Syarifudin, paradigma ilmu.docx

  • View
    27

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of Syarifudin, paradigma ilmu.docx

1. Model-Model Paradigma Keilmuan 1 2. Model-Model Paradigma Keilmuan 2 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang paradigm Karunia Allah swt yang terbesar bagi manusia adalah hidaya akal sebagai media Tuhan memperkenalkan kebesarannya melalui ciptaannya yakni manusia. Akal adalah software (perangkat lunak) yang diciptakan Allah untuk kebutuhan manusia memproduksi pikiran dengan menggunakan fasilitas akal sebagai mediannya. Sebagaimana yang telah dirasakan bahwa dengan kemampuan akal banyak terjadi perubahan sosial akibat kemampuan akal manusia dapat menemukan ilmu pengetahuan Kebesaran Allah swt dalam diri manusia terdiri dari dua potensi besar yakni potensi taqwaha sebagai medium malaikat (bertugas memproduksi pemikiran positif) dan potensi fujuraha (bertugas memproduksi pemikiran negatif). Dalam membangun sebuah paradigm kedua potensi ini saling berebut perang untuk menjadi yang terbaik dalam menampilkan eksistensinya di bumi sebagai wakilnya Allah swt di Bumi. Manusia telah menghasilkan berbagai kemajuan dalam berpikir. Kemajuan ini muncul akibat kemapuan membedakan cara berpikir baik dan buruk. untuk mencegah, menjaga dan memelihara kemaslahatan mencegah kerusakan dalam berpikir. Aspek yang perlu di perhatikan ada 3 hal dalam membangun sebuah paradigm. Hal yang pertama; adalah menjaga sistem operasional naps(fujuraha) agar tidak mendominasi cara kerja spirit taqwaha hati dan jiwa, sebagai media yang berfungsi merespon 3. Model-Model Paradigma Keilmuan 3 realitas. Kedua; menjaga hukum (sunnatullah) berupa alam fisika. Ketika; genetika konstruksi pemikiran yang diwariskan oleh para ilmuan yang telah menghasilkan berupa karya paradigm perlu ada fatabayyan untuk mengetahui cara kerja sebuah paradigma dan apa saja maslahatnya bagi kehidupan umat manusia. Ketiga; Teknik operasional dari sebuah karya berpikir dari aspek kemudahannya mengungkap dan menjelaskan sebuah realitas. Pada dasarnya cara kerja paradigm keilmuan adalah darul mafaasid waljabul mashalih (menolak kerusakan menciptakan kemaslahatan) bagi umat manusia dalam menjalani aktivitasnya selama ia hidup di dunia dan berupaya mewariskan karya pemikiran yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya. Inilah motif paradigm keilmuan dakwah sebagai spirit mencermati realitas dalam berbagai penelitian. Persoalan adalah realitas yang dikonstruksi oleh manusia ketika sistem kerja akal tidak sesuai dengan fitrahnya, kondisi ini penting seorang peneliti dituntut tiga kecerdasan dalam mengkonsturksi sebuah paradigm, yakni kecerdasan ontology, kecerdasan epistemology, dan kecerdasan aksiologi atau dalam bahasa dakwahnya kecerdasan maani (kompetensi memaknai dan memahami ruanglingkup sebuah realitas), kecerdasan bayani (menjelaskan cara kerja realitas), dan kecerdasan badi membahasakan melalui kode qalam (tulisan, nilai, dan manfaat dan spirit pencegahan kerusakan sebuah karya pemikiran). Kecerdasan inilah yang bertugas bagaimana cara ia memecahkan persoala-persoalan secara sistematis, metodologis, dan filosofis yang dialami di permukaan bumi ini, untuk 4. Model-Model Paradigma Keilmuan 4 mendapatkan kebenaran universal bagi kemalahatan umat manusia. Apalagi pendidik yang kedudukannya sebagai pengambil keputusan, yang dihadapkan dengan cara bagaimana persoalan dalam mengambil keputusan tentang merencanakan pengajaran, membimbing, kebijakan untuk mengelola, mengkoordinasikan, mengorga-nisasi serta menata dan mengevaluasi konflik-konflik internal dan eksternal. Sulit tidaknya pemecahan suatu masalah sangat tergantung daripada kedalaman pengetahuan tentang cara untuk memecahkan suatu masalah dan tersedianya fakta-fakta yang berhubungan dengan masalah tersebut. Ada beberapa cara untuk memecahkan suatu masalah, yaitu sebagai suatu sumber pengetahuan/ kebenaran, yang menggunakan cara atau proses berfikir serta pendekatan. Permasalahan yang dialamai seseorang seperti tersebut di atas, tidak mungkin didiamkan, apalagi yang menyangkut tugas- tugas atau profesi, menyangkut suatu institusi sosial ataupun ekonomi dan terlebih berkaitan dengan pengembangan suatu ilmu pengetahuan. Pengembangan ilmu pengetahuan perlu ditingkatkan, karena bagaimanapun pengetahuan merupakan wacana atau cakrawala yang membuka tabiat alam semesta sebagai karunia dari Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan ilmu pengetahuan orang bisa naik sepeda motor, naik pesawat terbang, kesehatan terjamin, kualitas hidup lebih baik dan lain-lain. Karena itu pula ilmu pengetahuan dari jaman dulu sampai sekarang terus diperbaiki dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman. 5. Model-Model Paradigma Keilmuan 5 Pengetahuan yang merupakan kumpulan daripada pengalaman-pengalaman seseorang dan dari hasil pengamatan sejumlah orang, yang kemudian disatukan, dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur dan sistematis. Hal ini terbentuk dari suatu himpunan pengertian yang saling berkaitan dan menyajikan pandangan-pandangan yang sistematis tentang suatu gejala-gejala, fenomena- fenomena, variabel-variabel dengan jalan menetapkan hubungan yang ada diantara variabel- variabel dengan tujuan untuk menjelaskn serta meramalkan atau mempre-diksi fenomena-fenomena tersebut, yang untuk selanjutnya disebut teori. Pemikiran tentang penelitian ini timbul seperti dikemukakan pada bab sebelumnya, yaitu dari masalah atau persoalan. Dan permasalahan ini yang dijadikan sebagai inti dasar daripada pelaksanaan suatu penyelidikan. Karena bagaimanapun luas atau sempitnya suatu permasalahan perlu adanya suatu pemecahan. Begitu juga cara atau pendekatan yang digunakan untuk menjawab permasalahan itu dari jaman dulu hingga sekarang selalu berubah, dan lain orang lain pula cara yang digunakan. Orang primitif dalam memecahkan masalah lebih bersifat abstrak dan spiritual, dibanding dengan orang yang modern yang lebih aktual dengan menggunakan kerangka pemikiran dan logika berpikir yang bisa dipertanggungjawabkan dengan akal sehat. Berbicara tentang pendekatan tentang cara-cara yang digunakan dalam peme-cahan suatu permasalahan atau yang berkaitan dengan pengujian suatu kebenaran, yang dalam sejarahnya terdiri dari: 6. Model-Model Paradigma Keilmuan 6 B. Pengalaman dan Penemuan Secara Kebetulan Orang bijak berkata, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pada jaman dulu bahkan pada era modern sekarang ini, suatu permasalahan, pemecahannya masih menggunakan pendekatan ini. Karena memang pengetahuan sendiri merupakan suatu kumpulan dari pada pengalaman-pengalaman yang disusun secara sistematis. Namun dimaksudkan dalam pendekatan ini adalah bahwa suatu permasalahan, pemecahannya itu bisa diperoleh jawaban dari seseorang yang memiliki suatu pengalaman pemecahan dari suatu permasalahan yang sama. Artinya, misalnya saja kalau ingin mencari jawaban akan suatu persoalan lebih baik ditanyakan pada orang yang memiliki pengalaman yang lebih lama diban-ding dari yang belum pernah mengalaminya. Sedangkan penemuan secara kebetulan merupakan salah satu cara juga, akan tetapi bukan berarti tidak ada manfaatnya atau faedahnya. Penemuan-penemuan dalam hal ini semua diilhami secara kebetulan, untuk itu tidak bisa dikategorikan termasuk proses berpikir, akan tetapi selalu berada didalam keadaan yang tidak pasti. datanya tidak dapat diprediksi atau diperhitungkan secara berencana dan dengan sistematis. Penemuan ini mendasarkan diri pada sesuatu yang kebetulan, yang terlalu bersifat langsung, bersifat menanti dan pasip tanpa ada unsur kesengajaan. Oleh karena itu maka cara ini mengurangi sekali kadar efisiensi kerja. Lagi pula sesuatu yang terjadi secara kebetulan itu tidaklah selalu mendapatkan sesuatu gambaran tentang kebenaran. 7. Model-Model Paradigma Keilmuan 7 C. Otoritas / Wewenang / Tradisi Hal ini berkaitan dengan otoritas dari atau yang dimiliki oleh seseorang. Entah itu sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat pemerintahan atapun bahkan seseorang yang berprofesi guru. Sebagai contoh saja, kebanyakan dari pada masyarakat desa kalau memiliki suatu persoalan pemecahannya dimin-takan kepada kepala dusun atau kepala desa. Ada yang punya masalah pribadi tentang keluarga dimintakan penyelesaian pada seorang kyai atau bahkan dimintakan jampi spiritual pada tetua masyarakat, dianggapnya sebagai dukun (psikiater sekarang). Karena berpandangan bahwa orang-orang seperti tersebut di atas dipandang lebih memiliki kemapuan dengan keberadaan jabatan atau strata sosial yang dimiliki seseorang. Hal ini seperti juga pernyataan-pernyataan yang dituahkan oleh suatu badan atau orang tertentu yang dianggap memiliki suatu kewibawaan, petuah orang tua, tokoh masyarakat, pembicaraan rapat, seminar yang sering diterima oleh masyarakat. Karena hal ini sudah menjadi suatu culture masyarakat yang sudah dari turun temurun. Dipertegas dalam hal ini adalah berpatokan pada orang yang dianggap bijak. Paradigma yang ketiga, konstruktivisme, merupakan paradigma yang toleran, longgar serta tidak terlalu mementingkan tahap penelitian. Paradigma ini melahirkan metode penelitian kualitatif yang memiliki sifat berbeda sangat berbeda- dengan 8. Model-Model Paradigma Keilmuan 8 kuantitatif. Realitass memiliki sifat relatif, yang merupakan hasil dari konstruksi mental yang bermacam-macam dan tak dapat diindra (Denzin dan Lincoln, 2009). Realitass dibentuk oleh pengalaman dan konstruksi sosial yang berlaku. Selain itu, realitass juga berciri lokal dan spesifik dan bentuk serta isinya bergantung pada manusia atau kelompok sosial yang memiliki konstruksi tersebut. Tidak ada unsur generalisasi dalam penciptaan realitass. Dan muncul istilah realitass majemuk yang merupakan simplifikasi dari banyaknya jumlah realitass yang tercipta. Bagi kaum konstruktivis, semesta merupakan suatu konstruksi, artinya bahwa semesta bukan dimengerti sebagai semesta yang otonom, akan tetapi dikonstruksi secara sosial (Ardianto, 2009). Manusia merupakan tokoh sentral dalam proses komunikasi. Mirip dengan paradigma sebelumnya? Tentu tidak, disini komunikasi tidak bergantung pada pengirim melainkan p