Pengantar Tafsir Injil Yohanes

  • View
    6.093

  • Download
    78

Embed Size (px)

DESCRIPTION

In Indonesian language, "Introduction to the Gospel of John", originally notes of lectures on the Gospel of John by Martin Suhartono, S.J. delivered to the students of the Wedabhakti Pontifical Faculty of Theology / Faculty of Theology, University of Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.

Text of Pengantar Tafsir Injil Yohanes

PENGANTAR TAFSIR INJIL YOHANES

Martin Suhartono, S.J.

Catatan Kuliah - 2009 Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma - Yogyakarta

Martin/Yohanes/hlm. 2 DAFTAR ISI

PENGANTAR I. PENDAHULUAN II. LATAR BELAKANG KEKAISARAN ROMAWI III. AWAL MEMBACA YOHANES: BERANGKAT DARI EPILOG IV. KESATUAN ERAT ANTARA EPILOG DAN PROLOG V. MURID YANG DIKASIHI YESUS: FUNGSI DALAM NARASI VI. SAAT KEMATIAN YESUS SEBAGAI POROS NARASI 1. Siklus Paska Pertama 2. Siklus Paska Kedua 3. Siklus Paska Ketiga VII. TUJUH HARI DI AWAL DAN DI AKHIR VIII. KRISTOLOGI YOHANES IX. WAFAT DAN KEBANGKITAN KRISTUS X. PROLOG XI. PERSPEKTIF WAKTU DALAM YOHANES

h. 3 h. 4 h. 10 h. 12 h. 22 h. 24 h. 28 h. 28 h. 32 h. 37 h. 41 h. 44 h. 47 h. 51 h. 53

Martin/Yohanes/hlm. 3 PENGANTAR

Tulisan ini merupakan catatan kuliah yang diolah berdasarkan "catatan lepas kuliah" yang biasa ditulis oleh dosen secara langsung sehabis kuliah dan dibagikan kepada mahasiswa/i. Pokok-pokok gagasan beserta uraian yang dibahas tergantung penuh pada dinamika proses belajar-mengajar yang berjalan. Pengetahuan yang diberikan sedikit banyak ditentukan oleh problem-problem konkret yang dihadapi oleh para mahasiswa/i ketika membaca Injil Yohanes. Dengan demikian kumpulan catatan kuliah ini tidak dimaksudkan sebagai tafsir lengkap terhadap Kitab Injil Yohanes, melainkan sebagai suatu pengantar terhadap tafsir Injil Yohanes. Untuk melengkapi kuliah ini, para mahasiswa/i diwajibkan membaca buku-buku tafsir yang ada mengenai Injil Yohanes. Paling sedikit mereka diwajibkan membaca tulisan Rm. St. Darmawijaya, Pesan Injil Yohanes, dan komentar R.E. Brown yang disadur oleh LBI, Tafsir Injil dan Surat-surat Yohanes. Dalam kuliah, partisipasi aktif para peserta mendapat tempat maksimal. Pada setiap pertemuan, banyak waktu digunakan untuk diskusi dan tanya-jawab. Terima kasih saya ucapkan kepada para mahasiswa/i yang turut aktif dalam proses belajar-mengajar ini maupun kepada mereka yang dengan penuh kesabaran telah mendengarkan uraian saya.

Yogyakarta, 1 Agustus 2009

Martin Suhartono, S.J.

Martin/Yohanes/hlm. 4 I. PENDAHULUAN

Sebelum masuk dalam tafsir Injil Yohanes penting diketahui tempat Injil Yohanes dalam konteks pembentukan tulisan-tulisan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

A. Proses di balik pembentukan Injil-injil

Injil-injil tidak terbentuk dari awal mula kehadiran Yesus, melainkan muncul sebagai hasil perkembangan berbagai tahapan di bawah ini: 1) Masa Yesus berkarya (thn 30an): Yesus mengajar dan menyembuhkan. Yesus sendiri tidak meninggalkan tulisan apa-apa. Saat ini mulai terbentuk tradisi-tradisi lisan berdasarkan apa yang dilihat dan didengar oleh para rasul dan murid dalam karya Yesus. 2) Masa jemaat Kristen awal (thn 30an-70an): umat Kristen berkumpul dan hidup bersama (koinonia), merayakan (leiturgia), mewartakan (kerygma), mengajar (catechesis) misteri iman yang mereka terima dari Yesus. Itulah kesaksian (martyria) iman mereka. Pada masa ini sudah beredar surat-surat Paulus dan kemungkinan besar juga kumpulan sabda Yesus. 3) Masa penulisan Injil-injil (thn 70an-100an): Injil-injil mulai dituliskan berdasarkan tradisi-tradisi lisan maupun tertulis yang tersebar di kalangan jemaat Kristen. Injil Markus (Roma? thn 70?), Matius (Syria-Palestina; thn 80-90?), Lukas (Antiokhia? thn 80-90?), Yohanes (Asia Kecil? thn 90-100?).

B. Refleksi iman dalam penulisan Injil-injil "Iman pasca Kebangkitan menerangi ingatan (kenangan-kenangan) tentang yang telah dilihat dan didengar selama Yesus berkarya" (bdk. Yoh 2:22) Selama Yesus berkarya Wafat Bangkit Yesus Membersihkan Allah Murid-2 Melihat & Mendengar Bait Wafat Bangkit Melihat & Mendengar & & Iman PascaKebgk Mengutus RohKd Mengingat, Memahami & Percaya Menyeleksi, Mewartakan, Menulis Diwartakan Pengisahan

Martin/Yohanes/hlm. 5 Tiga tahap proses pembentukan Injil dapat digambarkan dalam skema di atas yang didasarkan pada Yoh 2:22. Berdasarkan tahapan-tahapan tersebut dapat dilihat pula apa yang terjadi sebenarnya dalam proses pembentukan itu. Injil bukanlah sekedar laporan fakta belaka, melainkan pewartaan berdasarkan iman akan Kristus yang wafat dan bangkit. Iman pasca Kebangkitan ini merupakan sudut pandang pengisahan dalam Injil-injil. Iman ini menerangi ingatan akan Yesus, dalam arti membawa orang pada pemahaman lebih dalam mengenai apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Yesus. Untuk itu penting pengamatan berikut ini:

* Ingatan bukan cuma bersifat "reproduktif" melainkan juga "rekonstruktif": Orang dewasa, yang ketika masih sebagai anak kecil pernah punya pengalaman memandang sebuah pohon, bagaimanakah dia akan mengungkapkan pengalaman tersebut? Ada beberapa kemungkinan, sbb: "I was a boy looking at a tree" atau "I am a man who was a boy looking at a tree" ataukah "I am a man who REMEMBERS being a boy looking at a tree". Secara spontan orang akan memilih kemungkinan pertama. Tapi bila kita amati pengalaman itu dengan lebih teliti, ungkapan ketiga ternyata lebih tepat mengungkapkan pengalaman itu sendiri karena pengalaman masa kecil itu dan ungkapannya sebagai orang dewasa terjadi melalui ingatan.

** Injil bukan "biografi" melainkan "kristologi dalam bentuk narasi": Injil merupakan hasil refleksi iman dalam terang Roh Kudus mengenai pribadi dan karya Yesus yang diwartakan melalui kisah-kisah. Masing-masing Penginjil dalam terang Roh Kudus mengolah bahan-bahan tradisional dari Masa hidup dan karya Yesus maupun Masa pewartaan para Rasul, dan menyampaikan kisahnya sesuai dengan jemaat yang diberi pewartaan tentang Yesus yang telah bangkit. Yang dikisahkan bukanlah lagi Yesus di masa lalu melainkan Yesus yang dialami tetap hidup, berkarya dan punya makna bagi jemaat penulis, dan diimani pula akan tetap hidup dan berkarya sepanjang masa.

C. Perbedaan dalam awal Injil-injil:

Perkembangan iman umat Kristen awal nyata juga dari bagaimana para Penginjil mengawali kisahnya. Bila konsensus umum tentang urutan saat penulisan bentuk akhir Injil-injil dapat diterima (yaitu pertama-tama Mk, baru kemudian Mt dan Lukas, dan terakhir Yoh), maka akan kelihatan bahwa semakin maju ke depan dalam waktu penulisan Injil, awal kisah

Martin/Yohanes/hlm. 6 Yesus semakin dilemparkan ke belakang oleh penulis kisah. Dalam proses waktu terjadi refleksi yang semakin mendalam mengenai siapakah Yesus:

Dari kata-kata tokoh Yesus dalam Yoh kita dapat memahami perkembangan ini. Ia mengatakan bahwa selama Ia hidup dengan para rasulNya, ada banyak hal yang ingin dikatakan kepada mereka namun mereka belum dapat menanggungnya; dan baru ketika Ia sudah kembali kepada Bapa, Ia akan mengutus Roh Kudus untuk menerangi mereka dan menuntun mereka kepada segala kebenaran (Yoh 16:12-15). Jemaat Kristen purba semakin hari menjadi semakin paham terhadap iman mereka sehingga kelihatan juga dari perbandingan rumusan dalam Injil Sinoptik atau antar Injil-injil Sinoptik dan rumusan dalam Yoh. Contoh paling jelas adalah pengertian mereka tentang siapa Yesus. Dalam Mk 8:29 Petrus menjawab Engkau adalah Mesias! sedang menurut Mt 16:16 Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup! dan Lk 9:20 Mesias dari Allah!. Apakah perbedaan itu harus kita pandang secara negatif, sebagai suatu inkonsistensi antar para Penginjil? Saudara kita umat Islam percaya bahwa seperti kepada Musa as. diturunkan Taurat dari Allah SWT dan Al Quran kepada Muhammad saw, begitu pula kepada Isa as diturunkan Injil. Maka kalau sungguh diturunkan dari atas, begitu pendapat mereka, tak boleh ada inkonsistensi atau pertentangan antara ayat-ayatnya. Mereka beranggapan bahwa agama

Martin/Yohanes/hlm. 7 kristen sekarang ini sudah diselewengkan dari Injil asli yang diterima oleh Isa as; buktinya ada empat Injil, dan antara keempatnya tak ada kesesuaian satu sama lain (lihat Muh. Ataur Rahim, Jesus a Prophet of Islam, terj. Indonesia: Misteri Yesus dalam Sejarah, h. 51). Selama berabad-abad, sampai Abad Pertengahan, orang kristen pun beranggapan bahwa PL dan PB diturunkan sebagai wahyu langsung dari atas -bahkan sekarang pun banyak yang berpendapat demikian!- sehingga timbul kebingungan bila dirasakan ada pertentangan antara ilmu pengetahuan (teori evolusi) dan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, atau bahkan Kej 1 (manusia diciptakan setelah binatang) dan Kej 2 (manusia diciptakan sebelum binatang), atau mendengar tentang konflik antara Galileo yang menganut paham heliosentris dan KS beserta Gereja yang menganut paham geosentris. Gereja mengacu pada kisah Yosua yang bagaikan pawang sakti mandraguna menghentikan laju gerak matahari dan bulan (Yos 10:12); beberapa tahun y.l. Gereja mengakui kesalahannya dan merehabilitasi Galileo. Baru sejak abad ke-15 pandangan umat Kristen terhadap KS berubah sebagaimana sudah selayaknya. Bagaimanakah perubahan itu? (coba simak percakapan alm. Rm. Groenen dan Bpk. Stefan Leks: Percakapan Tentang Alkitab, Apakah Alkitab itu?, h. 1-5; Wahyu, h. 17-24).

D. Tempat, Waktu, Penulis, Sumber, dan Tujuan Injil Yohanes:

Mengenai hal-hal ini lihat pengantar pada tiap buku komentar/tafsir terhadap Injil Yohanes (mis. A.S. Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, Yogyakarta: Kanisius, 2008, hlm. 5-15). Meski selama ini ada diskusi hangat mengenai tempat, waktu, penulis, sumber dan tujuan Yoh, namun kecenderungan saat ini ada kesepakatan pendapat mengenai latar belakang Yudaisme, akar-akar historis, dan Rasul Yohanes sebagai tokoh utama di balik penulisan Injil Yohanes.

E. Pendekatan diakronis dan sinkronis: Teks sebagai 'jendela' dan 'cermin':

Lewat narasi Injil, kita bukan sekedar ingin tahu mengenai kejadian di masa lalu melainkan juga bercermin diri mencari makna teks narasi itu bagi kita di masa kini. Karena itulah diperlukan baik pendekatan diakronis maupun sinkronis. Pendekatan sinkronis lebih memberi perhatian kepada teks itu sendiri dalam bentuk akhirnya, tanpa perduli ak