of 40 /40
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global, gejala klinis bisa terjadi selama 24 jam atau lebih bahkan bisa menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Badan Kesehatan se-Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama urutan kedua pada kelompok usia di atas 60 tahun, dan urutan kelima penyebab kematian pada usia 15-59 tahun. Di negara-negara maju, insidensi stroke cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Kondisi ini antara lain disebabkanoleh pembatasan peredaran rokok melalui peningkatan bea cukai rokok, serta peningkatan kepatuhan penderita hipertensi mengontrol tekanan darahnya. Meskipun demikian, prevalensi penderita stroke terus bertambah seiring meningkatnya harapan hidup di Negara maju. Di Eropa diperkirakan terdapat 100-200 kasus stroke baru per 10.000 penduduk per tahun . Di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 700.000 insiden stroke per tahun yang menyebabkna lebih dari 160.000 kematian

Laporan Kelompok 1 Stroke

Embed Size (px)

DESCRIPTION

stroke

Citation preview

Page 1: Laporan Kelompok 1 Stroke

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan

berkembang dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global,

gejala klinis bisa terjadi selama 24 jam atau lebih bahkan bisa menyebabkan

kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.

Badan Kesehatan se-Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta orang

terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama

urutan kedua pada kelompok usia di atas 60 tahun, dan urutan kelima penyebab

kematian pada usia 15-59 tahun.

Di negara-negara maju, insidensi stroke cenderung mengalami penurunan

setiap tahunnya. Kondisi ini antara lain disebabkanoleh pembatasan peredaran

rokok melalui peningkatan bea cukai rokok, serta peningkatan kepatuhan

penderita hipertensi mengontrol tekanan darahnya. Meskipun demikian,

prevalensi penderita stroke terus bertambah seiring meningkatnya harapan hidup

di Negara maju.

Di Eropa diperkirakan terdapat 100-200 kasus stroke baru per 10.000

penduduk per tahun . Di Amerika diperkirakan terdapat lebih dari 700.000 insiden

stroke per tahun yang menyebabkna lebih dari 160.000 kematian per tahun

dengan 4,8 juta penderita yang bertahan hidup.

Sementara itu, di Negara-negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia,

insidensi stroke cenderung meningkat setiap tahunnya meskipun sulit mendapat

data yang akurat.

Stroke menduduki posisi ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung dan

kanker. Sebanyak 28,5 % penderita stroke meninggal dunia. Sisanya menderita

kelumpuhan sebagian maupun total dan hanya 15% saja yang dapat sembuh total

dari serangan stroke dan kecacatan. Yayasan stroke Indonesia (Yastroki)

Page 2: Laporan Kelompok 1 Stroke

menyebutkan bahwa 63,52 per 100 ribu penduduk Indonesia berumur di atas 65

tahun ditaksir menderita stroke.

B. Batasan Topik

Student Learning Objectives

1. Definisi dari Stroke

2. Klasifikasi Stroke

3. Epidemiologi dari Stroke

4. Patofisiologi dari Stroke

5. Faktor resiko terjadinya Stroke

6. Manifestasi klinis dari Stroke

7. Pemeriksaan diagnostik Stroke

8. Penatalaksanaan medis dari Stroke

9. Asuhan keperawatan dari Stroke

Page 3: Laporan Kelompok 1 Stroke

BAB II

PEMBAHASAN

Trigger

Mbah Parno usia 65 tahun adalah seorang pekerja pabrik bangunan di kawasan industri

terkenal. Ia baru saja bercerai dari istrinya sedangkan anak satu-satunya memilih ikut

ibunya. Mbah Parno suka sekali merokok dan minum kopi setiap saat. Biasanya ia

sarapan hanya dengan segelas kopi dan rokok lalu berangkat kerja, jarang makan siang

namun ia mengaku makan malamnya sangat banyak dan sebagian besar adalah daging

dan karbohidrat. Suatu pagi Mbah Parno mengeluh tidak bisa menggerakkan tangan dan

kakinya yang sebelah kanan.

Penjelasan

1. Definisi

Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang

dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global, gejala klinis bisa terjadi

selama 24 jam atau lebih bahkan bisa menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab

lain yang jelas selain vaskuler.

Cedera vascular serebral (CVS), yang sering disebut stroke atau serangan otak,

adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah. Stroke didefinisikan

sebagai deficit (gangguan) fungsi system saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan

oleh gangguan peredaran darah otak. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di

otak. Gangguan peredaran darah otak dapat berupa tersumbatnya pembuluh darah otak

atau pecahnya pembuluh darah di otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan

oksigen dan zat makanan menjadi terganggu. Kekurangan pasokan oksigen ke otak ini

akan memunculkan gejala stroke.

Page 4: Laporan Kelompok 1 Stroke

Pada CVS, hipoksia serebral yang nenyebabkan cedera dan kematian sel neurin

terjadi. Inflamasi yang ditandai dengan pelepasan sitokin proinflamasi, produksi radikal

bebas oksigen, dan pembengkakakn serta edema ruang interstisial, terjadi pada

kerusakan sel dan menyebabkan situasi yang memburuk. Demikian pula, asidosis terjadi

akibat hipoksia dan mencederai otak lebih lanjut melalui kerusakan otak setelah stroke,

biasanya memuncak 24 sampai 72 jam setelah kematian sel neuron.

2. Klasifikasi

Berdasar kelainan patologis

1. Stroke Iskemik/nonhemoragik (penyumbatan)

Merupakan jenis stroke yang paling sering di jumpai sekitar 80 % kasus tergolong

kasus ini. Stroke Iskemik dibagi lagi berdasarkan lokasi penyumbatannya, yaitu :

a) Stroke Iskemik Trombotik

Terjadi karena adanya penggumpalan paa pembuluh darah di otak. Secara klinis

juga disebut dengan serebral thrombosis yang diuraikan lagi berasarkan jenis

pebuluh darah tempat terjadinya penyumbatan, antara lain :

1) Thrombosis pembuluh dara besar. Biasanya terjadi di pembuluh arteri

besar otak. Dalam banyak kasus, thrombosis pembuluh darah besar

diakibatkan oleh aterosklerosis yang diikuti oleh terbentuknya gumpalan

darah yang cepat dan didukung oleh tingginya kadar kolesterol jahat (LDL)

2) Thrombosis pembuluh darah kecil terjadi ketika aliran darah ke pembuluh

darah kecil terhambat, ini terkait dengan hipertensi dan merupakan

indikator penyakit aterosklerosis.

b) Stroke Iskemik Embolik

Penggumpalan terjadi di jantung sehingga darah tak bisa mengaliri oksigen dan

nutrisi ke otak. Kelainan pada jantung ini mengakibatkan curah jantung

berkurang atau tekanan perfusi yang menurun. Stroke ini biasanya muncul saat

sedang beraktivitas fisik, seperti olagraga.

c) Hipoperfusion sistemik

Page 5: Laporan Kelompok 1 Stroke

Merupakan jenis stroke yang disebabkan berkurangnya aliran darah keseluruh

bagian tubuh karena adanya gangguan denyut jantung.

2. Stroke Hemoragik (perdarahan)

Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak atau pembuluh darah otak

bocor. Ini bisa terjadi karena tekanan darah ke otak tiba-tiba meninggi, sehingga

menekan pembuluh darah. Biasanya perdarahan otak terjadi di basal ganglia,

serebelum, brainstem (batang otak), koteks (selaput otak). Bila tekanan yang terjadi

di otak sangat tinggi maka akan menyebabkan pasien koma atau meninggal dunia.

Stoke ini juga dibagi berdasarkan lokasi serangan, antara lain :

1. Stroke Hemoragik Intraserebral

Banyak terjadi di dalam otak. Sebagian besar pasien yang mengalaminya bisa

menderita lumpuh dan susah diobati. Jika terkena di daerah thalamus, sering

penderitanya tidak dapat ditolong meskipun dilakukan tinakan operasi.

2. Stroke hemoragik Subaraknoid

Hampir sama dengan stroke Hemoragik Intraserebral, yang membedakan stroke

ini terjadi di pebuluh darah di luar otak, tapi masih di daerah kepala seperti

selaput otak atau bagian bawah otak. Walaupun tidak di dalam otak, perdarahan

itu bisa menean otak karena adanya aneurisma yang pecah ata AVM

(arterivenous malformation) yang pecah. Penyebab lainnya adalah cerebral

aneurysm (adanya penonjolan pembuluh darah seperti balon).pecahnya

pembuluh darah ini karena darah yang mengalir ke otak tidak teratur.

Berdasar waktu terjadinya

1. TIA ( Trans Iskemik Attack)

Gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai

beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna

dalam waktu kurang dari 24 jam.

2. Stroke involusi

Page 6: Laporan Kelompok 1 Stroke

Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat

semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa

hari.

3. Stroke komplit

Stroke dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen .

Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang.

4. Epidemiologi

Kasus stroke baru terjadi pada 100 sampai 300 orang per 100.000 penduduk per

tahun. Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker,

namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Proporsi stroke sumbatan (infark)

pada umumnya mencapai 70% kasus, stroke perdarahan intraserebral 25%, dan

perdarahan subarachnoid 5%.

Di Amerika, stroke menempati posisi ketiga sebagai penyakit utama yang

menyebabkan kematian. Setiap tahunnya terdapat laporan 700.000 kasus stroke, sekitar

500.000 kasus serangan pertama dan sisanya merupakan serangan berulang. Sebanyak

75 % penderita stroke mengalamu kelumpuhan dan kehilangan pekerjaan. Pada tahun

2002, sebanyak 275.000 orang telah meninggal. Sementara itu, di eropa setiap tahunnya

terdapat 650.000 kasus. Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) menyebutkan 63,52 per

100.000 penduduk Indonesia berumur >65 tahun ditaksir menderita stroke. Sedangkan

jumlah orang yang meninggal dunia diperkirakan 125.000 jiwa per tahun.

Sedangkan Badan Kesehatan se-Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta orang

terserang stroke setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kematian utama urutan

kedua pada kelompok usia di atas 60 tahun, dan urutan kelima penyebab kematian pada

usia 15-59 tahun.

Di negara-negara maju, insidensi stroke cenderung mengalami penurunan setiap

tahunnya. Kondisi ini antara lain disebabkanoleh pembatasan peredaran rokok melalui

peningkatan bea cukai rokok, serta peningkatan kepatuhan penderita hipertensi

mengontrol tekanan darahnya. Meskipun demikian, prevalensi penderita stroke terus

bertambah seiring meningkatnya harapan hidup di Negara maju.

Page 7: Laporan Kelompok 1 Stroke

Sementara itu, di Negara-negara miskin dan berkembang, seperti Indonesia,

insidensi stroke cenderung meningkat setiap tahunnya meskipun sulit mendapat data

yang akurat.

4. Patofisiologi

Faktor risiko stroke

Katup jantung rusak, miokard, infark,

fibrilasi, endokarditis.

Aneurisma, malformasi, arteriovenous

Aterosklerosis, hiperkoagulasi, artesis.

Penyumbatan pembuluh darah otak

oleh bekuan darah, lemak dan udara

Pendarahan intraserebral

Trombosis serebral

Emboli serebral Pembesaran darah ke dalam parenkim otak

Penekanan jaringan otak

Infark otak, edema dan herniasi otak

Pembuluh darah oklusi

Iskemik jaringan otak

Edema dan kongesti jaringan sekitar

Stroke serebrovaskular

Defisit neurologis

Risiko peningkatan

TIK

Kerusakan pada lobus

frontal

Kehilangan kontrol

volunter

Infark serebral Disfungsi bahasa dan komunikasi

Page 8: Laporan Kelompok 1 Stroke
Page 9: Laporan Kelompok 1 Stroke

5. Faktor Risiko

Disartria, afasia,

apraksia

Kerusakan fungsi kognitif

dan efek psikologis

Herniasi falks serebri dan ke

foramen magnum

Kompresi batang otak

Hemiplegi dan hemiparasis

Penurunan perfusi

jaringan serebral

Hambatan komunikasi

verbal

Ketidakefektifan koping

Ketidakefektifan pola seksualitas

Ketidakpatuhan

Konfusi akut

Kerusakan mobilitas fisik

Koma Depresi saraf kardiovaskular

dan pernapasan

Kegagalan kardiovaskular

dan pernapasan

Kematian

Kelemahan fisik umum

Defisit perawatan diri

Intake nutrisi tidak adekuat

Ketidakseimbangan nutrisi:

kurang dari kebutuhan

tubuh

Penurunan tingkat

kesadaran

Risiko cedera Penekanan jaringan

setempat

Risiko kerusakan

integritas kulit

Kemampuan batuk

menurun, kurang

mobilitas fisik dan produksi

sekret

Disfungsi kandung

kemih dan saluran

pernapasan

Ketidakefektifan bersihan jalan napas

Gangguan eliminasi urine

Gangguan pertukaran gas

Page 10: Laporan Kelompok 1 Stroke

Terdiri dari dua kategori, yaitu:

a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:

1) Usia

Risiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setiap penambahan usia

tiga tahun akan meningkatkan risiko stroke sebesar 11-20%. Dari semua stroke,

orang yang berusia lebih dari 65 tahun memiliki risiko paling tinggi yaitu 71%,

sedangkan 25% terjadi pada orang yang berusia 65-45 tahun, dan 4% terjadi

pada orang berusia <45 tahun. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP

Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, umur berpengaruh

terhadap terjadinya stroke dimana pada kelompok umur ≥45 tahun risiko

terkena stroke dengan OR: 9,451 kali dibandingkan kelompok umur < 45 tahun.

2) Jenis Kelamin

Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata laki-laki banyak

menderita stroke dibandingkan perempuan. Insiden stroke 1,25 kali lebih besar

pada laki-laki disbanding perempuan.

3) Ras/bangsa

Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada orang kulit putih.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan gaya hidup. Pada tahun 2004

di Amerika terdapat penderita stroke pada laki-laki yang berkulit putih sebesar

37,1% dan yang berkulit hitam sebesar 62,9% sedangkan pada wanita yang

berkulit putih sebesar 41,3% dan yang berkulit hitam sebesar 58,7%.

4) Hereditas

Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke, misalnya hipertensi,

jantung, diabetes dan kelainan pembuluh darah. Riwayat stroke dalam

keluarga, terutama jika dua atau lebih anggota keluarga pernah mengalami

stroke pada usia kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko terkena stroke.

Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001 riwayat

stroke pada keluarga meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 29,3%.

b. Faktor risiko yang dapat dirubah:

1) Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Hipertensi

meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Makin tinggi

tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena terjadinya kerusakan

Page 11: Laporan Kelompok 1 Stroke

pada dinding pembuluh darah sehingga memudahkan terjadinya

penyumbatan/perdarahan otak. Sebanyak 70% dari orang yang terserang

stroke mempunyai tekanan darah tinggi.

2) Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk stroke, namun tidak sekuat

hipertensi. Diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis

(pengerasan pembuluh darah) yang lebih berat sehingga berpengaruh

terhadap terjadinya stroke. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji

Adam Malik Medan dengan desain case control, penderita diabetes melitus

mempunyai risiko terkena stroke dengan OR : 3,39. Artinya risiko terjadinya

stroke pada penderita diabetes mellitus 3,39 kali dibandingkan dengan yang

tidak menderita diabetes mellitus.

3) Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang paling sering menyebabkan stroke adalah fibrilasi

atrium/atrial fibrillation (AF), karena memudahkan terjadinya penggumpalan

darah di jantung dan dapat lepas hingga menyumbat pembuluh darah di otak.

Di samping itu juga penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, infeksi

otot jantung, pasca operasi jantung juga memperbesar risiko stroke.3 Fibrilasi

atrium yang tidak diobati meningkatkan risiko stroke 4-7 kali.

4) Transient Ischemic Attack (TIA)

Sekitar 1 dari seratus orang dewasa akan mengalami paling sedikit 1 kali

serangan iskemik sesaat (TIA) seumur hidup mereka. Jika diobati dengan

benar, sekitar 1/10 dari para pasien ini kemudian akan mengalami stroke

dalam 3,5 bulan setelah serangan pertama, dan sekitar 1/3 akan terkena

stroke dalam lima tahun setelah serangan pertama. Risiko TIA untuk terkena

stroke 35-60% dalam waktu lima tahun.

5) Obesitas

Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan diabetes

melitus. Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar 15%. Obesitas dapat

meningkatkan hipertensi, jantung, diabetes dan aterosklerosis yang semuanya

akan meningkatkan kemungkinan terkena serangan stroke.

6) Hiperkolesterolemia

Page 12: Laporan Kelompok 1 Stroke

Kondisi ini secara langsung dan tidak langsung meningkatkan faktor risiko,

tingginya kolesterol dapat merusak dinding pembuluh darah dan juga

menyebabkan penyakit jantung koroner. Kolesterol yang tinggi terutama Low

Density Lipoprotein (LDL) akan membentuk plak di dalam pembuluh darah dan

dapat menyumbat pembuluh darah baik di jantung maupun di otak. Kadar

kolesterol total > 200 mg/dl meningkatkan risiko stroke 1,31-2,9 kali.

7) Merokok

Berdasarkan penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan

dengan desain case control, kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena

stroke sebesar 4 kali. Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan

arteri di seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak dan jantung), sehingga

merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah, dan

menyebabkan darah mudah menggumpal.

8) Alkohol

Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu metabolisme tubuh,

sehingga terjadi dislipidemia, diabetes melitus, mempengaruhi berat badan

dan tekanan darah, dapat merusak sel-sel saraf tepi, saraf otak dan lainlain.

Semua ini mempermudah terjadinya stroke. Konsumsi alcohol berlebihan

meningkatkan risiko terkena stroke 2-3 kali.

9) Stres

Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres psiokososial dapat

menyebabkan depresi. Jika depresi berkombinasi dengan faktor risiko lain

(misalnya, aterosklerosis berat, penyakit jantung atau hipertensi) dapat

memicu terjadinya stroke. Depresi meningkatkan risiko terkena stroke sebesar

2 kali.

10) Penyalahgunaan Obat

Pada orang-orang yang menggunakan narkoba terutama jenis suntikan akan

mempermudah terjadinya stroke, akibat dari infeksi dan kerusakan dinding

pembuluh darah otak. Di samping itu, zat narkoba itu sendiri akan

mempengaruhi metabolisme tubuh, sehingga mudah terserang stroke. Hasil

pengumpulan data dari rumah sakit Jakarta tahun 2001 yang menangani

narkoba, didapatkan bahwa lebih dari 50% pengguna narkoba dengan suntikan

berisiko terkena stroke.

Page 13: Laporan Kelompok 1 Stroke

6. Manifestasi klinis

Gejala-gejala umum yang patut diwaspadai

1. Tulisan tiba-tiba menjadi jelek dan

tidak karuan

2. Tangan sering kali tidak menuruti

“perintah”

3. Benda yang di pegang dengan

sendirinya terlepas tanpa disadari

4. Sering gagal memasukkan kancing

baju

5. Kalu makan selalu berceceran

6. Tanpa disadari, alas kaki sering

terlepas saat berjalan

7. Tidak terampil mengenakan alas

kaki, harus dibantu dengan tangan

8. Rasa kebal atau tebal pada wajah

sesisi dengan atau tanpa diikuti

dengan rasa kebas pada anggota

gerak pada sisi yang sama

9. Jika membuka mata, merasa pusing

dan berputar yang sering disertai

mual dan muntah

Gejala-gejala khusus

Kehilangan Motorik

Hemiplegia, hemiparesis

Page 14: Laporan Kelompok 1 Stroke

Paralisis flaksid dan kehilangan atau penurunan reflex tendon profunda

(gambaran klinis awal)

Kehilangan komunikasi

Disartria

Disfagia atau afasia

Apraksia

Gangguan Perseptual

Homonimus hemia nopia (kehilangan setengah dari lapang pandang)

Gangguan dalam hubungan visual-spasial (seringkali terlihat pada pasien dengan

hemiplegia kiri)

Kehilangan sensori: Sedikit kerusakan pada sentuhan atau lebu buruk dengan

kehilagan propriosepsi, kesulitan dalam mengatur stimuli visual, taktil, dan

auditori.

Kerusakan Aktivitas Mental dan Efek Psikologis

Kerusakan lobus frontal: kapasitas belajar, memori, atau fungsi intelektual

kortikal yang lebih tinggi mungkin mengalami kerusakan. Disfungsi tersebut

mungkin tercermin dalam rentang perhatian terbatas, kesulitan dalam

komprehensi, cepat lupa, dan kurang motivasi.

Depresi, masalah-masalah psikologis lainnya: kelabilan emosional, bermusuhan,

frustasi, menarik diri, dan kurang kerjasama.

Disfungsi Kandung Kemih

Inkontinesa urinarius transien

Inkontinesa urinarius persisten atau retensi urine (mungkin simptomatik dari

kerusakan otak bilateral)

Page 15: Laporan Kelompok 1 Stroke

Inkontinensia urinarius dan defekasi berkelanjutan (dapat mencerminkan

kerusakan neurologis defekatif)

Gejala Stroke Non Hemoragik

a. Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.

1) Buta mendadak (amaurosis fugaks)

2) Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia) bila

gangguan terletak pada sisi dominan.

3) Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis kontralateral)

dan dapat disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan.

b. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.

1) Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol.

2) Gangguan mental

3) Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.

4) Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.

5) Bisa terjadi kejang-kejang.

c. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.

1) Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan. Bila

tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol.

2) Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.

3) Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia).

d. Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.

1) Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.

Page 16: Laporan Kelompok 1 Stroke

2) Meningkatnya refleks tendon.

3) Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh.

4) Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor), kepala

berputar (vertigo).

5) Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia).

6) Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga pasien

sulit bicara (disatria).

7) Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran secara

lengkap (strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya

ingat terhadap lingkungan (disorientasi).

8) Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia), gerakan arah

bola mata yang tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan kelopak mata

(ptosis), kurangnya daya gerak mata, kebutaan setengah lapang pandang

pada belahan kanan atau kiri kedua mata (hemianopia homonim).

9) Gangguan pendengaran.

10) Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah.

e. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior

1) Koma

2) Hemiparesis kontra lateral.

3) Ketidakmampuan membaca (aleksia).

4) Kelumpuhan saraf kranialis ketiga.

f. Gejala akibat gangguan fungsi luhur

1) Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa.

2) Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena kerusakan otak.

Page 17: Laporan Kelompok 1 Stroke

3) Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya kerusakan

otak.

4) Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan mengenal angka

setelah terjadinya kerusakan otak.

5) Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah sejumlah

tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti penamaan, melakukan

gerakan yang sesuai dengan perintah atau menirukan gerakan-gerakan

tertentu.

6) Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya kemampuan

melaksanakan bermacam perintah yang berhubungan dengan ruang.

7) Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku akibat

kerusakan pada kortex motor dan premotor dari hemisphere

8) Amnesia adalah gangguan mengingat

9) Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual

Gejala Stroke Hemoragik

a. Gejala Perdarahan Intraserebral (PIS)

Gejala yang sering djumpai pada perdarahan intraserebral adalah: nyeri kepala

berat, mual, muntah dan adanya darah di rongga subarakhnoid

b. Gejala Perdarahan Subarakhnoid (PSA)

Pada penderita PSA dijumpai gejala: nyeri kepala yang hebat, nyeri di leher dan

punggung, mual, muntah, fotofobia.

c. Gejala Perdarahan Subdural

Pada penderita perdarahan subdural akan dijumpai gejala: nyeri kepala, tajam

penglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi, tanda-tanda defisit

neurologic.

7. Pemeriksaan Diagnostik

Page 18: Laporan Kelompok 1 Stroke

Berikut adalah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa

stroke :

Anamnesa

Tujuan dilakukannya anamnesa tergantung pada waktu terkena stroke. Bila 3-6

jam setelah terkena stroke, maka anamnesa bertujuan untuk menegakkan

diagnosa stroke, patologis dan tingkat keparahannya. Sedangkan bila sudah

lebih dari 6 jam, maka tujuan dilakukannya anamnesa adalah untuk

meminimalkan terjadinya stroke berulang dan komplikasi stroke. Informasi

yang harus didapatkan saat anamnesa antara lain :

1. Karakteristik tanda gejala

- Modalitas mana yang terlibat (motorik,sensorik, visual)

- Daerah anatomi mana yang terlibat

- Bagaimana kualitasnya

2. Bagaimana kecepatan onset dan perjalanan gejala neurologis

- Kapan kejadiannya

- Mendadak atau tidak

- Apakah gejala tersebut terlokalisir atau menyebar, hilang timbul atau

progresif

3. Apakah ada pemicu sebelum timbulnya gejala

4. Bagaimana gaya hidupnya (merokok, makan makanan yang tinggi kalori

dan kolesterol, kurang aktifitas, konsumsi alkohol)

5. Apakah ada riwayat penyakit terdahulu atau riwayat penyakit keluarga

yang relevan

- Apakah ada riwayat TIA atau stroke sebelumnya

- Apakah ada riwayat hipertensi, DM, hiperkolesterolemia, infark miokard

Pemeriksaan neurologis

1. Pemeriksaan fungsi visual

- Pemeriksaan lapang pandang dan tes konfrontasi

- Pemeriksaan pupil dan refleks cahaya

2. Fungsi faring dan lingual

- Dengan mendengarkan dan mengevaluasi cara bicara dan memeriksa

mulut

3. Fungsi motorik

Page 19: Laporan Kelompok 1 Stroke

Memeriksa gerakan pronator, kekuatan, tonus, kekuatan gerak jari tangan

dan kaki.

4. Fungsi sensoris

Memeriksa kemampuan pasien untuk mendeteksi sensoris dengan jarum,

rabaan , vibrasi, dan posisi.

5. Fungsi cerebelum

Melihat cara berjalan pasien dan disdiadokokinesis

6. Ataksia pada tungkai

Meminta pasien menyentuh jari kaki pasien ke tangan pemeriksa.

Pemeriksaan laboratorium :

Pungsi lumbal :

Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis,

emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan

iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang

mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid

atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada

kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.

Pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang

masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih

normal

Pemerksaan darah rutin

Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi

hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan

kemudian berangsur-angsur turun kembali

Pemeriksaan darah lengkap : untuk mencari kelainan pada daerah itu

sendiri

Pencitraan :

1. Diagnostik CVS yang cepat sangat penting untuk meminimalkan kerusakan.

CT Scan adalah metode pilihan untuk pengkajian tanda akut CVS. CT Scan

sangat sensitive terhadap hemoragi, suatu pertimbangan penting karena

ada perbedaan vital pada terapi stroke iskemik dan stroke hemoragik. CT

Scan juga mudah diakses, bahkan pada rumah sakit kecil atau rumah sakit

pedesaan.

Page 20: Laporan Kelompok 1 Stroke

2. Sebagian besar alat MRI walaupun bahkan lebih sensitive daripada CT Scan

dalam mengidentifikasi kerusakan otak awal akibat stroke, lebih lambat

daripada CT sehingga jarang digunakan dalam situasi kedaruratan. Akan

tetapi. Setelah CT Scan awal, MRI direkomendasikan untuk menentukan

lokasi kerusakan yang tepat dan memantau lesi.

3. Pemeriksaan Angiografi, untuk mengetahuo apakah pembuluh darah yang

mengalami kerusakan dapat dioperasi atau diterapi dengan metode

lainnya.

4. Ultrasonofrafi (USG), untuk mengetahu stroke yang diakibatkan stenotis

kaotis interna, arteri serebralis media, maupun arteri basiler.

8. Penatalaksanaan

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah :

1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh

dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil.

2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu

diberikan ogsigen sesuai kebutuhan

3. Tanda-tanda vital diusahakan stabil

4. Bed rest

5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia

6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi.

8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari

penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik.

9. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran

menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.

Pengelolaan berdasarkan penyebabnya

a. Stroke iskemik

- Memperbaiki aliran darah ke otak (reperfusi) : Pemberian obat trombolisis

missal rt-PA (recombinan tissue plasminogen activator) atau dengan cara

Page 21: Laporan Kelompok 1 Stroke

memperbaiki hemorheologi seperti obat pentoxifillin yang yang mengurangi

viskositas darah

- Prevensi terjadinya trombosis (antikoagualsi) : pengobatan yang tersedia

yaitu anti koagulan dan anti agregasi trombosit.

- Proteksi neuronal/sitoproteksi, obat-obatan yang biasanya digunakan antara

lain :

- CDP-Choline : memperbaiki membran sel dengan cara menambah sintesa

phospatidylcholine, menghambat terbentuknya radikal bebas dan juga

menaikkan sintesis asetilkolin suatu neurotransmiter untuk fungsi

kognitif.

- Piracetam diperkirakan memperbaiki integritas sel, memperbaiki fluiditas

membran dan menormalkan fungsi membrane.

- Statin : stabilisasi atherosklerosis sehingga mengurangi pelepasan plaque

tromboemboli

- Cerebrolisin, suatu protein otak bebas lemak dengan khasiat anti calpain,

penghambat caspase dan sebagai neurotropik

b. Stroke Hemoragik

- Pengelolaan konservatif Perdarahan Intra SerebralPemberian anti

perdarahan

- Pengelolaan konservatif Perdarahan Sub Arahnoid

Bed rest total selama 3 minggu dengan suasana yang tenang, pada pasien

yang sadar, penggunaan morphin

Vasospasme terjadi pada 30% pasien, dapat diberikan Calcium Channel

Blockers

- Pengelolaan operatif

1) Usia

Lebih 70 th tidak ada tindakan operasi

60 – 70 th pertimbangan operasi lebih ketat

Kurang 60 th operasi dapat dilakukan lebih aman

2) Tingkat kesadaran

Page 22: Laporan Kelompok 1 Stroke

Koma/sopor tak dioperasi

Sadar/somnolen tak dioperasi kecuali kesadaran atau keadaan

neurologiknya menurun

Perdarahan serebelum : operasi kadang hasilnya memuaskan walaupun

kesadarannya koma

3) Topis lesi

• Hematoma Lobar (kortical dan Subcortical)

Bila TIK tak meninggi tak dioperasi

Bila TIK meninggi disertai tanda tanda herniasi (klinis menurun)

operasi

• Perdarahan putamen

Bila hematoma kecil atau sedang tak dioperasi

Bila hematoma lebih dari 3 cm tak dioperasi, kecuali kesadaran

atau defisit neurologiknya memburuk

• Perdarahan talamus

Pada umumnya tak dioperasi, hanya ditujukan pada hidrocepalusnya

akibat perdarahan dengan VP shunt bila memungkinkan.

• Perdarahan serebelum

Bila perdarahannya lebih dari 3 cm dalam minggu pertama maka

operasi

Bila hematom kecil tapi disertai tanda tanda penekanan batang otak

operasi

c. Pencegahan serangan ulang

• Obat-obat anti platelet aggregasi

• Obat-obat untuk perbaikan fungsi jantung dari ahlinya

Page 23: Laporan Kelompok 1 Stroke

• Faktor resiko dikurangi seminimal mungkin

d. Rehabilitasi :

• Memperbaiki fungsi motorik

• Mencegah kontraktur sendi

• Agar penderita dapat mandiri

• Rehabilitasi sosial perlu dilakukan juga karena penderita biasanya jatuh dalam

keadaan depresi.

9. Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

a) Biodata klien

Nama : mbah parno

Umur : 65 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

Alamat : -

Status pernikahan : cerai

Pekerjaan : pekerja pabrik bangunan

b) Status kesehatan saat ini

Keluhan utama : tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya

yang sebelah kanan.

Lama keluhan : -

Kualitas keluhan : -

Faktor pencetus : rokok dan kopi

Faktor pemberat :

Diagnosa medis : stroke

c) Riwayat kesehatan saat ini

Klien mengeluh tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki yang sebelah kanan

d) Riwayat kesehatan dulu

-

Page 24: Laporan Kelompok 1 Stroke

e) Riwayat keluarga

-

f) Pengkajian fisik

Kaji keadaan umum, BB, dan TTV

g) Pemeriksaan head to toe

h) Pemeriksaan penunjang

2. Analisa data

Ds/Do Etiologi Masalah

Ds : tangan dan kaki

kanan tidak bisa

digerakkan

Do: -

Faktor resiko (rokok, alcohol,

kopi) Arterosklerosis,

hiperkoagulasi, artesis

Thrombosis serebral

Pembuluh darah oklusi

iskemik jaringan otak

edema dan kongesti jaringan

sekitar stroke Defisit

neurologis Infark serebral

Resiko ketidakefektifan

perfusi jaringan otak

Ds : tangan dan kaki

kanan tidak bisa

digerakkan

Do : -

Faktor resiko (rokok, alcohol,

kopi) Katup jantung rusak,

miokard, infark, fibrilasi,

endocarditis Penyumbatan

pembuluh darah otak oleh

bekuan darah, lemak dan

udara Emboli serebral

stroke Defisit neurologis

Kehilangan kontrol volunter

Hemiplagi dan hemiparesis

Gangguan mobilitas fisik

Page 25: Laporan Kelompok 1 Stroke

Kelemahan fisik

Ds : tangan dan kaki

kanan tidak bisa

digerakkan

Do : -

Faktor resiko (rokok, alcohol,

kopi) Katup jantung rusak,

miokard, infark, fibrilasi,

endocarditis Penyumbatan

pembuluh darah otak oleh

bekuan darah, lemak dan

udara Emboli serebral

stroke Defisit neurologis

Kehilangan kontrol volunter

Hemiplagi dan hemiparesis

Kelemahan fisik gangguan

mobilitas fisik

Defisit perawatan diri

3. Diagnosa keperawatan

Gangguan mobilitas fisik

Defisit perawatan diri

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

4. Intervensi

No Diagnosa Tujuan + KH Intervensi Rasional

1 Gangguan mobilitas

fisik

Tujuan : mobilitas kembali

normal

KH :

1. Mempertahankan posisi

dan fungsi tubuh

1. Kaji kemampuan

fungsional otot,

Klasifikasi dengan

skala 0-4

2. Rubah posisi tiap 2

1. untuk

membantu

pemilihan

intervensi

2. menurunkan

Page 26: Laporan Kelompok 1 Stroke

2. Mempertahankan

kekuatan otot dan fungsi

area yang sakit serta

kompensasi bagian tubuh

yang lain.

3. Menunjukan perilaku

aktivitas yang lebih baik

misalnya berjalan.

jam, ( supinasi,

sidelying ) terutama

pada bagian yang sakit

3. Mulai ROM.

Aktif/pasif untuk

semua ekstremitas

4. Tempatkan bantal

di bawah aksila

sampai lengan bawah

5. Pertahankan kaki

pada posisi netral

dengan trochanter

6. Bantu pasien duduk

jika tanda-tanda vital

stabil, kecuali pada

stroke haemorhagic

7. ajarkan klien untuk

membantu melatih sisi

yang sakit dengan

ektremitas yang sehat.

8. kolaborasi dengan

ahli therapi fisik,

untuk latihan aktif,

latihan dengan alat

bantu dan ambulasi

pasien.

resiko iskemia

jaringan injury

3. Meminimalkan

atropi otot,

4. Mencegah

abduksi bahu dan

fleksi siku

5. Mencegah

terjadinya rotasi

eksternal pinggul

6. membantu

memelihara

ekstremitas pada

posisi fungsional

7. mengoptimalkan

bagian yang sehat

dan melatih

kemandirian klien

8. mencari

intervensi terbaik

untuk klien

2.

Page 27: Laporan Kelompok 1 Stroke

2 Defisit perawatan

diri

Tujuan :

KH : ADL terpenuhi

1. klien mampu melakukan

aktifitas sesuai kemampuan

seprti

makan,minum,toileting,

jalan, dsb.

2. klien mampu

memposisikan dirinya.

1. Kaji kemampuan

dan tingkat

penurunan dalam

skala 0-4 untuk

melakukan ADL.

2. Hindari apa yang

tidak dapat dilakukan

pasien dan bantu bila

perlu.

3. Kaji kemmampuan

komunikasi untuk Bak

4. Beri kesempatan

untuk menolong diri

seperti menggunakan

kombinasi pisau

garpu, sikat dengan

pegangan panjang,

ekstensi untuk

berpijak pada lantai

atau ke toilet, kursi

untuk mandi.

1. Membantu

dalam

mengantisipasi dan

merencanakan

pertemuan

kebutuhan

individual.

2. untuk mencegah

frustasi dan harga

diri klien.

3. membantu bak

klien

4. melatih

kemandirian klien

5. Untuk

mengembangkan

therapi dan

melelngkapi

Page 28: Laporan Kelompok 1 Stroke

5. .Konsul ke dokter

therapi okupasi

kebutuhan khusus.

3.

3 Resiko

ketidakefektifan

perfusi jaringan

otak

Tujuan : resiko

ketidakefektifan perfusi

jaringan otak terkontrol

KH :

1.Mempertahankan/

meningkatkan tingkat

kesadaran, kognitif, dan

fungsi motorik sensorik

2. Menunjukan kestabilan

tanda-tanda vital dan tidak

adanya peningkatan TIK.

3. Menunjukan

berkurangnya

kerusakan/defisit.

1. kaji faktor

penyebab gangguan

yang berhubungan

dengan situasi klien

2. Monitor vital sign

3. Evaluasi pupil,

amati ukuran,

ketajaman dan reaksi

terhadap cahaya

4. Pertahankan

istirahat di tempat

tidur, beri lingkungan

yang tenang, batasai

pengunjung dan

aktivitas sesuai

dengan indikasi.

5. kolaborasi dalam

pemberian

antikoagulan seperti,

warfarin sodium,

heparin, antiplatelets

agen atau

dypridamole

(kontraindikasi pada

penderita hipertensi).

1. menentukan

intervensi yang

tepat

2. mencegah

komplikasi sedini

mungkin

3. mengontrol

kenormalan otak

4. menjaga

kestabilan dan

kenyamanan klien

5. meningkatkan

aliran darah ke

otak.

Page 29: Laporan Kelompok 1 Stroke

BAB III

RINGKASAN

Stroke adalah sindrom atau sekumpulan gejala klinis yang terjadi dan berkembang

dengan cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global

Klasifikasi stroke berdasarkan patologisnya, terdiri dari stroke iskemik dan stroke

hemoragik.

Klasifikasi stroke berdasarkan waktunya, terdiri dari TIA, stroke involusi, stroke

komplit.

Kasus stroke baru terjadi pada 100 sampai 300 orang per 100.000 penduduk per

tahun. Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan

kanker, namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu.

Faktor risiko stroke dapat dibagi menjadi dua, yaitu factor yang dapat diubah, dan

factor yang tidak dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah diantaranya: usia,

jenis kelamin, ras, hereditas. Faktor yang dapat diubah diantaranya: DM, hipertensi,

penyakit jantung dan obesitas.

Manifestasi umumnya adalah tulisan tiba-tiba menjadi jelek dan tidak karuan,

tangan sering kali tidak menuruti “perintah”, benda yang di pegang dengan

Page 30: Laporan Kelompok 1 Stroke

sendirinya terlepas tanpa disadari, sering gagal memasukkan kancing baju, kalau

makan selalu berceceran, dan sebagainya.

Pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari anamnesa, pemeriksaan laboratorium, dan

pencitraan.

Penatalaksanaan umum diantaranya posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat,

posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika

stabil, bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu

diberikan oksigen sesuai kebutuhan, tanda-tanda vital diusahakan stabil dan bed

rest

Referensi

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Pinzon, Rizaldy. 2010. Awas Stroke. Yogyakarta: Penerbit ANDI

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Saraf.

Jakarta : Salemba Medika

Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem

Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika

Herdman, Heather. 2012. Nanda Nursing Diagnosis. Jakarta : EGC

Dochterman, Joanne Mc Closkey. 2008. Nursing Intervention Classification. USA : Mosby

Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcome Classification. USA : Mosby

Price, Sylvia dkk. 2012. Pathofisiology : Konsep Klinis dan Proses- Proses Penyakit.

Jakarta: EGC

Wardoyo, AB. 2009. Stroke. Jogjakarta : Universitas Pembangunan Nasional

Miciga, Adam. 2009. Stroke Iskemik. www.unimus.ac.id

Sutrisno. 2009. Stroke. www.usu.ac.id

Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi Jakarta : EGC

Dewanto, George,dkk. 2009. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC

Ginsberg, Lionel. 2008. Lecture Notes Neurologi. Jakarta : Erlangga Medical Series

Mahendra, B, dkk. 2005. Atasi Stroke dengan Tanaman Obat. Jakarta : Penerbit Swadaya

Sutrisno, Alfred. 2007. Stroke ?? You must Know Before You Get It !. Jakarta : GM

Page 31: Laporan Kelompok 1 Stroke