of 12 /12
PEMBAHASAN Aspek Klinis Pada kasus ini, pasien adalah anak perempuan berumur 6 tahun 5 bulan dengan keluhan utamanya adalah BAB cair. BAB cair dialami sebanyak 4 kali, volume sekitar 1/2 gelas aqua (±120 cc) setiap kali BAB, berwarna kuning kehijauan, sedikit lendir, tidak berbau busuk, tidak ada darah. Pasien juga mengalami mual, muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum, nafsu makan menurun, nyeri perut saat BAB dan demam sejak 1 hari sebelum datang ke puskesmas, sifat demam terus menerus. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pasien mengalami gizi kurang dan tidak didapatkan adanya tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini, keadaan umum pasien sakit sedang, mata cowong tidak ada, mukosa mulut terlihat basah, denyut nadi 100 x/menit, kuat angkat, isi cukup, pernapasan normal, suhu tubuh normal yaitu 36,2ºC, pemeriksaan turgor kulit kembali cepat. Dari pemeriksaan abdomen juga didapatkan peristaltik usus meningkat dan nyeri perut di semua regio. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis diare akut tanpa dehidrasi. Diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai 14

Pembahasan Diare IKM

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Diare IKM

Text of Pembahasan Diare IKM

PEMBAHASAN

Aspek KlinisPada kasus ini, pasien adalah anak perempuan berumur 6 tahun 5 bulan dengan keluhan utamanya adalah BAB cair. BAB cair dialami sebanyak 4 kali, volume sekitar 1/2 gelas aqua (120 cc) setiap kali BAB, berwarna kuning kehijauan, sedikit lendir, tidak berbau busuk, tidak ada darah. Pasien juga mengalami mual, muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum, nafsu makan menurun, nyeri perut saat BAB dan demam sejak 1 hari sebelum datang ke puskesmas, sifat demam terus menerus.Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pasien mengalami gizi kurang dan tidak didapatkan adanya tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini, keadaan umum pasien sakit sedang, mata cowong tidak ada, mukosa mulut terlihat basah, denyut nadi 100 x/menit, kuat angkat, isi cukup, pernapasan normal, suhu tubuh normal yaitu 36,2C, pemeriksaan turgor kulit kembali cepat. Dari pemeriksaan abdomen juga didapatkan peristaltik usus meningkat dan nyeri perut di semua regio. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis diare akut tanpa dehidrasi. Diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah. Dikatakan diare akut karena munculnya mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 14 hari. Diare dapat terjadi tanpa dehidrasi, dengan dehidrasi ringan/sedang, dan dengan dehidrasi berat.

Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab-sebab lainnya. Untuk menentukan penyebab diare pada pasien ini perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan feses lengkap. Namun pada kasus ini tidak perlu dilakukan karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarahkan bahwa diare ini merupakan diare akut infektif tanpa dehidrasi. Hal ini didukung oleh adanya keluhan yang khas terutama pada diare akut yang disebabkan oleh rotavirus yaitu demam, mual, muntah, nyeri abdomen, nyeri perut saat BAB dan tinja cair dengan sedikit lendir,dan berwarna kuning kehijauan.Pasien ini diterapi berdasarkan rencana terapi A karena pasien ini mengalami diare akut tanpa dehidrasi. Namun pada pasien tidak diberikan cairan oralit secara oral karena pada kasus ini pasien mengalami muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum, nafsu makan menurun serta pasien tidak suka dengan rasa dari cairan oralit sehingga pasien ini di berikan terapi cairan berupa cairan kristaloid untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampun menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien. Selain itu keluarga pasien juga diberi informasi mengenai cara penularan diare melalui lingkungan dan perilaku mereka yang salah selama ini serta cara mencegahnya muncul lagi dikemudian hari.

Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup sehat yang diperkenalkan oleh H. L. Bloom mencakup 4 faktor yaitu faktor genetik (keturunan), perilaku individu atau masyarakat, faktor lingkungan dan faktor pelayanan kesehatan, namun yang paling berperan dalam terjadinya diare adalah faktor prilaku, lingkungan serta pelayanan kesehatan. Diare menjadi masalah di mayarakat disebabkan oleh karena faktor-faktor berikut:1. Perilaku Mencuci tangan yang tidak menggunakan sabunKebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun dengan air bersih saat sebelum makan, sebelum mengolah dan menghidangkan makananserta setelah buang air besar dan kecil.7 Keefektifan mencuci tangan pada saat sebelum makan, sesudah makan, sesudah BAK dan BAB pada pasien masih kurang. Hal ini dapat memudahkan penyebaran penyakit. Kegiatan cuci tangan ini sangat penting baik bagi pasien, penyaji makanan, atau warung serta orang-orang yang merawat dan mengasuh anak. Setiap tangan kontak dengan feses, urin atau dubur harus dicuci dengan sabun dan bila perlu disikat, hal ini diperlukan untuk memutuskan rute transmisi penyakit. Pasien mengaku selalu mencuci tangan sesudah buang air besar namun jarang menggunakan sabun. Begitu pula pada saat sebelum makan, pasien mencuci tangan namun jarang menggunakan sabun dan sering menggunakkan air yang tergenang untuk mencuci tangan. Pengolah makanan dan minuman yang tidak higienisPengolaham makanan dan minuman yang tidak higienis berperan dalam penularan diare misalnya makanan yang tercemar dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air minum yang tidak dimasak.7Pengelolaan makanan sesuai standar WHO1) Jaga kebersihanCuci tangan sebelum memasak dan keluar dari toilet, cuci alat-alat masak dan alat makan, dapur harus bersih, jangan ada binatang, serangga, dan lain-lain2) Pisahkan bahan makanan matang dan mentah Gunakan alat dapur dan makanan yang berbeda3) Masak makanan hingga matangMasak sampai matang terutama daging, ayam, telur, seafood4) Simpan makanan pada suhu amanJangan simpan makanan terlalu lama di suhu ruangan , masukkan kulkas bila ingin disimpan dan sebelum dihidangkan panaskan sampai lebih dari 85 derajat celcius.5) Gunakan air bersih dan bahan makanan yang baik

Penyimpanan makanan kurang baik, karena sisa makanan tidak ditutup dengan penutup makanan sehingga dihinggapi lalat. Pasien juga tidak memiliki kulkas untuk menyimpan makanan. Penyimpanan alat-alat makan dirumah pasien kurang baik, karena ada beberapa alat makan yang disimpan di bawah lantai.

2. Faktor Lingkungan Sosio-ekonomi menengah ke bawahPasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang menengah kebawah. Walaupun dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasien terkadang tidak memikirkan kualitas makanan yang dipilih.

Rumah pasien belum memenuhi kriteria rumah sehata. Menggunakan JambanPengalaman dibeberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban. 7Yang harus diperhatikan oleh keluarga:1) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat di pakai oleh seluruh anggota keluarga2) Bersihkan jamban secara teratur3) Gunakan alas kaki bila akan buang air besarPada kasus ini, dirumah pasien terdapat satu jamban jongkok. Lantai berupa semen dan cukup bersih, namun dinding jamban tampak kotor.

Penyedian Air BersihMengingat bahwa ada beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain adalah diare, kolera, disentri , hepatitis, penyakit kulit, penyakit mata dll, maka penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. 7Pada pasien ini tempat memasak tidak higienis karena jarak dapur dengan kamar mandi sangat berdekatan yaitu sekitar 1,5 meter. Pada kasus ini, pasien mengkonsumsi air sumur yang dimasak terlebih dahulu. Akan tetapi, letak air sumur bersebelahan dari jamban umum. Sedangkan jarak minimal septik tank dengan sumur adalah 10 meter.

Pengelolaan sampah burukSampah merupakan sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus,kecoa dsb. Oleh karena itu pengelolaan sampah sangat penting, untuk mencegah penularan penyakit. Tempat sampah harus disediakan, sampah harus dikumpulkan setiap hari dan dibuang ketempat penampungan sementara. Bila tidak terjangkau oleh pelayanan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir dapat dilakukan pemusnahan sampah dengan cara ditimbun atau dibakar.7Keluarga pasien hanya membakar sampahnya di belakang rumah setiap dua hari sekali bila tidak musim hujan. Musim hujan bisa mendatangkan lalat, lalat adalah salah satu vektor yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Penularan penyakit ini terjadi secara mekanis, dimana kulit tubuh dan kaki-kaki lalat yang kotor merupakan tempat menempelnya mikrorganisme penyakit yang kemudian hinggap pada makanan sehingga makanan tersebut menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian lalat dengan cermat.

Sarana pembuangan air limbahBila ada saluran pembuangan air limbah dihalaman, secara rutin harus dibersihkan agar air limbah dapat mengalir, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk, dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis.7Pada kasus ini tempat cuci piring dirumah pasien airnya tergenang dan berbau, karena tidak ada selokan maupun saluran air limbah, terutama bila musim penghujan, air dapat tergenang di halaman belakang rumah pasien dan terkadang air hujan masuk hingga ke dapur pasien.

3. Pelayanan Kesehatan Pada pelayanan kesehatan yakni Puskesmas Bulili, terdapat 1 orang programmer dan beberapa kader yang mengurusi masalah PM salah satunya penyakit diare. Selain itu, tersedianya sarana rehidrasi yang juga dikenal sebagai pojok oralit dan terdapat media untuk penyuluhan tentang penyakit diare, namun penyuluhan tentang penyakit diare ini terkadang mengalami hambatan karena keterbatasan SDM dan kurangnya koordinasi antara bagian konseling dan pelayanan kesehatan. Beberapa kendala lainnya dalam penanganan diare di puskesmas ini yaitu tidak ada fasilitas pemeriksaan feses untuk mengetahui penyebab diare.

Pada kasus ini, faktor yang berperan dalam penularan diare ialah faktor perilaku lingkungan dan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk waspada dengan jalan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat untuk meminimalisir resiko tertular diare serta untuk pelayanan kesehatan agar lebih meningkatkan koordinasi antara bagian konseling dengan bagian pelayanan kesehatan terutama dalam melakukan sosialisasi berupa penyuluhan yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian kesehatan RI. Buku Saku Lintas Diare Untuk Petugas Kesehatan. Jakarta. Kementrian Kesehatan RI. 2013.2. Lab SMF IKA FK UNUD/RS Sanglah-Denpasar. Diare dalam: Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Denpasar. Sagung Seto.2003.3. Soewondo ES. 2002. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press.4. WHO, Bakti Husada Dan IDAI. Diare dalam: Buku Saku Pelayan Kesehatan Anak. Jakarta. Depkes. 2009.5. Tim Penyusun. 2012. Profil Kesehatan Puskesmas Bulili Tahun 2012. Dinas Kesehatan Kota Palu.6. Depkes, R. I., 2000. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta : Ditjen PPM dan PL.7. Kementrian kesehatan RI. Pedoman Pengendalian Penyakit Diare. Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. 2013.

22