Modul Praktek Drainase

  • Published on
    15-Jul-2016

  • View
    54

  • Download
    12

DESCRIPTION

Modul Praktek Drainase Malang

Transcript

BAB I PENDAHULUAN Capaian Pembelajaran Setelah membaca dan mengkaji buku ini,pembaca akan mampu: 1. Menjelaskan dengan benar definisi dan fungsi Drainase; 2. Menjelaskan dan menyebutkan jenis Drainase; 3. Menjelaskan sarana dan prasarana Drainase 4. Menyebutkan komponen pengelolaan Drainase 5. Menjelaskan penanganan masalah genangan 1.1. Pengertian Drainase Drainase berasal dari bahasa Inggris, yang memiliki arti mengalirkan, menguras, membuang air. Drainase yaitu suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut (Suhardjono,1984: 1). Drainase adalah suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan dan atau lahan sehingga fungsi kawasan tersebut tidak terganggu (Suripin, 2004); Drainase pada wilayah perkotaan merupakan suatu sistem drainase yang menangani permasalahan kelebihan air di wilayah perkoataan yang meliputi drainase permukaan dan drainase bawah permukaan. Drainase perkotaan juga berfungsi mengendalikan air permukaan, sehingga tidak menimbulkan genangan yang dapat mengganggu masyarakat, serta dapat memberikan manfaat bagi kegiatan manusia. Drainase sebagai prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan. 1.2. Fungsi Drainase 1) Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi di permukaan tanah; 2) Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat ideal; 3) Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada; 4) Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir. 1.3. Jenis Drainase 1.3.1 Jenis Drainase Menurut Sejarah terbentuknya 1) Drainase alamiah (Natural Drainage) Drainase yang terbenuk secara alami, saluran terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi yang lambat laun terbentuk jalan air yang permanen seperti sungai. Kelebihan : murah, ada kesempatan air untuk infiltrasi dan kekurangan: keadaan dan sifat aliran sulit ditentukan; 2) Drainase buatan (Artificial Drainage) Drainase yang dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu sehingga memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti selokan pasangan/ beton/ batu, gorong-gorong dsb. Kelebihan : dimensi disesuaikan debit banjir dan arah aliran dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kekurangan : mahal. 1.3.2 Jenis Drainase Menurut Letaknya 1) Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage) Saluran drainase yang berada diatas permukaan tanah yang berfungsi mengalirkan air limpasan permukaan. Analisis airnya merupakan aliran saluran terbuka (open chennel); 2) Drainase Bawah Permukaan Tanah (Sub Surface Drainage) Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media dibawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan alasan tertentu, seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang dan lain-lain. 1.3.3 Jenis Drainase Menurut Fungsinya 1) Single Purpose Saluran berfungsi mengalirkan satu jenis air buangan saja, misalnya hanya membuang air yang berasal dari hujan saja atau limbah domestik dan lain-lain; 2) Multi Purpose Saluran berfungsi mengalirkan beberapa jenis buangan baik secara bercampur maupun bergantian. Saluran ini dapat membuang air hujan dan buangan lainnya (limbah domestik, industri dll) Gambar 1.1. Jenis Drainase Single Purpose dan Multi Purpose 1.3.4 Jenis Drainase Menurut Daerah Pelayanannya 1) Drainase Mayor Jaringan drainase yang mengumpulkan air bungan dari jaringan drainase minor dan menyalurkan ke sistem pembuangan alam terdekat seperti sungai, danau, laut. Drainase Mayor I, untuk luas (DPS) lebih besar dari 100 ha dan Drainase Mayor II, untuk luas DPS 50 sd 100 ha; 2) Drainase Minor Jaringan drainase yang melayani suatu kawasan perkotaan yang telah terbangun, seperti perumahan, kawasan perdagangan, industri dll. Saluran Induk (primer) untuk luas DPS 25 sd 50 ha, Saluran Cabang (skunder) untuk luas DPS 5 sd 25 ha dan Saluran awalan (tersier) untuk luas DPS 0 sd 5 ha. 1.3.5 Jenis Drainase Menurut Konstruksinya 1) Saluran Terbuka Saluran untuk air hujan terletak di area yang cukup luas. Juga untuk saluran air lainnya yang tidak mengganggu lingkungan. Fungsinya untuk menyalurkan air yang belum tercemar atau yang kualitas airnya tidak membahayakan. Lokasinnya pada daerah yang cukup tersedia dan tidak pada daerah yang sibuk/ padat (pertokoan, pasar dsb). Kelebihan : murah dan mudah pemeliharaannya dan kekurangan : sampah mudah masuk dan estetika kurang; 2) Saluran Tertutup Saluran untuk air kotor yan mengganggu kesehatan lingkungan, juga saluran dalam kota. Biasanya digunakan untuk daerah kepadatan tinggi dengan ruangan yang terbatas serta lalu lintas pejalan kaki yang padat perlu keselamatan dan kenyamanan, seperti pada daerah perdagangan, pusat kota, jalan protokol dll. Kelebihan: Sampah tidak mudah masuk dan secara estetika lebih indah dan kekurangan: Mahal dan sulit pemeliharaannya. 1.4. Sarana Dan Prasarana Drainase 1.4.1. Sarana dan Prasarana Drainase Permukaan (Surface Drainage) 1) Saluran Terbuka (Primer, Sekunder dan Tersier) adalah saluran terbuka yang menerima aliran air hujan dari kumpulan saluran sekunder di sebelah hulu dan membuang ke badan air yang berupa sungai, waduk, situ, kolam retensi atau laut; 2) Saluran Tertutup merupakan bagian saluran drainase yang pada kawasan tertentu, tanah permukaanya tidak memungkinkan dibuat saluran terbuka; 3) Waduk, Situ atau Kolam Retensi adalah suatu bentuk penampungan air yang dibedakan berdasarkan besarnya. Fungsi dari bangunan ini dapat mengurangi besarnya debit aliran (runoff) di saluran; 4) Pintu Air merupakan pelengkap saluran yang dipasang pada inlet siphon, inlet dan outlet kolam retensi/ laut atau diujung saluran yang berhubungan dengan badan air; Gambar 1.2. Pintu Air Saluran Drainase 5) Pompa digunakan untuk memindahkan air dari saluran atau kolam retensi ke badan air yang tidak memungkinkan mengalir secara gravitasi. Fasilitas pompa yang meliputi rumah pompa, genset berserta rumahnya dan perlengkapan lainnya; 6) Bangunan Persilangan untuk saluran drainase perkotaan antara lain gorong-gorong dan siphon. Fasiltas yang harus ada pada bangunan persilangan antara lain : · Saringan sampah di mulut saluran sebelah hulu siphon · Pintu air inlet · Saluran penenang hulu (outlet) yang berfungsi menenangkan aliran agar sedimen mengendap ditempatnya · Kolam penenang hilir sebegai peredam energy kecepatan keluar dari dalam gorong-gorong · Papan duga air (staf gauge) berfungsi untuk mengetahui naik-turunya permukaan air 7) Bendungan atau Cek Dam merupakan bangunan pengendali aliran atau banjir. 1.4.2. Sarana dan Prasarana Drainase Bawah Permukaan (Sub Surface Drainage) 1) Pipa Induk merupakan pipa pengumpul dari pipa-pipa cabang yang terhubung dengan sungai, danau atau saluran kota sebagai badan penerima air. Pipa induk berlubang di semua bagian. 2) Pipa Cabang adalah pipa yang terhubung dengan pipa utama yang menangkap air yang meresap ke dalam lapiran tanah filter 3) Lubang Inlet merupakan tempat masuknya air hujan menuju saluran bawah permukaan, seperti pada sistem drainase pada runway 4) Lapisan Tanah Filter adalah susunan lapisan tanah dengan susunan tertentu sebagai filter masuknya air hujan yang berada di atas tanah tersebut agar dapat meresap ke pipa-pipa bawah tanah, seperti pada lapangan sepak bola dan lapangan golf 5) Badan Penerima Air merupakan tempat berkumpulnya air yang berasal dari saluran utama (pipa-pipa) bawah tanah yaitu berupa danau, kolam retensi, sungai atau laut. 1.5. Komponen Pengelolaan Sistem Drainase Tabel 1.1. Komponen dan Sarana-Prasarana Drainase No Komponen Sarana dan Prasarana 1 Sarana Jaringan Drainase Bantaran kali/sungai Penyaringan sampah Gorong-gorong Bangunan terjun Outfall 2 Bangunan Pengendali Aliran Pintu air Tanggul Banjir Saluran Pembagi Papan Duga Air (staf guage) 3 Sistem Pemompaan (jika permukaan di hilir lebih tinggi dari aliran drainase) Rumah Pompa Polder Depont bengkel Genset dan Rumahnya 4 Operasi Pemeliharaan Kendaraan/truk Alat-alat berat Peralatan lainnya Sumber : Ditjent Cipta Karya Kementrian PU 1.6. Penanganan Masalah Genangan Penanganan masalah genangan pada daerah yang belum memiliki sistem drainase adalah dengan melakukan studi dan desain drainase serta pembangunan jaringan drainase baru. Sedangkan untuk daerah yang telah memiliki system drainase, penanganan masalah genangan dapat dilakukan dengan bebarapa cara : 1) Normalisasi dilakukan dengan cara memperlebar, memperdalam, meninggikan atau kombinasi pada saluran drainase yang ada; 2) Memperbanyak pengalihan saluran yaitu dengan cara menambah saluran drainase atau mengalihkan semua/ sebagian saluran drainase; 3) Membangun bangunan Polder Station yang dilengkapi dengan kolam, tanggul keliling, pompa genset dan bangunan pompa; 4) Memperlambat aliran air dengan cara membuat storage penunjang atau kolam retensi Gambar 1.5. Sketsa Struktur Polder dan Bangunan Polder Tawang, Semarang Jawa Tengah BAB II BAHAN DAN ALAT Capaian Pembelajaran Setelah membaca dan mengkaji buku ini,pembaca akan mampu: 1. Menjelaskan dan menyebutkan dengan benar jenis bahan perkerjaan drainase; 2. Menjelaskan dengan benar spsifikasi bahan pada pekerjaan drainase; 3. Menjelaskan kegunaan dan cara kerja alat-alat yang digunakan pada pekerjaan drainase 2.1. Kriteria Bahan Saluran Drainase Pemilihan bahan berupa bahan alam dan bahan yang diproduksi di pabrik yang akan digunakan untuk konstruksi drainase harus dipastikan dapat mendukung fungsi dan usia pakainya. Berikut peraturan yang terkait dengan standar bahan bangunan drainase antara lain: 1) SNI Standard dan Pedoman Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil 2) Peraturan bahan bangunan 2.1.1. Bahan Alam Pekerjaan Drainase 1) Pasir Pasir disebut juga agregat halus adalah butiran yang lolos ayakan dengan diameter 4,75 mm dan tertahan ayakan 0,075 mm. Pasir dalam konstruksi sipil merupakan bahan isian utama pembuatan beton, mortar aduk pasangan batu, mortar aduk untuk plesteran, mortar groting dan lain-lain. Setiap jenis mortar memiliki persyaratan yang berbeda yang harus dipenuhinya agar diperoleh hasil pekerjaan yang memuaskan. Syarat mutu agregat halus untuk pekerjaan beton menurut ASTM C33 - 86 adalah sebagai berikut : a) Kadar lumpur atau bagian butir yang lebih kecil dari 75 mikron (ayakan No.200). Untuk pekerjaan beton yang mengalami abrasi kadar lumpur maksimum 3% berat, sedangkan jenis beton lainnya 5% berat. b) Agregat halus harus bebas dari pengotoran zat organik yang merugikan beton. Zat organik ini dapat berupa bahan bahan yang telah membusuk, seperti humus atau tanah yang menandung bahan organik. Biasanya substansi ini mengandung asam yang dapat mencegah berlangsungnya hidrasi semen. Bahan organik ini biasanya banyak dijumpai dalam agregat halus daripada agregat kasar (Aman Subakti,1994:9 ). c) Agregat harus memenuhi gradasi butir sesuai dengan jenis pekerjaan. d) Beton, mortar, dan plester membutuhkan modulus kehalusan yang berbeda, yaitu antara 2,3 s.d. 3,2. Yang dimaksud modulus kehalusan yaitu angka indek yang diperoleh dari penjumlahan komulatip persen lolos set ayakan di atas lobang 0,3 dibagi 100 persen. e) Menurut ASTM C 144 - 93, gradasi pasir untuk pasangan batu seperti tabel berikut. Tabel 2.1. Susunan Gradasi Pasir f) Menurut peraturan di Inggris tentang gradasi pasir untuk beton dan diadopsi di Indonesia dengan SK SNI T - 15 - 1990 – 03, bahwa kekasaran pasir untuk beton dibagi menjadi empat zona, yaitu pasir halus (zona 4), pasir agak halus (zona 3), pasir agak kasar (zona 2), dan pasir kasar (zona 1) seperti dalam Tabel 2.2. Zona Kekasaran Pasir. Tabel 2.2. Susunan Gradasi Zona Pasir Penggunaan pasir sebagai bahan bangunan banyak dipergunakan dari struktur paling bawah hingga paling atas dalam bangunan. Baik sebagai pasir urug, adukan hingga campuran beton. Beberapa pemakaian pasir dalam bangunan dapat kita jumpai seperti : · Penggunaan sebagai urugan, misalanya pasir urug bawah pondasi, pasir urug bawah lantai, pasir urug dibawah pemasangan paving block dan lain lain. · Penggunaan sebagai mortar atau spesi, biasanya digunakan sebagai adukan untuk lantai kerja, pemasangan pondasi batu kali, pemasangan dinding bata, spesi untuk pemasangan keramik lantai dan keramik dinding, spesi untuk pemasangan batu alam , plesteran dinding dan lain lain. · Penggunaan sebagai campuran beton baik untuk beton bertulang maupun tidak bertulang, bisa kita jumpai dalam struktur pondasi beton bertulang, sloof, lantai, kolom , plat lantai, cor dak, ring balok dan lain -lain. · Disamping itu masih banyak penggunaan pasir dalam bahan bangunan yang dipergunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan material cetak seperti pembuatan paving block, kansteen, batako dan lain-lain. Ada beberapa jenis pasir yang biasa dijual diantaranya : a) Pasir Beton Pasir Beton adalah pasir yang bagus untuk bangunan. Pasir Beton biasanya berwarna hitam dan butirannya cukup halus, namun apabila dikepal dengan tangan tidak menggumpal dan akan puyar kembali. Pasir ini baik sekali untuk pengecoran, plesteran dinding, pondasi, juga pemasangan bata dan batu. b) Pasir Pasang Pasir Pasang adalah pasir yang lebih halus dari pasir beton ciri cirinya apabila dikepal dia akan menggumpal tidak kembali lagi ke semula. Pasir pasang biasanya dipakai untuk campuran pasir beton agar tidak terlalu kasar sehingga bisa dipakai untuk plesteran dinding. c) Pasir Elod Pasir Elod adalah pasir yang paling halus dibanding pasir beton dan pasir pasang. Ciri ciri pasir elod adalah apabila dikepal dia akan menggumpal dan tidak akan puyar kembali. Pasir ini masih ada campuran tanahnya dan warnanya hitam. Jenis pasir ini tidak bagus untuk bangunan. Pasir ini biasanya hanya untuk campuran pasir beton agar bisa digunakan untuk plesteran dinding, atau untuk campuran pembuatan batako. d) Pasir Merah Pasir merah atau suka disebut Pasir Jebrod kalau di daerah Sukabumi atau Cianjur karena pasirnya diambil dari daerah Jebrod Cianjur. Pasir Jebrod biasanya bagus untuk bahan Cor karena cirinya hampir sama dengan pasir beton namun lebih kasar dan batuannya agak lebih besar. 2) Kerikil Kerikil disebut juga agregat kasar adalah bahan alam yang dapat dipakai untuk beton harus memenuhi syarat-syarat : a) Agregat yang bersih dari unsur organic b) Keras c) Bebas dari sifat penyerapan zat kimia d) Tidak bercampur dengan tanah liat/lumpur e) Distribusi/gradasi ukuran agregat memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku Agregat alam adalah agregat yang didapat dari hasil tambang batuan alam. Agregat alam dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu : a) Kerikil dan pasir alam Kerikil dan pasir alam berasal dari hasil pengikisan batuan induk yang kemudian terbawa oleh arus air atau angin yang kemudian mengendap di suatu tempat. Endapan-endapan kerikil atau pasir sering kali terdapat di darat (tidak di sungai) b) Agregat batu pecah Terkadang sulit untuk mendapatkan kerikil dan pasir langsung dari alam sehingga diatasi dengan memecah batuan alam menjadi kerikil atau pasir. Kekerasan kerikil dari batu pecah ini lebih baik dibandingkan dengan langsung dari alam. Untuk memecahkan batuan alam ini digunakan alat pemecah batu (stone crusher) dan bahkan masih ada dengan cara manual. c) Agregat batu apung Batu apung merupakan agregat alam yang ringan dan banyak digunakan. Batu apung termasuk dalam agregat ringan. Agregat ringan yaitu agregat yang memiliki berat jenis kurang dari 2,0. 3) Batu Kali Batu kali atau batu belah biasanya diperoleh dari kawasan lereng pegunungan yang merupakan batuan besar dengan sisi tidak rata dan bersifat padat. Bentuk fisik batu ini yaitu padat, sisi tidak beraturan dan keras dengan warna abu-abu kehitaman. Batu ini biasa digunakan sebagai penahan sungai agar tidak longsor dan pondasi bangunan. Batu yang dari alam atau batu galian yang telah dibelah, kasar, bersih, tahan lama, keras, tahan terhadap pengaruh udara dan air dan cocok dalam segala hal untuk fungsi yang dimaksud. 4) Semen Semen Portland disebut juga Semen adalah bahan yang berupa bubuk halus yang bertindak sebagai pengikat untuk agregat. Bahan baku pembuatan semen adalah bahan-bahan yang mengandung kapur, silia, alumina, oksida besi dan oksida-oksida lain. Jika semen dicampur dengan air disebut pasta semen, sedangkan jika pasta semen dengan pasir disebut mortar semen. Berdasarkan tinjauan pemakaiannya, semen portland dibedakan menjadi 5 (lima) : a) Type I : Semen portland jenis umum (normal portland cement) , yaitu jenis semen portland untuk penggunaan dalam konstruksi beton secara umum yang tidak memerlukan sifat-sifat khusus. b) Type II : Semen jenis umum dengan perubahan-perubahan (modified portland cement). Semen ini memiliki panas hidrasi lebih rendah dan keluarnya panas lebih lambat daripada semen Type I. Semen Type II digunakan untuk pencegahan serangan sulfat dari lingkungan terhadap bangunan beton, seperti struktur bangunan air/drainase dengan kadar konsentrasi sulfat tinggi didalam air tanah. c) Type III : Jenis semen dengan waktu pengerasan yang cepat (highearly-strenghth portland cement). Waktu perkerasan bagi jenis ini umumnya kurang dari seminggu. Digunakan pada struktur-struktur bangunan yang bekistingnya harus cepat dibuka dan akan segera dipakai kembali. d) Type IV : Semen dengan hidrasi panas rendah yang digunakan pada konstruksi dam/bendungan, bangunan-bangunan masif, dengan tujuan panas yang tejadi sewaktu hidrasi merupakan faktor penentu bagi keutuhan beton. e) Type V : Semen penangkal sulfat. Digunakan untuk beton yang lingkungannya mengandung sulfat, terutama pada tanah/air tanah dengan kadar sulfat tinggi. 5) Air Air digunakan sebagai bahan pencampur dan pengaduk beton atau mortar untuk mempermudah pekerjaan. Menurut PBI 1971 NI-2, pemakaian air untuk beton atau adukan mortar tersebut sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: a) Tidak mengandung lumpur (benda melayang lainnya) b) Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik dan sebagainya) c) Tidak mengandung minyak dan alkali d) Tidak mengandung senyawa asam 6) Kapur Limestone/ Calcium Carbonate (CaCO3) biasa kita kenal sebagai batu kapur atau batu gamping adalah batuan yang terbentuk dari organisme laut. Batu kapur adalah barang yang sangat di butuhkan dan sering di pakai di dalam kehidupan sehari-hari. Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian dll Secara kimia batu gamping terdiri atas Kalsium Karbonat (CaCO3). Di alam tidak jarang pula dijumpai batu gamping magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batu gamping dolomitan dengan komposisi kimia CaCO3MgCO3 Adapun sifat dari batu gamping adalah sebagai berikut : a. Warna : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan b. Kilap : Kaca, dan tanah c. Goresan : Putih sampai putih keabuan d. Bidang belahan : Tidak teratur e. Pecahan : Uneven f. Kekerasan : 2,7 – 3,4 skala mohs g. Berat Jenis : 2,387 Ton/m3 h. Tenacity : Keras, Kompak, sebagian berongga 2. Adapun pemanfaatan dari kapur diantaranya adalah : a) Bahan bangunan yang dimaksud adalah kapur tohor yang dipergunakan untuk plester, adukan pasangan bata, pembuatan semen tras ataupun semen merah. b) Bahan penstabilan jalan raya. Pemakaian kapur dalam bidang pemantapan fondasi jalan raya termasuk rawa yang dilaluinya. Kapur ini berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi penyusutan dan pemuaian fondasi jalan raya c) Bahan pupuk dan insektisida dalam pertanian. Apabila ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatife tidak banyak air, sebagai pupuk untuk menambah unsur kalsium yang berkurang akibat panen, erosi serta untuk menggemburkan tanah. Kapur ini juga dipergunakan sebagai disinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan kompos dan sebagainya d) Penjernihan air. Dalam penjernihan pelunakan air untuk industri, kapur dipergunakan bersama-sama dengan soda abu dalam proses yang dinamakan dengan proses kapur soda. 7) Kayu Kayu merupakan satu dari beberapa bahan konstruksi yang sudah lama dikenal masyarakat, merupakan bahan alam dan dapat diperbaharui secara alami. Faktor-faktor seperti kesederhanaan dalam pengerjaan, ringan, sesuai dengan lingkungan (environmental compatibility) telah membuat kayu menjadi bahan konstruksi yang dikenal di bidang konstruksi ringan (light construction). Penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi tidak hanya didasari oleh kekuatannya saja, akan tetapi juga didasari oleh segi keindahannya. Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu : a) Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat). b) Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial). c) Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara di sekelilingnya. d) Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering. Ada banyak sekali jenis-jenis kayu. Dalam konstruksi dan pemakaian kayu sebagai bagian dari konstruksi bangunan, seseorang harus benar-benar mengetahui dan memahami sifat-sifat serta jenis-jenis kayu yang biasa digunakan sebagai konstruksi bangunan itu sendiri. Kayu memiliki kelebihan sebagai berikut: · Mudah didapatkan di toko-toko material. · Banyak dikuasai oleh tukang lokal. · Bahan kayu dapat dibentuk, dipotong, dan digunakan secara fleksibel. Kelebihan-kelebihan dari kayu sebagai bahan konstruksi bangunan itu sendiri tentu memberikan keuntungan bagi kita sendiri, namun di balik kelebihan-kelebihannya itu kayu juga memiliki kekurangan-kekurangan. Berikut kekurangan dari kayu: · Mudah terbakar, dan dapat dimakan rayap. · Dapat mengembang dan menyusut. · Bentang atap dengan konstruksi kayu seringkali terbatas karena ukuran kayu di pasaran adalah 4 meter. · Harga kayu semakin lama semakin mahal karena semakin berkurangnya stok kayu dari alam. Dibawah ini beberapa jenis kayu yang bisa dipergunakan untuk bahan konstruksi bangunan : a. Kayu jati Kayu ini sering dianggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati. b. Kayu Merbau Kayu merbau termasuk salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang disertai adanya highlight kuning. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus-putus. Pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. c. Kayu Bangkirai Kayu bengkirai termasuk jenis kayu yang cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut dipermukaan. d. Kayu kamper Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak ditemui di hutan hujan tropis di Kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan. e. Kayu kelapa Adalah salah satu sumber kayu alternatif baru yang berasal dari perkebunan kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi (berumur 60 tahun ke atas) sehingga harus ditebang untuk diganti dengan bibit pohon yang baru. Sebenarnya pohon kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah serat /fiber yaitu berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat lurus dan serat mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. f. Kayu meranti merah Jenis kayu keras, warnanya merah muda tua hingga merah muda pucat, namun tidak sepucat meranti putih. selain bertekstur tidak terlalu halus, kayu meranti juga tidak begitu tahan terhadap cuaca, sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon meranti banyak ditemui di hutan di pulau Kalimantan. g. Kayu Karet Kayu karet berwarna putih kekuningan, sedikit krem ketika baru saja dibelah atau dipotong. Ketika sudah mulai mengering akan berubah sedikit kecoklatan. Kayu karet tergolong kayu lunak - keras, tapi lumayan berat dengan densitas antara 435-625 kg/m3 dalam level kekeringan kayu 12%. Kayu Karet termasuk kelas kuat II, dan kelas awet III, sehingga kayu karet dapat digunakan sebagai substitusi alternatif kayu alam untuk bahan konstruksi h. Kayu gelam Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya dikenal dan dipakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan yang berdiameter besar biasa dipakai untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat dibuat arang atau arang aktif untuk bahan penyerap. Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai, kosen, bahan untuk bangunan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I. i. Kayu Akasia (acacia mangium), Kayu Akasia mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II, yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas, bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan mebel-furniture. 8) Bambu Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Nama lain bambu adalah buluh, aur, eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60 cm (24 inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam. Kelebihan dari Bambu antara lain: · Bahan Alami yang dapat diperbaharui · Sangat cepat pertumbuhannya (hanya perlu 3 s/d 5 tahun sudah siap tebang) · Pada berat jenis yang sama, Kuat tarik bambu lebih tinggi dibandingkan kuat tarik baja mutu sedang. · Ringan. · Bahan konstruksi yang murah. Kekurangan : · Rentan terhadap rayap. · Jarak ruas dan diameter yang tidak sama dari ujung sampai pangkalnya. Jenis Bambu yang dikenal di sekitar sebagai bahan bangunan antara lain : petung/betung (Dendrocalamus asper), Bambu hitam/ bambu wulung, Bambu apus atau tali (Gigantochloa apus) dan Bambu duri / ori Bambu sebagai bahan bangunan memiliki Sifat fisik berupa kerapatan, kadar air, dan berat jenis dan sifat mekaniknya berupa kuat tekan, kuat lentur, kuat geser, dan kuat tarik. 2.1.2. Bahan Pasangan Saluran Drainase 1) Pasangan Batu Bata Batu bata merupakan salah satu bahan material sebagai bahan pembuat dinding. Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar sampai berwarna kemerah-merahan. Adapun jenis Batu Bata yang dikenal dalam bangunan antara lain : a) Batu Bata Tanah Liat, terbuat dari tanah liat dengan 2 kategori yaitu bata biasa dan bata muka. · Bata biasa, memiliki permukaan dan warna yang tidak menentu, bata ini digunakan untuk dinding dengan menggunakan morta (campuran semen) sebagai pengikat. Bata jenis ini sering disebut sebagai bata merah. · Bata muka, memiliki permukaan yang baik dan licin dan memupnyai warna dan corak yang seragam. Disamping dipergunakan sebagai dinding juga digunakan sebagai penutup dan sebagai dekoratif. b) Batu Bata Pasir – Kapur, sesuai dengan namanya batu bata ini dibuat dari campuran kapur dan pasir dengan perbandingan 1 : 8 serta air yang ditekankan kedalam campuran sehingga membentuk batu bata. Pekerjaaan pasangan batu bata biasanya dilanjutkan dengan pekerjaan plesteran, pekerjaan acian, amplas dinding kemudian finishing cat atau walpapaer dinding. Jarak antara masing-masing pekerjaan tersebut sebaiknya dilakukan dalam rentang waktu yang cukup sehingga didapatkan hasil pengerasan sempurna dan kualitas pekerjaan pasangan dinding bata yang baik. Ukuran standarnya untuk Indonesia adalah : a. 52 mm x 115 mm x 240 mm. b. 50 mm x 110 mm x 230 mm. Penimbunan di lapangan harus diberi lantai dengan jarak 30 cm dari permukaan tanah. Bata disusun berdiri arah lebarnya dan disusun berselang – seling empat buah – empat buah. Ketinggian penyusunan max 2 m ini untuk memudahkan dalam pengambilan. Di atasnya ditutup dengan kain terpal atau plastik agar air hujan tidak terserap oleh bata merah. 2) Mortar Dalam keseharian, terutama saat membangun, tentu sering kita jumpai dengan yang namanya mortar atau adukan, namun kita hanya sebatas tahu saja. Berikut ini pengertian, kegunaan, sifa-sifat, dan jenis komposisi mortar atau adukan. Pengertian mortar atau adukan atau spesi adalah campuran dari bahan pengikat (semen, kapur), bahan pengisi (pasir) dan air. Kegunaan/manfaat adukan atau mortar pada pasangan bata adalah: a) Sebagai bahan pengikat antara bata yang satu dengan bata yang lainnya b) Untuk menutup atau menghilangkan permukaan bata yang tidak rata c) Untuk menyalurkan beban Sedangkan fungsi dari mortar atau adukan dalam plesteran adalah untuk meratakan permukaan tembok sehingga mudah untuk di cat dan untuk menambah keawetan pasangan bata Sifat-sifat pada adukan adalah: a) Sifat kuat, campuran adukan harus cukup baik agar mampu menopang beban yang diterima dinding. b) Sifat mudah untuk dikerjakan/digunakan, adukan harus mudah dikerjakan, tidak terlalu basah (encer) dan tidak terlalu kering. c) Sifat menyusut, adukan yang terlalu banyak airnya akan mudah menyusut yang berakibat retak pada plesteran maupun tembok. Jenis-jenis komposisi adukan adalah: · Adukan semen, kapur, pasir · Adukan semen, pasir · Adukan pozolan atau tras alam, kapur · Adukan kapur, tras (alam atau buatan), pasir Fungsi dan persyaratan adukan untuk pekerjaan pasangan bata/ batu kali/ pekerjaan sejenisnya harus memiliki sifat-sifat : · Cukup plastis/konsistensi dan enak dikerakan dipasang workability · Menghasilkan rekatan dan perletakan yang baik dari bata/ batu kali · Dapat mengisi celah-celah dari bata/ batu kali dengan rapat dan rata · Memberikan kekuatan yang merata · Sifat tahan lama sehingga konstruksi pasangan bata/ batu kali yang direkatkan dapat menahan gaya horisontal dan vertikal serta pengaruh sekitar tembok Campuran pasir dengan bahan bangunan semen untuk pasangan bata dan plesteran, dengan komposisi : · Campuran 1 : 4, untuk pemasangan dinding bata yang tertutup tanah, atau bak air agar tidak rembes. · Campuran 1 : 6, untuk pemasangan dinding bata yang di atas tanah. · Plesteran dinding dengan campuran pasir dan bahan bangunan semen 4 : 1, untuk memplester dinding bata yang berada di dalam tanah. · Plesteran dinding dengan campuran pasir dan bahan bangunan semen 6 : 1, untuk memplester dinding bata yang berada di atas tanah. 3) Beton Saluran dengan bahan beton banyak dijumpai di pembangunan saluran. Konstruksi beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi agregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air. Ada bermacam-macam jenis beton antara lain : a) Beton siklop Beton jenis ini sama dengan beton normal biasa, perbedaannya ialah pada beton ini digunakan ukuran agregat yang relative besar, beton ini digunakan pada pembuatan bendungan, pangkal jembatan, dan sebagainnya, ukuran agregat kasar dapat sampai 20 cm, namun proporsi agregat yang lebih besar dari biasanya ini sebaiknya tidak lebih dari 20 persen dari agregat seluruhnya. b) Beton Ringan Beton jenis ini sama dengan beton biasa perbedaannya hanya agregat kasarnya diganti dengan agregat ringan. Selain itu dapat pula dengan beton biasa yang diberi bahan tambah yang mampu membentuk gelembung udara waktu pengadukan beton berlangsung, beton semacam ini mempunyai banyak pori sehingga berat jenisnya lebih rendah daripada beton biasa. c) Beton non pasir Beton jenis ini dibuat tanpa pasir , jadi hanya air, semen, dan kerikil saja, karena tanpa pasir maka rongga rongga kerikil tidak terisi. Sehingga beton berongga dan berat jenisnya lebih rendah daripada beton biasa. Selain itu karena tanpa pasir maka tidak dibutuhkan pasta-pasta untuk menyelimuti butir-butir pasir sehingga kebutuhan semen relative lebih sedikit. d) Beton hampa Seperti yang telah diketahui bahwa kira-kira separuh air yag dicampurkan saja yang bereaksi dengan semen, adapun separuh sisanya digunakan untuk mengencerkan adukan. Beton jenis ini diaduk dan dituang serta dipadatkan sebagaimana beton biasa, namun setelah beton tercetak padat kemudian air sisa reaksi disedot dengan cara khusus. Seperti cara vakum, dengan demikian air yang tertinggal hanya air yang digunakan untuk reaksi dengan semen, sehingga beton yang diperoleh sangat kuat. e) Beton bertulang Beton biasa sangat lemah dengan gaya tarik, namun sangat kuat dengan gaya tekan, batang baja dapat dimasukkan pada bagian beton yang tertarik untuk membantu beton. Beton yang dimasuki batang baja pada bagian tariknya ini disebut beton bertulang. f) Beton prategang Jenis beton ini sama dengan beton bertulang, perbedaannya adalah batangnya baja yang dimasukkan ke dalam beton ditegangkan dahulu. Batang baja ini tetap mempunyai tegangan sampai beton yang dituang mengeras, bagian balok beton ini walaupun menahan lenturan tidak akan terjadi retak. g) Beton pracetak Beton biasa dicetak/dituang di tempat, namun dapat pula dicetak di tempat lain. Fungsinya di cetak di tempat lain agar memperoleh mutu yang lebih baik, selain itu dipakai jika tempat pembuatan beton sangat terbatas, sehingga sulit menyediakan tempat percetakan perawatan betonnya. h) Beton massa Beton yang dituang dalam volume besar yaitu perbandingan antara volume dan permukaannya besar. Bila dimensinya lebih besar dari 60 cm. Pondasi besar, pilar, bendungan. Harus diperhatikan perbedaan temperatur. i) Fero semen Suatu bahan gabungan yang diperoleh dengan cara memberikan mortar semen suatu tulangan yang berupa suatu anyaman kawat baja. j) Beton serat Beton komposit yang terdiri dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat. Serat berupa batang-batang 5 sd 500 mm, panjang 25-100 mm, serat asbatos, tumbuh-tumbuhan, serat plastic, kawat baja. Metode perencanaan mix design yang tepat diperlukan untuk menghasilkan campuran beton (Concrete Mix Design) yang memenuhi syarat mutu dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Ada beberapa metode rancangan campuran beton antara lain yaitu : a. Cara coba-coba di laboratorium (Trial and Error) Yaitu dengan membuat campuran beton dengan perbandingan- perbandingan bahan penyusun yang berbeda-beda sehingga diperoleh komposisi dengan workability tertentu. b. Fineness modulus method Metode modulus kehalusan dari Prof. Duff Abram ini pada dasarnya menggunakan tabel perbandingan bahan dari Prof. Duff Abram c. Cara DOE (Department of Environment ) Metode ini berasal dari negara Inggris yang pada prinsipnya menggunakan dasar kuat tekan beton ukuran 15 x 15 x 15 cm. d. Cara ACI ( American Concrete Institute ) committee 61354 Metode rancangan campuran beton ini berasal dari Amerika yang berdasarkan kuat tekan beton silinder ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. e. Cara High Strength Concrete Mix Design Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Shacklock, metode ini digunakan untuk beton mutu tinggi ( > K.350 kg/cm2 ) Metode rancangan yang lazim dipergunakan terutama di Indonesia adalah cara ACI (American Concrete Institute) dan cara DOE (Department of Environment). 2.1.3. Pipa dan Bahan Pabrikan lainnya Berdasarkan materialnya pipa terbagi antara lain : 1) Pipa GIP (Galvanized Iron Pipe) Pipa GIP atau pipa besi galvanis digunakan untuk instalasi air bersih dingin saja dan tidak dianjurkan untuk pipa air panas. 2) Pipa PVC (Polyvinyl Chloride) Pipa PVC adalah jenis pipa plastic yang terbuat dari gabungan material vinyl yang menghasilkan pipa ringan, kuat tidak berkarat dan tahan lama. Hanya digunakan untuk air dingin saja. 3) Pipa HDPE (Hight Density Polyethylene) Pipa HDPE adalah jenis pipa yang terbuat dari polyethylene dengan kepadatan tinggi sehingga jenis pipa yang dihasilkan dapat menahan daya tekan yang lebih tinggi. Karakterisik pipa HDPE adalah kuat, lentur/fleksibel dan tahan terhadap bahan kimia. 4) Pipa Baja (Steel Pipe) Pipa baja yang digunakan untuk jalur pemasok energy, misalnya air, gas, minyak dan cairan yang mudah terbakar. 5) Pipa Tembaga Pipa tembaga adalah pipa yang kuat dan tahan lama, biasanya digunakan untuk instalasi air panas. 6) Pipa Beton Berupa beton precast biasa digunakan untuk saluran drainase. Terdapat 2 tipe pipa beton yaitu light duty dan heavy duty. Pipa PVC juga tidak berkarat atau membusuk. Oleh karena itu, PVC ini paling sering digunakan dalam sistem irigasi/ perairan dan pelindung kabel. Standard Pipa PVC pada sebuah proyek adalah : Standard Pabrik, Standard JIS dan Standard SNI a) Standard Pabrik Ciri-ciri pipa PVC dengan standard pabrik adalah : Class AW (Association Water) dan D (Drainase), Panjang pipa 4 meter dan Berwarna putih atau abu-abu b) Standard JIS ( Japan Industrial Standard) Ciri-ciri pipa PVC dengan standard JIS adalah : Class VP dan VU, Panjang pipa 4 meter dan Berwarna abu-abu c) Standard Nasional Indonesia ( SNI) Ciri-ciri pipa PVC dengan standard SNI adalah : Class S-10 dan S-12.5, Panjang pipa 6 meter dan Berwarna putih atau abu-abu Pipa PVC saat ini merupakan Bahan yang sering/ wajib dipakai dalam pembuatan Rumah. Pipa PVC ini biasa dipakai untuk Saluran Supply Air Bersih dan Saluran Air Kotor/ Buangan (baik itu Air Closet, Air Buangan Mandi, dan Air Kotor Buangan Closet ke Septic-Tank). Dalam system JIS ada 3 jenis pipa PVC yaitu AW, D dan C, berikut rinciannya: · Pipa dengan Jenis AW, adalah Pipa Paling Tebal, biasanya dipakai untuk Pemipaan Aliran Bertekanan Tinggi ( seperti adanya Tekanan dari Pompa Air) Juga biasa dipakai untuk Saluran Air didalam Tanah yang diperkirakan akan mengalami Tekanan Besar dari Kenderaan Berat yang mungkin melintas diatasnya. Ukuran Pipa AW yang tersedia di pasaran antara lain: Diameter 6” = 6 inchi ( 6” ini adalah Ukuran Diameter Dalam Penampang Pipa) ; 5” ; 4” ; 3” ; 2, 5” ; 2” ; 1, 5” ; 1, 25” ; 1” ; 3/ 4” ; dan 1/ 2” . · Pipa dengan Jenis D, tidak setebal AW tapi lebih tebal dari C, digunakan untuk Saluran yang tidak akan mengalami tekanan yang besar, biasa dipakai untuk Saluran Buangan Air di dalam rumah. Ukuran Pipa Jenis D yang tersedia di pasaran antara lain: Diameter 6” = 6 inchi (6” ini adalah Ukuran Diameter Dalam Penampang Pipa) ; 5” ; 4” ; 3” ; 2, 5” ; 2” ; 1, 5” ; dan 1, 25” . · Pipa dengan Kode C, Pipa ini paling tipis, saya tidak merekomendasikan untuk dipakai pada Instalasi Saluran Air pada Rumah anda, karena Jenis Pipa ini rentan dan gampang pecah. Gambar 2.1. PipaPVC 2.2. Peralatan Pekerjaan Drainase Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan drainase ditentukan berdasaarkan skala kesulitan dan kemudahan pekerjaan. Sesuai dengan tujuannya penggunaan peralatan pada umumnya sebagai penunjang pekerjaan guna penyelesaian pekerjaan yang berkualitas, efisien, efektif dan ekonomis. Penggunaan alat yang tidak tepat dapat berakibat pada penyelesaian pekerjaan yang tidak sesuai jadwal atau hasil yang tidak sesuai dengan rencana atau pemborosan biaya. Oleh karenanya pengalaman dan analisa terhadap kebutuhan alat sangat diperlukan sebelum melakukan pekerjaan khususnya pada pekerjaan drainase. 2.2.1 Peralatan Manual Jenis peralatan manual yang digunakan untuk pekerjaan drainase antara lain : Tabel 2.3. Jenis Alat Manual dan Kegunaanya No Nama Alat Gambar Kegunaan 1 Cangkul · Untuk menggali dan mengambil tanah lunak · Untuk mencampur bahan mortar 2 Ganco/ Belincong Untuk menggali pada tanah yang keras berbatu, ada akar pohon atau bekas bangunan (bongkaran) 3 Sekop · Untuk mengambil tanah galian/ mortar · Untuk mencampur bahan mortar 4 Lempak Untuk menggali tanah lempung yang basah/lunak 5 Garpu Untuk menggali tanah yang keras dan kering 6 Sendok Spesi Untuk mengambil mortar pada pekerjaan pasangan batu 7 Pemadat Untuk memadatkan lantai kerja dan urugan tanah. 8 Meteran Untuk mengukur jarak 9 Slang air Untuk menentukan dan menimbang level ketinggian/ kedataran 10 Palu Untuk menancapkan paku pada kayu dan menancapkan patok kayu/ besi pada tanah 11 Kerekan (Creen) dan tripot Untuk menurunkan dan mengangkat benda yang berat dan besar yang tidak dapat dilakukan secara manual 12 Boning Rod Untuk mengukur kedalaman dan kemiringan galian saluran 13 Waterpass dan Theodolith Untuk menentukan elevasi dari tiap-tiap titik lubang kontrol yang dikehendaki serta kemiringan pipa saluran 2.2.2 Peralatan Mesin Portabel Tabel 2.4. Jenis Alat Mesin Portabel dan Kegunaanya No Nama Gambar Kegunaan 1 Mesin Pemadat Untuk memadatkan lantai kerja dan urugan tanah. 2 Pompa Untuk menguras air/ dewatering pada lokasi saluran 2.2.3 Peralatan Berat Pekerjaan Galian Tanah 1) Scrapper Scrapper adalah alat gali tanah, umumnya digunakan di tambang terbuka. Alat ini mampu melakukan tiga tugas sekaligus: memuat, mengangkut, dan membongkar muatan. Gambar 2.2. Alat Berat Scrapper 2) Back Hoe Kegunaan backhoe : · Untuk penggalian tanah, terutama yang letaknya di bawah kedudukan backhoe sendiri, misalnya : saluran, terowongan,basement · Bisa juga sebagai alat pemuat bagi truck-truck. Keuntungan backhoe dibandingkan dengan Dragline dan Clamshell: Kedalaman gali lebih teliti dan bisa untuk alat pemuat, sedangkan Dragline dan Clamshell tidak bisa. Gerakan-gerakan backhoe dalam beroperasi : 1) Mengisi bucket (land bucket) 2) Mengayun saat terisi (swing loaded ) 3) Membongkar muatan (dump bucket) 4) Mengayun balik (swing empty) Semua gerakan ini mempengaruhi waktu siklus. Backhoe kecil waktu siklusnya lebih cepat dari pada Backhoe besar. Produksi Faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas : a) Faktor keadaan pekerjaan b) Faktor keadaan mesin c) Pengaruh dalamnya pemotongan dan sudut swing. Gambar 2.3. Alat Berat Backhoe 3) Clam Shell Kegunaan clamshell untuk penggalian material lepas seperti pasir, kerikil, batuan pecah, lumpur, batu bara, dll. Cara kerja clamshell: menjatuhkan bucket pada saat kosong dan mengangkatnya saat berisi muatan secara vertikal, dengan swing seperti pada excavator dan membongkar muatan pada tempat yang dikehendaki dan swing kembali. Ada dua macam bucket yang digunakan : 1. Heavy duty bucket: dilengkapi dengan gigi yang dapat dilepas, digunakan untuk penggalian . 2. Light duty bucket : untuk mengangkat bahan ringan, tanpa dilengkapi gigi-gigi Kapasitas bucket diukur dalam 3 macam ukuran : a. Water level capacity yaitu kapasitas bucket dimana bucket terendam air.. b. Plate line capacity yaitu kapasitas backet terisi rata c. Heaped capacity yaitu kapasitas bucket munjung Gambar 2.4. Alat Berat Clamshell 4) Dragline Kegunaan dragline adalah untuk penggalian material yang tidak terlalu keras yang letaknya dapat lebih rendah atau lebih tinggi dari posisi alat tersebut. Alatnya terdiri dari excavator + boom crane dan drag bucket. Kelebihan : jangkauannya lebih besar daripada backhoe dan power shovel. Kekurangan : tenaga penggali kecil karena hanya mengandalkan kekuatan dari berat sendiri bucket. Ada 3 tipe dragline :. 1. Dragline dengan roda kelabang 2. Dragline dengan roda ban. 3. Dragline di atas truck Prinsip kerja dragline : a. Mengisi bucket dengan menarik kabel tarik sepanjang lapisan material ke arah alat. b. Setelah bucket terisi, kemudian diangkat dengan sedikit mengendorkan kabel tarik (masih kondisi tegang). c. Karena masih ditahan oleh kabel tarik (tegang) maka tumpahnya material sedikit. d. Membongkar muatan, bisa di muka atau di belakang titik puncak boom. e. Bucket kosong diayun dengan mengendorkan kabel angkat dan diajukan pada posisi yang lebih baik untuk muatan baru. Gambar 2.5. Alat Berat Dragline 5) Power Shovel Kegunaan Power Shovel : · Untuk penggalian tanah yang letaknya di atas kedudukan alat itu. · Sebagai alat pemuat ke dalam truck. Gerakan Power Shovel dalam beroperasi : 1. Tenaga angkat utama (main hoist power) untuk mengangkat bucket di dalam material yang digali. 2. Tenaga angkat tambahan (secondary hoist) untuk menggerakkan dipper stick ke depan yang memberikan tenaga ekstra. 3. Retracting : gerakan ke belakang dari dipper stick untuk melepaskan diri dari material. 4. Boom dinaikkan denga sudut 35° - 65°. 5. Swing untuk membuang dan balik 6. Gerakan maju atau mundur Gambar 2.6. Alat Berat Power Shovel BAB III KESELAMATAN DANKESEHATAN KERJA PEKERJAAN DRAINASE Capaian Pembelajaran Setelah membaca dan mengkaji buku ini,pembaca akan mampu: 1. Menjelaskan dengan pengertian K3 Pekerjaan Drainase; 2. Menerapkan K3 pada pekerjaan drainase; 3. Melakukan identifikasi potensi bahaya pada pekerjaan drainase 3.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 3.1.1. Pengertian Keselamatan kerja adalah sasaran utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan, cacat dan kematian pada pekerja sebagai akibat kecelakaan kerja. Definisi keselamatan kerja menurut Dessler (1997:634), keselamatan kerja adalah usaha untuk sedapat mungkin memberikan jaminan kondisi kerja yang aman dan sehat pada setiap karyawan dan untuk melindungi sumber daya manusia. Penyediaan pelayanan kesehatan pada perusahaan diatur berdasarkan permen Tenaga Kerja Dan Transmigrasi RI No. 03/MEN/1982 tentang pelayanan usaha kesehatan di perusahaan. Begitu pentingnya kesehatan kerja tersebut dalam suatu lingkungan kerja, mengingat kesehatan kerja merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau aplikasi kesehatan masyarakat dalam suatu masyarakat pekerja dan lingkungannya, yang tujuannya untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan lingkungan perusahaan pada umumnya. 3.1.2. Maksud dan Tujuan Tujuan secara umum kesehatan kerja adalah untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungan perusahaan melalui upaya pencegahan (preventif), penjelasan (promotif) dan pengobatan (kuratif). Adapun maksud dan Tujuan Penerapan K3 antara lain: 1) Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas. 2) Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat lingkungan pekerjaan. 3.1.3. Dasar Hukum Dalam rangka menjamin keberlangsungan penerapan system manajemen K3 (SMK3), harus diatur dalam Undang-Undang dan beberapa peraturan-peraturan yang terkait sebagai dasar hukum. Dasar Hukum Pengawasan Lingkungan Kerja Peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak baik yang sifatnya prefensif maupun represif. Sehingga upaya perlindungan terhadap tenaga kerja, pengamanan peralatan kerja dan lingkungan sekitar pekerjaan serta hasil pekejaan dapat tercapai. 3.2. K3 Pekerjaan Drainase 3.2.1. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya mengingat kematian, cedera dan sakit ini disamping mengakibatkan penderitaan dan kesusahan, juga kerugian biaya. Gambar 3.1 APD Pada Pekerjaan Drainase Pada suatu survei tentang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan di peroleh data bahwa kerugian akibat kecelakaan mencapai 8,5% dari perhitungan biaya proyek konstruksi, walaupun tidak terjadi kecelakaan yang serius. Adapun jenis dari alat tersebut adalah : a) Helm Pelindung (Safety Helmet) yang berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala secara langsung. b) Sabuk Keselamatan (Safety Belt) yang berfungsi sebagai alat pengaman ketika menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil, pesawat, alat berat, dan lain-lain) c) Sepatu Karet (sepatu boot) yang berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur. Kebanyakan di lapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb. d) Sepatu Pelindung (Safety Shoes) Seperti sepatu biasa, tapi dari bahan kulit dilapisi metal dengan sol dari karet tebal dan kuat. Berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb. e) Sarung Tangan yang berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan. f) Tali Pengaman (Safety Harness) yang berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di ketinggian. Diwajibkan menggunakan alat ini di ketinggian lebih dari 1,8 meter. g) Penutup Telinga (Ear Plug/ Ear Muff) yang berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising. h) Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses) yang berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas). i) Masker (Respirator) yang berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb). j) Pelindung wajah (Face Shield) yang berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda) k) Jas Hujan (Rain Coat) yang berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja pada waktu hujan atau sedang mencuci alat). Semua jenis APD harus digunakan sebagaimana mestinya, gunakan pedoman yang benar-benar sesuai dengan standar keselamatan kerja (K3L : Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan). Adapun APD yang disediakan harus memenuhi syarat : 1) Harus memberikan perlindungan yang cukup terhadap bahaya yang dihadapi tenaga kerja/sesuai dengan sumber bahaya yang ada. 2) Tidak mudah rusak. 3) Tidak mengganggu aktifitas pemakai. 4) Mudah diperoleh di pasaran. 5) Memenuhi syarat spesifik lain. 6) Nyaman dipakai. Dalam program pengadaan APD untuk melindungi tenaga kerja dalam bekerja, maka penyimpanan, pemeliharaan APD sebaiknya di bilik yang sangat sensitif terhadap perubahan tertentu, waktu kadaluarsanya dan tidak akan menimbulkan alergi terhadap si pemakai serta tidak menularkan penyakit. 3.2.2. Keselamatan Pada Peralatan Kerja Keselamatan kerja tidak hanya pada diri pekerja tetap harus mempertimbangakan keselamatan pada peralatan kerja, terutama pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi, seperti bekerja di ketinggian, hal-hal yang harus diperhatikan untuk keselamatan kerja pada peralatan kerja antara lain : 1) Sediakan lantai dan anjungan kerja yang permukaannya dari bahan anti slip untuk semua operator peralatan. 2) Buatlah alat pengaman untuk mencegah orang yang tidak berhak menghidupkan peralatan, dengan cara menggunakan sistem kunci, atau mem-blok dan mengunci alat penghidup (starter) 3) Pada akhir suatu periode waktu kerja (shift), operator harus mengunci peralatannya untuk mencegah peralatannya hidup tanpa sengaja, terlepas, atau jatuh. Prosedur mematikan peralatan dari produsen harus diikuti. 4) Jangan sampai terjadi penumpukan kotoran, debu, oli, gemuk, kain perca berminyak, dan sampah pada peralatan. 5) Pasang tanda pemberitahuan tentang kapasitas beban yang aman dan batas kecepatan operasional maksimum pada setiap peralatan. Pastikan bahwa setiap bagian dari peralatan terletak dengan baik di atas dasar yang cukup dan kuat. 3.2.3. Keselamatan Kerja Pada Bahan Keselamatan kerja pada bahan yang paling harus diperhatikan adalah pada bahan cair yang mudah terbakar, beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain : 1) Hindarkan mengisi bahan bakar mesin bensin dengan kondisi mesin sedang hidup 2) Pengisian bahan bakar peralatan operasi dilakukan melalui tangki yang terlindungi di luar lokasi kerja. 3) Tangki harus diamankan dengan sistem pentanahan (grounding) yang cukup untuk melindungi dari listrik statis yang terjadi. 4) Dilarang merokok atau menggunakan api terbuka didekat peralatan berbahan bakar bensin yang sedang mengisi bahan bakar. 5) Pekerja jangan menggunakan bahan campuran dengan titik nyala dibawah 37,80C (1000F) sebagai bahan untuk membersihkan peralatan atau bagian-bagiannya. 6) Bila menggunakan bensin atau bahan mudah terbakar lainnya, gunakan pompa yang khusus untuk memindahkannya atau disimpan di dalam suatu tempat bahan cair atau kaleng yang aman. Keselamatan pada bahan pekerjaan drainase yang harus diperhatikan antara lain : 1) Pisahkan bahan-bahan yang mudah pecah (misalnya pipa PVC) dari bahan berat lainnya. 2) Letakkkan bahan-bahan yang mudah berkarat akibat udara luar pada gudang tertutup (seperti pipa besi, besi tulangan dll) 3) Sediakan peralatan mesin secukupnya untuk mengangkat atau mengangkut bahan-bahan yang cukup berat yang tidak memungkinkan dilakukan dengan tenaga manusia. 4) Penempatan barang-barang di gudang harus ditata rapi dan dikelompokkan sesuai jenis dan ukurannya, selain ukuran gudang harus memadai. 3.3.4. Keselamatan Kerja Pada Lingkungan Kerja Perkerjaan drainase banyak dilakukan di luar rungan dan bersinggungan dengan warga masyarakat, sehingga penerapan keselamatan kerja pada lingkungan sekitar lokasi pekerjaan menjadi prioritas utama disamping keselamatan kerja pada pekerja, bahan dan peralatan kerja. Keselamatan kerja pada lingkungan kerja tidak hanya dilakukan pada saat pekerjaan sedang dilaksanakan tetapi juga pada pekerjaan yang belum selesai, sedangkan kondisinya membahayakan seperti pada pekerjaan galian yang beresiko ada korban setiap saat. Keselamatan kerja yang harus diperhatikan pada lingkungan pekerjaan drainase antara lain : 1) Pada saat pelaksanaan pekerjaan harus di pasang rambu-rambu yang terlihat jelas dan jumlah rambu yang cukup. 2) Untuk pekerjaan tertentu dapat menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk menghindari kemacetan dan resiko kecelakaan. 3) Untuk perkerjaan yang belum selesai, seperti galian maka harus diberikan lampu penerang saat malam hari selain rambu-rambu yang jelas. 3.3.5. Bahaya dan Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja akan dapat diminimalkan apabila telah dilakukan identifikasi bahaya yang kemungkinan terjadi, berikut contoh identifikasi baha pada pekerjaan galian : Tabel 3. 1. Identifikasi Bahaya Pada Pekerjaan Galian No Kegiatan Kondisi tidak aman Tindakan tidak aman Potensi Bahaya Upaya Pencegahan Penanggung jawab 1 Penggalian Banyak lubang Pekerja tidak memperhatikan tanda Pekerja jatuh ke lubang Dipasang rambu, contoh : AWAS ADA GALIAN Kepala Proyek Tanah becek Pekerja tidak pakai safety shoes Terpeleset Air tanah segera di pompa Kepala Proyek Material berceceran Pekerja tidak menempatkan material pada tempatnya dengan rapi Pekerja tersandung Pekerja harus meletakkan alat-alat dan material sisa galian di tempat yang tidak dilalui pekerja lain Kepala Proyek dan Ahli K3 2 Proses penggalian dan pengangkutan alat berat Jalan yang dilewati alat berat tidak rata dan tidak stabil Operator alat berat tidak memperhatikan kondisi jalan Alat berat terguling Sebelum dilewati alat berat harus dipadatkan rata dan stabil Kepala Proyek Tanah tidak stabil Tanah longsor Diberi penyangga atau pagar Kepala Proyek Berikut dokumentasi kejadian kecelakaan warga sekitar yang diakibatkan kelalaian pelaksana pada pekerjaan galian drainase di perkotaan : Gambar 3.2. Kecelakaan Akibat Tidak Adanya Pemasangan Rambu Saat Pekerjaan Galian Drainase Gambar 3.3. Kejadian Dan Proses Evakuasi Korban Kecelakaan Pada Pekerjaan Galian Drainase Di Perkotaan 3.4. Manajemen Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari Sistem Manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi perkembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja. Dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efesien dan produktif. Untuk lebih jelasnya kami akan uraikan sebagai berikut : 1) Struktur Organisasi Program K3 yang dimaksudkan untuk mencapai sasaran melalui penyeragaman unsur-unsur program dengan memanfaatkan berbagai sumber yang ada ke dalam satu strategi K3 antara lain: a) Mendorong komitmen pimpinan puncak untuk menetapkan kebijakan K3 b) Membina dan melaksanakan sasaran K3 untuk fasilitas produksi c) Inspeksi kesehatan dan keselamatan kerja guna pengenalan bahaya-bahaya potensial dalam produksi, dll. 2) Perencanaan Perusahaan harus membuat perencanaan yang efektif guna mencapai keberhasilan penerapan dan kegiatan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja dengan sasaran yang jelas. Langkah-langkah perencanaan yang perlu diperhatikan: a) Perencanaan yang efektif dimui dengan perincian tujuan sasaran K3 secara lengkap dan jelas dengan berdasarkan pada tujuan dan sasaran. b) Menentukan program-program kegiatan yang didasari pada kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 3) Tanggung jawab Pembagian tanggung jawab antara fungsi dan kaitannya dengan masalah K3 juga dilakukan pembagian tanggung jawab menurut jenjang jabatan dalam organisasi. Pelaksanaan rencana dan program K3 pimpinan/manajer harus mempunyai kemampuan untuk menggerakkan, membangkitkan antusias dan membimbing seluruh tenaga kerja karyawan ke arah tujuan, sasaran atau target yang hendak dicapai 4) Pelaksanaan Prosedur Dalam pelaksanaan program kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagaimana dituangkan dalam rencana dan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja, maka sangatlah mendasar fungsi organik manajemen yaitu menggerakkan setiap tenaga kerja yang ada di perusahaan untuk melakukan aktivitas-aktivitas dalam pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. 5) Proses Serangkaian langkah sistematis, atau tahapan yang jelas dan dapat ditempuh berulang kali, untuk mencapai hasil yang diinginkan. Jika ditempuh, setiap tahapan itu secara konsisten mengarah pada hasil yang diinginkan. 6) Sumber Daya Suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat perusahaan memerlukannya dan untuk dapat menunjang aktifitas perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. BAB IV KONSTRUKSI BANGUNAN DRAINASE Capaian Pembelajaran Setelah membaca dan mengkaji buku ini,pembaca akan mampu: 1. Menjelaskan jenis konstruksi pada sistem Drainase; 2. Menjelaskan kriteria konstruksi pada pekerjaan drainase; 3. Menjelaskan dengan benar kegunaan masing-masing bangunan drainase 4.1. Konstruksi Bangunan Saluran Drainase Sistem drainase permukaan berfungsi untuk mengendalikan limpasan air hujan di permukaan jalan dan dari daerah sekitarnya agar tidak merusak konstruksi jalan, seperti kerusakan karena air banjir yang melimpas di atas perkerasan jalan atau kerusakan pada badan jalan akibat erosi. Sistem drainase jalan harus memperhitungkan debit pengaliran dari saluran samping jalan yang memanfaatkan saluran samping jalan tersebut menuju badan air atau resapan buatan. Suatu sistem drainase permukaan jalan terdiri atas kemiringan melintang, perkerasan dan bahu jalan, saluran samping jalan, drainase lereng dan gorong-gorong. Gambar 4.1. Potongan Melintang Sistem Drainase Jalan Pemilihan bentuk dimensi saluran salah satunya dipengaruhi oleh fungsi/ kegunaan drainase dan lokasinya. Drainase yang memiliki fungsi menyalurkan air hujan dengan debit yang cukup besar pada daerah perkotaan dengan daerah yang tidak padat pemukiman sangat berbeda dalam menentukan bentuk dimensi dan bahan salurannya. Berikut tipe-tipe bentuk penampang saluran menurut fungsi dan lokasi drainase : Tabel 4.1. Tipe Bentuk Penampang Saluran, Fungsi dan Lokasinya No Bentuk Saluran Fungsi Lokasi 1 Trapesium Untuk menyalurkan limbah air hujan dengan Q besar yang sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil Pada daerah yang cukup lahan 2 4 persegi panjang Untuk menyalurkan limbah air hujan dengan Q besar yang sifat alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil Pada daearah yang tidak/ kurang tersedia lahan 3 ½ Lingkaran Untuk menyalurkan limbah air hujan dengan Q kecil 4 Segitiga Untuk menyalurkan limbah air hujan dengan Q kecil, Q sangat kecil sampai nol dan banyak lahan endapan 5 Bulat Lingkaran Berfungsi baik untuk menya lurkan air hujan maupun air bekas atau keduanya Pada tempat-tempat keramaian, kesibukan (pertokoan) Sumber : Masduki, 1990 Penggunaan bahan saluran juga menentukan jenis saluran yang akan dibangun, berikut tipe – tipe bentuk saluran dan bahan yang digunakan untuk saluran drainase : Tabel 4. 2 Tipe bentuk saluran dan bahan yang digunakan No Tipe Saluran Potongan Melintang Bahan Yang digunakan 1 Trapesium Tanah Asli 2 Segitiga Pasangan batu kali/ tanah asli 3 Trapesium Pasngan batu kali 4 Segiempat Pasangan batu bata/ batu kalio 5 Segiempat Beton bertulang/ precast pada bagian dasar diberi lapisan pasir + 10 cm 6 Segiempat Beton bertulang/ precast pada bagian dasar diberi lapisan pasir + 10 cm dan pada bagian atas diberi tutup beton bertulang/ precast 7 Segiempat Beton bertulang/ precast pada bagian dasar diberi lapisan pasir + 10 cm dan pada bagian atas diberi tutup beton bertulang/ precast 8 Setengah lingkaran Pasangan batu kali/ beton precast Sumber : Pedoman Perencanaan Drainase Jalan, PU 4.1.1. Konstruksi Saluran Alam Konstruksi saluran alam biasanya terdapat pada daerah pedesaan dan kawasan yang jauh dari pemukiman penduduk. Bentuk dimensi saluran trapesium, karena saluran alam sangat rentan terhadap erosi pada dinding dan dasar saluran, sehingga penerapan kecepatan ijin aliran sesuai ketentuan. Gambar 4.2. Saluran Alami 4.1.2. Konstruksi Saluran Dari Pasangan Batu Kali Untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kehilangan air karena kebocoran (leakage) dan rembesan (seepage) sering kali saluran dilapisi dengan bahan yang tahan terhadap gerusan air. Pelapisan saluran berupa pasangan dari batu, bata merah, beton atau baja (untuk talang dan sipon) atau sering dinamakan dengan lining saluran (canal lining) juga bertujuan untuk memantapkan stabilitas tanggul. Sebenarnya peliningan/ pasangan diperlukan apabila kehilangan air akibat perkolasi tinggi dan kemiringan tanah lebih dari 1,0 sampai 1,5%. Saluran dengan konstruksi pasangan batu kali biasaya digunakan pada saluran irigasi (saluran primer dan sekunder) dan saluran drainase (saluran induk), dengan finishing siar pada pasangan batu dan pada bagian atas dibuat kepala pasangan diplester + 10 cm, dengan tebal pasangan 20 – 30 cm. Berikut gambar dan contoh pekerjaan pasangan batu kali : Gambar 4.3. Saluran Dari Pasangan Batu Kali 4.1.3. Konstruksi Saluran Dari Pasangan Bata Saluran drainase menggunakan bahan pasangan bata banyak digunakan pada saluran di daerah pemukiman/ perumahan dan saluran tersier. Saluran dengan bentuk persegi empat cocok untuk konstruksi saluran dari pasangan batu bata, dengan finishing plesteran pada dasar dan dinding saluran. Berikut contoh pekerjaan saluran dari pasangan batu bata. Gambar 4.4. Saluran Dari Pasangan Bata dengan Finishing Plesteran 4.1.4. Konstruksi Saluran Dari Beton Penggunaan beton sebagai bahan saluran semakin menjadi pilihan dalam pekerjaan saluran, selain lebih praktis, tahan lama, kuat dan bentuk saluran yang tersedia cukup banyak. Berikut contoh saluran beton precast : Gambar 4.5. Saluran Dari Beton Precast Selain beton precast, penggunaan saluran beton dengan cor insitu juga banyak digunakan demikian juga dengan beton ferrocement. Ferocement adalah merupakan material varian dari beton bertulang, namun tebalnya hanya sekitar 10 - 40 mm, dan pada ferosemen sebagai tulangan digunakan jaringan kawat (wiremesh), sejauh ini jaringan kawat telah menjadi pilihan utama lapisan pada ferosemen. Dari pelaksanaannya tersebut sebenarnya penggunaan lining saluran dengan memakai pasangan beton (ferocement) lebih murah dan ekonomis dibandingkan dengan lining saluran memakai pasangan batu kali. Gambar 4.6. Saluran Irigasi dari Ferrosemen 4.2. Konstruksi Bangunan Pelengkap Saluran Drainase 4.2.1. Bangunan Gorong-gorong Gorong-gorong adalah merupakan bangunan perlintasan karena adanya saluran yang melintasi jalan. Perencanaan gorong-gorong di dasarkan atas besarnya debit pengaliran sesuai dengan keadaan saluran dan sifat-sifat hidrolisnya. Penempatan gorong-gorong harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a) Berfungsi untuk menampung air dari hulu saluran drainase dan mengalirkannya; b) Harus cukup besar untuk melewatkan debit air secara maksimum dari daerah pengaliran secara efisien. c) Harus dibuat dengan tipe permanen, gorong-gorong memiliki tiga konstruksi utama terdiri · Pipa kanal air utama yang berfungsi untuk mengalirkan air dari bagian hulu ke hilir secara langsung; · Apron (dasar) dibuat pada tempat masuk untuk mencegah terjadinya erosi dapat juga dapat berfungsi sebagai dinding penyekat lumpur · Bak penampung diperlukan pada kondisi: · pertemuanan antara gorong-gorong dan safuran tepi; · pertemuan lebih dari dua arah aliran. Penentuan tebal bantalan dan urugan untuk pemasangan gorong-gorong tergantung pada kondisi tanah dasar dan berat gorong-gorong dan beban yang bekerja di atasnya. Bantalan dapat dibuat dari: · beton non struktural: · pasir urug. Urugan minimum yang diijinkan tergantung dari kekuatan ijin bahan konstruksi gorong-gorong dan beban yang bekerja di atasnya. Pemasangan tembok kepala (head wall) dan tembok sayap (wing wall) gorong-gorong dimaksudkan untuk melindungi gorong-gorong dari bahaya longsor tanah yang terjadi di atas dan samping gorong-gorong akibat adanya erosi-air atau beban lalu lintas yang berada di atas gorong-gorong. Daftar 4.3. Tipe dan Bahan Gorong-Gorong No Tipe Gambar Bahan Yang dipakai 1 Pipa tunggal atau lebih Metal gelombang, beton bertulang atau beton tumbuk, besi cor dan lain-lain 2 Gorong-gorong persegi (Box Culvert) Beton bertulang / precast 3 Kombinasi Beton bertulang / precast Gambar 4.7 Gorong-gorong 4.2.2. Bangunan Pertemuan Saluran (Junction) Junction adalah pertemuan dua saluran atau lebih dari arah yang berbeda pada suatu titik. Pada kenyataan, pertemuan dua saluran ini mempunyai ketinggian dasar saluran yang tidak terlalu sama, sehingga kehilangan tekanannya sulit diperhitungkan. Pertemuan saluran ini diusahakan mempunyai ketinggian yang sama untuk mengurangi konstruksi yang berlebihan yaitu dengan jalan optimasi kecepatan untuk menghasilkan kemiringan yang diinginkan. Untuk mengurangi kehilangan tekanan terlalu besar dan keamanan konstruksi, maka dinding pertemuan saluran dibuat tidak bersudut atau dibuat lengkung serta diperhalus. Untuk pertemuan saluran yang berbeda jenis maupun bentuknya digunakan bak yang berfunsi sebagai bak pengumpul. 4.2.3. Bangunan Terjunan. Bangunan terjunan merupakan bangunan saluran yang digunakan untuk mengurangi keceapatan aliran akibat beda tinggi yang terlalu besar antara bagian hulu dan hilir atau kemiringan melebihi kemiringan kritisnya. Kemiringan saluran ditentukan berdasarkan bahan yang digunakan. Hubungan antara bahan yang digunakan dengan kemiringan saluran arah memanjang dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel 4.4. Kemiringan Saluran (Is)berdasarkan jenis material tanah No Jenis Material Is (%) 1 Tanah Asli 0 - 5 2 Kerikil 5 – 7.5 2 Pasangan < 7.5 Sumber : Pedoman Perencanaan Drainase Jalan, PU Pematah arus nama lain dari bangunan terjunan untuk mengurangi kecepatan aliran diperlukan untuk saluran yang panjang dan mempunyai kemiringan cukup besar. Berikut ketentuan pemasangan jarak pematah arus (Lp) pada saluran : Is = 1 % Lp Gambar 4.8. Pematah Arus Tabel 4.5. Hubungan Kemiringan saluran (Is) dan Jarak Pematah Arus (Lp) Is (%) 6 7 8 9 10 Lp (m) 16 10 8 7 6 Sumber : Pedoman Perencanaan Drainase Jalan, PU Gambar 4.9. Konstruksi Bangunan Terjun 4.2.4. Bangunan Bak Kontrol (Man Hole) Bak kontrol merupakan tempat masuknya air (inlet) dan saluran untuk menampung aliran permukaan yang akan disalurkan ke sistem drainase saluran tertutup dan merupakan ruang akses bagi jaringan pipa serta untuk pemeliharaan. Ukuran bak kontrol yang digunakan untuk melakukan inspeksi yang aman bagi pejalan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan juga kemudahan dalam pemeliharaan rutin (bak kontrol mudah dibuka dan ditutup) serta aman bagi pejalan kaki (untuk saluran tertutup yang berada di bawah trotoar). Pada saluran yang tertutup harus dibuat bak control (Man Hole) pemeriksa dengan fungsi : · Sebagai bak kontrol, untuk pemeriksaan dan pemeliharaan saluran. · Untuk memperbaiki saluran bila terjadi kerusakan saluran. · Melengkapi struktur bila terjadi perubahan dimensi. · Sebagai ventilasi untuk keluar masuknya udara. · Sebagai terjunan (drop manhole) saluran tertutup. Penempatan manhole terutama pada titik-titik dimana terletak street inlet, belokan pertemuan saluran dan diawali dan diakhiri saluran pada gorong-gorong. Pada saluran yang lurus dan panjang, penempatan manhole tergantung pada diameter saluran. Tabel 4.6. Jarak manhole Pemeriksa Pada Saluran Lurus Diameter Saluran (cm) Jarak (m) 20 – 50 60 – 100 100 – 200 200 10 – 25 25 – 75 75 – 150 150 – 200 Sumber : Babbit, Sewerage and Sewerage Treatment, 1969 Gambar 4.10. Konstruksi Bangunan Manhole 4.2.5. Bangunan Street Inlet Street Inlet ini adalah lubang di sisi-sisi jalan yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang berada di sepanjang jalan menuju ke dalam saluran. Sesuai dengan kondisi dan penempatan saluran serta fungsi jalan yang ada, maka pada jenis penggunaan saluran terbuka, tidak diperlukan street inlet, karena ambang saluran yang ada merupakan bukaan bebas. Perlengkapan street inlet mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut : · Ditempatkan pada daerah yang rendah di mana limpasan air hujan menuju ke arah tersebut. · Air yang masuk melalui street inlet harus dapat secepatnya menuju ke dalam saluran. · Jumlah street inlet harus cukup untuk dapat menangkap limpasan air hujan pada jalan yang bersangkutan. Jenis Inlet adalah : a) lnlet got tepi (gutter inlet), lubang bukaan terletak mendatar secara melintang pada dasar got tepi, berbatasan dengan batu tepi. Tipe penutup: sekat vertikal, horisontal, sekat campuran dan berkisi. b) Inlet kereb tepi (curb inlet), lubang bukaan terletak pada biding batu/kerb tepi dengan arah masuk tegak lurus pada arah aliran got tepi, sehingga kerb tepi bekerja sebagai pelimpah samping. Gambar 4.11. Konstruksi Bangunan Street inlet 4.2.6. Bangunan Sumur Resapan Air adalah salah satu kebutuhan vital bagi manusia. Demikian pentingnya fungsi dan kedudukannya, hingga di jaman modern ini, air menjadi salah satu produk yang diperjual belikan. Namun tahukah anda bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berefek pada menurunnya kualitas air? Berkurangnya area resapan karena kurang terencananya pembangunan, erosi, abrasi, banjir hingga kemarau berkepanjangan menjadi sebab menurunnya kualitas air, terutama yang terkandung dalam tanah. Kondisi tersebut tidak bisa didiamkan bagitu saja. Harus ada upaya untuk mencari jalan keluar untuk memperbaiki kualitas air tanah. Usaha perbaikan ini bisa dimulai dari lingkungan rumah dimana kita tinggal. Salah satu caranya dengan membuat sumur resapan. Sumur resapan merupakan sebuah sarana berupa sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah dengan baik. Sumur resapan ini memiliki banyak manfaat diantaranya, sebagai pengendali banjir, melindungi serta memperbaiki kualitas air tanah, menekan laju erosi dan dalam jangka waktu lama dan dapat memberi cadangan air tanah yang cukup. Secara sederhana, prinsip kerja sebuah sumur resapan yaitu menyimpan (untuk sementara) air hujan dalam lubang yang sengaja dibuat, selanjutnya air tampungan akan masuk ke dalam tanah sebagai air resapan (infiltrasi). Air resapan ini selanjutnya menjadi cadangan air tanah. 1) Persyaratan Pembuatan Untuk membuat sumur resapan ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan, diantaranya: a) Dibuat pada lahan yang lulus air dan tahan longsor b) Harus bebas dari pencemaran maupun kontaminasi limbah c) Air yang masuk ke dalam sumur resapan adalah air hujan d) Untuk daerah bersanitasi lingkungan buruk, yaitu daerah dengan kondisi sarana air limbah, air hujan dan system pembuangan sampahnya tidak memenuhi persyaratan sanitasi, sumur resapan hanya menampung air hujan dari atap yang disalurkan melalui talang e) Mempertimbangkan aspek hidrogeologi, geologi dan hidrologi 2) Pemilihan Lokasi Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan untuk memilih lokasi pembuatan sumur resapan (menurut Standar Nasional Indonesia /SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan adalah: a) Keadaan muka air tanah Untuk mengetahui keadaan muka air tanah dapat ditentukan dengan cara mengukur kedalamannya permukaan air tanah terhadap permukaan tanah dari sumur di sekitarnya pada musim hujan. b) Permeabilitas tanah Permeabilitas tanah merupakan kemampuan tanah untuk dapat dilalui air. Permeabilitas tanah yang dapat dipergunakan untuk sumur resapan terbagi dalam tiga kelas,yaitu : · permeabilitas tanah sedang (jenis tanah berupa geluh/lanau, memiliki daya serap 2,0 – 6,5 cm/jam) · permeabilitas tanah agak cepat (jenis tanah berupa pasir halus, memiliki daya serap 6,5 – 12,5 cm/jam) · permeabilitas tanah cepat (jenis tanah berupa pasir kasar, memiliki daya serap 12,5 cm/jam) 3) Penempatan Sumur Resapan Untuk membuat memaksimalkan fungsi sumur resapan air hujan, kita perlu memperhatikan keadaan lingkungan setempat. Misal jarak sumur resapan dengan jalan, rumah, septic tank maupun sumur air minum. Jarak minimum sumur resapan dengan jalan kurang lebih 1,5 meter. 4) Jenis Sumur Resapan Bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan, berkurangnya daerah resapan air karena makin banyak permukaan tanah yang tertutup bangunan dan jalan berdampak pada berkurangnya daya serap tanah terhadap air. Pembuatan sumur resapan di lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu solusi memperbaiki kualitas air tanah. Penerapan sumur resapan pada lingkungan tempat tinggal (terutama di wilayah perkotaan) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a) Sumur resapan individu Sesuai dengan namanya, semur resapan individu merupakan sumur resapan yang dibuat pada masing-masing rumah tinggal. Dampak sumur resapan akan maksimal jika masing-masing rumah ikut membuatnya. Peletakkan sumur resapan dapat memanfaatkan lahan sisa maupun pekarangan yang ada. Langkah-langkah untuk membuat sumur resapan individu ini yaitu : · Memeriksa tinggi muka air tanah, tinggi muka air tanah yang dipersyaratkan adalah >3 meter · Memeriksa permeabilitas tanah, permeabilitas tanah yang baik adalah lebih besar atau sama dengan 2 cm/jam · Memperhatikan persyaratan jarak Jumlah sumur resapan pada sebuah lahan pekarangan ditentukan berdasarkan curah hujan maksimum, b) Sumur resapan kolektif Jenis sumur resapan ini dibuat secara kolektif (bersama) dalam sebuah komunitas warga masyarakat dengan skala besar dan membutuhkan lahan cukup luas. Sumur resapan kolektif dapat berupa kolam resapan, sumur resapan dalam maupun resapan parit berorak. Tidak jarang area sumur resapan kolektif bisa dijadikan tempat rekreasi bersama di dalam sebuah kompleks perumahan. 5) Spesifikasi Pembuatan Sumur Resapan Untuk membuat sumur resapan yang baik ada beberapa hal teknis yang harus diperhatikan, yaitu : a) Penutup Sumur Untuk penutup sumur dapat dipilih beragam bahan diantaranya : · Pelat beton bertulang tebal 10 cm dicampur dengan satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil (1pc : 2ps : 3kr) · Pelat beton tidak bertulang tebal 10 cm dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak diberi beban di atasnya atau, · Ferocement (setebal 10 cm). b) Dinding sumur bagian atas dan bawah Pembuatan dinding sumur dapat memanfaatkan buis beton. Dinding sumur bagian atas dapat menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir (1pc : 4ps), diplester dan diaci semen. c) Pengisi Sumur Pengisi sumur dapat berupa batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga. d) Saluran air hujan Dapat menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm, pipa beton berdiameter 200 mm maupun pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 mm. 6) Perawatan Untuk menjaga agar kondisi sumur resapan tetap berfungsi dengan baik maka perlu diadakan pemeriksaan secara periodik, setidaknya setiap 6 bulan sekali. Pemeriksaan itu meliputi : - Aliran masuk - Bak control - Kondisi sumur resapan Pembuatan sumur resapan air hujan merupakan salah satu solusi untuk menjaga cadangan dan kualitas air agar terjaga dengan baik. Dalam skala yang lebih luas dapat pula memperbaiki kualitas lingkungan sekitar. Kita bisa mulai membuatnya di rumah yang kita tempati. Namun alangkah baiknya jika dilakukan secara bersama-sama dan menjadi gerakan massal. Sebuah tindakan kecil sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan yang kita tempati. Gambar 4.12.Sketsa Penempatan dan Konstruksi SumurResapan Sumber : http://pengairan.banyuwangikab.go.id/ 4.2.7. Bangunan Out Fall Out fall merupakan ujung saluran yang ditempatkan pada sungai atau badan air penerima lainnya. Struktur out fall ini hampir sama dengan struktur bangunan terjunan, karena biasanya titik ujung saluran terletak pada elevasi yang lebih tinggi dari pada badan air penerima, sehingga dalam perencanaan out fall ini merupakan bangunan terjunan miring dari konstruksi pasangan batu kali/batu belah dengan jenis sky jump. 4.3. Konstruksi Bangunan Sementara Drainase 4.3.1. Turap Turap adalah dinding vertikal yang relatif tipis yang berfungsi untuk menahan tanah ataupun menahan masuknya air ke dalam lubang galian. Fungsi turap sama persis seperti dinding penahan tanah. Perbedaan turap dan dinding penahan tanah, dari segi konstruksi turap lebih ringan dan tipis, sedangkan DPT berat dan besar. Turap pelaksanaannya cepat, sedangkan DPT relatif lebih lama. Stabilitas turap berdasarkan jepitan pada tanah/angker, sedangkan DPT berdasarkan berat sendiri. Terapat 2 (dua) hal yang harus diingat dalam penerapan turap yaitu turap tidak cocok untuk menahan timbunan tanah yang sangat tinggi dan tidak cocok digunakan pada tanah granular / berbatu. Penerapan turap sering digunakan pada konstruksi pada bangunan dermaga turap, bangunan Coffer dam, bangunan pemecah gelombang atau bangunan penahan tanah.Tipe turap berdasarkan bahan antara lain : 1) Turap Kayu Jenis turap yang digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak tinggi, pada pada tanah yang tidak berkerikil dan banyak digunakan untuk pekerjaaan sementara; Penahan tebing galian 2) Turap Beton Jenis turap beton pada umumnya dibuat secara fabrikasi, dengan kemampuan stabilitas akibat momen tekanan tanah dan momen pengangkatan, dengan ketebalan minimum ± 20 cm. 3) Turap Baja Jenis turap baja memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis turap lain terutama turap beton yaitu memiliki konstruksi lebih ringan dibanding beton, mudah dipancang, mudah dibongkar, mudah dalam penyambungan dan memiliki keawetan yang tahan lama. Dalam pemilihan tipe konstruksi turap didasarkan pada beban atau gaya lateral yang akan diterima turap, antara lain tekanan aktif/ pasif tanah, ketidakseimbangan muka air, beban lain yang bekerja di atas/ di sekitar turap dan gaya gempa. Adapun tipe konstruksi turap antar lain berupa: · Dinding turap kantilever; · Dinding turap dengan angker; · Dinding turap dengan platform; · Dinding turap untuk bendungan elak seluler. Jenis Lembaran Baja Profil Untuk Turap A. Universal Joist B. Simplex C, Larssen D. Marihaye E. Hoesh F. Klockner F. Dortmunder union Gambar 4.12. Jenis Profil Turap Baja Jenis Skor (penahan turap baja) Gambar 4.13. Jenis Profil Turap Baja Berikut contoh penggunaan konstruksi turap pada pekerjaan drainase : (a) Turap pada Galian Tanah Saluran (b) Turap pada pembuatan terowongan (c) Turap pada pekerjaan urugan tanah (d) Turap beton untuk cofferdam Gambar 4.14. Jenis Konstruksi Bangunan Turap 4.3.2. Bangunan Kistdam/ Cofferdam Kisdam dapat dibuat dari tanggul (timbunan tanah yang dipadatkan) atau dari turap dari baja (sheet pile) yang diisi tanah timbunan untuk mencegah agar air tidak masuk atau untuk mengalihkan aliran air dari daerah yang ada di dalam kisdam yang akan merupakan daerah kerja. Biasanya di dalam kisdam kemungkinan masih ada/ banyak air. Sehingga air tersebut perlu dikeluarkan agar daerah kerja tersebut tetap kering, dengan menggunakan pompa. Pekerjaan kisdam diikuti oleh pekerjaan pengeringan. Pekerjaan pengeringan atau dewatering adalah pekerjaan pembuangan air dari daerah kerja, sehingga daerah kerja selalu kering. Untuk mendapatkan daerah kerja yang kering ini maka daerah kerja tersebut perlu dilokalisir dari aliran, dengan beberapa cara: · Dengan mengelakkan aliran · Dengan kisdam/turap baja Gambar 4.15. Bangunan Kisdam 4.4. Konstruksi Bangunan Drainase Khusus Perkembangan drainase dewasa ini tidak hanya pada kawasan perkotaan atau pemukiman, terdapat sistem drainase dari beberapa kawasan khusus yang memerlukan perencanaan dan metode pelaksanaan pembangunan secara khusus juga. Konstruksi drainase khusus diantaranya adalah : 1) Konstruksi Drainase Lapangan Terbang 2) Konstruksi Drainase Lapangan Olah Raga 4.4.1. Konstruksi Drainase Lapangan Terbang Kawasan bandara merupakan area yang cukup luas, sehingga air hujan yang jatuh harus di alirkan pada system drainase, sehingga tidak mengganggu fungsi utama lapangan terbang. Adapun fungsi drainase lapangan terbang antar lain : · Intersepsi dan mengalirkan air permukaan dan air tanah yang berasal dari lokasi di sekitar lapangan terbang. · Membuang air permukaan dari lapangan terbang · Membuang air bawah tanah dari lapangan terbang Sistem drainase lapangan terbang biasanya terdiri dari drainase permukaan (surface drainage) dan drainase bawah permukaan (surface drainage). Drainase permukaan pada system lapangan terbang berfungsi untuk menangani air permukaan di sekitar lapangan terbang, khususnya yang berasal dari hujan, sedangkan drainase bawah permukaan berfungsi : a) membuang air dari base course b) membuang air dari subgrade di bawah permukaan c) menerima, mengumpulkan, dan membuang air dari mata air atau lapisan tembus air. Untuk saluran bawah tanah dapat dipakai pipa berlubang dengan bahan pipa terbuat dari metal, beton, PVC,dll. Lubang-lubang biasanya meliputi sepertiga dari keliling pipa. Berdasarkan pengalaman, pipa dengan diameter 6 in (15 cm) sudah cukup untuk mengalirkan air. Dua tipe tampang melintang drainase lapangan terbang sebagai berikut: Rumway Shoulder Shoulder Gambar 4. 16. Potongan Melintang Drainase Lapangan Terbang Layout Drainase Permukaan a) Penentuan layout sistem drainase permukaan didesain berdasarkan hasil akhir peta kontur landasan pacu (runway), landasan taksi (taxiway), dan apron. b) Layout harus dapat menghindari gerusan dan pengendapan saluran. c) Jika digunakan saluran bulat maka diameter minimumnya tidak boleh kurang dari 12 inchi (30 cm). d) Jarak antar inlet (lubang pemasukan) ke arah memanjang berkisar antara 60 – 120 m sedangkan jauhnya tidak lebih dari 75 ft (22,5 m) dari tepi perkerasan. e) Inlet pada apron diletakkan pada perkerasan. Gambar 4.17. Layout Drainase Permukaan Lapangan Terbang Gambar 4.18. Detail Potongan Melintang Drainase Bawah Permukaan Lapangan Terbang 4.4.2. Konstruksi Drainase Lapangan Olah Raga 1) Drainase lapangan sepak bola Proses membangun lapangan sepak bola yang benar harus diperhatikan dari nol atau dari dasar yang secara umum hal yang berpengaruh dari proses pembangunan lapangan sepak bola yang benar meliput 3 pilar yang berpengaruh antara lain : a) System drainase, yaitu sistim yang dibangun dengan teknik khusus yang bertujuan untuk mengatur agar air dilapangan sepak bola tidak terjadi genangan sedikitpun walaupun terjadi guyuran air hujan sebanyak banyaknya, sehingga lapangan tetap dapat digunakan dengan normal walaupun kondisi ada guyuran air hujan b) Instalasi air, yaitu adanya instalasi pengairan yang menyeluruh yang mampu menyiram lapangan secara keseluruhan secara normal sesuai dengan perhitungan kebutuhan penyiraman guna memenuhi syarat hidup dengan baik rumput lapangan sepak bola, instalasi air bisa diseting untuk sistim penyirman Automaticly, semi Aoutomaticly, manual. c) Grassing atau rumput hidup, satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari semua sistim adalah bertujuan agar rumput sebagai material utama dalam proses pembuatan lapangan sepak bola adalah agar rumput dapat hidup dengan baik. Gambar 4.19. Lapangan Sepak Bola Dalam prose pembangunan drainasi lapangan sepak bola meliput aspek : a) Kemiringan dan kerataan, systim drainasi harus dapat dibuat dengan kemiringan supaya air dapat terserap secara baik dan dapat dibuang dengan cepat tetapi menghasilkan lapangan yang tingkat kerataannya tinggi. b) Proses pembuatan drainase juga harus dikondisikan supaya sistim drainasi tidak rentan terhadap penyumbatan, bahkan dibuat sedemikian rupa agar dapat dinormalisasi secara automaticly secara berkala c) Drainase harus dikondisikan supaya tidak mengurangi fungsi lapangan sepak bola sebagai sarana pertandingan Gambar 4.20. Denah Sistem Drainase Lapangan Sepak Bola Untuk menunjang permainan syarat mutlak yang harus dimiliki lapangan sepak bola adalah bebas dari genangan, untuk itu lokasi lahan dilapisi dengan material porous sebelum ditanami rumput. Air hujan yang jatuh dianggap seluruhnya meresap kedalam tanah karena adanya pergantian lapisan yang lebih porous. Material yang digunakan adalah kerikil dan pasir. Kedalaman pasir adalah 30 cm terletak pada lapisan paling atas, dibawah lapisan pasir terdapat kerikil dengan ketebalan 15 cm, sehingga total kedalaman adalah 45 cm. Pipa drainase dipasang pada saluran dengan ukuran 30 cm x 30 cm pada dasar lapisan. Lapisan ijuk dipasang mengelilingi pipa dengan ketebalan 3 cm untuk menyaring tanah agar tidak masuk ke dalam pipa. Penampang melintang saluran drainase bawah permukaan dapat dilihat digambar berikut : Gambar 4.21. Susunan Lapisan Tanah Lapangan Sepak Bola Gambar 4.22. Pekerjaan Drainase Lapangan Sepak Bola 2) Konstruksi Drianase Lapangan Golf Drainase lapangan golf merupakan drainase bawah permukaan, sebagaimana drainase lapangan sepak bola. Kemiringan lahan lapangan golf dijadikan bagian dari pertimbangan arah aliran dari pipa cabang dan pipa utama menuju badan penerima danau buatan sebagai resapan. Komponen yang ada pada system drainase lapangan golf antara lain : a) Pipa berlubang b) Lapisan tanah poros c) Lapisan saringan d) Inlet saluran e) Bak kontol f) Badan penerima Gambar 4.23. Pekerjaan Galian Drainase Lapangan Golf Gambar 4.24. Jenis bahan Pipa Drainase Lapangan Golf Gambar 4.25. Pekerjaan Drainase Lapangan Golf BAB V PRAKTEK KERJA DRAINASE 5.1. Praktek Pekerjaan Papan Duga/ Bowplank Saluran Drainase 5.1.1. Pekerjaan Bowplank Papan duga/ bowplank/ stakeout merupakan bagian dari pekerjaan yang harus dilakukan diawal pada pekerjaan drainase. Bowplank berfungsi menjadi acu an dalam menentukan kelurusan arah jaringan, acuan kedalaman galian saluran dan pekerjaan lainnya dalam pekerjaan drainase. Pemasngan bowplank dalam pekerjaan drainase harus memperhatikan hal-hal berikut : 1) Jarak antar bowplank tidak lebih dari 25 meter 2) Pekerjaan setiap ruas saluran dengan kemiringan yang sama, maka elevasi antar bowplang harus datar 3) Lebar bowplank disesuaikan dengan lebar saluran yang akan digali 4) Konstruksi bowplank harus kuat dan berfungsi selama pekerjaan galian tanah 5.1.2. Tujuan Praktek Praktek pekerjaan bowplank bertujuan : 1) Mendirikan bowplank sesuai dengan kondisi jaringan drainase 2) Menentukan letak dan lebar bowplank sesuai dengan dimensi saluran 3) Melakukan penandaan pada bowplank yaitu letak as dan lebar saluran 4) Melakukan pengujian pekerjaan bowplank : kekuatan, kedataran antar bowplank dan ketegakan patok bowplank 5.1.3. Bahan danAlat Bahan yang digunakan pada pekerjaan bowplank antara lain : 1) Kayu Usuk 5/7 2) Papan 2/20 3) Benang Nilon 4) Paku 1,5 “ 5) Cat Meni Peralatan yang digunakan pada pekerjaan bowplank antara lain : 1) Palu 3 kg dan 10 Kg 2) Gergaji Potong Kayu 3) Kuas 1,5 “ 4) Selang air ᴓ 0,5 – 1 cm panjang 10 -25 m 5) Cangkul 6) Meteran 5.1.4. Instruksi Kerja Untuk menghasilkan pekerjaan bowplank dalam praktek ini yang benar maka lakukan instruksi kerja berikut ini : 1) Pestikan diri telah menggukan pakaian kerja dan kelengkapan K3 2) Persiapkan bahan dan peralalatan yang dibutuhkan 3) Pelajari gambar kerja dengan teliti dan cermat 4) Gunakan peralatan sesuai dengan fungsinya 5) Potong kayu usuk 5/7 dan papan 2/20 sesuai gambar kerja 6) Lakukan pemasangan patok kayu dan papan bowplank pada satu sisi dan lakukan pada sisi yang lain dengan melakukan pengecekan elevasi yang sama antar bowplank 7) Lakukan penandaan pada papan bowplank : as saluran dan lebar saluran/ galian 8) Simpan alat dan sisa bahan pada tempatnya jika pekerjaan telah selesai 5.1.5. Gambar Kerja Rencana Saluran 50 – 100 cm 50 – 100 cm 30 – 50 cm Gambar 5.1a. Tampak Depan Bowplank +0.50 +0.50 Level Bowplank (datar) Dasar Saluran 30 – 50 cm (awal galian) Gambar 5.1b. Tampak Samping Bowplank Rencana Saluran AS Gambar 5.1c. Penandaan As Saluran Gambar 5.1d. Pekerjaan Bowplank Saluran 5.2. Praktek Rencana Galian Saluran Drainase 5.2.1. Pekerjaan Galian Saluran Pekerjaan galian saluran merupakan pekerjaan untuk menentukan dimensi saluran dan bentuk saluran. Setiap lokasi saluran drainase memiliki jenis tanah yang berbeda antara lokasi satu dengan lokasi lainya, sehingga sangat menentukan metode penggalian dan alat yang akan digunakan untuk penggalian tanah. Tanah hasil galian diletakkan pada salah satu sisi saluran sebelum dibuang ke lokasi lain, sedangkan sisi lainnya dapat digunakan untuk meletakkan bahan atau alat. Keselamatan kerja dalam pekerjaan galian harus menjadi prioritas baik saat penggalian atau saat pekerjaan itu ditinggalkan (dalam keadaan berlubang) yaitu keselamatan bagi lingkungan/ warga, apalagi jika pekerjaan galian tersebut berada di ruas yang padat lalu lintasnya. Upaya K3 yang wajib di lakukan adalah dengan memasang rambu, pembatas, petugas dan atau lampu saat malam haari. Pekerjaan penggalian dipengaruhi oleh jenis tanahnya yaitu tanah kohesif (cohesive), granular dan fissured. Adapun tahapan penggalian secara umum adalah : 1) Pembersihan Medan 2) Kupasan 3) Galian · Galian Terbuka · Galian biasa · Galian biasa untuk material timbunan · Galian biasa sebagai bahan buangan · Galian batu · Galian batu tanpa menggunakan bahan peledak · Galian batu menggunakan bahan peledak · Galian Bangunan Pelaksanaan penggalian secara umum dibagi 2 : a. Penggalian terbuka (open cut / open excavation) b. Penggalian dengan sistem penopang (braced excavation / top down) Gambar 5.2a. Penggalian Terbuka (open cut / open excavation) Gambar 5.2b.Penggalian dengan sistem penopang (braced excavation / top down) Gambar 5.2c.Pekerjaan Penggalian Sesuai Jenis Tanah 5.2.2. Tujuan Praktek Tujuan dari praktek rencana galian tanah adalah : 1) Menentukan lebar dan kedalaman galian pada saluran drainase 2) Menentukan kemiringan dasar saluran drainase 3) Melakukan pengecekan kemiringan dengan boning rod 5.2.3. Bahan Dan Alat Bahan – bahan yang digunakan antara lain : 1) Bahan untuk pekerjaan bowplank 2) Kayu papan 2/10 Peralatan yang digunakan antara lain : 1) Peralatan untuk pekerjaan bowplank 2) Cangkul 3) Lempak 4) Skop 5) Pompa Air 6) Boning rod 7) Meteran 5.2.4. Instruksi Kerja Untuk menghasilkan pekerjaan rencana penggalian tanah dalam praktek ini yang benar, maka lakukan instruksi kerja berikut ini : 1) Buatlah bowplank pada rencana jaringan saluran sesuai gambar kerja 2) Buatlah boning rod untuk pengecekan kemiringan saluran 3) Buatlah rencana kedalaman galian (pada 3 titik) di satu ruas saluran sesuai dengan kemiringan saluran pada bowplank yang telah terpasang 4) Lakukan penggalian tanah sesuai dengan kedalaman dan kemiringan saluran (pada 3 titik). 5) Letakkan sisa galian tanah pada satu sisi kiri/ kanan saluran drainase 6) Lakukan pengecekan kedalaman dan kemiringan saluran dengan menggunakan boning rod 7) Letakkan peralatan pada tempatnya saat istirahat dan simpanlah sisa bahan dan peralatan pada gudang jika pekerjaan telah selesai. 8) Selama bekerja gunakan peralatan K3 dengan benar. 5.2.5. Gambar Kerja 1 3 2 4 5 6 7 8 Gambar 5.2d, Denah Jaringan Saluran Drainase Tabel 5.2. Data Rencana Saluran Saluran Panjang Saluran (m) Kemiringan Saluran (%) Lebar Saluran (m) 1 – 3 – 5 2 – 3 4 – 5 5 – 7 – 8 6 – 7 10 15 17 12 16 3 2 1.5 3.5 2.5 50 30 35 50 35 Gambar 5.2e, Boning Rod BP 6-7 BP 2-3 BP 1 -5 1 3 2 4 5 6 7 8 BP 4-5 BP 5-8 BP 2-3 BP 4-5 BP 6-7 BP 1 -5 BP 5-8 Gambar 5.2f, Penempatan Bowplank ∆H = S x L S (%) Tanah Asli Panjang Saluran, L (m) a. Menentukan Kemiringan saluran pada bowplank S (%) Dasar Saluran S (%) 30 – 50 cm (awal /akhir galian) b. Menentukan Kedalaman Saluran Gambar 5.2f, Pembuatan Rencana Kemiringan dan Kedalaman Saluran Drainase Boning Rod S (%) Dasar Saluran S (%) 30 – 50 cm (awal /akhir galian) Gambar 5.2g, Pengecekan Kemiringan Saluran Drainase 5.3. Praktek Jaringan Saluran Drainase 5.3.1. Jaringan Saluran Drainase Perencanaan jaringan drainase dipengaruhi oleh kondisi topografi, luasan dan bentuk daerah. Jaringan drainase di bedakan menjadi beberapa tingkatan yaitu saluran induk, saluran cabang dan saluran awalan atau saluran primer, saluran skunder, saluran tersier dan seterusnya. Adapun pola bentuk jaringan drainase antara lain : a) Pola jaringan drainase alamiah Gambar 5.3a. Pola Jaringan Drainase Alamiah b) Pola jaringan drainase Perumahan dan Perkotaan Gambar 5.3b. Pola Jaringan Bentuk Siku · Gambar 5.3c. Pola Jaringan Bentuk Paralel Gambar 5.3d. Pola Jaringan Bentuk Grid Iron Gambar 5.3e. Pola Jaringan Bentuk Jaring-jaring Gambar 5.3f. Pola Jaringan Bentuk Radial 5.3.2. Tujuan 1) Menentukan kedalaman galian saluran sesuai dengan kedalaman saluran yang lain sesuai dalam satu jaringan drainase 2) Mengidentifikasi kebutuhan bangunan pelengkap pada jaringan drainase 5.3.3. Bahan dan Alat Bahan – bahan yang digunakan antara lain : 3) Bahan untuk pekerjaan bowplank 4) Kayu papan 2/10 Peralatan yang digunakan antara lain : 1) Peralatan untuk pekerjaan bowplank 2) Cangkul 3) Lempak 4) Skop 5) Pompa Air 6) Boning rod 7) Meteran 5.3.4. Instruksi Kerja 1) Rencanakan dan hitunglah kedaman saluran di awal galian dan akhir saluran sesuai dengan jaringan drainase. Contoh : Jika panjang ruas L 1-3 = 5 m, Sloop S 1-3 = 3% =0.03, maka beda tinggi di titik 3, ∆H = 5 x 0.03 = 0.015 m Jika kedalaman awal galian di titik 1 dari benang datar bowplank = 1,25 m, maka kedalaman di titik 3 dari benang datar bowplank = 1,25 + 0.015 = 1,265 m, sehingga kedalaman saluran 2 – 3 pada titik 3 harus < 1,265 m. Lakukan perhitungan serupa untuk percabangan saluran titik 5 dan 7. 2) Lakukan penggalian saluran sesuai dengan kemiringan saluran drainase 3) Letakkan sisa galian tanah pada satu sisi kiri/ kanan saluran drainase 4) Lakukan pengecekan kedalaman dan kemiringan saluran dengan menggunakan boning rod 5) Letakkan peralatan pada tempatnya saat istirahat dan simpanlah sisa bahan dan peralatan pada gudang jika pekerjaan telah selesai. 6) Selama bekerja gunakan peralatan K3 dengan benar. 5.3.5. Gambar Kerja Jika pola jaringan pada praktek sebelumnya digunakan, maka praktek pembuatan jaringan dan perencanaan saluran adalh sebagai berikut : 1 3 2 4 5 6 7 8 Gambar 5.3g. Pola Jaringan Saluran Drainase Gambar detail contoh perhitunga diatas adalah sebagai berikut : Sal. 2-3 Sal. 1-3 Gambar 3.3h. Dasar Saluran di Titik 3 dari Saluran 1-3 sama dengan Saluran 2-3 Sal. 2-3 Sal. 1-3 Gambar 3.3i. Dasar Saluran di Titik 3 dari Saluran 1-3 lebih rendah Saluran 2-3 Sal. 1-3 Sal. 2-3 Gambar 3.3j. Dasar Saluran di Titik 3 dari Saluran 1-3 lebih tinggi Saluran 2-3 ( SALAH ) 5.4. Praktek Pemasangan Saluran Buis Beton/ Pracetak 5.4.1. Saluran Beton Pracetak Penggunaan beton pracetak sebagai saluran sangat popular, karena cukup kuat dan praktis dalam pemasangannya. Dimensi beton pracetak atau disebut juga buis beton, dipasaran bentuk dan ukuran sangat bervariasi. Saluran menggunakan buis beton juga sering dipadukan dengan pasangan bata atau ferosemen, terutama bentuk setengah lingkaran, sehingga untuk saluran drainase perumahan sangat cocok. Pas. Bata Buis Beton Gambar 5.4a. Kombinasi Saluran Buis Beton dan Pasangan Bata 5.4.2. Tujuan Praktek 1) Mengetahui tahapan pemasangan dan melakukan pemasangan saluran beton pracetak sesuai kemiringan saluran 2) Mengetahui konstruksi perletakan pemasangan saluran beton pracetak 3) Melakukan pengetesan kemiringan dan kebocoran pada saluran beton pracetak 5.4.3. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktek ini : 1) Buis beton diameter 20 – 30 cm 2) Batu Bata 3) Pasir 4) Kapur 5) Air 6) Benang Alat yang digunakan dalam praktek ini : 1) Cankul 2) Sekop 3) Sendok spesi 4) Bak spesi 5) Ember 6) Selang air 7) Meteran 5.4.4. Instruksi Kerja 1) Pilih buis beton yang baik, tidak ada retak dan tidak lubang 2) Buatlah adukan spesi (semen dan pasir) sesuai dengan campuran yang ditentukan 3) Padatkan dan ratakan dasar saluran yang telah digali, jika terdapat sisa akar atau bahan organik lainnya harus diambil. 4) Letakkan urugan pasir pada saluran setebal + 10 cm disepanjang saluran secara merata 5) Letakkan buis beton diatas urugan pasir secara berurutan dari awal saluran sampai akhir saluran 6) Pada tiap bagian sambungan antar buis beton berikan adukan spesi pada bagian bawah, samping dan di sela-sela sambungan 7) Letakkan urugan tanah pada bagian samping kiri dan kanan saluran buis beton, sampai kondisinya stabil. 8) Setelah adukan spesi pada tiap sambungan kering, lakukan pengujian pada saluran buis beton tersebut dengan mengalirkan air diatasnya. Jika pada bagian saluran terdapat genangan hal ini menunjukkan adanya penurunan pada bagian dasarnya. 9) Letakkan peralatan pada tempatnya saat istirahat dan simpanlah sisa bahan dan peralatan pada gudang jika pekerjaan telah selesai. 10) Selama bekerja gunakan peralatan K3 dengan benar. 5.4.5. Gambar Kerja Buis beton Pasir Urug + 10 cm Potongan Melintang Saluran Gambar 5.4b. Urugan Pasir di bawah Saluran Buis Beton Spesi pada sambungan Buis Beton Pasir Urug + 10 cm Tampak Samping Gambar 5.4c. Sambungan antar Buis Beton 5.5. Praktek Pemasangan Gorong-Gorong 5.5.1. Bangunan Gorong-Gorong Gorong-gorong merupakan bangunan pelengkap pada jaringan drainase yang banyak ditemui di drainase perkotaan. Bangunan drainase dipasang pada saluran yang melintasi jalan. Disain gorong-gorong disesuaikan dengan kondisi lokasi yang akan dipasang gorong-gorong yaitu bentuk, kemiringan dan kondisi lubang inlet. Bahan gorong-gorong dapat berupa beton pracetak atau beton cor insitu atau kombinasi keduanya. Konstruksi gorong-gorong didesain lebih kuat dari saluran, karena pertimbangan perawatan dan nilai usia pakainya. Bangunan gorong-gorong sebaiknya dibagian hulunya dibuatkan saringan sebagi penyaring sampah untuk menghindari penyumbatan dan ruang inlet untuk sebagai penstabil aliran. Gorong-gorong Ruang Inlet Pagar Saluran Saluran Jalan Saringan Gambar 5.5a. Denah Bangunan Gorong-Gorong 5.5.2. Tujuan Praktek 1) Melaksanakan pekerjaan bangunan gorong-gorong dengan benar 2) Menggunakan peralatan kren tangan untuk menurunkan gorong-gorong beton pracetak 3) Menyambung gorong-gorong beton pracetak 5.5.3. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan pada pekerjaan Gorong-gorong adalah : 1) Gorong-gorong beton pracetak 2) Pasir 3) Kapur 4) Batu Bata 5) Saringan Besi 6) Benang Alat yang digunakan pada pekerjaan Gorong-gorong adalah : 1) Kren manual 2) Kaki tiga pengait kren manual 3) Cangkul 4) Sendok Spesi 5) Skop/ Lempak 6) Kayu : Papan 2/20 dan Usuk 4/6 7) Paku 1 – 2” 8) Boning Rod 9) Selang air 10) Meteran 5.5.4. Instruksi Kerja 1) Buatlah bowplank pada lokasi yang akan dipasang gorong-gorong 2) Lakukan pekerjaan galian sesuai kemiringan yang direncanakan 3) Letakkan urugan pasir diatas tanah galian gorong-gorong 4) Latakkan gorong-gorong diatas urugan pasir secara berurutan menggunakan kren manual 5) Berikan spesi di tiap sambungan gorong-gorong diseluruh sambungan dengan benar 6) Jika spessi pada sambungan telah kering, letakkan urugan tanah kembali pada bagian samping dan atas gorong-gorong dengan ketinggian sesuai dengan elevasi muka jalan. 7) Letakkan peralatan pada tempatnya saat istirahat dan simpanlah sisa bahan dan peralatan pada gudang jika pekerjaan telah selesai. 8) Selama bekerja gunakan peralatan K3 dengan benar. 5.5.5. Gambar Kerja I II II I Gambar 5.5b. T. Atas Bangunan Gorong-Gorong Pasir Urug + 10 cm Gorong-gorong SpesiGambar 5.5b. Potongan I-I Bangunan Gorong-Gorong Gorong-gorong Pasir Urug + 10 cm Gambar 5.5b. Potongan II-II Bangunan Gorong-Gorong Pasir Urug + 10 cm Gorong-gorong 5.6. Praktek Turap 5.6.1. Bangunan Turap Bangunan turap merupakan bangunan sementara untuk pekerjaan drainase, yaitu pekerjaan galian tanah yang tegak lurus, tanpa talud yang berpotensi adanya kelongsoran tanah. Konstruksi turap terbuat dari bahan kayu, baja atau beton, sesuai dengan skala pekerjaan galian yang akan dikerjakan. Untuk galian yang lebih dari 1 meter sebaiknya menggunakan turap, kerena dimungkinkan akan terjadi longsor pada diding akibat beban yang ada disekitarnya. 5.6.2. Tujuan Praktek 1) Memasang turap kaayu pada galian tanah sesuai dengan prosedur yang benar 2) Menerapkan K3 dalam pekerjaan turap kayu pada galian tanah 3) Mengetahui secara langsung fungsi dan manfaat turap pada pekerjaan galian 5.6.3. Bahan dan Alat Bahan yang dibutuhkan pada pekerjaan turap adalah: 1) Kayu 5/7, 6/10 dan 8/12 2) Papan 3/30 3) Paku 1” – 2” 4) Benang Alat yang digunakan pada pekerjaan turap adalah : 1) Palu 5 – 10 Kg 2) Meteran 3) Gergaji Kayu 4) Pensil 5) Tangga 5.6.4. Instruksi Kerja 1) Persiapkan Alat dan bahan yang akan digunakan 2) Potonglah kayu sesuai dengan gambar kerja 3) Pasang papan kayu secara berurutan pada bidang galian tanah 4) Pasang balok kayu arah melintang diatas papan kayu pada bagian bawah, atas dan atau tengah 5) Pasang skur penahan antara balok kayu yang telah terpasang 6) Atur jarak skur kayu dengan lebar minimal pekerja bisa masuk dengan leluasa 7) Letakkan peralatan pada tempatnya saat istirahat dan simpanlah sisa bahan dan peralatan pada gudang jika pekerjaan telah selesai. 8) Selama bekerja gunakan peralatan K3 dengan benar. 5.6.5. Gambar Kerja Tanah Bekas Galian Min. 0,30 Pada Kondisi Tanah : Labil/mudah longsor. Muka Air Tanah tinggi. Sangat dekat bangunan/ gedung. Tepi jalan padat lalu-lintas. Gambar 5.6a. Potongan Melintang Turap Saluran Usuk/Balok Kloss/Kayu Paku/Skrup.Mur-Baut Pipa Baja Balok Penahan Papan Turap Gambar 5.6b. Potongan Melintang tipe-tipa Turap Saluran 5.7. Praktek Pengenalan Bangunan Septiktank 5.7.1. Bangunan Septiktank Berbagai macam bangunan pengolah limbah telah dibuat oleh manusia, baik pengolah limbah cair maupun limbah padat. Bangunan pengolah limbah dapat dibuat didalam ruangan maupun diluar ruangan. Limbah padat maupun limbah cair biasanya dihasilkan oleh rumah tangga maupun industri menurut tempatnya, yang umumnya kesemuanya itu oleh karena akibat aktivitas manusia. 1. Kakus Sumuran (Jumbleng) Bangunan ini digunakan untuk membuang limbah padat manusia (faeces). Pada umumnya dibangun pada daerah dimana lahan yang digunakan masih cukup luas, misalnya di pedesaan, dan pada lingkungan yang relatif belum cukup memperhatikan lingkungannya, dan dianggap konstruksi relatif lebih murah dibandingkan dengan tangki septik. Bentuk bangunannya yaitu tanah digali menyerupai sumuran sedalam 2 – 6 meter (dasarnya masih diatas permukaan air tanah yaitu 2 – 6 meter tergantung kondisi tanah setempat, agar tidak mencemari air tanah). Sedalam 1 – 2 meter dari permukaan tanah, dibuat pasangan batu bata setebal satu batu dengan spesi kedap air, agar muka tanah tidak mudah longsor. Konstruksi tersebut dapat bertahan (digunakan) sampai 10 tahun pada suatu rumah tangga dengan 6 jiwa, dengan ukuran sumuran 1 meter dengan kedalaman 8 meter. Setelah penuh, limbah padat dapat dikuras atau dibuatkan sumuran baru didekatnya (jarak sumuran baru dengan sumuran lama tergantung jenis tanah dan kepadatan/kestabilannya). Buangan Dari Kloset Pipa Ventilasi Plat Beton Bertulang Muka Air Tanah 2 – 6 meter Pasangan Kedap Air A A Potongan A - A Gambar 5.7a. Bangunan Kakus Sumuran 2. Tanki Septik (Septictank). Bangunan ini banyak digunakan, baik di kota-kota, kota kabupaten, maupun di kota kecamatan, bahkan mulai merambah di desa-desa. Tangki septik dapat dibangun pada lahan yang tidak terlalu luas, bahkan dapat dibangun didalam ruangan, misalnya dibawah lantai dapur, ruang keluarga bahkan dibawah ruang tamu. Hanya saja bangunan ini memerlukan peresapan untuk membuang kelebihan air yang ada dalam tangki septik, jika kelebihan air tersebut tidak dialirkan ke saluran drainase kota. Peresapan dapat berupa peresapan sumuran, jika muka air tanah rendah atau peresapan lapangan jika memungkinkan tersedia lahan yang cukup. Pada daerah perkotaan yang padat penduduknya dan muka air tanah cukup tinggi, kelebihan air dari tangki septik dapat dialirkan menuju drainase kota yang kemudian dialirkan menuju Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Pada daerah perkotaan termasuk kota-kota baru / kota satelit, pengolaan limbah domestik dapat dilakukan secara terpusat, sehingga setiap rumah tidak perlu membuat tangki septik, cukup limbah yang dihasilkan diolah secara terpusat dan profesional, sehingga air tanah pada lingkungan tersebut tidak tercemar. Bilamana pada setiap rumah, limbah domestik dialirkan menuju drainase kota, seyogyanya pemerintah kota dapat membuat kebijaksanaan menyediakan meteran dan detektor air limbah yang dipasang pada saluran outlet rumah tangga, dimana biaya pembuangan limbah domestik dapat ditentukan dengan jumlah limbah yang dibuang dan kandungan kimianya termasuk bahan-bahan toksik (beracun) untuk menutupi biaya operasional Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) yang dimiliki pemerintah kota. C D A B Pipa Ventilasi Tutup Kontrol Gambar 5.7b. Bangunan Tangki Septik (Septicktank) Tabel : Ukuran Tangki Septik. KAPASITAS (LITER) UKURAN (METER) A B C D 2.000 2,40 - 0,80 1,00 3.000 2,50 1,20 0,80 1,00 4.000 2,60 1,40 1,00 1,00 5.000 2,60 1,40 1,00 1,25 10.000 3,00 1,50 1,50 1,50 15.000 3,50 1,75 1,75 1,65 20.000 3,80 1,90 2,00 1,80 Tabel : Perhitungan Pendekatan Kapasitas Tangki Septik. ASAL SUMBER KAPASITAS TANGKI SEPTIK (LITER)= TANGKI LUMPUR + TANGKI BUANGAN CAIRAN (HARIAN) RUMAH TANGGA Buangan dari W.C Buangan dari W.C & Dapur Seluruh Air Buangan Asumsi : Minimal 5 Orang / Rumah 1500 Liter + 50 Liter / Orang 1800 Liter + 80 Liter / Orang 2000 Liter + 200 Liter / Orang Rumah Susun & Daerah Pemukiman 2000 Liter + 200 Liter / Orang Rumah Sakit 3000 Liter +7 50 Liter / Pasien/Bed Termasuk Buangan Dari Cucian Hotel & Motel 3000 Liter + 200 Liter / Tamu Jika tersedia Café + 5 Liter / Tamu Perkemahan 2000 Liter + 500 Liter / Petak Pabrik & Perkantoran 2000 Liter + 50 Liter / Pegawai Jika tersedia kamar mandi + 50 Liter / Pegawai Sekolahan 2000 Liter + 20 Liter / Orang Restoran 2000 Liter + 15 Liter / Orang Tempat Pemandian 2000 Liter + 10 Liter / Pengunjung Bangunan Umum & Daerah Rekreasi 2000 Liter + 5 Liter / Orang 3. Peresapan Air buangan dari tangki septik dapat dialirkan menuju pipa saluran drainase primer atau menuju ke peresapan. Peresapan dapat dibuat bentuk sumuran atau bentuk lapangan. Peresapan sumuran dapat dibuat pada lokasi dimana kondisi muka air tanah rendah, misalnya sedalam 7 meter dari muka tanah. Untuk Muka air tanah sedalam kurang dari 2 meter, sebaiknya menggunakan peresapan lapangan. Peresapan lapangan dapat dibuat berbagai macam bentuk yang tergantung dari tersedianya dana dan luas lahan (tanah) yang tersedia. Jika lahan untuk peresapan cukup luas, peresapan lapangan dapat dibuat 2, 3 atau 4 lajur. Jika lahan sempit, cukup dibuat 1 lajur saja. Bahan pipa untuk peresapan lapangan, dapat dibuat dari pipa PVC/UPVC, pipa beton atau pipa tanah liat lokal/pabrik. Tetapi untuk pipa-pipa tersebut sebaiknya berbentuk pervorasi (berlubang-lubang) yang berfungsi untuk menyebarkan aliran air buangan kesegala arah. Jika tidak didapat pipa bentuk pervorasi, untuk pipa beton maupun pipa tanah liat, maka penyambungan pipa tersebut tanpa spesi (adukan), cukup ditutup dengan batu bata. Sedangkan untuk pipa PVC/UPVC dapat dibuatkan lubang-lubang. Buangan Dari Tangki Septik Plat Beton Bertulang Pasangan Kedap Air Pipa Ventilasi A A Potongan A - A PERESAP SUMURAN Aanstamping Aliran dari Tangki Septik Bak Kontrol Pipa Peresap PERESAP LAPANGAN Tampak Samping Tampak Atas 3 Lajur 3 Lajur 2 Lajur 1 Lajur Gambar 5.7c. Tipe-tipe Jaringan Peresapan Pasir dan Kerikil Pipa Tanah Liat Pervorasi Selubung Ijuk / Sabut Kelapa Tanah Urug A A Potongan A - A Pipa Peresap Tanah Liat PervorasiPIPA PERESAP LAPANGAN Pasir dan Kerikil Pipa PVC / UPVC Selubung Ijuk / Sabut Kelapa Tanah Urug B B Potongan B - B Pipa Peresap PVC / UPVC Pervorasi Pasir dan Kerikil Pipa Beton Selubung Ijuk / Sabut Kelapa Tanah Urug C C Potongan C - C Peresap Pipa Beton Gambar 5. 7c. Tipe Pipa Peresap Lapangan Pasir dan Kerikil Pipa Tanah Liat Pervorasi Selubung Ijuk / Sabut Kelapa Tanah Urug A A Potongan A - A Gambar 5.7d. Pipa Peresap Tanah Liat Pervorasi 5.7.2. Tujuan Praktek 1) Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bangunan pengolah limbah sederhana 2) Mahasiswa dapat menjelaskan sistem pengolah limbah cair ramah lingkungan 3) Mahasiswa dapat menjelaskan lokasi bangunan pengolah limbah ayng akan dibangun 4) Mahasiswa dapat mendimensi, menentukan dan merancang pengolah limbah cair sederhana. 5.7.3. Instruksi Kerja 1) Rencanakan desain septiktank kawasan perumahan dengan tipe rumah 45, 70 dan 180 2) Rencanakan layout tata letak septiktank yang sebaiknya pada tiap tipe rumah tersebut. 3) Sebutkan bagian-baian yang ada pada bangunan septiktank. 66