of 59/59
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan baik primer maupun sekunder manusia makin meningkat. Fenomena tersebut memberikan suatu tantangan kepada para pemilik barang dan jasa untuk perlu lebih mencermati hal tersebut agar tidak menjadikan konsumen hanya sebagai objek, akan tetapi sebagai subjek yang harus diajak berinteraksi. Dalam mengenal konsumen perlu mempelajari perilaku konsumen sebagai perwujudan dari seluruh aktivitas manusia itu sendiri. Dalam menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila kita dapat memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan Perilaku atau psikologi konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang. Perkembangan usaha bisnis dalam era globalisasi saat ini semakin pesat, ditandai dengan tingkat persaingan antar perusahaan yang semakin tinggi dan ketat. Keadaan tersebut menyebabkan perusahaan pada umumnya berusaha untuk 1

Pengaruh Psikologi Konsumen Rani

  • View
    22

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Psikologi Industri

Text of Pengaruh Psikologi Konsumen Rani

BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKebutuhan baik primer maupun sekunder manusia makin meningkat. Fenomena tersebut memberikan suatu tantangan kepada para pemilik barang dan jasa untuk perlu lebih mencermati hal tersebut agar tidak menjadikan konsumen hanya sebagai objek, akan tetapi sebagai subjek yang harus diajak berinteraksi.Dalam mengenal konsumen perlu mempelajari perilaku konsumen sebagai perwujudan dari seluruh aktivitas manusia itu sendiri. Dalam menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila kita dapat memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan

Perilaku atau psikologi konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.

Perkembangan usaha bisnis dalam era globalisasi saat ini semakin pesat, ditandai dengan tingkat persaingan antar perusahaan yang semakin tinggi dan ketat. Keadaan tersebut menyebabkan perusahaan pada umumnya berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup, mengembangkan perusahaan, memperoleh laba optimal serta berusaha memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perusahaan pesaing. Seorang pemasar dituntut mampu menciptakan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka persaingannya dengan perusahaan lain. Pemasar juga harus menciptakan produk yang mampu mengkarakteristikkan diri agarkonsumenmengenal produk-produk yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Untuk mengantarkan identitas perusahaan agar mudah dikenalkonsumen, merek menjadi hal yang sangat penting.

Dalam mengenal Produsen kitaperlu mempelajari perilaku produsen sebagai perwujudan dari seluruh aktivitas jiwa manusia itu sendiri. Suatu metode didefinisikan sebagai suatu wakil realitias yang di sederhanakan.

Model perilaku produsen dapat didefinisikan sebagai suatu sekema atau kerangka kerja yang di sederhanakan untuk menggambarkan aktiviras-aktiviras produsen. Model perilaku produsen dapat pula di artikan sebagai kerangka kerja atau suatu yang mewakili apa yang di yakinkan Produsen dalam mengambil keputusan menjual dan mencari keuntungan

Adapun yang mempengaruhi factor-faktor perilakuprodusenyaitu :

Kekuatan sosial budaya terdiri dari faktor budaya, tingkat sosial, kelompok anutan dan keluarga.Sedangkan kekuatan pisikologisterdiri dari pengalaman belajar, kepribadian, sikap dan keyakinan.Sedangkan tujuan dan fungsi modal perilaku produsen sangat bermanfaat dan mempermudah dalam mempelajari apa yang telah diketahui mengenai perilaku produsen.Menganalisis perilaku produsen akan lebih mendalam dan berhasil apa bila kita dapat memahami aspek-aspek pisikologis manusia secara keseluruhan.

Dengan demikian berarti pula keberhasilan pengusaha, ahli pemasaran, pimpinan toko dan pramuniaga dalam memasarkan suatu produk yang membawa kepuasan kepada konsumen dan diri pribadinya. Pemahaman akan perilaku konsumen adalah tugas penting bagi para produsen. Para pemasar mencoba memahami perilaku pembelian konsumen agar mereka dapat menawarkan kepuasan yang lebih besar kepada konsumen sampai tingkat yang lebih tinggi masih ada. Beberapa produsen masih belum menerapkan konsep pemasaran sehingga mereka tidak berorientasi pada konsumen dan tidak memandang kepuasan konsumen sebagai tujuan utama yang besar.

Lebih jauh lagi karena alat menganalisis perilaku konsumen tidak pasti, para pemasar kemungkinan tidak mampu menetapkan secara akurat apa sebenarnya yang dapat memuaskan para pembeli. Sekalipun para produsen mengetahui factor yang meningkatkan kepuasan konsumen, mereka belum tentu dapat merasakan atau memenuhi factor tersebut.Tidak diragukan lagi, konsumen tergolong asset berharga bagi semua bisnis. Tanpa dukungan mereka, suatu bisnis tidak bisa eksis. Sebaliknya jika bisnis kita sukses memberikan pelayanan terbaik, konsumen tidak hanya membantu bisnis kita tumbuh. Lebih dari itu biasanya mereka hanya bisa membuat rekomendasi dari teman dan relasinya. 1.2. Rumusan Masalah

Apa pengertian dari psikologi konsumen dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi psikologi konsumen? Apa yang dimaksud dengan konsumen? Apa manfaat memahami psikologi konsumen? Bagaimana konsumen dapat melakukan pengambilan keputusan dalam membeli? Bagaimana strategi pemasaran yang tepat untuk menciptakan keputusan pembelian pada konsumen ? Masalah apa saja yang dihadapi dalam melakukan Analisis Perilaku Konsumen?1.3. Tujuan Pembahasan

Untuk mengetahui arti dari perilaku konsumen dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsumen Untuk mengetahui manfaat karena mempelajari psikologi konsumen Untuk mengetahui bagaimana konsumen dapat mengambil keputusan dalam membeli Untuk mengetahui strategi pemasaran yang tepat untuk menciptakan keputusan pembelian pada konsumen. Untuk mengetahui masalah apa saja yang sering dihadapi dalam melakukan Analisis Perilaku Konsumen.1.4. Manfaat PenulisanHasil penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca agar dapat lebih memahami bagaimana psikologi atau pola tingkah laku konsumen untuk membeli suatu produk.BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Pengertian Psikologi Konsumen

Menurut Schiffman dan Kanuk perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan studi tentang bagaimana pembuat keputusan, baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan pembelian atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.

Dalam arti lain perilaku ditunjukkan, yakni bagaimana konsumen mau mengeluarkan sumber dayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendapatkan/ menukarkan dengan barang atau jasa yang diinginkannya. Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Untuk itu pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan

Menurut Mowen (2002) bahwa, perilaku konsumen (consumer behaviour) didefinisikan sebagai studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang, jasa, pengalaman serta ide-ide.

Sedangkan menurut Kotler (2007) bahwa, perilaku konsumen merupakan studi tentang cara individu, kelompok, dan organisasi menyeleksi, membeli, menggunakan, dan memposisikan barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.

The American Marketing Association dalam Setiadi (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi & kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Dari definisi tersebut terdapat 3 (tiga) ide penting perilaku konsumen, yaitu :

Perilaku konsumen bersifat dinamis. Itu berarti bahwa perilaku seorang konsumen, grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.

Perilaku konsumen melibatkan interaksi antara afeksi (perasaan) dan kognisi (pemikiran), perilaku dan kejadian di sekitar.

Perilaku konsumen melibatkan pertukaran, karena itu peran pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui formulasi dan penerapan strategi pemasaran.

Peter dan Olson (1999) dalam Simamora (2003) menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah soal keputusan. Lebih jauh lagi, keputusan adalah soal pilihan. Untuk lebih jelasnya mereka menyatakan bahwa keputusan meliputi suatu pilihan antara dua atau lebih alternatif tindakan atau perilaku.

Sastradipora (2003) menyatakan bahwa: perilaku konsumen adalah proses dimana para individu menetapkan jawaban atas pertanyaan: perlukah, apakah, kapankah, dimanakah, bagaimanakah, dan dari siapakah membeli barang atau jasa.

Solomon (2003) menyatakan bahwa, consumer behavior is the process involved when individuals or groups selest, purchase, use, adn dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and desires. Yang dapat diartikan bahwa perilaku konsumen merupakan suatu proses yang melibatkan seseorang ataupun suatu kelompok untuk memilih, membeli, menggunakan dan memanfaatkan barang-barang, pelayanan, ide, ataupun pengalan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan.

2.2. Faktor yang Mempengaruhi Psikologi KonsumenPerilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dari luar diri manusia (eksternal), dan faktor-faktor didalam diri manusia (internal). Faktor eksternal yang utama adalah faktor kebudayaan dan sosial sedangkan faktor-faktor internal yang utama adalah faktor pribadi dan psikologi.1. Faktor budaya, budaya adalah penentu yang mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya adalah sekelompok nilai-nilai sosial yang diterima masyarakat secara menyeluruh dan tersebar kepada anggota-anggotanya melalui bahasa dan simbol-simbol.2. Faktor sosial, faktor sosial adalah yang terdiri dari kelompok refrensi keluarga, peranan, dan status. Yang dimaksud dengan kelompok refrensi adalah kelompok yang secara langsung maupun secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang.3. Faktor pribadi. Yang dimaksud dengan faktor pribadi meliputi usia, pekerjaannya, kondisi ekonomi, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri.4. Faktor psikologi, faktor ini meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakianan. Motif adalah suatu kebutuhan yang cukup kuat mendesak untuk mengarahkan seseorang adar dapat mencari pemuasan untuk kebutuhan itu. Persepsi adalah proses pemilihan pengorganisasi, dan menafsirkan maskan-masukan informasi oleh seseorang untuk mencapai suatu gambaran yang bermakna tentang dunia.2.3. Pengertian Konsumen, Konsumsi, Konsumtif dan Konsumerisme Konsumen

Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen, Hak-hak Konsumen adalah :

1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Contoh :

Seseorang yang sedang mengkonsumsi suatu barang seperti makanan atau minuman atau produk lain yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Konsumsi

Konsumsi dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

Contoh :

Pada saat kita menggunakan suatu produk makanan seperti roti, ice cream atau minuman artinya kita menggunakan barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan kita di saat kita sedang lapar atau hausKonsumtif

Konsumtif adalah perilaku yang boros yang mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan

Contoh :

Seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif. Konsumerisme,

Konsumerisme dapat diartikan sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha dan negara dan gerakan tidak sekadar hanya melingkupi isu kehidupan sehari-hari mengenai produk harga naik atau kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi consumer

Contoh :

Seseorang yang perokok berat akan sulit untuk mengurangi rasa candu pada rokok tersebut. Dan ia secara tidak sadar telah membunuh dirinya sendiri karena di dalam rokok tersebut banyak zat berbahaya seperti nikotin. Apabila zat tersebut melekat ditubuh hingga bertahun-tahun akan menimbulkan penyakit yang berbahaya.

2.4. Manfaat dan Pentingnya Memahami Psikologi Konsumen

Ada dua alasan mengapa perilaku konsumen perlu dipelajari 1. Konsumen sebagai titik sentral perhatian pemasaran. Mempelajari apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada saat ini merupakan hal yang sangat penting. Memahami konsumen akan menuntun pemasar pada kebijakan pemasaran yang tepat dan efisien. Misalnya saja ketika pemasar mengetahui bahwa konsumen yang menginginkan produknya hanya sebagian kecil saja dari suatu populasi, dan dengan karakteristik yang khusus, maka upaya-upaya pemasaran produk bisa diarahkan dan difokuskan pada kelompok tersebut.

2. Perkembangan perdagangan pada saat ini menunjukkan bahwa lebih banyak produk yang ditawarkan daripada permintaan. Kelebihan penawaran ini menyebabkan banyak produk yang tidak terjual atau tidak dikonsumsi oleh konsumen. Kelebihan penawaran tersebut bisa disebabkan oleh faktor seperti kualitas barang tidak layak, tidak memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, atau mungkin juga karena konsumen tidak mengetahui keberadaan produk tersebut. Dari tiga faktor penyebab kelebihan penawaran diatas, dua faktor pertama berhubungan langsung dengan konsumen dan faktor yang ketiga disebabkan oleh kurangnya produsen dalam mengkomunikasikan produk kepada konsumen. Oleh karena itu,sudah selayaknya perilaku konsumen menjadi perhatian penting dalam pemasaran.

Selain dua alasan diatas, mempelajari perilaku konsumen dan proses konsumsi yang dilakukan oleh konsumen memberikan beberapa manfaat. Mowen (1995) mengemukakan manfaat yang bisa diperoleh sebagai berikut :

1. Membantu para manajer dalam pengambilan keputusan.

2. Memberikan pengetahuan kepada para peneliti pemasaran dengan dasar pengetahuan analisis konsumen.

3. Membantu legislator dan regulator dan menciptakan hukum dan peraturan yang berkaitan dengan pembelian dan penjualan dan jasa.

4. Membantu konsumen dalam pembuatan keputusan pembelian yang lebih baik. 2.5. Keputusan Konsumen

Keputusan adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Dengan kata lain, orang yang mengambil keputuan harus mempunyai satu pilihan dari beberapa alternative yang ada. Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli dan tidak dan tidak membeli, dan kemudian dia memilih membeli, maka dia ada dalam posisi membuat suatu keputusan. Semua orang yang mengambil keputusan setiap hari dalam hidupnya. Hanya saja keputusan yang di ambil kadang-kadang tanpa mereka sadari. Bila ditinjau dari alternatif yang harus dicari, sebetulnya dalam pengambilan keputusan, konsumen harus melakukan pemecahan masalah. Masalah itu timbul dari kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan itu dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai. Ada lima tahap dalam pengambilan keputusan untuk pembeli yang umum dilakukan oleh seseorang yaitu: 1. Pengenalan kebutuhan. Kebutuhan konsumen mungkin muncul karena menerima informasi baru tentang suatu produk, kondisi ekonomi, periklanan, atau karena kebetulan. Selain itu, gaya hidup seseorang, kondisi demografis, dan karakteristik pribadi dapat pula mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Kebutuhan harus diaktifkan telebih dahulu sebelum ia bisa dikenali. Ada beberapa factor yang mempengaruhi pengaktifan kebutuhan :a) Konsumen waktu

Konsumen yang terbiasa makan pagi pukul 6, maka secara otomatis ia akan mefrasa lapar lagi pada siang hari. Berlalunya waktu akan menyebabkan teraktifkannya kebutuhan fisiologis seseorang. Waktu juga akan mendorong pengenalan kebutuhan lain yang didinginkan oleh seorang konsumen. Usia konsumen yang semakin tua akan menyebabkan ia memiliki aspirasi dan nilai yang berbeda. Konsumen yang lebih tua mungkin akan lebih memperhatikan kesehatannya, sehingga ia banyak membutuhkan makanan yang sangat selektif agar terhindar dari beebagai penyakit.

b) Perubahan situasi

Perubahan situasi akan mengkatifkan kebutuhan. Konsumen yang masih bujangan munkin akan lebih banyak menghabiskan pengeluarannya untuk hiburan lain, misalnya ia harus lebih banyak menabung untuk persiapan kelahiran anaknya. Maka ia mungkin mengurangi pengeluarannya untuk hiburan tersebut.c) Pemilikan produk

Memiliki sebuah produk sering kali mengaktifkan kebuthan yang lain. Seseorang konsumen yang membeli mobil baru, maka ia menyadari perlunya produk lain. Ia membutuhkan shampoo mobil, lap kanebo, peralatan membersihkan mobil, waktu untuk membersihkan mobil, bahkan orang lain yang bisa mmbantunya mencuci dan membersihkan mobil.

d) Konsumsi produk

Jika buah buahan yang tersedia dikulkas sudah habis, maka ia akan memicu konsumen untuk membeli lagi buah buahan untuk kebutuhan konsumsinya. Habisnya persediaan makanan yang ada dirumah seringkali mendorong konsumen menyadari kebutuhannya untuk segera membeli makanan lagi sehingga bisa tersedia untuk mengkonsumsi berikutnya.

e) Pengaruh pemasaran

Produk baru muncul sing setiap hari, dan diiklankan atau dikomunikasikan melalui beebagai media oleh perusahaan pembuatnya.Program pemasaran tersbut melalui berbagai media oleh perusahaan pembuatnya. Program pemasaran tersbut akan mmpengaruhi konsumen untuk menyadari akan kebutuhannya. Produk yang dikomunikaikan dengan menarik akan memicu seorang konsumen untuk menyadari akan kebutuhannya dan merasakan bahwa produk tersebutlah yang bisa memenuhi kebutuhannya tersebut.

2. Proses informasi konsumen. Meliputi pencarian sumber-sumber informasi oleh konsumen. Proses informasi dilakukan secara selektif konsumen memilih informasi secara relevan bagi benefit yang dicari dan sesuai dengan keyakinan dan sikap mereka. Konsumen akan mencari informasi yang tersimpan didalam igatannya ( pencarian internal) dan pencarian informasi dari luar ( pencanan eksternal ).a) Pencarian internal langkah pertama yang dilakukan konsumen adalah mengingat kemvali semua informasi yang ada dalam ingatan memorinya. Informasi yang dicari meliputi berbagai produk dan merk yang dianggap bisa memecahkan masalahnya atau memenuhi kebutuhannya. Proses pencarian informasi secara internal dari memori konsumen dapat dijelaskan sebagai berikut :

Langkah pertama konsumen akan berusaha mngingat semua produk dan merk. Konsumen akan mendapatkan beberapa produk dan merk yang sangat dikenalnya, namun konsumen juga akan mengingat beberapa produk atau merk tetapi tidak dikenalnya secara baik. Produk dan merk yang diingat tersebut akan muncul dari memori jangka panjang.Langkah kedua konsumen akan berfokus kepada produk dan merk yang sangat dikenalnya. Ia akan membagi produk yang dikenalnya tersebut kedalam 3 kategori : 1. Kelompok yang dipertimbangkan, yaitu kumpulan produ atau merk yang akan diprtimbangkan lebih lanjut. 2. Kelompok yang tidak berbeda, yaitu kumpulan produk atau merk yang dipandang tidak berbeda satu sama lain. 3. Kelompok yang ditolak, yaitu kelompok produk atau merk yang tidak bisa diterima.

b) Pencarian eksternal

Konsumen cukup sampai pencarian internal jika apa yang dicari telah terpenuhi. Jika tidak, konsumen akan berlanjut ke tahap pencarian eksternal. Konsumen mungkin juga mengkombinasikan pencarian internal dan ekstelnal agar informasi yang diperolehnya mengenai produk dan merk menjadi sempurna dan meyakinkan. Pencarian eksternal adalah proses pencarian informasi mengenai berbagai produk dan merk, pembelian maupun konsumsi kepada lingkungan konsumen. Konsumen akan bertanya kepada teman, saudara atau tenaga penjual. Konsumen akanmembaca kemasan, surat kabar, majalah konsumen, melihat dan mendengar iklan di berbagai produk3. Evaluasi produk/merk. Kosumen akan mengevaluasi karakteristik dari berbagai produk/merk dan memilih produk-produk yang mungkin paling memenuhi benefit yang diinginkan.4. Pembelian. Dalam pembelian, beberapa aktivitas lain diperlukan, seperti pemilihan toko, penentuan kapan akan membeli. Setelah ia menemukan tempat yang sesuai, waktu yang tepat, dan dengan didukung oleh daya beli maka kegiatan pembelian dilakukan.5. Evaluasi pembelian. Jika kinerja produk sesuai dengan harapan konsumen, konsumen akan puas jika tidak kemungkinan pembelian kembali berkurang.Ada 4 tipe pengambilan konsumen, yaitu :1. Pengambilan keputusan yang kompleks, adalah apabila konsumen terlibat dengan harga yang tinggi dan melakukan proses pengambilan keputusan, misalnya membeli mobil, rumah dan sebagainya. Pengambilan keputusan yang kompleks biasanya tidak terjadi setiap saat.2. Loyalitas terhadap merk, merupakan suatu proses pengambilan keputusan produk/merk yang paling memuaskan. Dengan demikian loyalitas, terhadap merk merupakan hasil kepuasan yang diulang dan suatu komitmen yang kuat terhadap merk tertentu.3. Pengambilan keputusan yang terbatas, merupakan suatu proses yang terjadi bila konsumen melakukan proses pengambilan keputusan dalam pembeliannya, sekalipun keterlibatan konsumen rendah karena ia hanya memiliki sedikit pengalaman dengan produk. Misalnya: membeli sereal untuk orang dewasa.4. Inertria, merupakan suatu tipe pengambilan keputusan konsumen dengan keterlibatan rendah dan tanpa proses pengambilan keputusan. Hal ini berarti konsumen membeli merk produk yang selalu sama, bukan karena adanya loyalitas terhadap merk melainkan tidak ada waktu dan tenaga untuk alternatif lain.

2.6 Hubungan Pemasaran dan Perilaku Konsumen

Pengertian Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Stanton, 1997).

Pengertian tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang/jasa kepada pembeli secara individual maupun kelompok pembeli. Kegiatan-kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang dibatasi sumber-sumber dari perusahaan itu sendiri, peraturan-peraturan, maupun konsekuensi sosial perusahaan.

Pengertian pemasaran menurut Kotler (2000: 8), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain. Dalam hal ini pemasaran merupakan proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan, menawarkan, dan pertukaran.

Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi cara dan keberhasilan perusahaan terhadap pemasarannya, yaitu:

1) Lingkungan Eksternal Sistem Pemasaran. Lingkungan ini tidak dapat dikendalikan perusahaan, misalnya kebebasan masyarakat dalam menerima atau menolak produk perusahaan, politik dan peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, kependudukan serta munculnya pesaing.

2) Variabel Internal Sistem Pemasaran. Variabel ini dapat dikendalikan oleh perusahaan, terdiri atas dua kelompok, yaitu sumber bukan pemasaran (kemampuan produksi, keuangan, dan personal) dan komponen-komponen bauran pemasaran yang meliputi: produk, harga, promosi, dan distribusi (Swastha, 2002).

Perilaku Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Swastha dkk., 1997).

Perilaku konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing. Peran yang dilakukan tersebut adalah:

1) Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu;

2) Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak;

3) Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya;

4) Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya;

5) User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk. Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya dapat lebih berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi, psikologis, sosiologis dan antropologis.

Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.

Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut:

1) Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain.

2) Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung.

3) Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.

2.7 Keputusan Pembelian

Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian.

Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:

1) Pengenalan Masalah merupakan faktor terpenting dalam melakukan proses pembelian, dimana pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.

2) Pencarian informasi seorang selalu mempunyai minat atau dorongan untuk mencari informasi. Apabila dorongan tersebut kuat dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.

3) Evaluasi Alternatif konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.

Keputusan Pembeli setelah konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka konsumen akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan merek di antara beberapa merek yang tersedia.

2.8. Tipe Proses Pembelian Konsumen.1) Proses Complex Decision Making , terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli produk sepatu. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengevaluasi dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti sepatu olahraga,seperti sepatu roda dapat mempercepat waktu berjalan dan menghemat tenaga. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran.

2) Proses Brand Loyalty . Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, sepatu sekolah dan sepatu kerja untuk dapat beraktivitas.Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.

Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia.

2.9. Dampak Lingkungan Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Faktor lingkungan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dengan menyela atau menganggu aliran proses pemecahan masalah yang sedang berjalan.Ada 5 jenis kejadian yang dapat menganggu :

A. Gangguan dapat muncul ketika informasi tak diharapkan unexpected information( tidak konsisten dengan struktur pengetahuan yang telah ada) misalnya pelaksanaan rencana keputusan dapat berhenti ketika secara tak disengaja anda menyadari bahwa aspek aspek fisik atau social pada lingkungan telah berubah, suatu merek yang sebelumnya ditolak sekarang ternyata sudah memiliki sing yang baru, atau teman anda jadi menyenangi situasi took tersebut pada malam hari. Gangguan lingkungan ini dapat mendorong konsumen untuk melakukan control sadar atas proses pemecahan masalah, menentukan tujuan akhir yang baru, mengembangkan hirarki tujuan yang baru dan membangun rencana keputusan baru.

B. Rangsangan lingkungan yang mencolok

Dapat menganggu proses pemecahan masalah. Beberapa strategi pemasaran ditujukan untuk menyela proses pemecahan masalah yang sedang berlangsung. Misalnya, gambar kue oreo ukuran besar yang diletakkan di toko lebel pada rak yang bertuliskan seperti yang diklan di TV atau pengumuman memakai pengeras suara para pengunjung setia Kmarat! Sisepanjang lorong 3b anda akan menemukan dapat menganggu proses pemcahan masalah yang sedang berjalan disamping dapat mengaktifkan pengetahuan atau tujuan baru dari ingatan.

C. Status pengaruh

Seperti suasana hati (merasa bosan) dan kejadian psikososial (merasa lapar,ngantuk,haus dan lapar) dapat menyela proses pemecahan masalah yang sedang berlangsung. Misalnya merasa capek ketika sedang berbelanja dapat mengaktifkan tujuan baru dan memulai proses pemecahan masalah yang berbeda ( mencari tempat untuk beristirahat sambil minum kopi atau minum soda ) . mengalami suasana hati yang buruk benar benar dapat mengehentikan proses pemecahan masalah.

D. Konflik

Yang muncul pada saat proses pengambilan keputusan berlangsung dapat menyela proses pemecahan masalah .Konflik tujuan dapat muncul ketika konsumen menemukan bahwa tidak ada alternative yang tersedia yang tidak dapat memuaskan tujuan yang tidak sejalan. Misalnya Susan dapat mengalami pendekatan pendekatan ketika harus membeli antara membeli kamera baru atau radio tape, karna masing masing produk dapat memuaskan tujuan yang diinginkan(kreativitas dan santai) tetapi tidak ada satupun produk dapat memenuhi keduanya. Konflik penginderaan penginderaan terjadi ketika konsumen harus memilih diantara 2 alternatif dengan konsekuensi negative yang berbeda.Misalnya Sam sedang mencoba memutuskan apakah dia mau membeli jas baru atau tidak. Di satu sisi dia tidak ingin malu karna memakai jas yang sudah sing tetapi di sisi lain dia juga tidak ingin mengeluarkan uang terlalu banyak.

E. Dampak dari penyelaan

Proses pemecahan masalah konsumen tergantung pada bagaimana konsumen menerjemahkan (memahami) kejidan yang dapat menganggu tersebut. Pada umumnya, konsumen cenderung melanjutkan kembali upaya pemecahan masalah yang tersela, terlibat jika maslah penting atau tingkat keterlibatannya tinggi.Pada kasus lainnya, kejadian yang menyela malah dapat mengubah proses pemecahan masalah yang sedang berlangsung. Misalnya, suatu penyelaan dapat mengaktifkan tujuan baru yang mebutuhkan proses pemecahan masalah baru.

Minat beli merupakan bagian dari proses menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan seorang konsumen. Hal ini merupakan bagian kajian perilaku konsumen. Perilaku konsumen winardi (1991:141 ) dapat dirumuskan sebagai perilaku yang ditunjukan oleh orang-orang dalam hal merencanakan, membeli dan menggunakan barang-barang ekonomi dan jasa-jasa. Dengan demikian perilaku konsumen terdiri dari aktivitas-aktivitas yang melibatkan orang-orang sewaktu sedang menyeleksi, membeli dan menggunakan produk-produk dan jasa, sedemikian rupa sehingga hal tersebut memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen Menurut Essael (1987: 11) ada tiga faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen yaitu:

1. Faktor individual konsumen yang meliputi pendidikan dan penghasilan konsumen;

2. Pengaruh lingkungan;

3. Strategi pemasaran; Strategi pemasaran merupakan variabel yang dapat dikontrol oleh pemasar dalam usaha memberi informasi dan mempengaruhi konsumen.

Variabel ini adalah produk, harga, distribusi dan promosi. Perubahan sosial ekonomi mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli, baik untuk kebutuhan primer maupun sekunder. Perubahan sosial ekonomi meliputi pendapatan dan tingkat pendidikan yang merupakan karakteristik pembeli. Terdapat korelasi langsung antara tingkat pendidikan, pendapatan dan kemampuan membeli seseorang. Pendidikan secara langsung berkaitan dengan kemampuan membeli karena terdapat korelasi yang kuat antara pendidikan dan pendapatan. Pendidikan mempengaruhi konsumen dalam membuat keputusan, konsumen yang pendidikannya tinggi mempunyai pandangan yang berbeda terhadap alternatif merk dan harga dibandingkan dengan konsumen berpendidikan yang lebih rendah. Untuk melakukan pembelian, konsumen tidak terlepas dari karakteristik produk baik mengenai penampilan, gaya, mutu dan harga dari produk tersebut. Penetapan harga oleh penjual akan berpengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen.

faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:

a) Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

b) Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.

c) Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.

d) Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

e) Pembelajaran (learning) merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah membeli produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan akan dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.

2.10. Pengaruh Harga Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian

Harga

Harga menurut Husain Umar(2000:32) adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Bagi konsumen harga merupakan faktor yang menentukan dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk atau tidak. Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir 2 kali untuk melakukan pembelian ulang. Pembelian konsumen dipengaruhi oleh pendapatan konsumen diaman penghasilan yang tinggi biasanya akan diikuti dengan pembelian yang besar, sebaliknya jika penghasilannya rendah maka pembelian yang dilakukannya lebih kecil.

Kualitas produk

Kualitas seringkali diartikan sebagai kepuasan pelanggan atau konfrimasi terhadap kebutuhan atau persyaratan. Menurut Vincent Gasperz kualitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menentukan kepuasan pelanggan dan upaya perubahan kearah perbaikan terus menerus sehingga dikenal istilah : Q-match (Quality = Meets Agreed Terms and Changes)

Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi beberapa faktor tetapi faktor yang sangat mempengaruhi adalah harga dan kualitas produk. Dari penelitian yang dilakukan oleh Endang Wijayanti diperoleh kesimpulan bahwa kualitas produk lebih berpengaruh terhadap keputusan pembelian dibandingkan dengan harga. Tingkat keputusan pembelian yang kurang tinggi merupakan indikasi terjadinya ketimpangan antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan responden.

Harga merupakan factor yang selalu dipertimbangkan oleh konsumen dalam setiap keputusan pembelian.Untuk dapat lebih menarik daya beli konsumen, maka perusahaan dapat memberikan potongan harga atau bonus yang lebih besar.Kualitas produk merupakan factor yang krusial dalam melakukan keputusan pembelian.Produsen harus lebih jeli dan terus melakukan riset pasar agar dapat mengetahui keinginan, selera dan kebutuhan konsumen sehingga dapat memuaskan konsumen.

2.11 Pendekatan Perilaku Konsumen Pendekatan untuk mempelajari tingkah laku konsumen ada 2 :

1.Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan. Misalnya uang.

2.Pendekatan Inddifferences Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasaan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.

Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :

a. Utility bisa diukur dengan uang

b. Hokum Gossen (The Law Of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan yang dikonsumsikan akan menurun.

c. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu. 2.12. Kajian Perilaku Perilaku manusia digerakkan oleh kebutuhan kebutuhan dasar. Sebagai sosial, perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan sosial selain berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan juga berfungsi kontrol terhadap perilaku individu. Karena individu terlibat dalam mengonsumsi benda benda dan jasa dari lingkungannya, maka dia memiliki perilaku konsumen. Sebagai konsumen, individu akan berada pada situasi yang mengharuskannya akan berada pada situasi yang mengharuskannya membuat keputusan. Proses memutuskan untuk membeli ada dua macam, yaitu Proses yang biasa atau terbatas dan proses yang diperpanjang (extended).2.13 Periklanan

Psikologi konsumen berakar dari psikologi periklanan dan penjualan. Inti dari berjualan adalah membujuk dan meyakinkan orang lain untuk menerima dan melakukan hal-hal yang disampaikan oleh penjual. Iklan mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi informasi dan fungsi persuasif. Tingkat efektivitas iklan ditentukan oleh:

1) daya penarik perhatian

2) interes dan sikap calon konsumen

3) nilai sugesti dari iklan

4) motivasi calon konsumen.

Motif seseorang untuk membeli barang atau jasa yang ditawarkan, sangat bervariasi. Biasanya sulit untuk mengetahui motif yang sesungguhnya, ada berbagai motif membeli yang menurut seorang psikolog, Vance Packard, kebanyakan motif pembelian berkisar antara mencari kekayaan dan pangkat.

Di dalam kegiatan menjual membeli sering terjadi perbedaan persepsi. Untuk mengamalkan persepsi perlu dilakukan beberapa hal meliputi, tujuan pemberian informasi, tugas dalam penyampaian informasi, metode komunikasi, alat alat yang digunakan, cara cara penyampaian, informasi, wadah atau organisasi dan personil, lokasi dan tempat operasi, waktu dan lamanya pelaksanaan, penanganan hambatan yang mungkin timbul, sistem pengawasan dan pengendalian. Tingkah laku konsumen banyak dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik seperti, jenis kelamin, usia,watak, status, sosial ekonomi, serta lokasi tempat tinggal.BAB IIISTUDI KASUS

3.1. Ruang lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian hanya membahas pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian kecap ABC.3.2. Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan rancangan sebab akibat atau kausal yang terdiri dari 4 variabel yaitu variabel independen (X) yang diukur melalui tingkat atribut produk yang meliputi merek, label, kemasan dan layanan pelengkap serta variabel dependen (Y) adalah variabel yang diukur melalui keputusan pembelian.3.3. Jenis Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Guna memperoleh data yang akurat digunakan alat pengumpul data yang tepat agar memperoleh kesimpulan yang tidak menyesatkan. Data primer diperoleh dari pendapat responden mengenai kecap ABC dan data sekunder seperti laporan penjualan kecap ABC di minimarket yang ada di daerah Sukarame, Palembang.3.4. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan dua metode pengumpulan data, yaitu:

1. Metode Kuesioner (Angket)

Angket yang digunakan adalah tipe pilihan untuk memudahkan bagi responden dalam memberikan jawaban, karena alternatif jawaban sudah disediakan dan hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk menjawabnya.

Alasan mengapa peneliti menggunakan metode angket di dalam penelitian ini antara lain:

a. Responden adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri, sehingga dapat diperoleh data yang lengkap dan benar.

b. Responden memiliki kemampuan untuk menyatukan keinginan yang diinginkan dalama angket.

c. Hemat waktu, tenaga dan biaya. 2 Metode Wawancara

Metode ini digunakan untuk melengkapi data yang belum terungkap dalam angket, mengenai gambaran konsumen dalam melakukan proses belanja, dengan menggunakan pedoman sejumlah pertanyaan untuk memperoleh data yang menunjang penelitian tersebut.3.5. Populasi dan SampelSampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi ( jumlahnya lebih sedikit dari pada jumlah populasinya ). Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Teknik purposive ini merupakan cara pengambilan sampel dengan penetapan kriteria-kriteria tertentu terhadap populasi berdasarkan keinginan dan tujuan penelitian itu sendiri. Target sampel yang diinginkan adalah populasi dengan kriteria sebagai berikut:

1. Populasi dengan usia 20 - 50 tahun. Usia ini dipandang bisa memahami dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam angket.

2. Ibu rumah tangga

3. Mengenal dan memiliki pengetahuan tentang produk kecap ABC

Karena besarnya populasi tidak diketahui dengan pasti, maka penetapan jumlah sampel dalam penelitian ini didasarkan pada jumlah sampel dalam analisa faktor adalah minimal empat kali atau lima kali jumlah item pertanyaan. Penentuan jumlah minimal sampel dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut Ferdinand ( 2006) :

n = {5 jumlah indikator yang digunakan}

= 5 20 indikator

= 100 sampel

Dari hasil perhitungan rumus di atas dapat diperoleh jumlah sampel yang akan diteliti adalah sebesar 100 responden.3.6. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabela. Merek (X1) adalah nama, istilah, simbol, rancangan, atau kombinasi hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seseorang atau kelompok penjual, dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Merek adalah nama atau simbol yang bersifat membedakan suatu barang atau jasa dari barang atau jasa yang dihasilkan oleh kompetitor, serta melindungi konsumen maupun produsen dari para kompetitor yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik. Merek bukan sekedar nama atau simbol. Merek mengandung berbagai dimensi interpretatif, baik bagi perusahaan ataupun para pemakai barang atau jasa. b. Label (X2) merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjualan, sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan atau bisa merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantumkan dalam produk. c. Kemasan (X3) adalah pembungkus luar produk yang berfungsi untuk melindungi produk dan memudahkan konsumen dalam memakainya.d. Layanan Pelengkap (X4) adalah informasi tentang pembuatan/konstruksi, kinerja produk dan cara penggunaan produk.

e. Keputusan Pembelian (Y) adalah keputusan yang diambil oleh pembeli yang merupakan kesimpulan dari sejumlah keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, jumlah produk dan sebagainya.3.7. Instrumen PenelitianPenelitian ini menggunakan instrumen penelitian untuk mendapatkan data dengan cara sebagai berikut: Kuesioner, untuk mendapatkan data kuantitatif tentang variabel-variabel kompetensi yaitu: untuk memperoleh gambaran deskriptif mengenai responden berkaitan dengan variabel penelitian yang digunakan maka digunakan angka indeks jawaban responden. Teknis yang digunakan adalah dengan menggunakan angka indeks. Angka indeks ini digunakan untuk mengetahui persepsi umum responden mengenai sebuah variabel yang diteliti. Seluruh variabel independen akan menggunakan skala Likert 1- 6 dengan penilaian Skala Likert merupakan skala yang dipakai untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang/sekelompok orang tentang fenomena sosial Sugiyono (2001). Indikator-indikator di atas diukur dengan skala penilaian Likert yang memiliki empat tingkat preferensi jawaban yang masing-masing mempunyai skor 1- 6 dengan rincian sebagai berikut: Indikator-indikator di atas diukur dengan skala penilaian Likert yang memiliki enam tingkat preferensi jawaban yang masing-masing mempunyai skor 1-6 dengan rincian sebagai berikut:1 = sangat tidak setuju

2 = tidak setuju

3 = kurang setuju

4 = cukup setuju

5= setuju

6 = sangat setuju3.8. Gambaran Umum RespondenAdapun karakteristik responden berdasarkan pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan jenis kelamin. Selanjutnya dapat dilihat karakteristik responden di bawah ini :

Tabel 1. Karakteristik Jenis Kelamin Responden Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Kecamatan Sukarame

Jenis KelaminJumlah%

- Perempuan100100

Total100100

Sumber : Data yang diolah

Dari Tabel 1. menunjukkan bahwa semua responden dalam penelitian ini adalah perempuan yaitu ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Kecamatan Sukarame yang mengkonsumsi kecap ABC.

Tabel 2.Karakteristik Pendidikan Responden Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Kecamatan SukarameKarakteristikJumlah%

- < SMA2121

- SMA4242

- Sarjana3737

Total100100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan adalah 21 orang < SMA, 42 orang berpendidikan SMA dan 37 orang berpendidikan Sarjana. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 79% responden dianggap mempunyai kemampuan keilmuan dan pengetahun yang cukup dalam memberikan penilaian terhadap atribut produk kecap ABC berdasarkan wawasan yang dimilikinya.

Tabel 3. Karakteristik Usia Responden Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Kecamatan SukarameKarakteristikJumlah%

< 201414

21 253131

> 255555

Total100100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 3. menggambarkan karakteristik usia yaitu < 20 berjumlah 14 orang, 21-25 tahun sebanyak 31 orang dan > 25 tahun sebanyak 55 orang. Hal ini menunjukkan bahwa 86% responden merupakan ibu Rumah Tangga yang telah mengkonsumsi produk kecap sehingga mereka dapat membedakan atribut produk kecap yang ada dipasaran.

Tabel 4. Pengeluaran Per Bulan Responden Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Kecamatan SukarameKarakteristikJumlah%

< Rp. 500.000 00

Rp. 500.000-Rp. 1.500.000 2929

Rp. 1.500.000-Rp2.500.0004343

> Rp. 2.500.0002828

Total100100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4. menggambarkan karakteristik pengeluaran yaitu Rp. 500.000-Rp. 1.500.000 berjumlah 29 orang, Rp. 1.500.000-Rp2.500.000 sebanyak 43 orang dan > Rp. 2.500.000 sebanyak 28 orang. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini adalah ibu Rumah Tangga pada kelas ekonomi menengah karena 43% pengeluaran mereka sebesar Rp. 1.500.000-Rp. 2.500.000.3.9. Deskripsi Variabel PenelitianTabel 5.

Deskripsi Responden Terhadap Variabel Merek (X1)

NoPertanyaanSSSCSKSTSSTSJumlahSkor EmpirikSkor MaxCapaian %Kriteria

1.Kecap ABC adalah pilihan pertama saya dibandingkan kecap lain3241108910047960079,83Tinggi

2.Saya puas untuk setiap pembelian kecap ABC4326196610049460082,33Tinggi

3.Saya akan merekomendasikan kecap ABC kepada orang lain2736236810046860078,00Tinggi

4.Saya akan selalu menggunakan kecap ABC25362541010046260077,00Tinggi

5Saya tidak akan berpindah pada merek kecap lain meskipun produk lain lebih murah2438294510047260078,67Tinggi

Total151177106283805002375300079,17Tinggi

Kriteria :

20% - 36% = Sangat Rendah

37% - 52% = Rendah

53% - 68% = Cukup

69% - 84% = Tinggi

85% - 100% = Sangat Tinggi

Sumber : data yang diolah

Berdasarkan tabel 5. di atas diketahui bahwa deskripsi variabel merek masuk kriteria tinggi karena 151 jawaban responden sangat setuju, 177 setuju, 106 cukup setuju, 28 kurang setuju dan 38 tidak setuju dengan target capaiannya sebesar 79,17%. Hal ini menunjukkan responden menyatakan tingkat kesetujuan yang tinggi terhadap pernyataan-pernyataan variabel merek yaitu kecap ABC sebagai pilihan pertama, puas terhadap kecap ABC, bersedia merekomendasikan kecap ABC kepada orang lain, akan selalu menggunakan kecap ABC dan loyal terhadap kecap ABC. Suatu merek yang kesadarannya tinggi akan membantu asosiasi-asosiasi yang melekat pada merek tersebut karena daya jelajah merek tersebut menjadi sangat tinggi di benak konsumen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika kesadaran suatu merek rendah, maka asosiasi yang diciptakan oleh pemasar akan sulit melekat pada merek tersebut. Jika kesadaran terhadap merek tinggi, maka konsumen akan merasa akrab dengan merek tersebut, sehingga lama kelamaan dapat menimbulkan rasa suka. Kesadaran merek dapat menandakan keberadaan, komitmen, dan inti yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Apabila kesadaran akan merek tinggi, maka kehadiran merek tersebut akan selalu dirasakan. Dalam melakukan keputusan pembelian konsumen akan menyeleksi merek-merek yang dikenal dalam suatu kelompok untuk dipertimbangkan. Merek dengan top of mind yang tinggi mempunyai nilai pertimbangan yang tinggi. Jika suatu merek tidak tersimpan dalam ingatan, merek tersebut tidak akan dipertimbangkan dalam benak konsumen. Nilai-nilai yang tercipta dalam kesadaran merek membuat merek tersebut melekat dalam benak konsumen dan menjadi pertimbangan utama konsumen. Merek dengan top of mind yang tinggi akan mempunyai nilai pertimbangan yang tinggi pula, dengan begitu merek tersebut akan tersimpan dalam ingatan dan mendapatkan kesempatan lebih baik untuk dipilih oleh konsumen. Merek kecap ABC sudah sangat terkenal karena kecap ABC merupakan kecap pertama yang dipasarkan secara global di Indonesia melalui berbagai media sehingga melekat dalam ingatan konsumen.Tabel 6. Label

NoPertanyaanSSSCSKSTSSTSJumlahSkor EmpirikSkor MaxCapaian %Target

1.Label kecap ABC mempunyai identifikasi yang berbeda dari produk lain163921121210043560072,50Tinggi

2.Label kecap ABC menjelaskan tentang kualitas kecap ABC1937298710045360075,50Tinggi

3.Label pada kemasan kecap ABC dilihat dari desain gambar dan tulisan memberikan daya tarik bagi anda153528111110043260072,00Tinggi

4.Label kecap ABC sesuai dengan kualitas masakan yang disajikan21293821010044960074,83Tinggi

5Label kecap ABC memiliki label yang informative2532269810045760076,17Tinggi

Total96172142424805002226300074,20Tinggi

Kriteria:

20% - 36% = Sangat Rendah

37% - 52% = Rendah

53% - 68% = Cukup

69% - 84% = Tinggi

85% - 100% = Sangat Tinggi

Berdasarkan tabel 6. di atas diketahui bahwa deskripsi variabel label masuk kriteria tinggi karena 96 jawaban responden sangat setuju, 172 setuju, 142 cukup setuju, 42 kurang setuju dan 48 tidak setuju dengan target capaiannya sebesar 74,20%. Hal ini menunjukkan responden menyatakan tingkat kesetujuan yang tinggi terhadap pernyataan-pernyataan variabel merek yaitu label kecap ABC berbeda dengan yang lain, label kecap ABC menggambarkan kualitas produk, label kemasan kecap ABC menarik, label kecap ABC mencerminkan rasa masakan dan label kecap ABC informatif.

Label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjualan, sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan atau bisa merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantumkan dalam produk. Label produk yang baik dan informatif dapat membantu konsumen dalam membuat keputusan untuk membeli karena fungsi label pada produk antara lain :1. Label mengidentifikasikan produk atau merek.

2. Menggolongkan produk.

3. Menjelaskan beberapa hal mengenai produk.

4. Sebagai alat promosi.

Label produk pada kecap ABC informatif karena memuat tentang kandungan gizi, komposisi, tanggal kadaluarsa, produsen, penyalur dan isi bersih sehingga memudahkan pembeli untuk mengetahui kandungan isi produk kecap tersebut. Semakin informatif label yang disajikan semakin baik bagi konsumen untuk memilih dan memutuskan untuk membeli.

Tabel 7. Kemasan

NoPertanyaanSSSCSKSTSSTSJumlahSkor EmpirikSkor MaxCapaian %Target

1.Kemasan kecap ABC dapat memenuhi sasaran berupa keamanan dan kemanfaatan111742151510039460065,67Cukup

2.Kemasan kecap ABC memberikan manfaat dan perlindungan terhadap isi dari kerusakan, kehilangan dan berkurangnya kadar/ isi21312941510043960073,17Tinggi

3.Kemasan kecap ABC bermanfaat dalam pemakaian ulang misalnya untuk diisi kembali ( refiil)1220421969940959468,86Cukup

4.Kemasan kecap ABC dilihat dari aspek artistik, warna, dan bentuk maupun desainnya memberikan daya tarik14204415710041960069,83Tinggi

5Kemasan kecap ABC merupakan cermin inovasi berkaitan dengan kemajuan teknologi dan daur ulang131538191510039260065,33Cukup

Total71103195725804992053299468,57Cukup

Kriteria

20% - 36% = Sangat Rendah69% - 84% = Tinggi

37% - 52% = Rendah85% - 100% = Sangat Tinggi

53% - 68% = Cukup

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan tabel 7. di atas diketahui bahwa deskripsi variabel kemasan masuk kriteria cukup karena 71 jawaban responden sangat setuju, 103 setuju, 195 cukup setuju, 72 kurang setuju dan 58 tidak setuju dengan target capaiannya sebesar 68,57%. Hal ini menunjukkan responden menyatakan tingkat kesetujuan yang cukup terhadap pernyataan-pernyataan variabel kemasan yaitu kemasan kecap ABC aman dan bermanfaat, kemasan kecap ABC melindungi isinya dari kerusakan, kemasan kecap ABC dapat di isi ulang, kemasan kecap ABC menarik, kemasan kecap ABC dapat di daur ulang.Kemasan merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper) untuk suatu produk. Kemasan berfungsi untuk melindungi produk dalam perjalanan menuju konsumen dan mewujudkan perlindungan setelah produk dibeli. Kemasan sangat penting dalam strategi pemasaran karena semakin banyak jumlah produk yang dijual, dimana tempat pembeli mengambil sendiri barang kebutuhannya kemasan berfungsi lebih menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang menguntungkan. Meningkatkan penghasilan dan kemakmuran konsumen berarti konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi penampilan, kemudahan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik. Banyak perusahaan mengakui adanya kekuatan terkandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenal perusahaan dan mereknya. Kemasan kecap ABC cukup menarik, dapat diisi ulang mudah dibawa dan cukup prestise walaupun hampir semua produk kecap mempunyai kemasan yang hampir sama.Tabel 8. Layanan Pelengkap

NoPertanyaanSSSCSKSTSSTSJumlahSkor EmpirikSkor MaxCapaian %Target

1.Kecap ABC memberikan layanan pelengkap berupa informasi tentang cara menggunakan produk ini181541121410041160068,50Cukup

2.Kecap ABC memberikan layanan pelengkap berupa pemberian saran, informasi, dan tips5215541510039760066,17Cukup

3.Kecap ABC selalu memberikan layanan pelengkap berupa nomor telepon untuk keluhan pelanggan9125417810039760066,17Cukup

4.Kecap ABC memberikan informasi cara memasak yang lezat melalui media televise9194914910040560067,50Cukup

5Kecap ABC menjadi sponsor untuk memberikan layanan pelengkap12303981110042460070,67Tinggi

Total5397238555705002034300067,80Cukup

Kriteria :

20% - 36% = Sangat Rendah69% - 84% = Tinggi

37% - 52% = Rendah85% - 100% = Sangat Tinggi

53% - 68% = Cukup

Sumber : Data Yang Diolah

Berdasarkan tabel 8. di atas diketahui bahwa deskripsi variabel layanan pelengkap masuk kriteria cukup karena 53 jawaban responden sangat setuju, 97 setuju, 238 cukup setuju, 55 kurang setuju dan 57 tidak setuju dengan target capaiannya sebesar 67,80%. Hal ini menunjukkan responden menyatakan tingkat kesetujuan yang cukup tinggi terhadap pertanyaan-pertanyaan variabel layanan pelengkap yaitu kecap ABC memberikan layanan pelengkap tentang penggunaan produk, kecap ABC memberikan layanan pelengkap saran dan tips dalam memasak, kecap ABC memberikan kontak konsumen untuk menyampaikan keluhan, kecap ABC memberikan layanan pelengkap untuk memasak melalui media masa dan kecap ABC menjadi sponsor pada kegiatan tertentu.

Layanan pelengkap merupakan sebuah konsep yang lebih luas dari label dan kemasan karena memberikan informasi tambahan yang tidak dapat diperoleh pada label dan kemasan tersebut. Pencantuman layanan tambahan pada suatu produk sangat diperlukan sebagai media interaksi antara produsen dan konsumen melalui media telepon atau surat. Media tambahan ini dapat dimanfaatkan oleh konsumen untuk menyampaikan keluhan terhadap produk yang dikonsumsi dan produsen dapat memperbaiki produk yang dikeluhkan tersebut. Layanan tambahan ini akan sangat lebih bermanfaat bila media yang digunakan bersifat free (gratis) seperti telepon bebas pulsa atau po box yang perangkonya ditanggung produsen. Kecap ABC menyediakan layanan tambahan berupa layanan konsumen telpon bebas pulsa selama 24 jam dan layanan surat menyurat namun perangkonya ditanggung oleh konsumen

Tabel 9. Deskripsi Responden Terhadap Variabel Keputusan Pembelian (Y)

NoPertanyaanSSSCSKSTSSTSJumlahSkor EmpirikSkor MaxCapaian %Kriteria

1.Kecap ABC adalah pilihan pertama saya dibandingkan kecap lain25322181410044660074,33Tinggi

2.Saya puas untuk setiap pembelian kecap ABC2139239810045660076,00Tinggi

3.Saya akan merekomendasikan kecap ABC kepada orang lain2238277610046360077,17Tinggi

4.Saya akan selalu menggunakan kecap ABC2937275210048660081,00Tinggi

5Saya tidak akan berpindah pada merek kecap lain meskipun produk lain lebih murah 2736312410048060080,00Tinggi

Total124182129313405002331300077,70Tinggi

Kriteria :

20% - 36% =Sangat Rendah69% - 84% = Tinggi

37% - 52% = Rendah85% - 100% = Sangat Tinggi

53% - 68% = Cukup

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan tabel 9. di atas diketahui bahwa deskripsi variabel keputusan pembelian masuk kriteria tinggi karena 124 jawaban responden sangat setuju, 182 setuju, 129 cukup setuju, 31 kurang setuju dan 34 tidak setuju dengan target capaiannya sebesar 77,70%. Hal ini menunjukkan responden menyatakan tingkat kesetujuan yang tinggi terhadap pertanyaan-pertanyaan variabel keputusan pembelian yaitu kecap ABC adalah pilihan pertama, kepuasan terhadap kecap ABC, merekomendasikan kepada orang lain, selalu menggunakan kecap ABC, tidak akan berpindah pada produk kecap yang lain.

Proses pembelian diawali dengan adanya masalah atau kebutuhan yang dirasakan konsumen. Konsumen mempersepsikan perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan situasi ini guna membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan. Setelah konsumen merasakan adanya kebutuhan suatu barang atau jasa, selanjutnya konsumen mencari informasi yang disimpan dalam ingatan (informasi internal) maupun informasi yang didapat dari lingkungan (eksternal). Setelah informasi diperoleh, konsumen mengevaluasi berbagai alternatif pilihan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Konsumen yang telah melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif, biasanya membeli produk yang paling disukai, yang membentuk suatu keputusan untuk membeli. Ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya keputusan untuk membeli, yaitu:

a. Sikap orang lain : keputusan membeli itu banyak dipengaruhi oleh teman-teman, tetangga atau siapa yang ia percaya.

b. Faktor-faktor situasi yang tidak terduga : yaitu faktor harga, pendapatan, keluarga, dan manfaat yang diharapkan dari produk tersebut.

c. Faktor-faktor yang dapat diduga : faktor situasional yang dapat diantisipasi konsumen.

Kecap merupakan salah satu bahan atau bumbu masakan yang sangat diperlukan pada setiap masakan. Kecap ABC adalah salah satu pilihan konsumen yang dapat diandalkan pada semua menu masakan karena terbuat dari bahan kedelai yang berkualitas, produsennya telah berpengalaman, perusahaan gencar melakukan promosi melalui berbagai media, baik media cetak maupun media massa serta produsen juga sangat sering menjadi sponsor pada kegiatan-kegiatan tertentu terutama masak-masak sehingga merek kecap ABC tersebut telah melekat pada benak konsumen. Kemasan kecap ABC pun bervariasi dari ukuran besar hingga ukuran kecil (sachet) dan juga tersedia dalam bentuk refill sehingga konsumen dapat menentukan pilihan sesuai dengan tingkat kebutuhan mereka.

BAB IVPENUTUP4.1. KesimpulanPerilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, diantaranya faktor budaya, sosial, psikologis, dan faktor marketing strategy. Keterkaitan perusahaan/produsen sangatlah erat. Produsen memiliki ketergantungan terhadap prilaku konsumen yang mempengaruhi efektifitas penjualan. Proses pengamatan produsen terhadap perilaku konsumen akan memberikan hasil yang menentukan strategi pemasaran. Inilah alasan mengapa produsen perlu mengamati prilaku produsen.

Dalam memutuskan suatu pembelian, ada beberapa tahap yang dilakukan konsumen, diantaranya pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative dan keputusan pembelian. Beberapa tipe proses pembelian konsumen diantaranya proses complex decision making, proses brand loyalty, limited decision making dan proses intertia.

Analisa perilaku konsumen harus menganalisa kegiatan-kegiatan yang jelas terlihat dari proses-proses yang sulit diamati dan berati selain mempelajari apa yang dibeli konsumen juga mempelajari dimana konsumen membeli, bagaimana cara membelinya, serta dalam kondisi yang bagaimana barang dan jasa tersebut di beli. Perusahaan sebagai komponen utama dalam menciptakan produk harus betul-betul memahami bagaimana konsumen memberikan tanggapan terhadap ciri produk agar mempunyai keuntungan yang besar melebihi pesaing-pesaingnya. Karena itu perusahaan menanamkan banyak upaya dalam meneliti hubungan antara rangsangan pemasaran dan tanggapan konsumen.4.2. Saran

Perusahaan dapat melakukan inovasi baru terhadap kemasan yang berbeda dengan produk sejenis seperti perubahan bentuk botol atau kecap tersebut dikemas dengan kemasan yang sisa kemasannya masih dapat digunakan oleh konsumen untuk keperluan rumah tangga lainnya, sehingga daya jual meningkat. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Kecap ABC. http://www.akademik.unsri.ac.id. Diakses : 1 Desember 2015Hasibuan, Malayu. 2007. Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi AksaraJunianti, tania. 2014. Makalah Perilaku Konsumen. http://taniajunianti.blogspot.co.id/2014/01/tugas-makalah-perilaku-konsumen.html. Diakses : 29 September 2015Peter, J. paul dan jery C. olson. 1999. Consumer behavior, perilaku konsumen dan strategi pemasaran. Jakarta: Erlangga

Prasetijo, ristianty. 2004. Perilaku Konsumen. Yogyakarta : AndiRia. 2010. Psikologi Konsumen. http://riapiskologikonsumen.blogspot.co.id/. Diakses : 29 September 2015

31