Click here to load reader

Syarifudin, fenomenologi

  • View
    68

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Syarifudin, fenomenologi

  • kajian fenomenologi 1

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

  • kajian fenomenologi 2

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

    FENOMENOLOGI

    Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phainomai, yang berarti

    menampak dan phainomenon merujuk pada yang menampak. Istilah

    feomenologi diperkenalkan oleh Johann Heinrickh Lambert. Meskipun pelopor

    fenomenologi adalah Husserl, namun dalam buku ini lebih banyak mengupas ide-

    ide Schutz (yang tetap berdasar pada pemikiran sang pelopor, Husserl). Terdapat

    dua alasan utama mengapa Schutz dijadikan centre dalam penerapan metodologi

    penelitian kualitatif menggunakan studi fenomenologi ini.1

    Pertama, karena melalui Schutz-lah pemikiran dan ide Husserl yang dirasa

    abstrak dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan mudah dipahami. Kedua,

    Schutz merupakan orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam

    penelitian ilmu sosial. Oleh karena itu, buku ini mengupas beberapa pandangan

    Schutz dan penerapannya dalam sebuah penelitian sosial.

    Schutz mengawali pemikirannya dengan mengatakan bahwa objek

    penelitian ilmu sosial pada dasarnya berhubungan degan interpretasi terhadap

    realitas. Jadi, sebagai peneliti ilmu sosial, kita pun harus membuat interpretasi

    terhadap realitas yag diamati. Orang-orang saling terikat satu sama lain ketika

    membuat interpretasi ini. Tugas peneliti sosial-lah untuk menjelaskan secara

    ilmiah proses ini.

    Dalam melakukan penelitian, peneliti harus menggunakan metode interpretasi

    yang sama dengan orang yang diamati, sehingga peneliti bisa masuk ke dalam

    dunia interpretasi orang yang dijadikan objek penelitian.

    Pada praktiknya, peneliti mengasumsikan dirinya sebagai orang yang tidak

    tertarik atau bukan bagian dari dunia orang yang diamati. Peneliti hanya terlibat

    secara kogniti dengan orang yang diamati. Peneliti dapat memilih satu posisi

    1Sumber: David Woodruff Smith, Husserl, London, Routledge, 2007. [2] Lihat, ibid, hal. 188,

    [3] Ibid, hal. 190. [4] Ibid, hal. 191.[5] Lihat, ibid, hal. 193. [6] Lihat, ibid, hal. 234.

  • kajian fenomenologi 3

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

    yang dirasakan nyaman oleh subyek penelitiannya, sehingga ketika subyek

    merasa nyaman maka dirinya dapat menjadi diri sendiri. Ketika ia menjadi dirinya

    sendiri inilah yang menjadi bahan kajian peneliti sosial.

    Setelah Schutz berhasil mengintegrasikan fenomenologi dalam ilmu sosial,

    para cendekiawan sosial mulai melirik pemikiran fenomenologi yang paling awal,

    yakni fenomenologi transendental Husserl. Husserl sangat tertarik dengan

    penemuan makna dan hakikat dari pengalaman. Dia berpendapat bahwa

    terdapat perbedaan antara fakta dan esensi dalam fakta, atau dengan kata lain

    perbedaan antara yang real dan yang tidak. Berikut adalah komponen konseptual

    dalam fenomenologi transendental Husserl:

    a. Kesengajaan (Intentionality)

    Kesengajaan (intentionality) adalah orientasi pikiran terhadap suatu objek

    (sesuatu) yang menurut Husserl, objek atau sesuatu tersebut bisa nyata atau

    tidak nyata. Objek nyata seperti sebongkah kayu yang dibentuk dengan

    tujuan tertentu dan kita namakan dengan kursi. Objek yang tidak nyata

    misalnya konsep tentang tanggung jawab, kesabaran, dan konsep lain yang

    abstrak atau tidak real. Husserl menyatakan bahwa kesengajaan sangat

    terkait dengan kesadaran atau pengalaman seseorang dimana kesengajaan

    atau pengalaman tersebut dipengaruhi oleh faktor kesenangan (minat),

    penilaian awal, dan harapan terhadap objek. Misalnya minat terhadap bola

    akam menentukan kesengajaan untuk menonton pertandingan sepak bola.

    b. Noema dan Noesis

    Noema atau noesis merupakan turunan dari kesengajaan atau intentionality.

    Intentionality adalah maksud memahami sesuatu, dimana setiap pengalaman

    individu memiliki sisi obyektif dan subyektif. Jika akan memahami, maka

    kedua sisi itu harus dikemukakan. Sisi obyektif fenomena (noema) artinya

    sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau sekalipun

    sesuatu yang masih akan dipikirkan (ide). Sedangkan sisi subyektif (noesis)

    adalah tindakan yang dimaksud (intended act) seperti merasa, mendengar,

    memikirkan, dan menilai ide. Terdapat kaitan yang erat antara noema dan

  • kajian fenomenologi 4

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

    noesis meskipun keduanya sangat berbeda makna. Noema akan membawa

    pemikiran kita kepada noesis. Tidak akan ada noesis jika kita tidak

    mengawalinya dengan noema. Begini mudahnya. Kita tidak akan tau tentang

    bagaimana rasanya menikmati buah durian (noesis karena ada aspek

    merasakan, sebagai sesuatu atau objek yang abstrak) jika kita sendiri belum

    mengetahui seperti apa wujud durian (noema karena berkaitan dengan

    wujud, sebagai sesuatu atau objek yang nyata).2

    c. Intuisi

    Intuisi yang masuk dalam unit analisis Husserl ini dipengaruhi oleh intuisi

    menurut Descrates yakni kemampuan membedaka yang murni dan yang

    diperhatikan dari the light of reason alone (semata-mata alasannya).

    Intuisilah yang membimbing manusia mendapatkan pengetahuan. Bagi

    Husserl, intuisilah yang menghubungkan noema dan noesis. Inilah sebabnya

    fenomenologi Husserl dinamakan fenomenologi transendental, karena

    terjadi dalam diri individu secara mental (transenden).

    d. Intersubjektivitas

    Makna intersubjektif ini dijabarkan oleh Schutz. Bahwa makna intersubjektif

    ini berawal dari konsep sosial dan konsep tindakan. Konsep sosial

    didefinisikan sebagai hubungan antara dua atau lebih orang dan konsep

    tindakan didefinisikan sebagai perilaku yang membentuk makna subjektif.

    Akan tetapi, makna subjektif tersebut bukan berada di dunia privat individu

    melainkan dimaknai secara sama dan bersama dengan individu lain. Oleh

    karenanya, sebuah makna subjektif dikatakan intersubjektif karena memiliki

    aspek kesamaan dan kebersamaan (common and shared).

    Fenomenologi Edmund Husserl

    Pada bab sebelumnya kita sudah berdiskusi soal gaya aphorisme di dalam

    filsafat Nietzsche. Ia mengajarkan kita untuk berani menembus batas-batas

    2 Sumber: David Woodruff Smith, Husserl, London, Routledge, 2007. [2] Lihat, ibid, hal. 188,

    [3] Ibid, hal. 190. [4] Ibid, hal. 191.[5] Lihat, ibid, hal. 193. [6] Lihat, ibid, hal. 234.

  • kajian fenomenologi 5

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

    rasionalitas itu sendiri, dan membuka tabir-tabir pemikiran baru yang belum

    tersentuh sebelumnya. Pada bab ini saya ingin mengajak anda berdiskusi

    mengenai metodologi berpikir di dalam filsafat Husserl, yang banyak juga dikenal

    sebagai fenomenologi. Metode ini sangat penting di dalam filsafat, dan juga di

    dalma penelitian ilmu-ilmu sosial. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi

    tidak hanya berhenti menjadi metode, tetapi juga mulai menjadi ontologi.

    Muridnya yang bernama Heideggerlah yang nantinya akan melanjutkan proyek

    itu. Pada bab ini saya mengacu pada tulisan David W. Smith tentang Husserl di

    dalam bukunya yang berjudul Husserl. 3

    Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu,

    yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Akan tetapi pendekatan

    fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi

    tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri. Namun sampai

    sekarang definisi jelas dan tepat dari fenomenologi belum juga dapat dirumuskan

    dan dimengerti, bahkan oleh orang yang mengklaim menggunakannya. Oleh

    karena itu dengan mengacu pada tulisan Smith, saya akan coba memberikan

    definisi dasar tentang fenomenologi, sekaligus mencoba memberi contoh

    penerapannya. Setelah itu saya akan mengajak anda untuk memahami latar

    belakang teori fenomenologi Husserl yang memang secara langsung

    diinspirasikan oleh Frans Bretagno, terutama pemikirannya soal psikologi

    deskriptif. Lalu masih mengacu pada tulisan Smith, saya akan mengajak anda

    memahami teori tentang kesadaran, terutama konsep kuncinya yang disebut

    sebagai intensionalitas. Intensionalitas sendiri berarti kesadaran yang selalu

    mengarah pada sesuatu (consciousness on something), seperti kesadaran akan

    waktu, kesadaran akan tempat, dan kesadaran akan eksistensi diri sendiri.

    Selanjutnya kita akan berdiskusi tema-tema yang lebih spesifik di dalam filsafat

    3Sumber: David Woodruff Smith, Husserl, London, Routledge, 2007. [2] Lihat, ibid, hal. 188,

    [3] Ibid, hal. 190. [4] Ibid, hal. 191.[5] Lihat, ibid, hal. 193. [6] Lihat, ibid, hal. 234.

  • kajian fenomenologi 6

    Fenomenologi syarifudin: Kajian transcendental yang Nampak pada tepian prilaku manusia, alam, dan keajaiban Tuhan.

    Husserl, seperti pemikirannya tentang logika, ontologi, dan filsafat

    transendental.4

    Arti Fenomenologi

    Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya untuk

    memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama.

    Secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau te