Potensi Desa Kalibangkang Sebagai Desa Wisata di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen

  • Published on
    09-Mar-2016

  • View
    222

  • Download
    0

DESCRIPTION

Segala Potensi yang ada di Desa Kalibangkang

Transcript

ARTIKEL PUBLIKASI Tugas Mata Kuliah Seminar Penelitian POTENSI DESA KALIBANGKANG SEBAGAI KAWASAN DESA WISATA DI KECAMATAN AYAH, KABUPATEN KEBUMEN Disusun Oleh : IQBAL REZA BUDIANTONO D 300 120 089 Dosen Pembimbing : Nur Rahmawati, S.T, M.T. PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA JANUARI 2016 POTENSI DESA KALIBANGKANG SEBAGAI KAWASAN DESA WISATA DI KECAMATAN AYAH, KABUPATEN KEBUMEN Iqbal Reza Budiantono : NIM. D 300 120 089 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jln. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102. Telp 0271 717417 e-mail : iqbalrezabudi@gmail.com ABSTRAC The study was based on the potential for an area to be used as a tourist attraction. In this study the authors are focus kinds of tours such as the Tourism Village. Travel in the floating village there must be a few points potential fulfilled. Potential divided into two, namely the potential for physical and non-physical. Physical potential is all there in a village in the form of a physical state of a village, both Natural conditions, facilities, infrastructure and others. While the potential of Non-Physical is the potential that is not physically visible, which can be a Villager, Culture, Arts, and others. In this study the authors tried to raise a potential issue to be discussed village. The village became the Village Kalibangkang Research Area, District Ayah, Kebumen, Central Java Province. Keywords: Potential, Village, Travel A. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kalibangkang merupakan sebuah desa di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa Kalibangkang berada di ujung barat daya Kabupaten Kebumen. Dari Kota Kebumen berjarak kurang lebih 50 km dengan waktu tempuh mencapai 1,5-2 jam, karena infrastruktur jalan untuk menuju Desa Kalibangkang yang sempit, berkelok-kelok dan menajak. Kondisi geografis Kalibangkang berada di tengah kawasan pegunungan Karst Gombong Selatan, dengan ketinggian tanah rata-rata 331 meter diatas permukaan laut. Jika ditempuh melalui jalur barat (Kebumen-Gombong-Rowokele-Ayah-Kalibangkang), untuk menuju Desa Kalibangkang harus menempuh jalan ekstrim sepanjang 6 km. Sementara, jika ditempuh melalui jalur timur (Kebumen-Gombong-Buayan-Kalibangkang), menempuh jalan sepanjang 9 km dengan kondisi jalan yang sama dengan jalur barat. Hal tersebut menyebabkan waktu tempuh menuju desa Kalibangkang cukup lama. Secara umum, warga Desa Kalibangkang sangat agamis, dengan kecenderungan agama Islam, cukup terpelajar, dan berpandangan maju. Masyarakat secara umum mudah untuk diajak maju. Secara ekonomi, warga Kalibangkang mayoritas berprofesi sebagai pengrajin Gula Kelapa atau sering disebut "nderes". Impian warga desa Kalibangkang adalah mendapatkan perhatian khusus bagi para pengrajin Gula Kelapa serta mempunyai infrastruktru jalan yang layak untuk menunjang perkembangan ekonomi warga Desa Kalibangkang. Dari besarnya potensi Desa Kalibangkang yang ada, dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan sebagai Desa Wisata. Potensi Kawasan Desa Kalibangkang yang sangat bagus dapat dioptimalkan untuk mendukung Desa Kalibangkang sebagai Desa Wisata, serta dapat mewadahi SDM di Desa Kalibangkang. Selain untuk meningkatkan kualitas perekonomian warga, pengembangan Desa Kalibangkang sebagai Desa Wisata juga bertujuan untuk mengenalkan keindahan alam, tradisi budaya, kuliner dan lainnya kepada khalayak umum serta untuk mengimbangi persaingan industri pariwisata di Indonesia, Propinsi Jawa Tengah & DIY Khususnya. Seiring meningkatnya pelaku wisata saat ini, baik wisatawan lokal maupun macanegara yang mengunjungi objek-objek wisata di Indonesia khususnya di Propinsi Jawa Tengah & DIY, serta besarnya potensi wisata yang ada di Desa Kalibangkang, maka diadakan penelitian Potensi Desa Wisata di Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Dalam pemilihan Kawasan Desa Wisata di Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen menjadi salah satu Objek Wisata di Kabupaten Kebumen, yaitu diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga Desa Kalibangkang serta dapat mengenalkan Desa Kalibangkang kepada khalayak umum, untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara agar datang ke Kabupaten Kebumen, khususnya ke Desa Kalibangkang. 1.2. Perumusan Masalah Bagaimana potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen untuk dapat dijadikan Objek Wisata di Kabupaten Kebumen? 1.3. Tujuan Penelitian Mengetahui potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen untuk dapat dijadikan Objek Wisata di Kabupaten Kebumen. 1.4. Manfaat Penelitian a. Membantu Desa Kalibangkang untuk menggali serta mengembangkan potensi pariwisata yang dapat berpengaruh terhadap perekonomian warga Desa Kalibangkang. b. Hasil penelitian dapat dijadikan literatur bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta. B. TINJAUAN PUSTAKA B.1. Definisi Pariwisata B.1.1. Pengertian Pariwisata Menurut Richard Sihite (Marpaung & Bahar, 2000) menjelaskan definisi pariwisata sebagai berikut : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamsyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Menurut Kodhyat (1983) adalah sebagai berikut : Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Menurut James J. Spillane (1982) mengemukakan bahwa pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain. Menurut pendapat Oka A.Yoeti (1991) Pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap. Sedangkan wisata dapat diartikan sebagai perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata âtravelâ dalam bahasa Inggris. Atas dasar itu, maka kata âPariwisataâ dapat diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan âTourâ. Menurut Suyitno (2001) tentang Pariwisata sebagai berikut : a. Bersifat sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan kembali ke tempat asalnya. b. Melibatkan beberapa komponen wisata, misalnya sarana transportasi, akomodasi, restoran, obyek wisata, souvenir dan lain-lain. c. Memiliki tujuan tertentu yang intinya untuk mendapatkan kesenanga. d. Tidak untuk mencari nafkah di tempat tujuan, bahkan keberadaannya dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi masyarakat atau daerah yang dikunjungi, karena uang yang di belanjakannya dibawa dari tempat asal. B.1.2. Pengertian Kepariwisataan Hunziger dan Kraf dalam Irawan (2010:11) menjelaskan, memberikan batasan pariwisata yang bersifat teknis, yaitu ââ¦kepariwisataan adalah keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnyaorang asing di suatu tempat, dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal ditempat itu untuk melakukan pekerjaan yang penting yang memberi keuntungan yang bersifat permanen maupun sementaraâ. Ketetapan MPRS No. 1 Tahun 1960 dalam Irawan (2010:11) kepariwisatan dalam dunia modern pada hakekatnya adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam memberi liburan rohani dan jasmani setelah beberapa waktu bekerja serta mempunyai modal untuk melihat daerah lain (pariwisata dalam negri) atau negara lain (pariwisata luar negri). B.1.3. Pengertian Wisatawan Menurut Smith dalam Kusumaningrum (2009:16), menjelaskan bahwa wisatawan adalah orang yang sedang tidak bekerja, atau sedang berlibur dan secara sukarela mengunjungi daerah lain untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Menurut WTO dalam Kusumaningrum (2009:17) membagi wisatawan kedalam tiga bagian yaitu: a. Pengunjung adalah setiap orang yang berhubungan ke suatu Negara lain dimana ia mempunyai tempat kediaman, dengan alasan melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Negara yang dikunjunginya. b. Wisatawan adalah setiap orang yang bertempat tinggal di suatu Negara tanpa tanpa memandang kewarganegaraannya, berkunjung kesuatu tempat pada Negara yang sama untuk waktu lebih dari 24 jam yang tujuan perjalanannya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Memanfaatkan waktu luang untuk rekreasi, liburan, kesehatan, pendidikan, keagamaan dan olahraga. 2) Bisnis atau mengunjungi kaum keluarga. c. Darmawisata atau excursionist adalah pengunjung sementara yang menetap kurang dari 24 jam di Negara yang dikunjungi, termasuk orang yang berkeliling dengan kapal pesiar. Instruksi Presiden RI No. 9, 1969, bab 1 pasal 1 dalam Irawan (2010:13) dijelaskan bahwa ââ¦wisatawan ialah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggal untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan ituâ. Wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah biasanya benar-benar ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai, menyegarkan fikiran dan benar-benar ingin melepaskan diri dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Jadi bisa juga dikatakan wisatawan adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari suatu tempat lain yang yang jauh dari rumahnya bukan dengan alasan rumah atau kantor (Kusumaningrum, 2009: 17). B.2. Jenis Pariwisata Menurut Pendit (1994) dalam Preasetyo (2012:12-14) diuraikan mengenai beberapa jenis objek wisata yang dikelompokkan berdasarkan alasan motivasi serta tujuan wisatawan dalam melakukan suatu perjalanan wisata, antara lain : a. Objek Wisata Budaya Perjalanan ke objek wisata ini dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang, dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tampat lain, untuk mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat-istiadat, cara hidup dan seni mereka. b. Objek Wisata Kesehatan Perjalanan seorang wisatawan ke objek wisata ini dilakukan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan tepat sehari-hari dimana ia tinggal demi kepentingan kesehatannya dan untuk beristirahat. c. Objek Wisata Olahraga Wistawan yang melakukan perjalanan ke objek wisata ini mempunyai tujuan untuk berolahraga atau memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif dalam pesta olahraga di suatu tempat atau negara tertentu. d. Objek Wisata Komersial Perjalanan yang dilakukan objek wisata ini dengna tujuan untuk mengunjungi pameran-pameran dan pekan raya yang bersifat komersial. e. Objek Wisata Politik Perjalanan ke objek wisata ini dilakukan dengan tujuan untuk mengunjungi atau mengambil bagian aktif dalam peristiwa kegiatan politik. f. Objek Wisata Pilgirm Perjalanan wisata ke tempat ini sering dihubungkan dengna agama, sejarah, adat-istiadat, dan kepercayaan wisatawan, dan bisasanya mempunyai tujuan yang dihubungkan dengna niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman, dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. g. Objek Wisata Bahari Perjalanan ke objek wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatna olehraga di air. Seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar, atau berkeliling melihat taman dengan pemandangan indah di bawah permukaan air. 1. 2. 2.1. 2.2. 2.3. Definisi Desa 1. 1.1. 1.2. Menurut Sutardjo Kartodikusuma dalam Prasetyo (2012:9-10) Desa adalah suatu kesataun hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesataun goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Paul H. Landis dalam Prasetyo (2012:10) Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut : a. mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa. b. ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan c. cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 dalam Prasetyo (2012:10) disebutkan pengertian desa sebagai kesataun masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesataun Republik Indonesia. 2. 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Definisi Desa Wisata 2.4.1. Pengertian Desa Wisata Menurut Inskeep (1991) dalam Tim KKN-PPM STP Bandung dkk (2012:4). âDesa Wisata, adalah dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, biasanyadi desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.â Dari pengertian di atas dapat dijelaskan, Desa Wisata merupakan suatu kawasan dengan daya tarik khusus, yaitu berupa ciri dan nilai tertentu pada kawasan yang dapat menarik wisatawan dengan minat khusus terhadap kehidupan pedesaan. Hal tersebut menunjukkan, kehidupan unik pedesaan yang tidak dapat ditemukan di kota-kota menjadi daya tarik utama dari sebuah Desa Wisata. Menurut Fandeli (2002) dalam Astuti (2012:17) secara lebih komprehensif menjabarkan desa wisata sebagai suatu wilayah pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian desa, baik dari segi kehidupan sosial budaya, adat istiadat, aktifitas keseharian, arsitektur bangunan, dan struktur tata ruang desa, serta potensi yang mampu dikembangkan sebagai daya tarik wisata, misalnya: atraksi, makanan dan minuman, cinderamata, penginapan, dan kebutuhan wisata lainnya. Menurut Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (2011) dalam Astuti (2012:17) Desa wisata merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Suatu desa wisata memiliki daya tarik yang khas (dapat berupa keunikan fisik lingkungan alam perdesaan, maupun kehidupan sosial budaya masyarakatnya) yang dikemas secara alami dan menarik sehingga daya tarik perdesaan dapat menggerakkan kunjungan wisatawan ke desa tersebut. Pariasukmana (2001) dalam Astuti (2012:18) menjelaskan, Menurut Pariwisata Inti Rakyat (PIR) yang dimaksud dengan desa wisata adalah suatu daerah wisata yang menyajikan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian perdesaan baik dari sisi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, keseharian, adat istiadat, memiliki arsitektur dan tata ruang yang khas dan unik, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkannya komponen kepariwisataan. 2.4.2. Pengertian Wisata Pedesaan Wisata pedesaan merupakan aktivitas yang dilakukandi suatu Desa Wisata. Inti utama dari wisata pedesaan adalah aktivitas warga pedesaan yang unik. Wisata pedesaan memberikan kesempatan masyarakat kota untuk mengenal kehidupan pedesaan melalui aktivitas-aktivitas tersebut. Wisata pedesaan mampu memberikanmanfaat sosial bagi masyarakat desa seperti kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dari luar desa, kemampuan untuk bersosialisasi, dan membuka wawasan lebih luas mengenai dunia. Selain itu, wisata pedesaan juga mampu memberikan keuntungan secara ekonomi. Kegiatan wisata pedesaan antara lain dapat memanfaatkan: a. Desa Nelayan b. Tanah Pertanian c. Peternakan d. Wisata Desa Tim KKN-PPM STP Bandung dkk (2012:5) 2.5. Karakteristik Desa Wisata Menurut Oka A. Yoeti, (1985) dalam Prasetyo (2012:12), menyebutkan, karakteristik tersebut antara lain : a. Daerah itu harus mempunyai apa yang disebut sebagai âsomething to seeâ. Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain. Dengan kata lain, daerah itu harus mempunyai daya tarik yang khusus dan unik. b. Daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah âsomething to doâ. Artinya di tempat tersebut selain banyak yang dapat disaksikan, harus disediakan pula fasilitas rekreasi atau amusement yang dapat membuat wisatawan betah tinggal lebih lama di tempat itu. c. Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengna istilah âsomething to buyâ. Artinya di tempat tersebut harus ada fasilitas untuk berbelanja, terutama barang-barang souvenir dan kerajinan tangan rakyat sebagai oleh-oleh dibawa pulang C. METODE PENELITIAN 3. 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan prosedur pemecahan masalah deskriptif, yaitu dengan menggambarkan kondisi atau keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta di lapangan yang tampak pada saat ini secara sistematis dan dilaksanakan setelah mendapatkan data-data dari studi literatur, hasil observasi serta wawancara, kemudian disajikan secara deskriptif. Penelitian ini adalah hasil dari studi literatur, observasi objek penelitian serta wawancara dengan beberapa pihak yang bersangkutan di kawasan Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, dengan pendekatan fisik (kondisi bangunan, lingkungan, dan lain-lain) serta non fisik (sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain), kemudian dijelaskan serta digambarkan secara deskriptif untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang ada pada situasi itu dengan solusi yang terpadu dan berkelanjutan. 1. 2. 3. 3.1. 3.2. Tahap Pengumpulan Data 4. 5. 6. 6.1. 6.2. 6.3. 4. 4.1. 4.2. 4.3. 1. 2. 3. 3.1. 3.2. 3.2.1. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara: a. Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengamati, meneliti atau mengukur kondisi nyata di lapangan yang sedang berlangsung (kondisi saat ini), sehingga data yang diperoleh bersifat aktual dan faktual karena diperoleh saat peristiwa beerlangsung. b. Studi Pustaka Studi Pustaka merupakan metode pengumpulan data atau teori-teori yang didapatkan dari buku-buku, jurnal-jurnal, penelitian terdahulu, maupun media online yang berkaitan dengan penelitian ini, sebagai bahan pendukung dalam proses pengumpulan data serta sebagai acuan pokok bahasan dengan menunjukkan bahan-bahan atau data-data yang akan dikaji dalam penelitian. c. Studi Dokumen Studi Dokumen merupakan metode pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data-data relevan berupa buku-buku, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, dan lain-lain, langsung dari tempat penelitian atau Kelurahan Desa Kalibangkang. d. Interview (wawancara) Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan berinteraksi atau berkomunikasi langsung dengan responden melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada responden dan jawaban dapat dicatat atau direkam menggunakan alat perekam. Wawancara dilakukan terhadap warga Desa Kalibangkang yang berkaitan, baik para pengrajin Gula Kelapa maupun pihak pemerintahan atau Kelurahan Desa Kalibangkang. e. Analisis Setelah semua data-data yang dibutuhkan terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu menjelaskan, menggambarkan, menguraikan hubungan antara fenomena yang diteliti atau permasalahan-permasalahan serta data-data dengan seitematis, faktual dan akurat, kemudian dimanfaatkan untuk menjawab persoalan atau permasaahan yang ada dalam rumusan masalah dengan solusi yang terpadu dan berkelanjutan. 1. 2. 3. 3.1. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah di Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Desa Kalibangkang terletak di tengah kawasan Karst Gombong Selatan yang merupakan kawasan pegunungan kapur berkontur dengan ketinggian permukaan tanah rata-rata 331 meter di atas permukaan laut. Desa Kalibangkang memiliki luas lahan sebesar 400,92Ha dengan jumlah penduduk 3.622 jiwa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin Gula Kelapa. Kawasan Desa Kalibangkang berada pada point center kawasan wisata Kecamatan Ayah, dan berbatasan langsung dengan: a. Utara : Desa Tlagasari, Kecamatan Ayah b. Timur : Desa Watukelir, Kecamatan Ayah c. Selatan : Desa Argosari, Kecamatan Ayah d. Barat : Desa Tlagasari, Kecamatan Ayah 1. 2. 3. 3.1. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. 3.2.3. Peralatan Penelitian Beberapa peralatan yang digunakan untuk mendukung kelancaran proses penelitian ini, adalah sebagai berikut: a. Alat Tulis Alat tulis berupa pensil, bolpoin, kertas, penggaris, dan perlengkapan tulis lainnya digunakan sebagai alat pendukung dalam proses pengumpulan data di lapangan atau observasi objek. b. Kamera Kamera Canon 1000D digunakan sebagai alat dokumentasi dalam proses pengumpulan data di lapangan. c. Laptop Laptop Acer Aspire digunakan sebagai alat pendukung dalam proses pengumpulan data yang bersumber dari internet dan sebagai alat dalam penyusunnan laporan hasil penelitian di lapangan. d. Printer Printer Canon iP1980 digunakan sebagai alat pencetak laporan hasil penelitian di lapangan. e. Transportasi Kendaraan bermotor digunakan sebagai alat mobilisasi peneliti dalam proses pengumpulan data di lapangan. 1. 2. 3. 3.1. 3.2. 3.3. Variabel Parameter Penelitian Menurut Soemarno (2010:2) Penetapan suatu desa dijadikan sebagai desa wisata harus memenuhi persyaratan-persyaratan, antara lain: a. Aksesbilitasnya baik, sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi. b. Memiliki obyek-obyek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan local, dan sebagainya untuk dikembangkan sebagai obyek wisata. c. Masyarakat dan aparat desanya menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa wisata serta para wisatawan yang datang ke desanya. d. Keamanan di desa tersebut terjamin. e. Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai. f. Beriklim sejuk atau dingin. g. Berhubungan dengan obyek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Menurut Spillane (1994:69) Pengembangan pariwisata harus merupakan langkah yang komperhensif dan terintegrasi, meliputi lima unsur yang penting yakni: a. Atraction (adanya daya tarik, dapat berupa pertunjukan atau obyek-obyek yang menarik para wisatawan dan lain-lain) b. Facilities (adanya fasilitas â fasilitas yang diperlukan) c. Infrastructure (adanya infrastruktur yang diperlukan) d. Transportation (adanya jasa pengangkutan atau transportasi yang nyaman) e. Hospitality (kesediaan untuk menerima tamu dengan ramah dan mengesankan, atau pelayanan terhadap pengunjung). Dari kutipan tersebut diatas, peneliti mengelompokkan potensi desa menjadi dua, yaitu berupa potensi fisik desa dan potensi non fisik desa. Dua potensi desa yaitu berupa potensi fisik dan potensi non fisik, dijelaskan sebagai berikut: a. Potensi Fisik Potensi fisik merupakan segala potensi desa yang berkaitan dengan sumber daya alam desa seperti tanah, air, lahan pertanian, hewan ternak, cuaca iklim dan lain-lain. Kondisi alam dan letak desa di Indonesia sangat beragam. Desa yang berlokasi di pesisir pantai, daratan atau pegunungan tentu berbeda potensi alamnya. b. Potensi Non Fisik Potensi non fisik merupakan segala potensi desa yang berkaitan dengan masyarakat desa dan tata perilakunya (kehidupan atau budaya), yaitu berupa lembaga desa, aparatur desa, adat istiadat dan budaya. Suatu desa dengan masyarakatya yang hidup dalam waktu lama akan membentuk tata kehidupan atau budaya (kebiasaan) tersendiri. Tata kehidupan atau budaya (kebiasan) suatu desa dapat dipengaruhi oleh kondisi alam dan lokasi wilayah desa itu sendiri. Tabel Pengelompokan Potensi Fisik dan Non Fisik Potensi Fisik 1. Sumber Daya Alam (SDA) a. Tanah b. Air c. Iklim d. Pertanian dan Perkebunan e. Ternak f. Hasil Tambang g. Flora dan Fauna 1. Fasilitas a. Akomodasi b. Fasilitas Makan dan Minum c. Masjid/Musholla d. MCK e. Pusat Pengunjung (Visitor Center) f. Pusat Jajanan dan Cinderamata g. Jasa Pemandu h. Keamanan 2. Infrastruktur a. Jalan b. Kelistrikan c. Air Bersih d. Drainase e. Telekomunikasi 4. Aksesibilitas a. Kondisi Medan b. Sarana Transportasi c. Papan Arah d. Jarak dan Waktu Tempuh Potensi Non Fisik 1. Daya Tarik (Atraction) a. Sejarah/Legenda b. Tradisi Budaya c. Seni dan Musik d. Makanan Lokal/Tradisional e. Pakaian Lokal/Tradisional f. Kerajinan g. Arsitektur h. Agama i. Bahasa j. Cara Hidup Masyarakat 2. Penduduk Desa a. Sumber Daya Manusia (SDM) b. Lembaga dan Organisasi Sosial c. Aparatur dan Pamong Desa d. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) e. Pelayanan (Hospitality) D. E. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 4.1. Gambaran Umum Desa Kalibangkang 4.4. 1. 2. 3. 4. 4.1. 4.1.1. Geografis Desa Kalibangkang 1. Letak dan Luas Wilayah Gambar Peta Desa Kalibangkang (Sumber: Arsip Desa Kalibangkang, 2010) Desa Kalibangkang terletak di kawasan pegunungan kapur Karst Gombong Selatan dengan luas wilayah secara keseluruhan 400,92 Ha dan ketinggian permukaan tanah rata-rata 331 meter diatas permukaan laut. Secara administratif, Desa Kalibangkang termasuk dalam wilayah Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, dan berbatasan langsung dengan: 1. Sebelah Utara : Desa Tlagasari, Kecamatan Ayah 2. Sebelah Timur : Desa Watukelir, Kecamatan Ayah 3. Sebelah Selatan : Desa Argosari, Kecamatan Ayah 4. Sebelah Barat : Desa Tlagasari, Kecamatan Ayah Desa Kalibangkang memiliki 5 RW dan 25 RT. Secara tradisional, Desa Kalibangkang terbagi dalam beberapa perdukuhan, antara lain: Dk. Gunung Duwur, Dk. Panggang Ayam, Dk. Masaran, Dk. Sarajaya, Dk. Banteng, Dk. Pogog, Dk. Dukuh, Dk. Bojong, Dk. Sari. 2. Topografi Gambar Grafik KonturPermukaanTanah Desa Kalibangkang (Sumber: Google Earth, 2015) Desa Kalibangkang merupakan daerah perbukitan kapur yang berkontur. Pada sisi bagian barat Desa Kalibangkang memiliki kontur tanah yang turun curam/miring (lebih rendah), pada bagian tengah relatif datar, dan pada sisi bagian timur naik curam/miring (lebih tinggi). Dari perbatasan Desa Kalibangkang sebelah barat (Desa Tlagasari) sampai perbatasan Desa Kalibangkang sebelah timur (Desa Watukelir) dapat ditempuh dengan jarak kurang-lebih 3 km atau 3000 m. 4.2. 4.3. 1. 2. 3. 4. 4.1. 4.1.1. 4.1.2. Sejarah Desa Kalibangkang pada dasarnya tidak memiliki sejarah terbentuknya desa yang jelas dan ilmiah, karena tidak didukung oleh data-data ilmiah semacam peninggalan-peninggalan yang otentik, prasasti maupun tulisan-tulisan kuno. Sejarah yang ada hanyalah sepenggal cerita dari orang-orang tua yang saat ini masih âtersisaâ, itupun masih bersifat cerita turun-temurun. Kalibangkang berasal dari kata âKaliâ dan âBangkangâ. Kali berasal dari bahasa jawa, yang artinya sungai. Tetapi kata âkaliâ di Desa Kalibangkang mempunyai arti yang lebih spesifik, yaitu bukan kali yang berfungsi sebagai sarana salura air atau irigasi, tetapi âkaliâ yang dimaksud adalah âmata airâ. Sedangkan kata âbangkangâ, berasal dari nama hewan amphipi semacam keong atau siput yang hidup di âkaliâ. Jadilah kata âkaliâ dan âbangkangâ tersebut nama sebuah desa, yaitu Kalibangkang. Keberadaan âkaliâ tersebut sekarang masih dapat ditemukan dan sudah beralih fungsi menjadi sumur kepemilikan sodara Samid, yaitu di Dk. Banteng RT 06 RW 01 Desa Kalibangkang. 1. 2. 3. 4. 4.1. 4.2. Analisis Pembahasan Desa Kalibangkang berpotensi sebagai objek wisata Dari deskripsi di atas telah dijelaskan bagaimana Potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kalibangkang. Dan pada poin ini, akan dijelaskan seberapa besar potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kalibangkang menurut peneliti, yaitu sebagai berikut: Tabel Nilai Potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kalibangkang No Jenis dan Unsur Potensi Nilai Potensi Fisik 1. Sumber Daya Alam (SDA)   a.     Tanah 9 b.     Air 9 c.     Iklim 7 d.     Pertanian dan Perkebunan 8 e.     Ternak 7 f.      Hasil Tambang 6 g.     Flora dan Fauna 9 2. Fasilitas   a.     Akomodasi 5 b.     Fasilitas Makan dan Minum 7 c.     Masjid/Musholla 9 d.     MCK 6 e.     Pusat Pengunjung (Visitor Center) 3 f.      Pusat Jajanan dan Cinderamata 3 g.     Jasa Pemandu 3 h.     Keamanan 8 3. Infrastruktur   a.     Jalan 8 b.     Kelistrikan 8 c.     Air Bersih 7 d.     Drainase 6 e.     Telekomunikasi 9 4. Aksesibilitas   a.     Kondisi Medan 7 b.     Sarana Transportasi 7 c.     Papan Arah 3 d.     Jarak dan Waktu Tempuh 6 Potensi Non Fisik 1.     Daya Tarik (Atraction)   a.     Sejarah/Legenda 8 b.     Tradisi Budaya 9 c.     Seni dan Musik 9 d.     Makanan Lokal/Tradisional 8 e.     Pakaian Lokal/Tradisional 2 f.      Kerajinan 10 g.     Arsitektur 6 h.     Agama 8 i.       Bahasa 9 j.      Cara Hidup Masyarakat 10 2.     Penduduk Desa   a.     Sumber Daya Manusia (SDM) 5 b.     Lembaga dan Organisasi Sosial 9 c.     Aparatur dan Pamong Desa 8 d.     Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) 3 e.     Pelayanan (Hospitality) 8 Dari Analisa Pembahasan di atas, peneliti mengelompokkan kembali Jenis dan Unsur Potensi Desa Kalibangkang menurut Nilainya, yang dapat dikembangkan. Jenis dan Unsur Potensi Desa Kalibangkang yang dikelompokkan, yaitu Potensi dengan Nilai 7-10. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan Pengelompokan Potensi Desa Kalibangkang menurut nilainya, yaitu sebagai berikut. Tabel Pengelompokan Potensi Desa Kalibangkang berdasarkan nilai 7-10 Nilai NO Jenis Potensi Prosentase Pengamatan Wawancara 10 1. Kerajinan 12,5 % Cara Hidup Masyarakat Desa Kalibangkang sangat berhubungan dengan Kerajinan Gula Kelapa. Kegiatan keseharian warga Desa Kalibangkang adalah dengan membuat Gula Kelapa. Permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin Gula Kelapa adalah, mereka tidak bisa menentukan harga pasar, karena semua hasil produksinya dijual kepada pengepul. Potensi ini cukup besar, dengan pengadaan Pusat Jajanan dan Cinderamata dimungkinkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Mayoritas warga Desa Kalibangkang berprofesi sebagai pengrajin Gula Kelapa. Hidup keseharian mereka membuat Gula Kelapa, bertani, dan lain-lain. Gula yang dibuat para pengrajin dijual kepada pengepul/warung klontong, dengan harga yang ditentukan oleh pengepul tersebut. Harapan para pengrajin Gula Kelapa yaitu dapat menentukan harga paser Gula Kelapa Tersebut. 2. Cara Hidup Masyarakat 9 3. Tanah 43,75 % Tanah, Air, Flora-Fauna, Tradisi Budaya, Seni dan Musik, Bahasa, Lembaga dan Organisasi, merupakan daya tarik bagi Pengunjung dengan tujuan Khusus. Desa Kalibangkang memiliki Potensi Alam dan Budaya yang cukup bagus. Desa Kalibangkang memiliki Potensi Alam Berupa Tanah dengan penggunaaanya yang bermacam macam, baik pertanian maupun perkebunan. Selain itu, Desa Kalibangkang Juga memiiki Potensi Air berupa Air Terjun dan Sungai, yaitu Curug Siji dan sungai yang mengalir di Desa Kalibangkang. Flora dan Fauna juga dapat menjadi daya tarik khusus bagi pengunjung. Di Desa Kalibangkang masih terdapat beberap hewan langka seperti ayam hutan, alap-alap, burung cikrakrak, dan lain-lain. Selain potensi alam, Desa Kalibangkang juga memiliki Potensi Budaya, yaitu Tradisi Muludan (Tenongan), Suran (Becekan), Likuran (Becekan), Kesenian Ebeg/Kuda Lumping, Kesenian Jidur, Kesenian Barzanzi, Kesenian Rebana, dan lain lain. Selain itu Desa Kalibangkang juga masih menggunakan bahasa daerahnya yang masih kental, yaitu Bahasa Ngapak. Lembaga dan Organisasi Sosial di Desa Kalibangkang juga berpotensi untuk mengiklankan Desa Kalibangkang ke khalayak umum. Potensi-potensi yang ada di atas merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk menarik pengunjung agar datang ke Desa Kalibangkang. Fungsi tanah di Desa Kalibangkan digunakan sebagai lahan Pekarangan Pohon Kelapa, Lahan Pertanian, dan Rumah Penduduk. Beberapa warga Desa Kalibangkang mengolah lahan milik perhutani yang biasa warga sebut Planjan/Gligir Daniyem (Bukit Daniyem) untuk dijadikan ladang yang ditanami kacang, bibit padi, singkong, jagung, dan lain-lain. Air di Desa Kalibangkang cukup melimpah, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian warga. Dulunya Curug Siji merupakan potensi air yang ada di Desa Kalibangkang. Dulu di Curug Siji tersebut pernah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (Kincir Air). Beberapa Flora-Fauna langka ada di Desa Kalibangkang. Tanaman Obat, Tanaman perdu juga ada di Desa Kalibangkang. Warga juga pernah melihat Landak yang hidup di beberapa goa karst yang ada di Desa Kalibangkang. Desa Kalibangkang memiliki Tradisi Budaya Muludan (Tenongan), Suran (Becekan), Likuran (Becekan). Desa Kalibangkang memiliki Kesenian Ebeg/Kuda Lumping, Jidur, Hadroh, Barzanzi, Rebana, dan lain-lain. Dalam keseharian, warga Desa Kalibangkang menggunakan Bahasa Jawa Ngapak Mbanyumasan (Panginyongan). Desa Kalibangkang memiliki banyak Lembaga dan Organisai Sosial, contohnya LKMD, Kelompok Tani, Kelompok Ternak, Komunitas muda-mudi, dan lain-lain. 4. Air 5. Flora dan Fauna 6. Tradisi Budaya 7. Seni dan Musik 8. Bahasa 9. Lembaga dan Organisasi Sosial 8 10. Pertanian dan Perkebunan 25 % Dalam poin ini, Sejarah/Legenda, Makanan Lokal/Tradisional, Pelayanan (Hospitality), Pertanian dan Perkebunan merupakan Jenis Potensi yang paling berpotensi untuk dikembangkan. Desa Kalibangkang memiliki makanan khas yaitu cimplung (singkong yang direbus menggunakan air Nira Kelapa). Pertanian dan Perkebunan Desa Kalibangkang yang berupa ladang pertanian, sawah, dan hutan jati, juga dapat untuk menarik pengunjung. Sejarah/legenda Desa Kalibangkang yang unik dapat menjadi daya tarik pengunjung dengan tujuan tertentu (Sejarah). Pelayanan (Hospitality) warga Desa Kalibangkang yang ramah dan nyaman, merupakan potensi yang dapat membuat pengunjung menjadi nyaman di Desa Kalibnagkang. Pertanian dan Perkebunan di Desa Kalibangkang secara umum bagus, hanya kurang variasi bibit tanamannya saja. Desa Kalibangkang berasal dari kata âKaliâ dan âBangkangâ. Di Desa Kalibangkang kata âKaliâ berarti sumber Mata Air, sedangkan âBangkangâ adalah sejenis hewan amphibi yang hidup di âKaliâ. Kalibangkang memiliki makanan khas yaitu Cimplung. Selain itu, ada Gembus, Leper, Lanting Klathak dan lain-lain. Warga Desa Kalibangkang adalah warga yang ramah dan mudah bergaul. Jika ada pengunjung yang datang, mereka dapat mudah mengenal pengunjung tersebut. 11. Sejarah dan Legenda 12. Makanan Lokal/Tradisional 13. Pelayanan (Hospitality) 7 14. Iklim 18,75 % Iklim Desa Kalibangkang yang sejuk juga dapat menjadi dayatarik pengunjung. Pengunjung dengan kebutuhan khusus untuk berdiam diri dapat datang ke Desa Kalibangkang. Potensi Ternak di Desa Kalibangkang, berupa Unggas, Sapi/Kerbau. Kambing beserta Kandang bantuan dari Pemerintah, juga dapat dikembangkan untuk menarik pengunjung. Sarana Transportasi Desa Kalibangkang yang unuk, yaitu berupa Engkel dapat menarik pengunjung untuk mencoba kendaraan umum tersebut. Permasalahan Sarana Transportasi umum tersebut, yaitu waktu operasinya yang hanya dihari-hari tertentu. Pengembangan berupa penambahan waktu operasi dimungkinkan dapat menarik pengunjung lebih banyak. Iklim di Desa Kalibangkang cukup sejuk, saat musim penghujan terkadang sampai turun kabut. Warga Desa Kalibangkang biasanya memelihara unggas di rumahnya. Selain unggas beberapa warga juga memelihara Kambing, Sapi dan Kerbau. Desa Kalibangkang memeiliki kendaraan umum unik, yaitu Engkel. Waktu operassinya hanya pada saat warga ke Pasar. 15. Ternak 16. Sarana Transportasi Dari penjelasan diatas, Potensi Nilai 9 merupakan yang terbesar deng jumlah prosentase sebesar 43,75 %. Potensi Fisik Desa Kalibangkang merupakan yang paling menonjol diantara yang lainnya. Potensi Fisik Desa Kalibangkang yaitu Panorama Alam yang asri, Tanah, Air, dan lain-lain. Potensi Fisik Tanah Desa Kalibangkang berupa Perbukitan Kapur, Area Persawahan, Area Pertanian dan Perkebunan, dan lain-lain. Sedangkan Potensi Fisik Air di Desa Kalibangkang yaitu Sungai, Air Terjun, dan lain-lain. Berikut ini adalah beberapa potensi yang menonjol di Desa Kalibangkang menurut lokasinya. Gambar Lokasi Potensi Desa Kalibangkang (Sumber: Google Maps, 2015) GambarPanorama Alam Desa Kalibangkang (1) (Sumber: kalibangkangdesaku.blogspot.co.id, 2015) Gambar Watu Belah (2) (Sumber: kalibangkangdesaku.blogspot.co.id, 2015) Gambar Area Persawahan Desa Kalibangkang (3) (Sumber: Dokumen Penulis, 2015) Gambar Curug Siji (4) (Sumber: Dokumen Penulis, 2015) Gambar Hamparan Ilalang di lahan Perhutani (5) (Sumber: Dokumen Penulis, 2015) Gambar Sungai di Lembah Perbukitan (6) (Sumber: Dokumen Penulis, 2015) Gambar Laut Selatan dan Pulau Nusakambangan (7) (Sumber: Dokumen Penulis, 2015) F. KESIMPULAN DAN SARAN 1. 2. 3. 4. 5. 5.1. Kesimpulan Dari Analisa Pembahasan yang telah peneliti lakukan, dapat disimpulkan Potensi Fisik dan Non Fisik Desa Kaliangkang, yaitu sebagai berikut: 1. Potensi Fisik yang dapat dikembangkang di Desa Kalibangkang, yaitu Potensi Sumberdaya Alam berupa Tanah, Air, Pertanian dan Perkebunan, Ternak, Flora-Fauna. Selain itu, Sarana Transportasi Engkel juga dapat dikembangkan untuk menarik pengunjung. 2. Potensi Non Fisik yang dappat dikembangkan di Desa Kalibangkang, yaitu Sejarah/Legenda Desa Kalibangkang yang unik, Tradisi Budaya berupa Muludan (Tenongan), Suran (Becekan), Likuran (Becekan), Seni dan Musik (Ebeg/Kuda Lumping, Jidur, Rebana, Barzanzi, dan lain-lain), Makanan Lokal/Tradisional (Cimplung, Lanting Klathak, Lanthing Gethuk, Gembus, Leper, dan lain-lain), Kerajinan (Gula Kelapa), Bahasa Ngapak Banyumasan (Panginyongan), dan Cara Hidup Masyarakat Desa Kalibangkang sebagai Pengrajin Gula Kelapa. 3. 4. 5. 5.1. 5.2. Saran Dari Hasil analisa pembahasan dan kesimpulan, peneliti memberikan beberapa rekomendasi untuk pengembangan Desa Kalibangkang, yaitu: 1. Untuk Aparatur Pemerintahan Desa Kalibangkang a. Diharapkan menyediakan Fasilitas Akomodasi, Pusat Pengunjung (Tourist Center), Pusat Jajanan dan Cinderamata serta Jasa Pemandu. b. Diharapkan menyediakan Papan Arah atau Penunjuk Jalan untuk mempermudah pengunjung yang ingin mengunjungi Desa Kalibangkang. c. Diharapkan untuk mendirikan Lembaga atau Organisasi Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) sebagai organisasi yang peduli terhadap potensi wisata di Desa Kalibangkang. 2. Untuk Penduduk Desa Kalibangkang Diharapkan untuk tetap mempertahankan serta menjaga Tradisi Budaya, Kesenian, Sumber Daya Alam dan lain sebagainya, agar tetap lestari. 3. Diusulkan melakukan Penelitian Lanjutan untuk mengamati lebih jauh lokasi-lokasi yang kurang berpotensi di Desa Kalibangkang, dengan metode penelitian yang berbeda diharapkan dapat ditemukan potensi terpendam di lokasi-lokasi yang kurang berpotensi tersebut. G. REFERENSI Ansyari, Deddy Rahmatan. 2014. Jenis dan Macam Pariwisata. http://deddydebot.blogspot.co.id/2014/03/jenis-dan-macam-pariwisata.html, 13 Nopember 2015 00:24. Frans, N. Raymond. 2012. Definisi Pariwisata Menurut Beberapa Ahli. https://tabeatamang.wordpress.com/2012/08/24/definisi-pariwisata-menurut-beberapa-ahli/, 13 Nopember 2015 01:28 Ghofir, Abdul dkk. 2010. Naskah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Tahun 2011-2015 Desa Kalibangkang. Kebumen. Irawan, Koko. 2010. Potensi Objek Wisata Air Terjun Serdang Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Labuhan Batu Utara. Kertas Karya. Program Pendidikan Non Gelar Pariwisata. Universitas Sumatera Utara. Kusumaningrum, Dian. 2009. Persepsi Wisatawan Nusantara Terhadap Daya Tarik Wisata Di Kota Palembang. Tesis PS. Magister Kajian Pariwisata. Universitas Gadjah Mada. Marpaung, Fernando. 2009. Strategi Pengembangan Kawasan Sebagai Sebuah Tujuan Wisata. Tesis PS. Magister Kajian Pariwisata. Universitas Gadjah Mada. Pendit, Nyoman S. 1994. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar. Perdana. Jakarta. Prasetyo, Antonius Seno Hari. 2012. Landasan Konseptual Perencanaan D Perancangan Perancangan Desa Wisata Kebonagung. Thesis. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sinaga, Supriono. 2010. Potensi dan Pengembangan Objek Wisata Di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kertas Karya. Program DIII Pariwisata. Universitas Sumatera Utara. Soemarno. 2010. Model Pengelolaan Desa Wisata. Lecture. Universitas Brawijaya. Spillane, J. 1994. Pariwisata Indonesia (Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan). Yogyakarta : Kanisius. Tim KKN-PPM Desa Cirangkong Subang, dkk. 2012. Pedoman Umum Pengembangan Desa Wisata Cirangkong Tahap Awal. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Recommended

View more >