Click here to load reader

Makalah Pkn

  • View
    83

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of Makalah Pkn

MEMPERTAHANKAN & MELESTARIKAN IDEOLOGI PANCASILA

Disusun Oleh : Dewi Uvitasari Rudi Surya Permana Sudedy Saputro Supriyadi Tanti Octaviani Suryanto Windi Setiawati Yugo N S Fakultas Ekonomi Program Studi Manajemen Ruang 518 Tahun Ajaran 2012/20131

Daftar Isi Bab I Pendahuluan . 3

Bab II Hakekat Ideologi Pancsila ........4-8 Bab III Fungsi Ideologi Bagi Suatu Bangsa . 9 Bab IV Proses Perumusan Pancasila .. 10-13

Bab V Pancasila Sebagai Ideologi Nasional . 14 Bab VI Upaya-Upaya Mempertahankan Pancasila Sebagai Ideologi Naegara ... 15-17 Daftar Pustaka .. 18

2

BAB I PENDAHULUANI. Latar BelakangIdeologi Pancasila adalah ideologi yang selama ini telah menjadi dasar Negara Indonesia. Nilai-nilai pancasila yang terkandung di dalam nyamerupakan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai-nilai pancasila sebagai sumber nilai bagi manusia Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, maksudnya sumber acuan dalam betingkah laku dan bertindak dalam menetukan dan menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara. Dengan demikian nilai-nilai pancasila menjadi ideologi yang tidak diciptakan oleh negara, melainkan digali dari harta kekayaan rohani moral dan budaya masyarakat Indonesia sendiri. Akhir-akhir ini, terasa pamor Pancasila sedang menurun. Pancasila juga dapat dipandang sebagai ideologi negara kebangsaan Indonesia. Tampaknya, sejak awal reformasi hingga saat ini sedang terjadi kemunduran pamor ideologi Pancasila seiring meningkatnya liberalisasi dan demokratisasi dunia.

II. Rumusan Masalah Bagaimana kita mempertahankan dan melestarikan Ideologi Pancasila?

III.

Tujuan

Cara untuk mempertahankan ideologi Pancasila Agar kita lebih memahami tentang ideologi Pancasila itu sendiri

3

BAB II PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL 1. HAKIKAT IDEOLOGIBacaan: 1

Pancasila dan Keberlanjutan NKRI Oleh Siswono Yudo Husodo .. Pudarnya Ideologi Pancasila Sebuah negara bangsa membutuhkan Weltanschauung atau landasan filosofis. Atas dasar Weltanschauung itu, disusunlah visi, misi, dan tujuan negara. Tanpa itu, negara bergerak seperti layangan putus, tanpa pedoman. . Akhir-akhir ini, terasa pamor Pancasila sedang menurun. Pancasila juga dapat dipandang sebagai ideologi negara kebangsaan Indonesia. Tampaknya, sejak awal reformasi hingga saat ini sedang terjadi declining (kemunduran) pamor ideologi Pancasila seiring meningkatnya liberalisasi dan demokratisasi dunia. Sosialisasi Pancasila di masa lalu, di mana yang mengikuti penataran memperoleh sertifikat dan menjadi persyaratan dalam promosi jabatan, telah menjadikan Pancasila hafalan, dan tidak terwujud secara substansial pada perikehidupan sehari-hari masyarakatnya. (Sumber: www.kompas.com)

A. PENGERTIAN IDEOLOGI a. Secara etimologis Istilah ideologi berasal dari kata idea dan logos. Idea berarti pemikiran, konsep, atau gagasan. Logos berarti pengetahuan. Ideologi adalah pengetahuan tentang ide-ide, keyakinan, atau gagasan. b. Secara umum Ideologi adalah seperangkat prinsip-prinsip yang dijadikan dasar untuk memberikan arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam melangsungkan dan mengembangkan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara. Ideologi Politik adalah sistem kepercayaan yang menerangkan dan membenarkan suatu tatanan politik yang ada atau yang dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi serta program untuk mencapainya. Ideologi sebagai falsafah hidup adalah ideologi sebagai pandangan hidup.

4

Istilah ideologi pertama kali di kemukakan oleh Destutt de Tracy seorang perangcis pada tahun 1796. Karl Marx mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup yang di kembangkan berdasarkan kepentingan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial atau sosial ekonomi. Ramlan Surbakti mengemukakan ada dua pengertian ideologi secara fungsional dan ideologi secara struktural. Ideologi secara fungsional di golongkan menjadi dua tipe yaitu ideologi doktriner dan ideologi yang pragmatis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ideologi adalah kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan yang menyeluruh dan sistematis yang menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia. Notonegoro sebagaimana di kutip oleh kaelam mengemukakan, bahawa ideologi negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi dasar atau yang menjadi suatu sisitem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada hakikatnya merupakan asas kerohanian yang antara lain memiliki ciri: 1. Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan. 2. Mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pedoman hidup, pegangan hidup, yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan, kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban. 3. Ideologi merupakan cerminan cara berfikir orang atau masyarakat yang sekaligus membentuk orang atau masyarakat itu menuju cita-citanya. Ideologi merupakan sesuatu yang di hayati menjadi sesuatu keyakinan. Semakin mendalam kesadaran ideologis seseorang maka akan semakin tinggi pula komitmen nya untuk melaksanaknya. 4. Ideologi berintikan seperangkat nilai yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimilikanya dan dipegang oleh seseorang atau suatu masyarakat sebagi wawasan atau pedoman hidup mereka. Pengertian yang demikian itu juga dapat di kembangkan untuk masyarakat yang lebih luas, yaitu masyarakat bangsa.

B. BERBAGAI MACAM IDEOLOGI a. Komunisme Istilah komunisme berasal dari kata komuna yang berarti bersama-sama. Ciri-ciri Komunisme: 1) Mereka hanya mempercayai hal-hal yang sifatnya materialisme, dan menentang agama. 2) Sebagai sebuah sistem politik, maka komunisme menganggap bahwa negara merupakan mesin yang dipakai untuk menindas kelas lain. 3) Gagasan monisme (menentang pluralisme): persatuan masyarakat merupakan keharusan dan oposisi ditindas. 4) Kekerasan dianggap sebagai alat yang sah untuk mencapai komunisme. 5) Negara merupakan alat untuk mencapai komunisme.5

b. Fasisme Fasisme merupakan pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeristis, dan imperialis. Ciri-ciri fasisme: 1) Ketidakpercayaan pada nalar (rasio) 2) Pengingkaran persamaan derajat kemanusiaan 3) Kode perilaku yang didasarkan pada kebohongan dan kekerasan 4) Pemerintahan oleh kelompok elit 5) Totaliterisme 6) Rasialisme dan imperialisme 7) Menentang hukum dan ketertiban international. Di Eropa, fasisme muncul di Italia (1922), Jerman (1933), dan Spanyol (1936). Di Asia, fasisme muncul di Jepang (1930-an). c. Liberalisme dan Kapitalisme Liberalisme adalah sebuah ideologi yang menjunjung tinggi kebebasan individu / perorangan. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang menekankan pada kebebasan untuk bersaing dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Ciri-ciri Kapitalisme: 1) Pemilikan alat-alat produksi (tanah, pabrik, mesin, dan sumber alam) secara perorangan 2) Perekonomian pasar. Produsen dan konsumen yang akan menentukan berapa barang yang akan diproduksi, berapa harganya, dan berapa yang akan dijual dan dibeli. 3) Persaingan. Terjadi persaingan yang kuat antara produsen yang satu dengan produsen yang lain tentang kualitas, jenis, jumlah produksi, dan harga barang. 4) Keuntungan. Perekonomian kapitalis lebih banyak memberikan kesempatan untuk meraih keuntungan karena adanya kebebasan. d. Sosialisme Sosialisme merupakan ideologi yang menginginkan adanya kemakmuran bersama dalam semua bidang kehidupan masyarakat dan meliputi seluruh kelas dalam masyarakat.

6

IV. Perbandingan Ideologi Pancasila Dengan Ideologi lain (ideologi liberalisme dan idelogi sosialisme) No 1 Aspek Politik (hubungan negara dengan warga negara) Ideologi Liberalisme Negara sebagai penjaga malam. Rakyat atau warganya mempunyai kebebasan atau bertinddak apa saja asal tidak melanggar tats tertib hukum, kepentingan dan hak warganegara lebih diutamakn dari, pada kepentingsn Negara Negara tidak mempunyai urusan agama. Agama menjadi urusan pribadi setiap warga negaranya. Warga negara bebas beragama, tetapi juga bebas tidak beragama. Ideologi Sosialisme Kepentingan negara lebih diutamakan daripada kepentingan warga negara. Kebebasan atau kepentingan warga negara dkalahkan untuk kepentingan negara. Ideologi Pancasila hubungan antara warga negara dengan negara adalah seimbang. Artinya kepentingan negara dengan warga negara samasama dipetingkan

2

Agama (hubungan negara dengan agama)

Kehidupan agama terpisah dengan negara. Warga negara bebas beragama, bebas tidak beragama dan bebas pula untuk propaganda antiagama.

3

Pendidikan (tujuan pendidikan)

Pendidikan Pendidikan diarahkan diarahkan pada untuk membentuk pengembangan warga negara yang demokrasi senantiasa patuh atau taat pada perintah negara

4

Ekonomi (sistem perekonomi an )

Sisitem ekonomi yang pengelolaannya diatur oleh kekuatan pasar. Sistem

Sistem ekonomi sosialisme ini bertujuan untuk memperoleh suatu

Agama erat hubungannya dengan negara. Setiap warganegara dijamin pula kebebasanya untuk memilih salah satu agama yang diakui oleh pemerintah. Setiap orang harus beragama, dan tidak diperbolehkan propaganda antiagama Pendidikan diarahkan untuk membentuk warga negara yang bertanggung jawab memiliki akhlak mulia dan takwa kepada tuhan yang Tuhan yang Maha Esa. Sisitem ekonomi pancasila terdiri dari beberapa prinsip antara lain berkaitan 7

ekonomi ini menghendaki adanya kebebasan individeu dalam kegiatan ekonomi dan pemerintah tidak ikut campur dalam kegiatan ekonomi. Pemerintah hanya bertugas melindungi, menjaga dan memberi fasilitas

distribusi yang lebih baik dan perolehan produksi kekayaan yang lebih baik. Sisitem sosialisme berpandangan bahwa kemakmuran individu hanya mungkin tercapai bila berpondasikan kemakmuran bersama dan merupakan faktorfaktor produksi yang merupakan kepemilikan sosial

dengan prinsip kemanusiaan dengan prinsip kemanusiaan, nasionalisme ekonomi, demokrasi ekonomi yang diwujudkan dalam ekonomi kerakyatan dan keadilan

8

BAB III FUNGSI IDEOLOGI BAGI SUATU BANGSADimaknai sebagai keseluruhan pandangan, citap-cita, nilai, dan keyakinan yang ingin diwujudkan dalam kenyataan hidup nyata. Ideologi dalam artian ini sangat diperlukan, karena dianggap mampu membangkitkan kesadaran akan kemerdekaan, memberikan arahan mengenai dunia beserta isinya, serta menanamkan semangat dalam perjuangan masyarakat untuk bergerak melawan penjajahan, yang selanjutnya mewujudkan dalam kehidupan penyelenggara negara. Pentingnya ideologi bagi suatu negara juga terlihat dari fungsinya. Adapaun fungsi idelogi adalah sebagai berikut:

Bagi suatu bangsa, maka ideologi berfungsi: a. Prinsip-prinsip hidup berbangsa dan bernegara b. Menjadi dasar hidup berbangsa dan bernegara c. Memberi arah dan tujuan dalam hidup berbangsa dan bernegara d. Membentuk identitas atau ciri kelompok atau bangsa e. Mempersatukan sesama f. Mempersatukan orang dari berbagai agama g. Mengatasi berbagai pertentangan / konflik / ketegangan social h. Pembentukan solidariatas A. PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

Nilai-nilai pancasila yang terkandung di dalam nya merupakan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai-nilai pancasila sebagai sumber nilai bagi manusia Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, maksudnya sumber acuan dalam betingkah laku dan bertindak dalam menetukan dan menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara. Dengan demikian nilai-nilai pancasila menjadi ideologi yang tidak diciptakan oleh negara, melainkan digali dari harta kekayaan rohani moral dan budaya masyarakat Indonesia sendiri. Sebagai ideologi yang tidak diciptakan oleh negara menjadikan pancasila sebagai ideologi juga merupakan sumber Indonesia dan meliputi suasana kebatinan dari undang undang nilai sehingga pancasila merupakan asa kerohanian bagi tertib hukum Indonesia dan meliputi suasana kebatinan dari undang undang dasar 1945 serata mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara.

9

BAB IV PROSES PERUMUSAN PANCASILA Istilah Pancasila, disampaikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Istilah Pancasila digunakan untuk menggambarkan lima sila (lima dasar) yang akan dijadikan sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Pembahasan mengenai dasar negara Indonesia dilakukan dalam rapat-rapat BPUPKI yang berlangsung mulai tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Dalam siding tersebut, tiga anggota BPUPKI, yaitu Mr. Muhammad Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno, mengajukan usul pokok-pokok pikiran dasar negara. a. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan usulan tentang Lima Asas Dasar Negara Indonesia Merdeka, yaitu: 1. Peri Kebangsaan 2. Peri Kemanusiaan 3. Peri Ketuhanan 4. Peri Kerakyatan 5. Peri Kesejahteraan Rakyat Secara tertulis, Muhammad Yamin menyampaikan lima rumusan dasar negara, yaitu: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa 2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab 3) Persatuan Indonesia 4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia b. 1) 2) 3) 4) 5) c. 1) 2) 3) 4) 5) Pada tanggal 31 Mei 1945, Mr. Soepomo menyampaikan usulan: Paham negara kesatuan Warganegara hendaknya tunduk kepada Tuhan dan supaya ingat kepada Tuhan (Perhubungan Negara dan Agama) Sistem badan permusyawaratan Ekonomi negara bersifat kekeluargaan Hubungan antarbangsa yang bersifat Asia Timur Raya Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan usulan: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan Mufakat atau Demokrasi Kesejahteraan Sosial Ketuhanan Yang Berkebudayaan

10

Sampai tanggal 1 Juni 1945 belum dicapai kata sepakat tentang rumusan dasar negara yang dipilih. Oleh karena itu kemudian dibentuk Panitia Sembilan, dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Pada tanggal 10 Juni 1945 dibuka Sidang Kedua untuk membicarakan undangundang dasar yang telah disusun oleh panitia kecil yang menyusun Pembukaan UUD dan panitia lain yang diketuai oleh Mr. Soepomo mennyusun Batang Tubuh UUD.Pada tanggal 22 Juli 1945, Panitia Sembilan mengadakan pertemuan dengan anggota BPUPKI. Pertemuan tersebut menghasilkan Piuagam Jakarta, yang sekarang merupakan Pembukaan UUD 1945.

11

1.

NILAI-NILAI DASAR PANCASILA

Bacaan : 2 Pancasila Oleh G Moedjanto Ajaran Pancasila Bagaimana halnya dengan Pancasila? Pancasila mengajarkan manusia untuk mengimani Allah, pencipta alam raya beserta isinya. Hidup manusia tergantung pada Allah. Ada juga kepercayaan tentang sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan manusia). Orang meninggal ditanggapi dengan pernyataan dari Allah kembali kepada Allah, Pancasila mengajarkan penghargaan atas manusia sebagai pribadi. Manusia dihormati karena kodratnya sebagai manusia. Manusia adalah mahluk yang berbudaya. Padanya terdapat budi yang luhur, yang bersedia memperlakukan orang lain dengan kasih saying. Pancasila, yang terdiri atas lima sila itu jelas menghormati HAM, yakni dari kebebasan beragama dan beribadah, kemanusiaan yang adil dan beradab, persaudaraan sesame bangsa, demokrasi dengan musyawarah, dan akhirnya keadilan sosial. Pancasila tidak hanya mengajarkan kebahagiaan material, tetapi juga batin. Jadi memburu mutu kehidupan yang berimbang; kebahagiaan dan ketenteraman lahir dan batin. (Sumber: www.kompas.com)

a. Pada Pembukaan UUD 1945 1) Alinea Pertama: Pernyataan kemerdekaan, perikemanusiaan, dan perikeadilan 2) Alinea Kedua: Memuat cita-cita nasional yaitu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. 3) Alinea Ketiga: Pernyataan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai dengan sikap nasionalisme yang dilandasi oleh nilai-nilai religi dan kemanusiaan 4) Alinea Keempat: Mengandung pernyataan tentang tujuan negara, susunan negara, sistem pemerintahan, dan dasar negara. b. Pada Pancasila 1) Sila Pertama: Mengandung pernyataan bahwa Tuhan adalah sebab pertama yang tidak disebabkan oleh sebab yang lain (causa prima), Yang Maha Esa, segala sesuatu bergantung kepadaNya, dan Tuhan ada secara mutlak. 2) a) b) c) Sila Kedua: Nilai-nilai kemanusiaan meliputi: Pengakuan terhadap martabat manusia Pengakuan yang adil terhadap sesame manusia Pengakuan manusia sebagai makhuk yang beradab

12

3) Sila Ketiga: Nilai-nilai persatuan bangsa meliputi: a) Persatuan bangsa Indonesia adalah persatuan bangsa b) Bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa di Indonesia c) Pengakuan terhadap ke-Bhinekaa Tunggal Ika-an suku bangsa dan kebudayaan 4) a) b) c) Sila Keempat: Nilai kerakyatan, yang meliputi: Kedaulatan ada di tangan rakyat Warga negara mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama Musyawarah mufakat.

5) Sila Kelima: Nilai keadilan sosial meliputi: a) Perwujudan keadilan social b) Keadilan dalam kehidupan ideologi, sosial, politik, budaya, dan pertahanan keamanan nasional. c) Cita-cita masyarakat adil makmur, materiil dan spiritual d) Keseimbangan antara hak dan kewajiban

13

BAB V PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL a. PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA Pancasila digunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan negara atau mengatur penyelenggaraan negara. Fungsi Pancasila sebagai dasar negara mempunyai kedudukan istimewa dalam hidup kenegaraan dan hukum bangsa Indonesia yaitu sebagai pokok kaidah negara yang fundamental. b. PANCASILA SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM Pancasila sebagai sumber hukum berarti bahwa Pancasila merupakan asal usul nilai dan sumber nilai yang menjadi sumber hukum positif. c. PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA INDONESIA Pancasila merupakan pandangan dunia, pandangan hidup, pegangan hidup, pedoman hidup dan petunjuk hidup. Pancasila digunakan sebagai penunjuk semua kegiatan hidup dan kehidupan, semua tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia. d) PANCASILA SEBAGAI JIWA DAN KEPRIBADIAN BANGSA INDONESIA Jiwa Pancasila telah ada sejak berabad-abad lamanya dalam kehidupan bangsa Indonesia dan keberadaannya bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia. Pancasila menjadi dan memberi corak yang khas kepada bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa lain. e. PANCASILA SEBAGAI PERJANJIAN LUHUR RAKYAT INDONESIA Pancasila merupakan hasil persetujuan bersama wakil-wakil rakyat menjelang proklamasi kemerdekaan, yaitu disetujui bersama dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Perjanjian tersebut mengikat kita bersama dan perjanjian tersebut harus dihormati dan dilaksanakan bersama. f. PANCASILA SEBAGAI TUJUAN YANG AKAN DICAPAI OLEH BANGSA INDONESIA Tujuan kehidupan bangsa Indonesia adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. g. PANCASILA SEBAGAI ALAT PEMERSATU BANGSA INDONESIA Pancasila mampu menyatukan bangsa Indonesia yang tinggal di berbagai daerah dan wilayah yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan suku bangsa yang berbeda adat istiadat dan kebudayaannya.

14

BAB VI UPAYA-UPAYA MEMPERTAHANKAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA Bacaan: 3 Pancasila dan Keberlanjutan NKRI Oleh: Siswono Yudo Husodo Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan spesifik. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Yunani, yang menjadi suatu negara karena kesamaan bahasa. Atau Australia, India, Sri Lanka, Singapura, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Atau Jepang, Korea, dan negara-negara di Timur Tengah, yang menjadi satu negara karena kesamaan ras. Indonesia menjadi satu negara bangsa meski terdiri dari banyak bahasa, etnik, ras, dan kepulauan. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa lalu; nyaris kesamaan wilayah selama 500 tahun Kerajaan Sriwijaya dan 300 tahun Kerajaan Majapahit dan sama-sama 350 tahun dijajah Belanda serta 3,5 tahun oleh Jepang. Negara kita juga terbentuk atas upaya besar founding fathers, yang tanpa kenal lelah keluar masuk penjara memantapkan rasa kebangsaan Indonesia yang resminya lahir pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Negara kebangsaan Indonesia lahir melalui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan UUD 1945 yang ditetapkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945, yang pada bagian pembukaanya memuat Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila merupakan sublimasi dari pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat kita yang beragam suku, ras, bahasa, agama, pulau, menjadi bangsa yang satu, Indonesia. (Sumber: www.kompas.com)Sejarah terkait Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara telah menunjukkan kekuatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itulah yang kita refleksikan kembali setiap memperingati Hari Kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni. Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara telah melewati fase pembuahan, fase perumusan, dan fase pengesahan (Yudi Latif: 2011). Satu hal yang tak disinggung Yudi Latif adalah fase pergumulan Pancasila dan kekuasaan, khususnya di masa Orde Baru. Persinggungan ini perlu direnungkan ulang mengingat penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal pada masa Orde Baru mempunyai dua pertimbangan. Pertama, pertimbangan politik demi penyelamatan partai politik dan organisasi sosial keagamaan. Kedua, pertimbangan kesadaran intelektual keagamaan bahwa Pancasila bisa berdampingan secara damai dengan agama.

15

Pertimbangan kedua dibangun Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berpengaruh dalam memberikan orientasi Pancasila kepada bangsa Indonesia, khususnya kepada Nahdlatul Ulama (NU). Tulisan ini mengancah dinamisasi pemikiran Pancasila yang digagas Gus Dur. Semangat Pluralisme Nilai historis penerimaan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara merupakan bukti kekuatan Pancasila mempersatukan berbagai entitas Indonesia. Dengan demikian, Pancasila benar-benar berangkat dari realitas masyarakat Indonesia. Semangat keberagaman yang terdapat dalam Pancasila merupakan keniscayaan Indonesia. Aneka bahasa, suku, dan agama harus dimaknai sebagai anugerah Tuhan untuk Indonesia. Pluralitas tersebut menjadikan Pancasila begitu penting dalam menjaga keseimbangan dan kesetaraan. Pancasila tidak menghendaki adanya dikotomi mayoritas dan minoritas. Di hadapan negara, seluruh elemen masyarakat adalah sama. Semua pihak berhak hidup dan menjalankan aktivitas sesuai norma agama dan budaya masing-masing. Inilah prinsip pluralisme yang diperjuangkan Gus Dur. Prinsip pluralisme tersebut menjadi pijakan Gus Dur dalam menoropong konsep kebangsaaan. Bahkan, sebelum wafat, Gus Dur berpesan, "Saya ingin di kuburan saya ada tulisan, di sinilah dikubur seorang pluralis." Langkah konkret Gus Dur terlihat saat menjabat presiden. Beliau menjadikan Konghucu sebagai agama resmi negara. Jasa terbesar Gus Dur juga terlihat saat mencabut PP Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang kegiatan warga Tionghoa, Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Kebahagiaan kalangan Konghucu sampai dan kebebasan etnis Tionghoa merayakan Barongsai merupakan bukti nyata kontribusi Gus Dur merealisasikan pluralisme. Tiga Dasar Keberagaman Gus Dur meletakkan dasar keberagaman dalam tiga aspek pokok dan menjadi tiga nilai universal perjuangan pluralisme. Tiga hal tersebut adalah kebebasan, keadilan, dan musyawarah (Abdurrahman Wahid: 1998). Bagi Gus Dur, kebebasan merupakan prasyarat hadirnya pluralisme. Gus Dur mendambakan terciptanya komunitas merdeka dalam masyarakat etno-religius Indonesia yang heterogen. Dalam komunitas merdeka, entitas kemajemukan bukan hanya dilindungi dari kekuatan eksternal, melainkan juga diberi kesempatan mengekspresikan identitasnya di ruang publik. Dalam bidang keagamaan, Gus Dur meyakini Pancasila menjamin kebebasan beragama. Bukan hanya sebatas memeluk agama, melainkan juga mencakup peran etika kemasyarakatan agama di ruang publik.

16

Gus Dur tak kenal lelah dalam membela hak minoritas dan hal ini menunjukkan kepekaannya terhadap keadilan. Demi mewujudkan keadilan, Gus Dur menentang dikotomi mayoritas-minoritas. Bagi Gus Dur, wacana mayoritas-minoritas yang bersifat hierarki dan oposisional bukan hanya mengancam keadilan, melainkan juga mengarah pada disintegrasi bangsa. Dalam hal ini, Gus Dur berpandangan Islam sebagai agama mayoritas dapat dijadikan sebagai etika kemasyarakatan, tetapi tidak boleh dijadikan sistem nilai dominan, apalagi menjadi ideologi alternatif menggantikan Pancasila. Fungsi Islam, menurut Gus Dur, sama seperti agama lain dapat menjadi sistem nilai pelengkap bagi komunitas sosio-kultural. Toleransi bukan lagi sekadar menerima keberagaman, melainkan bagaimana supaya keberagaman membawa manfaat. Konsep multikultural akhirnya menjadi produktif, bukan hanya sebatas saling menerima, melainkan memberikan kontribusi positif dengan upaya mencari titik kelebihan masing-masing. Tantangan Pancasila Pancasila saat ini menghadapi tiga tantangan besar. Pertama, tantangan internasional berupa cengkeraman globalisasi yang terkadang kurang mengindahkan rasa keadilan. Kedua, tantangan nasional, yakni saat pilar kebhinnekaan dihadapkan pada segelintir kelompok yang menggunakan kekerasan dalam mempertahankan pandangan mereka. Tak jarang kelompok ini menggunakan jargon-jargon keagamaan menghadapi kelompok lain. Ketiga tantangan lokal, seperti meletusnya kerusuhan atas nama etnik, konflik tanah, dan pemaksaan simbol-simbol historis tertentu kepada publik. Tiga tantangan ini harus diantisipasi bersama untuk menyelamatkan Pancasila. Usaha melestarikan pluralisme yang telah diperjuangkan Gus Dur merupakan bentuk usaha konkret mempertahankan Pancasila. Usaha ini pula menjadi bentuk penghargaan kita terhadap jasa-jasa Gus Dur. Sikap ini jauh lebih penting daripada sekadar penganugerahan pahlawan nasional yang sedang diusulkan banyak pihak. Gus Dur telah memberi contoh yang baik tentang pelestarian Pancasila, yaitu dengan cara menjaga kenyamanan kehidupan bagi semua entitas bangsa dan pengakuan secara tulus akan adanya hak-hak kalangan minoritas.

17

DAFTAR PUSTAKA WWW.KOMPAS.COM WWW.SIAPBELAJAR.COM ID.WIKIPEDIA.ORG IDEOLOGIPANCASILA.WORDPRESS.COM WWW.GOOGLE.COM

18