penyalahgunaan napza

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hfgdfvcv

Text of penyalahgunaan napza

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmatNya sehingga tugas makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Secara keseluruhan, saya melaporkan hasil yang saya peroleh dari beberapa sumber jurnal terkait dengan Penyalahgunaan NAPZA. Dan harapan saya nantinya tugas ini dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman kami mengenai materi pada blok neuropsikiatri ini.

Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungan, hingga terselesaikannya tugas ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik serta saran yang membangun, demi penyempurnaan tugas-tugas saya selanjutnya.

Mataram, 8 Mei 2015

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

Penggunaan alkohol, rokok dan zat adiktif saat ini merupakan masalah di banyak negara. Penggunaan alkohol, rokok dan zat adiktif juga merupakan masalah bagi Indonesia. Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia telah mencapai 0,06% dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah kasus narkoba meningkat dari 3.478 kasus pada tahun 2000 menjadi 8.401 pada tahun 2004 atau meningkat rata-rata 28,9% per tahun (Kurniawati et al. 2010).Penelitian yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan lembaga penelitian dari salah satu perguruan tinggi negeri pada tahun 2006 hingga 2007 menyebutkan, dari 3,2 juta pengguna NAPZA di Indonesia, 1,1 juta di antaranya adalah mahasiswa. Dari data yang ada diketahui bahwa penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 1524 tahun (Kurniawati et al. 2010).Sebagian besar pengguna alkohol, rokok dan zat adiktif adalah remaja, karena remaja merupakan kelompok rawan yang berisiko terhadap penyalahgunaan alkohol, rokok dan zat adiktif, karena sifatnya yang energik, dinamis dan ingin mencoba hal-hal yang baru, menyenangi petualangan, mudah tergoda oleh tekanan dan pengaruh dari kelompoknya, cepat putus asa sehingga mudah terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, rokok dan zat adiktif. Hal ini di dukung oleh belum matangnya mental untuk lebih memperhitungkan akibat dari suatu perbuatan (Kurniawati et al. 2010).Menurut World Health Organization (WHO) remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun, tetapi kemudian WHO membagi lagi remaja menjadi remaja dini usia 15-19 tahun dan remaja lanjut yang berusia 20-24 tahun. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun, sedangkan pandangan umum di Indonesia tentang remaja adalah individu yang berusia antara 11-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam terminology kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun (Kurniawati et al. 2010).BAB II

ISI

NARKOTIKA

CODEIN

Kodein, atau O-methylmorphine, adalah alkaloid ditemukan dalam Oppium poppy , Papaver somniferum var. album. Opium poppy telah dibudidayakan dan dimanfaatkan sepanjang sejarah manusia untuk berbagai obat analgesik, anti-tussive dan anti-diare) dan hipnosis properti (terkait dengan keragaman dari komponen aktif, termasuk morfin, kodein dan papaverin (Nielsen, 2010). Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium. Opium yang bersal dari getah Papaverin Somniferum mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain, dan papaverin. Analgesik opioid terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri, meskipun juga memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain. Istilah analgesik narkotik dahulu seringkali digunakan untuk kelompok obat ini, akan tetapi karena golongan obat ini dapat menimbulkan analgesia tanpa menyebabkan tidur atau menurunnya kesadaran maka istilah analgesic narkotik menjadi kurang tepat (Pharmacy Board Victoria, 2010).

Yang termasuk golongan opioid adalah alkaloid opium, derivate semisintetik alkaloid opium, senyawa sintetik dengan sifat farmakologik menyerupai morfin. Obat yang mengantagonis efek opioid disebut antagonis opioid. Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi (Nielsen, 2010).Yang termasuk golongan obat opioid adalah :

1. obat yang berasal dari opium-morfin

2. senyawa semisintetik morfin

3. senyawa sintetik yang berefek seperti morfin

Obat yang mengantagonis efek opioid disebut antagonis opioid. Reseptor tempat terikatnya opioid di sel otak disebut reseptor opioid.

EPIDEMIOLOGI

Sekitar 23,5 juta orang berusia 12 atau lebih tua memerlukan pengobatan untuk masalah penggunaan obat-obatan terlarang pada tahun 2009. Dalam laporan kumpulan data, penyalahgunaan opiat, termasuk kodein, menyumbang persentase terbesar dari penerimaan terkait Narkotika (sekitar 20 persen). Di Amerika, kecanduan dan penyalahgunaan kodein sudah sangat umum, dan diperkirakan mencapai 33 juta pengguna setiap tahun (Robinson, 2010).

ETIOLOGI

Kecanduan kodein dan zat-zat lain yang merupakan kombinasi dari sejumlah faktor yang bekerja bersama-sama, yaitu (Chew, 2001):

1. Genetik: Individu yang memiliki kerabat - terutama orang tua - yang kecanduan zat lebih mungkin untuk mengalami masalah kecanduan di kemudian hari.

2. Otak Kimia: Codeine bekerja dengan berinteraksi dengan neurotransmitter di otak. Satu teori adalah seseorang yang menyalahgunakan kodein melakukannya untuk mengatasi kurangnya neurotransmitter yang terjadi secara alamiah. Kodein dapat digunakan sebagai bentuk pengobatan sendiri untuk mengatasi kekurangan.

3. Lingkungan: Hipotesis lain adalah anak-anak yang tumbuh di lingkungan rumah stabil dan dapat terkena penyalahgunaan narkoba dengan melihat orang tua mereka atau saudara yang lebih tua menggunakan. Mereka belajar bahwa penyalahgunaan narkoba adalah cara yang dapat diterima untuk mengatasi masalah emosional dan peristiwa kehidupan yang penuh stres.

4. Psikologis: Kadang-kadang orang yang menjadi kecanduan zat seperti kodein adalah self-mengobati untuk berurusan dengan gangguan mental yang tidak diobati. Codeine digunakan dalam upaya untuk mengendalikan efek samping yang tidak menyenangkan dari gangguan mental yang mendasari.

PATOMEKANISME

Dahulu digunakan istilah analgesik narkotik untuk analgesik kuat yang mirip morfin. Istilah ini berasal dari kata narkosis bahasa Yunani yang berarti stupor. Istilah narkotik telah lama ditinggalkan jauh sebelum ditemukannya ligand yang mirip opioid endogen dan reseptor untuk zat ini. Dengan ditemukannya obat yang bersifat campuran agonis dan antagonis opioid yang tidak meniadakan ketergantunganfisik akibat morfin maka penggunaan istilah analgesik narkotik untuk pengertian farmakologik tidak sesuai lagi (Simmons, 2010).

Peptida opioid endogen, Alkaloid opioid menimbulkan analgesia melalui kerjanya didaerah otak yang mengandung peptida yang memiliki sifat farmakologik menyerupai opioid. Terdapat 3 jenis peptide opioid yakni enkefalin, endorfin, dan dinorfin. Peptida opioid endogen tersebut diperkirakan berpran pada transmisi saraf, meskipun mekanisme kerja sebagai analgesik belum jelas diketahui. Tiap jenis berasal dari prekursor polipeptida yang berbeda secara genetik dan memperlihatkan distribusi anatomis yang khas. Prekursor ini disebut proenkefalin A, pro-opiomelanokortin (POMC) dan prodinorfin (proenkefalin B). Masing-masing prekursor mengadung sejumlah peptida yang aktif secara biologik, baik sebagai opioid maupun nonopioid yang telah dideteksi dalam darah dan berbagai jaringan (Joyce, 1996; Simmons, 201).

Reseptor opioid majemuk (multiple). Ada 3 jenis uatama reseptor opioid yaitu mu ( ), delta ( ), kappa ( ). Ketiga jenis reseptor tersebut pada jenis reseptor yang berpasangan dengan protein G, dan memiliki sub tipe: mu1, mu2, mu3, delta1, delta2, delta3, kappa1, kappa2, kappa3. Karena suatu opioid dapat berfungsi dengan potensi yang berbeda sebagai suatu agonis, agonis parsial, atau antagonis pada lebih dari satu jenis reseptor atau subtype reseptor maka senyawa yang tergolong opioid dapat memiliki efek farmakologi yang beragam (Joiyce, 1996; Pharmacy Board Victoria, 2010).

Atas dasar kerjanya pada reseptor opioid maka obat-obat yang tergolong opioid dibagi menjadi :

1. Agonis opioid menyerupai morfin, yaitu yang bekerja sebagai agonis terutama pada reseptor , dan mungkin pada reseptor k (contoh : morfin)

2. Antagonis opioid, yaitu yang tidak memiliki aktivitas agonis pada semua resepor (contoh : nalokson)

3. Opioid dengan kerja campur :

a. Agonis-antagonis opioid, yaitu yang bekerja sebagai agonis pada beberapa reseptor dan sebagai antagonis atau agonis lemah pada reseptor lain (contoh : nalorfin, pentazosin)

b. Agonis parsial (contoh : buprenorfin)

Reseptor memperantarai efek analgetik mirip morfin, euphoria, depresi nafas miosis, berkurangnya motilitas saluran cerna. Reseptor diduga meperantarai analgesia seperti yang ditimbulkan pentazosin, sedasi serta miosis dan depresi nafas yang tidak adekuat agonis . Selain itu disusunan saraf pusat juga didapatkan reseptor yang selektif terhadap enkefalin dan reseptor (epsilon) yang sangat selektif terhadap beta-endorfin tetapi tidak mempunyai afinitas terhadap enkefalin.terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa reseptor memegang peranan dalam menimbulkan depresi penafasan yang ditimbulkan oleh opioid. Dari penelitian pada tikus reseptor dihubungkan dengan berkurangnya frekuensi nafas, sedangkan reseptor dihubungkan dengan berkurangnya tidal volume. Reseptor ada 2 jenis yaitu reseptor 1 , yang hanya didapatkan pada SSP dan dihubungkan dengan analgesia supraspinal, penglepasan prolaktin, hipotermia dan