of 50 /50
1 PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK Dosen Pengampu: HERLINA SONY SINAGA, SH, M.Pd.K SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BETHESDA BEKASI 2018

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1. Hakikat Kurikulum 3 2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15 3. Komponen Kurikulum

  • Author
    others

  • View
    19

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK - STT BETHESDAsttbethesda.ac.id/.../Pengembangan-Kurikulum-PAK.pdf · 1....

  • 1

    PENGEMBANGAN

    KURIKULUM PAK

    Dosen Pengampu:

    HERLINA SONY SINAGA, SH, M.Pd.K

    SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BETHESDA

    BEKASI

    2018

  • 2

    URUTAN DAN RINCIAN MATERI

    No. Materi Kuliah Hal

    1. Hakikat Kurikulum 3

    2. Aza-azas Pengembangan Kurikulum 15

    3. Komponen Kurikulum 23

    4. Pendekatan-pendekatan Kurikulum PAK 25

    5. Evaluasi & Revisi Kurikulum 31

    6. Pengembangan Kurikulum 36

    7. Kedudukan dan Peranan Kurikulum PAK dalam Sistem Pendidikan 41

    8. Peran Guru Dalam Penyusunan Dan Pengembangan Kurikulum PAK 45

    9. Perubahan Kurikulum 2013 Revisi Terbaru 2018 Pada Tahun Pelajaran

    2018/2019

    10. Daftar Pustaka 50

  • 3

    HAKIKAT KURIKULUM

    A. Pengertian Kurikulum

    Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olah raga pada zaman

    Yunani Kuno yang berasal dari kata curir dan curere. Disebut juga jarak seorang

    pelari. Tempat berpacu atau tempat berlari dari mulai start sampai finish.

    Dalam kamus Latin Indonesia yang disusun oleh K. Prent C.M. Adisubrata

    dan J.S. Poerwadarminta menyatakan beberapa arti tentang kata Kurikulum. Kata

    kurikulum (Indonesia) berasal dari kata Latin Curriculum (Curro) yang memiliki

    arti: (1) Jalan, larinya dll (2) perlombaan, pacuan, balap, peredaran, gerakan

    berkeliling, lamanya, Lapangan perlombaan, gelanggang, jalan. (3) kereta, kereta

    balap, kereta penempur.

    Menurut beberapa ahli kurikulum, kata kurikulum berasal dari bahasa Latin

    dan kata ini belum dimasukkan dalam kamus yang terkenal yaitu Kamus Webster:

    a. Kamus Webster terbitan tahun 1812 belum terdapat kata kurikulum, tetapi

    b. Kamus Webster terbitan tahun 1856 mulai mencantumkan kata kurikulum.

    Kata kurikulum diartikan : (1) A race cource; a place for running; a chariot.

    Artinya kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta

    dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. Kurikulum juga diartikan a chariot

    artinya “semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa

    seorang dari start sampai finish”. (2)A course in general; applied particulary to

    the course of study in a university. Disamping penggunaan “kurikulum” semula

    dalam bidang olah raga, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan, yakni

    sejumlah mata pelajaran di perguruan tinggi.

    c. Terbitan tahun 1955, kata kurikulum diartaikan: (1) A course esp a specified

    fixed course of study, as in a school or college as one leading to degree, (2) The

    whole body of courses offered in an educational institution, or departement there

    of the usual sense.

    Menurut dua pengertian ini, jelas bahwa kata “kurikulum” khusus digunakan

    dalam pendidikan dan pengajaran, yakni sejumlah mata pelajaran di sekolah atau

  • 4

    mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu

    ijazah atau tingkat.

    Sebuah isu yang harus menjadi fokus dalam mempertimbangkan kurikulum

    adalah defenisi. Beberapa definisi kurikulum akan diuraikan dibawah ini agar kita

    dapat mempertimbangkan fundamen-fundamen apa yang akan dipakai. Berbagai

    defenisi kurikulum yang ada mencerminkan adanya perbedaan orientasi nilai dan

    komitmen di bidang pendidikan diantaranya:

    1. Kurikulum adalah konten yang disediakan bagi peserta didik.

    2. Kurikulum adalah pengalaman proses pembelajaran yang terpadu dan terencana

    bagi peserta didik.

    3. Kurikulum adalah pengalaman aktual peserta didik atau partisipan.

    4. Secara umum, kurikulum termasuk materi dan pengalaman untuk pembelajaran.

    Secara khusus, kurikulum adalah pelajaran tertulis yang digunakan dalam

    proses pembelajaran dalam pendidikan Kristen.

    5. Kurikulum adalah pengorganisasian aktivitas pembelajaran yang dipandu oleh

    seorang pengajar dengan tujuan untuk mengubah sikap.

    Masing-masing defenisi tersebut mencerminkan penekanan yang berbeda dalam

    perencanaan dan implementasi pengajaran.

    Ada beberapa ahli teori yang mendefenisikan kurikulum sebagai sesuatu yang

    direncanakan atau dimaksudkan oleh pendidik, sementara pengajaran (instruksi)

    adalah apa yang sebenarnya dialami oleh peserta didik.Dalam kasus ini, yang

    dialami mungkin sama atau agak berbeda dengan apa yang direncanakan atau

    dimaksudkan.Dengan demikian kurikulum dapat didefinisikan sebagai konten

    yang disediakan bagi peserta didik dan pengalaman pembelajaran mereka yang

    aktual yang dipandu oleh seorang pengajar.

    Dari keseluruhan defenisi kurikulum tersebut dapat disimpulkan bahwa para

    ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun ada

    juga kesamaannya yakni bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha

    mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang dicapai.

  • 5

    Murray Print (1993) Kurikulum meliputi ;

    1. Planned learning experiences;

    2. Offered within educational institution/program;

    3. Represented as a document; and

    4. Includes experiences resulting from implementing that document.

    Menurut Print sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar,

    program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen

    serta hasil implementasi dokumen yang telah disusun.

    Banyak tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman, diantaranya

    Hollis L. Caswell dan Campbell (1935) ia menyatakan bahwa kurikulum adalah “

    ...all of the experiences children have underthe guidenceof teacher”. Demikian

    jugadengan Dorris Lee dan Murray Lee (1940) yang menyatakan kurikulum

    sebagai : “ ...those experiences of the child which the school in any way utilizes or

    attempts to influence”. Sedangkan H.H. Giles, S.P, Mc Gutchen, dan A.N.

    Zechiel: “...the curriculum...the total experience with which the school deals in

    educating young people”.

    Dr. E.G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar (Ahli PAK) menyamakan

    rencana pelajaran dengan kurikulum. Secara tegas kedua ahli ini mengemukakan

    bahwa rencana pelajaran atau Curriculum dapat dipahami dalam arti sempit (mata

    pelajaran) dan Curriculum dalam arti luas yaitu segala pengaruh, persekutuan dan

    aktivitas yang lain, yang berhubungan dengan pelajaran bersama itu.

    (Homrighausen dan Enklaar, 2005: 87-88) Hal menarik dalam pernyataan

    Homrighausen dan Enklaar: Isi seluruh Alkitab harus diajarkan menurut rencana

    atau curriculum yang dipertanggung jawabkan atau bagian ini dipahami dalam

    istilah Howard P. Colson dan Raymond M Rigdon, yaitu Alkitab dalam

    kurikulum (kurikulum/perencanaan dalam Pendidikan Agama Kristen).

    (Homrighausen dan Enklaar, 2005: 87)

    Setelah menguraikan kata etimologi kata kurikulum dan beberapa defenisi

    pakar Pendidikan Agama Kristen tentang pengertian kata kurikulum maka

    dapatlah dikatakan bahwa kata kurikulum tidak ada dalam Alkitab tetapi makna

    arti kurikulum dan komponen-komponen kurikulum (tujuan, materi/isi, proses dan

  • 6

    evaluasi/penilaian) tentang pendidikan sebenarnya sudah ada dalam Alkitab.

    Alkitab memuat data yang cukup untuk sebuah studi kurikulum pendidikan

    (perencanaan pendidikan untuk pencapaian suatu tujuan dalam berbagai kegiatan

    mendidik manusia), dengan demikian dapat dikatakan Alkitab adalah sumber

    kurikulum.

    B. Peran dan Fungsi Kurikulum

    Kurikulum menyangkut arah dan tujuan pendidikan serta pengalaman belajar

    yang harus dimilikisetiap siswa serta bagaimana mengorganisasi pengalaman itu

    sendiri. Kurikulum juga dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan yakni

    mempersiapkan peserta didik agar mereka dapat hidup di masyarakat. Didalam

    sistem pendidikan kurikulum merupakan komponen yang sangat penting, sebab

    didalamnya bukan hanya menyangkut tujuan atau arah pendidikan saja akan

    tetapi juga pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa serta bagaimana

    mengorganisasi pengalaman itu sendiri.

    Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, kurikulum memiliki tiga

    peran (Hamalik, 1990) sebagai berikut:

    1. Peranan Konservatif

    Peran Konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya

    sebagai warisan masa lalu. Jika dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat

    kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan budaya lokal

    akan terkikis oleh masuknya budaya asing, maka peran konservatif sangat penting

    didalam kurikulum.

    2. Peran Kreatif

    Sekolah harus bertanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai

    dengan tuntutan zaman. Kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga

    dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang

    dimiliknya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang

    senantiasa bergerak maju secara dinamis. Kurikulum juga harus mampu

    menjawab tantangan zaman yang begitu cepatnya berkembang dan berubah,

    sehingga peran kreatif kurikulum sangat dibutuhkan.

  • 7

    3. Peran kritis dan Evaluatif

    Kurikulum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu

    dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak

    didik.

    Dalam proses pengembangan kurikulum ketiga peran berikut haruslah

    dilaksanakan secara seimbang.Sesuai dengan peran yang harus “dimainkan”

    kurikulum sebagai alat dan pedoman pendidikan maka isi kurikulum harus sejalan

    dengan tujuan pendidikan itu sendiri.Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan

    pada dasarnya mengkristal dalam pelaksanaan perannya itu sendiri.

    Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu ;1)

    Fungsi pendidikan umum (common and general education), 2) Suplementasi

    (suplementation), 3) Eksplorasi (exploration), 4) Keahlian (specialitation).

    1) Fungsi pendidikan umum (common and general education);

    Fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi

    anggota masyarakat yang bertanggung jawab sebagai warga negara yang

    baik.Fungsi kurikulum ini juga harus diikuti oleh setiap siswa pada jenjang dan

    level atau jenis pendidikan manapun.

    2) Suplementasi (suplementation)

    Kurikulum sebagai alat pendidikan harus dapat memberikan pelayanan kepada

    setiap siswa sesuai dengan perbedaan kemampuan.Kemampuan perbedaan minat

    maupun perbedaan bakat. Peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata

    harus terlayani untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal;

    sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata juga harus

    terlayani sesuai dengan kemampuan.

    3) Eksplorasi (exploration)

    Kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat

    masing-masing siswa. Proses eksplorasi terhadap minat dan bakat siswa bukan

    pekerjaan yang mudah. Para pengembang kurikulum harus dapat menggali rahasia

    keberbakatan anak yang kadang-kadang tersembunyi.

  • 8

    4) Keahlian (specialitation)

    Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai dengan

    keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat siswa misalnya: perdagangan,

    pertanian, industri atau disiplin akademik. Untuk itu pengembangan kurikulum

    harus melibatkan para spesialis untuk menentukan kemampuan siswa.

    Kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik

    langsung maupun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Dengan

    demikian kurikulum berfungsi bagi Guru, Siswa, Kepala Sekolah, Pengawas,

    orang Tua dan Masyarakat.

    Ada enam fungsi kurikulum untuk siswa menurut Alexander Inglis (dalam

    Hamalik, 1990)

    1) Fungsi penyesuaian (the adjustive or adaptive function)

    Kurikulum harus dapat mengantar siswa agar mampu menyesuaikan diri dalam

    kehidupan sosial masyarakat.

    2) Fungsi integrasi (the integrating function)

    Kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh. Kemampuan

    kognitif, afektif dan psikomotorik harus berkembang secara terintegrasi.

    3) Fungsi diferensiasi (the differrentiating function)

    Kurikulum harus dapat melayani setiap siswa dengan segala keunikannya.

    4) Fungsi persiapan (the preparation function)

    Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk

    melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun untuk kehidupan di

    masyarakat.

    5) Fungsi pemilihan (the selective function)

    Kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai

    dengan bakat dan minatnya, dengan demikian kurikulum ini harus fleksibel.

    6) Fungsi diagnostik (the diagnostic function)

    Fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa. Kurikulum

    berperan untuk menemukan kesulitan-kesulitan dan kelemahan yang dimiliki

    siswa, disamping mengeksplorasi berbagai kekuatan-kekuatan sehingga melalui

    pengenalan itu siswa dapat berkembang sesuai denganpotensi yang dimilikinya.

  • 9

    C. Kurikulum dan Pengajaran

    Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan

    pendidikan, serta isi yang harus dipelajari, sedangkan pengajaran adalah proses

    yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa.

    Menurut Saylor (1981) kurikulum dan pengajaran seperti Romeo dan Juliet

    maksudnya berbicara tentang Romeo adalah berbicara tentang Juliet. Romeo

    tidak akan berarti apa-apa tanpa Juliet demikian juga sebaliknya. Tanpa kurikulum

    sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran atau pengajaran tidak akan efektif,

    demikian juga tanpa pembelajaran atau pengajaran sebagai implementasi sebuah

    rencana, maka kurikulum tidak akan memiliki arti apa-apa.

    Sistem pengembangan kurikulum akan melahirkan rangkaian pengajaran

    serta hasil yang diharapkan sesuai dengan kurikulum. Rangkaian pengajaran

    inilah yang kemudian akan mengkristal dalam sistem pengajaran yang tiada lain

    adalah tindak lanjut dari pengembangan sistem kurikulum.

    Sistem pengajaran secara langsung dapat dipengaruhi oleh perilaku

    mengajar (seperti kualitas pengajaran, waktu pengajaran, kemampuan mengajar

    guru, dan lain sebagainya). Dari sistem pengajaran itulah selanjutnya dapat

    melahirkan hasil belajar siswa,

  • 10

    Sistem pengajaran terbentuk oleh tiga subsistem, yaitu :

    • subsistem tentang perencanaan pengajaran,

    • subsistem tentang pelaksanaan pengajaran,

    • dan subsistem evaluasi.

    Setiap subsistem itu merupakan suatu rangkaian, yang masing-masing dapat

    dianalisis. Tugas guru adalah berhubungan dengan membangun sistem pengajaran

    ini. Oleh karenanya efektivitas suatu kurikulum sangat tergantung kepada guru

    yang mengembangkannya.

    Sebagai upaya pencapaian tujuan kurikulum perencanaan pengajaran adalah

    proses yang dilakukan untuk mendesain kegiatan pengajaran. Subsistem

    pelaksanaan pengajaran adalah implementasi atau action dari perencanaan.

    Subsistem pelaksanaan erat kaitannya dengan prosedur yang ditempuh oleh guru

    dan siswa didalam praktik pembelajaran.

    Keberhasilan kurikulum sangat tergantung pada subsistem pelaksanaan itu.

    Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

    Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah faktor guru itu sendiri.

    Subsistem evaluasi berhubungan dengan kegiatan untuk mengumpulkan

    informasi tentang pencapaian tujuanp embelajaran oleh siswa. Dalam sistem

    pengajaran subsistem evaluasi memiliki peran dan kedudukan yang sangat

    penting, oleh sebab hasil evaluasi selain dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan

    siswa juga dapat dijadikan sebagai umpan balik untuk perbaikan proses

    pembelajaran.

    Walau antara kurikulum dan pengajaran merupakan dua sisi yang tidak

    terpisahkan, namun dalam suatu proses pengajaran dan pembelajaran, dapat

    terjadi berbagai kemungkinan hubungan antara keduanya.

    Peter F. Oliva (1992) menggambarkan kemungkinan itu kedalam beberapa model:

    1. Model dualistis (the dualistic model)

    Pada model ini kurikulum dan pengajaran terpisah. Keduanya tidak bertemu

    kurikulum yang seharusnya menjadu input dalam menata sistem pengajaran

    tidak tampak. Demikian juga pengajaran yang semestinya memberikan

  • 11

    Kurikulum

    Pengajaran

    Pengajaran

    Kurikulum

    balikan dalam proses penyempurnaan kurikulum tidak terjadi, karena

    kurikulum dan pengajaran berjalan sendiri.

    2. Model berkaitan (the interlocking model)dualistis (the dualistic model)

    Pada model ini kurikulum dan pengajaran dianggap sebagai suatu sistem yang

    keduanya memiliki hubungan. Baik antara kurikulum dan pengajaran

    maupun pengajaran dan kurikulum ada bagian-bagian yang berpadu atau

    memiliki keterkaitan, sehingga antara keduanya memiliki hubungan.

    A B

    3. Model konsentris (the concentric model)

    Pada model ini kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan dengan

    kemungkinan kurikulum bagian dari pengajaran atau pengajaran bagian dari

    kurikulum. Kurikulum yang satu tergantung dari yang lain.

    4. Model Siklus (the ciclical model)

    Pada model ini antara kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan yang

    timbal balik. Keduanya saling berpengaruh. Apa yang diputuskan dalam

    kurikulum akan menjadi dasar dalam proses pelaksanaan pengajaran.

    Kurikulum

    Kurikulum

    Pengajaran

    Pengajaran

    Kurikulum

    Pengajaran

  • 12

    Sebaliknya apa yang terjadi dalam pengajaran dapat mempengaruhi keputusan

    kurikulum selanjutnya.

    A B

    Kurikulum

    D. Kurikulum Ideal dan Kurikulum Aktual

    Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan

    belajar mengajar di sekolah. Setiap guru seharusnya dapat melaksanakan kegiatan

    sesuai dengan tuntutan kurikulum.

    Kurikulum ideal disebut juga kurikulum formal (writen curriculum) yaitu

    kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau

    pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar.

    Kurikulum Ideal tidak mungkin dapat dilakukan secara sempurna oleh setiap

    sekolah. Ada 3 (tiga ) alasan penyebabnya;

    Pertama, ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang tersedia di

    sekolah.

    Kedua, kemampuan guru. Sarana yang lengkap (sesuai tuntutan kurikulum)

    belum menjamin kurikulum ideal dapat dilaksanakan manakala tidak didukung

    oleh kemampuan guru.

    Ketiga, kebijakan setiap sekolah yang bersangkutan. Mis: sarana belajar yang

    lengkap jika tidak boleh digunakan karena harganya yang mahal. Kebijakan

    kepala sekolah dapat menentukan bisa dan tidaknya kurikulum ideal dilaksanakan

    oleh guru.

    Kurikulum Ideal merupakan pedoman bagi setiap guru khususnya tentang tujuan

    dan kompetensi yang hendak dicapai. Kurikulum Aktual adalah kurikulum nyata

    yang dapat dilaksanakan oleh guru sesuai dengan kondisi yang ada.

    Kurikulum

    Pengajaran

  • 13

    Semakin jauh jarak antara kurikulum ideal dengan kurikulum aktual artinya apa

    yang dikerjakan guru tidak sesuai atau jauh dari rambu-rambu kurikulum ideal

    maka akan semakin rendah kualitas suatu sekolah. Sebaliknya, semakin dekat

    jarak antara kurikulum ideal dengan kurikulum aktual artinya apa yang dikerjakan

    guru sesuai dengan rambu-rambu bahkan melebihi kurikulum ideal sebagai

    pedoman, maka semakin bagus kualiatas suatu sekolah atau proses belajar

    mengajar.

    E. Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curricullum)

    Kurikulum tersembunyi pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses

    pendidikan yang tidak direncanakan. Artinya perilaku yang muncul diluar tujuan

    yang dideskripsikan oleh guru.

    Ada dua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku sebagai hidden curriculum,

    yaitu aspek yang relatip tetap dan aspek yang dapat berubah. Aspek yang relatip

    tetap yaitu ideologi keyakinan, nilai budaya masyarakat yang mempengaruhi

    sekolah. Aspek yang dapat berubah meliputi variable organisasi sitem sosial dan

    kebudayaan. Meliputi, bagaimana guru mengelola kelas, bagaimana pelajaran

    diberikan, bagaimana kenaikan kelas dilakukan. Sistem sosial meliputi hubungan

    sosial antara guru, guru dengan peserta didik, guru dan staf sekolah dan lain

    sebagainya.Kurikulum tersembunyi pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses

    pendidikan yang tidak direncanakan. Artinya perilaku yang muncul diluar tujuan

    yang dideskripsikan oleh guru.

    Dalam dimensi pelaksanaan implementasi kurikulum didalam kelas atau

    pengembangan kurikulum dalam skala mikro, kurikulum tersembunyi (hidden

    curruculum) memiliki makna: Pertama, dapat dipandang sebagai tujuan yang

    tidak tertulis (tersembunyi), akan tetapi pencapaiannya perlu dipertimbangkan

    oleh setiap guru agar kualitas pembelajaran lebih bermakna. Sebagai contoh:

    ketika guru hendak mengajar tujuan tertentu melalui metode diskusi, sebenarnya

    ada tujuan lain yang harus dicapai selain tujuan yang berhubungan dengan

    penguasaan materi pembelajaran, misalnya kemampuan siswa untuk

    mengeluarkan pendapat atau gagasan melalui bahasa yang benar, atau sikap siswa

  • 14

    untuk mau mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain dan lain

    sebagainya. Semakin kaya guru menentukan kurikulum tersembunyi, maka akan

    semakin bagus juga kualitas proses dan hasil pembelajaran.

    Kedua, kurikulum tersembunyi juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang

    terjadi tanpa direncanakan terlebih dahulu yang dapatdimanfaatkan oleh guru

    untuk mencapai tujuan pembelajaran.Sebagai contoh: ketika guru akan

    mengajarkan tentang serangga (binatang insekta), tiba-tiba lewat jendela kelas

    muncul seekor kupu-kupu masuk kedalam kelas, nah, kemunculan kupu-kupu

    yang tidak direncanakan itu merupakan hidden curriculum, yang dapat dijadikan

    awal pembahasan materi pembelajaran. Maka semakin kaya guru dengan hidden

    curriculum, akan semakin aktual proses pembelajaran.

  • 15

    AZAS-AZAS PENGEMBANGAN KURIKULUM

    A. Hakikat Pengembangan Kurikulum

    Pada dasarnya kurikulum dibuat secara sentralistik, setiap satuan pendidikan

    diharuskan untuk melaksanakan dan mengimplementasikannya sesuai dengan

    petujuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang disusun oleh

    pemerintah pusat menyertai kurikulum tersebut.Dalam hal ini setiap sekolah

    tinggal menjabarkan kurikulum tersebut di sekolah masing-masing, dan biasanya

    yang banyak berkepentingan adalah guru.

    Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting

    dalam sistem pendidikan. Dalam kurikulum bukan hanya merumuskan tentang

    tujuan yang harus dicapai tetapi juga memberikan pemahaman tentang

    pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.

    Setiap pengembangan kurikulum dalam pada jenjang manapun harus

    didasarkan pada azas-azas teretentu.Fungsi atau landasan pengembangan

    kurikulum adalah seperti pondasi sebuah bangunan.

    Menyusun sebuah kurikulum harus didasarkan pada pondasi yang kuat.

    Kesalahan menentukan dan menyusun pondasi kurikulum berarti kesalahan dalam

    menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan.Pengembangan kurikulum

    pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan

    pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya.

    Mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar siswa

    bukanlah suatu proses yang sederhana. Menentukan isi atau muatan kurikulum

    harus berangkat dari visi, misi serta tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan

    menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan

    masyarakat.

    Menurut David Pratt (1980 )istilah desain lebih mengena dibanding dengan

    pengembangan yang mengandung konotasi bersifat gradual.Desain adalah proses

    yang disengaja tentang suatu pemikiran, perencanaan dan penyeleksian bagian-

    bagian, teknik dan prosedur yang mengatur suatu tujuan atau usaha.

  • 16

    Pengembangan kurikulum (curriculum development atau curriculum

    planning) adalah proses atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk

    menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan

    penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di sekolah.

    Seller memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari

    menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah

    dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan hakikat anak didik,

    pandangan tentang keberhasilan implementasi kurikulum dan lain

    sebagainya.Berdasarkan orientasi itu selanjutnya dikembangkan kurikulum

    menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran

    dan dievaluasi. Hasil evaluasi itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan

    orientasi, begitu seterusnya hingga membentuk siklus.

    Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek,

    yaitu:

    1. Tujuan pendidikan, menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya, hendak

    dibawa ke mana siswa yang kita didik itu.

    2. Pandangan tentang anak, apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif

    atau pasif.

    3. Pandangan tentang proses pembelajaran, apakah proses pembelajaran itu

    dianggap sebagai proses tranformasi ilimu pengetahuan atau mengubah

    perilaku anak.

    4. Pandangan tentang lingkungan, apakah lingkungan belajar harus dikelola

    secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas

    belajar.

    5. Konsepsi tentang peranan guru, apakah guru harus berperan sebagai

    instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang

    siap memberi bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.

    6. Evaluasi belajar, apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan test atau

    non tes.

    Menurut Seller pengembangan kurikulum itu pada hakekatnya adalah

    pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu

  • 17

    sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran sebagai implementasi

    kurikulum.Pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya,

    yaitu sisi kurikulum sebagai pedoman yang kemudian membentuk kurikulum

    tertulis (writen curriculum atau document curriculum) dan sisi kurikulum sebagai

    implementasi (curriculum implementation) yang tidak lain adalah sistem

    pembelajaran.

    Proses pengembangan berbeda dengan perubahan dan pembinaan

    kurikulum. Perubahan kurikulum adalah kegiatan atau proses yang disengaja

    manakala berdasarkan hasil evaluasi ada salah satu atau beberapa komponen

    yang harus diperbaiki atau diubah; sedangkan pembinaan adalah proses untuk

    mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan.

    Pengembangan dan pembinaan kurikulum merupakan dua kegiatan yang

    sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Suatu rancangan kurikulum tanpa

    diimplementasikan tidak artinya.Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam

    proses pengembangan kurikulum yakni isi atau muatan kurikulum itu sendiri.

    Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan isi

    pengembangan kurikulum yaitu rentangan kegiatan dan tujuan kelembagaan yang

    berhubungan dengan misi dan visi sekolah.

    1. Rentangan Kegiatan (Range of Activity)

    Biasanya diawali dengan rancangan kebijakan kurikulum, rancangan bidang

    studi, program pengajaran, unit pengajaran dan rencana pembelajaran.Kebijakan

    kurikulum memuat tentang apa yang harus diajarkan dan berfungsi sebagai

    pedoman bagi para pengembang kurikulum lebih lanjut. Pada dasarnya

    merupakan keputusan yang ditentukan dari hasil pemikiran dan penelitian yang

    mendalam.

    Harus dilaksanakan secara hati-hati, sebab akan mempengaruhi berbagai

    kebijakan pendidikan lainnya. Misalnya,

    mengenai isi dari setiap disiplin ilmu yang perlu dikuasai oleh anak didik

    dalam jenjang tertentu,

    kebutuhan sosial macam apa yang harus dikuasai anak didik serta

    pengalaman belajar yang bagaimana yang harus dimiliki anak didik.

  • 18

    Hal tersebut didasarkan pada pengkajian yang komprehensif.

    Rancangan program studi meliputi kegiatan-kegiatan menentukan

    tujuan, urutan serta kedalaman materi dalam setiap bidang studi, misalnya

    rancangan bidang studi matematika, bahasa, IPA dan lain sebagainya.

    Rancangan program pengajaran adalah kegiatan merancang aktifitas

    belajar dalam setiap bidang studi untuk satu tahun, satu semester atau satu

    caturwulan.

    Rencana pembelajaran, meliputi penjabaran program pengajaran yang

    dirancang lebih khusus untuk jangka waktu tertentu. Bisa saja program yang

    lebih khusus itu adalah program untuk satu kali pertemuan dalam proses

    pembelajaran.

    Dalam mengembangkan kurikulum biasanya dimulai dari lingkup yang paling

    luas sampai kepada lingkup yang paling sempit, yaitu pengembangan kurikulum

    dalam proses pembelajaran didalam kelas dalam satu unit pengajaran atau bidang

    studi tertentu.Pengembangan kurikulum menghasilkan program kebijakan

    kurikulum dan mengembangkan rancangan program studi; sedangkan

    mengembangkan program-program kegiatan sebagai penjabaran dari program

    studi merupakan lingkup pengembangan kurukulum yang lebih sempit.

    Selain merancang program, Kegiatan Pengembangan kurikulum juga

    berkaitan dengan menghasilkan bahan-bahan pengajaran, seperti menyusun buku

    teks, modul, program-program film, rekaman audio, dan lain sebagainya.Fungsi

    bahan pengajaran itu sendiri adalah untuk memberikan pengalaman belajar

    sesuai dengan tujuan dan program kegiatan.

    McNeil, Nasution (1989) mengemukakan bahwa kegiatan pengembangan

    kurikulum meliputi dua proses utama, yakni pengembangan pedoman kurikulum

    dan pengembangan pedoman instruksional.Pedoman kurikulum meliputi

    rumusan-rumusan normatif tentang isi kurikulum. Misalnya, tentang latar

    belakang yang berisi tentang tujuan dan landasan filosifis, sasaran peserta didik,

    bidang studi, struktur bahan pelajaran serta silabusnya.

    Sedangkan pedoman instruksional berisi tentang penjabaran lebih rinci dari

    pedoman kurikulum untuk pengelolaan pembelajaran.Dengan demikian Pedoman

  • 19

    instruksional disusun oleh guru sebagai pedoman dalam penyelenggaraan

    pembelajaran, atau sebagai pedoman implementasi kurikulum.

    2. Tujuan Kelembagaan (Institusional Purpose)

    Tujuan kelembagaan sama artinya dengan misi dan visi sekolah.

    Pengembangan kurikulum selamanya harus sejalan dengan visi dan misi sekolah

    yang bersangkutan, karena kurikulum pada hakekatnya disusun untuk mencapai

    tujuan sekolah.

    Sekolah kejuruan yang memiliki visi dan misi untuk mempersiapkan anak

    didik memiliki keterampilan sesuai dengan lapangan pekerjaan tertentu, maka

    mengebangkan isi kurikulum akan lebih tepat dilakukan melalui analisis

    pekerjaan (job analisys), bukan melalui analisis disiplin ilmu.

    Sebaliknya sekolah yang memiliki visi dan misi untuk mempersiapkan anak

    didik dapat mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, maka analisis

    disiplin ilmu seperti pemahaman fakta, konsep, teori dan sebagainya akannlebih

    cocok dibandingkan dengan penentuan isi kurikulum melalui analisis tugas atau

    nalisis pekerjaan.

    Proses pengembangan kurikulum menurut Zais dalam bukunya yang berjudul

    Curriculum Principles and Foundation (1976) harus dimulai dengan asumsi-

    asumsi filosofis sebagai sistem nilai (value system) atau pandangan hidup suatu

    bangsa.

  • 20

    B. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

    Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada sejumlah prinsip

    dalamproses pengembangannya yakni:

    1. Prinsip Relevansi

    Untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada

    di masyarakatserta membekal siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap

    maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat maka

    Kurikulum merupakan relnya pendidikan.

    Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal.

    Relevansi internaladalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian

    antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus

    dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi

    atau metode yang digunakan serta alat penilaian untukmelihat ketercapaian

    tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.

    Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses

    belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan

    masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan

    kurikulum. Pertama,relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya

  • 21

    bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan

    dengan kondisi lingkungan sekitar siswa.. Kedua, relevan dengan perkembangan

    zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya isi kurikulum

    harus sesuai dengan situasi dan kondis yang sedang berkembang.Ketiga relevan

    dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya bahwa apa yang diajarkan disekolah

    harus mampu memenuhi dunia kerja.

    2. Prinsip Fleksibilitas

    Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya kurikulum itu harus

    biasa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau

    tidak fleksibel akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibel mempunyai dua sisi,

    Pertama, fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang

    gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan

    kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa artinya kurikulum harus

    menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan

    minat siswa.

    3. Prinsip Kontinuitas

    Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan

    kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program

    pendidikan. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak

    terjadi pengulangan-pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program

    pengajaran tidak efektif dan efisien., akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa

    dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu., Karenanya

    perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang

    pendidikan.

    4. Efektifitas

    Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat

    dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua

    sisi efektitfitas dalam pengembangan suatu kurikulum. Pertama, efektifitas

  • 22

    berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas

    mengimplementasikan kurikulum didalam kelas. Kedua, efektifitas kegiatan

    siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.

    Efektifitas kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan

    mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

    Efektifitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat

    mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan jangka waktu tertentu.

    5. Efisiensi

    Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga waktu,

    suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Dikatakan

    kurikulum memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana,biaya

    yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.

    Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.

    PENGEMBANGAN KURIKULUM

    LANDASAN

    FILSAFAT

    SOSIAL

    BUDAYA

    MAHASISWA

    TEORI BELAJAR

    PRINSIP

    RELEVANSI

    FLEKSIBILITAS

    KONTINUITAS

    EFEKTIFITAS

    EFISIENSI

    PRAKTIS

  • 23

    KOMPONEN KURIKULUM

    Kurikulum memiliki empat komponen utama:

    1. Tujuan

    2. Materi (Isi Kurikulum)

    3. Metode (Strategi Pembelajaran)

    4. Evaluasi

    Untuk membentuk sistem kurikulum keempat komponen ini satu sama lain saling

    berkaitan. Guna memudahakan mengingat, komponen-komponen tersebut dapat

    dirumuskan pada kata “TIME’ yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi.

    Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh 4

    (empat) komponen, yaitu komponen tujuan, materi (isi kurikulum), metode atau

    strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi.Komponen tujuan

    berhubungan erat dengan arah atau hasil yang diharapkan.

    Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman

    belajar yang harus dimiliki siswa. Menyangkut semua aspek baik yang

    berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya

  • 24

    tergambarkan pada isi setiap mata pelajaranyang diberikan maupun aktivitas dan

    kegiatan siswa.

    Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka

    pencapaian tujuan. Dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat

    dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya.Strategi yang berpusat kepada siswa

    dinamakan student centered, sedangkan strategi yang berpusat pada guru

    dinamakan teacher centered.

    Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan.

    Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah

    tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi yang

    digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.

    Evaluasi juga bagian integral dari suatu proses kegiatan pembelajaran, dengan

    evaluasi siswa akan tahu tentang keberhasilan pembelajaran yang dilakukannya.

  • 25

    PENDEKATAN-PENDEKATAN KURIKULUM PAK

    Dalam pendidikan Kristiani terdapat empat pendekatan yangberbeda-beda,

    baik cara maupun hasil akhirnya yaitu;

    1. Pendekatan Instruksional

    2. Pendekatan Perkembangan

    3. Pendekatan Iman

    4. Pendekatan Transformasi Sosial

    1. Pendekatan Instruksional

    Merupakan suatu pola pendidikan Kristiani yang lebih menekankan

    pembelajaran. Bagaimana menghadapai dunia ini sebagai orang-orang Kristen.

    Orang Kristen diperintahkan untuk mengasihi dan bersaksi tentang iman mereka

    melalui kasih ini ( YOH 13: 34-35). Pendekatan ini mengharapkan naradidik

    untuk berpikir, berefleksi terhadap isi Alkitab dan terang pengalaman mereka,

    serta memilih suatu cara hidup dengan hidup dalam dunia ini sebagai respon

    terhadap panggilan Allah.

    Pendekatan Instruksional, memakai sistem belajar mengajar secara intensif

    atau lebih terfokus dengan sistem belajar-mengajar seperti halnya yang kita lihat

    diterapkan disekolah-sekolah ataupun lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

    Ada dua unsur yang kita dapati dalam pelaksanaan pendekatan ini yakni guru

    atau pengajar dan murid atau naradidik. Guru dan naradidik harus harus selalu

    membuka ruang komunikasi dua arah agar tercipta suasana belajar yang tepat

    sasaran sehingga apa yang ingin disampaikan oleh pengajar dapat diterima dengan

    baik oleh naradidik yang terlibat dalam proses belajar tersebut.

    Selain pendekatan instruksional ini memerlukan suatu kurikulum yang

    menjadi acuan untuk proses pembelajaran iman. Kalau kita amati dalam setiap

    gereja belum ada kurikulum yang sama karena kurikulum itu masih disesuaikan

    dengan kebutuhan jemaat.Kurikulum biasanya disusun per semester dengan thema

    besar dan suatu tujuan besar. Kemudian thema besar tersebut dijabarkan lagi

    menjadi sub-sub thema untuk tiap bulannya dan juga tujuan untuk bulan tersebut.

  • 26

    Kemudian sub-sub thema tersebut dijabarkan kedalam judul-judul pelajaran untuk

    setiap minggunya berikut tujuan pembelajaran atau tujuan instruksionalnya.

    Dalam pengajaran ini proses pendidikan mengarah pada refleksi theologis

    yang terjadi dalam memahami, menghidupi, dan melakukan iman dengan konteks

    kekeluargaan (homemaking). Konteks kekeluargaan (homemaking) adalah

    suasana belajar yang diharapkan dapat terjadi dalam suatu komunitas belajar juga

    mengurangi jarak antara guru dan naradidik, sehingga dalam proses belajar tidak

    ada rasa segan atau takut-takut dalam komunikasi yang terjadi dalam proses

    belajar.

    Suasana homemaking adalah suasana yang saling menghormati, saling

    menghargai dan saling membantu, suasana yang sangat membantu naradidik

    untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman dan kepercayaan Kristiani, serta

    suasana yang menjadikan pengalaman sebagai bagian dalam proses belajar, dan

    menjadikan pengalaman sebagai cara untuk memudahkan pemahaman dan

    perelevansian materi.Dengan proses pendidikan melalui pendekatan instuksional

    ini diharapkan naradidik dapat menjadi orang yang siap menghadapi berbagai

    permasalahan dan tantangan kehidupan dunia dengan tetap berpegang teguh pada

    iman Kristen.

    Pendekatan perkembangan lebih menekankan pada pembentukan spiritualitas

    dan pembentukan iman individu untuk mewujudkannya dalam pelayanan sosial.

    Menurut Jack L. Seymor tujuan pendekatan ini adalah untuk membantu orang-

    orang mengembangkan kehidupan batin dan merespon dengan aksi keluar kepada

    orang lain atau sesama dan dunia.

    2. Pendekatan Perkembangan

    Pendekatan perkembangan lebih menekankan pada pembentukan

    spiritualitas dan pembentukan iman individu untuk mewujudkannya dalam

    pelayanan sosial. Menurut Jack L. Seymor tujuan pendekatan ini adalah untuk

    membantu orang-orang mengembangkan kehidupan batin dan merespon dengan

    aksi keluar kepada orang lain atau sesama dan dunia.

  • 27

    Kehidupan individu diartikan sebagai suatu perjalanan kehidupan dengan

    menjadikan pengajar sebagai pemimpin dan naradidik sebagai pribadi dalam

    perjalanan tersebut. Yang menjadi fokus pendekatan perkembangan ini adalah

    bagaimana setiap pribadi berkembang dalam imannya, sehingga mencapai

    hubungan dengan sumber terdalam kehidupan kita yakni Tuhan. Oleh karena itu

    proses pendidikan yang dilakukan adalah berdiam, mendengar, istirahat

    (bersabat), yang penting bagi perkembangan iman, serta belajar dan melayani

    yang penting untuk aksi keluar.

    Ada dua proses yang penting untuk melakukan aksi keluar yakni belajar dan

    melayani. Belajar berarti mempelajari segala sumber-sumber Iman Kristen seperti

    halnya Alkitab, Ilmu Theologi dan Sejarah. Tapi belum cukup dengan hanya

    mengerti hal-hal tersebut, melainkan juga mengkontekstualisasikan pemahaman

    itu dengan perkembangan zaman saat ini. Semua proses yang terdapat dalam

    pendekatan ini harus bemanfaat untuk kegiatan pelayanan keluar (dunia).

    Melayani orang-orang yang membutuhkan dan melayani dunia dengan modal

    yang telah disiapkan.

    Dalam pendekatan perkembangan spiritualdi Gereja dapat juga

    memanfaatkan ilmu psikologi yakni:

    - Menolak pandangan sekuler dan menawarkan pandangan Religius yaitu

    pertobatan (Horace Bushnell)

    - Menerima teori-teori perkembangan manusia dan memakainya sebagai alat

    dalam Pendidikan Kristiani (akhir abad 18 dan awal 20)

    - Menyetujui pentingnya pribadi atau personal dalam pengertian yang lebih

    luas.

    Pendekatan perkembangan ini dapat juga memakai suatu model psikologi

    perkembangan manusia seperti Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, Erik H Erikson

    dan James Fowler.Salah seorang psikolog diantaranya Jean Piaget memusatkan

    teorinya pada perkembangan intelegensi anak atau perkembangan kognitif anak.

    Dia juga membagi kognitif anak tersebut dalam empat tahap yang berbeda-beda

    yaitu tahap sensorimotorik, tahap pra-operasional yang terdiri dari atas tahap

  • 28

    prakonsepsi dan tahap berpikir anak yang intuitif, selanjutnya adalah tahap operasi

    konket dan tahap formal. (Supomo, 2001)

    Teori-teori perkembangan yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh diatas

    adalah teori yang banyak dipakai dan banyak mempengaruhi pola-pola pendidikan

    Kristiani dengan pendekatan perkembangan. Pendekatan perkembangan ini juga

    dapat kita temui di gereja-geraja tertentu sebagai bahan ajar guru-guru sekolah

    minggu.

    3. Pendekatan Iman

    Sebelum masuk dalam penjelasan tentang pendekatan iman atau lebih

    tepatnya pendekatan komunitas iman, dapat kita perhatikan dulu apa yang menjadi

    latar belakangnya. Antar lain kebutuhan akan komunitas dan story telling, atau

    berbagi/ sharing (feed back to change) dalam pengertian memahami Allah yang

    perduli dan bisa semaksimal mungkin dalam mengubah cara hidup. Spiritual

    semacam ini bisa membuat pandangan orang tentang kehidupannya adalah Tuhan

    didalam realita kehidupan sehari-hari.

    Sebagaimana kita ketahuiPendidikan Agama Kristen menurut PEAGET

    adalah untuk menciptakan manusia yang mampu mengerjakan hal-hal baru,

    menjadi manusia yang kreatif dan inventif, serta tidak hanya mengulang apa

    yang telah dikerjakan oleh generasi sebelumnya, melainkan menjadi penemu

    hal-hal baru, membentuk pikiran yang bersifat kritis. Maka pendekatan

    iman merupakan pola pendidikan kristiani yang sangat dibutuhkan dewasa

    ini.

    Pola pendidikan kristiani pendekatan iman ini membantu komunitas-

    komunitas yang mempromosikan perkembangan manusia yang otentik dan

    membantu orang menentukan komunitas.Pengajar berperan sebagai pemimpin

    komunitas yang memfasilitasi komunitas tersebut.sehingga setiap apa yang terjadi

    dan semua hal yang dilakukan dalam komunitas tersebut menjadi hal utama

    dalam pembentukan pribadi-pribadi dalam komunitas. Diharapkan naradidik

    bertumbuh didalam iman kristiani setia kepada Tuhan dan bukan hanya saling

    mengenal, menghormati, memperhatikan, mendukung dansaling mengingatkan

  • 29

    komunitasnya saja tetapi harus bersaksi kepada orang lain. Sehingga didik mampu

    menghadirkan karakter kristianai didalam dirinya senantiasa bersaksi menjadi

    gaya hidupnya..

    4. Pendekatan Transformasi Sosial

    Transformasi sosial adalah perubahan sosial yang berarti segala perubahan

    yang terjadi dalamlembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang

    mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada defenisi tersebut adalah pada

    lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan

    mempengaruhi struktur masyarakat lainnya. (Soekanto, 1990)

    Ada beberapa pengertian tentang transformasi sosial yaitu;

    a. Perubahan sosial yang bersifat mendasar dan mengubah pola-pola

    hubungan masyarakat.

    b. Perubahan fundamental dalam pandangan terhadap realitas sosial

    (kehidupan sosial), yaitu transformasi dari tahap pemikiran evolusi sosial

    menuju pada perubahan fundamental dalam pemikiran yang menghasilkan

    perubahan kehidupan nyata.

    c. Perubahan fundamental dalam masyarakat, yaitu mengarah pada pencarian

    penjelasan tentang sifat dasar yang sistematis dari masalah sosial.

    Transformasi sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang

    mempertahankan keseimbangan masyarakat misalnya, perubahan dalam unsur

    geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan.

    Sorokin (1957) berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan suatu

    kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan sosialtidak akan berhasil

    baik.

    Transformasi sosial hanya akan terjadi jika perancangan peraturan bertujuan

    mengubah institusi sosial, Institusi adalah perilaku yang dilakukan oleh individu

    atau kelompok secara berulang-ulang atau terus-menerus. Ketika ada perlaku yang

    bermasalah, maka peraturan itu dibuat untuk mengatasi perilaku yang bermasalah

    tersebut.

  • 30

    Akan tetapi terjadinya perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar,

    meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang

    mendorong sehingga mendukungbudaya, lebih-lebih lagi dalam masyarakat yang

    kompleks yang mengalami perubahan yang pesat yang tidak diikuti dengan

    perubahan perilaku dalam kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, yang mana

    nantinya pada gilirannya akan menjadi hambatan.

    Untuk merancang peraturanyang dapat mengatasi perilaku bermasalah

    tersebut, digunakan metode perancangan peraturan yang disebut Metode

    Pemecahan Masalah (MPM). MPM selalu mensyaratkan analisis sosial dalam

    merancang sebuah peraturan. Dalam pendekatan trasnformasi sosial untuk

    menemukan penyebab sebuah perlaku bermasalah seorang perancang mengajukan

    pertanyaan penting: mengapa seseorang berperilaku tertentu didalam hukum. Jadi

    tidak langsung mengatur mengenai sanksi terhadap suatu perilaku bermasalah.

    Tujuan dari pendekatan pendidikan Kristiani melalui transformasi sosial ini ini

    adalah membantu orang-orang dan komunitas-komuniatas khususnya naradidik

    untuk mempromosikan (menekankan) kewarganegaraan yang setia pada Tuhan

    dan perubahan sosial. Kegiatan rutin yang dilakukan dapat saja ditambahkan

    melalui pelajaran ekstrakurikurel dan biasanya disebutkan dengan Pemahaman

    Alkitab karena didalam pertemuan tersebut men-share-kan isi Kitab Suci dan

    dikaitkan dengan pengalaman hidup.

    Dengan demikian setiap naradidik yang mengikuti pola pendidikan Kristiani

    melalui transformasi sosial tersebut akan mengalamai perubahandidalam

    pembaharuan budinya, sebagaimana tertulis didalam Roma 12:2 “Janganlah kamu

    menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

    sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang

    berkenan kepad Allah dan yang sempurna”. Bahkan mereka akan bertumbuh,

    berakar dan berbuah didalam iman Kristen.

  • 31

    EVALUASI & REVISI KURIKULUM

    A. EVALUASI DAN PENGUKURAN

    1. Makna Evaluasi dan Pengukuran

    Wand dan Brown (1957) mendefinisikan evaluasi sebagai “...refer to the act

    or process to determining the value of something’. Evaluasi mengacu kepada

    suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.

    Guba dan Lincoln juga mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses

    memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan

    (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan,

    keadaan atau sesuatu kesatuan tertentu (Hamid Hasan 1988)

    Ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi: Pertama, evaluasi

    merupakan suatu proses, artinya dalam suatu pelaksanaan evaluasi mestinya

    terdiri dari berbagai macam tindakan yang harus dilakukan. Dengan demikian

    evaluasi bukanlah hasil atau produk, akan tetapi rangkaian kegiatan untuk

    memberi makna atau nilai sesuatu yang dievaluasi.Dengan kata lain evaluasi

    dilakukan untuk menentukan judgment terhadap sesuatu. “Evaluation is

    concerned with making judgment about thing” (Print, 1993)

    Kedua, evaluasi berhubungan dengan pemberian nilai atau arti, artinya

    berdasarkan hasil pertimbangan apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak.

    Dengan kata lain evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai.

    Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan pengukuran. Pengukuran

    (measurement) pada umumnya berkenan dengan masalah kuantitatif untuk

    mendapatkan informasi yang diukur. Oleh sebab itu dalam proses pengukuran

    diperlukan alat bantu tertentu. Misalnya untuk mengukur kemampuan atau

    prestasi seseorang dalam memahami bahan pelajaran diperlukan tes prestasi

    belajar. Untuk mengukur IQ digunakan test IQ, untuk mengukur berat badan

    digunakan alat timbangan dan lain sebagainya.

    Antara evaluasi dan pengukuran tidak bisa disamakan walaupun keduanya

    memiliki keterkaitan yang sangat erat. Evaluasi akan lebih tepat manakala

  • 32

    didahului oleh proses pengukuran, sebaliknya hasil pengukuran tidak akan

    memiliki arti apa-apa manakala tidak dikaitkan dengan proses evaluasi.

    2. Fungsi Evaluasi

    Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektifitas kinerjanya selama ini,

    sedangkan bagi pegembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi

    untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan.

    Ada beberapa fungsi evaluasi yakni:

    a. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa. Melalui

    evaluasi siswa akan mendapatkan informasi tentang efektifitas pemeblajaran

    yang dilakukannya. Dari hasil evaluasi siswa akan dapat menentukan harus

    bagaimana proses pembelajaran yang perlu dilakukannya.

    b. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana

    ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan. Siswa akan

    tahu bagian mana yang perlu dipelajari lagi dan bagian mana yang tak perlu.

  • 33

    c. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program

    kurikulum. Infoemasi ini sangat dibutuhkan baik untuk guru maupun untuk

    para pengembang kurikulum khusunya untuk perbaikan program selanjutnya.

    d. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara indifidual

    dalam mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan

    sehubungan dengan pemilihan bidang pekerjaan serta pengembangan karier.

    e. Evaluasi berguna untuk para pengembangkurikulum khususnya dalam

    menentukan kejelasan tujuan khusu yang ingin dicapai. Misalnya, apakah

    tujuan itu perlu diubah atau ditambah.

    f. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang

    berkepentingan dengan pendidikan di sekolah. Misalnya untuk orang tua, untuk

    guru dan pengembang kurikulum, untuk perguruan tinggi, pemakai lulusan,

    untuk orang yang mengambil kebijakan pendidikan termasuk juga untuk

    masyarakat. Melalui evaluasi dapat dijadikan bahan informasi tentang

    efektifitas program sekolah.

    3. Tipe Evaluasi

    Evaluasi selalu berhubungan dengan dua fungsi. Kedua fungsi tersebut

    menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi

    sebagai fungsi formatif. Fungsi Sumatif adalah apabila evaluasi itu digunakan

    untukmelihat keberhasilan suatu program yang direncanakan. Oleh karena itu,

    evaluasi sumatif berhubungan dengan pencapaian suatu hasil yang dicapai suatu

    program.

    Evaluasi formatifdilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk

    melihat kemajuan belajar siswa. Print (1993) menjelaskan ‘Formatif evaluation is

    directed towards providing information on learner performance at one or more

    points during the learning process’.Jadi hasil dari evaluasi formatif dapat

    dijadikan sebagai umpan balik bagi guru dalam upaya memperbaiki kinerjanya.

  • 34

    B. REVISI KURIKULUM

    Revisi Kurikulum atau perubahan kurikulum, mengakibatkan adanya

    perubahan di berbagai hal salah satunya dalam hal istilah yang dipergunakan.

    Daftar istilah tersebut sesuai dengan yang tertera pada PERMEN Nomor 53Tahun

    2015 yang telah dinyatakan tidak BERLAKU lagi dan kemudian diubah menjadi

    PERMENDIKBUD No. 23 Tahun 2016 yang membahas tentangPENILAIAN

    sebagai Kurikulum 13.

    Nama perubahan tersebut diantaranya adalah:

    1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional, melainkan tetap

    memakai nama Kurikulum 2013 Edisi revisi yang berlaku secara Nasional.

    2. Penilaian sikap Kompetensi Inti (KI 1 & KI 2) sudah ditiadakan disetiap mata

    pelajaran kecuali mapel agama dan PPKn; namun demikian Kompetensi Inti

    tetap dicantumkan dalam penulisan RPP.

    3. Jika ada 2 nilai praktek dalam 1 KD (Kompetensi Dasar), maka yang diambil

    adalah nilai yang tertinggi. Penghitungan nilai keterampilan dalam 1 KD

    dijumlahkan (praktek, produk, portofolio) dan diambil nilai rata-rata, untuk

    pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama.

    4. Pendekatan scientific 5M bukan lagi satu-satunya metode saat mengajar dan

    apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.

    5. Silabus kurtilasedisi revisi lebih ramping hanya 3 kolom yaitu KD, materi

    pembelajaran dan kegiatan pembelajaran.

    6. Perubahan terminologi Ulangan Harian menjadi Penilaian Harian, UAS

    menjadi Penilaian Akhir Semester untuk semester ganjil dan Penilaian Akhir

    Tahun untuk semester genap. Sedangkan untuk Ulangan Tengah Semester

    (UTS) sudah tidak ada lagi dan langsung ke Penilaian Akhir Semester atau

    penilaian Akhir Tahun.

    7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang

    digunakan dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik

    penilaian (jika ada).

  • 35

    8. Skala penilaian menjadi 1:100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk

    predikat dan deskripsi.

    9. Remedial diberikan untuk yang memeperoleh hasil/nilai kurang, namun

    sebelumnya siswa harus diberikan pelajaran ulang. Nilai remedial adalah nilai

    yang dicantumkan dalam hasil.

  • 36

    PENGEMBANGAN KURIKULUM

    Pengembangan kurikulum (curriculum development atau curriculum

    planning) adalah proses atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk

    menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan

    penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di sekolah.Pengembangan kurikulum

    mencakup beberapa tingkat Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional,

    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Pelaksanaan

    Pembelajaran (RPP).

    Menurut Sukmadinata (2000:1) pengembangan kurikulum mempunyai

    makna yang cukup luas diantaranya bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama

    sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum

    yang telah ada (curriculum improvement). Beliau juga menjelaskan bahwa pada

    satu sisi pengembangan kurikulum berarti menyusun seluruh perangkat kurikulum

    mulai dari dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis

    besar program pengajaran, sampai dengan pedoman-pedoman pelaksanaan (macro

  • 37

    curriculum). Pada sisi lain berkenaan dengan penjabaran kurikulum (GBPP) yang

    telah disusun oleh team pusat menjadi rencana dan persiapan-persiapan mengajar

    yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru-guru di sekolah, seperti

    penyususnan rencana tahunan, caturwulan, satuan pelajaran dan lain-lain (micro

    curriculum).

    Pengembangan kurikulum dapat dilihat dari cakupan pengembangannya,

    apakah curriculum contraction atau curriculum improvement. Ada dua

    pendekatan yang dapat diterapkandalam pengembangan kurikulum yakni;

    Pertama, pendekatan Top Down atau pendekatan administratif yaitu pendekatan

    dengan sistem komando dari atas ke bawah dan Kedua, adalah pendekatan Grass

    Roots atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif dari bawah lalu

    disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan istilah singkat

    sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.

    Dalam Pengembangan Kurikulum komponen tujuan merupakan salah satu

    komponen yang sangat penting. Menurut Undang-undang No 20 tahun 2003

    tentang Sistem Pendidikan Nasional kurikulum adalah seperangkat rencana dan

    pengaturan mengenai tujuan dan isi atau bahan pelajaran serta cara yang

    digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dengan

    demikian kurikulum adalah konsep yang bertujuan, sebab setiap rencana harus

    memiliki tujuan agar dapat ditentukan apa yang harus dicapai,serta apa yang harus

    dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

    Dalam pengembangan kurikulum azas pertama adalah azas filosofi. Adapun

    yang dibahas dalam azas tersebut adalah persoalan-persoalan mendasar tentang

    pengembangan kurikulum, misalnya tentang arah pendidikan. Apakah arah

    pendidikan itu untuk membentuk anak didik yang mampu menguasai bidang

    ilmupengetahuan? Apakah arah pendidikan itu untuk membentuk manusia yang

    mampu berpikir kreatif atau inovatif? Atau apakah hanya sekedar membentuk

    manusia yang dapat mengawetkan kebudayaan masa lalu sesuai dengan sistem

    nilai yang berlaku dimasyarakat? Jika kita perhatikan arah pendidikan tersebut

    maka perumusan tujuan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah kurikulim.

  • 38

    Beberapa alasan perlunya perumusan tujuan dalam sebuah kurikulum yakni;

    Pertama, tujuan erat kaitannya dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh

    setiap upaya pendidikan. Kedua, melalui tujuan jelas dapat membantu para

    pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan

    bahkan akan membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran.Ketiga,

    tujuan kurikulum yang jelas dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan

    batas-batas dan kualitas pembelajaran.

    Mempertimbangkan kurikulum dengan memperhatikan materi essensial yang

    memungkinkan diberikan kepada peserta didik guru perlu memperhatikan materi

    pembelajaran. Sasaran PAK adalah membentuk perilaku peserta didik yang sesuai

    dengan ajaran Firman Tuhan, bukan hanya mengetahui atau memahami suatu

    pengetahuan.

    Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam kurikulum PAK untuk

    memahami suatu pengetahuan, sehingga mempunyai dampak atau pengaruh yang

    nyata dalam kehidupan peserta didik pada aspek kognitif, afektif dan

    psikomotoriknya. Misalnya bila peserta didik mempelajari tentang ibadah bukan

    hanya memahami konsep tentang ibadah saja namun juga melakukan praktek

    ibadah tersebut.

    Gurupun harus mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

    pendekatan pendidikan-pendekatan kristiani agar materi pelajaran yang essensial

    minimum itu bisa diberikan secara penuh dan dipahami peserta didik. Guru perlu

    juga membuat kriteria-kriteria essensial minimum dari pelajaran PAK di sekolah

    kemudian dibuat pendalaman atau perluasannya yang proses pembelajarannya

    bisa dilaksanakan di sekolah atau ekstra kurikuler.

    Pengembangan kurikulum PAK pada sekolah yang mengacu kepada

    Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasonal Pendidikan

    (SNP) khususnya standar dalam prasarana pendidikan. Pengembangan sarana dan

    prasarana pendidikan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti penyediaan

    buku pedoman guru PAK, penyediaan buku teks atau buku pelajaran PAK dan

    penyediaan alat peraga PAK.

  • 39

    Buku pedoman guru untuk membantu guru mencapai tujuan pengajaran yang

    digunakan oleh guru dalam mengajar, sehingga ketika menyusun silabus akan

    terhindar dari kesalahan konsep. Buku pedoman guru sangat penting sebagai

    pedoman untuk menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi

    pembelajaran. Materi pembelajaran pada buku kurikulum hanya hanya pokok-

    pokok materi pembelajaran, sehingga tugas gurulah yang aktif dan kreatif dalam

    mengembangkan materipembelajaran tersebut.

    Buku teks atau buku pelajaran merupakan sumber bahan rujukan. Buku teks

    sebagai suber bahan belajar utama dalam penyusunan silabus sebaiknya tidak satu

    jenis atau satu orang pengarang. Buku teks yang digunakan hendaknya bervariasi

    agar mendapatkan materi pembelajaran yang luas. Buku pelajaran PAK dalam

    penyusunannya hendaknya selalu memperhatikan tujuan pendidikan nasional

    yaitu membentuk manusiaIndonesia yang bertakwa dan berbudi pekerti luhur.

    Media cetak seperti buku, bulletin, jurnal. koran, majalah dan sebagainya yang

    berkaitan langsung dengan materi PAK atau materi pelajaran yang sifatnya umum.

    Media elektronik adalah komputer (seperti internet), film, televisi, VCD/DVD,

    radio, kaset dan sebagainya. Dari media elektronik ini yang dimanfaatkan adalah

    hardwere (perangkat keras) dan terutama softwere (perangkat lunak) berupa

    program-programnya berkaitan dengan PAK.

    PAK dikembangkan dengan menempatkan nilai-nilai agama dan budaya luhur

    bangsa seperti spirit dalam proses pengelolaan dan pembelajaran. Hal ini

    ditunjukkan antara lain dengan mengintegrasikan wawasan keagamaan pada

    kurikulum untuk menunjang keberhasilan pembelajaran. Untuk itu perlu

    diperhatikan scope (ruang lingkup) dan squence (urutan) isi materinya agar mudah

    dipahami baik oleh guru maupun peserta didik.

    Pengembangan Kurikulum PAK pada sekolah juga mengimplementasikan

    Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan

    Pendidikan Keagamaan, bahwa pendidikan Kristen dapat diklasifikasikan ke

    dalam tiga bentuk: Pertama, pendidikan agama diselenggarakan dalam bentuk

    PAK di satuan pendidikan dan semua jenjang dan jalur pendidikan. Kedua,

    pendidikan umum berciri Kristen pada satuan pendidikan anak usia dini,

  • 40

    pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal

    dan non formal, serta informal. Ketiga, pendidikan keagamaan Kristen pada

    berbagai satuan pendidikan sekolah minggu dan sekolah Alkitab yang

    diselenggarakan pada jalur formal non formal, serta informal.

  • 41

    KEDUDUKAN DAN PERANAN KURIKULUM PAK

    DALAM SISTEM PENDIDIKAN

    Sesuai dengan jati diri Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) sebagai

    negara Pancasila, mata pelajaran agama sudah masuk ke dalam Kurikulum wajib

    di sekolah-sekolah sejak dasawarsa 50-an. “Pendidikan agama wajib diberikan

    walaupun dari sesuatu agama hanya ada seorang pelajar” atau dikenal juga

    dengan Instruksi 1967.

    Pada dasawarsa 60-an Departemen Masyarakat Kristen Protestan (BIMAS

    Kristen) telah mendorong Dewan Gereja-gereja di Indonesia menugaskan

    KOMPAK untuk menyusun Kurikulum vak agama bagi anak didik Sekolah

    Dasar, SLTP ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dan SLTA (Sekolah Lanjutan

    Tingkat Atas). Dalam suatu rapat kerja di Cipayung dan Jakarta para perserta

    mulai bersepakat tentang ruang lingkup dan pendekatan yang akan dipakai untuk

    kurikulum agama di Sekolah Dasar, SLTP, SLTA dan di Perguruan Tinggi

    masing-masing.

    Menurut Robert R. Boehlke penulis “SEJARAH PERKEMBANGAN

    PIKIRAN DAN PRAKTEK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN” pelayanan

    gerejawi hendaknya dinamakan Pembinaan Warga Gereja/Jemaat (PWG/J), dan

    pembinaan yang bertitik tolak dari Ilmu Pendidikan Agama Kristen, sebaiknya

    segala kesempatan diselenggarakan oleh pelbagai wadah tertentu di jemaat

    digolongkan dan diadakan dibawah “payung” istilah “Pendidikan Agama Kristen”

    agar terdapat kesinambungan antara pengalaman pendidikan yang direncanakan

    bagi kaum muda dan mereka yang dewasa secara kronologis, tetapi ingin

    bertumbuh menjadi “semakin” dewasa lagi. (EFESUS 4: 13-16)

    Penyusun Strategi Pendidikan Kristen di Indonesia mengandung pikiran global

    ini: “PAK mencakup segala sesuatu yang menjadi tugas pendidikan gerejawi,

    termasuk didalamnya PGW (Pembinaan Warga Gereja). PAK mencakup seluruh

    kegiatan gereja dalam mendidik anggota dan calon anggotanya untuk hidup dalam

    kehidupan Kristen baik yang diselenggarakan di dalam gereja maupun yang

    diselenggarakan disekolah-sekolah dan dalam keluarga. PAK yang mencakup

  • 42

    pendidikan semua golongan umur dan berjalan terus-menerus dari awal hingga

    akhir hidup manusia (from womb to tomb)”.Boehlke (2011: 812)

    Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan

    Nasional dinyatakan bahwa pendidikan agama dan keagamaan menjadi bagian

    dari pendidikan nasional. PAK yang diselenggaran di sekolah-sekolah itu adalah

    suatu usaha pendidikan dengan tujuan keselamatan, usaha yang sadar sistematis

    dan berkesinambungan, apapun bentuknya.

    Sebagaimana penulis ungkapkan diatas sasaran PAK adalah membentuk

    perilaku peserta didik/naradidik yang sesuai dengan ajaran Firman Tuhan, bukan

    hanya mengetahui atau memahami suatu pengetahuan. Dalam hal ini pendidikan

    tidak hanya terbatas pada pendidikan formal baik disekolah maupun di gereja,

    melainkan juga pendidikan informal yang dilakukan dengan sosialisasi tersebut

    disengaja dan terprogram dengan sistematis. PAK juga merupakan pendidikan

    yang khusus yakni dalam dimensi religus manusia. Untuk itu butuh waktu, bahkan

    membutuhkan investasi berupa pengajaran, pelatihan, pemberian rangsangan

    pendidikan (stimulus education).

    PAK merupakan pendidikan yang bertujuan memberikan bekal kemampuan

    yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor tentang suatu agama yang dianut

    peserta didik, khususnya agama Kristen, dengan memberikan kemampuan dalam

    menjalankan ajaran-ajaran Kristen sebagai seorang kristiani.

    Sementara pelaksanaan pembelajaran PAK di sekolah kebanyakan masih

    dalam keadaan yang memprihatinkan. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam

    mengajarkan PAK antara lain kurang seimbangnya materi pembelajaran yang

    diberikan dalam PAK dengan alokasi waktu yang diberikan dalam kurikulum

    sekolah yaitu2-3 jam pelajaran per minggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah

    hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas. Sedangkan implikasi bagi guru itu

    sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan

    proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu.

    Guru harus mampu menerapkan atau memberi bekal kemampuan yang

    bersifat minimum tetapi essensial (minimum essential) kepada naradidik.

    Misalnya peserta didik diprioritaskan mempelajari dan memahami pokok-pokok

  • 43

    iman Kristen atau nilai-nilai utama kristiani. Oleh karena itu dalam merancang

    PAK yang harus dipilh adalah materi-materi yang penting yang minimal harus

    dikuasai oleh peserta didik. Sehingga pemebelajaran itu menjadi berfungsi karena

    sesuai dengan tujuan dan kebutuhan peserta didik. Itulah pokok dari essensial

    minimum dalam pengembangan kurikulum.

    Gurupun harus mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

    pendekatan pendidikan-pendekatan kristiani agar materi pelajaran yang essensial

    minimum itu bisa diberikan secara penuh dan dipahami peserta didik. Guru perlu

    juga membuat kriteria-kriteria essensial minimum dari pelajaran PAK di sekolah

    kemudian dibuat pendalaman atau perluasannya yang proses pembelajarannya

    bisa dilaksanakan di sekolah atau ekstra kurikuler.

    Saat ini dalam era globalisasi atau era persaingan mutu atau kualitas

    seseorang berkarya tidak cukup dengan Kecerdasan Intelektual (IQ) saja yaitu

    seseorang yang bekerja dengan rumus logika kerja saja atau dengan Kecerdasan

    Emosional (EQ) saja, akan tetapi Kecerdasan Spiritual (SQ) harus mendukung

    seseorang berkarya, sehingga ketiganya harus saling mendukung dalam mental

    diri. (Daniel Goleman, 1996). Sementara Indonesia merupakan negara yang

    memiliki sumber daya alam yang sangat membanggakan baik didarat, laut,

    bahkan di udara, namun sayangnya masyarakat dan generasinya belum memiliki

    kemampuan berpikir (thinking skill) yang memadai. Pembelajaran PAK Sangat

    dibutuhkan untuk memenuhi ketiga kecerdasan yakni IQ, EQ dan SQ yang harus

    dimiliki dengan seimbang.

    Perlu diketahui gambaran umum tentang mutu PAK sekolah belum

    memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualiatas PAK di sekolah yang

    menjadi agama sebagai benteng moral bangsa. Kondisi ini sekurang-kurangnya

    dipengaruhi oleh tiga faktor yakni: Pertama, Sumber daya guru, Kedua,

    pelaksanaan PAK, Ketiga, terkait dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang

    PAK di sekolah.Oleh karenanya dalam mendukung sistem pendidikan negara kita

    peranan kurikulum PAK sangat menentukan bagaimana masa depan negara dan

    bangsa dengan kata lain bagaimana masa depan negara dan bangsa sangat

    ditentukan oleh pendidikan hari ini.

  • 44

    Pengembangan kurikulum PAK dalam sekolah harus dilaksanakan secara

    berkesenimbangungan sesuai dengan perkembangan zaman yang pesat dan sesuai

    dengan kebutuhan naradidik baik dalam sitem pendidikan formal, non formal dan

    informal.sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2007

    tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Aspek sarana dan

    prasarana pendidikan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti penyediaan

    buku pedoman guru PAK, penyediaan buku teks atau buku pelajaran PAK dan

    penyediaan alat peraga PAK.

    Dan yang tak terlepas pentingnya peranan guru sebagai pendidik, gurupun

    harus giat mencari model-model pembelajaran yang efektif atau model

    pendekatan pendidikan kristiani agar materi pelajaran khususnya bekal

    kemampuan yang essensial minimum itu bisa diberikan secara penuh dan

    dipahami peserta didik. Oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia

    (SDM) berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tak dapat ditawar-tawar

    lagi.

  • 45

    PERAN GURU DALAM PENYUSUNAN DAN

    PENGEMBANGAN KURIKULUM PAK

    Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP) telah mengembangkan

    Panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang didalamnya

    terdapat model-model kurikulum satuan pendidikan.Mengacu kepada Undang-

    undang no.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Peraturan Pemerintah (PP) no 19

    tahun 2005 tentang SNP, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)

    no 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang

    Standard Kompetensi Lulusan, Permendiknas No.24 tentang Pelaksanaan Standar

    Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, serta Panduan Penyusunan Kurikulum yang

    dibuat oleh BSNP, setiap satuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan

    kurikulum yang diimplementasikan di satuan pendidikan masing-masing.

    Berkaitan dengan standar nasional pendidikan, pemerintah telah menetapkan

    delapan aspek pendidikan yang harus distandarkan, yang pada saat ini telah

    dirampungkan dua standar, dan siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah.

    Standar yang sudah siap dan sudah disahkan serta siap dilaksanakan tersebut

    adalah standar isi dan standar kompetensi lulusan (SKL) Standar isi untuk Satuan

    Pendidikan Dasar dan Menengah telah disahkan Menteri dengan Peraturan

    Menteri Pendidikan Nasional No.24 Tahun 2006 tanggal 2 juni 2006 tentang

    pelaksanaan Permen No 22tahun 2006 tentang standar isi dan Permen No 23

    tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar

    dan Menengah, peraturan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan mulai tahun

    ajaran 2006/2007.

    Berdasarkan Peraturan Menteri sebagaimana diuraikan diatas , pengembangan

    standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam kurikulum operasional

    Tingkat Satuan Pendidikan, merupakan tanggung jawab satuan pendidikan

    masing-masing.Oleh karena itu sebutan untuk kurikulum ini adalah KTSP,

    singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

    Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara

    Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan peningkatan iman dan

  • 46

    takwa; peningkatan akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdassan, dan minat

    peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan

    daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan,

    teknologi dan seni; agama; dinamika perkembangan global; persatuan nasional

    dan nilai-nilai kebangsaan.

    Kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yakni kurikulum sebagai

    dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai sebuah dokumen

    kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai

    implementasi adalah realisasi dari pedoman tersebut dalam bentuk kegiatan

    pembelajaran. Penerapan Pengembangan Kurikulum PAK memungkinkan para

    guru merencanakan, melaksanakan, dan menilai kurikulum serta hasil belajar

    peserta didik dalam mencapai standar kompetensi, dan kompetensi dasar, sebagai

    cermin penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari.

    Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum.

    dalam proses pengembangan kurikulum peran guru lebih banyak dalam tatanan

    kelas. Dalam kaitannya dengan pengembangan standar kompetensi, guru harus

    mampu mengembangkan silabus, sebagai penjabaran standar kompetensi dan

    kompetensi dasar ke dalam materi standar, kegiatan pembelajaran dan indikator

    pencapaian kompetensi untuk penilaian.

    Kurikulum PAK dikembangkan dengan memperhatikan standar kompetensi

    dan indikator kompetensi sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan

    peserta didik dari satuan pendidikan dan standar isi yang telah disahkan

    pemerintah.

    Murray Printr (1993) mencatat peran guru dalam level ini adalah sbb:

    1. Implementers : guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah

    ada. Guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum.

    2. Adapters: guru sebagai adapters : lebih dari hanya sebagai pelaksana

    kurikulum, akan tetapi juga sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik

    dan kebutuhan daerah. Peran guru sebagai adapters lebih luas dari peran guru

    sebagai implementers.

  • 47

    3. Developers : peran sebagai pengembang kurikulum,guru memiliki kewenangan

    dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru bukan saja dapat menentukan tujuan

    dan isi pelajaran yang akan disampaikan, akan tetapi juga dapat menentukan

    strategi apa yang harus dikembangkan serta bagaimana mengukur

    keberhasilannya.

    4. Researchers : peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher).

    Guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum,

    menguji efektifitas program, menguji strategi dan model pembelajarandan lain

    sebagainya termasukmengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai

    target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian ini

    adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode penelitian yang

    berangkat dari masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum.

    Dengan demikian PTK bukan saja dapat menambah wawasan guru dalam

    melaksanakan tugas profesionalnya, akan tetapi secara terus menerus guru

    dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.

  • 48

    PERUBAHAN KURIKULUM 2013

    REVISI TERBARU 2018

    PADA TAHUN PELAJARAN 2018/2019

    Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bahwa seluruh sekolah

    wajib menerapkan Kurikulum 20113 pada tahun ajaran 2018/2019 dengan ini

    Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dinyatakan tidak berlaku lagi.

    Adapun Perubahan Kurikulum 2013 Revisi Terbaru 2018 pada tahun pelajaran

    2018/2019 adalah sebagai berikut:

    1. Nama kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional akan tetapi tetap

    Kurikulum 2013 Edisi Revisi yang berlaku secara Nasional.

    2. Penilaian sikap KI 1 dan KI 2 sudah ditiadakan disetiap mata pelajaran, hanya

    Agama dan PPKN namun KI tetap dicantumkan dalam penulisan RPP. Jika ada

    2 nilai praktik dalam KD, maka yang diambil adalah nilai tertinggi.

    3. Perhitungan nilai keterampilan dalam KD ditotal (Praktik, produk, portofolio)

    dan diambil nilai rata-rata. Untuk pengetahuan, bobot penilaian harian, dan

    penilaian akhir semester itu sama.

    4. Pendekatan scientific SM bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan

    apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.

    5. Silabus kurtilas (K 13) adalah edisi revisi terbaru lebih ramping hanya 3 kolom.

    Yaitu KD, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran.

    6. Perubahan terminologi Ulangan Harian (UH) menjadi Penilaian Harian (PH),

    UAS menjadi Penilaian Akhir Semester untuk semester 1 dan Penilaian Akhir

    Tahun (PAT) untuk semester 2. Dan sudah tidak ada lagi UTS, langsung ke

    penilaian akhir semester.

    7. Dalam RPP, tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan

    dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika

    ada).

    8. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi.

  • 49

    9. Remedial diberikan untuk yang kurang namun sebelumnya siswa diberikan

    pembelajaran ulang. Nilai Remedial adalah nilai yang dicantumkan dalam

    hasil.

    Selamat Belajar! Good, Better, Best.

    Sola Gratia

  • 50

    DAFTAR PUSTAKA

    Anthony Michael J, Foundations Ministry An Introduction To Christian

    Education For A New Generation, Malang; Penerbit Gandum Mas.

    Boehlke, Robert R, 2011, Sejarah Perkembangan Pikiran Dan Praktek PAK,

    Jakarta; BPK Gunung Mulia.

    Calvin, Yohanes, 2008, Institutio Pengajaran Agama Kristen, Jakarta: BPK

    Cully, Iris V, 2006, Dinamika Pendidikan Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

    Homrighausen, E.G., I.H. Enklaar, 2012, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta;

    BPK Gunung Mulia.

    Humes L, 1982, Arah Pendidikan Kristen, Falsafah Pendidikan Kristen Dan

    Dasar Alkitabiahnya, Malang: Yayasan Persekutuan Pekabaran injil

    IndonesiA, Departeman PAP.

    Ismail, Andar, 2011, Ajarlah Mereka Melakukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

    Kristianto, Paulus Lilik, 2006, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen,

    Yogyakarta: ANDI.

    Lilik, Paulus, K, 2006, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta:

    Andi Offset.

    Mulyasa, E, 2007, Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru, Bandung; PT.

    Remaja Rosa Karya.

    Mulyasa, E, 2008, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sebuah Panduan

    Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

    Pazmino, Robert.W, 2012, Fondasi Pendidikan Kristen, Bandung; Sekolah Tinggi

    Teologi Bandung, bekerja sama dengan Jakarta; BPK Gunung Mulia.

    Sanjaya, H. Wina, 2010, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta; Kencana Prenada

    Media Group.

    223