Click here to load reader

REALITAS SOSIAL MASYARAKAT MISKIN KOTA ... - jurnal

  • View
    16

  • Download
    22

Embed Size (px)

Text of REALITAS SOSIAL MASYARAKAT MISKIN KOTA ... - jurnal

Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 129
REALITAS SOSIAL MASYARAKAT MISKIN KOTA DALAM NASKAH DRAMA MADEKUR DAN TARKENI ATAWA
ORKES MADUN 1 KARYA ARIFIN C. NOER
Dorince Doriana Nainggolan
[email protected]
Abstrak
Salah satu faktor penyebab kemiskinan masyarakat Indonesia adalah tidak berkembangnya sebuah kultur etos kerja. Selain itu hilangnya hak-hak yang seharusnya di dapat oleh masyarakat melalui kesempatan yang ada di dalam industri lapangan pekerjaan sudah terenggut sejak zaman pendelegasian kekuasaan politik yang dijalankan di kalangan penguasa atau bangsawan untuk mengendalikan wilayah dengan cara bekerja sama dengan pemimpin sebagai mitra kerja sehingga berdampak kepada masyarakat miskin di Ibukota. Hal tersebutlah yang menjadi alasan mendasar mengapa realitas masyarakat miskin kota menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menggambarkan realitas sosial dalam naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer, 2) Mendeskripsikan gambaran masyarakat miskin kota dalan naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer, dan 3) Faktor penyebab terjadinya masyarakat miskin kota dalam naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah dialog dan narasi. Data yang digunakan berjumlah 82 data dan diperoleh menggunakan teknik dasar berupa teknik baca dan catat. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi dengan teori Georg Lukacs. Hasil penelitian, yakni (1) Realitas sosial dalam naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C. Noer, yang terdiri dari; a. Realitas Sosial – Keagamaan, b. Realitas Sosial – Pendidikan, dan c. Realitas Sosial – Ekonomi (2) gambaran masyarakat miskin kota dalam naskah Drama Madekur dan Tarkeni karya Arifin C. Noer, yang terdiri dari; a. Kualitas kesehatan, b. Rendahnya motivasi untuk berprestatsi, c. Tingkat depresi, d. Tidak adanya akses dalam mencari pekerjaan dengan penghasilan tetap dan modal dan e. Tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok (sandang, papan dan papan) Dan (3) faktor penyebab terjadinya masyarakat miskin kota, yakni; a. Tingkat pendidikan yang Rendah, b. Ilegalitas pekerjaan, c. Tidak memiliki keterampilan dan d. Tingginya tingkat kekerasan dalam naskah drama. Kata kunci: realitas sosial, masyarakat miskin kota, Madekur dan Tarkeni, sosiologi sastra.
Abstract One of the factors causing poverty in Indonesian society is the lack of a culture of work ethic. In addition, the loss of rights that should be obtained by the community through opportunities in the employment industry has been taken away since the era of delegation of political power exercised by the rulers or aristocrats to control the territory by working with leaders as partners so that it has an impact on the poor in the capital. This is the fundamental reason why the reality of the urban poor is the focus of study in this study. This study aims to: 1) Describe social reality in the drama script Madekur and Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 by Arifin C Noer, 2) Describe the picture of the urban poor in the drama script Madekur and Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 by Arifin C Noer, and 3) The factors causing the urban poor in the drama script Madekur and Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 by Arifin C Noer. This research uses descriptive qualitative research methods. The object of this research is dialogue and narrative. The data used are 82 data and obtained using basic techniques in the form of reading and note-taking techniques. This study uses a sociological approach with Georg Lukacs theory. The results of the research were (1) social reality in the drama script Madekur and Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 by Arifin C. Noer, which consisted of; a. Social Reality - Religious, b. Social Reality - Education, and c. Social - Economic Reality (2) a description of the urban poor in the script of Drama Madekur and Tarkeni by Arifin C. Noer, which consists of; a. Health quality, b. Low motivation to excel, c. Depression level, d. Lack of access to finding work with fixed income and capital and e. Not being able to meet basic needs (clothing, boards and boards) and (3) the factors causing the urban poor, namely; a. Low level of education, b. The illegality of work, c. Do not have skills and d. The high level of violence in drama scripts. Keywords: social reality, urban poor, Madekur and Tarkeni, sociology of literature
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 130
A. PENDAHULUAN Salah satu faktor penyebab
kemiskinan masyarakat Indonesia adalah tidak berkembangnya sebuah kultur etos kerja. Selain itu hilangnya hak-hak yang seharusnya di dapat oleh masyarakat melalui kesempatan yang ada di dalam industri lapangan pekerjaan sudah terenggut sejak zaman pendelegasian kekuasaan politik yang dijalankan di kalangan penguasa atau bangsawan untuk mengendalikan wilayah dengan cara bekerja sama dengan pemimpin sebagai mitra kerja sehingga berdampak kepada masyarakat miskin di Ibukota. Sejak zaman itu sampai saat ini masih sering kali ditemukan ketidakadilan atas hak masyarakat untuk bisa menerima fasilitas umum ataupun fasilitas sosial, hak untuk berpendapat, berinteraksi dengan sesama, mendapatkan keamanaan atas kebebasan dan untuk hidup yang lebih baik.
Kemiskinan merupakan faktor utama di seluruh dunia yang mencetak angka persentase tertinggi. Kemiskinan menjadi hal yang penting untuk dapat diperhatikan bersama salah satunya mengkaji usaha yang perlu dilakukan untuk membuat sebuah negara menjadi berkembang. Indonesia merupakan salah satu contoh Negara berkembang di Asia Tenggara. Sangat mudah untuk mencermati permasalahan kemiskinan di berbagai belahan kota di Indonesia. Masalah kemiskinan di Indonesia bagaikan sebuah realitas yang wajar.
Jakarta merupakan pusat ibukota yang menjadi titik fokus perbandingan seseorang untuk berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan yang layak. Masalah
kemiskinan di Indonesia kerap dijumpai juga di Surabaya, Bandung, Bekasi, dan lain-lain. Kota-kota besar atau metropolitan adalah salah satu kota yang memiliki masalah kemiskinan akibat terjadi proses urbanisasi. Urbanisasi dikenal memiliki pengertian yang beragam. Namun pada umumnya urbanisasi diartikan sebagai suatu proses pengkotaan, yakni proses berkembangnya suatu daerah (desa).
Realitas sosial muncul karena dampak atas perubahan tingkah laku manusia sebagai masyarakat. Perubahan tingkah laku manusia menimbulkan dampak negatif yang mengakibatkan meningkatnya tingkat kriminalitas, tingkat depresi dan tingkat kekerasan. Sebagian kelompok masyarakat berusaha untuk mengubah perilaku itu agar lebih peduli pada kesenjangan- kesenjangan yang ada di lingkungan bermasyarakat.
Salah satu sastrawan yang menggambarkan realitas sosial yakni Arifin C Noer dalam trilogi naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 menceritakan Madekur sebagai pencopet dan Tarkeni seorang pelacur. Keduanya sama-sama perantau dari desa. Saling bertatap muka tepat di atas ranjang kemudian menikah. Kedua orang tua mereka, yang begitu kolot tentu tidak mengijinkan anak-anak mereka menikah dengan pencopet maupun pelacur. Impian besar kedua orang tua Madekur dan Tarkeni yang menginginkan anaknya di kota sudah sukses menjadi orang penting, katakanlah gubernur. Namun, pada akhir cerita Madekur dan Tarkeni meninggal dalam keadaan menyedihkan.
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 131
Bertitik tolak dari cerita dalam naskah tersebut, sangat banyak sekali realitas sosial yang digambarkan Arifin. Kecemerlangan sebuah naskah drama merupakan cermin kepiawaian pengarang. Arifin mempertaruhkan seluruh pengetahuan dan kecakapan sastrawinya sehingga naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer menjadi cermin bagi pembaca mengenai potret kemiskinan masyarakat perkotaan. Berdasarkan hal tersebut sosiologi sastra menjadi payung keilmuan dalam penelitian ini.
Salah satu hal menarik dari naskah drama Madekur dan Tarkeni adalah pengambaran dari masyarakat miskin perkotaan yang diwakili oleh tokoh Madekur dan Tarkeni. Mereka selain memperjuangkan kehidupannya juga memperjuangkan kehidupan ekonomi keluarganya di kampong tanpa persiapan, serta pendidikan yang rendah sulit untuk hidup yang layak dan memadai.
Selain alasan tersebut di atas, pertimbangan lainnya adalah seni drama merupakan alat pendidikan bagi masyarakat, yaitu sebagai penyampai pesan dan petuah. Sebagai penyampai kritik sosial, bentuk protes yang di gambarkan oleh seniman dalam karya naskah dramanya bertujuan untuk membela dan memperjuangkan hak masyarakat miskin kota yang mengalami ketimpangan sosial melalui seni drama. Selain itu seni drama modern termasuk jenis karya sastra yang belum banyak disentuh atau dibahas oleh kalangan akademisi. Dibandingkan dengan jenis karya sastra lainnya, puisi dan prosa. Dalam konteks inilah penulis
merasa penting untuk mengkaji lebih dalam naskah drama karya Arifin C. Noer tersebut dengan memusatkan penelitian pada “Realitas Sosial Masyarakat Miskin Kota dalam naskah drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C. Noer (Kajian Sosiologi Sastra)”. B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penggambaran secara menyeluruh tentang bentuk, fungsi dan makna ungkapan. Kualitatif adalah penelitian yang memamparkan analisis secara deskriptif dan bukan prosedur menggunakan angka atau statistik atau cara kuantitatif lainnya.
Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari objek yang dapat diamati. Penelitian kualitatif merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat bahasa.
Pada penelitian ini penulis akan menggunakan penggolongan penelitian berdasarkan tujuannya yaitu deskriptif, dan penggolongan penelitian berdasarkan sifat datanya, yakni kualitatif artinya menggambarkan bagaimana realitas sosial masyarakat miskin kota. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan cara mengumpulkan data-data, menganalisis dan mengklarifikasi data dengan cara membaca naskah drama, mencermati dan menyimpulkan penelitian sehingga menghasilkan data berupa kata-
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 132
kata tertulis. Dengan demikian, laporan penelitian ini akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, menggunakan teori realitas sosial dari Georg Lukacs yang digunakan sebagai pisau bedah. Lukacs mengungkapkan bahwa cara berfikir Marx jelas menggambarkan keadaan tentang hubungan antara teori dan praktik. “Tidaklah cukup jika pikiran harus merealisasikan dirinya; kenyataan juga harus berjuang menuju pikiran.” Maka, dunia akan mengambil bentuk sebuah mimpi yang hanya dikuasai secara sadar untuk mengungkapkan sebuah realitas (Lukacs, 2011: 24).
Karya sastra merupakan fakta dan pemikiran yang dialami oleh pengarang, dalam fakta tersebut wujud dari pemikirannya menciptakan realitas sosial yang dituangkan ke dalam karyanya. Salah satu karya sastra yang menggambarkan realitas sosial yakni naskah drama Madekur dan Tarkeni yang terdiri dari realitas sosial-keagamaan, realitas sosial- pendidikan dan realitas sosial- ekonomi. 1. Realitas Sosial dalam Naskah Drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer. 1.1 Realitas Sosial - Keagamaan
IBU & IBU : “(KEPADA PENONTON) Sebenarnya mulut saya mau bilang setuju tapi mata suami saya terlalu besar. Tapi percayalah, nanti saya akan bilang juga.
AYAH & AYAH : Persoalan cinta tidak sesepele seperti yang banyak diduga orang dan memahaminya lebih sukar daripada memotong kuku dengan golok, namun percayalah saya menyintai kamu sekaligus kehormatan kamu dan hari depan kamu. Janganlah sekali- kali kamu kawin dengan..... anak perempuan/lelaki keluarga itu. jangan juga kamu mengira saya tidak memahami niatmu yang suci, saya paham dan saya menaruh hormat, tapi rupanya kamu lupa bahwa sesuatu yang suci memerlukan tempat yang suci juga. Juga rupanya kamu tidak menyadari betapa banyak pilihan yang bisa kamu lakukan, dan kamu cukup mengerti bahwa yang terbaik adalah memilih yang terbaik. Tahu kalau kamu masih belum bisa yakin juga, cobalah tanya para penonton (KEPADA PENONTON) Setujukah anda kalau anak anda kawin dengan seorang pelacur/pencopet? Kalau anda bilang setuju artinya anda munafik sejati. Karena anda telah mengkhianati hati anda sendiri. Marilah kita akui sama-sama bahwa pada dasarnya kita menyukai kebangsawanan sekalipun perut kita kosong. Dengan mengatakan setuju berarti anda telah sempurna dalam mengobral kata-kata muluk berbunga kebajikan, sementara dalam perbuatan nyata anda kurang lebih sepaham dengan saya. Tapi anda saksikan sendiri saya satu tingkat lebih tinggi dari anda lantaran saya satu antara kata dan perbuatan.
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 133
Sungguh-sungguh kita ini ningrat yang terselubung.
(MT: 35-36)
Terjadi percakapan pada Ayah &
Ayah dengan Ibu & Ibu yang dimana dalam dialog tersebut nampak sedang membicarakan keputusan anak mereka yang ingin melakukan pernikahan, namun karena di ketahui pilihan dari anak-anak mereka adalah seorang pencopet/pelacur tentu nya Ayah & Ayah ini tidak ingin anaknya memiliki pasangan hidup yang salah. Penulis menganggap dalam kalimat “tapi rupanya kamu lupa bahwa sesuatu yang suci memerlukan tempat yang suci juga.” Dalam tuturan yang disampaikan oleh Ayah & Ayah adalah bentuk penyampaian dari Seniman yang mewakili seluruh orang tua bahwasanya setiap pernikahan merupakan salah satu ibadah kepada Tuhan, namun seharusnya dalam memilih pasangan juga harus dapat dikenali betul bibit, bebet dan bobot nya. Karena restu dari orang tua dalam sebuah pernikahan anaknya sangat berpengaruh penting terhadap kesejahteraan rumah tangga nya kelak. Berdasarkan uraian di atas, penulis menafsirkan bahwa percakapan tersebut mengandung realitas sosial keagamaan. SESEORANG :“Bapa, murid-murid telah
datang semua dan pelajaran boleh dimulai.
WASKA TIBA-TIBA BANGKIT DAN MENYEMBUNYIKAN TANGISNYA, TANGIS TUA. SEMUA MURIDNYA HANYA MENUNDUKAN KEPALA MASING-MASING LALU TIBA-TIBA IA MERAUNG. DAN BERSAMAAN DENGAN ITU TERDENGAR SUARA DENTANG BESI YANG MEMEKAKAN.
WASKA : “Kita berdoa dan
LALU SEMUANYA MELAKUKAN UPACARA SEMBAHYANG DENGAN CARA MASING-MASING. ADEGAN INI SUNGGUH SANGAT SEREMONIAL SEKALI.
(MT: 69)
Terjadi percakapan antara
seseorang dengan waska, yang dimana seseorang tersebut memberitahukan bahwasanya semua murid yang akan melakukan kegiatan beribadah telah berkumpul semua dan pelajaran yang diberikan oleh Waska dapat dimulai. Lalu terdengarlah suara tangisan dari Waska yang seketika membuat suasana hening serta diam membisu semua murid yang sudah berkumpul tak dapat memberikan respon apapun selain menundukkan kepala mereka, dan tak lama dari itu, meraunglah Waska yang di barengi oleh suara denting besi. Kemudian Waska mengajak semua murid- muridnya itu untuk mengambil posisi berdoa dan sembahyang kepada Sang Pencipta, di tengah kemelut hati yang dialami oleh Waska ia ingin mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tetap memprioritaskan Tuhan melalui panggilanNya. Dalam hal ini terlihat pada kalimat “Kita berdoa dan sembahyang dulu”.
Dalam percakapan yang di ujarkan oleh Waska kepada murid- muridnya sudah jelas betul bahwa Waska adalah sosok yang taat dalam hal keagamaan, menjadi sosok yang di segani dan di patuhi dalam lingkungan sekitarnya, tidak luput dari sifatnya yang taat beragama. Waska banyak menjadi panutan bagi murid-muridnya yang sedang mendalami sisi keagamaan. Dalam hal ini seniman menyampaikan pesan nya secara bersahaja melalui
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 134
tokoh Waska kepada murid- muridnya. Berdasarkan uraian diatas, tuturan antara seseorang dengan Waska mengandung realitas sosial keagamaan yang mengajarkan kepada sesama untuk selalu tetap mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. 1.2 Realitas Sosial – Pendidikan WASKA : “Ada murid baru?” SESEORANG : “Banyak, bapa. Sebagian
mereka adalah anak-anak tanggung yang putus sekolah karena biaya dan sebagian lagi lantaran tidak merasa cocok dengan orang tuanya.
(MT: 69)
Waska dan Seseorang, yang
terjadi seusai sembahyang dan berdoa bersama-sama. Setelah Waska menangis dan tiba-tiba ia meraung, setelah itu bertanyalah Waska kepada seseorang memastikan apakah ada murid baru, dan jawaban seseorang tersebut berkata demikian Banyak, bapa. Beberapa dari mereka adalah anak malang yang harus putus sekolah lantaran biaya dan ketidakcocokan dengan orang tua mereka dalam percakapan ini memaparkan tentang sebuah sebab-akibat, yang dimana banyak murid baru berdatangan untuk menjadi murid Waska di karenakan mereka anak-anak tanggung yang putus sekolah dan tidak merasa cocok dengan orang tuanya, tentunya hal ini jelas menggambarkan sebuah sebab dari ketidak cocokan antara orang tua dan anak yang mengakibatkan anak tersebut putus sekolah dikarenakan adanya keterbatasan ekonomi yang dialami orang tuanya sehingga orang tua tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk meneruskan pendidikan
anaknya. Berdasarkan uraian di atas, penulis menafsirkan dalam gambaran percakapan mengandung realitas sosial pendidikan. 1.3 Realitas Sosial – Ekonomi MADEKUR : “Buat saya sangat gampang
membenci orang tua saya karena mereka tidak pernah memperhatikan saya kecuali setelah mereka ditinggalkan saudara-saudara saya lain dan saya menunjang biaya rumah tangganya secara tetap.
TARKENI : “Kamu pahit sekali”. (MT: 44)
Dalam percakapan antara
Madekur dan Tarkeni diatas terlihat jelas dalam ujaran Madekur adalah bentuk kekesalannya terhadap kedua orang tuanya. Hal ini tergambar dalam percakapan “Buat saya sangat gampang membenci orang tua saya karena mereka tidak pernah memperhatikan saya kecuali setelah mereka ditinggalkan saudara- saudara saya lain dan saya menunjang biaya rumah tangganya secara tetap.” pada isi percakapan Madekur jelas sekali terlihat bahwa Madekur adalah tulang punggung bagi kedua orang tuanya itu. Penulis menafsirkan dalam percakapan diatas terdapat realitas sosial ekonomi yang dijalani Madekur selaku anak satu-satunya yang menjadi tumpuan orang tuanya. 2. Gambaran Masyarakat Miskin Kota dalam Naskah Drama Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa gambaran masyarakat miskin kota merupakan suatu pendeskripsian yang di sajikan oleh
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 135
pengarang dalam naskah drama guna memaparkan realitas sosial yang terdapat di dalamnya. Mengacu pada teori yang telah dibahas, peneliti dapat mengemukakan aspek pendapatan, kesehatan, keamanan dan ilegalitas pekerjaan yang di alami oleh Madekur dan Tarkeni dalam naskah drama “Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun 1 karya Arifin C Noer” muncul ketika Madekur dan Tarkeni berinteraksi maupun dengan tokoh lain.
2.1 Kualitas Kesehatan
IBU : “Apa sebab kamu mati?” BAPAK :“Mungkin lantaran TBC.
Mungkin lantaran aku tak tahan menanggung malu terus-terusan akibat anak kita Tarkeni (BATUK) Batukku enteng dan tidak berdarah lagi”
(MT: 74-75)
sangat rentan dengan penyakit- penyakit yang bersumber dari kebersihan diri, mulai dari makanan yang di konsumsi, kebersihan tangan sebelum mengkonsumsi makanan bahkan kurangnya kepedulian menggunakan peralatan makan yang digunakan secara bersama-sama. dalam kalimat “mungkin lantaran TBC” memaparkan bahwa Penyakit TBC terhitung banyak di derita oleh kaum bawah yakni masyarakat miskin kota, minimnya pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga kesehatan dengan baik menjadi salah satu faktor utama terjangkit oleh bakteri mycobacterium tuberculosis dan tidak boleh di anggap enteng karena akan berdampak kepada kematian. Pada data ini penulis menyimpulkan bahwa dialog di atas
merupakan salah satu ciri kualitas kesehatan. 2.2 Rendahnya Motivasi untuk
Berprestasi AYAH & AYAH : “Ya, dan sekarang akankah ia
kita biarkan memilih jalan yang salah kawin dengan seorang pelacur/pencopet? Apakah akan kita biarkan ia melumuri wajahnya dengan lumpur aib seorang pelacur/pencopet?
IBU & IBU : “(KEPADA SUAMI) Tapi ia bilang ia cinta.” AYAH & AYAH :“Tidak kurang gadis/jejaka di desa ini untuk
di cintai. Dan demi segala kehormatan saya tidak akan mau dan sudi berhubungan keluarga dengan keluarga jahanam itu. Sebelum lahir saya sudah membenci keluarga yang sok suci itu. Tingeling!
(MT: 29-30)
Setiap orang tua pasti ingin
mendapat yang terbaik bagi anaknya terutama dalam keputusan untuk memilih pasangan, namun dukungan yang diberikan oleh orang tua dari Madekur menjadi salah arti, terlihat dalam dialog berikut “Dan demi segala kehormatan saya tidak akan mau dan sudi berhubungan keluarga dengan keluarga jahanam itu” pada dialog tersebut terlihat bahwa ada maksud lain yang di selipkan oleh Ayah & Ayah bukan dukungan ke arah yang lebih baik, namun untuk menjaga nama baik dirinya di mata masyarakat. Penulis menyimpulkan bahwa dialog di atas merupakan ciri rendahnya motivasi untuk berprestasi dalam aspek lingkup keluarga. 2.3 Tingkat Depresi IBU : “Akuilah dirimu
gubernur, nak, nanti kami akan menerima kamu kembali sebagai anak. Akuilah, nak. Berikan
e-ISSN: 2549-5119 Vol. 5, No. 1, Februari 2021
Realitas Sosial Masyarakat | Nainggolan – Universitas Pamulang 136
kehormatan pada kami karena kehormatan adalah mahkota kebahagian kami.”
TARKENI : “Apa fikiranmu?” MADEKUR (kemelut sekali fikirannya) Kita harus tetap berusaha agar mereka mau menerima kita sebagai pencopet dan pelacur.
(MT: 86)
Dalam tuturan Ibu “Akuilah
dirimu gubernur, nak, nanti kami akan menerima kamu kembali sebagai anak. Akuilah, nak. Berikan kehormatan pada kami karena kehormatan adalah mahkota kebahagian kami.” Terlihat dalam dialog diatas bahwa realitas yang ada mengalahkan kegengsian yang dimiliki oleh kedua orangtua Madekur, sehingga sudah tidak dapat berpikir secara jernih dan waras, bahkan tak disangka, dalam dialog Ibu diatas ia menyuruh anaknya untuk berbohong menyatakan diri Madekur sebagai Gubernur Jakarta hanya demi membuat kehormatan kedua orangtuanya tetap terjaga di depan banyak orang. Dalam hal ini, bentuk ‘tidak memiliki harapan’ dijadikan sebagai data yang layak dalam tingkat depresi. 2.4 Tidak Adanya Akses dalam
Mencari Pekerjaan dengan Penghasilan Tetap dan Modal
NABI PERTAMA : “Tapi sambil lalu, masih kamu menjadi tukang penjaja mainan.”
BADUT PERTAMA : “Masih, Tuanku, dan akan tetap begitu. Maafkan, tuanku. (KEPADA SEMUA) Perlu kalian ketahui bahwa rombongan orkes ini terdiri dari
para nabi. Harap beri tabe’.”
(MT: 15)…