pembahasan makalah pkn

  • View
    61

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgvgnb bn

Text of pembahasan makalah pkn

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangFilsafat adalah satu bagian ilmu yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Dengan kata lain, selama manusia hidup ia tidak dapat mengelak dari filsafat. Pancasila yang terdiri atas lima sila, pada hakekatnya merupakan suatu sistem filsafat, sebab sila-silanya merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain dan tidak terpisahkan, untuk mencapai tujuan bersama bangsa Indonesia.

Makalah ini secara sederhana berusaha mengungkapkan kedudukan Pancasila sebagai falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; mengupas fungsi pokok Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara RI , serta menampilkan sejumlah penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

1.2 PermasalahanBerdasarkan penjelasan pada latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana memahami filsafat bangsa Indonesia sehingga mampu menganalisis dan ikut serta menyelesaikan masalah bangsa sesuai dengan nilai-nilai pancasila.1.3 Tujuan1. Mampu menjelaskan makna, manfaat, dan fungsi filsafat dan menerapkannya dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.2. Mampu memahami dan menjelaskan pancaila sebagai sistem filsafat.3. Mampu memahami dan menjelaskan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara serta menerapkannya dalam kehidupan sesuai dengan Eka Prasetya Pancakarsa.4. Mampu memahami dan menjelaskan perjalanan ideologi-ideologi yang ada didunia.BAB IIPEMBAHASAN2.1 Makna, Manfaat, Fungsi, dan Cabang FilsafatA. Makna FilsafatKata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan.Beberapa pengertian filsafat menurut para ahli:

a. Plato, Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli .b. Aristoteles, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas yang adac. Rene Descartes, Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan tentang tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.d. Immanuel Kant, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang di dalamnya tercakup masalah epismotology (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.

e. N. Driyarkarya, Filsafat adalah perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab ada dan berbuat perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya, sampai ke mengapa yang penghabisan.

f. Ir. Oedja wiatna, Filsafat adalah ilmu yang berusaha untuk mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.g. Sokrates, Filsafat adalah proses pencarian makna terdalam dari eksistensi manusia dan alam semesta yang dilaksanakan dalam aktivitas dalam menjawab pertanyaan yang meliputi seluruh kehidupan manusia yang sedalam-dalamnya.Secara umum filsafat didefinisikan sebagai pengetahuan yang sistematis, metodis, dan koheren menangani seluruh kenyataan dari segi yang paling mendalam, untuk mencari prinsip-prinsip terdalam dalam realitas (Maran.1999:77)

B. Manfaat FilsafatTujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik, menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya; mengatur semuanya didalam bentuk yang sistematis. Filsafat akan membawa kita pada pemahaman akan tindakan yang lebih layak (berpikir secara sistematis). Metode yang dipakai untuk merealisasikan manfaat filsafat, yaitu : 1) Metode Kritis sokrates, Plato. Berciri analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Menjalakan metode ini berarti bertanya (dialog) untuk dapatkan jalan.2) Metode intuitif plotinos, Bergson. Menjalankan metode ini berarti Instrospeksi intuitif intelektual untuk pahami kenyataan.3) Metode Soklatis filsafat Aristoteles, Thomas Aquinis bersifat sintetis-deduktif. Menjalankan metode ini berarti bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.4) Metode Geometris filsafat Rene Descartes melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakikat-hakikat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.5) Metode Empiris Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume memandang bahwa hanya pengalamanlah yang menyajikan pengertian benar. Semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara sistematis.6) Metode Transendental Immanuel Kant bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.7) Metode Fenomenologis bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.8) Metode Deialektis Upaya Hegel, Marx adalah mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antithesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.9) Metode Neo-Positivistik Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).10) Metode Analitik-Bahasa Wittenstein menganalisa pemakaian bahasa sehari-hari dan menentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filsofis.C. Fungsi FilsafatDengan belajar filsafat, maka semakin mampu menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar (makna realitas dan tanggung jawab) yang tidak terletak dalam wewenang metode ilmu-ilmu khusus.1) Berfilsafat mengajar manusia bersikap arif, berwawasan luas terhadap berbagai problem yang dihadapi. 2) Filsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide-ide yang muncul karena keinginannya.3) Filsafat dapat membentuk sikap kritis dalam menghadapi permasalahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan lainnya (interaksi dengan masyarakat, komunitas, agama, dan hal-hal lain di luar dirinya) secara lebih rasional, lebih arif, dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.4) Terutama bagi para ilmuwan atau para mahasiswa dibutuhkan kemampuan menganalisis, yaitu analisis kritis secara komprenshif dan sintesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset atau kajian ilmiah lainnya. D. Cabang-cabang Filsafat

Pada umumnya dikenal tiga bidang studi filsafat, yaitu:1) Epistemologi adalah filsafat tentang pengetahuan, filsafat pengetahuan. Dalam epistemologi terkait bidang studi logika, filsafat ilmu, serta metodologi.2) Ontology, mengkaji keberadaan sesuatu baik secara konkret, factual, transcendental ataupun metafisis seperti alam, manusia, benda-benda, Tuhan dan lain-lainnya.3) Axiologi, membahas norma-norma prilaku manusia yang berkaitan dengan yang baik dan yang buruk . 2.2 Pancasila Sebagai Sistem FilsafatFilsafat bersifat menyeluruh. Manusia, bangsa, negara, hidup sebagai pengabdi setia nilai-nilai filsafat., demikian juga bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang sesuai dengan sejarah perjuangan yang cukup panjang.Pada 1 Juni 1945 Ir. Soekarno berpidato membahas dasar negara, yang berbunyi: menurut anggapan saya diminta Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa belanda, Philosofishe grondslag dari pada Indonesia Merdeka. Philsofishe grondslag itulah fundament, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk didirikan di atasnya gedung Indonesia merdeka yang kekal dan abadi.Pada 18 Agustus 1945 ditetapkan UUD yang diberi nama UUD 1945. Sekaligus dalam pembukaan UUD 1945, sila-sila pancasila ditetapkan. Jadi, Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia ditetapkan bersamaan dengan ditetapkannya UUD 1945 dan menjadi ideologi bangsa Indonesia.A. Fungsi Filsafat PancasilaUntuk mengetahui filsafat Pancasila, perlu dikaji ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang diikat oleh filsafat.1) Memberikan jawaban atas pertanyaan fundamental dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, fungsi Pancasila sebagai filsafat harus memberikan jawaban mendasar tentang hakikat kehidupan bernegara, yaitu dalam susunan politik, sistem poitik, bentuk negara, susunan perekonomian dan dasar-dasar pengembangan ilmu pengetahuan. 2) Mencari kebenaran tentang hakikat negara, ide negara, tujuan negara. Dasar negara kita ada lima dasar, yang satu sila dengan sila lainnya saling terikat. Oleh karena itu, Pancasila sebagai dasar negara mampu menjawab pertanyaan tentang hakikat negara.3) Berusaha menempatkan dan menjadikan perangkat dari berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Fungsi filsafat akan terlihat jelas, kalau di negara itu sudah berjalan teratur. B. Keberadaan PancasilaPada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sidang menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan suara bulat. Pada sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 18 Agustus 1945, para anggota menerima dengan bulat UUD Negara Republik Indonesia. Pada Dekrit Presiden 5 Juli 1959, bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan terhadap pelaksanaan Pancasila. Bahkan konstituante yang ditugaskan menyusun UUD tidak berhasil menyelesaikan tugasnya menyusun UUD dengan baik. Untuk mengatasinya, Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat berikut.a. Menetapkan pembubaran konstituante.b. Menetapkan UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia,terhitung mulai dari tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlaku UUD Sementara.c. Pembentukan MPR Sementara terdiri atas anggota-anggot