LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF “Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa"

  • View
    3.039

  • Download
    16

Embed Size (px)

Text of LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF “Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan...

  • 1. TUGAS LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa Disusun Oleh : Dedik Winarno 13010110130041 Muhammad faizal Majid 13010110130051 Maulana Aji Nugroho 13010110130067 Pramoda Anindya Dipta 13010110130069 Gigih Panggayuh Utomo 13010110130072 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013

2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data dari beberapa sumber yang dihimpun, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak beraneka ragam bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Komposisinya pun sangat beraneka ragam. Ada jenis bahasa daerah yang penuturnya seiring dengan berkembangnya waktu kian berkurang dikarenakan lemahnya tradisi untuk mewarisi bahasa leluhur masing-masing. Melemahnya bahasa daerah sendiri dikarenakan faktor anak muda jaman sekarang yang kurang berminat dalam menggunakan bahasa daerah untuk digunakan percakapan sehari hari itu semua yang menjadi salah satu faktor semakin berkurangnya bahasa daerah. Ada juga jenis bahasa daerah yang penuturnya banyak akan tetapi kaidah-kaidah kebahasaan yang semestinya dipakai telah banyak yang diabaikan. Jika dianalisis lebih lanjut, keberagaman warna bahasa daerah yang ada di negeri ini pasti berasal dari sumber yang sama. Tidak heran jika ada beberapa kosakata dalam bahasa daerah yang letak geografisnya berjauhan tapi memiliki kesamaan. Salah satu samplenya adalah bahasa Melayu Deli dan bahasa Jawa. Didasari dari Ilmu Linguistik Historis Komparatif, yakni satu jenis disiplin ilmu yang mempelajari bahasa dalam bidang waktu serta perubahan- perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut, dibuatlah makalah yang berisi perbandingan 200 kosakata dalam bahasa Melayu Deli dan bahasa Jawa yang dilanjutkan dengan mencari waktu pisah antara bahasa Melayu Deli dengan bahasa Jawa. Dalam makalah ini metode yang kami gunakan adalah metode leksikostatistik, yakni sebuah metode dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan pengamatan kata-kata atau leksikon secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan prosentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. Sedangkan metode glotokronologi adalah suatu teknik dalam linguistik historis yang berusaha mengadakan pengelompokan dengan lebih mengutamakan perhitungan waktu (time depth) atau perhitungan usia bahasa- bahasa kerabat. Dalam hal ini, usia bahasa dihitung secara umum, misalnya menggunakan satuan ribuan tahun (millenium). Kedua istilah tersebut saling tumpang tindih. Istilah- 3. istilah tersebut berusaha untuk menemukan data- data untuk suatu tingkat waktu yang agak tua dalam bahasa guna menentukan usia bahasa dan pengelompokan bahasa (Keraf, 1996:121-122) Dalam makalah ini, penulis mencari sumber data berasal dari kamus Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. Namun, selain dari kamus tersebut, data juga bersumber dari wawancara dengan beberapa responden. 1.2 Rumusan Masalah Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Seberapa besar tingkat kesamaan kosakata Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa? b. Kapan kira-kira waktu pisah Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa? 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui prosentase kekerabatan kata antara Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. b. Mengetahui waktu pisah Bahasa Melayu Deli dengan Bahasa Jawa. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi para peneliti lanjutan. b. Sebagai bahan motivasi untuk meningkatkan kegiatan penelitian bahasa daerah di Indonesia. c. Untuk melengkapi khasanah pustaka bahasa dan sastra daerah, khususnya di Perpustakaan Kementrian Pendidikan. d. Dapat dijadikan sumber informasi tentang linguistik daerah di nusantara. e. Bagi peneliti sendiri, menambah wawasan tantang kajian leksikostatistik Bahasa Melayu Deli dan Bahasa Jawa. 1.5 Teori yang Digunakan Teori merupakan prinsip dasar yang berlaku secara umum yang mempermudah seorang penulis dalam memecahkan suatu masalah. Teori yang menjadi acuan penulis adalah 4. teori leksikostatistik dan teori migrasi yang dikemukaakan Gorys Keraf dalam bukunya, Linguistik Bandingan Historis (1984). 1.6 Asumsi Dasar Leksikostatistik Ada empat macam asumsi dasar yang digunakan sebagai titik tolak untuk mencari jawaban mengenai usia bahasa, atau secara tepatnya dan bilamana terjadi diferensiasi antara dua bahasa atau lebih (Keraf, 1984: 123). Asumsi dasar tersebut adalah: a. sebagian dari kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya. b. retensi (ketahanan) kosakata dasar adalah konstan sepanjang masa. c. perubahan kosakata dasar pada semua bahasa adalah sama. d. bila prosentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui, maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahasa tersebut. 1.7. Teknik Leksikostatistik Untuk menerapkan keempat asumsi dasar di atas, maka perlu mengambil langkah yang merupakan teknik metode leksikostatistik seperti: a. mengumpulkan kosakatabahasa kerabat. b. menetapkan pasangan-pasangan yang merupakan kata kerabat (cognate) dari kedua bahasa tersebut, penetapan kata kerabat adalah jika: a. pasangan itu identik b. pasangan itu memiliki korespondensi fonemis c. kemiripan secara fonetis d. satu fonem berbeda; c. menghitung usia atau waktu pisah kedua bahasa; W= keterangan: W= waktu peroisahan dalam ribuan tahun (millennium) yang lalu. r= retensi (prosentase konstan dalam seribu tahun atau indeks) C= prosentase kerabat log.= logaritma dari. 5. 1.8. Metode Pengumpulan Data Penulis memakai 2 jenis metode dalam pengumpulan data untuk pengerjaan makalah ini. Metode pertama yakni metode kepustakaan, yakni dengan mencari buku- buku yang berhubungan dengan penulisan makalah ini, khususnya kamus bahasa Melayu Deli-Indonesia serta kamus bahasa Jawa-Indonesia. Jenis metode kedua yakni metode wawancara, yakni dengan mewawancarai langsung para penutur bahasanya. Adapun responden yang kami wawancarai yakni: Dedik (21 tahun), penutur Bahasa Jawa. Faisal (21 tahun), penutur Bahasa Jawa. Tika (20 tahun), penutur Bahasa Melayu Deli. 1.9. Metode Analisis Data Tahap untuk menyelesaikan data yang terkumpul adalah menganalisisnya. Sehubungan dengan teknik yang penulis gunakan, yakni teknik leksikostatistik maka prosedurnya adalah sebagai berikut: a. mengumpulkan kosakata dasar bahasa kerabat, yaitu melalui metode kepustakaan serta metode Interviewer. b. Menghitung kata kerabat, yakni dengan mengikuti prosedur yang sudah ditentukan seperti: 1. Gloss yang tidak diperhitungkan. 2. Pengisolasian morfem terikat. 3. Penetapan kata kerabat. Rumus: C= x 100% Keterangan: C= cognates (kata kerabat) K= jumlah kosakata kerabat G= jumlah gloss c. Menghitung Waktu Pisah Waktu pisah antara dua bahsa kerabat yang telah diketahui prosentase kata kerabatnya, dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: W= 6. Keterangan: W = waktu peroisahan dalam ribuan tahun(millennium) yang lalu. r = retensi ( prosentase konstan dalam seribu tahun atau indeks ) C = prosentase kerabat Log. = logaritma dari. 7. BAB II ISI 2.1 Bahasa Melayu Deli Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia. Bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara dan di Semenanjung Melayu. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia(sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); bahasa nasional Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia). Bahasa Melayu merupakan lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di Nusantara sejak sekitar A.D 1500-an. Migrasi kemudian juga turut memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia. Suku Melayu Deli, adalah salah satu suku melayu yang mendiami kabupaten Deli Serdang. Penyebaran meliputi kota Medan, Deli Tua, daerah pesisir, pinggiran sungai Deli dan Labuhan. Di kota Medan suku Melayu Deli banyak menempati daerah pinggiran kota. Populasi suku Melayu diperkirakan lebih dari 2 juta orang. Suku Melayu Deli berbicara dalam bahasa Melayu Deli. Sekilas bahasa Melayu Deli mirip dengan bahasa Indonesia dengan logat melayu yang kental dan pengucapan yang lebih singkat dan cepat. Pada beberapa tempat, bahasa Melayu Deli menggunakan dialek 'e', mirip dengan bahasa Maye-Maye dan bahasa Malaysia. Contoh bahasa Melayu Deli: Indonesia - Melayu Deli kau = ko, kow ini = ni itu = tu 8. Bahasa Melayu Deli, memiliki sub-bahasa di kota Medan yang berkembang menjadi salah satu dialek bahasa Melayu, yaitu bahasa Medan. Bahasa Medan pada dasarnya sama dengan bahasa Melayu Deli, namun banyak menyerap bahasa-bahasa lain, seperti dari bahasa Batak Toba, Batak Karo, Batak Mandailing, China, India, Arab, Minangkabau, Inggris, Belanda dan lain-lain. Sedangkan logat bahasa Medan banyak dipengaruhi logat batak, sehingga logatnya terdengar semi melayu dan semi batak. Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Deli (normal) Bahasa Bahasa Melayu Deli (sopan) di atas .. di luhur .. palih luhur .. di belakang .. di tukang .. palih pengker .. di bawah .. di handap .. palih handap .. di dalam .. di jero .. palih lebet .. di luar .. di luar .. palih luar .. di samping .. di sisi .. palih gigir .. di antara .. dan .. di antara .. jeung .. antawis .. sareng .. Bahasa