Proposal Keuangan Bu Siti_analisis Rasio_perlu Diedit Lagi

  • Published on
    19-Jun-2015

  • View
    671

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS), PRICE EARNING RATIO (PER), DAN DEBT TO EQUITY RATIO (DER) TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2007-2009

Oleh: Ahmad Nizar Yogatama 07610011

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2010

PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS), PRICE EARNING RATIO (PER), DAN DEBT TO EQUITY RATIO (DER) TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2007-2009

A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk terbesar kedua di dunia. Dengan jumlah penduduk yang sangat fantastis seperti ini, tentunya akan sangat banyak memerlukan perhatian ekstra dari pihak yang berkuasa, dalam hal ini pemerintah demi meningkatkan kemiskinan. Manusia pada umumnya, dalam kehidupan pasti mempunyai banyak sekali kebutuhan dalam hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan hidup itupun masih dibagi lagi menjadi beberapa sub-kebutuhan. Diantara banyaknya kebutuhan hidup masyarakat tersebut, kebutuhan pokok merupakan kunci dari terciptanya kehidupan yang adil dan makmur, maka tidak heran Apabila bisnis yang bergerak di kebutuhan primer atau kebutuhan pokok akan selalu berjaya di banyak kondisi ekonomi apapun. kesejahteraan hidup rakyatnya dengan cara mengurangi

Industri yang bergerak di penyediaan barang-barang pokok atau primer bagi masyarakat sangat banyak sekali jenisnya. Industri ini dinamakan industri manufaktur. Industri manufaktur mempunyai banyak pula sub-industri

Diantaranya industri makanan dan minuman, tekstill, rokok, garmen dan sepatu, kertas, bahan kimia, semen, otomotif, dan lain sebagainya. Di era perkembangan ekonomi yang makin pesat seperti saat ini, industri manufaktur juga berkembang dengan sangat cepat pula seiiring konsumen yang semakin banyak dengan indicator adalah jumlah penduduk yang banyak, maka kebutuhan masyarakat akan kebutuhan primer juga akan meningkat pastinya. Tidak hanya itu saja, kebutuhan primer ini juga terkadang beragam pula jenisnya karena walaupun secara umum di Indonesia saja, beras bukanlah satu-satunya kebutuhan makanan pokok. Perkembangan pesat ini, membuat industri sebesar manufaktur pun kewalahan dalam menyediakan kebutuhan primer ini. Seiring perkembangan teknologi pula, maka industri manufaktur khususnya dalam bidang makanan dan minuman dapat menarik modal dari masyarakat dalam bentuk efek atau surat berharga yang didalam surat berharga tersebut ada yang disebut dengan nama saham. Pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan di bidang makanan dan minuman melalui bursa

efek dinamakan sebagai investor. Para investor, secara umum tentu tidak ingin mengalami kerugian setelah menanamkan modalnya pada suatu perusahaan. Dengan latar belakang seperti itu, maka investor tentu akan mempunyai begitu banyak pertimbangan ketika akan menanamkan modalnya. Salah satu indicator penting bagi investor sebelum menanamkan modalnya adalah seberapa besar return saham yang akan diterimanya di kemudian hari. Return saham tentu sangat mempunyai peran yang penting, karena pada dasarnya investor dalam mengambil setiap keputusan investasi adalah berusaha untuk meminimalisir risiko yang timbul, baik risiko yang bersifat jangka pendek maupun risiko yang bersifat jangka panjang. Setiap perubahan berbagai kondisi mikro dan makro ekonomi akan turut mendorong terbentuknya berbagai kondisi yang mengharuskan seseorang investor memutuskan apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang harus dilakukan agar ia tetap memperoleh return yang diharapkan. Sebelum memikirkan seberapa besar return yang akan diterima, ada baiknya sebagai investor terlebih dahulu memilih perusahaan mana yang pantas dijadikan sasaran penanaman modal bagi seorang investor. Dalam menilai sebuah perusahaan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah dengan melakukan analisis rasio, yang didasarkan pada data time series analysis.

Rasio-rasio yang digunakan dalam menilai kinerja keuangan perusahaan ini secara umum terdiri dari lima jenis rasio dengan fungsi masing-masing. Yang sangat umum digunakan oleh investor sebagai dasar sebelum melakukan investasi adalah rasio likuiditas, dimana rasio ini menilai bagaimana suatu perusahaan dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya, dan saham termasuk dalam kewajiban jangka pendek tersebut. Perlu diketahui, bahwa perusahaan dalam melakukan kegiatan bisnis tidak pernah selamanya mulus, maka suatu perusahaan tersebut akan juga memerlukan dana yang lebih besar dan memerlukan waktu yang lebih lama dalam waktu pengembaliannya. Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam menghapus atau mengurangi hutang-hutangnya. Rasio yang digunakan dalam mengukur, bagaimana suatu perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya adalah denagan

menggunakan rasio leverage atau rasio solvabilitas. Secara umum rasio solvabilitas ini mengukur bagaimana perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Setiap perusahaan yang tidak solvable adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan dengan total asetnya. Dengan mengantisipasi perusahaan yang memiliki total hutang lebih banyak dari total asetnya, maka perusahaan tersebut mempunyai risiko yang sangat besar ketika seorang investor akan menanamkan modalnya, karena

kemungkinan terburuk ketika perusahaan tersebut tiba-tiba jatuh bangkrut, maka selaku pemegang saham yang bertindak juga sebagai pemilik akan terkenan dampak yang sangat besar pula, tentunya semua investor tidak menginginkan hal ini, maka dengan hal ini analisis rasio solvabilitas sangat penting dilakukan khususnya pada debt to equity ratio untuk melihat seberapa besar hutang perusahaan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan total asset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Selain rasio solvabilitas untuk mengetahui seberapa besar hutang perusahaan, adapula rasio yang digunakan untuk melihat kondisi pasar. Hal ini tidak kalah pentingnya, karena kondisi pasar sangat mempengaruhi nilai dari suatu saham. Rasio nilai pasar yang paling difavoritkan oleh investor karena selain mudah dihitung, juga sangat bagus dalam mengapresiasi kondisi pasar adalah price earning ratio. Price earning ratio (PER) menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio ini melihat PER harga saham relative terhadap earning-nya. Perusahaan yang diharapkan akan tumbuh tinggi (mempunyai prospek baik) mempunyai PER yang tinggi, sebaliknya perusahaan yang diharapkan mempunyai pertumbuhan rendah akan mempunyai PER rendah.

Dari segi investor, PER yang terlalu tinggi barangkali tidak menarik karena harga saham barangkali tidak akan naik lagi, yang berarti kemungkinan memperoleh capital gain akan lebih kecil. Rasio ini cukup berarti bagi investor, karena deviden yield merupakan Bagian dari toal return yang akan diperoleh investor. Bagian return yang lain adalah capital gain, yang diperoleh dari selisish positif antara harga jual dan harga beli. Apabila selisish negative yang terjadi adalah capital loss. Selain price earning ratio dalam rasio nilai pasar, seorang investor juga harus mempertimbangkan earning per share. Earning per share digunakan oleh investor dalam mengkalkulasikan laba bersih yang diperoleh per lembar saham. EPS dilakukan oleh investor untuk melihat gambaran profitabilitas perusahaan yang tergambar pada setiap lembar saham. Semakin tinggi niali EPS tentu saja menyebabkan semakin besar labadan kemungkinan peningkatan jumlah deviden yang diterima pemegang saham. Dalam analisa fundamental, cukup banyak analisa ratio-ratio yang dipergunakan. Salah satu ratio yang paling favorit dipergunakan adalah ratio harga dengan laba bersih (price earning ratio). PER menjadi favorit karena cukup mudah dipahami oleh investor maupun calon investor. PER sangat mudah dihitung. Dengan mengetahui harga di pasar dan laba bersih per saham, maka investor bisa menghitung berapa PER saham tersebut.

Semakin besar earning semakin rendah PER saham tersebut dan sebaliknya. Namun perlu dipahami, karena investasi di saham lebih banyak terkait dengan ekspektasi maka laba bersih yang dipakai dalam perhitungan biasanya laba bersih proyeksi untuk tahun berjalan. Dengan begitu bisa dipahami jika emiten berhasil membukukan laba besar, maka sahamnya akan diburu investor karena proyeksi laba untuk tahun berjalan kemungkinan besar akan naik. Besaran PER akan berubah-ubah mengikuti perubahan harga di pasar dan proyeksi laba bersih perseroan. Jika harga naik, proyeksi laba tetap, praktis PER akan naik. Sebaliknya jika proyeksi laba naik, harga di pasar tidak bergerak maka PER akan turun. PER kerap dijadikan indikator oleh investor untuk membuat keputusan investasi di saham. Ada asumsi, semakin rendah PER berarti semakin murah harga saham yang bersangkutan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan debt to equity ratio dan earning per share. Dengan melakukan analisis rasio keuangan, investor banyak terbantu dalam membuat keputusan investasi sebelum melakukan eksekusi. Adapun dengan melihat hasil analisis rasio keuangan dapat diketahui pulA seberapa besar kekuatan dan kelemahan yang dimiliki suatu perusahaan. Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS), PRICE EARNING RATIO (PER), DAN DEBT TO EQUITY RATIO (DER) TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MAKANAN

DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) 2007-2009.

B.

Rumusan Masalah Perumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Apakah earning per share (EPS) berpengaruh terhadap return saham pada

perusahaan makanan dan minuman.2. Apakah price earning ratio (PER) berpengaruh terhadap return saham pada

perusahaan makanan dan minuman.3. Apakah