Pekerjaan Pengerukan Dapat Dikelompokkan Menjadi Empat Jenis

  • Published on
    22-Nov-2015

  • View
    52

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ok

Transcript

Pekerjaan pengerukan dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu:Pengerukan Awal (Capital Dredging), Pengerukan Perawatan (Maintenance Dredging), Pengerukan Batu (Rock Dredging), dan Reklamasi (Reclamation).Pekerjaan capital dredging diperlukan dalam pembuatan pelabuhan baru.Pekerjaan ini bermodal besar dan dilakukan untuk sedimentasi yang telah lama terbentuk. Pekerjaan maintenance dredging dilakukan di Pelabuhan yang sudah ada, dengan tujuan menjaga agar terpenuhi persyaratan navigasi di alur pelayaran pelabuhan. Adanya sedimentasi di alur pelayaran mengakibatkan pendangkalan, sehingga kedalamannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi alur pelayaran di Pelabuhan. Oleh karena itu diperlukan pengerukan secara berkala di alur pelayaran pelabuhan (maintenance dredging). Pekerjaan rock dredging dilakukan khusus pada sedimentasi berupa batuan, sehingga metode yang digunakan berbeda. Pekerjaan reclamation bertujuan memindahkan soil di dasar laut dari daerah keruk ke daerah timbunan dengan maksud menambah luas daerah timbunan / keperluan rekayasa lainnya.Sebelum dilaksanakan pengerukan, idealnya perlu dilakukan survey investigasi dan pengumpulan data. Pada tabel 2.1 dijelaskan survey yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan pengerukan. Karena dalam hal ini tujuan pelaksanaan survey hidrografi yaitu mengetahui apakah kedalaman dasar alur pelayaran sudah mencapai batas desain kedalaman yang sesuai dengan ketentuan bagi alur pelayaran di Pelabuhan Tanjung Priok serta menghitung volume material yang harus dikeruk, maka pembahasan ini dibatasi oleh pelaksanaan survey hidrografi (penentuan posisi, pengukuran kedalaman dan water level) untuk pekerjaan pengerukan perawatan (maintenance dredging). Pelaksanaan survey hidrografi dilakukan sebelum, selama, dan setelah pekerjaan pengerukan.

HidrografiGeoteknikHidraulikMeteorologi

Sistem penentuan posisi Pengukuran kedalaman Water level Side scan sonar Magnetometer Pengukuran densitas Bottom sampling Uji lapangan Uji laboratorium Pengamatan gerakan air Arus Gelombang Pasut Penelitian kandungan air Salinitas Temperatur Komposisi Penelitian sedimentasi Bed load Suspended load Turbidity Angin Temperatur Curah hujan Kelembaban Kabut

Sumber: Economic And Social Commission for Asia and The Pacific United Nations Development Programme

Tabel 6.1 Jenis survey dalam pelaksanaan ideal pekerjaan pengerukanTelah dikemukakan sebelumnya bahwa adanya sedimentasi di alur pelayaran pelabuhan mengakibatkan pendangkalan, sehingga persyaratan navigasi di alur pelayaran tersebut tidak terpenuhi. Maka dalam bab ini akan dijelaskan hubungan antara navigasi dan pengerukan, yaitu terkait pada kedalaman dan lebar alur pelayaran. Agar lebih jelas disajikan gambar 6.1 skema lingkup pekerjaan pengerukan alur pelayaran pelabuhan.

Gambar 6.1 Skema lingkup pekerjaan pengerukan alur pelayaran pelabuhan

Gambar diatas menjelaskan bahwa lingkup pekerjaan pengerukan alur pelayaran terdiri dari capital dredging, maintenance dredging, rock dredging, dan reclamation. Berdasarkan persyaratan navigasi untuk alur pelayaran yang harus dipenuhi, maka perlu dilakukan pelaksanaan dan proses pengerukan. Pada pelaksanaan dan proses pengerukan (maintenance dredging) terdapat peranhidrografi dalam survey untuk pekerjaan pengerukan, yaitu : penentuan posisi, pengukuran kedalaman dan water level.

6.1. Pekerjaan Pengerukan Pengerukan merupakan proses pemindahan tanah dengan menggunakan suatu peralatan atau suatu alat berat, dengan cara mekanis dan/atau hidraulis dari suatu tempat ke tempat lain (misalnya dari suatu dasar sungai atau laut ke tempat lain). Peralatan yang digunakan untuk pengerukan alur pelayaran pelabuhan biasanya berbentuk kapal.Tujuan pekerjaan pengerukan adalah untuk berbagai macam keperluan, diantaranya (Rochmandi, 1992): 1. Memperdalam dasar sungai / laut, 2. Memperbesar penampang sungai, 3. Mengambil material pasir laut untuk keperluan urugan / fill untuk keperluan bangunan ataupun reklamasi tanah, 4. Mengambil material / tanah / lumpur di dasar sungai untuk keperluan penambangan, 5. Keperluan Navigasi, 6. Pengendalian banjir / pengambilan material di muara sungai (delta), 7. Rekayasa konstruksi dan reklamasi, 8. Pemeliharaan pesisir / pantai, 9. Instalasi dan perawatan pipa bawah laut (pipeline), 10. Pembuangan limbah / polutan,Berdasarkan keperluannya, pekerjaan pengerukan dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis pekerjaan, yaitu (Dredging For Navigation - a handbook for port and waterways authorities):

A. Pengerukan Awal (Capital Dredging)Pekerjaan pengerukan awal sangat diperlukan dalam membangun kolam/alur pelayaran baru guna mempermudah manouver bagi kapal-kapal yang berada di wilayah perairan, membuat pelabuhan baru (termasuk alur pelayarannya).Contohnya antara lain : beach nourishment yaitu menambang pasir di lepas-pantai dan kemudian menempatkannya di pantai untuk mengganti pasir akibat peristiwa erosi oleh badai atau ombak (perlindungan fungsi dari pantai, rekreasi), pembuatan parit untuk pipa bawah laut, menyiapkan lokasi pengeboran lepas pantai, menstabilkan platform lepas pantai dan melindungi pipa bawah laut.Secara umum, pekerjaan ini disebut Capital Dredging. Jenis pekerjaan pengerukan ini dilakukan pada tipe-tipe soil yang telah lama terendap di dasar perairan. Sebagai pekerjaan yang bersifat capital, kedalaman alur pelayaran di suatu pelabuhan yang telah lama digunakan tentu saja patut diperhatikan dan diperbaiki.Dalam manajemen di negara-negara berkembang, kata pengerukan biasa dikaitkan dengan capital dredging (United Nations, 1991). Pekerjaan ini merupakan suatu proyek / kegiatan konstruksi yang besar dan dilaksanakan oleh kontraktor yang sangat berpengalaman. Pihak-pihak yang umumnya terlibat dalam proyek capital dredging antara lain: pihak dari pemerintah, bank / badan keuangan negara dan konsultan. Dalam beberapa kasus, pekerjaan ini memerlukan waktu yang relatif lama dan hasil yang diciptakan sangat spektakuler. Antara lain: menciptakan sebuah daratan, perbaikan lingkungan wilayah perairan, serta membuat alur laut/sungai.Beberapa faktor yang sangat signifikan mempengaruhi kesuksesan pekerjaan capital dredging, yaitu :1) Faktor Teknik a) Keberadaan rongsokan (wrecks) dan Ranjau Laut. Wrecks yang berukuran besar biasanya terapung dan dapat terpetakan. Investigasi dengan magnetometer atau deteksi dengan side scan sonar dapat mengetahui pula ranjau laut yang tidak terpetakan. Dalam proses pengangkatan wrecks, terkait dengan alasan navigasi, biasanya tertulis pada kontrak perjanjian yang terpisah dengan biaya yang berbeda.Metode yang digunakan dalam proses pembuangannya harus pula tercantum pada kontrak kerja.b) Reruntuhan / puing (debris). Debris dapat mengakibatkan banyak kerugian dalam penggunaan alat keruk hidraulik. Alat keruk tipe grabs cocok untuk mengatasinya. Sehingga, debris dapat dibuang jauh dari area pengerukan.c) Kandungan dasar. Masalah ini terjadi pada alat keruk buckets, grabs, hoppers, roda cutters dan pipeline. Tingginya kepekatan tanah dapat menyebabkan tingginya intensitas adhesi (kelengketan), akibatnya efektivitas kerja alat terganggu. Dampaknya berujung pada waktu produktivitas kerja berkurang dan tentu saja akan bermasalah pada perjanjian kontrak kerja.d) Pelapisan dasar. Kurangnya kepadatan tanah, adanya kandungan gas di dalamnya dan kecenderungan terjadinya gelombang besar dan cepat dapat menyebabkan kesulitan dalam pekerjaan pengerukan.

2) Faktor Manajemen a) Kondisi perjanjian kontrak Perjanjian kontrak terkait dengan pengetahuan dan kemampuan pelaksana pekerjaan dalam penggunaan alat teknologi terbaru.Teknologi dapat berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksana pekerjaan harus mampu mengatasi dan mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi di bidang pengerukan.b) Metode pengukuran dan sertifikasi pekerjaan. Sebagai pelaksana pekerjaan pengerukan yang profesional dan dapat dipercaya, maka pelaksana harus bersertifikasi dan menguasai metode-metode pengukuran yang ada. Hal itu terkait pada perkembangan teknologi.c) Peraturan pembayaran yang disepakati. Setiap pekerjaan, memiliki sistem pembayaran yang berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan antara pelaksana dan pengguna jasa pengerukan. Oleh karena itu, peraturan pekerjaan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak harus dipatuhi dan dilaksanakan secara keseluruhan.d) Hubungan antara pemberi kerja dan kontraktor. Adanya good relationship yang harus terjalin antara pemberi kerja dan kontraktor sebagai pelaksana akan berdampak baik dalam pelaksanaan pekerjaan.

B. Pengerukan Perawatan (Maintenance dredging)Maintenance dredging adalah pekerjaan spesial yang termasuk pada pengangkatan soil, umumnya soil yang dikeruk belum lama mengendap di dasar perairan. Sehingga pada pekerjaan ini biasanya lapisan dasar perairan yang dikeruk tidak terlalu tebal dan keras. Maintenance dredging merupakan pekerjaan yang dilakukan berkesinambungan pada jangka waktu tertentu. Biaya untuk melakukan pekerjaan ini salah satunya bergantung pada besar siltation yang terjadi. Siltation terbentuk akibat adanya sedimentasi yang dikeruk, sehingga sedimentasi di sisi lainnya yang tidak terkeruk cenderung mengikuti gravitasi bumi. Akibatnya, area tempat sedimentasi yang dikeruk sebelumnya terisi kembali oleh sedimentasi dari sisi-sisi lainnya. Dalam beberapa kasus, terdapat alur pelayaran pelabuhan yang memiliki intensitas siltation yang tinggi. Akibatnya, pekerjaan pengerukan pelabuhan di alur pelayaran tersebut menghabiskan waktu yang cukup lama dan biaya yang sangat besar.

Gambar 6.2 Proses terbentuknya Siltation

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan biaya operasi pekerjaan pengerukan perawatan maintenance dredging :1. Menempatkan alur pelayaran di area yang memiliki siltation rendah. 2. Melakukan perencanaan yang baik dalam perawatan alur pelayaran. 3. Mempe