Click here to load reader

KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL TERHADAP ISU KONFLIK SYIAH …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/41609... · 2018-09-26 · KONSTRUKSI . REALITAS SOSIAL TERHADAP . ISU

  • View
    12

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL TERHADAP ISU KONFLIK SYIAH...

  • KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL TERHADAP ISU

    KONFLIK SYIAH DAN SUNI SAMPANG PADA MAJALAH

    SINDO WEEKLY

    Skripsi

    Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi

    Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi (S.Kom.I)

    Oleh :

    Nurul Fadhilla

    NIM. 108051100039

    KONSENTRASI JURNALISTIK

    JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

    FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2013 M/1434 H

     

  •  

  •  

  •  

  • ABSTRAK

    KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL TERHADAP ISU KONFLIK SYIAH

    DAN SUNI SAMPANG PADA MAJALAH SINDO WEEKLY

    NAMA: NURUL FADHILLA

    Sepanjang dua bulan Agustus hingga September 2012, media di Indonesia

    baik cetak maupun elektronik ramai mengangkat pemberitaan mengenai peristiwa

    kekerasan yang disebut-sebut sebagai tragedi berdarah Sampang. Peristiwa yang

    terjadi pada tanggal 26 Agustus 2012 ini diduga melibatkan dua perkumpulan

    warga yang berbeda aliran mazhab dalam Islam. Sebagaimana yang ditulis dalam

    satu media, peristiwa ini terjadi akibat terbitnya fatwa sesat terhadap Syiah yang

    diterbitkan oleh dua perkumpulan ulama lokal.

    Pertanyaannya adalah bagaimanakah majalah Sindo Weekly

    mengkonstruksi realitas sosial dengan cara membingkai isu konflik Syiah dan

    Suni Sampang? dan bagaimanakah isu konflik Syiah dan Suni Sampang

    diproduksi oleh majalah Sindo Weekly?

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriftif yang bertujuan

    untuk membuat deskriftif secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta

    dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu.Sumber utama kajian ini adalah teks

    pemberitaan konflik pada majalah Sindo Weekly versi Salah apa Syiah. Karena

    penelitian ini menggunakan analisis framing, yaitu analisis yang melihat wacana

    sebagai hasil dari konstruksi realitas sosial, maka penelitian ini termasuk ke dalam

    kategori paradigma konstruktivis.

    Untuk menganalisis bingkai berita ini, peneliti menggunakan analisis

    framing Robert N. Entman yang melihat Framing dalam dua dimensi dasar:

    seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu.

    Kerangka analisis framing yang terdiri dari ProblemsIdentification (pendefinisian

    masalah), Causal Interpretation (memperkirakan penyebab masalah), Moral

    Evolution (membuat pilihan moral), dan Treatment Recomendations (menekankan

    penyelesaian).

    Hasil penelitian ini menemukan adanya kepentingan ideologi, politik serta

    agama pada majalah Sindo Weekly dalam mengkonstruksi isu konflik Syiah dan

    Suni Sampang . Penelitian ini juga menemukan bahwa majalah Sindo Weekly

    melakukan bias keberpihakan dengan cenderung berafeksi negatif terhadap

    kelompok Suni terutama dalam menentukan penyebab masalah (Causal

    Interpretation) dan pemilihan narasumber.

     

  • ii

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirrahmanirrahim

    Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Yang

    Maha Esa, Tuhan dan pencipta dan pemelihara alam semesta. Sholawat serta

    salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta

    sahabat-sahabat serta umatnya yang setia kepada agamanya hingga akhir zaman.

    Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan dalam

    memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Jurnalistik, Jurusan

    Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi,

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini berkat dukungan dan

    bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin

    menyampaikan terima kasih kepada:

    1. Bapak Dr. H. Arif Subhan, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

    Komunikasi yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh

    pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pembantu Dekan I Bidang

    Akademik Bapak Drs. Wahidin Saputra, M.A., Pembantu Dekan II Bidang

    Administrasi Umum Bapak Drs. Mahmud Jalal, M.A., serta Pembantu

    Dekan III Bidang Kemahasiswaan bapak Drs. Study Rizal, L.K, M.A.

    2. Rubiyanah, M.A., Ketua Prodi Jurnalistik yang senantiasa memberikan

    saya pengarahan serta bimbingan dan telah memberikan kesempatan untuk

    memberikan pendidikan di UIN Syarif Hidayatulla Jakarta. Ibu Ade Rida

    Farida, M.Si. Sekertaris Prodi Jurnalistik yang telah memberikan

     

  • iii

    pelayanan terbaik, terimakasih Bu atas semua pengarahan dan

    bimbingannya.

    3. Ibu Bintan Humeira, M.Si. Dosen Pembimbing yang telah memberikan

    bimbingan dan pengarahan, saran serta nasehat yang penulis butuhkan

    selama pembuatan skripsi ini dan bantuan yang telah banyak diberikan

    selama penulis menempuh studi di Fakultas ini.

    4. Dosen Penguji I, Bapak Rachmat Baihaki, MA beserta Dosen Penguji II

    Ibu Fita Fathurokhmah, SS, M.Si yang telah memberikan kritik, saran

    serta bimbingannya. Trimakasih banyak, tentunya semua itu membangun

    saya menjadi lebih baik lagi.

    5. Seluruh Dosen dan Asisten Dosen FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah

    Jakarta, yang telah membimbing dan mendidik penulis dengan

    memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.

    6. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah beserta stafnya, yang telah

    memberikan pelayanan dalam penyediaan buku-buku yang diperlukan

    penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi .

    7. Teristimewa, my beloved Ayahanda (Alm) dan Ibunda yang telah

    mendidik penulis dengan penuh kesabaran dan perhatian. Terima kasih

    banyak atas kesabarannya, ketulusan dan perjuangan ayaha dan ibunda

    tercinta. Semoga Allah selalu memberikan balasan yang lebih atas semua

    yang telah ayah dan ibunda berikan untuk penulis. Skripsi ini untuk

    Kalian..

     

  • iv

    8. Bapak Sururi Alfaruq Pemimpin redaksi Majalah Sindo Weekly beserta

    Bapak Asep Saefullah, Redaksi Pelaksana majalah Sindo Weekly yang

    telah memperkenankan penulis mengadakan penelitian dan terima kasih

    atas bantuan dan kesediannya memberikan data guna melengkapi

    penelitian ini.

    9. Ke Sembilan kaka tersayang (kita adalah kesebalasan SUJUD),

    Dra.Rohaniatussa‟diah, Sulhah S.Ag, Badru Tamam S.Ag., Farihah S.Pd.,

    Fatihah S.Sos., Fasohah SH.I, Mussofa SH.I, Badru Zaman, dan

    Komaruzaman, yang selalu membimbing dan memberikan limpahan

    perhatian juga kasih sayang. Buat my beloved brother Sofa Arafat,

    makasih ya Dek buat semangatnya walopun kadang suka nyebelin.

    10. Tidak lupa semua keponakanku sayang Azkia Farhah Mazdina, Reva

    Fiqra Al‟Izza, Dhia Fadhli Al- Maqdisi, Nazmi Fadhel Muhammad, Adli ,

    Erin Zahrina Firzah, Dava Naftali Salsabila, Zaki, Yuan Danu Akbar,

    Hably Syauqi Billah Tamam, Osama Ladun, Adiva Aulia Salma, Adiba

    Aulia Salwa, Adiya Aulia , Ma‟mun Isya, Aliya Faqihah, Faris Mumtaz

    „Amal, Gina „Izzatal „Ilmi, Dede Gusti Siroj Al-farizi, aa Neil Alam Al-

    hafidzhi, Zaid Zidan Al-hafidzhi, dan kedua calon keponakanku yang

    belum lahir..segeralah warnai dunia ini dengan tangis dan tawamu.

    11. Buat keluarga besar “Bani Halim” Om dan Tante tercinta ( Nanang Haroni

    M.Si dan Qorry Widianty S.Sos.i), my cousin...Aufa Maftuhah S.pd

    Soulmate yang menjadi inspirasi kesuksesan untukku, Ervi Nur Azizah si

    cantik yang udah mau sering direpotin, Raisa Tahfata Nada yang lucu dan

     

  • v

    selalu memberikan tawa dalam canda selama penulisan skripsi, Irham

    Mudzakir, Faisal Fikri, serta Sirot Qudratullah SE.I yang jago berikan

    petuah baik untuk penulis.

    12. Sahabat-sahabat Cememeh. Dyas Mulyani Benazir si nenk”Ndut‟Q”,

    Dian, Hida, Lia, Cyntia. For all the joys bring, for all your love, but must

    of all, for the wonderful friend you are. Thanks for being there by my side.

    13. Teman Jurnalistik 2008. Bang Tohir, teh Elly, Bunda Nissaa, Fadlun,

    Faraby, Marlin, Uci, Misca, Bp, Rini, Maaf ya kalau enggak disebutin

    semuanya. Senang bertemen sama kalian semua. Sukses buat kita semua.

    14. Hari Elfarezi, Good Luck for U...thanks untuk semuanya.

    15. Sahabat dan keluarga KKN BBM yang penuh kebersamaan. Sukses untuk

    kita semua.

    16. Serta segenap pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, terima kasih

    atas bantuan dan motivasinya kepada penulis dalam penyusunan skripsi

    ini.

    Semoga segala kebaikan tersebut mendapat balasan yang setimpal dari

    Allah SWT. Semoga rahmat, taufiq dan hidayah-Nya selalu dilimpahkan pada kita

    semua sepanjang kehidupan kita.Amiin.

    Jakarta, 2 agustus 2012

    Penulis

    Nurul Fadhilla

     

  • vi

    DAFTAR ISI

    LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

    LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

    LEMBAR PERNYATAAN

    ABSTRAK

    KATA PENGANTAR……………………………………………………………ii

    DAFTAR ISI…………………………………………………………………......vi

    DAFTAR TABEL……………………………………………………………...viii

    DAFTAR GAMBAR............................................................................................ix

    DAFTAR LAMPIRAN.............………………………………………………….x

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang masalah…………………………………………………...1

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah……………………………………..5

    C. Tujuan dan Manfaat penelitian…………………………………………....6

    D. Tinjauan Pustaka………………………………………………………......7

    E. Kerangka Pemikiran…………………………………………………….....9

    F. Metodologi Penelitian……………………………………………………..9

    G. Sistematika Penulisan…………………………………………………….15

    BAB II TINJAUAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

    A. Tinjauan Teoritis

    1. Teori Konstruksi Sosial……...……………………………….......17

    2. Konstruksi Realitas Sosial Media........………………………......23

    3. Framing Robert N Entman..........…………...…………………...25

    B. Kerangka Konseptual

    1. Konflik Pada Media......……………………………………….....38

    2. Ideologi Media.................................…………………………......45

    3. Keberpihakan Media......................................................................51

     

  • vii

    BAB III PROFIL MEDIA CETAK

    A. Profil Media Cetak

    1. Sejarah Singkat Majalah Sindo Weekly………………………....59

    2. Visi dan Misi Majalah Sindo Weekly………………….…...........61

    3. Struktur Redaksional Majalah Sindo weekly………………........61

    4. Kepemilikan Media........................................................................63

    BAB IV ANALISIS FRAMING TERHADAP KONFLIK ISU SYIAH

    SUNI SAMPANG

    A. Analisis Framing Robert N Entman..........................................................64

    a. Problem Identification (Identifikasi Masalah).....................................66

    b. Causal Interpretation (Penyebab Masalah).........................................69

    c. Moral Evalution (Penilaian Moral).....................................................75

    d. Treatment Recomendation (Penyelesaian Masalah)............................78

    B. Konstruksi Media Masa “Sindo Weekly” atas Isu Konflik Syiah-Sunni,

    Sampang ....................................................................................................80

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan……………………………………………………………....92

    B. Saran-Saran……………………………………………………………....94

    DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................95

    LAMPIRAN-LAMPIRAN...................................................................................

     

  • viii

    DAFTAR TABEL

    TABEL 1.1 Dimensi Framing Model Robert N Entman...................................33

    TABEL 1.2 Konsep Framing Robert N Entman................................................35

    TABEL 1.3 Perangkat Framing Robert N Entman............................................65

    TABEL 1.4 Problem Identification...................................................................66

    TABEL 1.5 Causal Interpretation.....................................................................69

    TABEL 1.6 Moral Evolution.............................................................................75

    TABEL 1.7 Treatmen Recomendation...............................................................78

     

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran.............................................................9

    Gambar 1.2 Proses Konstruksi Sosial Media Massa..............................25

     

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    1. Lampiran 1 Berita Wawancarara………………………...…………..

    2. Lampiran 2 Surat Pengajuan Proposal Skripsi………………………

    3. Lampiran 3 Surat Permohonan Pembimbing Skripsi……………..…

    4. Lampiran 4 Surat Permohonan Penelitian…………………………...

    5. Lampiran 5 Surat Selesai Penelitian……………………………..…..

    6. Lampiran 7 Berita Isu Syiah Suni Sampang Pada Majalah Sindo

    Weekly………………………………………………………..

     

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Menurut Alex Sobur, dalam bukunya “Analisis teks Media; Suatu

    Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis

    Framing” Pekerjaan media masa pada hakikatnya adalah mengkonstruksi

    realitas. Sedangkan isi media adalah hasil para pekerja media

    mengontruksi berbagai realitas yang dipilihnya. Hal ini disebabkan adanya

    sifat dan fakta bahwa pekerjaan media masa adalah menceritakan

    peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah

    dikonstruksikan. Isi media merupakan hasil konstruksi realitas dengan

    bahasa sebagai perangkat dasarnya. Sedangkan bahasa bukan saja sebagai

    alat merepresentasikan realitas, namun juga bisa menentukan relief seperti

    apa yang diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya,

    media masa mempunyai peluang yang sangat besar untuk memengaruhi

    makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang

    dikonstruksikannya.1

    Media masa memiliki kekuatan untuk memilih isu apa yang

    seharusnya menjadi pembicaraan publik. Sementara khalayak seringkali

    tidak sadar bahwa informasi yang diperoleh dari media masa adalah

    sesuatu yang sudah dipilih dan disaring dari kacamata media. Khalayak

    1Alex Sobur, Analisis tks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis

    Semiotika dan Analisis Framing, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,2006) h.91

     

  • 2

    memang memiliki kehendak bebas untuk tidak menerima apa yang

    disajikan oleh media. Namun khalayak sama sekali tidak memiliki

    kebebasan untuk memilih apa yang akan diwacanakan atau tidak oleh

    media. Karena penting atau tidaknya suatu peristiwa untuk diberitakan

    adalah pilihan dan hak media masa.

    Khalayak aktif akan mengkritisi dengan melakukan perbandingan

    dengan media lain atau berdasarkan unsur subjektifitas, pengalaman dan

    latar belakang khalayak tersebut. Namun, berbeda dengan khalayak tidak

    aktif, mereka cenderung menerima wacana yang dihadirkan di media

    tersebut. Hal ini menjadi peluang bagi media untuk mengkonstruksi suatu

    peristiwa sesuai pemahaman yang dimiliki oleh media yang bersangkutan.

    Salah satu peristiwa menarik yang banyak diangkat media adalah

    peristiwa yang berbau konflik, terutama konflik horizontal yang terjadi

    antar manusia baik individu maupun kelompok, misalnya antar partai

    politik, antar suku dan ras, juga konflik antar aliran keagamaan atau

    konflik berbau SARA. Belakangan ini banyak sekali konflik yang terjadi

    di negeri ini mengatasnamakan agama. Isu Agama seolah-olah menjadi

    komoditi media yang laku keras untuk disajikan ke khalayak publik.

    Terlepas benar atau tidaknya berita tersebut.

    . Lebih dari itu, persitwa-peristiwa konflik pun seringkali dijadikan

    alat peralihan isu untuk mengalihkan perhatian publik teradap isu-isu

    tertentu. Ketika terjadi letupan-letupan tersebut di daerah yang awalnya

    bisa jadi hanyalah masalah biasa, kemudian diangkat media sehingga

     

  • 3

    menjadi masalah yang besar dan terkesan menjadi prioritas utama.

    Misalnya, kasus korupsi salah satu bendahara partai ternama yang sempat

    kabur keluar negeri. Ketika sedang hangat-hangatnya pemberitaan media,

    tiba-tiba ada pengalihan isu ke konflik warga dengan penganut aliran sesat

    Ahmadiyah.

    Jika kita analisa secara mendalam, terdapat konspirasi besar yang

    ditutup-tutupi khalayak ramai. Suku merupakan area sensitif yang sangat

    mudah dijadikan latar untuk mengalihkan perhatian publik.

    Sejatinya, dalam memberitakan sebuah wacana mediapun harus

    bersikap netral. Karena saat ini media memiliki dampak yang cukup besar

    dalam memengaruhi opini publik. Para pembacapun harus pintar-pintar

    menganalisa setiap berita yang muncul. Jangan mudah terprovokasi, atau

    mudah menerima begitu saja pemberitaan sebelum meneliti lebih dalam.

    Besarnya peluang media dalam mengkonstruksi peristiwa-peristiwa

    tersebut sesuai dengan ideologi media itu sendiri. Faktor inilah yang kerap

    memunculkan perbedaan antar media karena meliputi subjektifitas

    individu yang bekerja dibelakang media, konteks historis, sosial kultural di

    mana media massa tersebut berasal, visi dan misi organisasi media yang

    bersangkutan.

    Secara normatif, media massa seharusnya bersikap netral karena ia

    adalah cermin realitas sosial yang hanya bertugas mereflesikan seadanya

    apa yang terjadi dalam kehidupan sosial. Dalam praktiknya asas ini tidak

    pernah dilakukan secara penuh. Media massa senantiasa terlibat dengan

     

  • 4

    upaya mengkonstruksikan realitas sosial tersebut. Kepentingan-

    kepentingan ideologis, agama dan keyakinan sering tak terhindarkan

    memengaruhi dalam penyajian berita. Dalam kondisi seperti inilah media

    massa memberikan peluang masuknya berbagai kepentingan sang

    komunikator.

    Misalnya, Isu konflik mengatasnamakan agama yang disebut-sebut

    sebagai konflik antara penganut aliran Syiah dan Sunni di Sampang

    Madura yang beredar di media masa di Indonesia, dapat dengan mudahnya

    dibentuk di media massa karena media berperan besar dalam meletakkan

    makna di benak publik. Media adalah subjek yang melakukan konstruksi

    realitas atas suatu peristiwa.

    Hal yang sangat parah adalah, konflik yang mengatasnamakan

    agama terkadang oleh sekelompok orang dimanfaatkan untuk

    memperkeruh suasana, atau untuk menyerang lawan politiknya. Konflik

    tidak hanya menimbulkan kekacauan, pertumpahan darah, mengganggu

    keamanan dan kenyamanan, sehingga memunculkan ketakutan bagi orang-

    orang yang tidak bersalah, dan permusuhan yang berkepanjangan.

    Melalui framing atau pembingkaian yang dilakukan atas suatu

    peristiwa, media dapat memilih dengan cara apa ia akan menyampaikan

    realitas kepada publik. Majalah Sindo Weekly salah satu majalah yang

    memberitakan isu tersebut. Dengan memberikan judul “Salah Apa Syiah”

    pada cover, majalah Sindo Weekly menyajikan pemberitaan seputar isu

     

  • 5

    Syiah Sampang lengkap dengan gambaran data penganut Syiah diseluruh

    dunia.

    Hal ini menunjukkan bahwa majalah Sindo Weekly jelas

    menganggap peristiwa tersebut layak dan penting untuk ditonjolkan.

    Dengan sebuah analisis framing, akan diketahui bagaimana majalah Sindo

    Weekly membingkai suatu peristiwa yang terfokuskan pada isu yang

    disebut-sebut sebagai konflik Syiah Sampang dan konstruksi apa yang

    hendak ditonjolkan oleh media ini terhadap isu konflik horizontal yang

    terjadi di Sampang, Madura.

    B. Batasan dan Rumusan Masalah

    Majalah Sindo Weekly bukanlah model majalah yang sama sekali

    baru mengusung konsep keberimbangan berita. Jauh sebelumnya GATRA

    melalui rumah produksinya sudah mengeluarkan majalah dengan

    contentnya secara umum kurang lebih sama yakni mengeksplorasi isu-isu

    terhangat dan akurat baik informasi nasional maupun global.

    Penelitian ini akan dikhususkan salah satu dari ratusan isu yang

    diangkat dalam pemberitaan majalah Sindo Weekly yakni isu konflik Syiah

    Sampang versi “Salah Apa Syiah”. Dengan menggunakan analisis

    framing, majalah Sindo Weekly, sebagaimana diakui penggagasnya,

    berusaha mengangkat konsep keseimbangan, netral, dan akurat dalam

    setiap pemberitaannya. Secara sederhana, informasi mengenai konflik

    pada pemberitaan media Sindo Weekly dikemas dengan tujuan pesan dapat

     

  • 6

    tersampaikan dengan sebaik mungkin kepada khalayak tanpa ada

    manipulasi data dan fakta sebenarnya.

    Dari permasalahan tersebut yang akan diteliti disini adalah:

    1. Bagaimanakah majalah Sindo Weekly mengkonstruksi realitas

    sosial dengan cara membingkai isu konflik Syiah Suni Sampang?

    2. Bagaimanakah isu konflik Syiah Suni Sampang diproduksi oleh

    majalah Sindo Weekly?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    a. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini adalah:

    1. Untuk mengetahui bagaimana majalah Sindo Weekly

    meengkonstruksi realitas sosial dengan cara membingkai

    isu konflik isu Syiah Suni Sampang.

    2. Untuk mengetahui bagaimana proses produksi majalah

    Sindo Weekly dalam mengkonstruksi realitas sosial isu

    konflik Syiah Suni Sampang.

    b. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Akademis

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    kontribusi pada pengembangan keilmuan komunikasi,

    khususnya bagi penelitian yang bersifat framing dengan

    model Robet N Entman.

     

  • 7

    2. Manfaat Praktis

    Adapun manfaat praktis penelitian ini adalah

    diharapkan penelitian ini dapat digunakan oleh praktisi di

    bidang jurnalistik, khususnya penelitian yang terkait

    dengan telaah berita-berita konflik horizontal,

    keberimbangan, netralisasi serta mengenai bias

    keberpihakan dan ideologi suatu media.

    Penelitian ini juga diharapkan memberikan inspirasi

    media (industri percetakan khususnya) maupun industri

    media lainnya untuk menciptakan keberimbangan,

    netralisasi, dan akulturasi tanpa ada bias keberpihakan

    secara lebih baik, proporsional, profesional dan bermanfaat

    bagi orang banyak.

    D. Tinjauan Pustaka

    Ada beberapa penelitian terdahulu yang penulis telaah untuk

    mendapat gambaran umum, perbandingan dan upaya mengisi dimensi

    yang relatif belum tersentuh. penelitian-penelitian tersebut memiliki

    keterkaitan baik dalam objek penelitian maupun basic teorinya. Sekedar

    menyebut tiga dari banyak penelitian dimaksud adalah:

    1. Skripsi karya Eti Rustiah2 berjudul Konstruksi Media Cetak Atas

    Berita Meninggalnya Soeharto (Analisis Framing pada Koran

    Republika). Skripsi tersebut menjelaskan dan mengkritisi praktek

    2Eti Rustiah, Konstruksi Media cetak Atas Berita Meninggalnya Soeharto (Analisis Framing pada Koran Republika), UIN, 2009.

     

  • 8

    konstruksi media cetak atas berita meninggalnya Soeharto dan

    mengungkap motif tersembunyi dibalik argumentasi media.

    2. Kedua, skripsi karya Ulul Azmi3 berjudulKonstruksi Atas Realita

    Islam di Media Massa: Analisis Framing Konflik Palestina Israel

    di Harian Kompas dan Republika, skripsi ini menjelaskan

    bagaimana representasi sebuah realita islam pada media. Skripsi ini

    membongkar bagaimana konflik Palestina dan Israel di dua harian

    yakni Kompas dan Republika. Uluk Azmi secara khusus memfokuskan

    telaah konstruksi atas realitas islam yang berbeda pada dua proses

    produksi yang berbeda dari harian Kompas dan Republika.

    3. Kemudian, skripsi karya Darwis4 berjudulAnalisis Framing

    Konstruksi Berita Ahmadiyah di Surat Kabar Republika, Darwis

    menjelaskan konstruksi pemberitaan mengenai Ahmadiyah pada surat

    kabar Republika. Darwis menjelaskn praktik-praktik pergulatan

    ideologi media yang dalam hal ini harian Republika dalam isu-isu

    konflik yang berkaitan dengan isu keagamaan.

    3Ulul Azmi, Konstruksi Atas realitas islam di Media Massa: Analisis Framing Konflik

    Palestina Israel di Harian Kompas dan republika, UIN, 2010.

    4Darwis, Analisis Framing Konstruksi Berita Ahmadiyah di Surat Kabar Republika, UIN,

    2010

     

  • 9

    E. Kerangka Pemikiran

    Gambar 1.1

    Kerangka Pemikiran

    F. Metodologi Penelitian

    1. Paradigma Penelitian

    Karena penelitian ini menggunakan analisis framing, yaitu

    analisis yang melihat wacana sebagai hasil dari konstruksi realitas

    sosial, maka penelitian ini termasuk ke dalam kategori paradigma

    konstruktivis.

    Paradigma menurut Bogdan dan Biklen sebagaimana

    dikutip Moleong5 adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi

    5Nanang Haroni, Kerelawanan dalam Televisi Indonesia, Universitas Indonesia, h. 44

    Teks berita majalah Sindo Weekly

    mengenai isu konflik Syiah Sampang

    Proses produksi Sindo Weekly

    Bingkai/Frame berita mengenai isu

    konflik Syiah Sampang:

    Konflik Syiah Sampang

    Model Robert N Entman

    1. Define problem

    2. Diagnose Causes

    3. Make Moral

    judgemen

    4. Treatmen

    Recomendation

     

  • 10

    yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan

    cara berpikir dan penelitian. Menurut pemikiran Guba dan Lincoln

    sebagaimana dikutip Dedy Nur Hidayat,paradigma ilmu

    pengetahuan (komunikasi) terbagi ke dalam 3 bagian, (1)

    paradigmma klasik (classical paradigm )yang terdiri dari positive

    dan post positivis, (2) paradigm kritis (critical paradigm )dan (3)

    paradigma konstruktivisme (constructivismparadigm).6

    Di sisi lain Eriyanto7 mengatakan bahwa paradigma

    mempunyai posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan

    teks berita yang dihasilkannya.Konstruksionis memandang realitas

    kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil

    konstruksi. Karenanya konsentrasi analisis pada paradigma

    konstruksionis adalah menemukan bagaimana peristiwa atau

    realitas tersebut dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi itu

    dibentuk.Paradigma konstruktivis memandang bahwa untuk

    mengetahui “dunia arti” (word meaning) mereka harus

    mengartikannya. Mereka juga harus menyelidiki proses

    pembentukan arti yang muncul dalam bahasa atau aksi-aksi sosial

    para aktor.8

    6Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, Ideologi dan Diskursus

    Teknologi Komunikasi Masyarakat (Jakarta: Kencana, 2007), h.237. 7Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LKIS,

    2007), h. 13. 8Thomas A. Scwandt, Construktivis, Interpretivist Aproach to Human Inquiry,

    dalamNorman K Denzim dan Yvonna S. Lincoln, Handbook of Qualitative Research (London:

    Sage Publication, 1994), h.118.

     

  • 11

    2. Metode Penelitian

    Metode yang digunakan untuk dalam penelitian ini adalah metode

    analisis kualitatif. Penelitian dengan jenis kualitatif ini memiliki

    karakteristik yang berbeda dengan kuantitatif yang berbasis pada

    paradigma positivistik (positivisme-empiris).9 Metode kualitatif ini

    bertujuan untuk mendapatkan pemahaman bersifat umum yang

    diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial

    yang menjadi fokus penelitian, kemudian ditarik kesimpulan

    berupa pemahaman umum tentang kenyataan-kenyataan tersebut.10

    Penelitian ini menggunakan analisis Framing dengan

    model yang digunakan berasal dari Robert N. Entman yang melihat

    Framing dalam dua dimensi dasar: seleksi isu dan penekanan atau

    penonjolanaspek-aspek tertentu dari realitas/isu.

    3. Pendekatan Penelitian

    Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif yang

    bertujuan membuat deskriftif secara sistematis, faktual dan akurat

    tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu.11

    4. Subjek dan Objek Penelitian

    Subjek dari penelitian ini adalah redaksi Majalah Sindo

    Weekly, sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah teks

    pemberitaan isu konflik Syiah Suni Sampang pada majalah Sindo

    9Antonious Birowo, Metode Penelitian Komunikasi: Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta:

    GITANYALI, 2004), h. 184

    10

    Rosady Ruslan, Metodologi Penelitian Publik Relation dan Komunikasi, (Jakarta:

    PT.Raja Grafindo Persada, 2003), h.215

    11

    Rachmat Kriyantoro, Teknis Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2007), h.69

     

  • 12

    Weekly edisi No.27 tahun 1, terbitan 6-12 September 2012 versi

    Salah Apa Syiah.

    5. Tahapan Penelitian

    a. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara

    yang digunakan periset untuk mengumpulkan data. Teknik

    pengumpulan data dibedakan dengan metodologi dari riset yang

    digunakan para periset, yakni riset kualitatif dan kuantitafif.

    Pada riset kualitatif yang peneliti pakai pada riset ini ialah

    wawancara, dan juga dokumentasi. Ide penelitian kualitatif

    adalah dengan sengaja memilih informan (atau dokumen atau

    bahan-bahan visual lain) yang dapat memberikan jawaban

    terbaik pertanyaan penelitian.12

    Data dalam penelitian kualitatif umumnya berupa informasi

    kategori substantif yang sulit dinumerisasikan. Sebagaimana

    yang dikutip Haroni dalam tesisnya, menurut Neuman teknik

    pengumpulan data dalam paradigma konstruktivis menggunakan

    sejumlah teknik pengamatan terlibat, wawancara mendalam dan

    analisis teks. Sedangkan dalam melaporkan hasil penelitiannya,

    peneliti berupaya menunjukkan kenyataan yang diperkirakan

    mampu membangkitkan kesadaran pembaca tentang suatu hal

    yang sedang dibahas.

    12

    John W. Creswell, Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta: KIK Press, 2003) h. 143.

     

  • 13

    Dalam hal ini peneliti menelaah teks berita yang menjadi

    objek penelitian yang tertulis pada majalah Sindo Weekly.

    Adapun teks berita yang peneliti telaah sebagai pendukung

    analisis adalah Edisi No. 27 tahun 1 terbit tanggal 6-12

    September 2012 versi Salah Apa Syiah.

    Disamping itu, peneliti juga membaca sejumlah teks

    berita mengenai isu yang sama pada media-media berbeda untuk

    melengkapi, memperkuat dan sebagai perbandingan dalam

    menganalisis.

    Untuk mengetahui lebih detail mengenai data yang

    dianalisis, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut:

    1. Wawancara mendalam (in-depth interview) dengan orang-

    orang yang terlibat langsung dengan proses pencarian berita,

    penulis, yakni wartawan, staf redaksi, redaktur. Beberapa hal

    yang diekplorasi dalam wawancara antara lain dengan

    konsep awal materi berita, perkembangannya, proses

    penulisan, proses konstruksi dan motivasi dibalik bingkai

    berita tersebut dan hal-hal lain.

    2. Dokumentasi, yakni penulis mengumpulkan dan

    mempelajari data melalui literature dan sumber bacaan,

    seperti buku-buku yang relevan dengan masalah yang

    dibahas dan mendukung penelitian.

     

  • 14

    b. Teknik Analisis Data

    Sebagai penelitian data kualitatif, maka penelitian ini

    menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriftif. Data yang

    berhasil diperoleh akan dianalisis dan diinterpretasikan secara

    bertahap seperti urutan dibawah ini:

    1. Teks berita dianalisis berdasarkan data permulaan yang

    dapat diperoleh melalui berbagai sumber publikasi dan

    wawancara. Data diseleksi berdasarkan karakter pesan yang

    akan dikaji.

    2. Analisis selanjutnya terkait dengan teks berita dari edisi dan

    isu yang kemudian ditentukan berdasarkan pada mekanisme

    analisis yang ditawarkan Entman terkait Framing

    pemberitaan media cetak meliputi problem identification,

    causal interpretation, treatmen recomendation dan moral

    evalution.

    3. Analisis juga diperkaya dengan studi pustaka dan sumber-

    sumber terkait.

    4. Setelah data dianalisis dan diinterpretasikan, ditarik

    kesimpulan.

    c. Unit analisis

    Unit analisis dalam penelitian ini adalah teks berita tentang

    isu SyiahSampang pada majalahSindo Weekly edisi no 27

    tanggal 6-12 September 2012 versi Salah Apa Syiah.

     

  • 15

    d. Tempat dan waktu penelitian

    Penelitian akan akan dilakuakan di High and

    Building, Lantai 2nd fl, Jalan Kebon Sirih No.17-19,

    Jakarta 10340, Telepon: 021 314-6061, Faks. 021 314-

    6411. E-mail: [email protected], website:

    www.Sindoweekly-magz.com

    G. Sistematika Penulisan

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Merupakan babyang menjadi titik pijak masalah. Dalam bab ini

    akan dieksplorasi masalah yang akan diangkat, rumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat baik secara akademis maupun praktis, serta

    metodologi penelitian.

    BAB II

    KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KONSEPTUAL

    Secara umum bab ini merupakan penjelajahan teori yang kelak

    menjadi dasar dari pembahasan tentang konstruksi realitas di media massa,

    dan Framing khususnya dalam kajian media cetak (majalah) serta teori

    mengenai konflik horizontal pada pemberitaan media. Bab ini juga

    berusaha mengeksplorasi teori tentang majalah sebagai media masa cetak

    dan kekuatan pengaruhnya terhadap publik serta perannya dalam

    sosialisasi nilai-nilai, juga ideologi dibalik itu.

    BAB III

     

    mailto:[email protected]://www.sindoweekly-magz.com/

  • 16

    GAMBARAN UMUM MAJALAH SINDO WEEKLY

    Berisi gambaran umum objek kajian yakni majalah Sindo weekly,

    mendeskripsikan konsep pemberitaan, proses produksi, mulai dari provil,

    visi dan misi juga struktur organisasinya serta format beritanya. Selain itu

    digambarkan pula tentang sejarah Syiah.

    BAB IV

    TEMUAN DAN ANALISIS DATA

    Merupakan analisis dan interpretasi peneliti serta

    pembahasan temuan data penelitian terkait dengan nilai-nilai

    keberimbangan, netralisasi dan akulturasi pemberitaan konflik horizontal

    menggunakan sudut pandang Framing sebagaimana dititiktekankan oleh

    Robert N Entman.

    Dalam bab ini juga dibahas bagaimana konflik realitas sebuah

    konflik horizontal dikemas juga dibahas bagaimana idelogi media massa

    mengambil peran tertingginya dibalik teks-teks berita dalam majalah

    khususnya terkait objek kajian.

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Merupakan bagian akhir dari skripsi ini. Bab ini berisi kesimpulan

    atas temuan-temuan yang dihasilkan dari penelitian dan saran-saran yang

    dapat diambil manfaatnya atas hasil temuan tersebut serta daftar pustaka

     

  • 17

    BAB II

    KERANGKA TEORITIS

    A. Teori Konstruksi Sosial

    Bagi banyak orang media merupakan sumber untuk mengetahui

    suatu kenyataan atau realitas yang terjadi, bagi masyarakat biasa,

    pesan dari sebuah media akan dinilai apa adanya. Apa kata media dan

    bagaimana penggambaran media mengenai sesuatu, begitulah realitas

    yang mereka tangkap.13

    Bagi masyarakat umum, berita dari sebuah media dipandang

    sebagai barang suci yang penuh obyektifitas. Namun, berbeda dengan

    kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan

    menilai lebih dalam terhadap pemberitaan.Kenyataan ini seperti

    mengamini bahwa media berhasil dalam tugasnya merekonstruksi

    realitas dari peristiwa itu sendiri, sehingga pada akhirnya pembaca

    terpengaruh dan memilki pandangan seperti yang diinginkan media

    dalam menilai suatu peristiwa.

    Melalui berbagai instrumen yang dimiliki, media berperan

    membentuk realitas yang tersaji dalam berita.Konstruksi terhadap

    realitas yang tersaji dalam berita. Konstruksi terhadap realitas

    dipahami sebagai upaya „menceritakan‟ sebuah peristiwa, keadaan,

    benda, fakta atau realitas diproduksi dan dikonstruksi dengan

    13Zulkarnaen Nasution, Sosiologi Komunikasi Massa, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional, 2004,h. 1-10.

     

  • 18

    menggunakan persfektif tertentu yang akan dijadikan bahan berita

    oleh wartawan. Maka tidak mengherankan jika media memberitakan

    berbeda sebuah persitiwa yang sama karena masing-masing media

    memiliki pemahaman dan pemaknaan sendiri.14

    Sering kali sebuah peristiwa dalam media masa yang kita akses

    berbeda dengan peristiwa yang terjadi dilapangan.Tanpa disadari,

    ternyata berita yang kita konsumsi setiap harinya dari media masa,

    baik cetak maupun elektronik adalah berita dimana fakta-faktanya

    sudah mengalami proses penciptaan atau pembangunan ulang

    (konstruksi) oleh media itu sendiri. Bukan merupakan fakta mentah

    sebenarnya yang diperoleh dari narasumber suatu persitiwa.

    Media mengkonstruksi fakta peristiwa disesuaikan dengan

    ideologi, kepentingan, keberpihakan media dalam memandang sebuah

    berita. Wacana atau peritiwa yang akan diberitakan tidak akan terlepas

    dari pertimbangan menguntungkan tidaknya pemberitaan tersebut

    terhadap media yang bersangkutan.

    Isi media adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai

    dasarnya, sedangkan bahasa bukan saja alat mempersentasikan

    realitas, tetapi juga menentukan relief seperti apa yang hendak

    diciptakan bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya media masa

    14Fahri Firdusi, Artikel: Berita sebagai Konstruksi Media, artikel diakses pada 12 November 2012 dari http:fahri99.worldpress.com/2012/po2.html

     

  • 19

    mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna

    dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksinya.15

    Teori dan pendekatan konstruksi atas realitas terjadi secara

    simultan melalui tiga proses sosial, yakni eksternalisasi, obyektivasi,

    internalisasi. Proses ini terjadi antara individu satu dengan yang

    lainnya di dalam masyarakat. bangunan realitas yang tercipta karena

    proses sosial adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau

    intersubjektif.16

    Menurut Peter L. Berger17

    dan Thomas luckman dalam teorinya

    “The Social Construction Theory of Reality” proses mengkonstruksi

    berlangsung melalui interaksi sosial dialektis dari tiga bentuk realitas,

    yakni symbolic reality, objective reality, dan subjective reality yang

    berlangsung dalm suatu proses dengan tiga momen simultan.

    Eksternalisasi (penyesuaian diri), adalah sebagaimana yang

    dikatakan Berger dan Luckman adalah usaha ekspresi diri manusia ke

    dalam dunia luar, keberadaan manusia tak mungkin berlangsung

    dalam suatu lingkungan interioritas yang tertutup dan tanpa

    gerak.Moment ini bersifat kodrati manusia.Ia selalu mencurahkan diri

    ke tempat di mana ia berada. Manusia harus terus menerus

    mengeksternalisasi dirinya dalam aktifitas.

    15Ibnu Hamad, Muhammad Qadari dan agus Sudibyo, Kabar-Kabar Kebencian, Institut

    Studi Arus Informasi, PT. Sembrani Akasara Nusantara, Jakarta: 2001, h. 74-75.

    16Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi,Sosiologi Komunikasi, Teori Pradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat,h.202.

    17Dedy N. Hidayat, Konstruksi Sosial Industri Penyiaran, Jakarta: Pascasarjana Ilmu

    Komunikasi UI, 2003,h. 7-8.

     

  • 20

    Objektivasi, tahap ini merupakan produksi sosial yang terjadi

    dalam dunia intersubyektif masyarakat yang dilembagakan. Pada

    tahap ini sebuah produk sosial berada pada proses institusionalisasi,

    sedangkan individu oleh Berger dan Luckman, dikatakan

    memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang

    tersedia, baik bagi produsen-produsennya, maupun bagi orang lain

    sebagai unsur dari dunia bersama. Obyektivasi ini bertahan lama

    sampai melampaui batas tatap muka dimana mereka dapat dipahami

    secara langsung.18

    Internalisasi, adalah penyerapan kembali dunia objektif ke

    dalam kesadaran subyektif sedemikian rupa sehingga individu

    dipengaruhi oleh struktur sosial atau dunia sosial.Salah satu wujud

    internalisasi adalah sosialisasi bagaimana suatu generasi

    menyampaikan nilai-nilai norma-norma sosial (termasuk budaya)

    yang ada dikepala generasi berikutnya.19

    Dalam realitas obyektif yang merupakan hasil dari kegiatan

    eksternalisasi manusia baik mental maupun fisik, menurut Berger

    realitas obyektif berbeda dengan kenyataan subyektif perorangan ,

    bahwa realitas obyektif bersifat eksternal, berada di luar dan tidak

    dapat kita tiadakan dari angan-angan. Kemampuan ekspresi diri dalam

    produk-produk kegiatan manusia yang tersedia baik bagi produsen-

    18Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, Teori Pradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, h. 197-198.

    19

    Masnur Muslich, Kekuasaan Media Massa Mrekonstruksi realitas, Sebuah Kajian,

    artikel diakses pada 10 November 2012 di www.kabmalang.go.id/10/11/2012.

     

  • 21

    produsenya maupun bagi orang lain sebagai unsur-unsur dari dunia

    bersama ini, dan dalam realitas subyektif kehidupan ini menyangkut

    makna, interpretasi, dan hasil relasi antara individu dengan obyek.20

    Menurut Berger dan Luckman21

    , kehidupan sehari-hari terutama

    adalah kehidupan melalui dan dengan bahasa, bahasa tidak hanya

    mampu membangun simbol-simbol yang diabstraksikan dari

    pengalaman-pengalaman sehari-hari, melainkan juga

    „mengembalikan‟ simbol-simbol itu dan menghadirkannya sebagai

    unsur yang obyektif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga yang

    menjadi titik perhatian dalam pandangan konstruksionis bukanlah

    pesan tetapi maknanya yang ditimbulkan dari pembuatan simbol-

    simbol.22

    Karena itu, Berger melihat bahasa mampu mentransendensikan

    kenyataan hidup sehari-hari secara keseluruhan dengan mengacu

    pengalaman yang menyangkut wilayah kenyataan yang berlainan.

    Bahasa disini didefinisikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari,

    tanda-tanda suara, gerakan (ekspresi) tulisan, yang dengan mudah

    dapat dilepaskan. Inilah yang menurut Berger dan Luckman sebagai

    20Peter L. Berger, Thomas Luckman, Tafsir Sosial Atas Kenyataan; Sebuah Risalah

    tentang Sosiologi Pengetahuan.Penerjemah hasan Basri (Jakarta: LP3S, 1990), h. 49-50. 21

    Peter L. Berger, Thomas Luckman, The Social Construction Theory of Reality, dalam

    eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media. (Yogyakarta: LkiS, 2002),h.

    39-41.

    22 Ibid h. 39-41

     

  • 22

    kenyataan yang dipahami melalui bahasa simbolik (kenyataan

    simbolik).23

    Lebih jauh Peter Berger24

    berpendapat, realitas sosial tidak

    dibentuk secara ilmiah tidak juga sesuatu yang diturunkan Tuhan

    tetapi sebaliknya realitas dibentuk semacam ini, realitas berwajah

    ganda atau prulal. Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-

    beda atas suatu realitas. Setiap orang mempunyai pengalaman,

    preferensi pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial

    tertentu dan menafsirkan sosial itu dengan konstruksinya masing-

    masing.25

    Media masa cenderung melakukan konstruksi realitas atas

    peristiwa yang diterimanya sebagai sumber berita. Tujuannya agar

    pembaca memiliki pandangan hingga akhirnya menciptakan opini

    publik setidaknya diharapkan sesuai dengan pandangan frame media

    itu.

    Itulah tujuan media, menciptakan agar khalayak memilki opini

    yang sama dan sesuai dengan pandangan media terhadap suatu

    persistiwa. Sadar atau tidak pembaca telah terperangkap oleh pola

    konstruksi media.

    23Peter L. Berger, Thomas Luckman, Tafsir Sosial Atas Kenyataan; Sebuah Risalah

    tentang Sosiologi Pengetahuan.Penerjemah hasan Basri (Jakarta: LP3S, 1990), h. 49-50. 24

    Peter L. Berger, Thomas Luckman, The Social Construction Theory of Reality, dalam

    eriyanto, Analisis Framing, Konstruksi Ideologi, dan Politik Media. (Yogyakarta: LkiS, 2002),h.

    39-41.

    25Ibid h. 39-41

     

  • 23

    1. Konstruksi Realitas Sosial Media Massa

    Susbtansi teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas

    dari Berger dan Luckmann adalah pada proses simultan yang terjadi

    secara alamiah melalui bahasa dalam kehidupan sehari-hari pada

    sebuah komunitas primer dan semi sekunder. Basis teori sosial dalam

    pendekatan ini adalah transisi-modern di Amerika pada tahun 1960-

    an, di mana media masa belum menjadi sebuah fenomena yang

    menarik untuk dibicarakan. Dengan demikian Berger dan Luckmann

    tidak memasukan media masa sebagai variabel atau fenomena

    yangberpengaruh dalam konstruksi sosial atas realitas.

    Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L

    Berger dan Luckmann telah direvisi dengan melihat fenomena

    mediamassa sangat substantif dalam proses eksternalisasi,

    subyektivasi dan internalisasi inilah yang kemudian dikenal sebagai

    “konstruksi sosial media massa”. Menurut perspektif ini tahapan-

    tahapan dalam proses konstruksi sosial media masa itu terjadi melalui:

    tahap menyiapkanmateri konstruksi; tahap sebaran kostruksi; tahap

    pembentukan kosntruksi; tahap konfirmasi.26

    Penjelasannya adalah

    sebagai berikut:

    1. Tahap menyiapkan materi konstruksi : Ada tiga hal pentingdalam

    tahapan ini yakni: keberpihakan media massa kepadakapitalisme,

    26Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma dan DiskursusTeknologi Komunikasi di Masyarakat,( Jakarta : Kencana, 2007), hlm. 188-189

     

  • 24

    keberpihakan semu kepada masyarakat,keberpihakan kepada

    kepentingan umum.

    2. Tahap sebaran konstruksi : prinsip dasar dari sebaran

    konstruksisosial media massa adalah semua informasi harus sampai

    padakhalayak secara tepat berdasarkan agenda media. Apa

    yangdipandang penting oleh media, menjadi penting pula

    bagipembaca.

    3. Tahap pembentukan konstruksi realitas. Pembentukankonstruksi

    berlangsung melalui: (1) konstruksi realitaspembenaran; (2) kedua

    kesediaan dikonstruksi oleh mediamasa ; (3) sebagai pilihan

    konsumtif.

    4. Tahap Konfirmasi. Konfirmasi adalah tahapan ketika mediamassa

    maupun penonton memberi argumentasi danakuntabilitas terhadap

    pilihannya untuk terlibat dalampembetukan konstruksi.27

    Pada

    kenyataanya, realitas sosial itu berdiri sendiri tanpakehadiran

    individu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut.Realitas

    sosial memiliki makna, manakala realitas sosial dikonstruksidan

    dimaknai secara subyektif oleh individu lain sehinggamemantapkan

    realitas itu secara obyektif. Individu mengkonstruksi realitas sosial,

    dan merekonstruksinya dalam dunia realitas, memantapkan realitas

    27Ibid, h. 14

     

  • 25

    itu berdasarkan suyektivitas individu lain dalam institusi

    sosialnya.28

    Gambar 1.2

    Proses Konstruksi Sosial Media Massa29

    2. Framing Robert N Entman

    Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk

    mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja)

    dikonstruksi oleh media30

    . Analisa framing memiliki dua konsep

    yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih

    28Ibid, h. 188-189

    29 Ibid

    30 Eriyanto Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan politik Media.....h.67

    P r o s e s S o s i a l S i m u l t a n

    Eksternalisa

    si

    Objektivasi

    Internalisasi

    M

    E

    D

    I

    A

    M

    A

    S

    S

    A

    Realitas Terkonstruksi:

    Lebih Cepat

    Lebih Luas

    Sebaran Merata

    Membentuk Opini

    Massa

    Massa Cenderung

    Terkonstruksi

    - Opini Massa

    Cenderung

    Apriori

    - Opini Massa

    Cenderung

    Sinis

    Source Message Channel Receiver Effect

    - Objektif - Subjetif

    - Inter

    Subjektif

     

  • 26

    menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada

    dirinya, sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana

    konstruksi sosial atas realitas. Analisis Framing sendiri juga

    merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang

    wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di

    media.

    Analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu

    gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua

    turunannya, yaitu simbol berupa Framing device dan reasoning

    device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu

    yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning

    device menunjuk pada analisis sebab-akibat.

    Framing adalah bagaimana untuk mengetahui persfektif

    atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika

    menyeleksi isu dan menulis berita. Konsep ini telah digunakan

    secara luas dalam literatur ilmu komuikasi untuk menggambarkan

    proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah

    realita oleh media.

    Gagasan mengenai Framing, pertama kali dilontarkan oleh

    Baterson tahun 1955. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur

    konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir

    pandangan politik, kebijakan, dan wacana serta yang menyediakan

    kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini

     

  • 27

    kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada1974, yang

    mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of

    behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.31

    Terdapat banayk definisi mengenai Framing yang

    dikemukakan oleh para ahli. Todd Gitlin32

    ( mendefinisikan

    Framing sebagai: “strategi bagaimana realitas atau dunia dibentuk

    dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada

    khalayak pembaca. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam

    pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian

    khalayak.Itu dilakukan dengan seleksi, pengulangan, penekanan,

    dan persentasi aspek tertentu dari realitas”.

    Menurut Gitlin, frame adalah bagaian yang pasti hadir

    dalam praktik jurnalistik. Dengan farme, jurnalis memproses

    berbagai informasi yang tersedia dengan jalan mengemas

    sedemikian rupa dalam kategori kognitif tertentu dan disampaikan

    kepada khalayak.33

    Robert N. Entman34

    memberikan definisi mengenai

    Framing, yakni: “Proses seleksi dari berbagai aspek realitas

    sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol

    dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan

    31Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006),h.162,cet. IV.

    32Todd Gitlin dalam Darwis, Analisis Framing Konstruksi Berita Ahmadiyah di Surat

    Kabar Republika, Skripsi S1, FIDKOM, UIN, Jakarta, 2008 33

    Ibid 34

    Ibid

     

  • 28

    informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu

    mendapatkan alokasi lebih besar dari pada sisi yang lain”.

    Sementara itu, G. J. Aditjondro35

    mendefinisikan Framing

    sebagai: “Metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang

    suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan

    secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek

    tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya

    konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat

    ilustrasi lainnya”.

    Pada dasarnya, framing adalah metode untuk melihat cara

    berita (story telling) media atas peristiwa, cara bercerita itu

    tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang dijadikan

    berita. “cara melihat” ini berpengaruh pada hasil akhir dari

    konstruksi realitas. Analisis Framing adalah analisa yang dipakai

    untuk melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh

    media.36

    Frame berita timbul dalam dua level.37

    Pertama, konsepsi

    mental yang digunakan untuk memproses informasi dan sebagai

    karakteristik dari teks berita.Kedua, perangkat sepsifik dari narasi

    berita yang dipakai untuk membangun pengertian mengenai

    35

    Ibid 36Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing...,h. 10.

    37

    Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media....,h. 68.

     

  • 29

    peristiwa, Frame berita dibentuk dari kata kunci, metafora,

    konsep.Simbol, citra yang ada dalam narasi berita.

    Analisis Framing merupakan versi terbaru dari pendekatan

    analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media.Analisis

    ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke

    dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau

    lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai

    persfektifnya.

    Dengan kata lain, “Framing adalah pendekatan untuk

    mengetahui bagaimana persfektif atau cara pandang yang

    digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis

    berita”. Cara pandang atau persfektif itu pada akhirnya menentukan

    fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan

    dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut.

    Berita yang muncul di media seringkali diandaikan sebagai

    suatu kebenaran yang faktual karena harus berdasarkan

    fakta.Padahal, setiap media mengemas (Framing) realitas suatu

    peristiwa, tidak terlepas dari bias-bias kepentingan yang dianut

    media tersebut.Baik yang berkaitan dengan ideologi, politik,

    ekonomi, sosial, budaya bahkan agama.Tidak satupun media yang

    memiliki sikap indenpendensi dan objektifitas yang absolut.38

    38Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing....,h. V.

     

  • 30

    Gans, Shomaker dan Reeses39

    seperti dikutip Darmanto,

    menyarankan paling sedikit harus ada tiga pengaruh potensial

    dalam memframing berita, yaitu:

    a. Faktor Pertama, yaitu pengaruh wartawan. Wartawan akan lebih

    sering membuat konstruksi analisis untuk membuat perasaan

    memiliki akan kedatangan informasi. Wartawan dalam menulis

    dipengaruhi oleh variabel-variabel seperti ideologi, perilaku,

    norma-norma profesional dan akhirnya lebih mencirikan jalan

    wartawan dalam penulisan berita sebagai mengulas berita.

    b. Faktor Kedua, yang mempengaruhi penulisan berita adalah

    pemilihan pendekatan yang digunakan wartawan dalam

    penulisan berita sebagai konsekuensi dari tipe dan orientasi

    politik atau yang disebut ”rutinitas organisasi”.

    c. Faktor Ketiga, yaitu pengaruh dari sumber-sumber eksternal

    misalnya, aktor politik dan otoritas.

    Eriyanto menyebutkan ada dua dimensi yang mempengaruhi

    konsep Framing, yaitu:40

    a. Dimensi Psikologis, Framing adalah upaya atau strategi

    wartawan untuk menekankan dan membuat pesan menjadi

    bermakna, lebih mencolok dan diperhatikan publik. Secara

    psikologis, orang cenderung menyederhanakan realitas dan

    39

    Darmanto, Makalah: Membongkar Ideologi di Balik Penulisan Berita dengan Analisa

    Faraming (T.tp: Universitas Brawijaya-Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin, 2004),h.3.

    40Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media....,h. 71-80.

     

  • 31

    dunia yang kompleks bukan hanya agar lebih sederhana dan

    dapat dipahami, tetapi juga agar lebih mempunyai

    persfektif/dimensi tertentu, karenanya realitas yang sama bisa

    jadi digambarkan secara berbeda oleh orang yang berbeda

    karena mempunyai pandangan atau persfektif yang berbeda

    pula.

    b. Dimensi Sosiologis, pada level ini frame dilihat terutama untuk

    menjelaskan bagaimana organisasi dari ruang berita dan

    pembuat berita membentuk berita secara berasama-sama. Berita

    adalah produk dari intistusi lainnya. Berita adalah produk dari

    profesionalisme yang menentukan bagaimana peristiwa setiap

    hari dibentuk dan dikonstruk.

    Dalam praktiknya framing dijalankan oleh media dengan

    menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu lain dan menonjolkan

    aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi

    wacana pengulangan, pemakaian gambar untuk mendukung dan

    memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika

    menggambarkan seseorang atau peristiwa yang diberitakan,

    saosiasi terhadap simbol budaya , generalisasi, simplifikasi dll.

    Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari

    konstruksi berita bermakna dan diingat oleh khalayak.

    Media harus melihat dua aspek penting dalam mem-

    framing sebuah berita, yang menjadi dasar bagaimanasebuah

     

  • 32

    realitas dari peristiwa itu dibangun dan akhirnya ditulis sesuai

    denganframe/bingkai yang dianutnya, seperti yang dijelaskan oleh

    Eriyanto sebagai berikut:41

    a. Memilih fakta/realitas, fakta dipilih berdasarkan asumsi bahwa

    tidak mungkin melihat peristiwa tanpa persfektif. Dalam melihat

    fakta selalu terkandung dua kemungkina; apa yang dipilih

    (included) dan apa yang dibuang (exluded). Bagian aman yang

    ditekankan dalam realitas, bagaimana dari realitas yang

    diberitakan dan bagaimana yang tidak diberitakan. Penekanan

    aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angle tertentu,

    memilih fakta tertentu dan melupakan fakta yang lain hingga

    peristiwa itu dilihat dari sisi tertentu, akibatnya bisa jadi

    berbeda antar satu media dengan media yang lain.

    b. Menulis fakta, berhubungan dengan bagaimana fakta yang

    dipilih itu disajikan kepada khalayak. Gagasan itu diungkapkan

    dengan kata, kalimat dan proposisi apa dengan bantuan

    aksentuasi foto dan gambaran apa dan sebagainya. Bagaimana

    fakta yang dipilih ditekankan dengan pemakaian perangkat

    tertentu seperti: penempatan yang mencolok (headline, bagian

    belakang) pengulangan. Label tertentu ketika menggambarkan

    orang/peristiwa yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol

    budaya, generalisasi, simplifikasi dan pemakaian kata yang

    41Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media....,h. 69-70.

     

  • 33

    mencolok, gambar dan sebagainya. Elemen penulisan fakta ini

    berhubungan dengan penonjolan realitas.

    Entman melihat Framing dalam dua dimensi dasar : seleksi

    isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari

    realitas/isu. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi

    lebih bermakna , lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh

    khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok

    mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan

    mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas.42

    Tabel 1.1

    Dimensi Framing Model Robert N. Entman

    Seleksi Isu

    Aspek ini berhubungan dengan

    pemilihan fakta.dari realitas yang

    kompleks dan beragam itu, aspek mana

    yang diseleksi untuk ditampilkan? Dari

    proses ini selalu terkandung di

    dalamnya ada bagian berita yang

    dimasukkan (Iinclude), tetapi ada juga

    berita yang dikeluarkan (exlude). Tidak

    semua aspek atau bagian isu

    ditampilkan, wartawan memilih aspek

    tertentu dari suatu isu.

    42Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media...,h.186.

     

  • 34

    Penonjolan Aspek Tertentu

    dari Isu

    Aspek ini berhubungan dengan

    penulisan fakta. Ketika aspek tertentu

    dari suatu peristiwa/isu tersebut telah

    dipilih, bagaimana aspek tersebut

    ditulis? Hal ini sangat berkaitan dengan

    pemakaian kata, kalimat, gambar, dan

    citra tertentu untuk ditampilkan kepada

    khalayak.

    Dalam praktiknya, Framing dijalankan oleh media dengan

    menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain; dan

    menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai

    strategi wacana-penempatan yang mencolok (menempatkan di

    Headline depan atau bagian belakang), pengulangan pemakaian grafis

    untuk mendukung dan memperkuat penojolan, pemakaian label

    tertentu ketika menggambarkan orang/peristiwa yang diberitakan,

    asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi, dan lain-

    lain.

    Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari

    konstruksi berita menjadi bernmakna dan diingat oleh khalayak. Cara

    pandang atau persfektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang

    diambil, apayang akanditonjolkan dan dihilangkan dan hendak

    dibawa kemana berita tersebut.

     

  • 35

    Tabel 1.2

    Konsep Framing Model Robert N. Entman

    Define Problems

    (Pendefinisian Masalah)

    Bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat?

    Sebagai apa? Atau sebagai masalah

    apa?

    Diagnoses Causes

    (memperkirakan masalah

    atau sumber masalah)

    Peristiwa itu disebabkan oleh apa? Apa

    peristiwa yang dianggap sebagai

    penyebab dari suatu masalah? Siapa

    (aktor) yang dianggap sebagai penyebab

    masalah?

    Make Moral Judgement

    (membuat keputusan

    moral)

    Nilai moral apa yang disajikan untuk

    menjelaskan masalah? Nilai moral apa

    yang dipakai untuk melegitimasi atau

    mendelgitimasi suatu tindakan?

    Treatmen

    Recommendation

    (menekankan

    penyelesaian)

    Penyelesaian apa yang ditawarkan

    untuk mengatasi masalah/isu? Jalan apa

    yang ditawarkan dan harus ditempuh

    untuk mengatasi masalah?

    Menurut konsepsi Entman43

    , Framing pada dasarnya

    merujukpada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan

    43

    Ibid

     

  • 36

    rekomendasi dalam suatu wacanauntuk menekankan kerangka

    berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.

    Define Problems (pendefinisian maslah) adalah elemen

    yang pertamakali dapat kita lihat mengenai Framing. Elemen ini

    merupakan master frame/bingkai yang paling utama. Ia menekankan

    bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan ketika terjadi

    peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu tersebutdipahami. Peristiwa

    yang sama dapat dipahami secara berbeda. Dan dibingkai yang

    berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang berbeda pula.

    Diagnoses causes (memperkirakan penyebab masalah),

    merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap

    sebagai aktor dari suatu peristiwa. Penyebab disini bisa berarti apa

    (what), tapi bisa juga berarti siapa (who). Bagaimana peristiwa

    dipahami, tentu saja tergantungapa dan siapa yang dianggap sebagai

    sumber masalah. Karena itu, jika masalah-masalah yang dipahami

    berbeda, maka penyebab masalah secara tidak langsung akan

    dipahami secara berbeda pula.

    Make Moral Judgement (membuat pilihan moral) adalah

    elemen Framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberi

    argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Ketika

    masalah sudah didefinisikan dan penyebanya sudah ditentukan,

    dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk mendukung

     

  • 37

    gagasan tersebut.Gagasan yang dikutip berhubungan dengan sesuatu

    yang familiar dan dikenal oleh khalayak.

    Elemen lainnya adalah Treatment Recommendation

    (menekankan penyelesaiannya). Elemen ini dipakai untuk menilai

    apa yang dikehendaki wartawan. Jalan apa yang dipilih untuk

    menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat

    bergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang

    dipandang sebagai penyebab masalah.44

    Konsepsi mengenai Framing dari Entman tersebut

    menggambarkan secara luas bagaiman peristiwa dimaknai dan

    ditandakan oleh wartawan.Ada dua konsep framing yang saling

    berkaitan, yaitu konsep psikologis dan sosiologis yaitu :

    1. Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan

    informasi dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen

    tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam

    kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi itu menjadi

    lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang saat

    membuat keputusan tentang realitas.

    2. Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai proses

    bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan dan

    menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan

    44Ibid.,h.186-191.

     

  • 38

    realitas diluar dirinya Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M

    Kosicki, kedua konsep tersebut diintegrasikan.

    Secara umum konsepsi psikologis melihat frame sebagai

    persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat

    frame dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang. Dalam

    model ini, perangkat framing yang digunakan dibagi dalam empat

    struktur besar, yaitu sintaksis (penyusunan peristiwa dalam bentuk

    susunan umum berita), struktur skrip (bagaimana wartawan

    menceritakan peristiwa ke dalam berita), struktur tematik (bagaimana

    wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam

    proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang

    membentuk teks secara keseluruhan), dan struktur retoris

    (bagaimanamenekankan arti tententu dalam berita).

    3. Konflik Pada Media

    Idealnya suatu berita yang baik adalah berita yang ditulis

    berdasarkan fakta.Tidak dikotori oleh kepentingan segelintir orang

    sehingga mendistorsi fakta tersebut. Namun dalam realita media

    sebagai ruang publik kerap tidak bisa memerankan diri sebagai pihak

    yang netral. Media senantiasa terlibat dengan upaya merekonstruksi

    realitas sosial. Dengan berbagai alasan teknis, ekonomis, maupun

    ideologis, media massa selalu terlibat dalam penyajian realitas yang

    sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan realita

    sesungguhnya.

     

  • 39

    Keterbatasan ruang dan waktu juga turut mendukung kebiasaan

    media untuk meringkaskan realitas berdasarkan “nilai berita”. Prinsip

    berita yang berorientasi pada hal-hal yang menyimpang menyebabkan

    liputan peristiwa jarang bersifat utuh, melainkan hanya mencakup hal-

    hal yang menarik perhatian saja yang ditonjolkan.45

    Liputan media masa dan laporan resmi pemerintah tentang

    konflik umumnya juga sangat bias,tidak seimbang, dan tidak propor-

    sional.Mereka cenderung hanya meliput fakta dan gejalakonflik

    sebagai peristiwa penyimpangan atau kecelakaan biasa.

    Selain hanya menonjolkanyang sensasional dan dramatis

    kebanyakan konflik kekerasan hanya diliput sekalisebagai sebagai

    peristiwa sepotong-potong terlepas dari peristiwa konflik secara

    lengkap.Konflik seolah-olah hanya dilihat sebagai perititwa

    kecelakaan yang tragis, kesalahan proseduratau efek samping dari

    suatu kebijakan, bukannya sebagai peristiwa sengaja yang

    secarasistematis melekat dalam bekerjanya suatu sistem politik,

    sebagai suatu gejala yang memilikibanyak aspek dan dimensi, dan

    punya akar penyebab dan pola tertentu yang bisa dicegah dandiatasi.

    Kalevi J. Holsti46

    mengatakan bahwa konflik timbul akibat

    ketidaksamaan posisi atau suatu isu, adanya tingkah laku suatu

    permusuhan, serta diperkuat oleh aksi-aksi militer antara pihak-pihak

    yang bertikai.

    45http://www.esaunggul.ac.id/article/konflik-dalam-pemberitaan-media-massa/

    46J. Holsti, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical

    Discourse Analysis terhadap Berita-Berita Politik, Jakarta, Granit, 2007,h.12.

     

  • 40

    Sementara Louise Kriesberg47

    mendefinisikan konflik sebagai

    sebuah situasi dimana dua atau lebih pihak mempercayai

    mempercayai bahwa mereka mempunyai tujuan yang berbeda (a

    conflict is asituation in which two or more parties, or their

    representative, belives they have incompatible objective).

    Secara sempit, konflik memiliki pengertian perilaku

    (behavior) atau aksi (action) yang tidak bersahabat antara pihak-pihak

    yang bertikai.48

    Dengan pengertian seperti ini, dapat disimpulkan

    bahwa konflik berakhir bila perilaku demikian juga berakhir.Namun

    pendapat ini masih bisa dipertanyakan, karena penghentian perilaku

    tidak bersahabat tidak selalu berarti selesainya konflik. Genjatan

    senjata, penghentian pernyataan verbal yang offensif

    (propaganda/hasutan), mobilisasi, petisi, demonstrasi, boikot, dan

    sanksi, hanya merupakan indikasi kearah penyelesaian konflik.

    Namun dengan demikian perlu ditarik batasan antara perilaku tidak

    bersahabat yang dimaksud dalam konflik, yaitu kekerasan

    politik/militer (politic/military violance), dengan kejahatan biasa oleh

    individu atau kelompok (sheer banditary, mutinies and other form of

    collective violance).49

    Dalam sebuah negara yang tingkat kedewasaan politiknya masih

    rendah, perbedaan kepentingan dan artikulasi politik menjadi rawan

    47

    Louis Kriesberg, The Sociology of social Conflict, New York, Prantice Hall, 1973,h.65.

    48Peter Wallensteen, Understanding Conflict Resolution: war, Peace, and the Global

    System, London, Sage Publiction, 1997,h. 13.

    49

    Ibid.,h.25.

     

  • 41

    konflik.Masyarakat belum terbiasa menghargai perbedaan dan

    keberagaman pandangan politik,dan tingkat toleransi terhadap

    perbedaan tadi masih sangat rendah.Maka minimnya toleransi ini yang

    pada nantinya menjadi pemicu berbagai peristiwa konflik yang terjadi

    di dalam masyarakat.

    Jurnalisme konvensional menjadikan konflik sebagai tumpuan

    nilai berita. Seluruh fakta sosial yang dilihat dari perspektif konflik,

    memiliki nilai tinggi dalam standar kelayakan berita (news-

    worthiness).Dari sini pula lahir kaidah yang paling dijunjung dalam

    etika jurnalisme, yaitu asas ketidakberpihakan (impartiality) yang

    mengandung aspek keseimbangan dan netralitas.

    Konflik adalah sesuatu yang alamiah, ketika terjadi sesuatu

    yang tidak sejalan, baik pemikiran, dan segala sesuatu yang dianggap

    tabu oleh masyarakat. Dalam kondisi ini, sejatinya musyawarah

    menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah.Di sinilah letak sikap

    belajar untuk saling menghargai, memahami berbagai macam

    perbedaan yang ada. Belajar menjadi manusia yang bijak,

    menyelesaikan segala sesuatu dengan kepala dingin, dan sikap saling

    menghargai perbedaan yang ada.

    Dalam perspektif konflik, fakta adalah interaksi dua pihak yang

    berbeda kepentingan dalam ruang sosial.Di sini fakta hanya

    menyajikan dua pihak yang bertentangan dan saling

    berhadapan.Dinamika konflik seperti ini pada dasarnya dapat dilihat

     

  • 42

    sebagai upaya satu pihak mengalahkan pihak yang lainnya.Posisi

    media masa dalam konteks ini idealnya tidak terlibat dan tidak ambil

    bagian dalam konflik tersebut.Profesionalitas media dapat terlihat

    ketika dia bersikap netral dalam pemberitaan konflik dan kekerasan

    bahkan dalam ranah yang politis sekalipun.

    Ketika media massa dianggap sebagai refleksi kenyataan, maka

    wajah dari masyarakat Indonesia adalah wajah yang penuh dengan

    konflik dan kekerasan, sehigga konflik seakan-akan merupakan

    fenomena yang hadir dalam keseharian masyarakat Indonesia.

    Berita bernuansa konflik merupakan berita yang sering

    disajikan.Berita konflik menjadi informasi yang paling disenangi

    konsumen media.Ketika terjadi konflik, media perlu menjadikan

    konflik tersebut sebagai prioritas, sehingga konflik mendapat tempat

    yang menonjol di media cetak ataupun media elektronik, bukan karena

    nilai jualnya, namun karena dengan begitu, masyarakat menyadari

    adanya persoalan yang harus diselesaikan.

    Melihat peran media sebagai penyaji fakta, media seharusnya

    tidak menyajikan konflik dan penindasan hak asasi manusia (HAM)

    sebagai rangkaian yang terpisah-pisah.Masyarakat sering lupa bahwa

    dalam konflik ada manusia biasa yang tidak memiliki kepentingan

    apa-apa justru menjadi korban.

    Oleh karena itu, wartawan mempunyai tanggung jawab untuk

    menyampaikan berita kebenaran berdasarkan fakta yang ada dan

     

  • 43

    bertolak pada kepeentingan masyarakat, bukan kepentingan media

    agar perdamaian diantara masyarakat tetap terjaga.

    Andreas Harsono50

    mengungkapkan, “seorang wartawan harus

    mendahulukan jurnalisme dari segala kepentingan.Agamanya,

    kewarganegaraannya, kebangsaannya, ideologinya, latar belakang

    sosial, etnik, suku dan sebagainya, harus dia tinggalkan di rumah

    begitu dia keluar dari pintu rumah dan jadi wartawan”.Maksud dari

    pernyataan tersebut adalah penting untuk menjamin penyajian berita

    yang berimbang. Dia mencontohkan, ketika meliput konflik agama,

    wartawan yang terbawa dengan agamanya tentu akan menyajikan

    berita yang memihak kepada agamanya tersebut. Publik akhirnya

    tidak mendapatkan informasi yang berimbang.

    Kegiatan jurnalisme bukan hanya pada kegiatan penulisan,

    tetapi juga berkaitan dengan pemilihan fakta-fakta yang akandijadikan

    informasi. Salah satu kekuatan pers adalah melakukan pembingkaian (

    framing), teknik pengemasan fakta, penggambaran fakta, dan

    pemilihan angle. Dengan kemampuan seperti itu, pers mempunyai

    potensi untuk meredam konflik. Namun disisi lain, kekuatan

    membingkai fakta dengan mengemas sedemikian rupa, juga dapat

    menyebabkan pecahnya konflik.

    Untuk peliputan konflik yang berbau SARA harus

    mempertimbangkan posisi sebagai pekerja pers yang menjadi penyaji

    50

    Andreas Harsono dalamhttp://jurnalmussoffa.comWawartawan, jurnalisme dan

    kepentingan diakses pada 18 Desember 2012

     

    http://jurnalmussoffa.com/

  • 44

    dan peredam masalah.Keberpihakan tidak membenarkan pemberitaan

    yang tidak benar dan akurat.Jurnalis tidak bisa menjadi sumber yang

    menyebarkan kabar bohong atau membangun kesan yang

    menyesatkan.Selain itu,kepentingan-kepentingan yang menekan

    wartawan dalam produksi beritan begitu kuat. Maka,sebaiknya

    wartawan mempertimbangkan nurani sebagai keputusan terakhir. Hati

    nurani membawa kepada fakta yang diyakini benar.

    Sebenarnya media massa memiliki dua pilihan tujuan ketika

    memuat berita, yaitu untuk memenuhi tujuan politik keredaksian

    media itu sendiri atau memenui kebutuhan khalayak pembacanya.

    Media masa yang mementingkan tercapainya tujuan ekonomis

    biasanya akan memilih berita yang bernilai jual tinggi.

    Satu sisi ada media masa yang menginginkan agar informasi

    yang disampaikan bermanfaat bagi pembaca, sehingga media tersebut

    akan memuat berita-berita yang berguna bagi khalayak. Ada pula

    media masa yang menganggap informasi hanya sebagai alat untuk

    mencapai tujuan ideologis. Informasi disampaikan untuk

    mempengaruhi dan membujuk khalayak agar berbuat dan bersikap

    sesuai dengan tujuan ideologis yang hendak dicapai oleh media masa

    tersebut.

    Tak dapat dipungkiri bahwa setiap media pasti mempunyai

    ideologinya masing-masing. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh

    berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan menggunakan

     

  • 45

    ideologinya sendiri-sendiri dalam mengemas dan menyampaikan

    berita ternyata berpengaruh sangat besar bagi khalayaknya. Masing-

    masing media dengan ideologi institusinya mampu mengemas suatu

    peristiwa menjadi realitas baru untuk dikonsumsi khalayak

    pembacanya.

    4. Ideologi Media

    Secara umum dapat dikatakan bahwa ideologi memiliki dua

    pengertian yang berbeda. Pengertian dalam tataran positif menyatakan

    bahwa ideologi dipersepsikan sebagai realitas pandangan dunia (world

    view, welltanschaung) yang menyatakan nilai sistem kelompok atau

    komunitas sosial tertentu untuk melegitimasikan kepentingannya.

    Sementara pengertian dalam tataran negatif menyatakan bahwa

    ideologi dipersepsikan sebagai realitas kesadaran palsu. Dalam arti

    bahwa ideologi merupakan sarana manipulatif dan deceptive

    pemahaman manusia terhadap realitas sosial.51

    Ada sejumlah definisi terkait ideologi. Raymond Williams52

    menemukan tiga penggunaan utama. Pertama, suatu sistem keyakinan

    yang menandai kelompok atau kelas tertentu.Kedua, ideologi

    merupakan suatu sistem keyakinan ilusioner-gagasan palsu- yang bisa

    dikontraskan dengan pengetahuan sejati atau pengetahuan ilmiah.

    51Karl Manheim, Ideologi and Utopia An introduction to the sociologi of knowledge,(London, Rouledge, 1979),h. 24.

    52Raymond William dalam Haroni Kerelawanan dalam Televisi Indonesia. Jakarta:FISIP

    UI, 2009.

     

  • 46

    Ketiga, ideologi seringkali digunakan untuk sebuah proses umum

    produksi makan dan gagasan.

    Dalam perkembangan ilmu sosial, terminologi ideologi

    mengalami banyak pemaknaan. Tapi secara ringkas, ideologi juga

    dapat dilihat dalam tiga ranah acuan pokok:

    Pertama, ideologi sebagai realitas yang bermakna

    netral.Artinya, ideologi dimaknai sebagai keseluruhan sistem berpikir,

    nilai dan sikap dasar rohani suatu kelompok sosial dan komunitas

    kebudayaan tertentu.

    Kedua, ideologi sebagai sebuah kesadaran palsu (false

    consciousness).Pengertian ideologi sebagai sebuah kesadaran palsu

    menyatakan bahwa ideologi merupakan sistem berfikir yang sudah

    terdistorsi, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.Ideologi dalam

    pengertian ini adalah sarana kelas atau kelompok sosial tertentu untuk

    mensahkan atau melegitimasikan asal sumber dan praksis kekuasaan

    secara tidak wajar. Dalam pengertian ini, makna ideologi justeru

    bernilai negatif.Artinya ideologi merupakan perangkat claim yang

    tidak wajar atau sebuah teori yang tidak berorientasi pada nilai

    kebenaran (meskipun kategori kebenaran sangat bernilai relatif),

    melainkan sudah mengambil sikap berpihak pada kepentingan

    tertentu.Objektifitaskebenaran merupakan jalinan dan rangkaian

    kenbenaran subjektif yang disepakati bersama sebagai kebenaran

    objektif.

     

  • 47

    Ketiga, ideologi sebagai sistem keyakinan yang tidak

    rasional. Artinya, bahwa ideologi hanya sekedar rangkaian sistem

    kepercayaan dan keyakinan subjektif (believe system).

    Konsekuensinya adalah ideologi tidak membuka kemungkinan

    pertanggung jawaban rasional dan objektif.53

    Ideologi berkaitan dengan konsep seperti “pandangan dunia”,

    sistem kepercayaan, dan nilai-nilai, namun ruang lingkup ideologi

    lebih luas daripada konsep-konsep tersebut. Ideologi tidak hanya

    berkaitan dengan kepercayaan yang terkandung mengenai dunia, tapi

    juga cara yang mendasari definisi dunia. Oleh sebab itu, ideologi tidak

    hanya tentang politik.Ideologi memiliki cakupan yang lebih luas lagi

    dan mengandung makna konotasi.54

    Ideologi merupakan sarana yang digunakan untuk ide-ide

    kelas yang berkuasa sehingga bisa diterima oleh keseluruhan

    masyarakat sebagai sesuatu yang alami dan wajar.55

    Menurut Antonio Gramsci56

    mengenai hegemoni media masa

    adalah alat yang digunakan elit berkuasa untuk “melestarikan

    kekuasaan, kekayaan, dan status mereka (dengan mempopulerkan)

    falsafah, kebudayaan dan moralitas mereka sendiri.57

    Di satu

    53Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Jakarta, Kanisius, 1992,h. 230-231.

    54Ulul Azmi, “Konstruksi Realitas Islam Di Media Massa: Analisis framing; Konflik

    Palestina Israel Di Harian Kompas Dan Republika,” (skripsi S 1 Fakultas Dakwah Dan

    Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta,2008).

    55

    John Fiske, Cultural and Communication Stidiest, Sebuah Pengantar paling

    Komprehensif, Jalan Sutera,h. 239. 56

    James Lull, Media Komunikasi Kebudayaan: Suatu Pendekatan, Jakarta, Global,

    1998,h.34

     

  • 48

    pihakmedia masa merupakan sebuah medium penyampai informasi

    dan dipihak lain media masa dapat pula dijadikan sebagai alat

    penyebar luasan ideologi golongan tertentu. Oleh karena itu, media

    mssa seringkalimemiliki kepentingan tertentu.

    Kekuatan yang bermain di dalam dan di luar media diyakini

    memiliki pengaruh terhadap proses komunikasi yang dilakukan media

    masa tersebut. Dalam beberapa kasus, pemberitaan media melibatkan

    dominasi kelompok-kelompok dominan. Sebagai medium

    penyampaian pesan, media memang tidak bisa bersifat netral.Begitu

    pula pesan-pesan yang terkandung di dalamnya juga tidak bisa

    dikatakan bebas nilai karena pesan-pesan tersebut mengandung

    makna-makna tertentu dan seringkali mengandung pesan yang sarat

    dengan muatan ideologis.

    Teori-teori klasik ideologi diantaranya mengatakan bahwa

    ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujauan untuk

    memproduksi dan melegitimasi dominasi mereka.58

    Pengaruh media

    masa yang begitu besar terhadap masyarakat membuat media masa

    dijadikan alat oleh kelompok-kelompok tertentu dalam

    mengomunikasikan ideologi-ideologi demi kepentingan mereka.

    Shoemaker dan Reese59

    melihat ideologi sebagai salah satu

    faktor yang dapat memengaruhi isi media.Ideologi diartikan sebagai

    58Eriyanto, Analisis Wacana, Pengantar Analisis teks Media,h. 13.

    59Shoemacker dan Roses dalam Ulul Azmi, “Konstruksi Realitas Islam Di Media Massa:

    Analisis framing; Konflik Palestina Israel Di Harian Kompas Dan Republika,” (skripsi S 1

    Fakultas Dakwah Dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta,2008).

     

  • 49

    suatu mekanisme simbolok yang berperan sebagai kekuatan pengikat

    dalam masyarakat.Tingkat ideologi menekankan pada kepentingan

    siapakah seluruh rutinitas dan organisasi media itu bekerja.

    Hal ini tidak lepas dari unsur nilai, kepentingan dan kekuatan

    atau kekuasaan apa yang ada dalam media tersebut. Kekuasaan

    tersebut berusaha dijalankan dan disebarkan melalui media sehingga

    media tidak lagi bersifat netral. Media bukanlah ranah netral dimana

    berbagai kepentingan dan pemaknaan dari berbagai kelompok akan

    mendapat perlakuan yang sama dan seimbang.60

    Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa media seringkali

    dijadikan alat oleh kelompok pemegang kekuasaan dan kekuatan

    dalam masyarakat. Nilai yang dianggap penting bagi pemegang

    kekuasaan disebarkan melalui media, sehingga isi media

    mencerminkan apa yang diinginkan oleh pemilik kekuasaan tersebut.

    Ideologi bekerja melalui bahasa dan bahasa adalah medium

    tindakan sosial.61

    Dalam media massa, aspek-aspek ideologi dapat

    dilihat dari bagaiman mereka menyampaikan pesan kepada

    khalayaknya. Dalam hal ini pesan-pesan disampaikan melalui simbol-

    simbol baik verbal maupun non verbal. Simbol-simbol itu dapat

    mewakili ide, perasaan, pikiran serta ideologi.Ideologi secara verbal