MAKNA TIPOGRAFI ONOMATOPOEIA PADA KOMIK “TIGAN .mementingkan gambar dan ilustrasi, tipografi hanya

  • View
    262

  • Download
    13

Embed Size (px)

Text of MAKNA TIPOGRAFI ONOMATOPOEIA PADA KOMIK “TIGAN .mementingkan gambar dan ilustrasi, tipografi hanya

71Volume 12 Nomor 1, Juli 2014

Peter Ardhianto: Makna Tipografi Onomatopoeia pada Komik Tigan Ngasak Batavia

MAKNA TIPOGRAFI ONOMATOPOEIA PADA KOMIKTIGAN NGASAK BATAVIA

Peter ArdhiantoProgram Pascasarjana

Institut Seni Indonesia SurakartaJl. Ki Hajar Dewantara 19 Kentingan, Jebres, Surakarta 57126

ABSTRAK

Tipografi merupakan elemen dalam studi desain komunikasi visual yang berkenaan tentang huruf, salah satupenerapan tipografi yang paling unik adalah penggabungan huruf dengan suara (onomatopoeia). Tipografionomatopoeia dalam desain komunikasi visual banyak dijumpai pada komik. Huruf yang mempunyai karaktermasing-masing tersebut dipadukan dengan efek suara dan divisualkan sebagai bagian dari teks dalam komikTigan Ngasak Batavia karya Bengkel Qomik Surakata. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalahbagaimana peran tipografi onomatopoeia dalam komik yang dianalisis melalui klasifikasi suara dan pendekatansemiotika Roland Barthes yakni denotatif dan konotatif. Metode penelitian kualitatif yang digunakan meliputiwawancara, studi pustaka dan dokumen. Hasil temuan dari penelitian ini adalah: tipografi onomatopoeiaberfungsi sebagai penentu cerita, pembagian secara klasifikasi sumber suara dan klasifikikasi efek suaradalam komik sangat merata. Tidak semua efek bunyi yang dihadirkan pada komik Tigan Ngasak Bataviamerupakan bunyi sesungguhnya, hal tersebut justru menjadi daya tarik dan penyeimbang komedi pada saatadegan konflik berlangsung. Tipografi onomatopoeia dalam Tigan Ngasak Batavia berperan penting dalamtugasnya, yakni membantu pembaca mendengar dengan mata. Hal ini menjadi suatu bukti bahwa teks dalamkomik mempunyai kekuatan yang besar dalam menyampaikan pesan.

Kata kunci: tipografi, onomatopoeia, komik, komunikasi visual

ABSTRACT

Typography is an element of study in visual communication design related to letter. One of the most uniqueapplications of typography is the combination of letter with sound (onomatopoeia). Typography of onomatopoeiain visual communication design can be found in comic. The font with its own characteristic is combined withthe sound effect and then visualized as a part of text in comic Tigan Ngasak Batavia by Bengkel QomikSurakarta. The problem discussed in this research is how the role of typography onomatopoeia in comicanalyzed through sound classification and semiotic approach of Roland Barthes that is denotative andconnotative. The method of qualitative research used includes interview, library study, and document. Theresult of research is that typography onomatopoeia has a function as the story determiner. The dividing ofsound source classification and sound effect in comic is completely spread. Not all of the sound effectpresented in comic Tigan Ngasak Batavia shows the original sound. It exactly becomes the attractivenessand stabilization of comedy when the conflict takes place. Typography onomatopoeia in Tigan NgasakBatavia has a very important function that is helping audience to hear by eyes. It shows the proof that text incomic has a strong power in conveying messages.

Keywords: typography, onomatopoeia, comic, visual communication

A. Pengantar

Tipografi merupakan salah satu unsur yangtidak bisa dilepaskan sebagai unsur pendukung dalamdesain komunikasi v isual. Faktor budaya sertakemajuan teknologi sangat berpengaruh padaperkembangan tipografi. Selain untuk berkomunikasirangkaian huruf juga harus dipertimbangkanbagaimana letak, ukuran huruf, tingkat keterbacaandan kemudahan dimengerti pembacanya, oleh karena

set iap karakter tipograf i yang ditampilkanmenimbulkan persepsi berbeda berdasarkan gaya danbentuk hurufnya. Tipografi merupakan segala disiplinyang berkenaan dengan huruf (Rustan, 2011:16).

Di Indonesia seni menyusun huruf cetakrasanya masih sedikit ditemui pembahasannya, baiksecara sejarah masuknya t ipograf i maupunpenerapannya hingga masa kini. Tipografi seolahdipandang sebelah mata dalam desain komunikasivisual. Tidak jarang desainer-desainer grafis lebih

72 Volume 12 Nomor 1, Juli 2014

Jurnal Seni Budaya

mementingkan gambar dan ilustrasi, tipografi hanyamenjadi pendukung dan terakhir dipertimbangkankeberadaannya. Semestinya tipografi mempunyaiandil yang sangat besar dalam periklanan, karenamerupakan satu-satunya elemen layout yang dapatmenyampaikan pesan tanpa memberikan persepsiganda kepada pembaca.

Onomatopoeia yaitu bentuk sebuah lambangdari suara (Leanne Hinton et al., 1994: 8), dalam hal inijika berhubungan dengan tipografi dapat dikatakan bahwabentuknya adalah teks. Jenis tipografi onomatopeiasebenarnya tidak hanya sekedar menyampaikanbahasa lisan ke dalam bentuk huruf visual yang dapatdibaca melainkan juga menyampaikan karakter,perasaan, volume, kecepatan suara, dramatisasi danemosi dengan cara berelasi terhadap tanda-tanda disekelilingnya. Tipografi onomatopoeia pada ranahdesain komunikasi visual banyak dijumpai padakomik. Dalam komik tipografi onomateopoeia adadalam lingkup yang bernama phonogram.

Permasalahan yang terjadi ialah merangkaihuruf tipografi onomatopoeia dalam komik masihdipandang sebelah mata. Umumnya, komikus cenderungmementingkan karakter dan latar belakangnya daripadaefek suara sebagai penyampai bahasa verbal. Komikussangat jarang yang benar-benar mempertimbangkan efeksuara dalam komik dengan maraknya huruf digitalyang mudah didapat dari internet. Komikus cenderunghanya mengetikkan huruf yang tersedia tanpa harusmempertimbangkan kesan apa yang diperoleh darikarakter huruf tersebut.

Perkomikan nasional dewasa ini sangatjarang ditemui komik yang menyertakan tipografionomatopoeia secara manual, hampir keseluruhantipografi diketikkan dengan menggunakan font (hurufelektrik). Itu sebabnya komik Tigan Ngasak Bataviakarya Bengkel Qomik dipilih sebagai studi kasus.Tipografi onomatopoeia dalam komik Tigan sangatberagam dan dibuat seluruhnya dengan teknik manual.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkankedalaman makna pada tipografi onomatopoeia komikTigan Ngasak Batavia yang didekati dengan analisissemiotika Roland Barthes (denotatif dan konotatif).Didukung dengan pengelompokan sumber suara danpengelompokan efek suara dalam komik untukmemepermudah menganalisa. Secara keseluruanpenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola analisistipografi onomatopoeia dalam komik.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikanmanfaat dalam hal perkembangan komik di Indonesiapada umumnya, dan efisiensi tipografi onomatopoeiapada komik pada khususnya. Serta dapat

berkontribusi pada dunia ilmu pengetahuan dalam halbahasan dan kajian semiotika tipografi di Indonesiapada umumnya dan dalam tipografi onomatopoeiakomik khususnya.

Metode deskriptif kualitatif digunakan dalampenelitian ini yang di lakukan melalui proseswawancara, studi pustaka dan dokumentasi yangkemudian dianalisis menggunakan klasifikasi suaradan pendekatan semiotika Roland Barthes yaknidenotatif dan konotatif. Penelitian tersebut dipilihkarena melihat permasalahan yang sudah dirumuskanyaitu tipografi onomatopoeia pada komik TiganNgasak Batavia karangan Bengkel Qomik Surakartayang dianalisis dengan semiotika Roland Barthes.

B. Komik Tigan Ngasak Batavia

Pada tahun 2001 merupakan masa yangproduktif bagi Bengkel Qomik dalam industri komiknasional. Melalui komik yang berjudul Tigan NgasakBatavia Bengkel Qomik menjadi salah satu studiokomik yang diperhitungkan dalam kancah perkomikanNasional.

Awal diciptakannya komik Tigan NgasakBatavia adalah keinginan dari para anggota untukmengikuti ajang pameran komik Nasional yangbertajuk PKAN (Pameran Komik dan Animasi) yangdigelar di Jakarta tahun 2001.

Setelah melakukan brainstorming akhirnyaditentukan akan mengusung komik bergenre komedidengan alasan kurangnya komik komedi pada masaitu (tahun 2001) serta genre komedi dianggap akanmemudahkan pembaca dalam menerima informasi.Seluruh anggota dari Bengkel Qomik menyepakatiuntuk melakukan riset terhadap cerita komik yangakan dibuat yaitu Tigan Ngasak Batavia.

Pemilihan judul Tigan Ngasak Bataviasendiri mempunyai makna yaitu, kata Tigan diadobsidari bahasa jawa ngoko yakni Telu/Telon, kata Teludalam Telon diganti oleh kata Tiga menjadi Tigan yangmewakili peran lakon dalam komik ini yang terdiri daritiga orang yaitu Tugimin, Tulkija, dan Gendon. Tugiminmempunyai peran sebagai anak Lurah Sleman, ayahnyaadalah seorang mantan pasukan Mataram yang gagahberani. Namun Tugimin adalah anak yang pemalu,penakut dan berperawakan tubuh kecil. Berbedahalnya dengan Tulkija, ia merupakan seorang pria dariBantul yang berperawakan tinggi kurus namunpemberani dan badung. Sedangkan Gendonmerupakan seorang yang cinta damai, berbadangemuk, dan mempunyai kebiasaan minum.

73Volume 12 Nomor 1, Juli 2014

Peter Ardhianto: Makna Tipografi Onomatopoeia pada Komik Tigan Ngasak Batavia

Kata Ngasak diambil dari bahasa jawa ngokoyang berarti memporak-poradakan atau menyerangdengan kasar. Batavia sendiri merupakan namasebuah tempat di bagian Barat Pulau Jawa yangsekarang menjadi Kota Jakarta, pada tahun 1628menjadi sasaran pasukan Mataram

Adapun crew yang terlibat dalam pembuatankomik Tigan Ngasak Batavia adalah sebagai berikut.

Editor : Agus MediSkrip Cerita : Suryo Adhi (Iyok)Storyboard : AndraSketsa : Karakter (Popo), Background

(Taufik)Tinta : Bobo, Agus, Santo, TonyLetter : Ryan, ErikCover : AgusPin up : Taufik, Popo, Bobo, Keke.

Alasan pemilihan cerita yang mengusungsejarah Mataram ialah semata-mata ingin mengangkatbudaya lokal yang sudah meredup pada tahun 2000-an. Pada saat itu industri komik banyak dikuasai olehkomik-komik asing terjemahan dan gaya manga yangmenjamur pada dunia perkomikan. Selain itu, kotaJakarta yang merupakan salah satu kiblatperkembangan komik lokal pada era 2000-an seolahmenjadi target sasaran yang harus ditaklukkan samaseperti s