yang tersedia di media massa sehingga membutuhkan kompetensi jurnalis untuk lebih profesional sebagai standar jurnalis yang layak untuk menjadi wartawan. Dalam perkembangan media yang sangat pesat membutuhkan kompetensi jurnalis Islami untuk menentukan standar jurnalis profesional. Kompetensi jurnalis ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemberitaan yang sopan, santun, berbobot, dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat bukan golongan tertentu saja. Jika jurnalis memiliki kompetensi spiritual, intelektual, sosial, dan enterpreneurship maka masa depan umat manusia akan lebih tercerahkan. Pertanyaannya adalah apakah semua jurnalis telah memiliki kompetensi tersebut, dan bagaimana mereka memahami kompetensi tersebut serta menerapkannya 5. Profesionalisme Jurnalis Islami 5 dalam peliputan dan penulisan berita. Inilah yang akan diekplorasi dalam buku ini. Realitas inilah yang memberikan motivasi lahirnya buku ini untuk menjadi pegangan bagi calon jurnalis yang akan meningkatkan citra pemberitaan dan kompetensi jurnalis yang profesional. Buku ini akan memberikan cara cakrawala baru tentang dunia jurnalistik yang selama ini belum ada lembaga sertifikasi jurnalis yang bertugas untuk menguji secara cermat para praktisi jurnalis yang tidak pernah melewati jenjang pendidikan jurnalis di dunia akademik. Jika dicermati dengan seksama bahwa jurnalis perlu memiliki beberapa idiologi dalam menulis berita antara lain idiologi kapitalis, sosialis, dan Islamis. Jurnalis Islami memiliki kompetensi keduanya untuk memberikan keseimbangan kepada dunia jurnalis bahwa semua itu perlu digunakan untuk sebesar- besar kemaslahatan umat manusia. Kompetensi jurnalis Islami harus menjadi prontier spirit bagi pembaruan perkembangan jurnalis di dunia dengan mengendalikan, memferifikasi, dan menelaah secara cermat setiap informasi yang dapat merusak alam pikiran masyarakat untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. 6. Profesionalisme Jurnalis Islami 6 BAB II KOMPETENSI JURNALIS A. Kompetensi Jurnalis Salah satu kompetensi jurnalis adalah kredibilitas. kredibilitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perihal dapat dipercaya, mempengaruhi di mata umum.2 Pengertian ini menunjukkan bahwa pentingnya kepercayaan pada Institusi media massa memberikan dampak pada konsumen dalam menyebarkan berita. Pengertian ini juga relevan dengan tradisi dalam menjaga keabsahan berita. Dalam ilmu hadis bahwa perawi (jurnalis) harus siqah artinya berstatus adil dan d}a>bit memiliki kejujuran, tidak berbohong, cerdas dan berbudi).3 Salah satu makna dari s{iqah antara lain bahwa jurnalis tersebut dapat dipercaya beritanya karena ia menggali dengan proses budiluhur. Kredibilitas jurnalis tersebut sesuai dengan konsep Jalaluddin Rakhmat seperangkat presepsi tentang sifat-sifat baik dari seorang jurnalis.4 Tak dapat dipungkiri bahwa kredibilitas salah satu kriteria jurnalis profesional. Jika jurnalis memiliki sifat 2 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Bahasa, 2009), h. 818. 3 Abdul al-Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Ibrahim Abdul latif, Dawa>bit} al- Ja>rh wa al-Ta'dil (Saudi Arabia, al-Madinah al-Munawwarah, 1381), h. 136. 4 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi (Cet. XXII; PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h. 257. 7. Profesionalisme Jurnalis Islami 7 kredibilitas (dipercaya) maka proses pemberitaan bisa meningkat dan berjalan efektif mencerahkan masyarakat. Kredibilitas jurnalis memiliki peran strategis, dalam mentransformasikan pesan-pesan agama Islam di tengah masyarakat.5 Peran kredibilitas menggunakan bahasa sebagai perangkat untuk merubah cara pandangan madu menurut Thomas Hobes yang dikembangkan H.E King menurut Jalaluddin Rakhmat bahwa kompetensi menyebarkan pesan yang dapat berpengaruh dalam aspek fisik dan psikis termasuk aspek kompetensi seorang komunikator.6 Secara keilmuan hemat Yusuf Qardawi perlu ada perbedaan mendasar dari aspek bangunan keilmuan khususnya perbedaan antara kompetensi dalam ilmu jurnalis Islam bersumber dari ilmu dakwah.7 Argumentasi ini cukup mendasar sehingga ada pemetaan keilmuan dari aspek filosofis memberikan kontribusi pada kompetensi jurnalis. Menurut syarifudin bahwa setiap jurnalis bisa menjadi sang pencerah. Untuk menjadi sang pencerah maka perlu 5 A. Zuad MZ dan Muhammad Sidiq, Mutiara Al-Quran: Sorotan Al- Quran Terhadap berbagai teknologi Moderen (Cet. I; Surabaya, Sarana Ilmiah Press, 1998), h. 142. 6 op. cit., Jalaluddin Rakhmat 7 H.M. Sattu Alang, Dosen Tetap Pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Negeri Alauddin Makassar dan sekarang menjabat sebagai Ketua LPM UIN Alauddin Makassar. 8. Profesionalisme Jurnalis Islami 8 memiliki kompetensi memahami berita, menjelaskan berita, dan memili kata dan kalimat yang dapat mencerahkan masyarakat melalui karya jurnalis. Atas dasar inilah sehingga perlu indikator sebagai jurnalis profesional. Kiteria jurnalis profesional menurut Syarifudin antara lain: 1. Memahami bahasa Al-Quran sebagai spirit inspirasi, inovasi dan kreativitas sebagai jurnalis Islami. 2. Mengetahui hukum dalam Agama Islam untuk menghindari prilaku menyimpang wartawan. 3. Memiliki prilaku dan citra baik di tengah masyarakat sehingga berita dari jurnalis tersebut dapat dipercaya. 4. Secara akademik memiliki jenjang pendidikan jurnalis Islami sehingga berita-berita yang ditulis sesuai dengan konsep Islam. Konsep Islam yang dimasudkan adalah jurnalis yang memiliki cakwala rahmatallilalamin. 5. Dapat menggunakan teknologi informasi, dakwah, dan komunikasi sebagai perpanjangan panca indra jurnalis. Indikator kompetensi jurnalis di atas sesuai pandangan Ilyas Ismail bahwa kriteria jurnalis profesional antara lain; 1). Jika ia memenuhi kompetensi intelektual, 2). Kekuatan moral 9. Profesionalisme Jurnalis Islami 9 (budipekerti yang luhur), dan 3). Kekuatan spiritual.8 Syarat ini adalah usaha maksimal untuk memberikan pelayanan agama sesuai kompetensi yang di miliki oleh jurnalis. Salah satu kriteria kompetensi dalam dunia pendidikan adalah kemampuan menggunakan teknologi pembelajaran sebagai indikator guru profesional. Indikator ini juga menjadi standar sebagai jurnalis profesional dalam mengkomunikasikan Al-Quran dan Sunnah sebaga spirit dan strategi menggunakan teknologi dakwah dan komunikasi dalam mencerahkan masyarakat. Secara akademik kompetensi jurnalis profesionalisme memiliki pengetahuan atau keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi jurnalis lain dari padangan kemendiknas antara lain pengenalan kaidah-kaidah jurnalis, pengembangan potensi jurnalis, penguasaan akademik, dan sikap kepribadian.9 Sebagai standar keilmuan jurnalis ia perlu memiliki standar kompetensi antara lain: 8 A. Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun dan Peradaban Islam (Cet. I. Jakarta: Prenada Media Group, 2011), h. 57. 9 Kunandar, Guru Profesionalisme Implementasi Kurikulum Satuan Tingkat Pelajara