PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM DAN SALINITAS AKLIMASI

Embed Size (px)

Text of PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM DAN SALINITAS AKLIMASI

  • JURNAL KELAUTAN NASIONAL Vol. 2 Edisi Khusus Januari 2009

    PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM DAN SALINITAS AKLIMASI TERHADAPPENINGKATAN SINTASAN POSTLARVA VDANG

    VANNAMEI (Litopenaeus vannamei, Boone)

    THE EFFECTS OF ADDING CALCIUM AND ACCLIMATION SALINITY ON SURVIVAL INCREMENT OF VANNAMEI POSTLARVAE (Litopenaeus vanname!, Boone)

    Erly Kaligis", D. Djokosetiyanlo", Ridwan Affandi " I. Mahasiswa Program Doktor, Program Studi !lmu Perairan, Sekolah

    Pascasarjana Institut Pertanian Bogor 2. StafPengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

    ABSTRAK Pengaruh penambahan kalsium dan penurunan salinitas akhir terhadap ketahanan hidup postlarva udang putih (Litopenaeus vannamei, Boone) telah diuji dalam dua seri percobaan. Percobaan pendahuluan terdiri 16 perlakuan dari kombinasi penambahall kalsium (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm) dengan penurunan salinitas (0 ppt, 2 ppt, 4 ppt, 6 ppt). Dalam percobaan utama, 5 perlakuan berdasarkan penambahan kalsium yaitu: 0 ppm Ca (A), 50 ppm Ca (B), 100 ppm Ca (C), dan 150 ppm Ca (D), serta salinitas 25 ppt (kontrol). Respon biologi yang dibahas dalam percobaan pertama adalah sintasan, sedangkan dalam penelitian utama sebagai tambahan adalah tingkat kerja osmotik dan tingkat konsumsi oksigen. Hasil percobaan pendahuluan menunjukkan sintasan maksimal, 83,3%, dicapai pada perlakuan B. Pada penelitian utama, nilai sintasan postlarva juga relatif tinggi ketika diaklimasi ke salinitas 2 ppt. Tingkat kerja osmotik dan tingkat metabolisme udang di antara perlakuan kalsium adalah tidak berbeda nyata, namun antara salinitas 2 ppt dengan kontrol menunjukkan perbedaan nyata. Disarankan bahwa penambahan kalsium 50 ppm sebagai level optimum untuk menghasilkan sintasan terbaik udang vannamei .

    Kala kunci: kalsium, tingkatkerjaosmotik, Lilopenaeus vannamei

    ABSTRACT The effects of adding calcium and salinity endpoint on the short-term survival of white leg shrimp postlarvae (Lilopenaeus vannamei, Boone) were examined in two series of experiment. Preliminary experiment consisted of 16 treatments in combination between the added calcium (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm) and salinity endpoint (0 ppt, 2 ppt, 4 ppt, 6 ppt). In main eXQeriment, S levels ct:ltea_e",t,,{ "'1'1'TIl Co" \h), :,\) ppm Ca l13), 100 ppm Ca (C), 150 ppm (D) and salinity 25 ppt (control) were carried out. Several biological responses, including survival rate in first trial, osmoregulatory capacity and oxygen consumption in main trial, were discussed. The result of first experiment showed that maximum percentage of mean survival rate was 83,3 % in B treatment. In the main experiment, highest of percentage of mean survival rate was reached in acclimation of2 ppt. No significant difference of calcium treatment on both osmoregulatory capacity and oxygen consumption is observed, but it occurs bctween salinity 25 ppt and control. It was suggested that adding calcium containing 50 ppm as B treatment was considered as an optin1UITl level for produc in g g r ':>O Lor ". .... ..--v i v~ol ,-H c in U-..", 'Vu o-. .......... " .. eo;

    Keywords: calcium, osmoregulatory capacity, Litopenaeus vannamei

    Pengaruh Penambahan Kalsium Dan Salinitas Aklimasi Terhadap Peningkatan Sintasan Postlarva Udang 101

    Vannamei (litopenaeus Vannamei, Boone)

  • JURNAL KELAUTAN NASIONAL

    1. PENDAHULUAN Uda ng vannamei (Litopellaeus

    vannamei) merupakan salah satu produk perikanan penting saat ini. Sej ak agroindustri udang windu di Indonesia mengalami penurunan, pengembangan udang vanamei merupakan alternatif budidaya yang cocok dilakukan. Beberapa keunggulan vannamei yaitu I) pertumbuhan cepat, 2) hidup pada kolom perairan sehingga dapat ditebar dengan densitas tinggi, 3) lebih resisten terhadap kondisi lingkungan dan penyakit, dan 4) paling digemari di pasar internasional (Velasco et al. 1999). Selain itu, udang vanamei temyata memiliki sifat euryhalin yaitu mampu hidup di lingkungan perairan dengan kisaran salinitas 0,5 ppt hingga 40 ppt(Bray etal. 1994). Kemampuan ini memberi peluang dalam pengembangan komoditas ini di perairan daratan (inland water).

    Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah masih rendahnya tingkat sintasan postlarva vannamei. Walaupun telah berkembang berbagai metode aklimasi ke salinitas rendah (McGraw et al. 2002; Davis et al. 2002; Saoud et al. 2003), dalam penerapan selanjutnya di lingkungan pembesaran kolam, masih diperhadapkan pada berbagai masalah terutama tingkat sintasan benih yang rendah. Oleh karena itu vitalitas postlarva perlu ditingkatkan pada saat di lakukan aklimasi 'ke salinitas rendah. Penelitian sebelumnya oleh McGraw et al. (2002) menunjukkan postlarva vannamei hanya mampu bertahan hidup saat diaklimasi selama 24 jam sampai salinitas terendah 2 ppt. Hana (2007) kemudian melaporkan bahwa tingkat sintasan postlarva vannamei masih rendah, 48,33 %, ketika diaklimasi ke salinitas 2 ppt selama 96 jam. Melihat akan prospek budidaya vanname i di salini tas rendah maka diperlukan pengembangan teknik aklimasi yang bam.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah penambahan mineral penting dalam media pemeliharaan selama

    Untuk mencegah terjadinya stres pada kelinci karen a tranportasi, maka kelinci yang bam datang dipuasakan selama sehari,

    Vol. 2 Edisi Khusus Januari 2009

    hanya diberi air gula 5 %. Kemudian diberi pakan standar (Rb 12) 2 kali sehari sebanyak 100 gram dan sisanya ditimbang. Setelah diperoleh jumlah pakan optimal selama seminggu, untuk seterusnya pemberian pakan dilakukan satu kali sehari demikian juga dengan pembersihan kandang. Pada masa adaptasi semua kelinci diberi ransum standar dan minum ed libitum selama 2 minggu. Sebelumnya berat kelinci ditimbang untuk mendapatkan gambaran awal berat badan kelinci. Selama peri ode adaptasi setiap kelinci diamati satu persatu kebiasaan makan, kondisi kesehatan, dan faktor lainnya aklimasi berlangsung. Kalsium adalah esensial untuk struktur jaringan keras, osmoregulasi, pembekuan darah, kontraksi otot, transmisi saraf, dan sebagai kofaktor proses-proses enzimatik (Cheng et al. 2006). Penambahan mineral kalsium dihar apkan mamp u meminimalisasi tekanan Iingkungan serta beban osmotik sehingga benih vannamei nantinya dapat bertahan hidup di kolam pembesaran.

    2. BAHAN DAN METODE Penelitian di lakukan di laboratorium

    fis iologi Fakultas Perikanan dan Hmu Kelautan, IPB Bogor. Percobaan terdiri dua seri dengan menggunakan kelompok udang berbeda. Percobaan pendahuluan bertujuan mengkaji pengaruh penambahan kalsium dan perbedaan salinitas akhir terhadap ketahanan hidup postlarva vannamei. Rancangan yang digunakan adalah model faktorial terdiri enam belas perlakuan dengan 3 ulangan dibedakan berdasarkan penurunan salinitas (0 ppt, 2 ppt, 4 ppt, 6 ppt) dengan penambahan kalsium (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, ISO ppm) dalam media pengencer air tawar. Waktu pelaksanaan percobaan aklimasi selama 4 hari dari salinitas 25 ppt hingga salinitas akhir 0 ppt, 2 ppt, 4 ppt, dan 6 ppt. Percobaan utama bertujuan menentukan kadar kalsium optimal terhadap ketahanan hidup postlarva melalui evaluasi osmolaritas dan laju metabolisme. Rancangan percobaan adalah model rancangan acak lengkap terdiri 5 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan berdasarkan penambahan kalsium (CaCO,),

    102

    Pengaruh Penambahan Kalsium Dan Salinitas Aklimasi Terhadap Peningkatan Sintasan Postlarva Udang

    Vannamei (litopenaeus Vannamei, Boone)

  • yaitu: I) tanpa penambahan kalsium, 2) penambahan 50 ppm, 3) penambahan 100 ppm, 4) penambahan 150 ppm, dan 5) kontrol (salinitas 25 ppt). Percobaan utama

    juga dilaksanakan se/ama 4 hari namun dengan sa/inilas ak/;ir yangdi/q/u 2 ppt.

    Kegiatan awaI sebelum percobaan adalah sarna baik pada percobaan pendahuluan dan pereobaan utama. Benih vannamei yang digunakan diperoleh dari balai pembenihan (hatchery) komersial hasil pemijahan dari satu induk dalam upaya meminimalkan variasi unit percobaan. Kemudian dilakukan aklimatisasi dalam lingkungan laboratorium selama 10 hari dari postlarva berumur 10 hari (PL 10) hingga PL 20. Stok postlarva (sekitar 2000 individu) dipelihara dalam 2 wadah akuarium ukuran 60 x 30 x 40 em yang diisi air bersalinitas 25 ppt Pemberian pakan alami (Artemia salina) dilakukan kontinyu 3 kali per hari hingga saat pereobaan dimulai.

    Pengadaan media berkalsium tinggi melalui penambahan CaC03. Kesadahan kalsium ditentukan dengan metode titrasi (Hariyadi et aL 1992). Selanjutnya perlakuan kalsium (0, 50, 100, 150 ppm) diukur berdasarkan metode pengeneeran dengan rumus: VA= NLVL + N2.V2. + ... + Nn.Vn. dimana, NA: konsentrasi kalsium akhir (ppm), VA : volume larutan kalsium akhir (L), NI : konsentrasi baku (ppm), VI: volume larutan kalsium baku (L), N2 : konsentrasi larutan kalsium 2 (ppm), V2: volume larutan 2 (L), Nn: konsentrasi larutan ke-n (ppm), dan Vn: volume larutan ke-n(L)

    Pada percobaan pendahuluan, sekitar 50 individu postlarva umur 20 hari (PL 20) dimasukkan ke dalam wadah-wadah pereobaan akuarium ukuran 30x30x40 cm. Total perlakuan adalah 16 dengan 3 ulangan. Penurunan salinitas dilakukan dengan cara menambahkan media air tawar yang mengandung kalsium. Setiap wadah diisi air bersalinitas 25 ppt yang kemudian diturunkan secara gradual hingga sa linitas perlakuan akh ir 0 pp t, 2 ppt, 4 ppt, dan 6 ppt Pakan Artemia diberikan secara 'ad libitum' sebanyak 3 kali perhari. Setiap hari dilakukan

    Vol. 2 Edisi Khusus Januari 2009

    pengelolaan kualitas air media melalui pengaturan suhu, aerasi, serta pembuangan feces. Pengambilan data kelangsungan

    hjJup dilakukan setiap harj selama 4 harj pe/aksanaan percobaan.

    PerJakuan penambalJan ka/siUln yang dikenakan pada percobaan utama adalah 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm ditambah kontrol (25 ppt) . Urutan kegiatan selanjutnya seperti percobaan pendabuluan. Selain pengambil