50
1 PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK Dosen Pengampu: HERLINA SONY SINAGA, SH, M.Pd.K SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BETHESDA BEKASI 2018

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

  • Upload
    others

  • View
    48

  • Download
    2

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

1

PENGEMBANGAN

KURIKULUM PAK

Dosen Pengampu:

HERLINA SONY SINAGA, SH, M.Pd.K

SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BETHESDA

BEKASI

2018

Page 2: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

2

URUTAN DAN RINCIAN MATERI

No. Materi Kuliah Hal

1. Hakikat Kurikulum 3

2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15

3. Komponen Kurikulum 23

4. Pendekatan-pendekatan Kurikulum PAK 25

5. Evaluasi & Revisi Kurikulum 31

6. Pengembangan Kurikulum 36

7. Kedudukan dan Peranan Kurikulum PAK dalam Sistem Pendidikan 41

8. Peran Guru Dalam Penyusunan Dan Pengembangan Kurikulum PAK 45

9. Perubahan Kurikulum 2013 Revisi Terbaru 2018 Pada Tahun Pelajaran

2018/2019

10. Daftar Pustaka 50

Page 3: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

3

HAKIKAT KURIKULUM

A. Pengertian Kurikulum

Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olah raga pada zaman

Yunani Kuno yang berasal dari kata curir dan curere. Disebut juga jarak seorang

pelari. Tempat berpacu atau tempat berlari dari mulai start sampai finish.

Dalam kamus Latin Indonesia yang disusun oleh K. Prent C.M. Adisubrata

dan J.S. Poerwadarminta menyatakan beberapa arti tentang kata Kurikulum. Kata

kurikulum (Indonesia) berasal dari kata Latin Curriculum (Curro) yang memiliki

arti: (1) Jalan, larinya dll (2) perlombaan, pacuan, balap, peredaran, gerakan

berkeliling, lamanya, Lapangan perlombaan, gelanggang, jalan. (3) kereta, kereta

balap, kereta penempur.

Menurut beberapa ahli kurikulum, kata kurikulum berasal dari bahasa Latin

dan kata ini belum dimasukkan dalam kamus yang terkenal yaitu Kamus Webster:

a. Kamus Webster terbitan tahun 1812 belum terdapat kata kurikulum, tetapi

b. Kamus Webster terbitan tahun 1856 mulai mencantumkan kata kurikulum.

Kata kurikulum diartikan : (1) A race cource; a place for running; a chariot.

Artinya kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta

dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. Kurikulum juga diartikan a chariot

artinya “semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa

seorang dari start sampai finish”. (2)A course in general; applied particulary to

the course of study in a university. Disamping penggunaan “kurikulum” semula

dalam bidang olah raga, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan, yakni

sejumlah mata pelajaran di perguruan tinggi.

c. Terbitan tahun 1955, kata kurikulum diartaikan: (1) A course esp a specified

fixed course of study, as in a school or college as one leading to degree, (2) The

whole body of courses offered in an educational institution, or departement there

of the usual sense.

Menurut dua pengertian ini, jelas bahwa kata “kurikulum” khusus digunakan

dalam pendidikan dan pengajaran, yakni sejumlah mata pelajaran di sekolah atau

Page 4: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

4

mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu

ijazah atau tingkat.

Sebuah isu yang harus menjadi fokus dalam mempertimbangkan kurikulum

adalah defenisi. Beberapa definisi kurikulum akan diuraikan dibawah ini agar kita

dapat mempertimbangkan fundamen-fundamen apa yang akan dipakai. Berbagai

defenisi kurikulum yang ada mencerminkan adanya perbedaan orientasi nilai dan

komitmen di bidang pendidikan diantaranya:

1. Kurikulum adalah konten yang disediakan bagi peserta didik.

2. Kurikulum adalah pengalaman proses pembelajaran yang terpadu dan terencana

bagi peserta didik.

3. Kurikulum adalah pengalaman aktual peserta didik atau partisipan.

4. Secara umum, kurikulum termasuk materi dan pengalaman untuk pembelajaran.

Secara khusus, kurikulum adalah pelajaran tertulis yang digunakan dalam

proses pembelajaran dalam pendidikan Kristen.

5. Kurikulum adalah pengorganisasian aktivitas pembelajaran yang dipandu oleh

seorang pengajar dengan tujuan untuk mengubah sikap.

Masing-masing defenisi tersebut mencerminkan penekanan yang berbeda dalam

perencanaan dan implementasi pengajaran.

Ada beberapa ahli teori yang mendefenisikan kurikulum sebagai sesuatu yang

direncanakan atau dimaksudkan oleh pendidik, sementara pengajaran (instruksi)

adalah apa yang sebenarnya dialami oleh peserta didik.Dalam kasus ini, yang

dialami mungkin sama atau agak berbeda dengan apa yang direncanakan atau

dimaksudkan.Dengan demikian kurikulum dapat didefinisikan sebagai konten

yang disediakan bagi peserta didik dan pengalaman pembelajaran mereka yang

aktual yang dipandu oleh seorang pengajar.

Dari keseluruhan defenisi kurikulum tersebut dapat disimpulkan bahwa para

ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun ada

juga kesamaannya yakni bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha

mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang dicapai.

Page 5: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

5

Murray Print (1993) Kurikulum meliputi ;

1. Planned learning experiences;

2. Offered within educational institution/program;

3. Represented as a document; and

4. Includes experiences resulting from implementing that document.

Menurut Print sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar,

program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen

serta hasil implementasi dokumen yang telah disusun.

Banyak tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman, diantaranya

Hollis L. Caswell dan Campbell (1935) ia menyatakan bahwa kurikulum adalah “

...all of the experiences children have underthe guidenceof teacher”. Demikian

jugadengan Dorris Lee dan Murray Lee (1940) yang menyatakan kurikulum

sebagai : “ ...those experiences of the child which the school in any way utilizes or

attempts to influence”. Sedangkan H.H. Giles, S.P, Mc Gutchen, dan A.N.

Zechiel: “...the curriculum...the total experience with which the school deals in

educating young people”.

Dr. E.G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar (Ahli PAK) menyamakan

rencana pelajaran dengan kurikulum. Secara tegas kedua ahli ini mengemukakan

bahwa rencana pelajaran atau Curriculum dapat dipahami dalam arti sempit (mata

pelajaran) dan Curriculum dalam arti luas yaitu segala pengaruh, persekutuan dan

aktivitas yang lain, yang berhubungan dengan pelajaran bersama itu.

(Homrighausen dan Enklaar, 2005: 87-88) Hal menarik dalam pernyataan

Homrighausen dan Enklaar: Isi seluruh Alkitab harus diajarkan menurut rencana

atau curriculum yang dipertanggung jawabkan atau bagian ini dipahami dalam

istilah Howard P. Colson dan Raymond M Rigdon, yaitu Alkitab dalam

kurikulum (kurikulum/perencanaan dalam Pendidikan Agama Kristen).

(Homrighausen dan Enklaar, 2005: 87)

Setelah menguraikan kata etimologi kata kurikulum dan beberapa defenisi

pakar Pendidikan Agama Kristen tentang pengertian kata kurikulum maka

dapatlah dikatakan bahwa kata kurikulum tidak ada dalam Alkitab tetapi makna

arti kurikulum dan komponen-komponen kurikulum (tujuan, materi/isi, proses dan

Page 6: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

6

evaluasi/penilaian) tentang pendidikan sebenarnya sudah ada dalam Alkitab.

Alkitab memuat data yang cukup untuk sebuah studi kurikulum pendidikan

(perencanaan pendidikan untuk pencapaian suatu tujuan dalam berbagai kegiatan

mendidik manusia), dengan demikian dapat dikatakan Alkitab adalah sumber

kurikulum.

B. Peran dan Fungsi Kurikulum

Kurikulum menyangkut arah dan tujuan pendidikan serta pengalaman belajar

yang harus dimilikisetiap siswa serta bagaimana mengorganisasi pengalaman itu

sendiri. Kurikulum juga dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan yakni

mempersiapkan peserta didik agar mereka dapat hidup di masyarakat. Didalam

sistem pendidikan kurikulum merupakan komponen yang sangat penting, sebab

didalamnya bukan hanya menyangkut tujuan atau arah pendidikan saja akan

tetapi juga pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa serta bagaimana

mengorganisasi pengalaman itu sendiri.

Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, kurikulum memiliki tiga

peran (Hamalik, 1990) sebagai berikut:

1. Peranan Konservatif

Peran Konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya

sebagai warisan masa lalu. Jika dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan budaya lokal

akan terkikis oleh masuknya budaya asing, maka peran konservatif sangat penting

didalam kurikulum.

2. Peran Kreatif

Sekolah harus bertanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai

dengan tuntutan zaman. Kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga

dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang

dimiliknya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang

senantiasa bergerak maju secara dinamis. Kurikulum juga harus mampu

menjawab tantangan zaman yang begitu cepatnya berkembang dan berubah,

sehingga peran kreatif kurikulum sangat dibutuhkan.

Page 7: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

7

3. Peran kritis dan Evaluatif

Kurikulum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu

dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak

didik.

Dalam proses pengembangan kurikulum ketiga peran berikut haruslah

dilaksanakan secara seimbang.Sesuai dengan peran yang harus “dimainkan”

kurikulum sebagai alat dan pedoman pendidikan maka isi kurikulum harus sejalan

dengan tujuan pendidikan itu sendiri.Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan

pada dasarnya mengkristal dalam pelaksanaan perannya itu sendiri.

Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu ;1)

Fungsi pendidikan umum (common and general education), 2) Suplementasi

(suplementation), 3) Eksplorasi (exploration), 4) Keahlian (specialitation).

1) Fungsi pendidikan umum (common and general education);

Fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi

anggota masyarakat yang bertanggung jawab sebagai warga negara yang

baik.Fungsi kurikulum ini juga harus diikuti oleh setiap siswa pada jenjang dan

level atau jenis pendidikan manapun.

2) Suplementasi (suplementation)

Kurikulum sebagai alat pendidikan harus dapat memberikan pelayanan kepada

setiap siswa sesuai dengan perbedaan kemampuan.Kemampuan perbedaan minat

maupun perbedaan bakat. Peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata

harus terlayani untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal;

sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata juga harus

terlayani sesuai dengan kemampuan.

3) Eksplorasi (exploration)

Kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat

masing-masing siswa. Proses eksplorasi terhadap minat dan bakat siswa bukan

pekerjaan yang mudah. Para pengembang kurikulum harus dapat menggali rahasia

keberbakatan anak yang kadang-kadang tersembunyi.

Page 8: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

8

4) Keahlian (specialitation)

Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai dengan

keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat siswa misalnya: perdagangan,

pertanian, industri atau disiplin akademik. Untuk itu pengembangan kurikulum

harus melibatkan para spesialis untuk menentukan kemampuan siswa.

Kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik

langsung maupun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Dengan

demikian kurikulum berfungsi bagi Guru, Siswa, Kepala Sekolah, Pengawas,

orang Tua dan Masyarakat.

Ada enam fungsi kurikulum untuk siswa menurut Alexander Inglis (dalam

Hamalik, 1990)

1) Fungsi penyesuaian (the adjustive or adaptive function)

Kurikulum harus dapat mengantar siswa agar mampu menyesuaikan diri dalam

kehidupan sosial masyarakat.

2) Fungsi integrasi (the integrating function)

Kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh. Kemampuan

kognitif, afektif dan psikomotorik harus berkembang secara terintegrasi.

3) Fungsi diferensiasi (the differrentiating function)

Kurikulum harus dapat melayani setiap siswa dengan segala keunikannya.

4) Fungsi persiapan (the preparation function)

Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk

melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun untuk kehidupan di

masyarakat.

5) Fungsi pemilihan (the selective function)

Kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai

dengan bakat dan minatnya, dengan demikian kurikulum ini harus fleksibel.

6) Fungsi diagnostik (the diagnostic function)

Fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa. Kurikulum

berperan untuk menemukan kesulitan-kesulitan dan kelemahan yang dimiliki

siswa, disamping mengeksplorasi berbagai kekuatan-kekuatan sehingga melalui

pengenalan itu siswa dapat berkembang sesuai denganpotensi yang dimilikinya.

Page 9: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

9

C. Kurikulum dan Pengajaran

Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan

pendidikan, serta isi yang harus dipelajari, sedangkan pengajaran adalah proses

yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa.

Menurut Saylor (1981) kurikulum dan pengajaran seperti Romeo dan Juliet

maksudnya berbicara tentang Romeo adalah berbicara tentang Juliet. Romeo

tidak akan berarti apa-apa tanpa Juliet demikian juga sebaliknya. Tanpa kurikulum

sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran atau pengajaran tidak akan efektif,

demikian juga tanpa pembelajaran atau pengajaran sebagai implementasi sebuah

rencana, maka kurikulum tidak akan memiliki arti apa-apa.

Sistem pengembangan kurikulum akan melahirkan rangkaian pengajaran

serta hasil yang diharapkan sesuai dengan kurikulum. Rangkaian pengajaran

inilah yang kemudian akan mengkristal dalam sistem pengajaran yang tiada lain

adalah tindak lanjut dari pengembangan sistem kurikulum.

Sistem pengajaran secara langsung dapat dipengaruhi oleh perilaku

mengajar (seperti kualitas pengajaran, waktu pengajaran, kemampuan mengajar

guru, dan lain sebagainya). Dari sistem pengajaran itulah selanjutnya dapat

melahirkan hasil belajar siswa,

Page 10: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

10

Sistem pengajaran terbentuk oleh tiga subsistem, yaitu :

• subsistem tentang perencanaan pengajaran,

• subsistem tentang pelaksanaan pengajaran,

• dan subsistem evaluasi.

Setiap subsistem itu merupakan suatu rangkaian, yang masing-masing dapat

dianalisis. Tugas guru adalah berhubungan dengan membangun sistem pengajaran

ini. Oleh karenanya efektivitas suatu kurikulum sangat tergantung kepada guru

yang mengembangkannya.

Sebagai upaya pencapaian tujuan kurikulum perencanaan pengajaran adalah

proses yang dilakukan untuk mendesain kegiatan pengajaran. Subsistem

pelaksanaan pengajaran adalah implementasi atau action dari perencanaan.

Subsistem pelaksanaan erat kaitannya dengan prosedur yang ditempuh oleh guru

dan siswa didalam praktik pembelajaran.

Keberhasilan kurikulum sangat tergantung pada subsistem pelaksanaan itu.

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah faktor guru itu sendiri.

Subsistem evaluasi berhubungan dengan kegiatan untuk mengumpulkan

informasi tentang pencapaian tujuanp embelajaran oleh siswa. Dalam sistem

pengajaran subsistem evaluasi memiliki peran dan kedudukan yang sangat

penting, oleh sebab hasil evaluasi selain dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan

siswa juga dapat dijadikan sebagai umpan balik untuk perbaikan proses

pembelajaran.

Walau antara kurikulum dan pengajaran merupakan dua sisi yang tidak

terpisahkan, namun dalam suatu proses pengajaran dan pembelajaran, dapat

terjadi berbagai kemungkinan hubungan antara keduanya.

Peter F. Oliva (1992) menggambarkan kemungkinan itu kedalam beberapa model:

1. Model dualistis (the dualistic model)

Pada model ini kurikulum dan pengajaran terpisah. Keduanya tidak bertemu

kurikulum yang seharusnya menjadu input dalam menata sistem pengajaran

tidak tampak. Demikian juga pengajaran yang semestinya memberikan

Page 11: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

11

Kurikulum

Pengajaran

Pengajaran

Kurikulum

balikan dalam proses penyempurnaan kurikulum tidak terjadi, karena

kurikulum dan pengajaran berjalan sendiri.

2. Model berkaitan (the interlocking model)dualistis (the dualistic model)

Pada model ini kurikulum dan pengajaran dianggap sebagai suatu sistem yang

keduanya memiliki hubungan. Baik antara kurikulum dan pengajaran

maupun pengajaran dan kurikulum ada bagian-bagian yang berpadu atau

memiliki keterkaitan, sehingga antara keduanya memiliki hubungan.

A B

3. Model konsentris (the concentric model)

Pada model ini kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan dengan

kemungkinan kurikulum bagian dari pengajaran atau pengajaran bagian dari

kurikulum. Kurikulum yang satu tergantung dari yang lain.

4. Model Siklus (the ciclical model)

Pada model ini antara kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan yang

timbal balik. Keduanya saling berpengaruh. Apa yang diputuskan dalam

kurikulum akan menjadi dasar dalam proses pelaksanaan pengajaran.

Kurikulum

Kurikulum

Pengajaran

Pengajaran

Kurikulum

Pengajaran

Page 12: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

12

Sebaliknya apa yang terjadi dalam pengajaran dapat mempengaruhi keputusan

kurikulum selanjutnya.

A B

Kurikulum

D. Kurikulum Ideal dan Kurikulum Aktual

Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan

belajar mengajar di sekolah. Setiap guru seharusnya dapat melaksanakan kegiatan

sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Kurikulum ideal disebut juga kurikulum formal (writen curriculum) yaitu

kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau

pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar.

Kurikulum Ideal tidak mungkin dapat dilakukan secara sempurna oleh setiap

sekolah. Ada 3 (tiga ) alasan penyebabnya;

Pertama, ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang tersedia di

sekolah.

Kedua, kemampuan guru. Sarana yang lengkap (sesuai tuntutan kurikulum)

belum menjamin kurikulum ideal dapat dilaksanakan manakala tidak didukung

oleh kemampuan guru.

Ketiga, kebijakan setiap sekolah yang bersangkutan. Mis: sarana belajar yang

lengkap jika tidak boleh digunakan karena harganya yang mahal. Kebijakan

kepala sekolah dapat menentukan bisa dan tidaknya kurikulum ideal dilaksanakan

oleh guru.

Kurikulum Ideal merupakan pedoman bagi setiap guru khususnya tentang tujuan

dan kompetensi yang hendak dicapai. Kurikulum Aktual adalah kurikulum nyata

yang dapat dilaksanakan oleh guru sesuai dengan kondisi yang ada.

Kurikulum

Pengajaran

Page 13: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

13

Semakin jauh jarak antara kurikulum ideal dengan kurikulum aktual artinya apa

yang dikerjakan guru tidak sesuai atau jauh dari rambu-rambu kurikulum ideal

maka akan semakin rendah kualitas suatu sekolah. Sebaliknya, semakin dekat

jarak antara kurikulum ideal dengan kurikulum aktual artinya apa yang dikerjakan

guru sesuai dengan rambu-rambu bahkan melebihi kurikulum ideal sebagai

pedoman, maka semakin bagus kualiatas suatu sekolah atau proses belajar

mengajar.

E. Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curricullum)

Kurikulum tersembunyi pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses

pendidikan yang tidak direncanakan. Artinya perilaku yang muncul diluar tujuan

yang dideskripsikan oleh guru.

Ada dua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku sebagai hidden curriculum,

yaitu aspek yang relatip tetap dan aspek yang dapat berubah. Aspek yang relatip

tetap yaitu ideologi keyakinan, nilai budaya masyarakat yang mempengaruhi

sekolah. Aspek yang dapat berubah meliputi variable organisasi sitem sosial dan

kebudayaan. Meliputi, bagaimana guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran

diberikan, bagaimana kenaikan kelas dilakukan. Sistem sosial meliputi hubungan

sosial antara guru, guru dengan peserta didik, guru dan staf sekolah dan lain

sebagainya.Kurikulum tersembunyi pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses

pendidikan yang tidak direncanakan. Artinya perilaku yang muncul diluar tujuan

yang dideskripsikan oleh guru.

Dalam dimensi pelaksanaan implementasi kurikulum didalam kelas atau

pengembangan kurikulum dalam skala mikro, kurikulum tersembunyi (hidden

curruculum) memiliki makna: Pertama, dapat dipandang sebagai tujuan yang

tidak tertulis (tersembunyi), akan tetapi pencapaiannya perlu dipertimbangkan

oleh setiap guru agar kualitas pembelajaran lebih bermakna. Sebagai contoh:

ketika guru hendak mengajar tujuan tertentu melalui metode diskusi, sebenarnya

ada tujuan lain yang harus dicapai selain tujuan yang berhubungan dengan

penguasaan materi pembelajaran, misalnya kemampuan siswa untuk

mengeluarkan pendapat atau gagasan melalui bahasa yang benar, atau sikap siswa

Page 14: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

14

untuk mau mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain dan lain

sebagainya. Semakin kaya guru menentukan kurikulum tersembunyi, maka akan

semakin bagus juga kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Kedua, kurikulum tersembunyi juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang

terjadi tanpa direncanakan terlebih dahulu yang dapatdimanfaatkan oleh guru

untuk mencapai tujuan pembelajaran.Sebagai contoh: ketika guru akan

mengajarkan tentang serangga (binatang insekta), tiba-tiba lewat jendela kelas

muncul seekor kupu-kupu masuk kedalam kelas, nah, kemunculan kupu-kupu

yang tidak direncanakan itu merupakan hidden curriculum, yang dapat dijadikan

awal pembahasan materi pembelajaran. Maka semakin kaya guru dengan hidden

curriculum, akan semakin aktual proses pembelajaran.

Page 15: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

15

AZAS-AZAS PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. Hakikat Pengembangan Kurikulum

Pada dasarnya kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan

diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan

petujuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh

pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut.Dalam hal ini setiap sekolah

tinggal menjabarkan kurikulum tersebut di sekolah masing-masing, dan biasanya

yang banyak berkepentingan adalah guru.

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting

dalam sistem pendidikan. Dalam kurikulum bukan hanya merumuskan tentang

tujuan yang harus dicapai tetapi juga memberikan pemahaman tentang

pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.

Setiap pengembangan kurikulum dalam pada jenjang manapun harus

didasarkan pada azas-azas teretentu.Fungsi atau landasan pengembangan

kurikulum adalah seperti pondasi sebuah bangunan.

Menyusun sebuah kurikulum harus didasarkan pada pondasi yang kuat.

Kesalahan menentukan dan menyusun pondasi kurikulum berarti kesalahan dalam

menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan.Pengembangan kurikulum

pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan

pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya.

Mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar siswa

bukanlah suatu proses yang sederhana. Menentukan isi atau muatan kurikulum

harus berangkat dari visi, misi serta tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan

menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan

masyarakat.

Menurut David Pratt (1980 )istilah desain lebih mengena dibanding dengan

pengembangan yang mengandung konotasi bersifat gradual.Desain adalah proses

yang disengaja tentang suatu pemikiran, perencanaan dan penyeleksian bagian-

bagian, teknik dan prosedur yang mengatur suatu tujuan atau usaha.

Page 16: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

16

Pengembangan kurikulum (curriculum development atau curriculum

planning) adalah proses atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk

menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan

penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di sekolah.

Seller memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari

menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah

dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan hakikat anak didik,

pandangan tentang keberhasilan implementasi kurikulum dan lain

sebagainya.Berdasarkan orientasi itu selanjutnya dikembangkan kurikulum

menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran

dan dievaluasi. Hasil evaluasi itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan

orientasi, begitu seterusnya hingga membentuk siklus.

Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek,

yaitu:

1. Tujuan pendidikan, menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya, hendak

dibawa ke mana siswa yang kita didik itu.

2. Pandangan tentang anak, apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif

atau pasif.

3. Pandangan tentang proses pembelajaran, apakah proses pembelajaran itu

dianggap sebagai proses tranformasi ilimu pengetahuan atau mengubah

perilaku anak.

4. Pandangan tentang lingkungan, apakah lingkungan belajar harus dikelola

secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas

belajar.

5. Konsepsi tentang peranan guru, apakah guru harus berperan sebagai

instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang

siap memberi bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.

6. Evaluasi belajar, apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan test atau

non tes.

Menurut Seller pengembangan kurikulum itu pada hakekatnya adalah

pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu

Page 17: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

17

sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran sebagai implementasi

kurikulum.Pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya,

yaitu sisi kurikulum sebagai pedoman yang kemudian membentuk kurikulum

tertulis (writen curriculum atau document curriculum) dan sisi kurikulum sebagai

implementasi (curriculum implementation) yang tidak lain adalah sistem

pembelajaran.

Proses pengembangan berbeda dengan perubahan dan pembinaan

kurikulum. Perubahan kurikulum adalah kegiatan atau proses yang disengaja

manakala berdasarkan hasil evaluasi ada salah satu atau beberapa komponen

yang harus diperbaiki atau diubah; sedangkan pembinaan adalah proses untuk

mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan.

Pengembangan dan pembinaan kurikulum merupakan dua kegiatan yang

sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Suatu rancangan kurikulum tanpa

diimplementasikan tidak artinya.Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam

proses pengembangan kurikulum yakni isi atau muatan kurikulum itu sendiri.

Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan isi

pengembangan kurikulum yaitu rentangan kegiatan dan tujuan kelembagaan yang

berhubungan dengan misi dan visi sekolah.

1. Rentangan Kegiatan (Range of Activity)

Biasanya diawali dengan rancangan kebijakan kurikulum, rancangan bidang

studi, program pengajaran, unit pengajaran dan rencana pembelajaran.Kebijakan

kurikulum memuat tentang apa yang harus diajarkan dan berfungsi sebagai

pedoman bagi para pengembang kurikulum lebih lanjut. Pada dasarnya

merupakan keputusan yang ditentukan dari hasil pemikiran dan penelitian yang

mendalam.

Harus dilaksanakan secara hati-hati, sebab akan mempengaruhi berbagai

kebijakan pendidikan lainnya. Misalnya,

mengenai isi dari setiap disiplin ilmu yang perlu dikuasai oleh anak didik

dalam jenjang tertentu,

kebutuhan sosial macam apa yang harus dikuasai anak didik serta

pengalaman belajar yang bagaimana yang harus dimiliki anak didik.

Page 18: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

18

Hal tersebut didasarkan pada pengkajian yang komprehensif.

Rancangan program studi meliputi kegiatan-kegiatan menentukan

tujuan, urutan serta kedalaman materi dalam setiap bidang studi, misalnya

rancangan bidang studi matematika, bahasa, IPA dan lain sebagainya.

Rancangan program pengajaran adalah kegiatan merancang aktifitas

belajar dalam setiap bidang studi untuk satu tahun, satu semester atau satu

caturwulan.

Rencana pembelajaran, meliputi penjabaran program pengajaran yang

dirancang lebih khusus untuk jangka waktu tertentu. Bisa saja program yang

lebih khusus itu adalah program untuk satu kali pertemuan dalam proses

pembelajaran.

Dalam mengembangkan kurikulum biasanya dimulai dari lingkup yang paling

luas sampai kepada lingkup yang paling sempit, yaitu pengembangan kurikulum

dalam proses pembelajaran didalam kelas dalam satu unit pengajaran atau bidang

studi tertentu.Pengembangan kurikulum menghasilkan program kebijakan

kurikulum dan mengembangkan rancangan program studi; sedangkan

mengembangkan program-program kegiatan sebagai penjabaran dari program

studi merupakan lingkup pengembangan kurukulum yang lebih sempit.

Selain merancang program, Kegiatan Pengembangan kurikulum juga

berkaitan dengan menghasilkan bahan-bahan pengajaran, seperti menyusun buku

teks, modul, program-program film, rekaman audio, dan lain sebagainya.Fungsi

bahan pengajaran itu sendiri adalah untuk memberikan pengalaman belajar

sesuai dengan tujuan dan program kegiatan.

McNeil, Nasution (1989) mengemukakan bahwa kegiatan pengembangan

kurikulum meliputi dua proses utama, yakni pengembangan pedoman kurikulum

dan pengembangan pedoman instruksional.Pedoman kurikulum meliputi

rumusan-rumusan normatif tentang isi kurikulum. Misalnya, tentang latar

belakang yang berisi tentang tujuan dan landasan filosifis, sasaran peserta didik,

bidang studi, struktur bahan pelajaran serta silabusnya.

Sedangkan pedoman instruksional berisi tentang penjabaran lebih rinci dari

pedoman kurikulum untuk pengelolaan pembelajaran.Dengan demikian Pedoman

Page 19: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

19

instruksional disusun oleh guru sebagai pedoman dalam penyelenggaraan

pembelajaran, atau sebagai pedoman implementasi kurikulum.

2. Tujuan Kelembagaan (Institusional Purpose)

Tujuan kelembagaan sama artinya dengan misi dan visi sekolah.

Pengembangan kurikulum selamanya harus sejalan dengan visi dan misi sekolah

yang bersangkutan, karena kurikulum pada hakekatnya disusun untuk mencapai

tujuan sekolah.

Sekolah kejuruan yang memiliki visi dan misi untuk mempersiapkan anak

didik memiliki keterampilan sesuai dengan lapangan pekerjaan tertentu, maka

mengebangkan isi kurikulum akan lebih tepat dilakukan melalui analisis

pekerjaan (job analisys), bukan melalui analisis disiplin ilmu.

Sebaliknya sekolah yang memiliki visi dan misi untuk mempersiapkan anak

didik dapat mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, maka analisis

disiplin ilmu seperti pemahaman fakta, konsep, teori dan sebagainya akannlebih

cocok dibandingkan dengan penentuan isi kurikulum melalui analisis tugas atau

nalisis pekerjaan.

Proses pengembangan kurikulum menurut Zais dalam bukunya yang berjudul

Curriculum Principles and Foundation (1976) harus dimulai dengan asumsi-

asumsi filosofis sebagai sistem nilai (value system) atau pandangan hidup suatu

bangsa.

Page 20: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

20

B. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada sejumlah prinsip

dalamproses pengembangannya yakni:

1. Prinsip Relevansi

Untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada

di masyarakatserta membekal siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap

maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat maka

Kurikulum merupakan relnya pendidikan.

Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal.

Relevansi internaladalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian

antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus

dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi

atau metode yang digunakan serta alat penilaian untukmelihat ketercapaian

tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.

Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses

belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan

masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan

kurikulum. Pertama,relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya

Page 21: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

21

bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan

dengan kondisi lingkungan sekitar siswa.. Kedua, relevan dengan perkembangan

zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya isi kurikulum

harus sesuai dengan situasi dan kondis yang sedang berkembang.Ketiga relevan

dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya bahwa apa yang diajarkan disekolah

harus mampu memenuhi dunia kerja.

2. Prinsip Fleksibilitas

Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya kurikulum itu harus

biasa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau

tidak fleksibel akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibel mempunyai dua sisi,

Pertama, fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang

gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan

kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa artinya kurikulum harus

menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan

minat siswa.

3. Prinsip Kontinuitas

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan

kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program

pendidikan. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak

terjadi pengulangan-pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program

pengajaran tidak efektif dan efisien., akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa

dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu., Karenanya

perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang

pendidikan.

4. Efektifitas

Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat

dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua

sisi efektitfitas dalam pengembangan suatu kurikulum. Pertama, efektifitas

Page 22: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

22

berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas

mengimplementasikan kurikulum didalam kelas. Kedua, efektifitas kegiatan

siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.

Efektifitas kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan

mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

Efektifitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat

mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan jangka waktu tertentu.

5. Efisiensi

Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga waktu,

suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Dikatakan

kurikulum memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana,biaya

yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.

PENGEMBANGAN KURIKULUM

LANDASAN

FILSAFAT

SOSIAL

BUDAYA

MAHASISWA

TEORI BELAJAR

PRINSIP

RELEVANSI

FLEKSIBILITAS

KONTINUITAS

EFEKTIFITAS

EFISIENSI

PRAKTIS

Page 23: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

23

KOMPONEN KURIKULUM

Kurikulum memiliki empat komponen utama:

1. Tujuan

2. Materi (Isi Kurikulum)

3. Metode (Strategi Pembelajaran)

4. Evaluasi

Untuk membentuk sistem kurikulum keempat komponen ini satu sama lain saling

berkaitan. Guna memudahakan mengingat, komponen-komponen tersebut dapat

dirumuskan pada kata “TIME’ yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi.

Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh 4

(empat) komponen, yaitu komponen tujuan, materi (isi kurikulum), metode atau

strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi.Komponen tujuan

berhubungan erat dengan arah atau hasil yang diharapkan.

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman

belajar yang harus dimiliki siswa. Menyangkut semua aspek baik yang

berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya

Page 24: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

24

tergambarkan pada isi setiap mata pelajaranyang diberikan maupun aktivitas dan

kegiatan siswa.

Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka

pencapaian tujuan. Dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat

dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya.Strategi yang berpusat kepada siswa

dinamakan student centered, sedangkan strategi yang berpusat pada guru

dinamakan teacher centered.

Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan.

Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah

tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi yang

digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.

Evaluasi juga bagian integral dari suatu proses kegiatan pembelajaran, dengan

evaluasi siswa akan tahu tentang keberhasilan pembelajaran yang dilakukannya.

Page 25: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

25

PENDEKATAN-PENDEKATAN KURIKULUM PAK

Dalam pendidikan Kristiani terdapat empat pendekatan yangberbeda-beda,

baik cara maupun hasil akhirnya yaitu;

1. Pendekatan Instruksional

2. Pendekatan Perkembangan

3. Pendekatan Iman

4. Pendekatan Transformasi Sosial

1. Pendekatan Instruksional

Merupakan suatu pola pendidikan Kristiani yang lebih menekankan

pembelajaran. Bagaimana menghadapai dunia ini sebagai orang-orang Kristen.

Orang Kristen diperintahkan untuk mengasihi dan bersaksi tentang iman mereka

melalui kasih ini ( YOH 13: 34-35). Pendekatan ini mengharapkan naradidik

untuk berpikir, berefleksi terhadap isi Alkitab dan terang pengalaman mereka,

serta memilih suatu cara hidup dengan hidup dalam dunia ini sebagai respon

terhadap panggilan Allah.

Pendekatan Instruksional, memakai sistem belajar mengajar secara intensif

atau lebih terfokus dengan sistem belajar-mengajar seperti halnya yang kita lihat

diterapkan disekolah-sekolah ataupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Ada dua unsur yang kita dapati dalam pelaksanaan pendekatan ini yakni guru

atau pengajar dan murid atau naradidik. Guru dan naradidik harus harus selalu

membuka ruang komunikasi dua arah agar tercipta suasana belajar yang tepat

sasaran sehingga apa yang ingin disampaikan oleh pengajar dapat diterima dengan

baik oleh naradidik yang terlibat dalam proses belajar tersebut.

Selain pendekatan instruksional ini memerlukan suatu kurikulum yang

menjadi acuan untuk proses pembelajaran iman. Kalau kita amati dalam setiap

gereja belum ada kurikulum yang sama karena kurikulum itu masih disesuaikan

dengan kebutuhan jemaat.Kurikulum biasanya disusun per semester dengan thema

besar dan suatu tujuan besar. Kemudian thema besar tersebut dijabarkan lagi

menjadi sub-sub thema untuk tiap bulannya dan juga tujuan untuk bulan tersebut.

Page 26: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

26

Kemudian sub-sub thema tersebut dijabarkan kedalam judul-judul pelajaran untuk

setiap minggunya berikut tujuan pembelajaran atau tujuan instruksionalnya.

Dalam pengajaran ini proses pendidikan mengarah pada refleksi theologis

yang terjadi dalam memahami, menghidupi, dan melakukan iman dengan konteks

kekeluargaan (homemaking). Konteks kekeluargaan (homemaking) adalah

suasana belajar yang diharapkan dapat terjadi dalam suatu komunitas belajar juga

mengurangi jarak antara guru dan naradidik, sehingga dalam proses belajar tidak

ada rasa segan atau takut-takut dalam komunikasi yang terjadi dalam proses

belajar.

Suasana homemaking adalah suasana yang saling menghormati, saling

menghargai dan saling membantu, suasana yang sangat membantu naradidik

untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman dan kepercayaan Kristiani, serta

suasana yang menjadikan pengalaman sebagai bagian dalam proses belajar, dan

menjadikan pengalaman sebagai cara untuk memudahkan pemahaman dan

perelevansian materi.Dengan proses pendidikan melalui pendekatan instuksional

ini diharapkan naradidik dapat menjadi orang yang siap menghadapi berbagai

permasalahan dan tantangan kehidupan dunia dengan tetap berpegang teguh pada

iman Kristen.

Pendekatan perkembangan lebih menekankan pada pembentukan spiritualitas

dan pembentukan iman individu untuk mewujudkannya dalam pelayanan sosial.

Menurut Jack L. Seymor tujuan pendekatan ini adalah untuk membantu orang-

orang mengembangkan kehidupan batin dan merespon dengan aksi keluar kepada

orang lain atau sesama dan dunia.

2. Pendekatan Perkembangan

Pendekatan perkembangan lebih menekankan pada pembentukan

spiritualitas dan pembentukan iman individu untuk mewujudkannya dalam

pelayanan sosial. Menurut Jack L. Seymor tujuan pendekatan ini adalah untuk

membantu orang-orang mengembangkan kehidupan batin dan merespon dengan

aksi keluar kepada orang lain atau sesama dan dunia.

Page 27: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

27

Kehidupan individu diartikan sebagai suatu perjalanan kehidupan dengan

menjadikan pengajar sebagai pemimpin dan naradidik sebagai pribadi dalam

perjalanan tersebut. Yang menjadi fokus pendekatan perkembangan ini adalah

bagaimana setiap pribadi berkembang dalam imannya, sehingga mencapai

hubungan dengan sumber terdalam kehidupan kita yakni Tuhan. Oleh karena itu

proses pendidikan yang dilakukan adalah berdiam, mendengar, istirahat

(bersabat), yang penting bagi perkembangan iman, serta belajar dan melayani

yang penting untuk aksi keluar.

Ada dua proses yang penting untuk melakukan aksi keluar yakni belajar dan

melayani. Belajar berarti mempelajari segala sumber-sumber Iman Kristen seperti

halnya Alkitab, Ilmu Theologi dan Sejarah. Tapi belum cukup dengan hanya

mengerti hal-hal tersebut, melainkan juga mengkontekstualisasikan pemahaman

itu dengan perkembangan zaman saat ini. Semua proses yang terdapat dalam

pendekatan ini harus bemanfaat untuk kegiatan pelayanan keluar (dunia).

Melayani orang-orang yang membutuhkan dan melayani dunia dengan modal

yang telah disiapkan.

Dalam pendekatan perkembangan spiritualdi Gereja dapat juga

memanfaatkan ilmu psikologi yakni:

- Menolak pandangan sekuler dan menawarkan pandangan Religius yaitu

pertobatan (Horace Bushnell)

- Menerima teori-teori perkembangan manusia dan memakainya sebagai alat

dalam Pendidikan Kristiani (akhir abad 18 dan awal 20)

- Menyetujui pentingnya pribadi atau personal dalam pengertian yang lebih

luas.

Pendekatan perkembangan ini dapat juga memakai suatu model psikologi

perkembangan manusia seperti Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, Erik H Erikson

dan James Fowler.Salah seorang psikolog diantaranya Jean Piaget memusatkan

teorinya pada perkembangan intelegensi anak atau perkembangan kognitif anak.

Dia juga membagi kognitif anak tersebut dalam empat tahap yang berbeda-beda

yaitu tahap sensorimotorik, tahap pra-operasional yang terdiri dari atas tahap

Page 28: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

28

prakonsepsi dan tahap berpikir anak yang intuitif, selanjutnya adalah tahap operasi

konket dan tahap formal. (Supomo, 2001)

Teori-teori perkembangan yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh diatas

adalah teori yang banyak dipakai dan banyak mempengaruhi pola-pola pendidikan

Kristiani dengan pendekatan perkembangan. Pendekatan perkembangan ini juga

dapat kita temui di gereja-geraja tertentu sebagai bahan ajar guru-guru sekolah

minggu.

3. Pendekatan Iman

Sebelum masuk dalam penjelasan tentang pendekatan iman atau lebih

tepatnya pendekatan komunitas iman, dapat kita perhatikan dulu apa yang menjadi

latar belakangnya. Antar lain kebutuhan akan komunitas dan story telling, atau

berbagi/ sharing (feed back to change) dalam pengertian memahami Allah yang

perduli dan bisa semaksimal mungkin dalam mengubah cara hidup. Spiritual

semacam ini bisa membuat pandangan orang tentang kehidupannya adalah Tuhan

didalam realita kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana kita ketahuiPendidikan Agama Kristen menurut PEAGET

adalah untuk menciptakan manusia yang mampu mengerjakan hal-hal baru,

menjadi manusia yang kreatif dan inventif, serta tidak hanya mengulang apa

yang telah dikerjakan oleh generasi sebelumnya, melainkan menjadi penemu

hal-hal baru, membentuk pikiran yang bersifat kritis. Maka pendekatan

iman merupakan pola pendidikan kristiani yang sangat dibutuhkan dewasa

ini.

Pola pendidikan kristiani pendekatan iman ini membantu komunitas-

komunitas yang mempromosikan perkembangan manusia yang otentik dan

membantu orang menentukan komunitas.Pengajar berperan sebagai pemimpin

komunitas yang memfasilitasi komunitas tersebut.sehingga setiap apa yang terjadi

dan semua hal yang dilakukan dalam komunitas tersebut menjadi hal utama

dalam pembentukan pribadi-pribadi dalam komunitas. Diharapkan naradidik

bertumbuh didalam iman kristiani setia kepada Tuhan dan bukan hanya saling

mengenal, menghormati, memperhatikan, mendukung dansaling mengingatkan

Page 29: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

29

komunitasnya saja tetapi harus bersaksi kepada orang lain. Sehingga didik mampu

menghadirkan karakter kristianai didalam dirinya senantiasa bersaksi menjadi

gaya hidupnya..

4. Pendekatan Transformasi Sosial

Transformasi sosial adalah perubahan sosial yang berarti segala perubahan

yang terjadi dalamlembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang

mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada defenisi tersebut adalah pada

lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan

mempengaruhi struktur masyarakat lainnya. (Soekanto, 1990)

Ada beberapa pengertian tentang transformasi sosial yaitu;

a. Perubahan sosial yang bersifat mendasar dan mengubah pola-pola

hubungan masyarakat.

b. Perubahan fundamental dalam pandangan terhadap realitas sosial

(kehidupan sosial), yaitu transformasi dari tahap pemikiran evolusi sosial

menuju pada perubahan fundamental dalam pemikiran yang menghasilkan

perubahan kehidupan nyata.

c. Perubahan fundamental dalam masyarakat, yaitu mengarah pada pencarian

penjelasan tentang sifat dasar yang sistematis dari masalah sosial.

Transformasi sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang

mempertahankan keseimbangan masyarakat misalnya, perubahan dalam unsur

geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan.

Sorokin (1957) berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan suatu

kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan sosialtidak akan berhasil

baik.

Transformasi sosial hanya akan terjadi jika perancangan peraturan bertujuan

mengubah institusi sosial, Institusi adalah perilaku yang dilakukan oleh individu

atau kelompok secara berulang-ulang atau terus-menerus. Ketika ada perlaku yang

bermasalah, maka peraturan itu dibuat untuk mengatasi perilaku yang bermasalah

tersebut.

Page 30: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

30

Akan tetapi terjadinya perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar,

meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang

mendorong sehingga mendukungbudaya, lebih-lebih lagi dalam masyarakat yang

kompleks yang mengalami perubahan yang pesat yang tidak diikuti dengan

perubahan perilaku dalam kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, yang mana

nantinya pada gilirannya akan menjadi hambatan.

Untuk merancang peraturanyang dapat mengatasi perilaku bermasalah

tersebut, digunakan metode perancangan peraturan yang disebut Metode

Pemecahan Masalah (MPM). MPM selalu mensyaratkan analisis sosial dalam

merancang sebuah peraturan. Dalam pendekatan trasnformasi sosial untuk

menemukan penyebab sebuah perlaku bermasalah seorang perancang mengajukan

pertanyaan penting: mengapa seseorang berperilaku tertentu didalam hukum. Jadi

tidak langsung mengatur mengenai sanksi terhadap suatu perilaku bermasalah.

Tujuan dari pendekatan pendidikan Kristiani melalui transformasi sosial ini ini

adalah membantu orang-orang dan komunitas-komuniatas khususnya naradidik

untuk mempromosikan (menekankan) kewarganegaraan yang setia pada Tuhan

dan perubahan sosial. Kegiatan rutin yang dilakukan dapat saja ditambahkan

melalui pelajaran ekstrakurikurel dan biasanya disebutkan dengan Pemahaman

Alkitab karena didalam pertemuan tersebut men-share-kan isi Kitab Suci dan

dikaitkan dengan pengalaman hidup.

Dengan demikian setiap naradidik yang mengikuti pola pendidikan Kristiani

melalui transformasi sosial tersebut akan mengalamai perubahandidalam

pembaharuan budinya, sebagaimana tertulis didalam Roma 12:2 “Janganlah kamu

menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang

berkenan kepad Allah dan yang sempurna”. Bahkan mereka akan bertumbuh,

berakar dan berbuah didalam iman Kristen.

Page 31: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

31

EVALUASI & REVISI KURIKULUM

A. EVALUASI DAN PENGUKURAN

1. Makna Evaluasi dan Pengukuran

Wand dan Brown (1957) mendefinisikan evaluasi sebagai “...refer to the act

or process to determining the value of something’. Evaluasi mengacu kepada

suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.

Guba dan Lincoln juga mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses

memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan

(evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan,

keadaan atau sesuatu kesatuan tertentu (Hamid Hasan 1988)

Ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi: Pertama, evaluasi

merupakan suatu proses, artinya dalam suatu pelaksanaan evaluasi mestinya

terdiri dari berbagai macam tindakan yang harus dilakukan. Dengan demikian

evaluasi bukanlah hasil atau produk, akan tetapi rangkaian kegiatan untuk

memberi makna atau nilai sesuatu yang dievaluasi.Dengan kata lain evaluasi

dilakukan untuk menentukan judgment terhadap sesuatu. “Evaluation is

concerned with making judgment about thing” (Print, 1993)

Kedua, evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti, artinya

berdasarkan hasil pertimbangan apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak.

Dengan kata lain evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai.

Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan pengukuran. Pengukuran

(measurement) pada umumnya berkenan dengan masalah kuantitatif untuk

mendapatkan informasi yang diukur. Oleh sebab itu dalam proses pengukuran

diperlukan alat bantu tertentu. Misalnya untuk mengukur kemampuan atau

prestasi seseorang dalam memahami bahan pelajaran diperlukan tes prestasi

belajar. Untuk mengukur IQ digunakan test IQ, untuk mengukur berat badan

digunakan alat timbangan dan lain sebagainya.

Antara evaluasi dan pengukuran tidak bisa disamakan walaupun keduanya

memiliki keterkaitan yang sangat erat. Evaluasi akan lebih tepat manakala

Page 32: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

32

didahului oleh proses pengukuran, sebaliknya hasil pengukuran tidak akan

memiliki arti apa-apa manakala tidak dikaitkan dengan proses evaluasi.

2. Fungsi Evaluasi

Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektifitas kinerjanya selama ini,

sedangkan bagi pegembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi

untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan.

Ada beberapa fungsi evaluasi yakni:

a. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa. Melalui

evaluasi siswa akan mendapatkan informasi tentang efektifitas pemeblajaran

yang dilakukannya. Dari hasil evaluasi siswa akan dapat menentukan harus

bagaimana proses pembelajaran yang perlu dilakukannya.

b. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana

ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan. Siswa akan

tahu bagian mana yang perlu dipelajari lagi dan bagian mana yang tak perlu.

Page 33: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

33

c. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program

kurikulum. Infoemasi ini sangat dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk

para pengembang kurikulum khusunya untuk perbaikan program selanjutnya.

d. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara indifidual

dalam mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan

sehubungan dengan pemilihan bidang pekerjaan serta pengembangan karier.

e. Evaluasi berguna untuk para pengembangkurikulum khususnya dalam

menentukan kejelasan tujuan khusu yang ingin dicapai. Misalnya, apakah

tujuan itu perlu diubah atau ditambah.

f. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang

berkepentingan dengan pendidikan di sekolah. Misalnya untuk orang tua, untuk

guru dan pengembang kurikulum, untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan,

untuk orang yang mengambil kebijakan pendidikan termasuk juga untuk

masyarakat. Melalui evaluasi dapat dijadikan bahan informasi tentang

efektifitas program sekolah.

3. Tipe Evaluasi

Evaluasi selalu berhubungan dengan dua fungsi. Kedua fungsi tersebut

menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi

sebagai fungsi formatif. Fungsi Sumatif adalah apabila evaluasi itu digunakan

untukmelihat keberhasilan suatu program yang direncanakan. Oleh karena itu,

evaluasi sumatif berhubungan dengan pencapaian suatu hasil yang dicapai suatu

program.

Evaluasi formatifdilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk

melihat kemajuan belajar siswa. Print (1993) menjelaskan ‘Formatif evaluation is

directed towards providing information on learner performance at one or more

points during the learning process’.Jadi hasil dari evaluasi formatif dapat

dijadikan sebagai umpan balik bagi guru dalam upaya memperbaiki kinerjanya.

Page 34: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

34

B. REVISI KURIKULUM

Revisi Kurikulum atau perubahan kurikulum, mengakibatkan adanya

perubahan di berbagai hal salah satunya dalam hal istilah yang dipergunakan.

Daftar istilah tersebut sesuai dengan yang tertera pada PERMEN Nomor 53Tahun

2015 yang telah dinyatakan tidak BERLAKU lagi dan kemudian diubah menjadi

PERMENDIKBUD No. 23 Tahun 2016 yang membahas tentangPENILAIAN

sebagai Kurikulum 13.

Nama perubahan tersebut diantaranya adalah:

1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional, melainkan tetap

memakai nama Kurikulum 2013 Edisi revisi yang berlaku secara Nasional.

2. Penilaian sikap Kompetensi Inti (KI 1 & KI 2) sudah ditiadakan disetiap mata

pelajaran kecuali mapel agama dan PPKn; namun demikian Kompetensi Inti

tetap dicantumkan dalam penulisan RPP.

3. Jika ada 2 nilai praktek dalam 1 KD (Kompetensi Dasar), maka yang diambil

adalah nilai yang tertinggi. Penghitungan nilai keterampilan dalam 1 KD

dijumlahkan (praktek, produk, portofolio) dan diambil nilai rata-rata, untuk

pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama.

4. Pendekatan scientific 5M bukan lagi satu-satunya metode saat mengajar dan

apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.

5. Silabus kurtilasedisi revisi lebih ramping hanya 3 kolom yaitu KD, materi

pembelajaran dan kegiatan pembelajaran.

6. Perubahan terminologi Ulangan Harian menjadi Penilaian Harian, UAS

menjadi Penilaian Akhir Semester untuk semester ganjil dan Penilaian Akhir

Tahun untuk semester genap. Sedangkan untuk Ulangan Tengah Semester

(UTS) sudah tidak ada lagi dan langsung ke Penilaian Akhir Semester atau

penilaian Akhir Tahun.

7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang

digunakan dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik

penilaian (jika ada).

Page 35: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

35

8. Skala penilaian menjadi 1:100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk

predikat dan deskripsi.

9. Remedial diberikan untuk yang memeperoleh hasil/nilai kurang, namun

sebelumnya siswa harus diberikan pelajaran ulang. Nilai remedial adalah nilai

yang dicantumkan dalam hasil.

Page 36: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

36

PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengembangan kurikulum (curriculum development atau curriculum

planning) adalah proses atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk

menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan

penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di sekolah.Pengembangan kurikulum

mencakup beberapa tingkat Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional,

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP).

Menurut Sukmadinata (2000:1) pengembangan kurikulum mempunyai

makna yang cukup luas diantaranya bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama

sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum

yang telah ada (curriculum improvement). Beliau juga menjelaskan bahwa pada

satu sisi pengembangan kurikulum berarti menyusun seluruh perangkat kurikulum

mulai dari dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis

besar program pengajaran, sampai dengan pedoman-pedoman pelaksanaan (macro

Page 37: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

37

curriculum). Pada sisi lain berkenaan dengan penjabaran kurikulum (GBPP) yang

telah disusun oleh team pusat menjadi rencana dan persiapan-persiapan mengajar

yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru-guru di sekolah, seperti

penyususnan rencana tahunan, caturwulan, satuan pelajaran dan lain-lain (micro

curriculum).

Pengembangan kurikulum dapat dilihat dari cakupan pengembangannya,

apakah curriculum contraction atau curriculum improvement. Ada dua

pendekatan yang dapat diterapkandalam pengembangan kurikulum yakni;

Pertama, pendekatan Top Down atau pendekatan administratif yaitu pendekatan

dengan sistem komando dari atas ke bawah dan Kedua, adalah pendekatan Grass

Roots atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif dari bawah lalu

disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan istilah singkat

sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.

Dalam Pengembangan Kurikulum komponen tujuan merupakan salah satu

komponen yang sangat penting. Menurut Undang-undang No 20 tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional kurikulum adalah seperangkat rencana dan

pengaturan mengenai tujuan dan isi atau bahan pelajaran serta cara yang

digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan

demikian kurikulum adalah konsep yang bertujuan, sebab setiap rencana harus

memiliki tujuan agar dapat ditentukan apa yang harus dicapai,serta apa yang harus

dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam pengembangan kurikulum azas pertama adalah azas filosofi. Adapun

yang dibahas dalam azas tersebut adalah persoalan-persoalan mendasar tentang

pengembangan kurikulum, misalnya tentang arah pendidikan. Apakah arah

pendidikan itu untuk membentuk anak didik yang mampu menguasai bidang

ilmupengetahuan? Apakah arah pendidikan itu untuk membentuk manusia yang

mampu berpikir kreatif atau inovatif? Atau apakah hanya sekedar membentuk

manusia yang dapat mengawetkan kebudayaan masa lalu sesuai dengan sistem

nilai yang berlaku dimasyarakat? Jika kita perhatikan arah pendidikan tersebut

maka perumusan tujuan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah kurikulim.

Page 38: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

38

Beberapa alasan perlunya perumusan tujuan dalam sebuah kurikulum yakni;

Pertama, tujuan erat kaitannya dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh

setiap upaya pendidikan. Kedua, melalui tujuan jelas dapat membantu para

pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan

bahkan akan membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran.Ketiga,

tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan

batas-batas dan kualitas pembelajaran.

Mempertimbangkan kurikulum dengan memperhatikan materi essensial yang

memungkinkan diberikan kepada peserta didik guru perlu memperhatikan materi

pembelajaran. Sasaran PAK adalah membentuk perilaku peserta didik yang sesuai

dengan ajaran Firman Tuhan, bukan hanya mengetahui atau memahami suatu

pengetahuan.

Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam kurikulum PAK untuk

memahami suatu pengetahuan, sehingga mempunyai dampak atau pengaruh yang

nyata dalam kehidupan peserta didik pada aspek kognitif, afektif dan

psikomotoriknya. Misalnya bila peserta didik mempelajari tentang ibadah bukan

hanya memahami konsep tentang ibadah saja namun juga melakukan praktek

ibadah tersebut.

Gurupun harus mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

pendekatan pendidikan-pendekatan kristiani agar materi pelajaran yang essensial

minimum itu bisa diberikan secara penuh dan dipahami peserta didik. Guru perlu

juga membuat kriteria-kriteria essensial minimum dari pelajaran PAK di sekolah

kemudian dibuat pendalaman atau perluasannya yang proses pembelajarannya

bisa dilaksanakan di sekolah atau ekstra kurikuler.

Pengembangan kurikulum PAK pada sekolah yang mengacu kepada

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasonal Pendidikan

(SNP) khususnya standar dalam prasarana pendidikan. Pengembangan sarana dan

prasarana pendidikan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti penyediaan

buku pedoman guru PAK, penyediaan buku teks atau buku pelajaran PAK dan

penyediaan alat peraga PAK.

Page 39: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

39

Buku pedoman guru untuk membantu guru mencapai tujuan pengajaran yang

digunakan oleh guru dalam mengajar, sehingga ketika menyusun silabus akan

terhindar dari kesalahan konsep. Buku pedoman guru sangat penting sebagai

pedoman untuk menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi

pembelajaran. Materi pembelajaran pada buku kurikulum hanya hanya pokok-

pokok materi pembelajaran, sehingga tugas gurulah yang aktif dan kreatif dalam

mengembangkan materipembelajaran tersebut.

Buku teks atau buku pelajaran merupakan sumber bahan rujukan. Buku teks

sebagai suber bahan belajar utama dalam penyusunan silabus sebaiknya tidak satu

jenis atau satu orang pengarang. Buku teks yang digunakan hendaknya bervariasi

agar mendapatkan materi pembelajaran yang luas. Buku pelajaran PAK dalam

penyusunannya hendaknya selalu memperhatikan tujuan pendidikan nasional

yaitu membentuk manusiaIndonesia yang bertakwa dan berbudi pekerti luhur.

Media cetak seperti buku, bulletin, jurnal. koran, majalah dan sebagainya yang

berkaitan langsung dengan materi PAK atau materi pelajaran yang sifatnya umum.

Media elektronik adalah komputer (seperti internet), film, televisi, VCD/DVD,

radio, kaset dan sebagainya. Dari media elektronik ini yang dimanfaatkan adalah

hardwere (perangkat keras) dan terutama softwere (perangkat lunak) berupa

program-programnya berkaitan dengan PAK.

PAK dikembangkan dengan menempatkan nilai-nilai agama dan budaya luhur

bangsa seperti spirit dalam proses pengelolaan dan pembelajaran. Hal ini

ditunjukkan antara lain dengan mengintegrasikan wawasan keagamaan pada

kurikulum untuk menunjang keberhasilan pembelajaran. Untuk itu perlu

diperhatikan scope (ruang lingkup) dan squence (urutan) isi materinya agar mudah

dipahami baik oleh guru maupun peserta didik.

Pengembangan Kurikulum PAK pada sekolah juga mengimplementasikan

Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan

Pendidikan Keagamaan, bahwa pendidikan Kristen dapat diklasifikasikan ke

dalam tiga bentuk: Pertama, pendidikan agama diselenggarakan dalam bentuk

PAK di satuan pendidikan dan semua jenjang dan jalur pendidikan. Kedua,

pendidikan umum berciri Kristen pada satuan pendidikan anak usia dini,

Page 40: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

40

pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal

dan non formal, serta informal. Ketiga, pendidikan keagamaan Kristen pada

berbagai satuan pendidikan sekolah minggu dan sekolah Alkitab yang

diselenggarakan pada jalur formal non formal, serta informal.

Page 41: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

41

KEDUDUKAN DAN PERANAN KURIKULUM PAK

DALAM SISTEM PENDIDIKAN

Sesuai dengan jati diri Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) sebagai

negara Pancasila, mata pelajaran agama sudah masuk ke dalam Kurikulum wajib

di sekolah-sekolah sejak dasawarsa 50-an. “Pendidikan agama wajib diberikan

walaupun dari sesuatu agama hanya ada seorang pelajar” atau dikenal juga

dengan Instruksi 1967.

Pada dasawarsa 60-an Departemen Masyarakat Kristen Protestan (BIMAS

Kristen) telah mendorong Dewan Gereja-gereja di Indonesia menugaskan

KOMPAK untuk menyusun Kurikulum vak agama bagi anak didik Sekolah

Dasar, SLTP ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dan SLTA (Sekolah Lanjutan

Tingkat Atas). Dalam suatu rapat kerja di Cipayung dan Jakarta para perserta

mulai bersepakat tentang ruang lingkup dan pendekatan yang akan dipakai untuk

kurikulum agama di Sekolah Dasar, SLTP, SLTA dan di Perguruan Tinggi

masing-masing.

Menurut Robert R. Boehlke penulis “SEJARAH PERKEMBANGAN

PIKIRAN DAN PRAKTEK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN” pelayanan

gerejawi hendaknya dinamakan Pembinaan Warga Gereja/Jemaat (PWG/J), dan

pembinaan yang bertitik tolak dari Ilmu Pendidikan Agama Kristen, sebaiknya

segala kesempatan diselenggarakan oleh pelbagai wadah tertentu di jemaat

digolongkan dan diadakan dibawah “payung” istilah “Pendidikan Agama Kristen”

agar terdapat kesinambungan antara pengalaman pendidikan yang direncanakan

bagi kaum muda dan mereka yang dewasa secara kronologis, tetapi ingin

bertumbuh menjadi “semakin” dewasa lagi. (EFESUS 4: 13-16)

Penyusun Strategi Pendidikan Kristen di Indonesia mengandung pikiran global

ini: “PAK mencakup segala sesuatu yang menjadi tugas pendidikan gerejawi,

termasuk didalamnya PGW (Pembinaan Warga Gereja). PAK mencakup seluruh

kegiatan gereja dalam mendidik anggota dan calon anggotanya untuk hidup dalam

kehidupan Kristen baik yang diselenggarakan di dalam gereja maupun yang

diselenggarakan disekolah-sekolah dan dalam keluarga. PAK yang mencakup

Page 42: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

42

pendidikan semua golongan umur dan berjalan terus-menerus dari awal hingga

akhir hidup manusia (from womb to tomb)”.Boehlke (2011: 812)

Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan

Nasional dinyatakan bahwa pendidikan agama dan keagamaan menjadi bagian

dari pendidikan nasional. PAK yang diselenggaran di sekolah-sekolah itu adalah

suatu usaha pendidikan dengan tujuan keselamatan, usaha yang sadar sistematis

dan berkesinambungan, apapun bentuknya.

Sebagaimana penulis ungkapkan diatas sasaran PAK adalah membentuk

perilaku peserta didik/naradidik yang sesuai dengan ajaran Firman Tuhan, bukan

hanya mengetahui atau memahami suatu pengetahuan. Dalam hal ini pendidikan

tidak hanya terbatas pada pendidikan formal baik disekolah maupun di gereja,

melainkan juga pendidikan informal yang dilakukan dengan sosialisasi tersebut

disengaja dan terprogram dengan sistematis. PAK juga merupakan pendidikan

yang khusus yakni dalam dimensi religus manusia. Untuk itu butuh waktu, bahkan

membutuhkan investasi berupa pengajaran, pelatihan, pemberian rangsangan

pendidikan (stimulus education).

PAK merupakan pendidikan yang bertujuan memberikan bekal kemampuan

yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor tentang suatu agama yang dianut

peserta didik, khususnya agama Kristen, dengan memberikan kemampuan dalam

menjalankan ajaran-ajaran Kristen sebagai seorang kristiani.

Sementara pelaksanaan pembelajaran PAK di sekolah kebanyakan masih

dalam keadaan yang memprihatinkan. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam

mengajarkan PAK antara lain kurang seimbangnya materi pembelajaran yang

diberikan dalam PAK dengan alokasi waktu yang diberikan dalam kurikulum

sekolah yaitu2-3 jam pelajaran per minggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah

hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas. Sedangkan implikasi bagi guru itu

sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan

proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu.

Guru harus mampu menerapkan atau memberi bekal kemampuan yang

bersifat minimum tetapi essensial (minimum essential) kepada naradidik.

Misalnya peserta didik diprioritaskan mempelajari dan memahami pokok-pokok

Page 43: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

43

iman Kristen atau nilai-nilai utama kristiani. Oleh karena itu dalam merancang

PAK yang harus dipilh adalah materi-materi yang penting yang minimal harus

dikuasai oleh peserta didik. Sehingga pemebelajaran itu menjadi berfungsi karena

sesuai dengan tujuan dan kebutuhan peserta didik. Itulah pokok dari essensial

minimum dalam pengembangan kurikulum.

Gurupun harus mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

pendekatan pendidikan-pendekatan kristiani agar materi pelajaran yang essensial

minimum itu bisa diberikan secara penuh dan dipahami peserta didik. Guru perlu

juga membuat kriteria-kriteria essensial minimum dari pelajaran PAK di sekolah

kemudian dibuat pendalaman atau perluasannya yang proses pembelajarannya

bisa dilaksanakan di sekolah atau ekstra kurikuler.

Saat ini dalam era globalisasi atau era persaingan mutu atau kualitas

seseorang berkarya tidak cukup dengan Kecerdasan Intelektual (IQ) saja yaitu

seseorang yang bekerja dengan rumus logika kerja saja atau dengan Kecerdasan

Emosional (EQ) saja, akan tetapi Kecerdasan Spiritual (SQ) harus mendukung

seseorang berkarya, sehingga ketiganya harus saling mendukung dalam mental

diri. (Daniel Goleman, 1996). Sementara Indonesia merupakan negara yang

memiliki sumber daya alam yang sangat membanggakan baik didarat, laut,

bahkan di udara, namun sayangnya masyarakat dan generasinya belum memiliki

kemampuan berpikir (thinking skill) yang memadai. Pembelajaran PAK Sangat

dibutuhkan untuk memenuhi ketiga kecerdasan yakni IQ, EQ dan SQ yang harus

dimiliki dengan seimbang.

Perlu diketahui gambaran umum tentang mutu PAK sekolah belum

memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualiatas PAK di sekolah yang

menjadi agama sebagai benteng moral bangsa. Kondisi ini sekurang-kurangnya

dipengaruhi oleh tiga faktor yakni: Pertama, Sumber daya guru, Kedua,

pelaksanaan PAK, Ketiga, terkait dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang

PAK di sekolah.Oleh karenanya dalam mendukung sistem pendidikan negara kita

peranan kurikulum PAK sangat menentukan bagaimana masa depan negara dan

bangsa dengan kata lain bagaimana masa depan negara dan bangsa sangat

ditentukan oleh pendidikan hari ini.

Page 44: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

44

Pengembangan kurikulum PAK dalam sekolah harus dilaksanakan secara

berkesenimbangungan sesuai dengan perkembangan zaman yang pesat dan sesuai

dengan kebutuhan naradidik baik dalam sitem pendidikan formal, non formal dan

informal.sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007

tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Aspek sarana dan

prasarana pendidikan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti penyediaan

buku pedoman guru PAK, penyediaan buku teks atau buku pelajaran PAK dan

penyediaan alat peraga PAK.

Dan yang tak terlepas pentingnya peranan guru sebagai pendidik, gurupun

harus giat mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

pendekatan pendidikan kristiani agar materi pelajaran khususnya bekal

kemampuan yang essensial minimum itu bisa diberikan secara penuh dan

dipahami peserta didik. Oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia

(SDM) berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tak dapat ditawar-tawar

lagi.

Page 45: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

45

PERAN GURU DALAM PENYUSUNAN DAN

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK

Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP) telah mengembangkan

Panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang didalamnya

terdapat model-model kurikulum satuan pendidikan.Mengacu kepada Undang-

undang no.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Peraturan Pemerintah (PP) no 19

tahun 2005 tentang SNP, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)

no 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang

Standard Kompetensi Lulusan, Permendiknas No.24 tentang Pelaksanaan Standar

Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, serta Panduan Penyusunan Kurikulum yang

dibuat oleh BSNP, setiap satuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan

kurikulum yang diimplementasikan di satuan pendidikan masing-masing.

Berkaitan dengan standar nasional pendidikan, pemerintah telah menetapkan

delapan aspek pendidikan yang harus distandarkan, yang pada saat ini telah

dirampungkan dua standar, dan siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah.

Standar yang sudah siap dan sudah disahkan serta siap dilaksanakan tersebut

adalah standar isi dan standar kompetensi lulusan (SKL) Standar isi untuk Satuan

Pendidikan Dasar dan Menengah telah disahkan Menteri dengan Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional No.24 Tahun 2006 tanggal 2 juni 2006 tentang

pelaksanaan Permen No 22tahun 2006 tentang standar isi dan Permen No 23

tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar

dan Menengah, peraturan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan mulai tahun

ajaran 2006/2007.

Berdasarkan Peraturan Menteri sebagaimana diuraikan diatas , pengembangan

standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam kurikulum operasional

Tingkat Satuan Pendidikan, merupakan tanggung jawab satuan pendidikan

masing-masing.Oleh karena itu sebutan untuk kurikulum ini adalah KTSP,

singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara

Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan peningkatan iman dan

Page 46: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

46

takwa; peningkatan akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdassan, dan minat

peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan

daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional

dan nilai-nilai kebangsaan.

Kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yakni kurikulum sebagai

dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai sebuah dokumen

kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai

implementasi adalah realisasi dari pedoman tersebut dalam bentuk kegiatan

pembelajaran. Penerapan Pengembangan Kurikulum PAK memungkinkan para

guru merencanakan, melaksanakan, dan menilai kurikulum serta hasil belajar

peserta didik dalam mencapai standar kompetensi, dan kompetensi dasar, sebagai

cermin penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari.

Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum.

dalam proses pengembangan kurikulum peran guru lebih banyak dalam tatanan

kelas. Dalam kaitannya dengan pengembangan standar kompetensi, guru harus

mampu mengembangkan silabus, sebagai penjabaran standar kompetensi dan

kompetensi dasar ke dalam materi standar, kegiatan pembelajaran dan indikator

pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Kurikulum PAK dikembangkan dengan memperhatikan standar kompetensi

dan indikator kompetensi sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan

peserta didik dari satuan pendidikan dan standar isi yang telah disahkan

pemerintah.

Murray Printr (1993) mencatat peran guru dalam level ini adalah sbb:

1. Implementers : guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah

ada. Guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum.

2. Adapters: guru sebagai adapters : lebih dari hanya sebagai pelaksana

kurikulum, akan tetapi juga sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik

dan kebutuhan daerah. Peran guru sebagai adapters lebih luas dari peran guru

sebagai implementers.

Page 47: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

47

3. Developers : peran sebagai pengembang kurikulum,guru memiliki kewenangan

dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru bukan saja dapat menentukan tujuan

dan isi pelajaran yang akan disampaikan, akan tetapi juga dapat menentukan

strategi apa yang harus dikembangkan serta bagaimana mengukur

keberhasilannya.

4. Researchers : peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher).

Guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum,

menguji efektifitas program, menguji strategi dan model pembelajarandan lain

sebagainya termasukmengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai

target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian ini

adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode penelitian yang

berangkat dari masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum.

Dengan demikian PTK bukan saja dapat menambah wawasan guru dalam

melaksanakan tugas profesionalnya, akan tetapi secara terus menerus guru

dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.

Page 48: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

48

PERUBAHAN KURIKULUM 2013

REVISI TERBARU 2018

PADA TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bahwa seluruh sekolah

wajib menerapkan Kurikulum 20113 pada tahun ajaran 2018/2019 dengan ini

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Adapun Perubahan Kurikulum 2013 Revisi Terbaru 2018 pada tahun pelajaran

2018/2019 adalah sebagai berikut:

1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional akan tetapi tetap

Kurikulum 2013 Edisi Revisi yang berlaku secara Nasional.

2. Penilaian sikap KI 1 dan KI 2 sudah ditiadakan disetiap mata pelajaran, hanya

Agama dan PPKN namun KI tetap dicantumkan dalam penulisan RPP. Jika ada

2 nilai praktik dalam KD, maka yang diambil adalah nilai tertinggi.

3. Perhitungan nilai keterampilan dalam KD ditotal (Praktik, produk, portofolio)

dan diambil nilai rata-rata. Untuk pengetahuan, bobot penilaian harian, dan

penilaian akhir semester itu sama.

4. Pendekatan scientific SM bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan

apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.

5. Silabus kurtilas (K 13) adalah edisi revisi terbaru lebih ramping hanya 3 kolom.

Yaitu KD, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran.

6. Perubahan terminologi Ulangan Harian (UH) menjadi Penilaian Harian (PH),

UAS menjadi Penilaian Akhir Semester untuk semester 1 dan Penilaian Akhir

Tahun (PAT) untuk semester 2. Dan sudah tidak ada lagi UTS, langsung ke

penilaian akhir semester.

7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan

dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika

ada).

8. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi.

Page 49: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

49

9. Remedial diberikan untuk yang kurang namun sebelumnya siswa diberikan

pembelajaran ulang. Nilai Remedial adalah nilai yang dicantumkan dalam

hasil.

Selamat Belajar! Good, Better, Best.

Sola Gratia

Page 50: PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

50

DAFTAR PUSTAKA

Anthony Michael J, Foundations Ministry An Introduction To Christian

Education For A New Generation, Malang; Penerbit Gandum Mas.

Boehlke, Robert R, 2011, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek PAK,

Jakarta; BPK Gunung Mulia.

Calvin, Yohanes, 2008, Institutio Pengajaran Agama Kristen, Jakarta: BPK

Cully, Iris V, 2006, Dinamika Pendidikan Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Homrighausen, E.G., I.H. Enklaar, 2012, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta;

BPK Gunung Mulia.

Humes L, 1982, Arah Pendidikan Kristen, Falsafah Pendidikan Kristen Dan

Dasar Alkitabiahnya, Malang: Yayasan Persekutuan Pekabaran injil

IndonesiA, Departeman PAP.

Ismail, Andar, 2011, Ajarlah Mereka Melakukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Kristianto, Paulus Lilik, 2006, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen,

Yogyakarta: ANDI.

Lilik, Paulus, K, 2006, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta:

Andi Offset.

Mulyasa, E, 2007, Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru, Bandung; PT.

Remaja Rosa Karya.

Mulyasa, E, 2008, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sebuah Panduan

Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Pazmino, Robert.W, 2012, Fondasi Pendidikan Kristen, Bandung; Sekolah Tinggi

Teologi Bandung, bekerja sama dengan Jakarta; BPK Gunung Mulia.

Sanjaya, H. Wina, 2010, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta; Kencana Prenada

Media Group.

223