of 23 /23
MAKALAH TERAPI OKSIGEN BLOK GAWAT DARURAT DAN TRAUMATOLOGI Oleh : Puspa Ayu Navratilova 61109018 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS BATAM 2012

MAKALAH TERAPI OKSIGEN

Embed Size (px)

Text of MAKALAH TERAPI OKSIGEN

Page 1: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

MAKALAH

TERAPI OKSIGEN

BLOK GAWAT DARURAT DAN TRAUMATOLOGI

Oleh :

Puspa Ayu Navratilova

61109018

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANPROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS BATAM2012

Page 2: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwata΄ala, karena berkat rahmat-Nya

saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Terapi Oksigen. Makalah ini diajukan guna

memenuhi tugas mata kuliah blok Gawat darurat dan traumatologi.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah

ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan

makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi seluruh masyarakat khususnya mahasiswa

fakultas kedokteran Universitas Batam dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan

bagi kita semua.

Batam, 3 Desember 2012

Penulis

Page 3: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................................... i

Daftar Isi ................................................................................................................................ ii

BAB I – PENDAHULUAN

Latar Belakang .......................................................................................................................1

Tujuan Penulisan....................................................................................................................1

BAB II – TINJAUAN PUSTAKA

Definisi...................................................................................................................................2

Tujuan ....................................................................................................................................2

Indikasi...................................................................................................................................3

Kontraindikasi........................................................................................................................6

Teknik Pemberian Oksigen....................................................................................................7

Resiko Terapi Oksigen...........................................................................................................15

Menentukan Dosis pemberian Oksigen .................................................................................16

Monitoring Terapi Oksigen....................................................................................................17

BAB III – PENUTUP

Kesimpulan ............................................................................................................................19

Daftar Pustaka........................................................................................................................20

Page 4: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

1 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Sering kali pada saat pasien mengeluh sesak napas, maka secara otomatis yang terpikir

adalah pemberian oksigen. Tanpa memandang ”sebetulnya” perlu atau tidaknya tindakan

tersebut dilakukan. Jikapun perlu metoda apa yang diperlukan dan berapa banyak kadar

yang harus diberikan. Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital

dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh.

Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap

kali bernapas. Penyampaian O2 ke jaringan tubuh ditentukan oleh interaksi sistem

respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis.

Pemberian oksigen pada pasien perlu mendapat perhatian khusus karena pada pemberian

yang tidak tepat dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan seperti depresi

pernapasan atau keracunan O2. Cara yang tepat pemberian oksigen adalah didasarkan

pada hasil pemeriksaan analisa gas darah (AGD) melalui penghitungan dengan

menggunakan rumus. Melalui penghitungan ini dapat ditentukan banyaknya/konsentrasi

oksigen yang diberikan serta dapat memilih alat yang dipakai dalam pemberian oksigen.

Artikel ini akan membahas mengenai terapi oksigen secara praktis.

I.2 TUJUAN PENULISAN

Tujuan Umum

Untuk Mengetahui dan memahami dasar-dasar Terapi Oksigen

Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu mengerti dan memahami tentang :

Definisi Terapi Oksigen Indikasi dan kontraindikasi terapi oksigen Teknik Pemberian Oksigen

Menentukan Dosis Pemberian Oksigen Komplikasi dalam Terapi Oksigen

Page 5: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

2 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi

Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen tambahan dari luar ke paru melalui saluran

pernafasan dengan menggunakan alat sesuai kebutuhan. (Standar Pelayanan Keperawatan di

ICU, Dep.Kes. RI, 2005)

Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang

ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut konsentrasi oksigen dalam

ruangan adalah 21 %, (Brunner & Suddarth,2001)

Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah suatu tindakan

untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang dapat dilakukan dengan cara:

a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik )

b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)

II.2 Tujuan/ kegunaan

a. Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan untuk

memfasilitasi metabolisme aerob

b. Mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 % untuk :

- Mencegah dan mengatasi hipoksemia / hipoksia serta mmempertahankan oksigenasi

jaringan yang adekuat.

- Menurunkan kerja nafas dan miokard.

- Menilai fungsi pertukaran gas

Alat Aliran (L/menit) Fi O2 (fraksi oksigen inspirasi)

Kanula nasal

1

2

3

4

5

6

0,24

0,28

0,32

0,36

0,40

0,44

Masker oksigen 5-6 0,40

Page 6: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

3 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

6-7

7-8

0,50

0,60

Masker dengan

kantong reservoir

6

7

8

9

10

0,60

0,70

0,80

≥0,80

≥0,80

II.3 Indikasi

A. Pasien hipoksia

Hipoksia hipoksik merupakan masalah pada individu normal pada daerah ketinggian serta

merupakan penyulit pada pneumonia dan berbagai penyakit sistim pernafasan lainnya.

Gejala dan tanda hipoksia hipoksik:

1. Pengaruh penurunan tekanan barometer

Penurunan PCO2 darah arteri yang terjadi akan menimbulkan alkalosis respiratorik.

2. Gejala hipoksia saat bernafas oksigen

Di ketinggian 19.200 m, tekanan barometer adalah 47 mmHg, dan pada atau lebih

rendah dari tekanan ini cairan tubuh akan mendidih pada suhu tubuh. Setiap orang

yang terpajan pada tekanan yang rendah akan lebih dahulu meninggal saat hipoksia,

sebelum gelembung uap air panas dari dalam tubuh menimbulkankematian.

3. Gejala hipoksia saat bernafas udara biasa

Gejala mental seperti irritabilitas, muncul pada ketinggian sekitar 3700 m. Pada

ketinggian 5500 m, gejala hipoksia berat, dan diatas 6100 m, umumnya seseorang

hilang kesadaran.

4. Efek lambat akibat ketinggian

Keadaan ini ditandai dengan sakit kepala, iritabilias, insomnia, sesak nafas, serta mual

dan muntah.

5. Aklimatisasi

Respon awal pernafasan terhadap ketinggian relatif ringan, karena alkalosis cenderung

melawanefek perangsangan oleh hipoksia. Timbulnya asidosis laktat dalam otak akan

menyebabkan penurunan pH LCSdan meningkatkan respon terhadap hipoksia.

Page 7: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

4 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

Penyakit yang menyebabkan Hipoksia Hipoksik

Penyakit penyebabnya secara kasar dibagi atas penyakit dengan kegagalan organ

pertukaran gas, penyakit seperti kelainan jantung kongenital dengan sebagian besar darah

dipindah dari sirkulasi vena kesisi arterial, serta penyakit dengan kegagalan pompa

pernafasan. Kegagalan paru terjadi bila keadan seperti fibrosis pulmonal menyebabkan

blok alveoli – kapiler atau terjadi ketidak seimbangan ventilasi – perfusi. Kegagalan

pompa dapat disebabkan oleh kelelahan otot-otot pernafasan pada keadaan dengan

peningkatan beban kerja pernafasan atau oleh berbagai gangguan mekanik seperti

pneumothoraks atau obstruksi bronkhial yang membatasi ventilasi. Kegagalan dapat pula

disebabkan oleh abnormalitas pada mekanisme persarafan yang mengendalikan ventilasi,

seperti depresi neuron respirasi di medula oblongata oleh morfin dan obat-obat lain.

Hipoksia Anemik

Sewaktu istirahat,hipoksia akibat anemia tidaklah berat, karena terdapat peningkatan

kadar 2,3-DPG didalam sel darah merah,kecuali apabila defisiensi hemoglobin sangat

besar. Meskipun demikian, penderita anemia mungkin mengalami kesulitan cukup besar

sewaktu melakukan latihan fisik karena adanya keterbatasan kemampuan meningkatkan

pengangkutan O2 kejaringan aktif.

Hipoksia Stagnan

Hipoksia akibat sirkulasi lambat merupakan masalah bagi organ seperti ginjal dan

jantung saat terjadi syok. Hati dan mungkin jaringan otak mengalami kerusakan akibat

hipoksia stagnan pada gagal jantung kongestif. Pada keadaan normal, aliran darah ke

paru-paru sangat besar, dan dibutuhkan hipotensi jangka waktu lama untuk menimbulkan

kerusakan yang berarti. Namun, syok paru dapat terjadi pada kolaps sirkulasi

berkepanjangan,terutama didaerah paru yang letaknya lebih tinggi dari jantung.

Hipoksia Histotoksik

Hipoksia yang disebabkan oleh hambatan proses oksidasi jaringan paling sering

diakibatkan oleh keracunan sianida. Sianida menghambat sitokrom oksidasi serta

mungkin beberapa enzim lainnya. Biru metilen atau nitrit digunakan untuk mengobati

keracunan sianida. Zat-zat tersebut bekerja dengan sianida, menghasilkan

sianmethemoglobin, suatu senyawa non toksik. Kemampuan pengobatan

Page 8: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

5 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

menggunakansenyawa ini tentu saja terbatas pada jumlah methemoglobin yang dapat

dibentuk dengan aman. Pemberian terapi oksigen hiperbarik mungkin juga bermanfaat.

B. Oksigenasi kurang sedangkan paru normal

C. Oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal

D. Oksigenasi cukup, paru normal, sedangkan sirkulasi tidak normal.

E. Pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi tinggi

F. Pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah.

Contoh :

- Pasien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil AGD

- Pasien dengan peningkatan kerja napas dimana tubuh terjadi hipoksemia ditandai

dengan PaO2 dan SpO2 menurun. Pasien yang teridentifikasi hipoksemia

contohnya syok dan keracunan CO

Hipoksemia adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan konsentrasi oksigen dalam darah

arteri (PaO2) atau saturasi O2 arteri (SaO2) dibawah nilai normal (nilai normal PaO285-100

mmHg), SaO2 95%. Hipoksemia dibedakan menjadiringan sedang dan berat berdasarkan nilai

PaO2 dan SaO2. hipoksemia ringan dinyatakan pada keadaan PaO2 60-79 mmHg dan SaO2 90-

94%, hipoksemia sedang PaO2 40-60 mmHg, SaO2 75%-89% dan hipoksemia berat bila

PaO2kurang dari 40 mmHg dan SaO2 kurang dari 75%. Umur juga mempengaruhi nilai

PaO2 dimana setiap penambahan umur satu tahun usia diatas 60 tahun dan PaO2 80 mmHg maka

terjadi penurunan PaO2 sebesar 1 mmHg. Hipoksemia dapat disebabkan oleh gangguan ventilasi,

perfusi, hipoventilasi, pirau, gangguan difusi dan berada ditempat yang tinggi.

Keadaan hipoksemia menyebabkan beberapa perubahan fisiologi yang bertujuan untuk

mempertahankan supaya oksigenasi ke jaringan memadai. Bila tekanan oksigen arteriol (PaO2)

dibawah 55 mmHg.kendali nafas akan meningkat, sehingga tekanan oksigen arteriol (PaO2) yang

meningkat dan sebaliknyatekanan karbondioksida arteri (PaCO2) menurun.jaringan Vaskuler

yang mensuplai darah di jaringan hipoksia mengalami vasodilatasi, juga terjadi takikardi

kompensasi yang akan meningkatkan volume sekuncup jantung sehingga oksigenasi jaringan

dapat diperbaiki. Hipoksia alveolar menyebabkan kontraksi pembuluh pulmoner sebagai respon

untuk memperbaiki rasio ventilasi perfusi di area paru terganggu, kemudian akan terjadi

peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis dan terjadi

peningkatan sekresi eritropoitin ginjal sehingga mengakibatkan eritrositosis danterjadi

Page 9: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

6 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

peningkatan kapasiti transfer oksigen. Kontraksi pembuluh darah pulmoner, eritrositosis dan

peningkatan volume sekuncup jantung akan menyebabkan hipertensi pulmoner. Gagal jan tung

kanan bahkan dapat menyebabkan kematian.

- Pasien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk

mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat.

- Beberapa trauma

Terapi ini diberikan dengan orang yang mempunyai gejala :

- Sianosis - Keracunan

- Hipovolemi - Asidosis

- Perdarahan - Selama dan sesudah pembedahan

- Anemia berat - Klien dengan keadaan tidak sadar

Kriteria pemberian terapi oksigen tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara dibawah ini.

1. Pemberian oksigen secara berkesinambungan (terus menerus), Diberikan apabila hasil

analisis gas darah pada saat istirahat, didapat nilai:

PaO2 kurang dari 55 mmHg atau saturasi kurang dari 88%.

PaO2 antara 56-59 mmHg atau saturasi 89% disertai kor pulmonale, polisitemia

(hematokrit >56%).

2. Pemberian secara berselang

Diberikan apabila hasil analisis gas darah saat latihan didapat nilai:

Pada saat latihan PaO2 55 mmHg atau saturasi 88%

Pada saat tidur PaO255 mmHg atau saturasi 88% disertai komplikasi seperti

hipertensi pulmoner.somnolen dan aritmia.

Pasien dengan keadaan klinik tidak stabil yang mendapat terapi oksigen perlu dievaluasi

gas darah (AGD) serta terapi untuk menentukan perlu tidaknya terapi oksigen jangka

panjang.

II.4 Kontra indikasi

Tidak ada kontra indikasi absolut :

a) Kanul nasal / Kateter binasal / nasal prong : jika ada obstruksi nasal.

Page 10: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

7 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

b) Kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma

maksilofasial, dan obstruksi nasal.

c) Sungkup muka dengan kantong rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan

lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.

d) Suplemen oksigen tidak direkomendasikan pada :

Pasien dengan keterbatasan jalan nafas yang berat dengan keluhan utama dispneu,

tetapi dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60 mmHg dan tidak mempunyai

hipoksia kronik

Pasien yang menerskan merokok, karena kemungkinan prognosis yang buruk dan

dapat meningkatkan risiko kebakaran

Pasien yang tidak menerima terapi oksigen

Syarat-syarat Pemberian Oksigen Meliputi :

1. Dapat mengontrol konsentrasi oksigen udara inspirasi, harus dapat di kontrol

2. Tahanan jalan nafas yang rendah,

3. Tidak terjadi penumpukan CO2,

4. Efisien,

5. Nyaman untuk pasien.

II.5 Teknik Pemberian Oksigen

Dapat dibagi menjadi 2 tehnik, yaitu :

1. Sistem Aliran Rendah

Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, bekerja dengan

memberikan oksigen pada frekuensi aliran kurang dari volume inspirasi pasien, sisa volume

ditarik dari udara ruangan. Karena oksigen ini bercampur dengan udara ruangan, maka FiO2

aktual yang diberikan pada pasien tidak diketahui, menghasilkan FiO2 yang bervariasi

tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Alat oksigen aliran

Page 11: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

8 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

rendah cocok untuk pasien stabil dengan pola nafas, frekuensi dan volume ventilasi normal,

misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali

permenit.

Contoh sistem aliran rendah adalah :

Low flow low concentration :

a. Kateter nasal

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan

aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. Prosedur pemasangan kateter ini

meliputi insersi kateter oksigen ke dalam hidung sampai nasofaring. Persentase oksigen

yang mencapai paru-paru beragam sesuai kedalaman dan frekuensi pernafasan, terutama

jika mukosa nasal membengkak.

Keuntungan Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan

berbicara, dan membersihkan mulut, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai

sebagai kateter penghisap. Dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 44%,

tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, nyeri saat

kateter melewati nasofaring, dan mukosa nasal akan mengalami trauma, fiksasi

kateter akan memberi tekanan pada nostril, maka kateter harus diganti tiap 8 jam

dan diinsersi kedalam nostril lain, dapat terjadi distensi lambung, terjadi iritasi

selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan

nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat dan

tertekuk.

b. Kanul nasal / kanul binasal / nasal prong.

Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran

1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal yaitu 24 % - 44 %.

Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien. Pada pemberian oksigen

dengan nasal kanula jalan nafas harus paten, dapat digunakan pada pasien dengan

pernafasan mulut. FiO2 estimation :

Flows FiO2

Page 12: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

9 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• 1 Liter /min : 24 %

• 2 Liter /min : 28 %

• 3 Liter /min : 32 %

• 4 Liter /min : 36 %

• 5 Liter /min : 40 %

• 6 Liter /min : 44 %

Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21 %

Keuntungan :Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan

teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, murah, disposibel, klien

bebas makan, minum, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa

nyaman. Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien bernapas

melalui mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu inhalasi dan akan mempunyai

efek venturi pada bagian belakang faring sehingga menyebabkan oksigen yang

diberikan melalui kanula hidung terhirup melalui hidung.

Kerugian :Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai

oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman

kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien dengan obstruksi nasal.

Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang digunakan, sebab pemberian flow rate

yang lebih dari 4 liter tidak akan menambah FiO2, bahkan hanya pemborosan oksigen

dan menyebabkan mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan

kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasangan yang terlalu ketat.

Low flow high concentration

a. Sungkup Muka Sederhana

Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang. Merupakan alat pemberian

oksigen jangka pendek, kontinyu atau selang seling. Aliran 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi

oksigen 40 – 60%. Masker ini kontra indikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida

karena akan memperburuk retensi. Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit untuk

mendorong CO2 keluar dari masker. FiO2 estimation :

Flows FiO2

• 5-6 Liter/min : 40 %

Page 13: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

10 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• 6-7 Liter/min : 50 %

• 7-8 Liter/min : 60 %

Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula

nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlubang

besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.

Kerugian : Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat

menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap, tidak memungkinkan

untuk makan dan batuk.Bisa terjadi aspirasi bila pasien mntah. Perlu pengikat wajah,

dan apabila terlalu ketat menekan kulit dapat menyebabkan rasa pobia ruang tertutup,

pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan

kenyamanan.

b. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing

Rebreathing mask

Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35 – 60% dengan aliran 6 –

15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur

dengan udara inspirasi, sesuai dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan

hampir menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong

dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong

reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat

untuk mencegah iritasi kulit. FiO2 estimation :

Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )

• 6 : 35 %

• 8 : 40 – 50 %

• 10 – 15 : 60 %

Keuntungan :Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak

mengeringkan selaput lendir.

Page 14: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

11 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong oksigen

bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini terjadi dan aliran yang rendah

dapat menyebabkan pasien akan menghirup sejumlah besar karbondioksida. Pasien

tidak memungkinkan makan minum atau batuk dan menyekap, bisa terjadi aspirasi

bila pasien muntah, serta perlu segel pengikat.

c. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing

Non rebreathing mask

Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi mencapai 90 % dengan

aliran 6 – 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara inspirasi tidak bercampur dengan udara

ekspirasi, udara ekspirasi dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup,

sehingga dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang ke pasien isi

O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal

2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup

dan tali pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah kempes dengan

total. Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada tempatnya dan tanpa

tongkat. FiO2 estimation :

Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )

• 6 : 55 – 60

• 8 : 60 – 80

• 10 : 80 – 90

• 12 – 15 : 90

Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak mengeringkan

selaput lendir.

Kerugian : Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong oksigen bisa

terlipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat, dan tidak memungkinkan makan,

minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar

dan anak-anak.

2. Sistem Aliran Tinggi

Page 15: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

12 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

Memberikan aliran dengan frekuensi cukup tinggi untuk memberikan 2 atau 3 kali

volume inspirasi pasien. Alat ini cocok untuk pasien dengan pola nafas pendek dan pasien

dengan PPOK yang mengalami hipoksia karena ventilator. Suatu teknik pemberian oksigen

dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini

dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur.Contoh sistem aliran tinggi:

a. Sungkup muka dengan venturi / Masker Venturi (High flow low concentration).

Merupakan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi yang tepat

melalui cara non invasif. Masker dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan aliran

udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker venturi

menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum), yang memberikan

aliran udara yang tinggi dengan pengayaan oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker

melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama karbondioksida yang dihembuskan.

Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang konstan untuk dihirup yang tidak

tergantung pada kedalaman dan kecepatan pernafasan.Diberikan pada pasien hyperkarbia

kronik ( CO2 yang tinggi ) seperti PPOK yang terutama tergantung pada kendali hipoksia

untuk bernafas, dan pada pasien hypoksemia sedang sampai berat. FiO2 estimation, Menurut

Standar Keperawatan ICU Dep.Kes RI. tahun 2005, estimasi FiO2 venturi mask merk Hudson

Warna dan flows ( liter/menit ) FiO2 ( % )

• Biru : 2 : 24

• Putih : 4 : 28

• Orange : 6 : 31

• Kuning : 8 : 35

• Merah : 10 : 40

• Hijau : 15 : 60

Keuntungan: Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan / tepat sesuai dengan petunjuk pada

ala : FiO2 tidak dipengaruhi oleh pola ventilasi, serta dapat diukur dengan O2 analiser,

Temperatur dan kelembaban gas dapat dikontrol, Tidak terjadi penumpukan CO2.

Kerugian : Harus diikat dengan kencang untuk mencegah oksigen mengalir kedalam mata.

• Tidak memungkinkan makan atau batuk, masker harus dilepaskan bila pasien makan,

minum, atau minum obat.

Page 16: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

13 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• Bila humidifikasi ditambahkan gunakan udara tekan sehingga tidak mengganggu

konsentrasi O2.

b. Bag and Mask / resuscitator manual

Digunakan pada pasien :

• Cardiac arrest

• Respiratory failure

• Sebelum, selama dan sesudah suction Gas flows 12 – 15 liter, selama resusitasi buatan,

hiperinflasi / bagging, kantong resusitasi dengan reservoir harus digunakan untuk

memberikan konsentrasi oksigen 74 % - 100 %. Dianjurkan selang yang bengkok tidak

digunakan sebagai reservoir untuk kantong ventilasi. Kantong 2.5 liter dengan

kecepatan 15 liter/menit telah ditunjukkan untuk pemberian oksigen yang konsisten

dengan konsentrasi 95 % - 100 %. Penggunaan kantong reservoar 2.5 liter juga

memberikan jaminan visual bahwa aliran oksigen utuh dan kantong menerima oksigen

tambahan. Pengetahuan tentang kantong dan keterampilan penggunaan adalah vital :

• Kekuatan pemijatan menentukan volume tidal ( VT ).

• Jumlah pijatan permenit menentukan frekuensi

• Kekuatan dan frekuensi menentukan aliran puncak.

Hal – hal yang harus diperhatikan :

Observasi dada pasien untuk menentukan kantong bekerja dengan baik dan apakah

terjadi distensi abdomen.

Kemudahan / tahanan saat pemompaan mengindikasikan komplain paru.

Risiko terjadinya peningkatan sekresi, pneumothorak, hemothorak, atau spasme

bronkus yang memburuk.

Syarat – syarat Resusitator manual :

Kemampuan kantong untuk memberikan oksigen 100 % pada kondisi akut.

Masker bila dibutuhkan harus transparan untuk memudahkan observasi terhadap

muntah / darah yang dapat mengakibatkan aspirasi.

Sistem katup yang berfungsi tanpa gangguan pada kondisi akut.

Pembersihan dan pendauran ketahanan kantong.Large Volume Aerosol Sistem.

Page 17: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

14 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

c. Selang T / T piece / Briggs adaptor

Oksigen dialirkan ke humidifier, aliran harus cukup tinggi untuk menutup ventilasi pasien per

menit. Dengan Oksigen T- piece memungkinkan pelembaban untuk selang ETT ( Endo Trakeal

Tube ) atau trakeostomi.Tidak akan menimbulkan kondensasi dalam selang. Pada pemakaiannya,

kabut harus terlihat pada ekshalasi akhir. Flow rate yang direkomendasikan adalah 10 liter/menit

dengan nebuliser set untuk menjaga inspired oxygen concentration (FiO2)

d. Sungkup terbuka / Face tent

Sama dengan selang T, digunakan untuk memberikan pelembaban pada pasien di ruang

pemulihan atau setelah ekstubasi. Bila pasien merasakan masker terlalu menyekap, maka masker

wajah harus ditambahkan. Konsentrasi 40% dengan aliran 10-15 L/mnt (Hudak & Gallo,1997),

8-12 liter/menit : 28%-100%.

Keuntungan : Lebih nyaman untuk anak, dapat digunakan sebagai alternatif pemberian

aerosol, dapat memberikan kelembaban yang tinggi.

Kerugian :Posisi face tent sulit dipertahankan, FiO2 sulit dikontrol.

e. Collar trakeostomi

Keuntungan :

• Sama dengan selang T, Memberikan pelembaban untuk pasien dengan trakeostomi.

• Gelang – gelang adaptor mencegah bunyi gemuruh selang trakeostomi.

• Bagian depan memungkinkan penghisapan tanpa melepas masker.

• Kondensasi dalam collar dapat dialirkan ke dalam selang pasien.

Kerugian :

• Sekresi dan lapisan kulit sekitar stoma dapat menyebabkan iritasi dan infeksi.

Keamanan

Untuk pasien :

- Memastikan bahwa selangnya benar-benar masuk ke dalam saluran pernapasan.

- Selang atau kateter yang masuk ke dalam saluran napas harus steril.

- Tabung oksigennya dijauhkan dari jangkauan api.

Page 18: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

15 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

II.6 Resiko Terapi Oksigen

Salah satu resiko terapi oksigen adalah keracunan oksigen. Hal ini dapat terjadi bila oksigen

diberikan dengan fraksi lebih dari 50% terus-menerus selama 1-2 hari. Kerusakan jaringan paru

terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang merangsang sel PMN dan H2O2 melepaskan

enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat merusak alveoli. Sedangkan resiko yang lain

seperti retensi gas karbondioksida dan atelektasis.

Oksigen 100% menimbulkan efek toksik, tidak saja pada hewan, namun juga pada bakteri,

jamur, biakan sel hewam dan tanaman. Apabila O2 80-100% diberikan kepada manusia selama 8

jam atau lebih, saluran pernafasan akan teriritasi, menimbulkan distres substernal, kongesti

hidung, nyeri tenggorokan dan batuk. Pemajanan selama 24-48 jam mengakibatkan kerusakan

jaringan paru.

Sejumlah bayi dengan sindroma gawat nafas yang diterapi dengan O2, selanjutnya mengalami

gangguan menahun yang ditandai dengan kista dan pemadatan jaringan paru (displasia

bronkopulmonal). Komplikasi lain pada bayi-bayi ini adalah retinopti prematuritas (fibroplkasia

retrolental), yaitu pembentukan jaringan vaskuler opak pada matayang dapat mengakibatkan

kelainan penglihatan berat. Pemberian O2 100% pada tekanan yang lebih tinggi berakibat tidak

hanya iritasi trakeobronkial, tetapi juga kedutan otot, bunyi berdering dalam telinga, rasa pening,

kejang dan koma. Pajanan terhadap O2 tekanan tinggi (oksigenasi hiperbarik) dapat

menghasilkan peningkatan jumlah O2 terlarut dalam darah. Oksigen bukan zat pembakar tetapi

dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan terapi pemberian oksigen

harus menghindari : Merokok, membuka alat listrik dalam area sumber oksigen, menghindari

penggunaan listrik tanpa “Ground”.

Hal yang harus dilaporkan dan didokumentasikan

1. Observasi dan catat terhadap penurunan kecemasan, peningkatan pengetahuan, penurunan

kelemahan, penurunan frekuensi nafas, perubahan warna kulit, peningkatan saturasi oksigen.

2. Monitor dan dokumentasikan hasil analisa gas darah dan pulse oksimetri untuk menilai

keefektifan terapi oksigen. Therapy Oksigen berhasil jika : Nilai PaO2 dan PaCO2 yang

diharapkan tercapai : PaO2 = ( 4 – 5 ) x FiO2.

3. Monitor dan dokumentasikan kulit disekitar telinga, hidung , mukosa hidung terhadap iritasi.

Page 19: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

16 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

4. Monitor dan dokumentasikan terjadinya efek samping / bahaya terapi oksigen yang lain.

5. Observasi dan catat posisi alat (kanula/masker, dll) yang tepat pada pasien .

6. Catat metode yang digunakan, berapa liter/ menit alirannya atau berapa FiO2 yang diberikan.

II.7 MENENTUKAN DOSIS PEMBERIAN OKSIGEN

1. PAO2 =(PB-PH2O)xFiO2 -(PaCO2 astrup x1,25) = (760-47) x FiO2 - PaCO2 astrup x1,25)

2. PaO2 =713xFiO2 -1,25x PaCO2 astrup

3. PaO2astrup = PaO2 yang diinginkan

PAO2 yangdidapat PAO2 baru

4. Selanjutnya bila sudah didapat PAO2 baru, cari FiO2 baru dengan rumus 1

• FiO2 = 150 + AaDO2 x 100% =……..%

760

AaDO2 = PAO2 –PaO2

Keterangan :

PAO2 : tekanan oksigen alveoli

PaO2 : nilai diambil dari hasil AGD

contoh

Pemberian oksigen yang tepat harus didasarkan pada nilai AGD dengan menggunakan rumus

sebagai berikut :

Seorang pasien Pneumonia yang sedang dirawat di paviliun Kenanga terpasang oksigen 10

liter/menit (60 %) dengan menggunakan rebreathing mask sejak 8 jam yang lalu. Seorang dokter

ingin mengoreksi pemberian oksigen selanjutnya. Hasil pemeriksaan AGD terbaru didapatkan :

PH : 7.28 , PO2 : 125 , PCO2 : 60 , HCO3 : 25 , BE : 2,5

Page 20: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

17 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

PenyelesaianPAO2 = (760-47) X 0,6 – 60

= 367,8

AaDO2 = 367.8 – 120

= 247.8

FiO2 = (247.8 + 100) X 100 %

760= 45.76 % ( 6 liter / menit )

jadi kebutuhan oksigen untuk pasien tersebut sebanyak 6 liter / menit dan dapat

menggunakan sungkup muka non-rebreathing. (setiap 1 liter mengandung 4 % oksigen)

II.8 KOMPLIKASI

Kerusakan pada paru : Tergantung konsentrasi oksigen yang diberikan , Tergantung pada

lama pemberian

Efek neurologi : Kejang – kejang karena tekanan intrakranial meningkat

Fibro plasia retrolental : Kebutaan pada bayi prematur yang mendapat terapi oksigen

II.9 TANDA DAN GEJALA KERACUNAN OKSIGEN

• Terjadi penurunan vital capacity (Vc)

• Paraesthesia, sakit sendi, mual dan muntah

• Atelectesia

• Perubahan mental dan gangguan penglihatan

II.10 MONITORING TERAPI OKSIGEN

• Tanda klinis

- Kerja nafas : RR, otot nafas tambahan, nafas cuping hidung, sianosis

- Kerja jantung : Nadi, tensi

Page 21: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

18 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• Pulse oxymetri

• Analisa gas darah

Transtrakeal kateter

Bag Valve Mask

18 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• Pulse oxymetri

• Analisa gas darah

Transtrakeal kateter

Bag Valve Mask

18 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

• Pulse oxymetri

• Analisa gas darah

Transtrakeal kateter

Bag Valve Mask

Page 22: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

19 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses metabolisme,

untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini iperoleh

dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas. Penyampaian O2

ke jaringan

tubuh ditentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis.

Adanya kekurangan O2

ditandai dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat

menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan. Klien dalam situasi

demikian mengharapkan kompetensi perawat dalaam mengenal keadaan hipoksemia dengan

segera untuk mengatasi masalah. tujuan utama pemberian O2

adalah (1) untuk mengatasi keadaan

Hipoksemia sesuai dengan hasil Analisa Gas Darah, (2) untuk menurunkan kerja nafas dan

meurunkan kerja miokard

Indikasi terapi oksigen ini adalah untuk pasien hipoksia, oksigenasi kurang sedangkan paru

normal, oksigenasi cukup sedangkan paru tidak normal, oksigenasi cukup, paru normal,

sedangkan sirkulasi tidak normal, pasien yang membutuhkan pemberian oksigen konsentrasi

tinggi, pasien dengan tekanan partial karbondioksida ( PaCO2 ) rendah. Kontra indikasi

pemakaian terapi oksigen ini adalah pemakaian kanul nasal/kateter binasal/nasal prong : jika ada

obstruksi nasal, pemakaian kateter nasofaringeal / kateter nasal : jika ada fraktur dasar tengkorak

kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal, pemakaian sungkup muka dengan kantong

rebreathing : pada pasien dengan PaCO2 tinggi, akan lebih meningkatkan kadar PaCO2 nya lagi.

Komplikasi pemakaian terapi oksigen yang terlalu lama dapat mengakibatkan keracunan

oksigen, kerusakan jaringan paru terjadi akibat terbentuknya metabolik oksigen yang

merangsang sel PMN dan H2O2 melepaskan enzim proteolotikdan enzim lisosom yang dapat

merusak alveoli.

Page 23: MAKALAH TERAPI OKSIGEN

20 | T e r a p i O 2 – P u s p a A y u N

Daftar Pustaka

1. Astowo. Pudjo. 2005. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan

Kedokteran Respirasi. FKUI. Jakarta.

2. Ikawati, Z. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Pernapasan. PDF. Rohsiswatmo, R.

2010. Terapi Oksigen Pada Neonatus. Divisi Perinatologi Ilmu Kesehatan Anak FKUI -

RSCMk FKUI – RSCM. Jakarta.

3. Rogayah, R. 2009. The Principle Of Oxigen Therapy. Departemen Pulmonologi Dan

Respiratori FK UI. Jakarta.

4. Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa Indonesia, vol. 8.EGC. Jakarta.

5. Potter & Perry. 2002. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, danPraktik. Volume 2. Edisi 4. EGC. Jakarta.

6. Ganong, F. William. 2003. Fisiologi Kedokteran Edisi 20. EGC. Jakarta.

7. Latief, A. Said. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan TerapiIntesif. Jakarta.